Vous êtes sur la page 1sur 11

Juitech | Vol. 01 | No.

01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

ANALISIS KEKUATAN ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE (AC-WC)


DENGAN SERBUK BAN BEKAS SEBAGAI ZAT ADITIF

Oleh :
Erna Frida1),
Ganda Parasian Damanik2)
1)
Universitas Quality, Jl.Ring Road No.18 Ngumban Surbakti Medan
Email: ernafridatarigan@gmail.com
2)
Alumni Universitas Quality, Jl.Ring Road No.18 Ngumban Surbakti Medan

Abstrak
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh komposisi Serbuk Ban Bekas sebagai zat
aditif terhadap kekuatan Aspal Concrete Wearing Course (Ac-Wc). Sebelum pembuatan
benda uji, dilakukan pembuatan rancang campur ( mix design) yang meliputi
perencanaan, penentuan aspal dan pengukuran komposisi masing-masing fraksi baik
masing- masing agregat, aspal,dan komposisi serbuk ban bekas. Setelah dilakukan job
mix ,sampel dibuat dengan berat 1200 gr, dan dengan memvariasikan komposisi serbuk
ban bekas 5 %, 10 %, dan 15% dari berat aspal.Pencampuran dilakukan pada suhu
150oC. Metode pengujian dilakukan dengan menggunakan Marshall tes yakni dengan
memperhatikan hasil Stabilitas, Flow dan Marshal Quontent. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai stabilitas dan flow masih memenuhi standar SNI 03-1737-
1989 untuk komposisi serbuk ban bekas 5%, 10% dan 15% dan untuk Marshal Quontent
telah memenuhi standar SNI 03-1737-1989 pada komposisi 10%.
Kata Kunci : Aspal, Serbuk ban Bekas, Marshal Tes

Abstract
Research on the effect of the composition of Used Tires powder as additives to the
strength of Asphalt Concrete Wearing Course (Ac-Wc). Before the making of the
specimen, do Design and mixed (mix design) that includes planning, determination and
measurement of asphalt composition of each fraction of each kind of aggregate, asphalt,
and the composition of the powder used tires. After the job mix, made with a sample
weight of 1200 g, and by varying the composition of the powder used tires 5%, 10%, and
15% of the weight aspal.Pencampuran carried out at a temperature of 150oC. Methods
of testing is done by using the Marshall test ie based on the results of Stability, Flow and
Marshal Quontent. The results showed that the value of stability and flow SNI 03-1737-
1989 still meet the standards for the composition of the powder used tires 5%, 10% and
15% and for the Marshal Quontent has met the standard of SNI 03-1737-1989 on the
composition of 10%.
Keywords: Asphalt, Powder Used tires, Marshal Tests

1.Pendahuluan satu prasarana transportasi adalah jalan


Perkembangan dan yang merupakan kebutuhan pokok
pertumbuhan penduduk sangat pesat di dalam kegiatan masyarakat. Dengan
Indonesia, yang mengakibatkan melihat peningkatan mobilitas penduduk
peningkatan mobilitas penduduk dan yang sangat tinggi maka diperlukan
muncul banyak kendaraan-kendaraan peningkatan baik kuantitas maupun
berat yang melintas di jalan raya. Salah

