Vous êtes sur la page 1sur 9

AKUNTANSI PERBANKAN & LPD

EKA 334 A2
DOSEN: Prof. Dr. I Wayan Ramantha, SE,M.M.,Ak.,CPA

RMK
SAP 13
“MEMAHAMI STANDAR AKUNTANSI ETAP”

DISUSUN OLEH:
OLEH KELOMPOK 4:

(1607531036) Ni Wayan Desi Antari (04)


(1607531037) Ni Wayan Nataliantari (05)
(1607531046) Ida Ayu Yuni Pramitha (07)
(1607531053) Ni Kadek Indah Permata Sari (11)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

1
13.1 PENGERTIAN SAK ETAP
Hal ini berawal pada tanggal 19 Mei 2009, Dewan Standar Akuntansi Keuangan
(DSAK) mengesahkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP). SAK ETAP ini nampak seide dengan International Financial
Reporting Standard for Small and Medium-sized Entities (IFRS for SMEs). Meskipun
memiliki judul yang berbeda, namun baik SAK ETAP maupun IFRS for SMEs sama-sama
diperuntukkan bagi entitas tanpa akuntabilitas public. Standar Akuntansi Keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dimaksudkan untuk digunakan oleh
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP), yaitu entitas yang tidak memiliki akuntabilitas
publik signifikan; dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik
yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat
kredit.
SAK ETAP bertujuan untuk menciptakan fleksibilitas dalam penerapannya dan
diharapkan memberi kemudahan akses ETAP kepada pendanaan dari perbankan. SAK
ETAP merupakan SAK yang berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK Umum, sebagian
besar menggunakan konsep biaya historis; mengatur transaksi yang dilakukan oleh ETAP;
bentuk pengaturan yang lebih sederhana dalam hal perlakuan akuntansi dan relatif tidak
berubah selama beberapa tahun. SAK ETAP menggunakan acuan IFRS for Small Medium
Enterprises (SME) yang lebih sederhana antara lain:
1) Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
2) Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode ekuitas.
3) Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
4) Laporan keuangan sesuai SAK ETAP menyajikan informasi mengenai posisi
keuangan, kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna luas.
Maka diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah dapat
menyusun laporan keuangannya sendiri dan dapat diaudit untuk mendapatkan opini audit.
Informasi keuangan yang sederhana tetapi memberikan informasi yang andal. SAK ETAP
disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi
Indonesia.

2
13.2 MANFAAT DAN TUJUAN SAK ETAP.
SAK ETAP dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan memiliki prinsip going concern
yakni menginginkan usahanya terus berkembang. Untuk mengembangkan usaha perlu
banyak upaya yang harus dilakukan. Salah satu upaya itu adalah perlunya meyakinkan
publik bahwa usaha yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam akuntansi wujud
pertanggungjawaban tersebut dilakukan dengan menyusun dan menyajikan laporan
keuangan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Penyajian laporan keuangan yang
sesuai dengan standar, akan membantu manajemen perusahaan untuk memperoleh berbagai
kemudahan, misalnya: untuk menentukan kebijakan perusahaan di masa yang datang; dapat
memperoleh pinjaman dana dari pihak ketiga, dan sebagainya.
Standar ETAP ini disusun cukup sederhana sehingga tidak akan menyulitkan bagi
penggunanya yang merupakan entitas tanpa akuntabilitas public (ETAP) yang mayoritas
adalah perusahaan yang tergolong usaha kecil dan menengah. ETAP sebagaimana
kepanjangan yang telah diuraikan di atas merupakan unit kegiatan yang melakukan aktifitas
tetapi sahamnya tidak dimiliki oleh masyarakat atau dengan kata lain unit usaha yang
dimiliki oleh orang perorang atau sekelompok orang, dimana kegiatan dan modalnya masih
terbatas. Jenis kegiatan seperti ini di Indonesia menempati angka sekitar 80 %. Oleh sebab
itu perlu adanya perhatian khusus dari semua pihak yang berkepentingan dalam hal
penyajian laporan keuangan.

