Vous êtes sur la page 1sur 7

ANALISIS

Sosiologi Hukum mempelajari pola-pola perilaku dalam masyarakat, yaitu

cara-cara bertindak atau berkelakuan yang sama dari pada orang-orang yang hidup

bersama dalam masyarakat. Sosiologi hukum berbeda dengan ilmu

hukum,sosiologi hukum tidak melakukan penilaian terhadap hukum. Perilaku

yang mentaati hukum dan yang menyimpang dari hukum sama sama merupakan

objek pengamatan yang setaraf. Sosiologi hukum tidak menilai yang satu lebih

dari yang lain. Perhatian yang utama hanyalah pada memberikan penjelasan

terhadap penjelasan terhadap objek yang dipelajari. Sosiologi hukum tidak

memberikan penilaian, melainkan mendekati hukum dari segi objektivitas semata

dan bertujuan untuk memberikan penjelasan terhadap fenomena hukum yang

nyata

Pada kasus diatas terkait dengan judul berita "salah paham berbuah fatwa"

menggambarkan bahwa adanya perbedaan antara peraturan hukum dengan apa

yang terjadi di masyarakat. Negara telah membuat atutan yang didalamnya

tergambar secara jelas mengenai apa itu perkawinan, syarat perkawinan,

kewajiban suami, kewajiban istri, kedudukan anak dan lain- lain. Dalam

pelaksanaannya,peraturan hukum berbeda dengan apa yang terjadi di masyarakat.

Pada masyarakat kita, sebagian dari mereka ada yang melakukan nikah siri atau

perkawinan yang tidak didaftarkan atau di catatkan di KUA. Perkawinan tersebut

dianggap tidak sah karena tidak adanya bukti tertulis telah terjadi perkawinan

sesuai hukum negara. Seperti kasus diatas, pemohon yaitu Machica Mochtar

meminta pengujian Undang-Undang untuk memperjelas status anaknya yaitu


M.Iqbal Ramadhan. Machica mochtar sendiri melakukan nikah sirri dengan

Moerdioni, menteri sekertaris negara pada zaman orde baru.

Menurut sistem hukum yang ada di Indonesia tidak mengenal istilah

"nikah sirri" atau semacamnya dan tidak mengatur secara khusus dalam sebuah

peraturan. Perkawinan yang sah sendiri sudah diatur pada UU No 1 tahun 1974

tentang perkawinan pasal 2 ayat 2 yang berbunyi " tiap-tiap perkawinan dicatat

menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Nikah sirri dianggap tidak

sah oleh hukum dan memiliki dampak yang merugikan bagi istri sebagai

perempuan, baik secara yuridis maupun secara sosiologis. Secara yuridis, pihak

istri tidak dianggap sebagai istri yang sah, tidak berhak atas nafkah dari suami,

dan tidak berhak atas harta gono gini apabila ia berpisah. Secara sosiologis nikah

sirri dianggap sesuatu yang negatif atau buruk dimata masyarakat. Dan apabila

mempunyai anak, anak tersebut dianggap anak diluar nikah.

Menurut UU Perkawinan no 1 tahun 1974 bab IX tentang kedudukan anak

pasal 42, berbunyi "anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau

sebagai akibat perkawinan yang sah’’. Pada pasal 43 berbunyi ‘’anak yang

dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya

dan keluarga ibunya’’. Pada pasal diatas menjelaskan bahwa anak yang dilahirkan

diluar perkawinan yang sah hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan

keluarga ibu saja. Hal tersebut berarti si anak tidak memiliki hubungan hukum

dengan ayahnya. Tetapi peraturan tersebut bisa berubah apabila anak yang

dilahirkan memiliki hubungan darah yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu

pengetahuan dan teknologi atau bukti lain menurut hukum.


Menurut ketua Mahkamah konstitusi, Mahfud,md menjelaskan bahwa

pengabulan sebagian permohonan Machicha Mochtar sesuai dengan universal

perlindungan atas hak asasi manusia. Menurut Mahfud anak yang lahir diluar

nikah sering diperlakukan tidak adil di lingkungan masyarakat maupun dalam

birokrasi contohnya mereka tidak bisa mencantumkan nama ayahnya di akta

kelahiran dan tidak menerima nafkah dari ayahnya. Dalam kehidupan sehari-hari

juga dicap buruk oleh tetangga. Untuk mengakhiri diskriminasi tersebut akhirnya

Mahfud md mengambil keputusan tersebut. Dengan adanya keputusan tersebut

mengundang reaksi dari pihak MUI yang menyebutkan putusan Mahkamah telah

membuka peluang bagi berkembangnya perilaku seksual diluar nikah. Padahal

maksud Mahkamah konstitusi mengabulkan permohonan tersebut agar anak-anak

yang tidak berdosa mendapatkan perlindungan dan memperoleh haknya.Terjadi

kesalahahpahaman pihak MUI dalam menggunakan Istilah hubungan perdata.

