Vous êtes sur la page 1sur 10

Pengertian Zat Aditif

Pada dasarnya baik masyarakat desa maupun kota, pasti telah menggunakan zat aditif makanan
dalam kehidupannya sehari-hari. Secara ilmiah, zat aditif makanan di definisikan sebagai bahan
yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu.
Disini zat aditif makanan sudah termasuk : pewarna, penyedap, pengawet, pemantap,
antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal.

Istilah zat aditif sendiri mulai familiar di tengah masyarakat Indonesia setelah merebak kasus
penggunaan formalin pada beberapa produk olahan pangan, tahu, ikan dan daging yang terjadi
pada beberapa bulan belakangan. Formalin sendiri digunakan sebagai zat pengawet agar produk
olahan tersebut tidak lekas busuk/terjauh dari mikroorganisme. Penyalahgunaan formalin ini
membuka kacamata masyarakat untuk bersifat proaktif dalam memilah-milah mana zat aditif
yang dapat dikonsumsi dan mana yang berbahaya.

Secara umum, zat aditif makanan dapat dibagi menjadi dua yaitu :

(a) Aditif Sengaja : yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan
tertentu, seperti untuk meningkatkan nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan,
memantapkan bentuk dan rupa, dan lain sebagainya.
(b) Aditif Tidak Sengaja : yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil
sebagai akibat dari proses pengolahan.
B. Jenis-jenis zat aditif
Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam
sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan
bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten,
asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih
pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi
ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-
kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan manusia.

1. Pewarna
a. Pewarna Alami

Gambar 1. jenis pewarna alami


Pewarna alami adalah pewarna yang dapat diperoleh dari alam, misalnya dari tumbuhan dan
hewan. Banyak sekali bahan-bahan di sekitarmu yang dapat dipakai sebagai pewarna alami.
Daun suji dan daun pandan dipakai sebagai pewarna hijau pada makanan. Selain memberi warna
hijau, daun pandan juga memberi aroma harum pada makanan. Kakao sering digunakan untuk
memberikan warna cokelat pada makanan. Pewarna alami mempunyai keunggulan, yaitu
umumnya lebih sehat untuk dikonsumsi daripada pewarna buatan. Namun, pewarna makanan
alami memiliki beberapa kelemahan, yaitu cenderung memberikan rasa dan aroma khas yang
tidak diinginkan, warnanya mudah rusak karena pemanasan, warnanya kurang kuat (pucat), dan
macam warnanya terbatas. Berikut ini tabel contoh pewarna alami :

b. Pewarna Buatan
Saat ini, sebagian besarorang lebih senang menggunakan pewarna buatan untuk membuat aneka
makanan yang berwarna. Bahan pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa keunggulan
dibanding pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam penggunaan, warnanya lebih
kuat, macam warnanya lebih banyak, dan warnanya tidak rusak karena pemanasan. Penggunaan
bahan pewarna buatan untuk makanan harus melalui pengujian yang ketat untuk kesehatan
konsumen. Pewarna yang telah melalui pengujian keamanan dan yang diijinkan
pemakaiannyauntuk makanan dinamakan permitted colouratau certified colour. Penggunaan
pewarna buatan secara aman sudah begitu luas digunakan masyarakat sebagai bahan pewarna
dalam produk makanan. Namun, di masyarakat masih sering ditemukan penggunaan bahan
pewarna buatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Contoh penggunaan pewarna sintetis
yang tidak sesuai peruntukannya adalah penggunaan pewarna tekstil untuk makanan yang dapat
membahayakan kesehatan konsumen. Pewarna tekstil dan pewarna cat tidak boleh digunakan
sebagai pewarna makanan karena pewarna cat dan tekstil biasanya mengandung logam-logam
berat, seperti arsen, timbal, dan raksa yang bersifat racun bagi tubuh konsumennya.

