Vous êtes sur la page 1sur 7

VERTIGO & IMBALANCE

 Vertigo adalah perasaan berputar yang disertai dengan hilangnya


keseimbangan. Namun hilangnya keseimbangan tidak selalu disertai
dengan vertigo.
 Keseimbangan normal membutuhkan beberapa faktor:
o Informasi dari bola mata, reseptor proprioseptif dan labirin
vestibular dengan koordinasi dari otak.
o Kontrol normal motor neuron dari sistem saraf pusat terhadap
sistem muskuloskeletal.
o Kelainan pada organ-organ tersebut dapat menyebabkan
kehilangan keseimbangan.

 Vertigo terjadi bila terdapat kesalahan input informasi dari sistem


vestibuler atau kelainan pada bagian otak yang tidak dapat
mengkordinasi antara gerakan tubuh dengan input vestibuler.
 Etiologi
o Peripheral vestibular disorders (labyrinthine)
o Infeksi telinga tengah yang menyebar ke labyrinth
o Kelainan vestibular sentral (otak), cth: multiple sclerosis, tumor,
infark
o Kerusakan external terhadap sistem vestibuler- trauma, obat-
obatan, anoxia, anemia, hipoglikemia, hipotensi infeksi virus.

1
PERIPHERAL (LABYRINTHINE) DISORDERS

 Meniere’s disease
 Benign paroxysmal peripheral vertigo (BPPV)
 Sudden vestibular failure

1. Meniere’s Disease
 Kelainan pada kontrol dari endolimf yang disebabkan oleh dilatasi
dari rongga endolimf (hydrops)
 Dapat disebabkan oleh kapsul otic, namun kebanyakan penyababnya
idiopatik.

 Ditemukan pada usia antara 30-60 tahun.


 20-30% ditemukan pada kedua telinga dan sisanya pada satu telinga.
 Karakteristik
o Attacks of violent paroxysmal vertigo + deafness & tinnitus
o Setiap serangan memiliki waktu remisi dimana keseimbangan
kembali normal.
o Serangan akan hilang dalam beberapa jam, jarang dibawah 10
menit ataupun lebih dari 12 jam.
o Disertai dengan mual dan muntah.
o Aura:
 Telinga terasa tertekan
 Progresivitas dari tinitus atau pergantian karakter dari
tinitus (low pitch) dan memburuk ketika pendengaran
menurun.
 Nyeri pada leher

2
 Peningkatan dalam kesulitan untuk mendengar
(sensorineural)- membaik saat gejala remisi
 Harus bisa dibedakan dengan:
o Cochlear hydrops
 Penurunan pendengaran dengan tinnitus namun tidak
terdapat vertigo.
 Disebabkan oleh obstruksi Eustachian tube
o Vestibular hydrops
 Vertigo episodik tanpa gejala auditorik
 Tatalaksana
o Betahistine (histamin agonis)
o Nicotinic acid (vasodilator)
o Diuretik + diet tanpa garam
o Kortikosteroid
o Operasi bila medikamentosa tidak memperbaiki kondisi
 Untuk mereservasi pendengaran, termasuk dekompresi
dari endolimf dan vestibular neurektomi
 Labyrinthectomy akan menghilangkan vertigo, namun
pendengaran pada telinga tersebut akan hilang. Maka
dilakukan bila rasa nyeri tidak tertahankan dan telinga
lain masih berfungsi dengan normal.
2. Benign Paroxysmal Peripheral Vertigo (BPPV)
 Vertigo yang diperburuk dengan pergerakan posisi kepala dan tidak
disertai gejala auditorik.
 Setiap serangan berdurasi hanya dalam hitungan detik dan hilang
dalam seminggu hingga sebulan, namun dapat kambuh lagi.
 Etiologi: Terlepasnya otoconia (calcium carbonate crystals) dari
utricle dan terjatuh ke semicircular canal, sehingga mengdistorsi
cupula saat kepala bergerak.
 Tatalaksana: menghindari gerakan kepala yang dapat menyebabkan
vertigo atau ‘repositioning” manoeuvres.

