Vous êtes sur la page 1sur 18

IDENTIFIKASI SUMBER POTENSI KONFLIK SERTA REKOMENDASI

PENANGANANNYA TERHADAP IZIN USAHA PENAMBANGAN PASIR


LAUT PT. LOGO MAS UTAMA DI KECAMATAN RUPAT UTARA
KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU

Disusun Oleh :
AGUS SUSANTO
NIM. 161 024 8158

Dosen Pengampu :
Dr. ZULKIFLI, M.Si

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................. i
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... ii

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konflik dan Kontestasi Sektoral Pemanfaatan Ruang .................. 4
2.2 Kebijakan Perencanaan Ruang Kawasan Pesisir dan Laut ........... 6

III. IDENTIFIKASI SUMBER POTENSI KONFLIK SERTA


REKOMENDASI PENANGANANNYA TERHADAP IZIN USAHA
PENAMBANGAN PASIR LAUT PT. LOGO MAS UTAMA DI
KECAMATAN RUPAT UTARA KABUPATEN BENGKALIS
PROVINSI RIAU
3.1 Identifikasi Sumber Potensi Konflik ............................................ 8
3.2 Rekomendasi ................................................................................. 12

IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan ................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Potensi Konflik Antar Stakeholder dalam Pemanfaatan Ruang ............ 5
2.2 Potensi Konflik dalam Pemanfaatan Ruang ................................................. 6
2.3 Kebijakan Penataan Ruang Nasional (Ruang Darat dan Ruang Laut)
berdasarkan UU No. 26/2007, UU No. 27/2007 Jo UU No. 01/2004
dan UU 32/2014 ..................................................................................... 7
3.1 Plot area Izin Usaha Pertambangan PT. Logo Mas Utama dan
Posisi Pulau Beting Aceh ........................................................................ 8
3.2 Peta Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bengkalis .......... 12
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada bulan Mei 2017, jagad tata ruang Provinsi Riau dikejutkan dengan adanya
Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Logo Mas Utama di Kecamatan Rupat Utara
Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau yang kabarnya diterbitkan oleh Dinas Penanaman
Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau. Hal ini
kemudian mendapat penentangan yang luas dari banyak kalangan dengan salah satu
alasan bahwa IUP tersebut juga termasuk area Pulau Beting Aceh Kecamatan Rupat
Utara yang terkenal keelokannya dan telah termasuk salah satu Kawasan Strategis
Pariwisata Nasional (KSPN).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah
Daerah Pasal 27 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi diberi kewenangan untuk
mengelola sumber daya alam di laut yang ada di wilayahnya sejauh 12 mil laut diukur
dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. Hal ini
kemudian meniadakan kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten terkait pengelolaan
sumber daya alam dilaut dan hal-hal yang terkait dengan pengelolaan sumber daya laut
lainnya.
Lebih lanjut permasalahan ini kemudian meluas keranah hukum dan politik,
saling tuding dan saling lempar kesalahan terkait terbitnya IUP terjadi melalui
pemberitaan-pemberitaan khususnya di media cetak lokal. Aparat hukum kemudian
melakukan investigasi awal terkait potensi kerawanan sosial yang dapat ditimbulkan
sementara beberapa politisi mengkritisi terhadap kemungkinan pelanggaran hukum
yang dilakukan. Ketua Panitia Khusus Rancangan Peraturan Daerah (Pansus
Ranperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Riau Asri Auzar
mengatakan Pulau Beting Aceh tersebut merupakan Kawasan Lindung yang harus
dijaga. Dan pihaknya meminta pemerintah untuk membatalkan izin yang
dikeluarkannya tersebut (LintasRiauNews, 29/5/2017).
Hal ini kemudian mendapat tanggapan langsung dari Gubernur Riau Arsyad
Juliandi Rahman yang menyesalkan tudingan beberapa pihak yang membentuk opini
seolah-olah perizinan penambangan pasir laut di Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis
yang diperoleh PT Logo Mas Utama menjadi 'barang baru' dengan menyalahkan Dinas
ESDM dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)
Provinsi Riau (LintasRiauNews, 29/5/2017).
Tanggapan bahwa Izin Usaha Pertambahan PT. Logo Mas Utama ‘bukan
barang baru’ tentu memunculkan pertanyaan siapakah yang mengeluarkan izin
sebelumnya?. Secara singkat runutan hingga terbitnya IUP PT. Logo Mas Utama
adalah sebagai berikut :
1. Surat Keputusan (SK) dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Pertambangan Umum
Nomor : 490.K/24.02/DGP/99 tanggal 26 Agustus tahun 1999 tentang Pemberian
Kuasa Penambangan (KP) Eksploitasi Persetujuan Andal Terhadap Pulau yang ada
di Rupat Utara;
2. Surat Direktur Pembinaan Perusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan
Pertambangan tanggal 6 Juni 2015 tentang Petunjuk Penyesuaian Kuasa
Penambangan (KP) menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada PT. Logo
Mas yang ditujukan kepada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Provinsi
Riau;
3. Surat Keputusan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau Nomor : 503/DPMPTSP/IZIN-ESDM/66 tanggal
29 Maret 2017.
Adapun Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis dalam hal ini menyatakan
tidak mengetahui adanya Kuasa Penambangan yang diubah menjadi Izin Usaha
Pertambangan (IUP) PT. Logo Mas Utama yang berlokasi di Kecamatan Rupat Utara
tersebut meskipun merupakan wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis. Hal ini
terkait keterbatasan kewenangan yang dimiliki.
Berdasarkan paparan singkat diatas perlu dilakukan suatu identifikasi potensi
konflik dari seluruh sektor baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten, pihak perusahaan dan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Adanya perbedaan persepsi antar para pihak atas terbitnya Izin Usaha
Pertambangan Pasir Laut PT. Logo Mas Utama;
2. Saling tuding dan lempar tanggung jawab terhadap penyesuai perizinan dan
perubahan kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
3. Adanya perbedaan kepentingan pemanfaatan ruang.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memberikan gambaran umum tentang potensi konflik penataan dan pamanfataan
ruang;
2. Mengidentifikasi potensi konflik terkait pemberian Izin Usaha Pertambangan PT.
Logo Mas secara umum;
3. Memberikan rekomendasi langkah-langkah penanganannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konflik dan Kontestasi Sektoral Pemanfaatan Ruang