Hubungan Perdata tidak selalu dihubungkan pada nasab waris atau perwalian saja,

tetapi berupa peluang untuk menuntut pihak laki-laki yang merugikan anaknya,

seperti bila ayahnya menelantarkan atau ingkar janji tidak mau mengakui dan

mengurus anaknya .

Jadi secara kesimpulannya, secara hukum nikah sirri adalah perkawinan

yang tidak sah dimata hukum. Apabila memiliki anak, anak tersebut tidak

memiliki hubungan perdata dengan ayahnya. Secara sosiologis nikah sirri banyak

dilakukan oleh masyarakat. Hal tersebut menimbulkan dampak yang merugikan

bagi pihak perempuan dan anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut. Jika
terjadi permasalahan pihak suami terkesan lepas tangan begitu saja dan tidak

memikirkan nasib anak dam istrinya

Adapun kedua keputusan maupun fatwa yang dikeluarkan masing-masing

pihak yaitu antara MK(Mahkamah Konstitusi) dan MUI (Majelis Ulama

Indonesia) merupakan keputusan yang memiliki dasar masing-masing yang

berbeda. Namun, sebenarnya kedua putusan atau fatwa tersebut memiliki tujuan

dan niat yang mulia. Di satu sisi, MK memutuskan bahwa anak hasil perkawinan

diluar nikah memiliki hubungan perdata dengan ayah kandungnya sepanjang ada

hubungan darah yang bisa dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan

teknologi atau alat bukti lain menurut hukum. Putusan tersebut menyusul adanya

pengujian materi undang-undang yang diminta oleh Aisyah “Machicha” Mochtar

yang dalam hal ini ingin memperjelas status anak laki-lakinya yang merupakan

hasil nikah siri(perkawinan tidak sah secara hukum) dengan Moerdiono. Putusan

tersebut-pun mendapat dukungan dan sambutan positif dari berbagai kalangan

terutama para penggiat hak perlindungan anak yang menilai bahwa putusan itu

akan memberi ruang bagi semua anak, khususnya anak-anak yang lahir hasil

perkawinan diluar pernikahan yang sah untuk memperoleh hak-hak yang sama

dengan anak-anak lainnya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Mahfud MD

sebagai ketua MK, yaitu bahwa beliau ingin membuat manusia bermartabat.

Artinya bahwa beliau ingin menyamakan hak-hak anak-anak diluar pernikahan

dengan anak-anak lainnya. Karena selama ini faktanya anak-anak diluar

pernikahan ini seringkali mendapatkan tempat yang berbeda dimata masyarakat.

Sehingga ini menghambat perkembangan psikologi anak tersebut sekaligus


mengancam masa depan anak tersebut. Dari semua penjelasan tersebut, ada satu

pihak yang menentang putusan tersebut yaitu MUI. Melalui Makruf Amin sebagai

Ketua, MUI menganggap bahwa putusan MK tersebut telah membuka perilaku

seksual diluar nikah, selain itu putusan MK juga merusak tatanan hukum Islam

terutama urusan bagi waris. Penentangan dari MUI kemudian berujung pada

dikeluarkannya fatwa yang intinya menyatakan bahwa anak hasil zina tak

mempunyai hubungan nasab(keturunan), wali nikah, waris dan nafkah dengan

ayahnya. Secara tidak langsung, fatwa tersebut seperti mengembalikan Undang-

undang Perkawinan pada posisi sebelum diuji materi.

Berdasarkan ulasan di atas, keputusan MK dan MUI sama-sama memiliki

niat yang baik. Namun sebagai warga negara yang taat pada hukum dan berazas

Pancasila, kita hendaknya berpedoman pada putusan MK, maka kami menilai

bahwa putusan dari MK lebih tepat. Hal ini dikarenakan dari sisi peringkat

undang-undang, vonis MK tentu lebih tinggi dibandingkan dengan fatwa MUI.