2. Pemanis

Gambar 2. Pemanis pada bahan makanan

Pemanis dipakai untuk menambah rasa manis yang lebih kuat pada bahan makanan. Pemanis
alami yang umum dipakai adalah gula pasir, gula kelapa, gula aren, gula lontar, dan bit. Senyawa
yang membuat rasa manis pada gula tersebut adalah sukrosa. Selain pemanis alami, ada juga
beberapa pemanis buatan yang dapat menjadi alternatif untuk menambah rasa pada makanan.
Pemanis buatan ini antara lain aspartam, sakarin, asesulfam kalium, dan siklamat.Rasa manis
pada makanan dan minuman seperti dapat dibuat dengan menggunakan pemanis alami dan
pemanis buatan. Pemanis alami dan pemanis buatan tidak selalu dapat dibedakan oleh lidah
kamu, terutama oleh orang-orang yang tidak terlalu peka dengan rasa pemanis buatan. Pemanis
buatan merupakan produk pangan yang manis seperti gula pada umumnya, namun rendah kalori.
Pemanis buatan diproduksi untuk dikonsumsi orang yang ingin mengurangi asupan gula tinggi
kalori, namun tetap terasa manis, khususnya bagi penderita kencing manis. Berikut ini, beberapa
contoh pemanis yang masih sering digunakan :
a. Aspartam
Aspartam adalah jenis gula rendah kalori yaitu sekitar 4 kkal (= 4.000 kalori; 17 Joule = 17 kJ)
per gram. Walaupun Aspartam adalah jenis gula rendah kalori, tingkat kemanisannya 160-200
kali dari gula pasir. Keunggulan lain Aspartam antara lain rasa manisnya mirip gula, tanpa rasa
pahit, dan tidak merusak gigi. Penggunaan Aspartam pada makanan atau minuman telah disetujui
oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia (BPOM).

b. Sakarin
Sakarin adalah pemanis buatan yang tidak berkalori. Sakarin dibuat dari garam natrium. Asam
sakarin berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat manis. Sakarin mempunyai
tingkat kemanisan 200-500 kali dari rasa manis sukrosa (gula pasir). Sakarin dan aspartam sering
digunakan di industri minuman kaleng atau kemasan. Keunggulan sakarin, yaitu tidak bereaksi
dengan bahan makanan, sehingga makanan yang ditambah dengan sakarin tidak mengalami
kerusakan dan harganya murah. Kelemahan sakarin adalah mudah rusak bila dipanaskan
sehingga mengurangi tingkat kemanisannya. Selain itu, sakarin kerap kali menimbulkan rasa
pahit. Penggunaan sakarin yang berlebihan dapat membahayakan kesehatan tubuh manusia,
misalnya menimbulkan kanker.

c. Kalium Asesulfam
Kalium Asesulfam memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 kali dari kemanisan gula pasir.
Kelebihan kalium Asesulfam adalah mempunyai sifat stabil pada pemanasan dan tidak
mengandung kalorii.

d. Siklamat
Siklamat merupakan pemanis buatan yang diijinkan untuk digunakan pada produk makanandan
minuman dengan dosis yang telah ditetapkan oleh BPOM. Siklamat merupakan garam natrium
dari asam siklamat. Siklamat memiliki tingkat kemanisan sekitar 30 kali dari rasa manis gula
pasir. Siklamat memberikan rasa manis tanpa menimbulkan rasa pahit, sehingga pemanis ini
banyak dipakai oleh masyarakat. Pemanis ini tidak dimetabolisme oleh tubuh manusia sehingga
siklmat yang ditambahkan pada makanan tidak memberikan suplai energi bagi tubuh manusia.

3. Pengawet
Pengawetan bahan makanan diperlukan untuk menjaga kualitas bahan makanan dalam kurun
waktu tertentu. Tujuan pengawetan makanan adalah untuk mempertahankan kondisi lingkungan
pada bahan makanan, untuk mencegah perkembangan mikroorganisme atau mencegah terjadinya
reaksi kimia tertentu yang tidak diinginkan dalam makanan. Berikut ini beberapa hal yang
menyebabkan kerusakan pada bahan pangan.