Hal 38
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

kualitas jalan yang memenuhi kebutuhan selama proses pencampuran dengan


masyarakat. agregat, masa pelayanan, dan proses
Lapis permukaan konstruksi pengerasan seiring waktu. Penggunaan
perkerasan jalan adalah lapisan yang yang paling umum adalah jenis aspal
paling besar menerima beban, karena itu keras (AC). Aspal jenis ini berbentuk
material penyusun lapisan ini haruslah padat pada temperatur antara 250C-300C
material yang cukup kuat. Jenis lapis terdiri beberapa jenis yaitu: AC pen
permukaan konstruksi perkerasan jalan 40/50, AC pen 60/70, AC pen 80/100,
biasa digunakan terdiri dari berbagai AC pen 120/150, AC pen 200/300
jenis, salah satu jenis yang memiliki Sekitar enam ribu ton ban bekas
stabilitas tinggi adalah beton aspal dihasilkan setiap tahun di Eropa,
(aspalth concrete) dengan komponen Amerika dan Jepang Hal ini akan terus
utama campuran adalah agregat, meningkat sejalan dengan meningkatnya
sehingga dapat dikatakan bahwa daya industri otomotif dunia. Upaya
dukung, keawetan dan mutunya sangat pemusnahan dengan cara pembakaran
ditentukan oleh sifat agregat yang biasa dilakukan ternyata
penyusunnya. Salah satu sifat agregat menghasilkan dampak polusi yang
yang menentukan kualitas perkerasan berbahaya karena berpengaruh buruk
jalan adalah kekerasannya, sifat ini pada kesehatan manusia.(M.Juma,
terkait erat dengan ketahanan agregat 2006). Ban-ban bekas tentunya akan
yang keras dapat menghindarkan mencemari lingkungan sekitarnya
campuran beraspal dari desintegrasi, mengingat ban bekas tidak dapat terurai
seperti pada proses pengangkutan, dengan mudah secara biologis.
penghamparan, dan pemadatan. Agregat Daur ulang ban bekas membutuhkan
adalah material granular, misalnya pasir, teknik khusus karena ban bekas adalah
kerikil, batu pecah yang dipakai bahan termoset, yang tidak dapat diolah
bersama-sama dengan suatu media kembali seperti termoplastik.
pengikat untuk membentuk suatu beton Pengolahan ban bekas menjadi serbuk
semen hidraulik atau adukan. Menurut ban bekas adalah salah satu teknik
(Silvia Sukirman, 2003) agregat menarik untuk pemanfaatan ban-ban
merupakan butir‐ butir batu pecah, bekas. Salah satu cara yang menjanjikan
kerikil, pasir atau mineral lain, baik dalam 'mendaur ulang' serbuk ban bekas
yang berasal dari alam maupun buatan adalah dengan mencampurkan ke dalam
yang berbentuk mineral padat berukuran bahan termoplastik untuk mendapatkan
besar maupun kecil. bahan termoplastik elastomer (TPE)
Aspal didefinisikan sebagai dan pilihan sempurna untuk termoplastik
material hitam atau coklat tua, pada adalah polipropilena (PP) (Shu Ling
temperatur ruang berbentuk padat. Jika Zhang, 2010). Untuk aplikasi yang lebih
dipanaskan sampai suatu temperatur luas ban-ban bekas diolah dalam bentuk
tertentu aspal dapat menjadi lunak/cair serbuk sehingga dapat digunakan
sehingga dapat membungkus partikel sebagai bahan pengisi (filler) dan anti
agregat pada waktu pembuatan aspal degradasi dalam komponen dan dapat
beton. Jika temperatur mulai turun, aspal diaplikasikan sebagai pengolahan
akan mengeras dan mengikat agregat energi, material untuk teknik sipil,
pada tempatnya. Karena itulah aspal roofing, lapangan olahraga (Turf),
disebut bersifat termoplastis. Secara tempat bermain anak-anak. (Rachel
garis besar komposisi kimiawi aspal Simon, 2010).
terdiri dari asphaltenes, resins, dan oils. Serbuk ban bekas merupakan
Asphltenes terutama terdiri dari senyawa bahan yang diperoleh dari ban yang
hidrokarbon merupakan material yang tidak digunakan lagi. Ban Bekas
berwarna coklat atau hitam. Durabilitas merupakan bahan padat dengan
aspal merupakan fungsi dari ketahanan kekenyalan dan bersifat lentur. Susunan
aspal terhadap perubahan mutu kimiawi dari serbuk ban bekas terdiri dari bahan