Konflik berasal dari satu kata latin configure yang artinya saling memukul.
Secara sosiologis, konflik merupakan suatu proses sosial antara dua orang atau lebih
(kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Namun tidak selamanya konflik
dimaknai dengan hal negatif dimana konflik yang terkontrol akan menghasilkan
kesepakatan dan integrasi. Menurut Simon (2000), konflik adalah hubungan antara dua
pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki,
sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
Terkait dengan konflik penataan dan pemanfaatan ruang, kontestasi sektoral
terhadap penguasaan sumberdaya alam dan jasa lingkungan terkait erat dengan
tumpang tindihnya peraturan perundang-undangan sektoral. Menguatnya ego antar
sektoral dan kurangnya pemahaman pemangku kepentingan atau aktor terhadap sifat
dan fungsi sumberdaya alam sebagai sistem daya dukung kehidupan darat dan laut
merupakan penyumbang terbesar terjadinya konflik pemanfaatan ruang. Pemangku
kepentingan atau aktor yang terlibat dalam kontestasi sektoral, menempatkan
sumberdaya laut semata-mata sebagai komoditi ekonomi dan mengabaikan fungsinya
sebagai daya dukung lingkungan laut.
Terjadinya konflik yang melibatkan masyarakat dengan pemerintah dan
perusahaan disebabkan oleh perspektif yang berbeda dalam memandang sumber daya
alam. (Zainudin dkk., 2012). Kekurangpahaman atas karakteristik sumberdaya dan
besarnya kepentingan politik dan ekonomi sektoral, menyebabkan sejumlah peraturan
perundang-undangan menimbulkan konflik yurisdiksi. Beberapa peraturan perundang-
undangan yang menimbulkan konflik sektoral antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan;
3. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 jo. Undang-Undang Nomor Nomor 01
Tahun 2014 tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil;
4. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan;
5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran;
6. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi;
7. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
8. Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi sumberdaya hayati;
9. Berbagai peraturan perudangan lainnya baik itu peraturan pemerintah, peraturan
menteri maupun peraturan daerah.
Sebagai salah salah contoh terjadinya kontestasi sektoral di wilayah pesisir dan
laut adalah pengelolaan hutan mangrove. Dengan melihat karaktertisk sifat dan
fungsinya, hutan mangrove merupakan ekosistem yang mempunyai peran besar dalam
dinamika kehidupan di pesisir dan laut, sehingga secara de facto ekosistem mangrove
yang berada di kawasan pesisir merupakan wilayah kewenangan Kementerian
Kelautan dan Perikanan, tetapi de jure pengelolaan hutan mangrove merupakan
kewenangan dari Kementerian Kehutanan (Hidayat, 2011). Dengan adanya tumpang
tindih regulasi dan kewenangan ini, sebagian besar hutan mangrove tidak terawatt
bahkan kritis, yang akan menurunkan produksi perikanan dan akhirnya akan berakibat
pada menurunnya kesejahteraan masyarakat. Perbedaaan kepentingan terhadap
sumberdaya juga menjadi salah satu potensi konflik pemanfaatan (Marina dan
Dharmawan, 2011).