 Kerusakan bahan pangan karena pertumbuhan mikroba seperti jamur atau bakteri.
Makanan yang telah terkena mikroba akan menimbulkan bahaya jika dikonsumsi karena
mikroba tersebut ada yang menghasilkan racun. Kerusakan makanan akibat mikroba
disebut kerusakan mikrobiologi.
 Kerusakan bahan pangan yang disebabkan oleh benturan (tertekan dan jatuh). Kerusakan
bahan pangan ini disebut kerusakan mekanis.
 Kerusakan bahan pangan karena proses fisik, antara lain karena penyimpanan dalam
gudang yang lembab, pendinginan, atau pemanasan. Kerusakan bahan pangan ini disebut
kerusakan fisik.
 Kerusakan bahan pangan oleh serangga dan tikus. Kerusakan ini disebut kerusakan
biologis. Kerusakan biologis juga dapat disebabkan pematangan yang dilakukan oleh
enzim yang terdapat pada bahan itu sendiri. Contoh kerusakan biologis adalah kerusakan
(pembusukan) pada buah dan sayur.
 Kerusakan karena reaksi kimia antarsenyawa dalam makanan atau reaksi kimia dengan
lingkungan penyimpanan. Contohnya minyak yang berbau tengik disebut kerusakan
kimiawi.
Daya tahan bahan makanan dapat diperpanjang melalui pengawetan bahan pangan. Pengawetan
bahan makanan dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan biologi. Pengawetan bahan makanan
secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu pemanasan, pendinginan, pembekuan,
pengasapan, pengalengan, pengeringan, dan penyinaran. Pengawetan secara biologis dapat
dilakukan dengan fermentasi atau peragian, dan penambahan enzim, misalnya enzim papain dan
enzim bromelin. Pengawetan secara kimia dapat dilakukan dengan penambahan bahan pengawet
yang diijinkan. Pengawet yang diijinkan oleh Badan POM Indonesia adalah sebagai berikut.

4. Penyedap Makanan
Penyedap makanan adalah bahan tambahan makanan yang tidak menambah nilai gizi. Penyedap
makanan sebagai penguat rasa protein, penurun rasa amis pada ikan, dan penguat aroma buah-
buahan. Berikut diuraikan beberapa contoh penyedap makanan :

a. Penyedap Rasa
Penyedap rasa adalah bahan tambahan makanan yang digunakan untuk meningkatkan cita rasa
makanan. Penyedap rasa ada yang diperoleh dari bahan alami maupun sintetis. Penyedap rasa
alami dapat berupa bawang putih, gula, garam dapur, udang, teri atau ebi, dan kaldu ayam atau
sapi. Penyedap rasa sintetis yang sering digunakan adalah Monosodium glutamat (MSG). MSG
dibuat dari fermentasi tetes tebu oleh bakteri. Bakteri membentuk bahan yang dinamakan asam
glutamat. Asam glutamat ini kemudian akan diolah sehingga menjadi Monosodium
glutamat(MSG) yang sering digunakan untuk penguat rasa protein.
Gambar 3. Pengawet yang digunakan pada
makanan
b. Pemberi Aroma
Pemberi aroma adalah zat yang memberikan aroma tertentu pada makanan. Penambahan zat
pemberi aroma dapat menyebabkan makanan memiliki daya tarik tersendiri untuk dinikmati.

Gambar 4. jenis pemberi aroma pada makanan


Zat pemberi aroma ada yang bersifat alami dan sintesis. Zat pemberi aroma yang berasal dari
bahan segar atau ekstrak dari bahan alami, misalnya dari ekstrak buah strawberry, ekstrak buah
anggur, minyak atsiri atau vanili disebut pemberi aroma alami. Pemberi aroma yang merupakan
senyawa sintetis, misalnya amil kaproat (aroma apel) amil asetat (aroma pisang ambon), etil
butirat (aroma nanas), vanilin (aroma vanili), dan metil antranilat (aroma buah anggur) disebut
pemberi aroma sintetis. Selai merupakan salah satu contoh bahan makanan yang menggunakan
zat pemberi aroma.

C. Fungsi Zat Aditif


Beberapa fungsi dari zat aditif yang ditambahkan pada makanan di antaranya:

 Meningkatkan kandungan gizi pada makanan


 Menjaga kualitas dan tekstur makanan sehingga tetap terlihat segar.
 Menjaga agar makanan dapat tahan lama.
 Memberikan warna pada bahan makanan sehingga terlihat menarik.
 Memberikan rasa sedap pada makanan
 Memberikan aroma yang khas pada makanan.
D. Cara menguji kemanisan secara kuantitatif
Cara menguji kemanisan secara kualitatif dapat dilakukan melalui beberapa cara . berikut
penjelasannya :

1.Uji pemanis Sakarin (Misalnya pada permen karet)


Untuk mengetahui bagaimana kadar sakarin yang terdapat dalam permen karet dapat dilakukan
melalui pemeriksaan kuantitatif dengan titrasi asam basa sebagai berikut :

