Vous êtes sur la page 1sur 14

Makalah

Surface Mount Technology/Surface Mount Device (SMT/SMD)

Disusun Oleh:

Annisaa Nur’raudah Kuswandi (1316030023)

PROOGRAM STUDI TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018
Surface Mount Technology (SMT) merupakan istilah yang telah dikenal luas dalam dunia
elektronika. Istilah Surface Mount Technology berarti sebuah teknologi mengenai cara atau metode
untuk menyusun komponen-komponen elektronik secara langsung pada permukaan Printed
Circuit Boards (PCB). Metode ini dilakukan oleh mesin robot yang secara otomatis mampu
melakukan pemasangan komponen elektronika secara teratur, rapi, dan teliti. Sedangkan
komponen elektronika seperti resistor, kapasitor, dioda, tarnsistor, IC, dsb yang terpasang pada
PCB dengan menggunakan SMT ini disebut sebagai Surface Mount Device (SMD). Jadi istilah
antara SMD dan SMT dalam hal ini berkaitan sangat erat. Bisa dikatakan teknologinya disebut
SMT dan alat yang digunakannnya adalah SMD.
Industri elektronik menggunakan metode SMT guna perakitan komponen pada papan
sirkuit (PCB). Selain itu, untuk dunia FPGA, metode SMT digunakan untuk perakitan komponen
(SMD) pada papan pengembang (development board) serta pengaturan layout jalurnya (wiring).
Dilihat dari segi ukuran, komponen SMD berukuran lebih kecil daripada komponen yang sama.
Sebagai gambaran berikut ditampilkan beberapa SMD yang sering ada dan terpasang terpasang di
dalam papan pengembang FPGA :

Gambar 1. Beberapa Gambar SMD

A. Konfigurasi SMT
Terdapat 3 Jenis konfigurasi lini (line) Produksi SMT tergantung tipe produk yang akan
diproduksinya, diantaranya adalah Proses SMT yang memakai perekatan adhesive (bonding)
dan Proses SMT yang memakai perekatan Solder Paste serta Proses SMT gabungan. Berikut
ini Flow dari Ketiga Jenis Konfigurasi lini Produksi SMT :
Gambar 2. SMT process flow

1. Proses SMT memakai perekatan adhesive (bonding)

Pemberian Adhesive → Pemasangan Komponen → Pengeringan Adhesive

2. Proses SMT memakai Solder Paste

Terdapat 2 (dua) jenis Proses SMT yang memakai Solder Paste, yaitu :

2.1. Pemasangan Komponen 1 (satu) sisi PCB

Pencetakan Solder Paste → Pemasangan Komponen → Penyolderan Reflow Oven

2.2. Pemasangan Komponen 2 (dua) sisi PCB

Pencetakan Solder Paste → Pemasangan Komponen → Penyolderan Reflow Oven →


Balikan PCB → Pencetakan Solder Paste → Pemasangan Komponen → Penyolderan Reflow
Oven
3. Proses SMT gabungan Solder Paste dan Adhesive

Pencetakan Solder Paste (bagian atas) → Pemasangan Komponen → Penyolderan Reflow


Oven → Balikkan PCB (bagian bawah) → Pemberian Adhesive → Pemasangan Komponen →
Pengeringan Adhesive.

B. Macam-macam SMD

Berikut adalah macam-macam SMD :

1. SMD Resistor

Fungsi utama sebuah resistor adalah sebagai hambatan (resistansi) bagi arus listrik. Untuk jenis
resistor, komponen ini terbagi atas beberapa jenis dan ukuran. Untuk menggambarkan ukuran jenis
resistor dapat dilambangkan panjang bilangan sepanjang 4 digit. Untuk 2 digit pertama
menggambarkan panjangnya sedangkan 2 digit terakhir menggambarkan lebarnya. Biasanya
satuan ukuran yang digunakan adalah milimeter. Misalnya:

 0603 : berarti berukuran 0,6×0,3 mm


 0805 : berarti berukuran 0,5×0.5 mm

2. SMD Capasitor

Fungsi utama sebuah kapasitor adalah untuk menyimpan tenaga listrik, penapis, dan penala.
Untuk kapasitor jenis SMD, tersedia antara 1 pF s/d 1 uF. Selain itu, ukuran yang ada tersedia
untuk kapasior ini yakni antara 0603 s/d 1206. Dalam hal ini, kapasitor paling banyak dan sering
digunakan adalah jenis kapasitor yang terbuat dari bahan keramik. Selain itu, dikenal pula apa
yang disebut jenis kapasitor tantalum yakni kapasitor yang memiliki kapasitansi 1 uF dan ukuran
lain di atasnya. Untuk menggambarkannya, biasanya dilambangkan dengan huruf A s/d E.
Kapasitor jenis tantalum ini memiliki kutub positif dan negatif yang secara jelas tertera
pada bagian luarnya.

3. SMD Transistor
Transistor yang paling banyak digunakan untuk SMT adalah jenis SOT-23 dan SOT-223.

4. SMD Integrated Circuit (IC)


Untuk jenis IC, yang cukup terkenal dinamakan SO-8 dan SO-14 (sering juga disebut SOIC-8
dan SOIC 16).

5. SMD FPGA
Seperti yang diketahui, FPGA juga merupakan salah satu jenis IC digital. Oleh karena itu,
maka tersedia juga jenis FPGA untuk SMD. Beberapa jenis IC yang dipakai untuk FPGA dan
cukup terkenal yaitu :
 TQFP (Thin Quad Flat Pack); memiliki 100 atau 144 pin
 PQFP (Plastic Quad Flat Pack); memiliki 208 atau 240 pin.
 BGA (Ball-Grid Array); memiliki 256 s/d lebih 1000 pin.

6. SMD QFP
Berikut gambar beberapa FPGA SMD jenis QFP:
Gambar 3. IC FPGA jenis QFP

Untuk jenis TQFP memiliki 100 dan 144 pin. Selain itu cara pemasangan pin dengan proses
penyolderan juga dapat dikatakan mudah karena pin-pin jenis TQFP ini terbilang kokoh dan kuat.
Sedangkanuntuk jenis PQFP memiliki 208 dan 240 pin. Berbeda dengan TQFP, jenis PQFP ini
memiliki pin-pin yang mudah bengkok sehingga tidak mudah untuk dilakukan penyolderan. Baik
TQFP maupun PQFP, masing-masing memiliki jarak antar pin sebesar 0,5 mm.

7. SMD BGA

Gambar 4. Bagian Bawah IC FPGA Jenis BGA

Jenis komponen BGA memiliki bagian bawah yang sesungguhnya berupa sebuah papan
sirkuit. Papan sirkuit tersebut dilapisi dan hampir sebagian besar tertutup oleh bulatan-bulatan
solder(seperti terlihat pada gambar di atas). Bulatan solder pada BGA ini bukanlah terbuat dari
hasil solder logam (tinol) namun terbuat dari solder lem/sejenis perekat yang akan berbentuk padat
ketika berada dalam suhu kamar. Bulatan yang terbentuk dari hasil solder lem tersebut akan
meleleh ketika proses pembuatan papan di dalam oven. Selain itu, jarak antara bulatan satu dengan
yang lain adalah sekitar 1 s/d 1,27 mm atau paling sedikit 0,8 mm.
C. Cara membaca komponen SMD

1. Resistor
Secara garis besar, pengkodean resistor SMD dibagi menjadi 3 kategori, sistem tiga digit,
sistem empat digit, serta sistem EIA-96. Berikut penjelasan dari masing-masing sistem
pengkodean tersebut.

1.1 Sistem Tiga Digit

Gambar 4. Sistem Pengkodean Tiga Digit

Pada sistem ini terdapat 3 digit angka yang berfungsi untuk mendeklarasikan nilai
komponen SMD. Angka pertama dan kedua merupakan bilangan numerik yang menunjukan nilai
resistansi sedangkan angka ketiga berfungsi sebagai faktor pengali perpangkatan dari bilangan 10.
Berikut ini adalah beberapa contoh pembacaan nilai resistansi dari sistem pengkodean 3 digit.

