Vous êtes sur la page 1sur 18

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 2

MAKALAH TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA


BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)

DISUSUN OLEH:
SITI NURTIANI
NIM. 1710053181
TINGKAT 3A

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI UNIVERSITAS MULAWARMAN FAKULTAS
KEDOKTERAN PRODI D3 KEPERAWATAN
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertrofi prostat benigna adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat(secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun)menyebabkan berbagai derajat
obstruksi uretral dan pembesaran aliran urinarius.
Hipertrofi prostat benigna tidak diketahui secara jelas penyebabnya namun
kemungkinan disebabkan pengaruh hormon androgen dan estrogen serta perubahan
endokron pada usia lanjut dengan manisfestasi klinik susah untuk berkemih,nyeri saat
mengawali dan mengakhiri aliran urine dan ketidak mampuan untuk mengosongkan
isi kandung kemih.
Mengingat kita manusia tidak akan pernah terlepas dari hukum alam dan
banyaknya kasus hipertrofi prostat benigna yang ada diindonesia khusunya
dipontianak yang menyerang pria tua umur lebih dari 50 tahun,maka kami tertarik
untuk membahas makalah ini yang dikumpulkan dari beberapa literature yang berupa
teori-teori mengenai hipertrofi prostat yang kiranya nanti dapat dijadikan pegangan
untuk penanganan asuhan keperawatan kasus tersebut.

B. Tujuan Penulisan
1. Memberikan gambaran yang jelas terhadap penerapan asuhan keperawatan pada
pasien dengan hipertrofi prostat benigna
2. Memenuhi salah satu syarat pembuatan makalah pada MA:KMB III

C. Metode Penulisan

1. Kepustakaan
Yaitu membaca referensi-referensi yang memepunyai hubungan dengan gangguan
sistem perkemihan:hipertrofi prostat benigna
2. Diskusi kelompok bersama mahasiswa membahas mengenai gangguan sistem
perkemihan
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Definisi

Hipertrofi prostat benigna adalah pembesaran granula dan jaringan seluler


kelenjar prostat yang berhubungan dengan perubahan endokrin berkenaan dengan
proses penuaan;kelenjar prostat mengitari leher kandung kemih dan uretra;sehingga
hipertrofi prostat seringkali menghalangi pengosongan kandung kemih(standar
perawatan pasien edisi V volume 3,penerbit EGC)
Pembesaran progresif dari kelenjar prostat(secara umum pada pria lebih tua dari
50 tahun)menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran
urinarius (Doenges M.E.rencana asuhan keperawatan,hal 671)

2. Anatomi Fisiologi

Traktus urinari pada laki-laki tidak terpisah.uretra laki-laki panjangnya 17 sampai


23 sentimeter.uretra meninggalkan kandung kencing dan melalui kelenjar prostat
yang bagian itu dikenal sebagai uretra pars prostatika,berjalan ke uretra
membranosa,kemudian menjadi uretra penis;membelok dengan sudut 90 derajat,dan
melalui perineum ke penis
Testis adalah organ kelamin laki-laki,testosteron dihasilkan.testis berkembang
didalam rongga abdomen sewaktu janin dan turun melalui saluran inguinal kanan dan
kiri masuk kedalam skrotum menjelang akhir kehamilan.testis ini terletak oblik
menggantung pada urat spermatik didalam skrotum
Testosteron,hormon kelamin laki-laki disekresikan oleh sel interstisial yaitu sel-
sel yang terletak didalam ruang antara tubula-tubula seminiferus testis dibawah
rangsangan hormon perangsang sel intertisiil(ICSH) arti hipofisi yang sebenarnya
adalah bahan yang sama dengan hormon luteinizing(LH).pengeluaran testosteron
bertambah dengan nyata pada masa pubertas yang bertanggung jawab atas
pengembangan sifat-sifat kelamin sekunder:yaitu pertumbuhan jenggot,suara lebih
berat;pembesaran genitalia.

