Vous êtes sur la page 1sur 38

BAB I

(PENDAHULUAN)

1.1.Latar Belakang
Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting sangat
penting dalam mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal
mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dan asam basa dengan cara
menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non-
elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya sebagai kemih.
Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi
cairan ekstra sel dalam batas-batas normal. Komposisi dan volume cairan
ekstrasel ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus.
Ginjal dilalui oleh sekitar 1.200 ml darah per menit, suatu volume yang
sama dengan 20 sampai 25 persen curah jantung (5.000 ml per menit). Lebih
90% darah yang masuk ke ginjal berada pada korteks, sedangkan sisanya
dialirkan ke medulla.
Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic non-
communicable diseases) terutama penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes
melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah menggantikan penyakit menular
(communicable diseases) sebagai masalah kesehatan masyarakat utama.
Gangguan fungsi ginjal dapat menggambarkan kondisi sistem vaskuler
sehingga dapat membantu upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum
pasien mengalami komplikasi yang lebih parah seperti stroke, penyakit jantung
koroner, gagal ginjal, dan penyakit pembuluh darah perifer.
Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal yang
memerlukan terapi pengganti yang membutuhkan biaya yang mahal. Penyakit
ginjal kronik biasanya desertai berbagai komplikasi seperti penyakit
kardiovaskuler, penyakit saluran napas, penyakit saluran cerna, kelainan di
tulang dan otot serta anemia.
Selama ini, pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan
diagnosis dan pengobatan terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan

1
penyebab penyakit ginjal kronik serta dialisis atau transplantasi ginjal jika
sudah terjadi gagal ginjal. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa komplikasi
penyakit ginjal kronik, tidak bergantung pada etiologi, dapat dicegah atau
dihambat jika dilakukan penanganan secara dini. Oleh karena itu, upaya yang
harus dilaksanakan adalah diagnosis dini dan pencegahan yang efektif terhadap
penyakit ginjal kronik, dan hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor risiko
untuk penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan.
1.2.Rumusan Masalah
1) Bagaimana konsep medis dari Gagal Ginjal Kronik?
2) Bagaimana konsep keperawatan dari Gagal Ginjal Kronik?
1.3.Tujuan
1) Untuk mengetahui konsep medis dari Gagal Ginjal Kronik.
2) Untuk mengetahui konsep keperawatan dari Gagal Ginjal Kronik.

2
BAB II

(KONSEP MEDIS)

2.1.Definisi

Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih
dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal
seperti proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit
ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60
ml/menit/1,73m².
Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, klasifikasi stadium
ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi
menunjukka n nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah. Klasifikasi
tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium. Stadium 1
adalah kerusakan ginjal dengan fungsi ginjal yang masih normal, stadium 2
kerusakan ginjal dengan penurunan fungsi ginjal yang ringan, stadium 3
kerusakan ginjal dengan penurunan yang sedang fungsi ginjal, stadium 4
kerusakan ginjal dengan penurunan berat fungsi ginjal, dan stadium 5 adalah
gagal ginjal (Perazella, 2006) .
2.2.Etiologi
Dari data yang sampai saat ini dapat dikumpulkan oleh Indonesian Renal
Registry (IRR) pada tahun 2007-2008 didapatkan urutan etiologi
terbanyak sebagai berikut glomerulonefritis (25%), diabetes melitus (23%),
hipertensi (20%) dan ginjal polikistik (10%) (Roesli, 2008).
a. Glomerulonefritis
Istilah glomerulonefritis digunakan untuk berbagai penyakit
ginjal yang etiologinya tidak jelas, akan tetapi secara umum
memberikan gambaran histopatologi tertentu pada glomerulus.
Berdasarkan sumber terjadinya kelainan, glomerulonefritis dibedakan
primer dan sekunder. Glomerulonefritis primer apabila penyakit

3
dasarnya berasal dari ginjal sendiri sedangkan glomerulonefritis
sekunder apabila kelainan ginjal terjadi akibat penyakit sistemik lain
seperti diabetes melitus, lupus eritematosus sistemik (LES), mieloma
multipel, atau amiloidosis (Prodjosudjadi, 2006).
Gambaran klinik glomerulonefritis mungkin tanpa keluhan dan
ditemukan secara kebetulan dari pemeriksaan urin rutin atau keluhan
ringan atau keadaan darurat medik yang harus memerlukan terapi
pengganti ginjal seperti dialisis (Sukandar, 2006).
b. Diabetes mellitus
Menurut American Diabetes Association (2003) dalam
Soegondo (2005) diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Diabetes melitus sering disebut sebagai the great imitator,
karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan
menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat bervariasi.
Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien
tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi
lebih banyak, buang air kecil lebih sering ataupun berat badan yang
menurun. Gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan,
sampai kemudian orang tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar
glukosa darahnya.
c. Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik≥ 140 mmHg dan tekanan
darah diastolic ≥ 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat
antihipertensi. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi
dua golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak
diketahui penyebabnya atau idiopatik, dan hipertensi sekunder atau
disebut juga hipertensi renal.

4
d. Ginjal polikistik
Kista adalah suatu rongga yang berdinding epitel dan berisi cairan
atau material yang semisolid. Polikistik berarti banyak kista. Pada
keadaan ini dapat ditemuka n kista-kista yang tersebar di kedua ginjal,
baik di korteks maupun di medula. Selain oleh karena kelainan genetik,
kista dapat disebabkan oleh berbagai keadaan atau penyakit. Jadi ginjal
polikistik merupakan kelainan genetik yang paling sering didapatkan.
Nama lain yang lebih dahulu dipakai adalah penyakit ginjal polikistik
dewasa (adult polycystic kidney disease), oleh karena sebagian besar
baru bermanifestasi pada usia di atas 30 tahun. Ternyata kelainan ini
dapat ditemukan pada fetus, bayi dan anak kecil, sehingga istilah
dominan autosomal lebih tepat dipakai daripada istilah penyakit ginjal
polikistik dewasa.