Gambar 2.1 Potensi Konflik Antar Stakeholder dalam Pemanfaatan Ruang (Sumber :
Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU, 2014)
Terjadinya kontestasi sektoral di wilayah pesisir dan laut tidak bisa dilepaskan
dengan peran pemangku kepentingan atau aktor yang bermain di wilayah tersebut.
Pemangku kepentingan atau aktor tersebut berperan sesuai dengan tingkatannya atau
level (Ostrom, 1994). Berdasarkan tingkatnya aktor dalam sistem pengelolaan wilayah
pesisir dan laut dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Aktor penentu kebijakan (constitutional), adalah aktor yang mempunyai peran
dalam menyusun aturan main atau konsitusi dalam mengelola dan memanfaatkan
ruang kawasan pesisir dan
2. Aktor operasional (operational), yaitu aktor yang secara langsung melaksanakan
kebijakan di lapangan.

Gambar 2.2 Potensi Konflik dalam Pemanfaatan Ruang (Sumber : Dirjen Penataan Ruang
Kementerian PU, 2014 )

2.2 Kebijakan Perencaaan Ruang Kawasan Pesisir dan Laut


Penataan ruang wilayah nasional meliputi ruang wilayah yurisdiksi dan
wilayah kedaulatan nasional yang mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan (Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Sehingga dapat dimaknai bahwa Undang-
Undang tersebut hanya mengatur ruang darat saja. Pengaturan ruang laut kemudian
diatur dengan undang-undang tersendri yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014
tentang Kelautan yang merupakan salah satu undang-undang yang mengamanatkan
perencanaan ruang laut. Perencanaan ruang laut sebagaimana disebutkan dalam UU
No. 32/2014 tentang Kelautan pasal 43 meliputi :
1. Perencanaan Tata Ruang Laut Nasional;
2. Perencanaan Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil; dan
3. Perencanaan Zonasi Kawasan Laut.
Dalam UU No. 32/2014 tersebut menyebutkan bahwa, perencanaan tata ruang
laut nasional mencakup wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi. Wilayah perairan
meliputi :
1. Perairan pedalaman;
2. Perairan kepulauan; dan
3. Laut territorial.
Sedangkan wilayah yurisdiksi meliputi :
1. Zona Tambahan;
2. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia; dan
3. Landas Kontinen.
Sedangkan, perencanaan zonasi kawasan Laut merupakan perencanaan untuk
menghasilkan rencana zonasi kawasan strategis nasional, rencana zonasi kawasan
strategis nasional tertentu, dan rencana zonasi kawasan antar wilayah.