Vesikula seminalis atau kandung mani adalah dua buah kelenjar tubuler yang
terletak kanan dan kiri dibelakang leher kandung kemih.salurannya bergabung dengan
vasa deferentia,untuk membentuk saluran ejakulator(ductus ejaculatorius
communis).sekret vesika seminalis adalah komponen pokok dari air mani
Epididimis adalah organ kecil yang terletak dibelakang testis serta terkait
padanya.terdiri atas sebuah tabung sempit yang sangat panjang dan berliku
dibelakang testis.melalui tabung ini sperma berjalan dari testis masuk kedalam vas
deferens,vas deferens adalah sebuah saluran yang berjalan dari bagian bawah
epididimis naik dibelakang testis,masuk ketali mani(funikulus spermatikus)dan
mencapai rongga abdomen melalui saluran inguinal,dan akhirnya berjalan masuk
kedalam pervis
Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah walkut atau buah kemari besar,letaknya
dibawah kandung kemih mengelilingi uretra dan terdiri atas kelenjar majemuk.saluran
dan otot polos.prosta mengeluarkan sekret cairan yang bercampur dengan sekret dari
testis.pembesaran prostat akan membendung uretra dan menyebabkan retensio urine
Skorotum(kandung buah pelir) adalah sebuah struktur berupa kantong yang terdiri
atas kulit tanpa lemak subkutan,berisi sedikit jaringan otot.testis berada didalamnya
setiap testis berada dalam pembungkus yang disebut tunika vaginalis,yang dibentuk
dari peritoneum
Penis(zakar) terdiri atas jaringan seperti busa dan memanjang dari glans
penis(kepala zakar),tempat muara uretra.kulit pembungkus glans penis adalah
preputum atau kulup.isi pelvis laki-laki kandung kemih dengan vas deferens dan
kelenjar prostat rektum dan peritoneum pelvis.kelenjar limfe dan banyak pembuluh
limfe,serabut saraf sakralis,arteri dan vena.

3. Etiologi

Belum diketahui secara jelas tetapi kemungkinan disebabkan oleh:


1. Pengaruh hormon androgen dan estrogen
2. Perubahan endokrin pada usia lanjut

4. Patofisiologi
Pada umumnya nodul berasal dari sekitar uretra dalam lobus medialis dan
gangguan lebih tengah lagi dari lobus lateralis.duktus kelenjar yang membesar hampir
selalu bermuara proksimal velumontanum.
Walaupun nodul tadi tidak berkapsul murni tetapi pada irisan tampak jelas
diakibatkan tekanan oleh parenkum disekitarnya uretra dapat terjepit sehingga
merupakan celah yang disebabkan oleh nodul kanan dan kiri.kelenjar yang baru
terbentuk mempunyai ukuran bervariasi dan ditutupi sel-sel kalumnar yang
hipertrofi,memberi gambaran khusus penonjolan papil dan lipatan-lipatan,bentuk
grandula maupun yang fibromuskular.dapat tampak dalam nodul sekitar jaringan
prostat adalah kecil berupa nekrosis iskemi yang dikelilingi sel-sel yang mengalami
metaplasia skuamosa,hal trsebut tampak jelas dari kesukaran mengawali
,mempertahankan dan menghentikan pengeluaran urine.kadang-kadang didapati juga
nokturia yang sering dan disebabkan karena menonjolnya dasar uretra yang berakibat
retensi urine residu yang banyak dalam kandungan kencing setelah miksi.

5. Tanda dan Gejala


1. Sering berkemih tetapi sedikit
2. Sakit saat mengawali dan mengakhiri aliran urine
3. Tidak mampu mengosongkan seluruh isi kandung kemih
4. Terlalu lancar pancaran urine

6. Pemerikasaan laboratorium
 Urinalisis
 Pemeriksaan kultur dan sensititubs urine
 Kreatinin serum
 BUN serum
 Asam fosfat
 SDP
 Sistoskopi
 Urografi ekskretori/IVP
 Pemeriksaan retrograd

7. Penatalaksanaan medis
 Kateterisasi
 Antibiotik
 Masukan dan haluaran
 Pembedahan
 Reseksi transuretral prostat(TURP)
 Prostatektomi suprapubis
 Prostatektomi retropubis
 Prostatektomi retropubis radikal
 Sistostomi drainase kandung kemih

8. Komplikasi
 Pielonefritis
 Hidronefrosis
 Azotemia
 Uremia

B. Konsep Dasar Keperawatan


Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio,psiko,sosio dan ditujukan kepada
individu,keluarga dan masyarakat yang sehat maupun sakit dalam mencapai siklus
hidup manusia.
1. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien menurut pola Gordon
1. Pola persepsi kesehatan
- Riwayat pasien pernah megalami sakit
- Bagaimana awal mulanya penyakit dan pengobatan yang dilakukan
- Pekerjaan yang dilakukan klien
- Mengkonsumsi suplemen dan vitamin untuk menjaga kesehatan tubuh

2. Pola nutrisi metabolik


- Kaji makan ada atau tidak
- Banyaknya minum dalam sehari
- Adanya anoreksia,mual,dan muntah
- Penurunan berat badan