2.3.Patofisiologi

Penurunan fungsi ginjal yang progresif tetap berlangsung terus


meskipun penyakit primernya telah diatasi atau telah terkontrol. Hal ini
menunjukkan adanya mekanisme adaptasi sekunder yang sangat berperan pada
kerusakan yang sedang berlangsung pada penyakit ginjal kronik. Bukti lain
yang menguatkan adanya mekanisme tersebut adalah adanya gambaran
histologik ginjal yang sama pada penyakit ginjal kronik yang disebabkan oleh
penyakit primer apapun. Perubahan dan adaptasi nefron yang tersisa setelah
kerusakan ginjal yang awal akan menyebabkan pembentukan jaringan ikat dan
kerusakan nefron yang lebih lanjut. Demikian seterusnya keadaan ini berlanjut
menyerupai suatu siklus yang berakhir dengan gagal ginjal terminal (Noer,
2006).

5
DM Glumerulonefr E. Colli Obstruksi Hipertensi tidak Lesi herediter Agen berbahaya
itis kronis saluran kemih terkontrol

Masuk ke
Nefropati Radang pada Inflamasi vaskuler
Vasokontriksi Peningkatan
ginjal pelvis ginjal
pembuluh tekanan kapiler
Kerusakan darah di ginjal di ginjal
Menuju ginjal
glomerulus Pielonefritis

Kelainan
Mengendap
herediter pada
ginjal
Arteri renalis Refluks urin ke
tertekan ginjal

Kelainan
Penurunan suplai Hidronefrosis
nefron
O2 di jaringan
Secara
progresif

Kerusakan
nefron

Penurunan
jumlah nefron

Kerusakan nefron
lebih dari 90%
6
GAGAL GINJAL
KRONIS

Penurunan laju Renin ↑ Proteinuria ↓ Fungsi ↑ Kadar


filtrasi glomerulus ginjal kreatinin & BUN
Angiotensin I Kadar protein
Ginjal tidak ↑ dalam darah ↓ Produksi Asotemia
mampu eritropotin ↓
mengencerkan urin Angiotensin ↓ Tekanan Sindrom
II ↑ osmotik ↓Pembentuka uremia
n Eritrosit
Produksi urun ↓ & Peningkatan
Na+ dan K+ Vasokont Cairan keluar ke
Kepekatan urin ↑ riksi PD Anemia Di kulit Organ GI
ekstravaskuler
(pruritus)
Disuria/anuria Masuk ke
Tekanan Ketidakefektifan Ketidakseimbangan
vaskuler Edema
darah ↑ Perfusi Jaringan Nutrisi Kurang dari
Gangguan Perifer
Berikatan Kebutuhan Tubuh
Eliminasi Urin
dengan air Gangguan
Preload Integritas Kulit
Resiko Penurunan naik
NaOH
Curah Jantung
Beban Hipertrofi
↑ Volume jantung Ventrikel Kiri
vaskuler
Payah jantung
Tekanan kiri
Hidrostatik ↑ Bendungan
atrium kiri naik
Permeabilitas Kelebihan Gangguan
Ekstravasasi Edema Tekanan vena
PD ↑ Volume Cairan Pertukaran Gas
7 pulmonalis

Kapiler paru naik Edema


Paru
2.4.Manifestasi Klinik

Gambaran klinik gagal ginjal kronik berat disertai sindrom azotemia


sangat kompleks, meliputi kelainan-kelainan berbagai organ seperti: kelainan
hemopoeisis, saluran cerna, mata, kulit, selaput serosa, kelainan neuropsikiatri
dan kelainan kardiovaskular (Sukandar, 2006).

a. Kelainan hemopoeisis
Anemia normokrom normositer dan normositer (MCV 78-94 CU), sering
ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik. Anemia yang terjadi sangat
bervariasi bila ureum darah lebih dari 100 mg% atau bersihan kreatinin
kurang dari 25 ml per menit.
b. Kelainan saluran cerna
Mual dan muntah sering merupakan keluhan utama dari sebagian pasien
gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal. Patogenesis mual
dam muntah masih belum jelas, diduga mempunyai hubungan dengan
dekompresi oleh flora usus sehingga terbentuk amonia. Amonia inilah yang
menyebabkan iritasi atau rangsangan mukosa lambung dan usus halus.
Keluhan-keluhan saluran cerna ini akan segera mereda atau hilang
setelah pembatasan diet protein dan antibiotika.
c. Kelainan mata
Visus hilang (azotemia amaurosis) hanya dijumpai pada sebagian kecil
pasien gagal ginjal kronik. Gangguan visus cepat hilang setelah beberapa
hari mendapat pengobatan gagal ginjal kronik yang adekuat, misalnya
hemodialisis. Kelainan saraf mata menimbulkan gejala nistagmus, miosis
dan pupil asimetris. Kelainan retina (retinopati) mungkin disebabkan
hipertensi maupun anemia yang sering dijumpai pada pasien gagal ginjal
kronik. Penimbunan atau deposit garam kalsium pada conjunctiva
menyebabkan gejala red eye syndrome akibat iritasi dan hipervaskularisasi.
Keratopati mungkin juga dijumpai pada beberapa pasien gagal ginjal kronik
akibat penyulit hiperparatiroidisme sekunder atau tersier.

8
d. Kelainan kulit
Gatal sering mengganggu pasien, patogenesisnya masih belum jelas dan
diduga berhubungan dengan hiperparatiroidisme sekunder. Keluhan gatal
ini akan segera hilang setelah tindakan paratiroidektomi. Kulit biasanya
kering dan bersisik, tidak jarang dijumpai timbunan kristal urea pada kulit
muka dan dinamakan urea frost
e. Kelainan selaput serosa
Kelainan selaput serosa seperti pleuritis dan perikarditis sering dijumpai
pada gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal. Kelainan selaput
serosa merupakan salah satu indikasi mutlak untuk segera dilakukan
dialisis.
f. Kelainan neuropsikiatri
Beberapa kelainan mental ringan seperti emosi labil, dilusi, insomnia, dan
depresi sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik. Kelainan mental
berat seperti konfusi, dilusi, dan tidak jarang dengan gejala psikosis
juga sering dijumpai pada pasien GGK. Kelainan mental ringan atau berat
ini sering dijumpai pada pasien dengan atau tanpa hemodialisis, dan
tergantung dari dasar kepribadiannya (personalitas).
g. Kelainan kardiovaskular
Patogenesis gagal jantung kongestif (GJK) pada gagal ginjal kronik sangat
kompleks. Beberapa faktor seperti anemia, hipertensi, aterosklerosis,
kalsifikasi sistem vaskular, sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik
terutama pada stadium terminal dan dapat menyebabkan kegagalan fatal
jantung.
2.5.Penatalaksanaan Medik dan Non Medik
a) Terapi konservatif
Tujuan dari terapi konservatif adalah mencegah memburuknya faal ginjal
secara progresif, meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin
azotemia, memperbaiki metabolisme secara optimal dan memelihara
keseimbangan cairan dan elektrolit (Sukandar, 2006).