Na-sakarin terlebih dahulu dilarutkan dengan air kemudian menambahkan HCl. Kemudian
sakarin dapat diekstraksi dengan chloroform dan etanol. Dimana perbandingan chloroform :
etanol adalah ( 9:1 ). Kemudian hasil ekstraksi dititrasi dengan larutan NaOH dimana dengan
penambahan indicator Brom Thymol Blue. Titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya warna
biru yang dihasilkan.
2. Uji pemanis siklamat (Misalnya Pada teh kemasan)
Untuk mengetahui bagaimana kadar siklamat yang terdapat dalam teh kemasan dapat dilakukan
melalui pemeriksaan kuantitatif dengan eksperimen sebagai berikut :

Sampel diambil sebanyak 5 ml kemudian ditambahkan BaCl2 10% sebanyak 2,5 ml, dan
didiamkan selama 30 menit. Kemudian endapan dipisahkan dengan filtratnya dengan cara
disaring menggunakan kertas saring Whatman 40. Lalu ditambahkan 2,5 ml HCl 10% dan
ditambahkan lagi 2,5 ml NaNO2 10% dan dipanaskan di atas pemanas air. Kemudian diamati
hingga terdapat endapan putih yang menunjukkan adanya siklamat. Penentuan kadar siklamat
ditentukan dengan cara menyaring endapan putih dari BaSO4 dengan kertas saring. Lalu
dikeringkan. Kemudian ditimbang massa siklamat pada neraca analitik hingga berat konstan.
E. Cara memilih dan memilah makanan dalam kemasan
Makanan yang baik hendaknya makanan yang baik kandungan ataupun kemasannya dalam
keadaan yang baik pula. Berikut ini cara memilih makanan atau minuman dalam suatu kemasan :