Contoh:

1. 101 === 10 Ω x 101 = 100 Ω


2. 203 === 20 Ω x 103 = 20.000 Ω / 20 KΩ
3. 120 === 12 Ω x 100 = 12 Ω
4. 472 === 47 Ω x 102 = 4.700 Ω / 47 KΩ
5. 335 === 33 Ω x 105 = 3.300.000 Ω / 3.3 MΩ

Untuk nilai resistansi yang lebih kecil dari 10 Ω biasanya ditulis dengan menambahkan
huruf “R”. Huruf “R” mengindikasikan letak poin desimal pada nilai resistansi. Misalnya suatu
resistor memiliki kode 4R7, itu berarti resistor ini memiliki nilai resistansi sebesar 4.7 Ω, reistor
memiliki kode R05, berarti resistor memiliki nilai resistansi 0.05 Ω, dan seterusnya.
1.2 Sistem Empat Digit

Gambar 5. Sistem Pengkodean Empat Digit

Sistem ini memiliki mekanisme penghitungan yang sama persis dengan sistem tiga digit,
bedanya hanya terletak pada jumlah digit di depan faktor pengali. Berikut ini contoh pembacaan
nilai resistansi dengan sistem pengkodean empat digit.

Contoh:

1. 1002 === 100 Ω x 102 = 10.000 Ω / 10 KΩ


2. 2700 === 270 Ω x 100 = 270 Ω
3. 1473 === 147 Ω x 103 = 147.000 Ω / 147 KΩ
4. 2204 === 220 Ω x 104 = 2.200.000 Ω / 2.2 MΩ
5. 3201 === 320 Ω x 101 = 3.200 Ω / 3.2 KΩ

Sama halnya dengan sistem pengkodean tiga digit, untuk resistor dengan nilai resistansi kecil
biasanya disisipi huruf “R”. Misalnya sebuah resistor memiliki kode 3R70, berarti resistor tersebut
memiliki nilai resistansi sebesar 3.70 Ω, 0R20 berarti 0.20 Ω, 6R01 berarti 6.01 Ω, dan seterusnya.

1.3 Sistem EIA-96


Sistem pengkodean EIA-96 terdiri dari tiga digit kombinasi huruf dan angka. Dua digit
angka di depan menunjukkan nilai resistansi sedangkan sebuah huruf di belakang menunjukkan
faktor pengali. Pengkodean Jenis ini khusus digunakan untuk menandai resistor dengan nilai
toleransi 1%. Berikut cara membacanya :
Tabel 1 Tabel Nilai Resistansi EIA-96
Kode Nilai Kode Nilai Kode Nilai

01 100Ω 33 215Ω 65 464Ω

02 102Ω 34 221Ω 66 475Ω

03 105Ω 35 226Ω 67 487Ω

04 107Ω 36 232Ω 68 499Ω

05 110Ω 37 237Ω 69 511Ω

06 113Ω 38 243Ω 70 523Ω

07 115Ω 39 249Ω 71 536Ω

08 118Ω 40 255Ω 72 549Ω

09 121Ω 41 261Ω 73 562Ω

10 124Ω 42 267Ω 74 576Ω

11 127Ω 43 274Ω 75 590Ω

12 130Ω 44 280Ω 76 604Ω

13 133Ω 45 287Ω 77 619Ω

14 137Ω 46 294Ω 78 634Ω

15 140Ω 47 301Ω 79 649Ω

16 143Ω 48 309Ω 80 665Ω

17 147Ω 49 316Ω 81 681Ω

18 150Ω 50 324Ω 82 698Ω

19 154Ω 51 332Ω 83 715Ω

20 158Ω 52 340Ω 84 732Ω

21 162Ω 53 348Ω 85 750Ω

22 165Ω 54 357Ω 86 768Ω


Kode Nilai Kode Nilai Kode Nilai

23 169Ω 55 365Ω 87 787Ω

24 174Ω 56 374Ω 88 806Ω

25 178Ω 57 383Ω 89 825Ω

26 182Ω 58 392Ω 90 845Ω

27 187Ω 59 402Ω 91 866Ω

28 191Ω 60 412Ω 92 887Ω

29 196Ω 61 422Ω 93 909Ω

30 200Ω 62 432Ω 94 931Ω

31 205Ω 53 442Ω 95 953Ω

32 210Ω 64 453Ω 96 976Ω

Tabel 2 Tabel Faktor Pengali EIA-96

Kode Faktor Pengali Kode Faktor Pengali

Z 0.001 C 100

Y/R 0.01 D 10.00

X/S 0.1 E 10.000

A 1 F 100.000

B/H 10

Contoh:

1. 09A === 121 Ω x 1 = 121 Ω ± 1%


2. 78C === 634 Ω x 100 = 63.400 Ω / 63.4 KΩ ± 1%
3. 40Y === 255 Ω x 0.01 = 2.55 Ω ± 1%
4. 17A === 147 Ω x 1 = 147 Ω ± 1%
5. 30Z === 200 Ω x 0.001 = 0.2 Ω ± 1%

2. Kapasitor Keramik

Gambar 6. Sistem Pengkodean Empat Digit

Sebagian besar kapasitor keramik SMD yang beredar di pasaran umumnya tidak dilengkapi
kode tercetak untuk menandakan nilai kapasitansinya. Namun terkadang ada beberapa produsen
yang menyertakan kode tersebut pada permukaan atas komponen. Jika Anda menemukan kode
tersebut, berikut cara membacanya.

Tabel 3 Kode Nilai Kapasitansi Kapasitor SMD

Nilai Nilai
Kode Nilai (pF) Kode Kode
(pF) (pF)

A 1.0 M 3.0 Y 8.2

B 1.1 N 3.3 Z 9.1

C 1.2 P 3.6 A 2.5

D 1.3 Q 3.9 B 3.5

E 1.5 R 4.3 D 4.0

F 1.6 S 4.7 E 4.5


Nilai Nilai
Kode Nilai (pF) Kode Kode
(pF) (pF)

G 1.8 T 5.1 F 5.0

H 2.0 U 5.6 M 6.0

J 2.2 V 6.2 N 7.0

K 2.4 W 6.8 T 8.0

L 2.7 X 7.5 Y 9.0

Contoh:

1. E4 === 1.5 pF x 104 = 15.000 pF / 15 nF


2. S2 === 4.7 pF x 102 = 470 pF
3. R5 === 4.3 pF x 105 = 430.000 pF / 430 nF
4. KG3 === 1.8 pF x 103 = 1.800 pF / 1.8 nF (diproduksi oleh pabrik berinisial “K”)
5. AT1 === 5.1 pF x 101 = 51 pF (diproduksi oleh pabrik berinisial “A”)

3. Kapasitor Elektrolit

Gambar 7. Pengkodean Kapasitor Elektrolit

Secara umum nilai kapasitansi dari suatu kapasitor elektrolit dicetak dengan menggunakan
kombinasi satu digit huruf dan tiga digit angka. Berikut cara membaca nilai kapasitansi dari
kapasitor SMD.
Tabel 4 Tabel Kode Tegangan Kapasitor Elektrolit

Kode Tegangan Kode Tegangan

e 2.5 V D 20 V

G 4V E 25 V

J 6.3 V V 35V

A 10 V H 50 V

C 16 V

Contoh:

1. E572 === 57 pF x 102 = 5.700 pF / 5.7 nF @ 25 V


2. C475 === 47 pF x 105 = 4.700.000 pF / 4.7 µF @ 16 V
3. H103 === 10 pF x 103 = 10.000 pF / 10 nF @ 50 V
4. A204 === 20 pF x 104 = 200.000 pF / 200 nF
5. D211 === 21 pF x 101 = 210 pF

4. Induktor
Untuk menandakan nilai induktansi, produsen biasanya mencetak tiga digit kode khusus
pada permukaan atas induktor SMD. Berikut ini cara membaca kode pada induktor SMD.

Gambar 7. Pengkodean Induktor SMD

Contoh:

1. 101 ===10 µH x 101 = 100 µH


2. 465 === 46 µH x 105 = 4.600.000 µH / 4.6 H
3. 273 === 27 µH x 106 = 27.000 µH / 27 mH
4. 3R3 === 3.3 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)
5. 4R7 === 4.7 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)