Gambar 2.3 Kebijakan Penataan Ruang Nasional (Ruang Darat dan Ruang Laut)
berdasarkan UU No. 26/2007, UU No. 27/2007 Jo UU No. 01/2004 dan
UU 32/2014. (Sumber : Mujio. et. al, 2016 )
III. IDENTIFIKASI SUMBER POTENSI KONFLIK SERTA
REKOMENDASI PENANGANANNYA TERHADAP IZIN USAHA
PENAMBANGAN PASIR LAUT PT. LOGO MAS UTAMA DI
KECAMATAN RUPAT UTARA KABUPATEN BENGKALIS
PROVINSI RIAU

3.1 Identifikasi Sumber Potensi Konflik


3.1.1 Kurangnya Koordinasi Lintas Sektor dan Koordinasi Antar Tingkatan
Pemerintah

Dalam permasalahan perizinan penambangan pasir laut PT. Logo Mas Utama
terjadi permasalahan kurangnya koordinasi antar sektor dan antar tingkatan
pemerintah. Surat Kuasa Pertambangan yang dimiliki oleh PT. Logo Mas Utama
dikeluarkan pada Tahun 1999 dimana pada saat itu merupakan kewenangan
pemerintah pusat. Seiring berjalannya waktu terjadi perubahan aturan perundang-
undangan yang mengatur perubahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah. Pemerintah Daerah kemudian menuangkan kawasan Pulau Beting Aceh
sebagai kawasan pariwisata dimana dalam Peta Revisi RTRW Kabupaten Bengkalis
Area izin operasional PT. Logo Mas Utama menjadi tumpang tindih dengan Pulau
Beting Aceh yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Gambar 3.1 Plot area Izin Usaha Pertambangan PT. Logo Mas Utama dan Posisi Pulau
Beting Aceh (Sumber : Anonim, 2017)
Gambar 3.2 PETA REVISI RENCANA TATA RUANG DAN WILAYAH KABUPATEN BENGKALIS
3.1.2 Rencana Pemanfataan Ruang yang Tidak Didukung Data yang Akurat dan
Analisis yang Memadai

Dalam rencana tata ruang, Pulau Beting Aceh dimasukkan dalam kawasan
pariwisata sehingga munculnya perizinan terkaitan kegiatan penambangan pasir jelas
bertentangan dengan rencana tata ruang dan wilayah tersebut. Tidak terdapat data pasti
terkait potensi penambangan pasir di kawasan sekitar Pulau Rupat akan tetapi sudah
menjadi rahasia umum bahwa aktivitas penambangan pasir milik masyarakat telah
lama beroperasi dikawasan pantai dan laut Kecamatan Rupat Utara yang artinya
potensi penambangan pasir dikawasan perairan laut Rupat Utara memang sangat
potensial namun tidak dikelola dengan baik.

3.1.3 Adanya Perbedaan Rencana Pemanfaatan Ruang dengan Kepentingan


Pemerintah Pusat

Dalam hal ini diketahui bahwa Pemerintah Pusat pada saat dikeluarkannya KP
PT. Logo Mas Utama pada tahun 1999 telah menyetujui dilaksanakannya eksploitasi
pasir di Kawasan Pulau Beting Aceh dan sekitarnya namun disisi lain kebijakan daerah
menginginkan daerah tersebut menjadi kawasan pariwisata. Perubahan kebijakan
kepemimpinan saat itu mengakibatkan dilakukannya moratorium pemanfataan sumber
daya laut berupa penambangan pasir sehingga PT. Logo Mas Utama tidak dapat
menjalankan aktivitas usahanya.

3.1.4 Adanya Perubahan Peruntukan Kawasan pada Rencana Tata Ruang yang Baru

Terkait adanya aktivitas penambangan pasir tidak berizin maupun yang sudah
berizin namun belum pernah beroperasi yaitu PT. Logo Mas Utama, dapat disimak
bahwa telah terjadi perubahan peruntukan kawasan di areal operasi yang dimiliki oleh
PT. Logo Mas Utama. Dimana pada saat KP diterbitkan oleh Pemerintah Pusat pada
tahun 1999 areal tersebut dapat dieksploitasi sumber daya pasirnya. Namun setelah
dikembalikannya kewenangan pengelolaan wilayah pesisir ke Pemerintah Daerah
Kabupaten peruntukkannya kemudian dialihkan menjadi kawasan pariwisata setelah
kewenangan pengelolaan diberikan kepada Pemerintah Provinsi pada tahun 2015
terjadi perubahan dari Kuasa Pertambangn (KP) menjadi Izin Usaha Pertambangan
(IUP). Sesuai dengan kewenangannya izin PT Logo Mas Utama bisa saja dicabut oleh
Pemerintah Provinsi Riau apabila dianggap mengancam pengembangan Kawasan
Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Pantai Beting Aceh