13.3 KONSEP DAN PRINSIP PERVASIF SAK ETAP


1) Tujuan laporan keuangan,
2) Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuanga (dapat dipahami, relevan,
materialitas, keandalan, substansi mengungguli bentuk, pertimbangan sehat,
kelengkapan, dapat dibandingkan, tepat waktu, dan keseimbangan antara biaya dan
manfaat).
3) Posisi keuangan: asset, kewajiban, ekuitas,
4) Kinerja keuangan: pendapatan dan beban,
5) Pengakuan dan pengukuan unsur-unsur laporan keuangan,
6) Dasar akrual,
7) Saling hapus tidak diperkenankan.

3
Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, yang terdiri dari perubahan estimasi
dan Koreksi kesalahan periode lalu. Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi,
aturan dan praktik tertentu yang diterapkan oleh suatu entitas dalam menyusun dan
menyajikan laporan keuangannya. Jika transaksi, peristiwa tidak diatur spesifik dalam SAK
ETAP, maka manajemen dengan menggunakan judgementnya mengembangkan dan
menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang menghasilkan informasi:
1) Relevan bagi pemakai untuk kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi; dan
2) Andal yaitu dalam laporan keuangan yang menyajikan dengan jujur posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas dari suatu entitas.
3) Mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya,
serta tidak hanya mencerminkan bentuk hukumnya.
4) Netral yaitu bebas dari bias
5) Mencerminkan kehati-hatian.
6) Bersifat lengkap dalam semua hal yang material

13.4 KARAKTERISTIK SAK ETAP.


1. Stand alone accounting standard (tidak mengacu ke SAK Umum)
2. Mayoritas menggunakan historical cost concepts.
3. Hanya mengatur transaksi yang umum dilakukan Usaha Kecil dan Menengah
4. Pengaturan lebih sederhana dibandingkan SAK Umum.
- Penyerdehanaan pengakuan dan pengukuran.
- Pengurangan pengungkapan.
5. Tidak akan berubah selama beberapa tahun.

13.5 RUANG LINGKUP SAK ETAP


Digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik yaitu:
1) Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik,
2) Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial
statement) bagi pengguna eksternal, Contoh pengguna eksternal adalah pemilik
yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga
pemeringkat kredit.
3) Entitas dengan akuntabilitas publilk signifikan boleh menggunakan SAK ETAP jika
diijinkan oleh otoritas berwenang.
13.6 LAPORAN KEUANGAN SAK ETAP

4
Laporan keuangan yang dipersiapkan sesuai dengan SAK ETAP untuk menyediakan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas yang berguna untuk
pengguna luas yang tidak dalam posisi meminta laporan untuk memenuhi kebutuhan
informasi tertentu, misalnya diberikan kepada: Bank, Pemilik, dan Penyandang dana.
13.6.1 Penyajian Laporan Keuangan
Entitas harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and
unreserved statement) atas kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan laporan
keuangan. Terdiri dari:
13.6.1.1 Penyajian Wajar
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan
arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyarakatkan penyajian jujur atas pengaruh
transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan
asset, kewajiban, penghasilan, dan beban.Penyajian wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan dan arus kas.
Entitas yang menggunakan SAK ETAP harus secara eksplisit menyatakan secara
penuh atas kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan laporan keuangan. Entitas harus
menilai kelangsungan usaha pada saat menyusun laporan keuangan. Entitas menyajikan
laporan keuangan minimal satu kali dalam setahun. Informasi komparatif dengan periode
sebelumnya dengan keunggulan yang sama. Pos-pos yang material disajikan terpisah.