Hal 39
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

non organik yang mempunyai sifat bekas dapat mengurangi limbah yang
sebagian besar bahannya tidak mudah membahayakan lingkungan.
membusuk hal ini disebabkan memiliki Lapis Aspal Beton (Laston)
rantai kimia yang panjang dan adalah suatu lapisan pada konstruksi
kompleks. Serbuk ban bekas dapat jalan raya, yang terdiri dari campuran
mencair bila dipanaskan pada suhu aspal keras dan agregat yang bergradasi
tertentu dan mempunyai nilai rekat pada menerus dicampur, dihampar dan
keadaan tersebut. Unsur kimia dominan dipadatkan dalam keadaan panas pada
yang terdapat pada serbuk ban bekas suhu tertentu. Aspal beton merupakan
adalah sulfur (S) sebesar 0,422 %; Silika campuran merata antara agregat dan
(SiO2) sebesar 0,422 %; Karbon (C) aspal sebagai bahan pengikat. Pekerjaan
sebesar 94,83 % dengan berat jenis pencampuran dilakukan dipabrik
0,94695 (Kusumawati, 2001). pencampur, kemudian dibawa ke lokasi
Dalam penelitian ini digunakan dan dihampar dengan mempergunakan
serbuk ban bekas sebagai bahan zat alat penghampar sehingga diperoleh
aditif yang digunakan dengan lapisan lepas yang seragam dan merata
pencampuran aspal untuk menentukan untuk selanjutnya dipadatkan dengan
kekuatan aspal Concrete Wearing mesin pemadat dan akhirnya diperoleh
Course (Ac-Wc) dengan memvariasikan lapisan padat Aspal Beton (Silvia
jumlah serbuk ban bekas terhadap Sukirman, 1992). Pembuatan Laston
jumlah aspal. Dengan penambahan dimaksudkan untuk memberikan daya
serbuk ban bekas sebagai bahan aditif dukung dan memiliki sifat tahan
diharapkan dapat mengurangi terhadap keausan akibat lalu lintas,
pemakaian aspal dan meningkatkan kedap, air, mempunyai nilai struktural,
kekuatan jalan serta mengurangi limbah mempunyai nilai stabilitas yang tinggi
ban bekas. Serbuk ban bekas yang dan peka terhadap penyimpangan
berasal dari limbah-limbah ban yang perencanaan dan pelaksanaan
telah dibuang dengan komposisi dan
ukuran partikel yang berbeda dicampur 2.Metode Penelitian
dengan bahan aspal. Antara serbuk ban A.Bahan-bahan
bekas dan aspal mempunyai sifat A. Agregat : Pasir, MA3/8, CA1/2,
kepolaran yang berbeda sehingga dapat Semen, Abu Batu
mengurangi terjadinya adesi antara B. Aspal
kedua bahan sehingga melemahkan C. Serbuk Bekas ukuran 60 Mesh
bahan kekuatan aspal. Serbuk ban bekas B.Alat-Alat
yang digunakan sebagai zat aditif yang 1. Oven dan pengatur suhu
dipadukan dengan aspal yang digunakan 2. Timbangan
pada lapisan ac-wc 3. Thermometer
Untuk meningkatkan adesi 4. Alat pembuat briket campuran
antara matrik dan bahan pengisi dapat aspal hangat terdiri dari:
dilakukan dengan: a. Satu set cetakan (moid)
1. Mengolah ban bekas menjadi berbentuk silinder
serbuk ban bekas dengan diameter 101.45
2. Ukuran serbuk ban bekas harus mm, tinggi 80 mm
sangat kecil sehingga interfacial lengkap dengan plat atas
dapat maksimal dan leher sambung
3. Melakukan devulkanisasi terhadap b. Alat penumbuk
serbuk ban bekas. (compactor) yang
Selanjutnya serbuk ban bekas / aspal mempunyai permukaan
dan agregat lainnya dicampur dan tumbuk rata berbentuk
dicetak pada muold yang diharapkan silinder, dengan berat
dapat digunakan sebagai bahan aditif 4.536 kg (10 lbs), tinggi
campuran aspal dan pemanfaatan ban bebas 45.7 cm (18”).