9
1) Peranan diet
Terapi diet rendah protein (DRP) menguntungkan untuk mencegah
atau mengurangi toksin azotemia, tetapi untuk jangka lama dapat
merugikan terutama gangguan keseimbangan negatif nitrogen.
2) Kebutuhan jumlah kalori
Kebutuhan jumlah kalori (sumber energi) untuk GGK harus adekuat
dengan tujuan utama, yaitu mempertahankan keseimbangan positif
nitrogen, memelihara status nutrisi dan memelihara status gizi.
3) Kebutuhan cairan
Bila ureum serum > 150 mg% kebutuhan cairan harus adekuat
supaya jumlah diuresis mencapai 2 L per hari.
4) Kebutuhan elektrolit dan mineral
Kebutuhan jumlah mineral dan elektrolit bersifat individual
tergantung dari LFG dan penyakit ginjal dasar (underlying renal
disease).
b) Terapi simtomatik
1) Asidosis metabolic
Asidosis metabolik harus dikoreksi karena meningkatkan serum
kalium (hiperkalemia). Untuk mencegah dan mengobati asidosis
metabolik dapat diberikan suplemen alkali. Terapi alkali (sodium
bicarbonat) harus segera diberikan intravena bila pH ≤ 7,35 atau serum
bikarbonat ≤ 20 mEq/L.
2) Anemia
Transfusi darah misalnya Paked Red Cell (PRC) merupakan salah satu
pilihan terapi alternatif, murah, dan efektif. Terapi pemberian transfusi
darah harus hati-hati karena dapat menyebabkan kematian mendadak.
3) Keluhan gastrointestinal
Anoreksi, cegukan, mual dan muntah, merupakan keluhan yang sering
dijumpai pada GGK. Keluhan gastrointestinal ini merupakan keluhan
utama (chief complaint) dari GGK. Keluhan gastrointestinal yang

10
lain adalah ulserasi mukosa mulai dari mulut sampai anus.
Tindakan yang harus dilakukan yaitu program terapi dialisis adekuat
dan obat-obatan simtomatik.
4) Kelainan kulit
Tindakan yang diberikan harus tergantung dengan jenis keluhan kulit.
5) Kelainan neuromuscular
Beberapa terapi pilihan yang dapat dilakukan yaitu terapi hemodialisis
reguler yang adekuat, medikamentosa atau operasi subtotal
paratiroidektomi.
6) Hipertensi
Pemberian obat-obatan anti hipertensi.
7) Kelainan sistem kardiovaskular
Tindakan yang diberikan tergantung dari kelainan kardiovaskular
yang diderita.
c) Terapi pengganti ginjal
Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5,
yaitu pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa
hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal (Suwitra, 2006).
1) Hemodialisis
Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala
toksik azotemia, dan malnutrisi. Tetapi terapi dialisis tidak boleh
terlalu cepat pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan
memperburuk faal ginjal (LFG). Indikasi tindakan terapi dialisis,
yaitu indikasi absolut dan indikasi elektif. Beberapa yang termasuk
dalam indikasi absolut, yaitu perikarditis, ensefalopati/neuropati
azotemik, bendungan paru dan kelebihan cairan yang tidak responsif
dengan diuretik, hipertensi refrakter, muntah persisten, dan Blood
Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% dan kreatinin > 10 mg%. Indikasi
elektif, yaitu LFG antara 5 dan 8 mL/menit/1,73m², mual, anoreksia,
muntah, dan astenia berat (Sukandar, 2006).

11
Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai
sekarang telah dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan.
Umumnya dipergunakan ginjal buatan yang kompartemen darahnya
adalah kapiler-kapiler selaput semipermiabel (hollow fibre kidney).
Kualitas hidup yang diperoleh cukup baik dan panjang umur yang
tertinggi sampai sekarang 14 tahun. Kendala yang ada adalah biaya
yang mahal (Rahardjo, 2006).
2) Dialisis peritoneal (DP)
Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory Peritoneal
Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia.
Indikasi medik CAPD, yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur
lebih dari 65 tahun), pasien-pasien yang telah menderita penyakit
sistem kardiovaskular, pasien- pasien yang cenderung akan
mengalami perdarahan bila dilakukan hemodialisis, kesulitan
pembuatan AV shunting, pasien dengan stroke, pasien GGT (gagal
ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup, dan pasien
nefropati diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality. Indikasi
non-medik, yaitu keinginan pasien sendiri, tingkat intelektual tinggi
untuk melakukan sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh dari pusat
ginjal (Sukandar, 2006).
3) Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan
faal). Pertimbangan program transplantasi ginjal, yaitu:
- Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih
seluruh (100%) faal ginjal, sedangkan hemodialisis hanya
mengambil alih 70-80% faal ginjal alamiah
- Kualitas hidup normal kembali
- Masa hidup (survival rate) lebih lama
- Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan
dengan obat imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan

12
2.6.Pencegahan
Upaya pencegahan terhadap penyakit ginjal kronik sebaiknya sudah mulai
dilakukan pada stadium dini penyakit ginjal kronik. Berbagai upaya
pencegahan yang telah terbukti bermanfaat dalam mencegah penyakit ginjal
dan kardiovaskular, yaitu pengobatan hipertensi (makin rendah tekanan
darah makin kecil risiko penurunan fungsi ginjal), pengendalian gula darah,
lemak darah, anemia, penghentian merokok, peningkatan aktivitas fisik dan
pengendalian berat badan (National Kidney Foundation, 2009)
2.7.Komplikasi
a) Kelebihan Cairan
b) Hyperkalemia
c) Metabolic Asidosis
d) Gangguan Mineral dan tulang
e) Penyakit Hipertensi
f) Penyakit Anemia
g) Dyslipidemia
h) Disfungsi Seksual

13
BAB III
(KONSEP KEPERAWATAN)
3.1.Pengkajian
A. Identitas klien
B. Identitas penanggung jawab
C. Riwayat kesehatan masa lalu
1) Penyakit yang pernah diderita
2) Kebiasaan buruk: menahan BAK, minum bersoda
3) Pembedahan
D. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama: nyeri, pusing, mual, muntah
E. Pemeriksaan fisik
1) Umum: Status kesehatan secara umum
2) Tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu tubuh
3) Pemeriksaan fisik
Teknik pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
- Kulit dan membran mukosa
Catat warna, turgor, tekstur, dan pengeluaran keringat. Kulit dan
membran mukosa yang pucat, indikasi gangguan ginjal yang
menyebabkan anemia. Tekstur kulit tampak kasar atau kering.
Penurunan turgor merupakan indikasi dehidrasi. Edema, indikasi
retensi dan penumpukan cairan.
- Mulut
Stomatitis, nafas bau amonia.
- Abdomen
Klien posisi telentang, catat ukuran, kesimetrisan, adanya masa
atau pembengkakan, kulit mengkilap atau tegang.
- Meatus urimary
Laki-laki: posisi duduk atau berdiri, tekan gland penis dengan
memakai sarung tangan untuk membuka meatus urinary.

14
Wanita: posisi dorsal rekumben, litotomi, buka labia dengan
memakai sarung tangan.
b) Palpasi
- Ginjal
Ginjal kiri jarang teraba, meskipun demikian usahakan untuk
mempalpasi ginjal untuk mengetahui ukuran dan sensasi. Jangan
lakukan palpasi bila ragu karena akan merusak jaringan.
o Posisi klien supinasi, palpasi dilakukan dari sebelah kanan
o Letakkan tangan kiri di bawah abdomen antara tulang iga dan
spina iliaka. Tangan kanan dibagian atas. Bila mengkilap dan
tegang, indikasi retensi cairan atau ascites, distensi kandung
kemih, pembesaran ginjal. Bila kemerahan, ulserasi, bengkak,
atau adanya cairan indikasi infeksi. Jika terjadi pembesaran
ginjal, maka dapat mengarah ke neoplasma atau patologis
renal yang serius. Pembesaran kedua ginjal indikasi polisistik
ginjal. Tenderness/ lembut pada palpasi ginjal maka indikasi
infeksi, gagal ginjal kronik. Ketidaksimetrisan ginjal indikasi
hidronefrosis.
o Anjurkan pasien nafas dalam dan tangan kanan menekan
sementara tangan kiri mendorong ke atas.
o Lakukan hal yang sama untuk ginjal di sisi yang lainnya.
- Kandung kemih
Secara normal, kandung kemih tidak dapat dipalpasi, kecuali
terjadi ditensi urin. Palpasi dilakukan di daerah simphysis pubis
dan umbilikus. Jika kandung kemih penuh maka akan teraba
lembut, bulat, tegas, dan sensitif.
c) Perkusi
- Ginjal
o Atur posisi klien duduk membelakangi pemeriksa

15
o Letakkan telapak tangan tidak dominan diatas sudut
kostavertebral (CVA), lakukan perkusi di atas telapak tangan
dengan menggunakan kepalan tangan dominan.
o Ulangi prosedur pada ginjal di sisi lainnya. Tenderness dan
nyeri pada perkusi merupakan indikasi glomerulonefritis atau
glomerulonefrosis.
- Kandung kemih
o Secara normal, kandung kemih tidak dapat diperkusi, kecuali
volume urin di atas 150 ml. Jika terjadi distensi, maka
kandung kemih dapat diperkusi sampai setinggi umbilikus.
o Sebelum melakukan perkusi kandung kemih, lakukan palpasi
untuk mengetahui fundus kandung kemih. Setelah itu lakukan
perkusi di atas region suprapubic.
d) Auskultasi
Gunakan diafragma stetoskop untuk mengauskultasi bagian atas
sudut kostovertebral dan kuadran atas abdomen. Jika terdengan bunyi
bruit (bising) pada aorta abdomen dan arteri renalis, maka indikasi
adanya gangguan aliran darah ke ginjal (stenosis arteri ginjal).

16
3.2.Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan Eliminasi Urine (00016)
Domain 3 : Eliminasi dan Pertukaran
Kelas 1 : Fungsi Perkemihan
2) Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer (00024)
Domain 4 : Aktivitas/Istirahat
Kelas 4 : Respon Kardiovaskular/Pulmonal
3) Gangguan Pertukaran Gas (00030)
Domain 3 : Eliminasi dan Pertukaran
Kelas 4 : Fungsi Respirasi
4) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002)
Domain 2 : Nutrisi
Kelas 1 : Makan
5) Kelebihan Volume Cairan (00026)
Domain 2 : Nutrisi
Kelas 5 : Hidrasi
6) Kerusakan Integritas Kulit (00046)
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 2 : Cedera Fisik
7) Risiko Penurunan Curah Jantung (00240)
Domain 4 : Aktivitas/Istirahat
Kelas 4 : Respon Kardiovaskular/Pulmonal