13.6.1.2 Kepatuhan terhadap SAK ETAP


Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu
pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan
tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan
mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.
13.6.1.3 Kelangsungan Usaha
Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan SAK
ETAP membuat penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usahanya.
13.6.1.4 Frekuensi Pelaporan

5
Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi
komparatif) minimum satu tahun sekali.
13.6.1.5 Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar perioda harus
konsiseten kecuali:
a. Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan
penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik
sesuai kriteria pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, atau
b. SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian.
Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus konsisten, kecuali:
(a) Terjadi perubahan signifikan operasi entitas atau perubahan tersebut
menghasilkan penyajian yang lebih andal dan relevan.
(b) SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian.
(c) Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif, kecuali tidak praktis dapat secara
prospektif.
(d) Jika prospektif: diungkapkan sifat reklasifikasi dan jumlah pos yang
direklasifikasi serta alasannya.
13.6.1.6 Informasi Komparatif
Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan perioda sebelumnya kecuali
dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangn dan catatan
atas laporan keuangan).
13.6.1.7 Materialitas dan Agregasi
Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang
tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.
Kelalalian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap
material jia, baik secara individuan maupun bersama-sama, dapat memengaruhi pengguna
laporan keuangan dalam penggambilan keputusan ekonomi. Besaran dan sifat unsur
tersebut dapat menjadi factor penentu.
13.6.1.8 Identifikasi Laporan Keuangan Lengkap

6
Terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas,
catatan atas laporan keuangan. Perubahan perioda laporan keuangan sehingga perioda
laporan berbeda, maka ETAP mengungkapkan:
1) Fakta tersebut.
2) Alasan penggunaan perioda yang lebih pendek atau lebih panjang.
3) Fakta bahwa jumlah informasi komparatif dalam laporan keuangan yang terkait
tidak dapat diperbandingkan.
4) Identifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan.
Informasi berikut, jika perlu, pada setiap halaman:
1) Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak laporan perioda
terakhir;
2) Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat
bagi setiap komponen laporan keuangan;
3) Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam Bab 25 Mata Uang Pelaporan;
4) Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.
Catatan laporan keuangan:
1) Domisili , bentuk hukum dan alamat kantor yang terdaftar;
2) Penjelasan sifat operasi dan aktivitas Utama.
13.7 IMPLEMENTASI SAK ETAP.
PSAK ETAP mulai diberlakukan pada akhir tahun 2011. Penggunaan PSAK ini
harus konsisten untuk tahun-tahun berikutnya. Apalagi yang sudah memutuskan untuk
menggunakan PSAK umum dalam penyajian laporan keuangan, maka untuk selanjutnya
tidak boleh merevisi kebijakannya ke PSAK ETAP.
Entitas dapat menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak praktis,
maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif. Entitas yang
menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah menyusun laporan keuangan maka:
1) Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan dalam
SAK ETAP;
2) Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak
mengijinkan pengakuan tersebut;
3) Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban atau
komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi merupakan

7
jenis aset, kewajiban, atau komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK
ETAP;
4) Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui.
Penerapan secara retrospektif artinya bahwa kebijakan akuntansi yang baru
diterapkan seolah-olah kebijakan akuntansi tersebut telah digunakan sebelumnya. Oleh
karena itu, kebijakan akuntansi yang baru, diterapkan pada kejadian atau transaksi sejak
tanggal terjadinya kejadian atau transaksi tersebut. Sedangkan penerapan secara prospektif
artinya kebijakan akuntansi yang baru, diterapkan pada kejadian atau transaksi yang terjadi
setelah tanggal perubahan. Tidak ada penyesuaian yang dilakukan terhadap periode
sebelumnya.
Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya
berdasarkan SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang sama
dengan menggunakan kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil penyesuaian yang
muncul dari transaksi, kejadian atau kondisi lainnyasebelum tanggal efektif SAK ETAP
diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal penerapan SAK ETAP.
Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk
menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP,
tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut
tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan
laporan keuangan berikutnya. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK
ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP,
maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan
SAK ETAP. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-
ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali sesuai dengan
paragraf 29.4 di atas.
Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan
keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK
ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETA ini dalam menyusun laporan
keuangan. Entitas tersebut menerapkan persyaratan dalam paragraf 29.1 – 29.3.

8
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Standart akuntansi SAK ETAP”


http://syannegracetine.blogspot.co.id/2013/11/materi-sak-etap_14.html(diakses pada
tanggal 10 November 2018)

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa


Akuntabilitas Publik. Jakarta. Penerbit: Dewan Standar Keuangan Ikatan Akuntan
Indonesia