Hal 40
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

c. Satu set alat pengangkat kunci pas, obeng, roll


briket (dongkrak kabel, wajan.
hidrolis) C. Menentukan komposisi (Mix
d. Satu set water bath Design)
e. Satu set alat marshall Sebelum pembuatan benda uji,
yang terdiri dari: ditentukan komposisi setiap bahan yang
f. Kepala penekan yang digunakan atau merancang campur (mix
berbentuk lengkung design) yang meliputi perencanaan
(Breaking Head) agregat, penentuan aspal dan
g. Cincin penguji pengukuran komposisi masing fraksi
berkapasitas 2500 kg baik agregat,Aspal, Abu Vulkanik, dan
dengan arloji tekan Filler. Komposisi agregat yang
h. Arloji petunjuk kelelahan digunakan dalam penelitian seperti pada
i. Panci, kompor, sendok, Tabel 2.1
spatula, sarung tangan,

Tabel 2.1 Persentase agregat yang digunakan dalam penelitian


No Agregat jumlah (%)
1 Aspal 6,05
2 CA ½ 14
3 MA 3/8 49
4 Pasir 11
5 Abu Batu 24
6 Filler 2

Sumber: Spesifikasi 2010 revisi 3

Dengan variasi komposisi serbuk ban seperti pada Tabel 2.2, persentase serbuk
bekas maka diperoleh komposisi ban bekas ditentukan berdasarkan berat
agregat, aspal dan serbuk ban bekas aspal.

Tabel 2.2 Variasi komposisi agregat ,aspal dan serbuk ban bekas
Serbuk Ban Berat Agregat
No Agregat
Bekas # 60 (gr)
1 0% Aspal 72,6
CA ½ 247,5
MA 3/8 799,92
Pasir 923,94
Abu batu 1194,51
Filler 1217,06
2 5% Aspal 72,6
CA ½ 247,5
MA 3/8 799,92
Pasir 923,94
Abu batu 1194,51
Filler 1217,06
Serbuk ban bekas 3,63
3 10% Aspal 72,6

Hal 41
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

CA ½ 247,5
MA 3/8 799.92
Pasir 923,94
Abu batu 1194,51
Filler 1217,06
Serbuk ban bekas 7,26
4 15% Aspal 72,6
CA ½ 247,5
MA 3/8 799,92
Pasir 923,94
Abu batu 1194,51
Filler 1217,06
Serbuk ban bekas 10,89

D. Pembuatan Benda Uji 75 kali tumbukan atas dan


a. Pengambilan agregat di sekitar bawah. Selanjutnya
AMP seperti, pasir, abu batu, didinginkan pada suhu ruang
CA ½, MA 3/8, aspal penetrasi 27oC selama ± 2 jam. Setelah
60/70. dingin sampel dikeluarkan dari
b. Menentukan berat aspal mold dengan dongkrak
penetrasi 60/70, berat filler dan hidraulis.
berat agregat yang akan e. Benda uji dikeluarkan dari
dicampur berdasarkan variasi mould, kemudian dilakukan
kadar aspal. Berat filler di penimbangan untuk mencari
tentukan dengan menambahkan berat kering (berat diudara) lalu
dengan presentasi 5%, 10%, direndam selama 24 jam
15%, terhadap berat lolos f. Dilakukan penimbangan berat
saringan no 200 dan berat aspal benda diudara
ditentukan dengan menambah g. Timbangan dalam Air Water
serbuk ban bekas 60 mesh Bath selama 30 menit dengan
c. Agregat setelah ditimbang suhu 30°C
dipanaskan dengan suhu 150 h. Lalu dilakukan uji marshall
derajat cellcius, lalu aspal
Penetrasi 60/70 dituang ke 3. Hasil dan Pembahasan
dalam wajan yang berisi A. Pengambilan agregat dan
agregat yang diletakkan di atas Pengujian agregat
timbangan sesuai dengan Dari hasil pengumpulan agregat
presentase bitumen content di sekitar AMP seperti, pasir, abu batu,
berdasarkan berat total agregat CA3/4, CA1/2, MA3/8 , aspal penetrasi
d. Campuran dimasukkan 60/70 diperoleh seperti pada Gambar
kedalam mold dan dipadatkan 4.1a, b, c, d dan e
dengan alat pemadat sebanyak