17
3.3.Rencana Asuhan Keperawatan

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL


1. Gangguan Eliminasi Urine NOC Observasi : Observasi :
(00016) - Kontinesia Urine 1. Pantau TTV 1. Untuk mengetahui normal
Domain 3 : Eliminasi dan - Eliminasi Urine 2. Pelatihan kandungan tidaknya TTV
Pertukaran kemih 2. Untuk meningkatkan fungsi
Kelas 1 : Fungsi Perkemihan Kriteria hasil : 3. Manajemen eliminasi kandungan kemih pada klien
Setelah dilakukan tindakan keperawatan urine yang mengalami inkontinensia
Definisi : selama 2 x 24 jam diharapkan pasien 4. Monitor tanda dan gejala urine dengan meningkatkan
Disfungsi pada eliminasi urine dapat : retensi urine kemampuan kandung kemih
1. Menunjukan kontinesia urine : untuk menahan urine dan
Batasan Karakteristik : - Eliminasi secara mandiri Mandiri : kemampuan klien untuk
1. Inkontinensia urine 2. Mempertahankan pola berkemih yang 5. Manajemen eliminasi menekan urinasi
2. Retensi urine diduga urine 3. Mempertahankan pola
3. Sering berkemih - Pantau eliminasi eliminasi urine yang optimum
Faktor yang berhubungan : urine, meliputi 4. Mengetahui proses
Infeksi saluran kemih frekuensi, pengeluaran urine

18
konsistensi, bau Mandiri :
volume dan warna 5. Untuk mengetahui normal
- Mempertahankan tidaknya urine
eliminasi urine yang Agar eliminasi urine normal
optimum
HE :
HE : 6. Untuk menormalkan
6. Manajemen eliminasi pengeluaran urine
urine 7. Untuk mengetahui volume
- Ajarkan pasien untuk urin yang dikeluarkan
minum 200 ml cairan
pada saat makan Kolaborasi :
diantara waktu 8. Untuk mengetahui apakah ada
makan, dan diawal masalah lain yang muncul
petang
7. Instruksikan klien dan
keluarga mencatat urine
output jika diperlukan

19
Kolaborasi :
8. Manajemen eliminasi
urine : rujuk kedokter jika
terdapat tanda dan gejala
infeksi saluran kemih

2. Ketidakefektifan Perfusi NOC Observasi : Observasi :


Jaringan Perifer (00024) - Circulation status 1. Mengkaji tanda-tanda 1. Untuk mengetahui tanda –
Domain 4 : Aktivitas/Istirahat - Perfusi jaringan : perifer amenia gejala amenia
Kelas 4 : Respon 2. Pantau tingkat 2. Untuk mengetahui tingkat
Kardiovaskular/Pulmonal Tujuan : ketidaknyamanan saat ketidaknyamanan klien
Setelah dilakukan tindakan keperawatan melakukan latihan fisik khususnya bila dirasakan nyeri
Definisi : selama x24 jam masalah 3. Pantau parestesia kebas, 3. Untuk memantau parestesia
Penurunan sirkulasi darah ke Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer kesemutan , hiperestesia kebas, kesemutan ,
perifer yang dapat menganggu teratasi dan hipoestesia hiperestesia dan hipoestesia
kesehatan (nyeri)
Kriteria hasil :

20
Batasan Karakteristik : - Menunjukkan tidak ada gangguan Mandiri : Mandiri :
1. Perubahan karakteristik kulit keseimbangan cairan yang 4. Melakukan perawatan 4. Untuk melancarkan sirkulasi
2. Klaudikasi dibuktikan oleh indikator tekanan sirkulasi perifer : darah
3. Nyeri ekstermitas darah, nadi perifer, turgor kulit insufisiensi arteri (lakukan 5. Untuk melancarkan sirkulasi
4. Parastesia - Menunjukkan tidak ada gangguan ekstermitas posisi darah.
5. Warna kulit pucat integrasi jaringan kulit dan membran mengantung) 6. Untuk mengetahui tingkat
mukosa yang dibuktikan dengan 5. Melakukan perawatan keberhasilan tindakan
Faktor yang berhubungan : indikator suhu, sensasi, elastisitas , sirkulasi perifer : HE :
- Perubahan kemampuan hidrasi,ketebalan kulit dan perfusi insufisiensi vena (lakukan 7. Agar keluarga dan pasien
hemoglobin untuk mengikat jaringan modalitas terapi kompresi dapat mengetahui tanda-gejala
oksigen - Menunjukkan tidak ada gangguan jika perlu ) anemia
- Penurunan konsentrasi perfusi jaringan perifer yang 6. Diskusikan mengenai 8. Untuk melancarkan sirkulasi
hemoglobin dalam darah dibuktikan dengan indikator warna perubahan penyebab darah
- Keracunan enzim kulit, sensai dan integritas kulit sensai 9. Agar tidak memperparah
- Masalah pertukaran keadaan klien dimana sirkulasi
- Hipovolemia HE : darah terhambat
- Hiperventilasi 7 Informasikan tentang
tanda dan gejala

21
8 Informasikan tentang Kolaborasi :
pencegahan statis vena 10. Untuk cegah terjadinya
(tidak menyilangkan kaki / pembekuan darah
mengangkat kaki tanpa 11. Untuk mengurangi terjadinya
menekuk lutut dan latihan nyeri, jika ada
fisik
9 Informasikan tentang
memantau posisi bagian
tubuh saat pasien
mengubah posisi

Kolaborasi :
10. Berikan obat anti
trombosit atau
antikougulan
11. Berikan obat analgetik jika
terdapat nyeri

22
3. Gangguan Pertukaran Gas NOC : Observasi : Observasi :
(00030) 1. Respons ventilasi mekanis 1. Kaji suara paru , suara 1. Untuk mengetahui suara napas
Domain 3 : Eliminasi dan 2. Status pernapasan : pertukaran gas napas, kedalaman dan klien
Pertukaran 3. Perfusi jaringan : paru usaha napas dan produksi 2. Untuk mengetahui saturasi
Kelas 4 : Fungsi Respirasi 4. Tanda-tanda vital sputum sebagai indikator oksigen
keefektifan pengguaan 3. Untuk mengetahui suara napas
Definisi : Tujuan : alat penunjang 4. Untuk mengetahui bunyi
Kelebihan atau kekurangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2. Pantau saturasi 02 dengan jantung
oksigenasi dan/ atau eleminasi selama 2 x 24jam masalah gangguan oksimeter nadi
karbondioksida dimembran kapiler pertukaran gas dapat teratasi 3. Auskultasi suara napas Mandiri :
alveolar 4. Auskultasi bunyi jantung 5. Untuk mempermudah dalam
Kriteria Hasil : melakukan terapi ventilasi
Batasan karakteristik : 1. Mempunyai fungsi paru dalam batas Mandiri : 6. Untuk mengurangi dipsnue
Data subjektif : normal 5. Melakukan higiene oral 7. Untuk mempermudah saat
1. Dispnea 2. Memiliki ekspansi paru yang simetris secara teratur melakukan terapi
3. Tidak menggunakan pernapasan bibir 6. Atur posisi yang daapat
Data objektif : mencucu mengurangi dipnea
1. Frekuensi , irama dan 4. Tidak mengalami napas dangkal atau 7. Tinggikan bagian kepala
kedalaman penapasan abnormal ortopnea tempat tidur