1. Memilih produk minuman yang tidak memiliki banyak gelembung kecil udara di dalam
kemasannya. Karena gelembung udara bisa menjadi indikator bahwa kemasan minuman
tersebut terbuat dari bahan yang murah dan tidak berkualitas baik.
2. Untuk minuman dari kotak karton, seperti susu, teh, atau jus buah, pastikan minuman-
minuman tersebut dibungkus dengan menggunakan kemasan tetrapak. Hal ini
dikarenakan kemasan tetrapak telah mengalami proses pensterilan yang terpisah antara
bahan dan kemasan, sehingga dapat menekan risiko pencemaran oleh zat tertentu. Selain
itu, produk dengan kemasan tentrapak mampu bertahan selama 8-12 bulan setelah tanggal
produksi, meski tanpa disimpan di dalam lemari pendingin sekalipun.
3. Tidak meletakkan minuman kemasan (terutama untuk kemasan dari plastik) di tempat
yang bisa terpapar sinar matahari atau panas dalam waktu yang lama. Hal ini dikarenakan
peningkatan suhu dapat membuat monomer lebih cepat melakukan pencemaran pada
minuman dan mengganggu fungsi estrogen
4. Memastikan bentuk kemasan minuman yang dibeli tidak penyok atau rusak. Sebab
bentuk yang tidak sempurna bisa mengartikan produk tersebut sering terpaparan panas
dalam waktu yang lama.
5. Lebih baik memilih produk dengan kemasan yang terbuat dari botol gelas berkualitas
tinggi.
6. Selalu memperhatikan tanggal kadaluarsa produk terlebih dahulu sebelum membelinya.
F. Dampak Penggunaan zat aditif pada makanan
Zat aditif yang ada pada makanan tidak selalu secara sengaja ditambahkan untuk tujuan tertentu.
Namun, ada juga zat aditif yang diperoleh secara tidak sengaja muncul pada makanan. Zat aditif
tersebut biasanya muncul pada proses pengolahan makanan. Secara keseluruhan, penggunaan zat
– zat aditif untuk campuran makanan dapat berdampak positif dan negatif.
1. Dampak Positif Penggunaan Zat Aditif
Berbagai macam penyakit dapat muncul dari kebiasaan manusia mengkonsumsi makanan yang
kurang memperhatikan keseimbangan gizi. Misalnya, penyakit gondok yang berupa
pembengkakan kelenjar pada leher. Penyakit gondok disebabkan karena tubuh kurang
mendapatkan zat iodin. Penyakit gondok dapat dicegah dengan mengkonsumsi bahan makanan
yang mengandung zat iodin. Zat iodin dapat kita peroleh dari garam dapur yang biasa digunakan
untukmemberikan rasa asin pada makanan. Selain penyakit gondok,kekurangan iodin dapat pula
menyebabkan penyakit kretinisme (kekerdilan). Orang yang memiliki penyakit diabetes mellitus
(kencing manis) perlu menjaga kestabilan kadar gula dalam darahnya. Penyakit ini dapat
disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat. Untuk menjaga kestabilan kadar gula dalam
darah, bagi penderita diabetes melitus disarankan untuk mengkonsumsi sakarin ( pemanis buatan
) sebagai pengganti gula. Kekurangan konsumsi makanan yang mengandung vitamin dapat
menimbulkan berbagai penyakit pada manusia, misalnya penyakit Xerophtalmia. Penyakit
Xerophtalmia merupakan penyakit yang menyerang mata, yaitu terjadinyakerusakan pada kornea
mata. Penyakit ini jika tidak diatasi,maka dapat menimbulkan kebutaan. Untuk
menghindaripenyakit Xerophtalmia, perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung
vitamin A.
2. Dampak Negatif Penggunaan Zat Aditif
Kemajuan teknologi di bidang pangan dapat memacu manusia untuk menciptakan bahan
makanan dengan kualitas yang makin baik. Kualitas makanan yang baik tidak dapat dilihat dari
bentuk tampilan luarnya saja, akan tetapi yang paling penting adalah kandungan gizi dalam
makanan tersebut. Saat ini telah banyak ditemukan makanan yang unggul karena telah melalui
berbagai proses produksi sehingga memiliki ketahanan yang lebih lama jika dibandingkan
dengan kondisi normalnya. Misalnya, ikan sarden dalamkemasan kaleng dapat bertahan berbulan
– bulan, bahkan hingga satu tahun lamanya tanpa mengalami pembusukan. Ikan sarden tersebut
dapat bertahan lama setelah ditambahkan zat pengawet pada proses produksi makanan tersebut.
Namun, bahan makanan yang menggunakan zat pengawet tidak dapat dikonsumsi setelah
melewati masa kadaluarsa. Beberapa bahan makanan yang berdampak negatif terhadap orang
yang mengkonsumsinya adalah sebagai berikut.
• Formalin yang digunakan sebagai pengawet makanan jika dikonsumsi secara terus-menerus
dapat mengganggu fungsi organ pencernaan, kanker paru – paru, penyakit jantung dan merusak
sistem saraf.
• Boraks yang digunakan juga sebagai pengawet makanan bila dikonsumsi secara teur – menerus
dapat mengakibatkan mual, muntah, diare, penyakit kulit, kerusakan ginjal,serta gangguan pada
otak dan hati.
• Natamysin yang digunakan sebagai zat pengawet mengakibatkan mual, muntah, tidak nafsu
makan, diare dan perlukaan kulit.
• Kalium Asetat yang digunakan sebagai zat pengawet dapat menyebabkan kerusakan fungsi
ginjal.
• Kalsium Benzoate yang digunakan sebagai zat pengawet dapat memicu terjadinya serangan
asma.
• Sulfur Dioksida yang digunakan sebagai zat pengawet dapat mengakibatkan perlukaan
lambung, mempercepat serangan asma, mutasi genetik, kanker dan alergi.
• Rhodamin B adalah zat pewarna tekstil yang apabila digunakan sebagai pewarna makanan
dapat menyebabkan kanker dan menimbulkan keracunan pada paru-paru, tenggorokan, hidung,
dan usus.
• sunset Yellow yang dipergunakan sebagai zat pewarna dapat menyebabkan kerusakan
kromosom.
• Siklamat yang digunakan sebagai zat pemanis dapat menyebabkan penyakit kanker (
karsinogenik ).
• Sakarin yang juga digunakan sebagai zat pemanis dapat menyebabkan infeksi dan kanker
kandung kemih.
• Aspartan yang juga digunakan sebagai pemanis buatan dapat menyebabkan gangguan saraf dan
tumor otak.
• Penggunaan Monosodium Glutamat ( MSG ) sebagai bahan penyedap dapat menimbulkan
kerusakan pada jaringan saraf, kelainan hati, trauma, hipertensi, stress, demam tinggi,
mempercepat proses penuaan, alergi kulit, mual, muntah, migren, asma, ketidak mampuan
belajar, dan depresi.
Zat Adiktif

Zat adiktif adalah zat-zat yang pemakaiannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik yang kuat
dan psikologis yang panjang (drug dependence). Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau
obat yang brasal dari tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi dan menghilangkan rasa sakit
dan menimbulkan ketergantungan. Narkotika menurut tujuan penggunaan terbagi menjadi 3
yaitu :

Golongan I, narkotika hanya digunakan untuk ilmu pengetahuan dan tidak untuk terapi serta
memiliki potensi sangat tinggi untuk megakibatkan sindrom ketergantungan.