3.1.5 Adanya Konflik Kepentingan

Sorotan terhadap PT. Logo Mas Utama juga didasari kepentingan bisnis
dimana saat ini banyak beroperasi penambangan-penambangan pasir illegal dikawasan
pantai rupat utara baik milik masyarakat setempat maupun milik pemodal-pemodal
dari luar daerah. Hal ini tentu saja tidak dapat dibiarkan karena menimbulkan
pemikiran bahwa Pemerintah tidak konsisten dalam menegakkan aturan yang berlaku;

3.1.6 Proses Perizinan yang kompleks dan Sektoral

PT. Logo Mas Utama mendapatkan Kuasa Pertambangan yang kemudian


diubah dengan Izin Usaha Pertambangan berdasarkan hasil kajian lingkungan ANDAL
yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat pada saat itu. Perubahan peraturan yang
diikuti oleh perubahan kewenangan mengakibatkan izin-izin tertentu yang telah
dikeluarkan dalam rentang waktu yang cukup lama seharusnya menjadi kadaluarsa
karena menjadi tidak relevan dengan produk hukum dan situasi yang terbaru. Proses
perizinan yang kompleks dan sektoral mengakibatkan terbitnya perubahan KP menjadi
IUP PT. Logo Mas Utama. Sebagai analisis lebih lanjut, bisa saja perubahan KP ke
IUP milik PT. Logo Mas Utama ditolak dengan fakta bahwa selama periode 3 Tahun
sejak dikeluarkannya KP tidak ada aktivitas penambangan yang dilaksanakan serta
tidak adanya laporan Pemantauan dan Pengelolaan Lingkungan oleh PT. Logo Mas
Utama. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan dinyatakan bahwa Penanggung jawab usaha wajib mengajukan
permohonan perubahan Izin Lingkungannya apabila – salah satunya – tidak
dilaksanakannya rencana Usaha dan/atau Kegiatan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun
sejak diterbitkannya Izin Lingkungan. Akan halnya PT. Logo Mas Utama telah
mengantongi Izin Lingkungan/Persetuujan Andal yang pada saat itu (Tahun 1999)
disebut AMDAL Sektor karena dikeluarkan oleh masing-masing instansi yang
berkepentingan.
3.2 REKOMENDASI
3.2.1 Pembahasan RTRW mulai dari tingkat terendah hingga disahkan menjadi
produk acuan pembangunan harus disusun secara terintegrasi dengan
melibatkan seluruh stakeholder terkait. Koordinasi dan komunikasi lintas
sektor harus menjadi kewajiban dalam penyusunan Dokumen RTRW dan
bukan hanya himbauan semata. Koordinasi dan komunikasi lintas sektor
diyakini dapat meminimalisir kejadian perbedaan kebijakan penataan dan
pemanfaatan ruang;
3.2.2 Terlepas belum disahkannya Perda RTRW Provinsi Riau maka tidak
dibenarkan melakukan perubahan RTRW sebelum lima tahun kecuali atas
alasan bencana alam skala besar, perubahan batas teritorial negara dan
perubahan batas wilayah daerah;
3.2.3 Terkait adanya perbedaan peruntukan dan pemanfaatan ruang dikawasan Pulau
Beting Aceh maka harus tetap memperhatikan dan memenuhi ketentuan untuk
tidak mengubah fungsi utama kawasan dan tidak mengubah bentang alam pada
kawasan dimaksud. Sehingga usulan pengurangan luas areal izin PT. Logo
Mas Utama agar tidak mengenai Pantai Beting Aceh juga harus ditelaah lebih
lanjut untuk dapat dilaksanakan karena akan berdampak langsung kepada
Pulau Beting Aceh;
3.2.4 Bias peruntukan ruang dalam RTRW dengan kenyataan pelaksanaan
pembangunan dapat diakomodasi melalui penyusunan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) untuk merincikan RTRW Provinsi Riau. Namun RDTR hanya
diperkenankan untuk merincikan dan tidak diperbolehkan untuk mengubah
dan/atau bertentangan dengan muatan RTRW;
3.2.5 Terhadap konflik kepentingan khusunya dikalangan pelaku usaha yang
mengeksploitasi pasir laut. Pemerintah Provinsi Riau harus tegas melakukan
penindakan dan penutupan tambang-tambang pasir ilegal tersebut untuk
menunjukkan konsitensinya apabila akan melakukan pembatalan IUP PT.
Logo Mas Utama;
3.2.6 PT. Logo Mas Utama wajib mengajukan permohonan perubahan Izin
Lingkungan karena tidak beroperasi lebih dari 3 tahun sejak mengantongi izin
lingkungan/rekomendasi kelayakan lingkungan yang didapat pada Tahun
1999. Hal ini merupakan amanat PP No.27/2012 yang merupakan turunan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Adapun pengajuan permohonan perubahan Izin
Lingkungan sendiri harus menunggu disahkannya Perda RTRW untuk
mendapatkan arahan kesesuaian pemanfaatan ruang;
IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari poin diatas adalah perlunya dilaksanakan
beberapa hal sebagai berikut :
1. Pelaksanaan koordinasi lintas sektor dapat dilakukan dengan pembentukan forum
koordinasi lintas sektor melalui forum Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRN) dan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) diyakini dapat
mengeliminir perbedaan kebijakan penataan ruang pusat dan daerah meskipun
pada fase saat ini masih terjadi gap dan perbedaan kepentingan pusat dan daerah
terkait kebijakan dan program pusat dan daerah;
2. Melaksanakan konsultasi publik dan pelibatan seluruh stakeholder dalam proses
penyusunan rencana tata ruang;
3. Menegakkan kepastian hukum secara tegas dan konsisten;
4. Penyusunan RTRW harus dilakukan secara runut yang didukung data yang akurat
dengan analisis yang menggunakan data terkini dan memadai;
5. Diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh pihak baik eksekutif, legislatif,
yudikatif dan masyarakat untuk taat kepada rencana tata ruang yang disusun.
DAFTAR PUSTAKA