23
2. Hipoksemia 5. Tidak menggunakan otot aksesoris HE : HE :
3. Hipoksia untuk bernapas 8. Jelaskan penggunakan 8. Agar pasien dan keluarga
alat bantu yang pasien dapat melakukan secara
Faktor yang berhubungan : diperlukan seperti mandiri
1. Perubahan membran kapiler- ventilasi mekanik 9. Agar pasien dan keluarga
alveolar 9. Jelaskan kepada pasien pasien dapat mengetahui
2. Ketidakseimbangan perfusi- dan keluarga alasan alasan dilakukan tindakan
ventilasi pemberian oksigen dan
tindakan lainnya Kolaborasi :
10. Untuk mengurangi gejala yang
Kolaborasi : dirasakan
10. Konsultasikan dengan 11. Untuk mengurangi sesak yang
dokter tentang dirasakan klien
pentingnya pemeriksaan 12. Untuk memperlancar kembali
gas darah arteri (GDA) irama jantung
dan penggunaan alat
bantu yang dianjurkan
sesuai dengan adanya
perubahan kondisi pasie

24
11. Berikan ventilator
mekanik jika perlu
12. Berikan obat anti aritmia
4. Ketidakseimbangan Nutrisi NOC : Observasi Observasi
Kurang dari Kebutuhan Tubuh 1. Nutrional status 1. Tentukan motivasi pasien 1. Untuk meningkatkan
(00002) 2. Nutrional status : food and fluid untuk mengubah pemenuhan nutrisi.
Domain 2 : Nutrisi intake kebiasaan makan. 2. Mengetahui status nutrisi dari
Kelas 1 : Makan 3. Nutrional status : nutrient intake 2. Pantau nilai klien
4. Weight control laboratorium, khususnya 3. Untuk mengefektifkan asupan
Definisi: transferin, albumin, dan makanan sesuai dengan
Asupan nutrisi tidak mencukupi Kriteria Hasil : elektrolit. kebutuhan pasien
untuk memenuhi kebutuhan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Manajemen nutrisi
metabolik. selama …X24 jam kebutuhan nutrisi (NIC): Mandiri
Batasan karekteristik : klien seimbang/adekuat. 4. Mencegah katidakseimbagan
Subjektif - Mampu mengidentifikasi kebutuhan Mandiri : nutrisi karena kekurangan
1. Nyeri abdomen nutrisi 4. Manajemen elektrolit: cairan
2. Kejang perut - Adanya peningkatan berat Meningkatkan 5. Merancang tindakan untuk
3. Muntah badansesuai dengan tujuan. keseimbangan elektrolit menjaga keseimbangan
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi dan pencegahan elektrolit

25
Objektif komplikasi akibat dari 6. Menjaga keseimbangan cairan
1. Diare kadar elektrolit serum klien
2. Rontok rambut yang yang tidak normal atau 7. Menghindari akibat yang
berlebihan diluar harapan. berkelanjutan karena
3. Kurang nafsu makan 5. Pemantauan elektrolit: ketidakseimbangan elektrolit
4. Bising usus berlebihan Mengumpulkan dan 8. Meningkatkan asupan nutrisi
5. Konjugtiva pucat menganalisis data pasien yang berasal dari asi
6. Denyut nadi lemah untuk mengatur 9. Menjaga keseimbangan nutrisi
7. Ketidakmampuan memakan keseimbangan elektrolit. dengan melakukan diet yang
makanan. 6. Pemantauan cairan: seimbang kepada klien
Pengumpulan dan 10. Menjaga keseimbangan
analisis data pasien untuk asupan nurisi dengan
mengatur keseimbangan meningkatkan intake makanan
cairan. dan cairan pada klien
7. Manajemen 11. Mencegah terjadinya
cairan/elektrolit: kekurangan nutrisi pada kien
Mengatur dan mencegah 12. Meningkatkan asupan
komplikasi akibat makanan klien

26
perubahan kadar cairan 13. Berat badan merupakan salah
dan elektrolit. satu indikator nutrisi
8. Konseling laktasi: seseorang
Menggunakan proses
bantuan interaktif untuk HE :
membantu 14. Menjaga keseimbangan nutrisi
mempertahankan dengan mengefektifkan
keberhasilan menyusui. asupan makanan
9. Manajemen Nutrisi: 15. Tindakan lanjut untuk
Membantu atau mempertahankan
menyediakan asupan keseimbangan nutrisi pada
makanan dan cairan diet klien
seimbang. 16. Menjaga asupan nutrisi yang
10. Terapi Nutrisi: seimbang
Pemberian makanan dan
cairan untuk mendukung Kolaborasi :
proses metabolik pasien 17. Merancang tindakan yang
yang malnutrisi atau tepat untuk meningkatkan
asupan nutrisi.

27
beresiko tinggi terhadap 18. Meningkatkan motivasi
malnutrisi. makan pada klien agar nutrisi
11. Pemantauan Nutrisi: adekuat
Mengumpulkan dan 19. Mengetahui penyebab
menganalisis data pasien ketidakseimbangan nutrisi
untuk mencegah dan 20. Mencegah terjadinya
meminimalkan kurang kekurangan nutrisi karena
gizi. makanan yang kurang tepat
12. Bantuan Perawatan-Diri: 21. Memenuhi nutrisi pasien
Makan: Membantu dengan diet yang tepat
individu untuk makan. dengan pemberian nutrisi
13. Bantuan menaikkan berat yang adekuat
badan: Memfasilitasi
pencapaian kenaikan
berat badan.