a. Agregat MA3/8 b. Agregat CA3/4 c. Pasir

Hal 42
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

d. Abu Batu e. Serbuk ban bekas 60 mesh


Gambar 3.1 a, b, c, d dan e agregat yang digunakan dalam penelitian

Dari hasil pengujian agregat diperoleh Dari hasil pemeriksaan agregat kasar
hasil sebagai berikut : CA1/2 diperoleh seperti pada Tabel 3.1
a. Hasil Pemeriksaan Agregat Kasar
(CA1/2)

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Agregat Kasar (CA 1/2)

Jenis Pemeriksaan Hasil Syarat


Penyerapan (%) 1,121% max. 3 %
Berat Jenis Bulk 2,750 gr/cc min. 2.5 gr/cc
Berat Jenis SSD 2,750 gr/cc min. 2.5 gr/cc
Berat Jenis Aparent 2,805 gr/cc -

b. Pemeriksaan Agregat Kasar (MA3/8)


Dari hasil pemeriksaan agregat kasar MA3/8 diperoleh seperti pada Tabel 3.2

Tabel 3. 2 Hasil Pemeriksaan Agregat Kasar (MA 3/8)

NO Jenis Pemeriksaan Hasil Syarat


1 Penyerapan (%) 1,84% max. 3 %
2 Berat Jenis Bulk 2,74 gr/cc min. 2.5 gr/cc
3 Berat Jenis SSD 2,789 gr/cc min. 2.5 gr/cc
4 Berat Jenis Aparent 2,885 gr/cc -
Sumber : Spesifikasi 2010 revisi 3

c. Pemeriksaan Agregat Halus (Abu Batu)


Dari hasil pemeriksaan agregat halus (Abu Batu) diperoleh hasil seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 3.3

Tabel 3.3 Hasil Pemeriksaan Agregat Halus (Abu Batu)

NO Jenis Pemeriksaan Hasil Syarat


1 Penyerapan (%) 2,100% max. 3 %
2 Berat Jenis Bulk 2,525 gr/cc min. 2.5 gr/cc
3 Berat Jenis SSD 2,58 gr/cc min. 2.5 gr/cc
4 Berat Jenis Aparent 2,664 gr/cc -

Hal 43
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

d. Hasil Pemeriksaan Agregat Halus (Pasir)


Dari hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) diperoleh hasil seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 3.4

Tabel 3.4. Hasil Pemeriksaan Agregat Halus (Pasir)


NO Jenis Pemeriksaan Hasil Syarat
1 Penyerapan (%) 2,543 % max. 3 %
2 Berat Jenis Bulk 2,540 gr/cc min. 2.5 gr/cc
3 Berat Jenis SSD 2,604 gr/cc min. 2.5 gr/cc
4 Berat Jenis Aparent 2,715 gr/cc -
Sumber : Spesifikasi 2010 revisi 3

Dari hasil pemeriksaan seluruh agregat data hasil pengujian laboraturium. Dari
telah memenuhi persyaratan spesifikasi hasil pengujian yang telah dilakukan,
2010 revisi 3 yang berarti bahwa agregat Aspal mempunyai karakteristik yang
tersebut telah memenuhi persyaratan telah memenuhi spesifikasi petunjuk
pelaksanaan agregat untuk jalan raya. lapis Aspal Beton sesuai dengan revisi
SNI 03-1737-1989. Hasil pemeriksaan
B. Hasil pemeriksaan Aspal Aspal seperti disajikan pada Tabel 3.5.
Data hasil pemeriksaan aspal
Pertamina penetrasi 60/70 merupakan