3. Pola eliminasi
- Adanya penurunan kekuatan/dorongan aliran urine
- Keragu-raguan pada perkemihan awal
- Adanya ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan
lengkap
- Adanya nokturia,disuria,hematuria
- Duduk untuk berkemih

4. Pola aktivitas dan latihan


- Nyeri pada kandung kemih saat beraktivitas
- Aktivitas rutin yang pasien lakukan sehari-hari?
- Adakah hambatan dalam ambulasi

5. Pola tidur dan istirahat


- Adakah sering terbangun karena nyeri disuprapubis?
- Perassan malas setelah bangun
- Adakah pengunaan alat bantu tidur
- Lama tidur dalam 24 jam

6. Pola persepsi kognitif


- Adakah mengkonsumsi analgetik saat nyeri timbul
- Adakah nyeri kuat suprapubis,panggul atau punggung(skala 7-9)
- Adanya cemas dan meringis

7. Pola persepsi dan konsep diri


- Perasaan tidak berdaya
- Malu terhadap keadaannya
- Bagaimana klien memandang dirinya

8. Pola peran dan hubungan dengan sesama


- Perhatiaan keluarga terhadap keadaan pasien saat ini
- Bantuan keluarga dan orang terdekat untuk pasien
- Bagaimana klien beradaptasi dengan lingkungan
9. Pola reproduksi dan seksualitas
- Penurunan libido
- Adakah efek terapi pada kemampuan seksualitas
- Impoten

10. Pola mekanisme koping dan stress


- Membicarakan masalah dengan orang terdekat
- Adanya perasaan cemas dan takut
- Selalu mencari bantuan orang lain

11. Pola sistem kepercayaan


- Percaya bahwa tuhan akan memberikan penyembuhan
- Percaya bahwa tuhan adalah penuntun hidupnya
- Percaya bahwa ini adalah cobaan dari tuhan

2. Masalah keperawatan

1. Nyeri yang berhubungan dengan distensi kandung kemih yang ditandai oleh
adanya ungkapan nyeri(skala 7-9),gelisah dan meringis.
2. Retensi urine yang berhubungan dengan:pembesaran prostat dan ketidakmampuan
kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat yang ditandai oleh adanya
ungkapan penurunan kekuatan/dorongan aliran urine,keragu-raguan saat
berkemih, dan ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan
lengkap.
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis,dan kebutuhan pengobatan yang
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi yang ditandai oleh
pertanyaan meminta informasi dan tidak akurat mengikuti instruksi
4. Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan kemampuan
seksualitas yang ditandai oleh penurunan libido dan impoten.
5. Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan kemungkinan
prosedur bedah yang ditandai oleh kecemasan dan ketakutan
6. Resiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
pascaobstruksi diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi
secara kronis

3. Rencana keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan distensi kandung kemih yang ditandai oleh
adanya ungkapan nyeri(skala 7-9),gelisah dan meringis.
Tujuan :Nyeri berkurang sampai dengan teratasi dalam waktu 1x24 jam

Sasaran:
1. Melaporkan nyeri berkurang/hilang
2. Skala nyeri 1-2(dapat ditoleransi)
3. Pasien tampak rileks
4. Klien dapat tidur/istirahat dengan tenang

Intervensi
1. Kaji nyeri,perhatikan lokasi,karakteristik,intensitas(skala 0-10)lamanya
Rasional:memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan pilihan/
keefektifan intervensi
2. Berikan posisi yang nyaman(semifowler)dan ajarkan teknik relaksasi
Rasional:meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian,dan dapat
meningkatkan kemampuan koping.
3. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
Rasional:tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi
akut.namun,ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih normal dan
menghilangkan nyeri kolik
4. Dorong menggunakan rendam duduk,sabun hangat untuk perineum.
Rasional:meningkatkan relasasi otot
5. Masukan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainase
Rasional:pengaliran kandung kemih menurunkan tegangan dan kepekaan kelenjar
6. Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi
Rasional:diberikan untuk menghilangkan nyeri berat,memberikan relaksasi
mental dan fisik.