HE :
14. Ajarkan metode untuk
perencanaan makan.

28
15. Ajarkan pasien/keluarga
tentang makanan yang
bergizi dan tidak mahal.
16. Manajemen Nutrisi
(NIC): Berikan informasi
yang tepat tentang
kebutuhan nutrisi dan
bagaimana memenuhinya

Kolaborasi :
17. Disukusikan dengan ahli
gizi dalam menentukan
kebutuhan protein pasien
yang mengalami
ketidakadekuatan asupan
protein atau kehilangan
protein.
18. Diskusikan dengan
dokter kebutuhan

29
stimulasi nafsu makan,
makanan pelengkap,
pemberian makanan
melalui slang, atau nutrisi
parenteral total agar
asupan kalori yang
adekuat dapat
dipertahankan
19. Rujuk ke dokter untuk
menentukan penyebab
gangguan nutrisi.
20. Rujuk ke program gizi di
komunitas yang tepat,
jika pasien tidak dapat
membeli atau
menyiapkan makanan
yang adekuat.
21. Manajemen Nutrisi
(NIC): Tentukan, dengan

30
melakukan kolaborasi
bersama ahli gizi, jika
diperlukan, jumlah kalori
dan jenis zat gizi yang
dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan
nutrisi.
5. Kelebihan Volume Cairan NOC : Observasi : Observasi :
(00026) - Keseimbangan elektrolit dan Asam- 1. Memantau cairan 1. Untuk mengatur
Domain 2 : Nutrisi basa. 2. Memantau elektrolit. keseimbangan cairan.
Kelas 5 : Hidrasi - Keseimbangan cairan. 3. Kaji ektremitas atau 2. Untuk mengatur
- Keparahan overload cairan. bagian tubuh yang edema keseimbangan elektrolit.
Definisi - Fungsi ginjal. terhadap gangguan 3. Untuk melihat jika terjadi
Peningkatan retensi cairan isotonic sirkulasi dan integritas edema akibat gangguan
kulit. sirkulasi dan integritas kulit.
Batasan karakteristik Kriteria Hasil : 4. Kaji efek pengobatan 4. Agar tidak terjadi edema yang
Subjektif : Setelah dilakukan tindakan keperawatan terhadap edema. lebih buruk.
- Ansietas selama …x24 jam pasien diharapkan :
- Dipsnea atau napas pendek - Menunjukkan berat badan stabil

31
- Gelisah - Menunjukan jenis urin dalam batas Mandiri : Mandiri :
Objektif : normal 5. Manajemen 5. Untuk mencegah terjadinya
- Edema - Tidak terdapat suara napas tambahan cairan/elektrolit. komplikasi akibat perubahan
- Tidak terdapat asites,distensi vena 6. Manajemen kadar cairan/elektrolit
Faktor yang berhubungan : leher, dan edema perifer. hipervolemia. 6. Untuk mencegah terjadinya
- Asupan cairan yang berlebihan 7. Manajemen eliminasi komplikasi pada pasien yang
- Asupan natrium yang urin. mengalami kelebihan volume
berlebihan cairan.
- Ketidakcukupan protein HE : 7. Untuk mempertahankan pola
sekunder akibat penurunan 8. Ajarkan pasien tentang eliminasi urin yang optimal.
asupan atau peningkatan. penyebab dan cara
mengatasi edema. HE :
8. Agar klien mampu mengenali
Kolaborasi : tanda dan gejala edema.
9. Konsultasikan dengan
dokter jika ada tanda dan Kolaborasi :
gejala kelebihan volume 9. Untuk mencegah tidak
cairan menetap atau terjadinya edema yang akan
memburuk. memburuk terhadap klien.

32
6. Kerusakan Integritas Kulit NOC : Observasi : Observasi :
(00046) 1. Integritas jaringan 1. Kaji ada atau tidaknya 1. Untuk mengetahui ada
Domain 11 : 2. Respon alergi tanda-tanda infeksi luka tidaknya infeksi khususnya
Keamanan/Perlindungan setempat ( mis. Nyeri saat pada saat klien mengalai pritus
Kelas 2 : Cedera Fisik Tujuan : palpasi, edema, pruritus,
Definisi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan indurasi, hangat , bau Mandiri :
Perubahan /gangguan epidermis selama 2 x 24jam masalah integritas kulit busuk, eskar, dan eksudat ) 2. Agar tidak memperparah
dan/atau dermis. dapat teratasi keadaan kulit klien
Mandiri : 3. Agar tidak terkontaminasi
Batasan karakteristik : Kriteria Hasil : 2. Pertahankan jaringan dengan bakteri yang ada
Data objektif : 1. Menunjukan integritas jaringan : kulit sekitar terbatas dari didaerah laen
- Kerusakan pada lapisan kulit ( dan membran mukosa tidak ada drainase dan kelembapan 4. Agar daerah tersebut bersih
dermis ) gangguan(suhu,elastisitas,hidrasi,dan yang berlebihan dari bakteri
- Kerusakan pada permukaan sensasi) 3. Lindungi pasien dari 5. Untuk mencegah dan
kulit (epidermis) 2. Tingkat keparahan respon ekskresi luka lain mengurangi gatal
- Invasi struktur tubuh hipersensitivitas imun terhadap 4. Bersihkan area yang gatal
antigen lingkungan bisa di atasi prinsip steril. HE :
Faktor yang berhubungan : 3. Tidak ada lepuh atau maserasu pada 6. Untuk menjaga kenyamanan
1. Faktor eksternal kulit klien