Tabel 3.5 Hasil pemeriksaan Aspal


Syarat
No Jenis Pemeriksaan Hasil
Min Maks
1 Penetrasi,10gr,25c,5 detik 60 79 70,1
2 Titik Lembek 48 58 48,33⁰ C
3 Titik Nyala 200⁰ C - 350⁰ C
4 Titik Bakar 200⁰ C - 370⁰ C
5 Daktilitas, 25⁰ C, 5 cm/menit 100 cm - >150 cm
6 Spesifik Grafity 1 gr/CC - 1,03gr/cc
Sumber : Spesifikasi umum 2010

Penetrasi merupakan suatu pengujian campuran aspal pada saat


yang sangat penting, itu dikarenakan pembuatan sampel suhu yang
penetrasi dapat menunjukan mutu suatu dilakukan 1500C.
aspal. Penetrasi adalah masuknya jarum Dari hasil pemeriksaan aspal penetrasi
penetrasi kedalam permukaan aspal 60/70 telah memenuhi persyaratan
dalam waktu 5 detik dengan beban 100 spesifikasi umum 2010 yang berarti
gram pada suhu 25˚C (SNI 06 – 2456 – bahwa aspal tersebut telah memenuhi
1991). Pengujian ini ditujukan untuk persyaratan pelaksanaan lapis Aspal
menentukan kekerasan dan kelembekan beton untuk jalan raya.
suatu aspal. Hal yang perlu diperhatikan
untuk memilih penggunaan Penetrasi C. Hasil Pembuatan Sampel
aspal adalah sebagai berikut: Dari hasil campuran aspal ,
a. Semakin besar angka penetrasi agregat dan variasi serbuk ban bekas
semakin lembek aspal tersebut. dicetak dan dipadatkan sehingga
b. Semakin kecil angka penetrasi diperoleh sampel seperti Gambar 3.2
maka aspal tersebut semakin keras. dan ditimbang di dalam air pada Gambar
Suhu sangat berpengaruh pada 3.3

Hal 44
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

Gambar 3.2 Sampel setelah dicetak. Gambar 3.3 Penimbangan Sampel di


dan dipadatkan dalam air

Gambar 3.4 Perendaman Sampel di dalam air

D. Hasil Pengujian Marshall yaitu dengan menentukan stabilitas,


Dari hasil pengujian sampel flow, marshall quantity (MQ) maka
dengan menggunakan alat Marshall tes diperoleh hasil seperti pada Tabel 3.6

Tabel 3.6 Hasil pengujian sampel dengan menggunakan alat Marshall tes
Komposisi
Serbuk Ban 0 5 10 15
Bekas (%)
Stabilitas (kg) 1068 1115 1100 1085
Flow (mm) 3.67 2.17 3.40 2.50
Marshall
291 521 320 444
quontient(kg/mm)

a. Stabilitas yang cukup tinggi hal ini disebabkan


Dari Tabel 3.6 dapat dilihat serbuk ban bekas bersifat kohesi,
bahwa dengan penambahan serbuk ban sehingga bidang kontak antar agregat
bekas pada komposisi 5%, 10% dan meningkat pada beton aspal campuran
15% stabilitas mengalami penurunan, panas. Nilai stabilitas yang terlalu besar,
namun jika dibandingkan nilai stabilitas akan menyebabkan campuran menjadi
sesuai dengan SNI 03-1737-1989 untuk kaku sehingga campuran bersifat getas
lalu lintas berat stabilitas minimum 800 dan akan mudah rusak apabila terkena
kg maka nilai stabilitas yang diperoleh repetisi beban akibat lalu lintas.(Faqih
masih memenuhi SNI 03-1737-1989. Ma’arif, Pramudiyanto, 2012).
Dari data nilai stabilitas yang diperoleh Hubungan antara komposisi serbuk ban
menunjukkan bahwa dengan bekas dengan nilai stabilitas ditunjukkan
penambahan serbuk ban bekas pada Gambar 3.5.
komposisi 5% menghasilkan stabilitas

