Vous êtes sur la page 1sur 2

Akademik adalah seluruh lembaga pendidikan yang bersifat akademis.

Artinya bersifat ilmiah, ilmu


pengetahuan, dan teori tanpa arti praktis yg langsung. Akademik ini bersifat formal baik pendidikan anak
usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan kejuruan maupun perguruan tinggi yang
menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan,
teknologi, dan atau seni tertentu. Sedangkan kegiatan non akademik biasa disebut dengan kegiatan
ekstrakulikuler. Yakni kegiatan diluar materi pelajaran wajib. Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang
dilakukan siswa sekolah atau universitas, di luar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada
pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan
agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar
bidang akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu
sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau universitas.

Ada kalanya mahasiswa dihadapkan situasi kondisi dimana mahasiswa harus menyibukkan diri dengan
akademiknya atau organisasinya. Oleh karena itulah, kemudian dilahirkanlah beberapa tipikal
mahasiswa:

1. Pertama, adalah mahasiswa akademik, mahasiswa model ini cenderung terjebak pada suasana
formalitas dan menganggap bahwa ruang kuliah merupakan medium satu-satunya sumber ilmu
tanpa ingin berbaur berorganisasi dengan yang lain. Seringkali mahasiswa tipe ini gagap ketika
berhadapan pada persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Padahal mahasiswa mempunyai
tanggung jawab sosial. Begitupun dalam dunia kerja, ketika gagal dalam persaingan sesuai
jurusannya, otomatis menjadi pengangguran terbuka, karena tidak mempunyai kemampuan
yang lain.
2. Kedua, adalah mahasiswa aktivis. Tipekal mahasiswa ini memiliki kesadaran sosial bahwa label
mahasiswa tidak hanya mempunyai tugas akademik, tapi juga mempunyai tugas sosial.
Segudang agenda kegiatannya dalam berorganisasi terkadang membuatnya melupakan tugas
utama, yaitu kuliah. Bisa dikatakan ia tercabut dari akar akademiknya. Berbeda hal nya dengan
aktivis “founding fathers” kita seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang justru tidak hanya fokus
berorganisasi tetapi juga fokus dalam akademiknya. Adalah realitas yang maklum jika
mahasiswa model ini acapkali mendapat gelar MA (mahasiswa abadi) sebelum lulus. Mahasiswa
ini pada umumnya bekerja tidak sesuai bidang kuliahnya, karena mereka banyak memiliki
kemampuan hidup terbuka. Rata-rata orang seperti ini mudah mencari kerja, jelas mereka
banyak jaringan, mudah bergaul dan bisa beradaptasi dalam pekerjaan apapun.
3. Ketiga, ialah mahasiswa aktivis yang akademis. Pada tipe ini mahasiswa memiliki kesadaran
akademik sekaligus kesadaran sosial. Atau kata lain tipe ketiga ini hasil dari antitesis antara
mahasiswa akademik dan mahasiswa aktivis. Mahasiswa ini menganggap kuliah juga harus
diselesaikan. Tipe mahasiswa ini memiliki kelebihan dintara kedua tipe mahasiswa. Yang pada
dasarnya keilmuan yang dibangun tidak hanya sebatas diruang kuliah saja. Pada tipe ini, sangat
relevan dan sangat dibutuhkan dalam membangun Bangsa Indonesia ke depan.

terdapat cara bagaimana membuat akademik dengan organisasi berjalan seimbang sebagaimana
mestinya, yaitu diantaranya dengan mencermati jadwal kuliah. Dengan memastikan ada atau
tidaknya jadwal yang bentrok antara kuliah dengan organisasi akan meminimalisir ketidak
seimbangan tersebut. Selanjutnya dengan memprioritaskan kegiatan apa yang perlu dilakukan lebih
dahulu dan tidak lupa dengan memfokuskan pikiran untuk menyelesaikan kegiatan satu per satu.
Dan yang terakhir ialah menaati rencana atau agenda yang sudah dirancang. Meski terasa berat di
awal, dengan keyakinan tentu rencana baik akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan inti dari kesemuanya adalah sebagai mahasiswa yang ingin sukses, manajemen waktu adalah
yang terpenting. Karena mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara akademik, penelitian dan
organisasi akan menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi orang lain dan kontribusinya dibutuhkan
oleh dunia.