2. Retensi urine yang berhubungan dengan:pembesaran prostat dan


ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat yang
ditandai oleh adanya ungkapan penurunan kekuatan/dorongan aliran
urine,keragu-raguan saat berkemih, dan ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih dengan lengkap.
Tujuan :Kemampuan berkemih kembali normal
Sasaran:
1. Berkemih dengan jumlah yang cukup tak teraba distensi kandung kemih
2. Menunjukan residu paska berkemih kurang dari 50 ml;dengan tidak adanya
tetesan
3. Peningkatan dorongan aliran urine

Intervensi
1. Kaji ketidakmampuan pasien berkemih
Rasional:memberikan informasi mengenai ketidakmampuan sehingga dapat
dilakukan intervesi yang tepat
2. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan
Rasional:meminimalkan retensi urine distensi berlebihan pad kandung kemih
3. Observasi aliran urine,perhatikan ukuran dan kekuatan
Rasional:bergina untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan intervensi
4. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih,perhatikan penurunan haluaran
urine dan perubahan berat jenis
Rasional:retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan
atas,yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal adanya defisit aliran darah keginjal
menganggu kemampuannya untuk memfilter dan mengkonsentrasi substansi
5. Palpasi/perkusi area suprapubik
Rasional:Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapublik
6. Awasi tanda-tanda vital dengan tepat
Rasional:mengontrol faal ginjal
7. Berikan rendaman duduk sesuai indikasi
Rasional:meningkatkan relaksasi otot,penurunan edema,dan dapat meningkatkan
upaya berkemih
8. Berikan obat sesuai indikasi
Rasional:menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi oleh
kateter

3. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis,dan kebutuhan pengobatan


yang berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi yang ditandai
oleh pertanyaan meminta informasi dan tidak akurat mengikuti instruksi.
Tujuan:informasi tentang kondisi,prognosis,dan kebutuhan pengobatan dipahami
Sasaran:
1. Pasien menyatakan pemahaman tentang informasi yang diberikan
2. Pasien berpartisipasi dalam program pengobatan
3. Klien menyatakan kesadaran dan merencanakan/melakukan perubahan pola hidup
tertentu
4. Mengidentifikasikan hubungan tanda/gejala proses penyakit

Intervensi:
1. Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien
Rasional:memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan
informasi terapi
2. Dorong menyatakan rasa takut/perasaan dan perhatian
Rasional:membantu pasien mengalami perasaan dapat merupakan rehabilitasi
vital
3. Berikan informasi bahwa kondisi tidak ditularkan secara seksual
Rasional:Mungkin merupakan ketakutan yang tidak dibicarakan
4. Berikan informasi tentang anatomi dasar seksual,dorong prtanyaan dan tingkatkan
dialog tentang masalah
Rasional:memilih informasi tentang anatomi mambantu pasien memahami
implikasi tindakan lanjut,sesuai dengan afek penampilan seksual
5. Kaji ulang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik,contoh urine keruh,
berbau:penurunan haluan urine,ketidakmampuan untuk berkeih
Rasional:Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi lebih serius

4. Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan


kemampuan seksualitas yang ditandai oleh penurunan libido dan impoten.
Tujuan :Pola seksualitas kembali normal
Sasaran:
1. Klien menceritakan kepedulian/masalah mengenai fungsi seksual
2. Mengekspresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual
3. Mengidentifikasi stresor dalam kehidupan
4. Melanjutkan aktivitas seksual sebelumnya
5. Melaporkan suatu keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual

Intervensi
1. Kaji riwayat seksual
Rasional:mengidentifikasi informasi mengenai seksual masa lalu klien sehinga
mudah dalam pemberian intervensi
2. Berikan dorongan untuk bertanya tentang seksualitas atau fungsi seksual yang
mungkin menganggu pasien
Rasional:memberikan banyak informasi tentang seksualitas membantu dalam
perbaikan pola seksual
3. Gali hubungan pasien dengan pasangannya
Rasional:mengidentifikasi masalah lebih spesifik lagi
4. Identifiasi penghambat untuk memuaskan fungsi seksual
Rasional:Mencari penyebab lebih baik untuk perbaikan
5. Ajarkan tehnik istirahat sebelum melakukan aktivitas seksual
Rasional:menyimpan energi untuk aktivitas seksual
6. Anjurkan klien untuk berolah raga secara teratur dan menjaga kesehatan
Rasional:agar tubuh tetap fit dan mampu melakukan aktivitas seksual dengan
baik

5. Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan


kemungkinan prosedur bedah yang ditandai oleh kecemasan dan ketakutan.
Tujuan :Ansietas dapat diminimalkan sampai dengan diatasi setelah 1 X 24 jam
Sasaran:
1. Pasien tampak rileks
2. Pasien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
3. Pasien mendemonstrasikan/menunjukan kemampuan mengatasi masalah dan
menggunakan sumber-sumber secara efektif
4. Pasien mempertahankan tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi:
1. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebabnya bila mungkin
Rasional:Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu
untuk menghadapinya dengan lebih realitis
2. Selalu ada untuk pasien,buat hubungan saling percaya dengan pasien/orang
terdekat
Rasional:menunjukan perhatian dan keinginan untuk membantu dalam diskusi
tentang subjek sensitif
3. Observasi tanda-tanda vital
Rasional:peningkatan tanda-tanda vital merupakan salah satu tanda awal
terjadinya peningkatan ansietas
4. Berikan informasi tentang prosedur dan tes khusus dan apa yang akan terjadi
Rasional:membantu pasien memahami tujuan dari apa yang dilakukan.dan
mengurangi masalah karena ketidaktahuan,termasuk ketakutan akan kanker
5. Pertahankan perilaku nyata dalam melakukan prosedur/menerima pasien.lindungi
privasi pasien
Rasional:menyatakan penerimaan dan menghilangkan rasa malu pasien
6. Dorong pasien untuk menyatakan masalah/perasaan
Rasional:mendefinisikan masalah,memberikan kesempatan untuk menjawab
pertanyaan,memperjelas kesalahan konsep,dan solusi pemecahan masalah
7. Beri penguatan informasi pasien yang telah diberikan sebelumnya
Rasional:memungkinkan pasien untuk menerima kenyataan dan menguatkan
kepercayaan pada pemberi perawatan dan pemberi informasi
8. Kolaborasi:pemberian obat antiansietas(contoh:sedatif) sesuai program
Rasional:diberikan hanya dengan kolaborsi dokter bila intervensi lain tidak
menolong karena efek samping menekan susunan saraf pusat
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipertrofi prostat benigna adalah pembesaran granula dan jaringan seluler
kelenjar prostat yang berhubungan dengan perubahan endokrin berkenaan dengan
proses penuaan;kelenjar prostat mengitari leher kandung kemih dan uretra;sehingga
hipertrofi prostat seringkali menghalangi pengosongan kandung kemih(standar
perawatan pasien edisi V volume 3,penerbit EGC).penyebab hipertrofi prostat ini
tidak diketahui secara jelas namun diduga karena pengaruh hormon androgen dan
estrogen dan perubahan endokrin pada usia lanjut
Tanda dan gejala yang ditemukan pada pasien adalah sakit saat mengawali dan
mengakhiri aliran urine,tidak mampu mengosongkan seluruh isi kandung kemih
sekaligus,sering berkemih tetapi sedikit,dan terlalu lancar pancaran urine.
Perangkat diagnostik yang dilakukan adalah Urinalisis,Pemeriksaan kultur dan
sensititubs urine,Kreatinin serum,BUN serum,Asam fosfat,SDP,Sistoskopi,Urografi
ekskretori/IVP,dan Pemeriksaan retrograd
Terapi yang dilakukan adalah Kateterisasi,Antibiotik,Masukan dan haluaran,
Pembeda han,Reseksi transuretral prostat(TURP),Prostatektomi suprapubis,
Prostatektomi retropubis,Prostatektomi retropubis radikal,dan Sistostomi drainase
kandung kemih.Komplikasi yang dapat terjadi adalah Pielonefritis, Hidronefrosis,
Azotemia, dan Uremia
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah Nyeri yang berhubungan dengan
distensi kandung kemih yang ditandai oleh adanya ungkapan nyeri(skala 7-9),gelisah
dan meringis,Retensi urine yang berhubungan dengan:pembesaran prostat dan
ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat yang ditandai
oleh adanya ungkapan penurunan kekuatan/dorongan aliran urine,keragu-raguan saat
berkemih, dan ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan
lengkap,Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis,dan kebutuhan pengobatan
yang berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi yang ditandai oleh
pertanyaan meminta informasi dan tidak akurat mengikuti instruksi,Perubahan pola
seksualitas yang berhubungan dengan penurunan kemampuan seksualitas yang
ditandai oleh penurunan libido dan impoten,Ansietas yang berhubungan dengan
perubahan status kesehatan dan kemungkinan prosedur bedah yang ditandai oleh
kecemasan dan ketakutan,Resiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan
dengan pascaobstruksi diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu
distensi secara kronis.

B. Saran

1. Asuhan keperawatan hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh dan


komprehensif mencakup bio,psiko,sosial dan spiritual sehingga tujuan dapat
dicapai dengan baik
2. Perawat perlu mengikut sertakan keluarga dalam pemberian asuhan
3. Perlu adanya kerjasama antara perawat dan tim medis lainnya dalam proses
penyembuhan pasien