33
- Zat kimia 4. Nekrosis, selumur, lubang , perluasan 5. Manajemen pruritus : 7. Agar tidak memperparah
- Kelembapan luka ke jaringan dibawah kulit, atau mencegah dan mengobati keadaan klien
- Hipertermia pembentukan saluran sinus gatal
- Hipotermia berkurang atau tidak ada Kolaborasi :
- Obat 5. Eritema kulit dan disekitar luka HE : 8. Untuk mengurangi rasa gatal
- Radiasi minimal. 6. Intruksikan pada yang dirasakan
2. Faktor internal keluarga/pasien untuk
- Perubahan turgor ( menggantikan pakaian
perubahan elastisitas ) yang bersih.
- Defisit imunologi 7. Anjurkan keluarga untuk
- Gangguan sirkulasi mengontrol hal-hal yang
- Gangguan status metabolik dapat memicu terjadinya
pruritu

Kolaborasi :
8. Melakukan kolaborasi
dengan dokter dalam
pemberian obat kulit (
salep)

34
7. Risiko Penurunan Curah NOC Observasi : Observasi :
Jantung (00240) 1. Tingkat keparahan kehilangan darah. 1. Monitor tekanan darah 1. Untuk mengetahui tekanan
Domain 4 : Aktivitas/Istirahat 2. Efektifitas pompa jantung. 2. Catat adanya tanda dan darah dari klien.
Kelas 4 : Respon 3. Status sirkulasi. gejala penurunan curah 2. Untuk mengetahui tanda dan
Kardiovaskular/Pulmonal 4. Status tanda vital. jantung gejala yang ditimbulkan dari
3. Monitor status penurunan curah jantung.
Definisi : Kriteria Hasil : kardiovaskuler 3. Untuk melihat normal
Rentan terhadap ketidafefektifan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4. Monitor adanya dyspnea tidaknya jantung.
jantung memompa darah untuk selama …x24 jam diharapkan : 5. Monitor kualitas dari nadi 4. Untuk melihat ada tidaknya
memenuhi kebutuhan metabolisme - Menunjukkan curah jantung yang tanda-tanda adanya dyspnea.
tubuh, yang dapat mengganggu memuaskan, dibuktikan oleh Mandiri : 5. Untuk mengetahui normal
kesehatan. efektivitas pompa jantung. 6. Atur periode latihan dan tidaknya frekuensi nadi
Faktor Risiko : - Mempunyai haluaran urine, berat istirahat untuk
- Perubahan afterload jenis urine dalam batas normal menghindari kelelahan Mandiri
- Perubahan frekuensi jantung 7. Memberi cairan dan obat 6. Untuk mencegah terjadinya
- Perubahan irama jantung intravena (IV) kelelahan
- Perubahan kontraktilitas 7. Untuk mengatasi agar klien
- Perubahan preload tidak mengalami dehidrasi.
- Oerubahan volume sekuncup

35
HE : HE :
8. Ajarkan penggunaan 8. Agar klien bisa mengetahui
dosis,dan efek samping tentang penggunaan dosis dan
obat efek samping dari obat.
Kolaborasi :
Kolaborasi : 9. Untuk mencegah adanya efek
9. Konsultasikan dengan samping yang ditimbulkan
dokter menyangkut darah penghentian obat
parameter atau tekanan darah
penghentian obat tekanan
darah

36
BAB IV
(PENUTUP)
4.1.Kesimpulan
Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan
penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan
cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerular (LFG) kurang dari
50 mL/menit.
Organ ginjal meskipun ukurannya kecil bersifat sangat vital. Ginjal
berfungsi untuk menjaga keseimbangan serta mengatur konsentrasi dan
komposisi cairan didalam tubuh. Ginjal juga berfungsi untuk membersihkan
darah dan berbagai zat hasil metabolisme serta racun didalam tubuh. Sampah
dari dalam tubuh tersebut akan diubah menjadi air seni (urin). Urine diproduksi
terus menerus diginjal, lalu dialirkan melalui saluran kemih dikandung kemih.
Bila cukup banyak urin didalam kandung kemih, maka akan timbul rangsangan
untuk buang air kecil. Jumlah urin yang dikeluarkan setiap hari sekitar 1-2 liter.
Gagal ginjal dapat diterapi dengan jalan hemodialisis (cuci darah).
Dialisis adalah proses pemisahan (penyaringan) sisa-sisa metabolisme melalui
selaput semipermiabel dalam mesin dialiser. Darah yang sudah bersih kemudian
dipompa kembali kedalam tubuh. Cuci darah bisa dilakukan dirumah sakit atau
klinik yang memilki unit hemodialisis. Frekuensi cuci darah bergantung pada
kondisi klien.
4.2.Saran
Dalam pembuatan makalah ini penyusun menyadari tentu banyak
kekurangan dan kejanggalan baik dalam penulisan maupun penjabaran materi
serta penyusunan atau sistemmatik penyusunan.
Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca semua. Dan penyusun juga berharap semoga
makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua

37
DAFTAR PUSTAKA
National Kidney Foundation, 2009. Chronic Kidney Disease. New york

Noer, M.S., 2006. Gagal Ginjal Kronik Pada Anak, Fakultas Kedokteran
UNAIR

Perazella, M.A., 2006. Chronic Kidney Disease. In: Reilly, R.F, Jr., Perazella,
M.A., ed. Nephrology In 30 Days. New York: Mc Graw Hill, 251-274.

Prodjosudjadi, W., 2006. Glomerulonefritis. Dalam: Sudoyo, A.W.,


Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus, S.K., Setiati, S., Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I. Edisi keempat. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 527 -530.

Rahardjo, P., Susalit, E., Suhardjono., 2006. Hemodialisis. Dalam: Sudoyo,


A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus, S.K., Setiati, S., Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi keempat. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 579-580.

Roesli, R., 2008. Hipertensi, diabetes, dan gagal ginjal di Indonesia. Dalam:
Lubis, H.R., et al (eds). 2008. Hipertensi dan Ginjal. USU Press, Medan:
95-108.

Sukandar, E., 2006. Neurologi Klinik. Edisi ketiga. Bandung: Pusat Informasi
Ilmiah (PII) Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD.
Suwitra, K., 2006. Penyakit Ginjal Kronik. Dalam: Sudoyo, A.W.,
Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus, S.K., Setiati, S., Edisi keempat. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 570-573.

T. Heather Herdman, P. R. (2016). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi


Edisi 10. Jakarta: EGC.

Wilkinson, J. M. (2016). Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta: EGC.

38