Diposaptono Subandono. 2015. Membangun Poros Maritim Dunia: Dalam Perspektif


Tata Ruang Laut. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal
Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Direktirat Tata Ruang Laut,
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Jakarta. (328) : 196 – 197.
Hidayat. 2011. Politik Agraria Transformatif: Studi Peluruhan Kelembagaan Lokal
Dan Kegagalan Politik Tata Kelola Agraria Pada Komunitas Petani Di
DAS Cidanau Kabupaten Serang Provinsi Banten. (desertasi). Institut
Pertanian Bogor.Bogor.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang. 2014. Focus Group Disscusion Potensi Konflik
Penataan Ruang. Solo.
Marina I. dan AH. Dharmawan. 2011.Analisis konflik sumberdaya hutan di kawasan
konservasi (Analysis of resource forest conflict in conservation area).
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan|. Vol. 05, No. 01 hlm 90-96.
Mujio. et. al. 2016. Analisis Potensi Konflik Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir:
Integrasi Rencana Tata Ruang Darat dan Perairan Pesisir
Prayogo, D. 2008. Konflik antara Korporasi dengan komunitas Pengalaman beberapa
industry Tambang dan Minyak di Indonesia.Fisip UI Press.
Simon, H. 2008. Pengelolaan Hutan Bersama Rakyat. Teori dan Aplikasi pada hutan
Jati di Jawa. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Zainuddin S., E. Soetarto, S. Adiwibowo, NK. Pandjaitan. 2012. Kontestasi dan
konflik memperebutkan emas di poboya (Contestation and Conflict in the
Seizure of Gold in Poboya). Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan|. Vol. 06,
No. 02 hlm 145-159.