Hal 45
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

1200
1150

Stabilitas (kg)
1100
1050
1000
950
900
0 5 10 15

Komposisi Serbuk Ban Bekas (%)


Gambar 3.5 Hubungan antara komposisi Serbuk Ban Bekas dengan Nilai Stabilitas

b. Flow. batas runtuh dan dinyatakan dalam


Flow dari pengujian Marshall satuan mm atau 0,01.
adalah besarnya deformasi vertikal Hubungan antara komposisi serbuk ban
sampel yang terjadi mulai saat awal bekas dengan flow ditunjukkan pada
pembebanan sampai kondisi kestabilan Gambar 3.6
maksimum sehingga sampel sampai

5
4
Flow (mm)

3
2
1
0
0 5 10 15
Komposisi Serbuk Ban Bekas (%)

Gambar 3.6 Hubungan antara komposisi serbuk ban bekas dengan flow

Dari Gambar 3.6 menunjukkan nilai flow dari semua parutan ban dalam
nilai flow pada penambahan serbuk ban bekas masih memenuhi spesifikasi yaitu
bekas mengalami penurunan pada 5% lebih besar dari 3 mm sehinga
di mana pada saat awal pembebanan perubahan bentuk(deformasi plastis)
mengalami kegoyahan , namun dengan akibat pembebanan bias terhindar dari
komposisi serbuk ban bekas 5%, 10%, keretakan.
15% masih memenuhi standart SNI 03-
1737-1989 yaitu minimal 2 mm dan c. Hubungan aspal dengan MQ.
maksimal 4mm untuk lalulintas berat Marshall Quotient adalah
sehingga masih dianggap dapat perbandingan antara nilai stabilitas dan
digunakan sebagai bahan aditif. Menurut flow, yang dipakai sebagai pendekatan
(Faisal, dkk) untuk nilai flow pada terhadap tingkat kekakuan campuran.
campuran aspal beton mengalami Bila campuran aspal agregat mempunyai
peningkatan dari 0% samapi 1% parutan angka kelelehan rendah dan stabilitas
ban dalam bekas kendaraan roda empat tinggi menunjukkan sifat kaku dan getas
kemudian terus menurun secara (brittle), sebaliknya bila nilai kelelehan
siknifikan mulai dari 2% sampai 5% ,

Hal 46
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

tinggi dan stabilitas rendah maka Hubungan antara komposisi serbuk ban
campuran cenderung plastis. bekas dengan Marshal Quintent
ditunjukkan pada Gambar 3.7

600

Marshall Quontent
500
400

(kg/mm)
300
200
100
0
0 5 10 15
Komposisi Serbuk Ban Bekas (%)

Gambar 3.7 Hubungan antara komposisi serbuk ban bekas dengan Marshall
quotient

Sesuai dengan standart SNI 03- B. Saran


1737-1989 menyatakan bahwa nilai 1. Diharapkan penelitian dapat
Marshal Quantity (MQ) untuk lalulintas dilakukan dengan variasi
berat adalah antara 200-350 kg/mm, dari komposisi serbuk ban bekas
Gambar 3.7 menunjukkan nilai MQ yang banyak sehingga dapat
pada penambahan serbuk ban bekas 10% ditentukan komposisi terbaik
sudah memenuhi standart namun untuk untuk mendapatkan campuran
komposisi serbuk ban bekas 5% dan ac-wc yang cocok.
15% nilai MQ terlalu tinggi atau tidak 2. Diharapkan peneliti yang lain
memenuhi standart SNI 03-1737-1989. dapat menggunakan serbuk ban
Menurut (Misbah, 2011) bahwa bekas dengan ukuran serbuk
penambahan filer atau bahan aditif yang lebih halus atau yang lebih
dipengaruhi oleh komposisi bahan kasar untuk mendapatkan nilai
tersebut. yang lebih sesuai standar

5. Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan Daftar Pustaka
1. Dari hasil penelitian untuk
campuran ac –wc dengan Bina Marga, 1987 Bahan Penyusun
menggunakan serbuk ban bekas Lapis Aspal Beton (Aspallth
#60 sebagai bahan aditif sangat Concrete)
mempengaruhi nilai stabilitas , Bina Marga, 1989, ”SNI No. 1737-
flow dan Marshall Quantity dan 1989-F, Petunjuk Pelaksanaan
sesuai dengan standar revisi SNI Lapis Aspal Beton
03-1737-1989 Untuk Jalan Raya”, Departemen
2. Dari hasil penelitian PU, Jakarta
menunjukkan bahwa serbuk ban DEPARTEMEN Pekerjaan Umum
bekas dapat dijadikan bahan Directorat Jendral Bina Marga
aditif pengganti aspal dengan NO : 001-03/BM/2006
komposisi serbuk ban bekas Pedoman Konsrtuksi Bangunan
tertentu. Faisal, dkk, 2014, Karakteristik Marshall
Campuran aspal beton AC-BC
menggunakan material

Hal 47
Juitech | Vol. 01 | No. 01 | Maret 2017 | p-ISSN: 2580-4057 | e-ISSN: 2597-7261

agregat Basalt dengan aspal Shu Ling Zhang, Zhen Xiu Zhang, 2010
Penetrasi 60/70 dan tambahan “Prediction of mechanical
parutan ban dalam bekas. properties of
Faqih Ma’arif,Pramudiyanto, 2012 ,Uji polypropylene/waste ground
Kinerja Marshall Agregat rubber tire powder treated by
Bantak Merapi Dengan bitumen composites via
Menggunakan Serat uniform design and artificial
Polypropylene neural networks, Contents lists
Herman Fithra, 2011, Karakteristik available at ScienceDirect
Penggunaan Serbuk Ban Bekas Materials and Design journal
Pada Campuran Panas :www.elsevier.com/locate/matde
Aspalth Concrete Binder Course s
(AC-BC) SNI 03-1737-1989, Ketentuan Sifat-Sifat
Krebs, D.Robert, Walker, D.Richard. Campuran Laston AC-BC
1971. Highway Material, SNI 032-2434-1991, SNI 06-433-1991,
Mcgraw-Hill Book SNI 06-2432-1991 Pengujian
Company New York Aspal
Kusumawati, 2001, Serbuk ban bekas https://www.google.co.id/search?q=hhtp
Misbah, 2011, Pengaruh Variasi Kadar +.Viva.com%2C+Ban+Bekas&o
Filler Terhadap Nilai q=hhtp+.Viva.com
Karakteristik Campuran Panas %2C+Ban+Bekas&aqs=chrome.
Aspal Agregat (AC-WC) dengan .69i57.1319j0j1&sourceid=chro
Pengujian Marshall,Poli me&ie=UTF-8 http.viva.com,
Rekayasa,Vol:6,No.2,p:139-147 Ban Bekas
M. Juma*, Z. Koren ová, J. Markoš, J. https://aconkmedia.wordpress.com/aspal
Annus, L . Jelemenský ,2006
“Pyrolysis and Combaustion of
Scrap Tire “Institute of
Chemical and Environmental
Engineering, Faculty of
Chemical and Food Technology,
Slovak University of
Technology, Radlinského 9, 812
37 Bratislava, Tel.: ++421 2
59325265, E-mail
mohamamd.juma@stuba.sk
Nurkhayati Darunifah, Pengaruh bahan
tambahan karet padat terhadap
karakteristik campuran hot
rolled sheet wearing course
(HRS-WC)
Rachel Simon,2010,Review of the
Impacts of Crumb Rubber in
Artificial Turf Applications”
University of California,
Berkeley Laboratory For
Manufacturing And
Sustainability
Silvia Sukirman, 1992 , Aspal beton
merupakan campuran antara
agregat dan aspal sebagai bahan
pengikat

Hal 48