3
3. Sudden Vestibular Failure
 Terjadi ketika salah satu dari peripheral labyrinth secara tiba-tiba
tidak berfungsi.
 Dapat disebabkan oleh trauma kepala, infeksi virus, sumbatan pada
arteri yang memperdarahi labyrinth, multiple sclerosis, diabetik
neuropati atau ensefalitis batang otak.
 Gejala yang ditemukan adalah vertigo secara tiba-tiba, lemas, mual
dan muntah, tanpa gejala auditorik.
o Vertigo bersifat terus menerus dan membaik dalam jam/
waktu/ beberapa hari ataupun beberapa minggu.
o Pergerakan kepala dapat memperburuk vertigo.
o Hari ke 3 atau 4, pasien akan berpegangan pada barang di
sekitarnya oleh karena hilangnya keseimbangan.
o Hari ke 10, pasien sudah mulai bisa jalan.
o Setelah 3 minggu, pasien kembali normal, namun merasas
tidak aman, khususnya pada ruangan gelap atau ketika dalam
kondisi kecapaian.
 Penyembuhan terjadi lebih lambat pada orang tua, karena
penyembuhan bergantung dengan perubahan dari kompensasi otak.
4. Migraine
 Merupakan vertigo akibat kelainan vaskular.
 Migraine basilar cenderung menyerang perempuan remaja dan
didahului oleh gejala posterior cerebral artery dengan gangguan
penglihatan, disartria dan kesemutan pada tangan dan kaki.
 Cedera kepala dapat menyebabkan vertigo dengan cara bocornya
cairan perimlimf dari vestibule ke telinga tengah (perilymph fistula).
5. Pemeriksaan dan Diagnosis
 KU: kehilangan keseimbangan
 Durasi
o Meniere’s Disease : hours
o BPPV : seconds/ minutes
o Sudden vetibular failure : days
 Pemeriksaan telinga

4
 Spontaneous jerk nystagmus merupakan tanda penyakit vestibular
o Derajat 1: menatap pada arah sentakan
o Derajat 2: Menatap pada arah sentakan dan menatap lurus
kedepan
o Derajat 3: menatap di seluruh arah
 Beberapa nystagmus dapat mengindikasikan kelainan pada otak
o Nystagmus yang bertahan selama berminggu-minggu
o Pergantian arah dari sentakan
o Sentakan pada arah selain arah horizontal
o Sentakan berbeda pada kedua mata (ataxic)
 Pemeriksaan keseimbangan dengan meminta pasien untuk berdiri
dengan kedua kaki lalu pada satu kaki (kiri dan kanan) dengan
menutup mata.
 Positional testing
o Tes ini berguna untuk Pemeriksaan BPPV

o Ditemukan:
 Arah sentakan mata terhadap telinga yang terpengaruh
 Mereda dalam 5-20 detik pada posisi yang
dipertahankan
 Disertai dengan vertigo
o Deviasi lebih dari temuan tersebut memerlukan untuk
mengetahui lebih lanjut.
o Neuro-otological investigations of vestibular function

5
 Pure tone audiometry dalam ruangan kedap suara dan
merekan brainstem evoked responses untuk
mengetahui gangguan pendengaran retrocochlear yang
biasa disebabkan oleh vestibular schwannoma.

o Fitzgerald-Hallpike caloric testing


 Mengstimulasi semicircular canal dengan mengirigasi
telinga dengan air dibawah dan diatas suhu tubuh (30
& 44 C).
o Rotation Test (Kursi Barani)
 Untuk mengindikasikan nystagmus dan ditekan pada
electronystagmography.
6. Tatalaksana
 Sedatif: prochlorperazine, cinnarizine Dan antihistamine lain
 Diazepam
 Bedrest
 Saat fase akut sudah selesai, penanganan lanjut dapat diberikan
sedatif dalam dosis kecil untuk beberapa minggu atau bulan.
 Operasi

6
7