Golongan II, narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi atau tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk
mengakibatkan sindrom ketergantungan.

Golongan III, narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu
pengetahuan serta berpotensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan

a) Ganja

Ganja atau mariyuana merupakan zat adiktif narkoba dari golongan kanabinoid. Terbuat dari
daun, bunga, biji dan ranting muda tanaman mariyuana (Cannabis sativa) yang sudah kering.
Ganja dipakai dalam bentuk rokok lintingan, campuran tembakau dan damar ganja.

Akibat penyalahgunaan ganja yaitu, gembira dan tertawa tanpa sebab, santai dan lemah,
berbicara sendiri, pengendalian diri menurun, menguap atau mengantuk tapi susah tidur, mata
merah dan tak tahan terhadap cahaya. Tanda-tanda gejala overdosis yaitu, ketakutan, daya pikir
menurun, denyut nadi tak teratur, napas tak teratur/tertekan dan gangguan jiwa. Tanda-tanda
putus obat yaitu, sukar tidur, hiperaktif dan hilangnya nafsu makan.

b) Opium

Opium merupakan narkotika golongan opoioida dan dikenal dengan sebutan candu, morfin,
heroin dan putau. Berasal dari buah Pavaper Sommiverum dan mengandung lebih dari 20
senyawa.

Morfin, sebenarnya digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri penderita kanker. Pemakaian
dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kematian.

Heroin, merupakan senyawa turunan (sintesis) dari morfin yang dikenal dengan nama putau.
Kodein, merupakan senyawa turunan dari morfin namun kemampuan menghilangkan rasa
nyerinya lebih kecil dan efek ketergantungannya juga kecil. Kodein biasanya dipakai dalam obat
batuk dan penghilang rasa nyeri. Akibat penyalahgunaannya yaitu, rasa sering mengantuk,
perasaan gembira berlebihan, berbicara sendiri, cenderung melakukan kerusuhan, merasakan
nafas berat dan lemah, pupil mata mengecil, mual, susah buang air besar dan sulit berfikir. Jika
overdosis, akan menyebabkan : tertawa tidak wajar, kulit lembab, nafas tersenggal-senggal dan
menyebabkan kematian. Tanda-tanda putus obat yaitu, sering menguap, kepala terasa berat, mata
besah, hidung berair, nafsu makan hilang, cepat lelah, badan menggigil dan kejang-kejang.

c) Kokain

Kokain berasal dari ekstraksi daun Erythroxylum coca. Zat ini dipakai sebagai anataestik
(pembius) dan efek rangsangan jaringan otak bagian sentral. Akibat pemakaian kokain yaitu,
suka bicara, gaduh, gelisah, detak jantung bertambah, demam nyeri perut, mual, muntah bahkan
kematian.

d) Sedativa dan Hipnotika (penenang)

Beberapa contoh narkotika jenis ini adalah pil KB dan Magadon. Akibat pemakaiannya yaitu,
gelisah, mengamuk, mengantuk, malas, daya fikir menurun, bicara dan tindakan lamban. Jika
overdosis, akibatnya yaitu, gelisah, kendali diri turun,,berbicara yang tidak jelas, sempoyongan,
suka bertengkar, nafas lambat, kesadaran turun, pingsan bahkan kematian. Tanda-tanda putus
obat yaitu, gelisah, sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah
naik dan kejang-kejang.

e) Nikotin

Nikotin yang diisap pada rokok tidak semuanya murni, hal ini dapat menyebabkan meningkatnya
denyut jantung dan tekanan darah, beresiko terkena kanker paru-paru, kaki rapuh, katarak,
gelembung paru-paru melebar (emphysema), jantung koroner, kemandulan dan gangguan
kehamilan.

f) Alkohol

Alkohol diperoleh melalui proses fermentasi sejumlah bahan seperti beras ketan, singkong dan
anggur. Minuman yang mengandung alkohol biasanya berasal dari fermentasi perasan anggur
dan disebut minuma keras, dikelompokkan menjadi golongan :

Berkadar alkohol 1-5% (bir)

Akibat pemakaiannya yaitu, gembira pengendalian diri turun dan muka kemerahan. Jika
overdosis akibatnya yaitu, gelisah, berfikir kacau, kendali turun dan berbicara sendiri. Tanda-
tanda putus minum yaitu, gemetar, muntah, sukar tidur, kejang-kejang dan gangguan jiwa.