Maka sudah sepantasnya kita perlu mendukung dan berpedoman pada putusan

MK. Selain itu, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kita berada di negara

yang berazaskan Pancasila bukan berazaskan pada Hukum Islam. Maka keputusan

yang diambil oleh MK tentunya bukan berdasarkan hukum Islam, namun

berpedoman pada prinsip universal perlindungan atas hak asasi manusia yang

tentu mencakup semua agama di Indonesia. Mahfud menambahkan bahwa

putusan itu-pun sesuai dengan semangat ajaran Islam yaitu beliau ingin membuat

manusia bermartabat. Yang dimaksud bermartabat dalam hal ini adalah

mengangkat martabat anak-anak hasil diluar pernikahan agar memiliki martabat


serta hak-hak yang sama dengan anak-anak lainnya sehingga dapat memperoleh

masa depan yang cerah serta tidak menghambat perkembangan psikologisnya.

Apabila mengacu pada keputusan MK yang dianggap sebagai keputusan

terbaik karena Indonesia menggunakan hukum yang berasas Pancasila dimana

anak hasil pernikahan sirri memiliki hubungan perdata dengan ayahnya apabila

anak tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah contoh melalui tes DNA. Maka

dengan itu anak tersebut dapat menggunakan nama ayahnya dan mendapatkan

warisan dari pihak ayahnya dan keluarga ayahnya. Berdasarkan Pasal 863 – Pasal

873 KUHPerdata, maka anak luar kawin yang berhak mendapatkan warisan dari

ayahnya adalah anak luar kawin yang diakui oleh ayahnya (Pewaris) atau anak

luar kawin yang disahkan pada waktu dilangsungkannya perkawinan antara kedua

orang tuanya. Jadi anak hasil pernikahan siri selain mengacu keputusan MK

dapat pula mengacu pada Pasal 285KUHPerdata yang menyatakan bahwa apabila

terjadi pengakuan dari ayahnya, sehingga menimbulkan hubungan hukum antara

pewaris dengan anak luar kawinnya tersebut, maka pengakuan anak luar kawin

tersebut tidak boleh merugikan pihak istri dan anak-anak kandung pewaris.

Artinya, anak luar kawin tersebut dianggap tidak ada. Oleh karena itu, pembuktian

adanya hubungan hukum dari anak hasil perkawinan siri tersebut tidak

menyebabkan dia dapat mewaris dari ayah kandungnya.

Jadi apabila anak hasil pernikahan siri merugikan pihak istri dan anak-

anak sah maka warisan tidak dapat diberikan kepadanaya. Namun sebaliknya

apabila hal tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah yaitu melalui tes DNA dan

keluarga istri serta anak-anak tidak merasa dirugikan akibat adanya pengakuan
tersebut maka anak hasil pernikahan siri dapat memperoleh warisan dari harta

ayahnya.

Dalam kasus ini, masyarakat tentu memiliki banyak pandangan. Baik yang

berkonotasi negatif atau sebaliknya. Tapi semakin berkembang zaman, peristiwa

seperti itu bukan lagi sesuatu yang asing dan tidak pernah terdengar. Saat ini

masyarakat bisa jadi hanya sebagai penikmat atau penonton tehadap berbagai

kasus, termasuk kasus yang telah disebutkan. Akan banyak pendapat karena tipe

masyarakat danpengethuan masyarkat yang berbeda- beda.

Dalam masyarakat yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dan tau akan

hukum, tentu akan berpandangan bahwa anak diluar nikah tetap dapat watisan

karena bagaimanapun ada tanggung jawab dan kewajiban terhadap anak. Sesuai

dengan keputusan MK maka anak akan mendapat Wasiat Mujibah, yang artinya

itu bukan waisan, hanya wasiat dan harus dipertanggung jawabkan. Baik itu

ketika orang tua anak anak tersebut yang meninggal, maka baik anak ataupun

orang tua biologis nya mendapat wasiat mujibah.

Lain hal nya ketika kita berbicara tentang masyarakat yang awam dan

pengetahuannya tidak terlalu tinggi, maka masyarkat ini akan menganggapbahwa

anak yang lahir diluar nikah tidak mendapat apa-apa sedikitpun, itu karena ia

tidak berhak mendapat warisan karena statusnya. Dalam pandanagan masyarkat

seperti ini tentu mereka belum tau hukum spenuhnya, dan hanya memandang dari

sudut tradisional atau agama saja. Dan anak yang lahir diluar nikah pun memiliki

pandangan buruk didepan masyarakat tempat dia hidup.