Vous êtes sur la page 1sur 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha peternakan di provinsi Bali berkembang begitu pesat. Terutama peternakan ayam
broiler yang diaggap cepat untuk menghasilkan daging kurang lebih 1 bulan peternak bisa untuk
memanennya. Selain itu di bali juga merupakan tempat pariwisata sehingga banyak restoran dan
rumah usaha yang memerlukan suplai akan daging ayam broiler. Peternakan adalah kegiatan
memelihara ternak untuk dibudidayakan dan mendapatkan keuntungan dari kegiatan tersebut.
Sub sektor peternakan terbagi menjadi ternak besar, yaitu sapi, kerbau, dan kuda, dan ternak
kecil terdiri dari kambing, domba dan babi serta ternak unggas (ayam, itik, dan burung puyuh).

Salah satu komoditi perunggasan yang memiliki prospek yang sangat baik untuk
dikembangkan adalah ayam ras pedaging karena didukung oleh karakteristik produknya yang
dapat diterima oleh semua masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Kabupaten
Tabanan pada khususnya.

Pelaksanaan usaha peternakan ayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan hampir


seluruhnya dilakukan dengan pola mandiri dimana mereka para peternaka menggunakan modal
sendiri tanpa bantuan dari pemerintah dengan jumlah populasi ayam ras pedaging yang cukup
besar.

Pemeliharaan ayam ras pedaging membutuhkan faktor-faktor produksi. Faktor-faktor


produksi tersebut adalah tanah, tenaga kerja, modal untuk pengadaan DOC, pakan, obat-obatan
serta biaya operasional lainnya. Umumnya faktor-faktor produksi tersebut cukup tersedia di
Kabupaten Tabanan sehingga memudahkan para wirausaha untuk menjalankan usaha berternak
ayam broiler.

1.2 Profil Usaha


Peternak ayam ras pedaging terletak di Desa Subamia Kecamatan Tabanan Kabupaten
Tabanan Bali dan peternakan tersebut dikelola oleh Bapak I Ketut Sukarana dan telah berjalan
selama 6 tahun. Ternak tersebut dikelola olehnya menggunakan modal mandiri dan lahan yang
digunakan juga milik sendiri. Sehingga, peternakan tersebut tidak dikenai bunga. Ayam yang
dimiliki oleh peternak tersebut sebanyak 800 ekor dan mortalitas per periodenya sebanyak 300
1
ekor. Adapun bibit dan jenis ransum yang digunakan pada ternak ialah Wono Koyo dan BR 1
Super. Sehingga, pada saat panen didapat berat rata-rata 1,7-1,8 Kg. Ayam ini dapat dipanen dari
peternak ini setelah berumur 30 hari.
1.3 Rumusan Masalah
 Berapa biaya pengeluaran yang dibutuhkan oleh Pak Sukarana dalam satu periode?
 Bagaimana cara menghitung Total Penerimaan dari usaha Pak Sukarana selama satu
periode?
 Berapa Break Even Point dari usaha Pak Sukarana?
 Berapa R/C Ratio yang didapat oleh Pak Sukarana?
1.4 Tujuan Analisis
 Untuk mengetahui biaya produksi yang dikeluarkan oleh Pak Sukarana selama satu
periode?
 Untuk mengetahui cara menghitung Total Penerimaan dari usaha pak Sukarana selama
satu periode?
 Untuk mengetahui Break Even Point yang harus dicapai oleh Pak Sukarana?
 Untuk mengetahui jumlah R/C Ratio dari usaha Pak Sukarana?
1.5 Manfaat Analisis
 Peternak
 Sebagai sumber informasi keuntungan dan kelayakan dalam usaha ayam ras
pedaging.
 Penulis
 Sebagai bukti tugas mata kuliah Ilmu Ekonomi Peternakan Universitas Udayana.
 Pembaca
 Sebagai sumber informasi dalam usaha pengelolaan dibidang peternakan khususnya
ayam ras pedaging.

BAB II
MATERI DAN METODE
2.1 Total Biaya Produksi
Total Biaya Produksi ini didapat dari hasil penjumlahan Total Biaya Tetap (Total Fixed
Cost) dan Total Biaya Variabel (Total Variable Cost). Dimana Total Biaya Produksi, merupakan
suatu pengorbanan sumber-sumber ekonomi dalam proses produksi yang diukur dalam satuan
uang.
a. Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost)
2
Biaya tetap merupakan jenis biaya yang bersifat statis (tidak berubah) dalam ukuran
tertentu. Biaya ini akan tetap kita keluarkan meskipun kita tidak melakukan aktivitas apapun atau
bahkan ketika kita melakukan aktivitas yang sangat banyak sekalipun.
Biaya tetap atau biaya tidak langsung (Fixed cost) adalah biaya yang tidak mengalami
penambahan dalam jumlah totalnya walaupun volume penjualan atau kuantitas produksi
berubah. Biaya tetap tidak tergantung terhadap banyaknya produk yang dihasilkan
maupun jumlah penjualan.
Contohnya adalah pajak. Dimana pembayaran pajak selalu di keluarkan secara rutin setiap
tahunnya dalam jumlah yang sama. Kemudian bila dikaitkan dalam dunia peternakan, biaya tetap
yang dikeluarkan adalah biaya penyusutan kandang.
b. Total Biaya Variabel (Total Variable Cost)
Biaya variabel adalah jenis biaya yang difungsikan untuk melengkapi biaya tetap dan
bersifat dinamis. Ia mengikuti banyaknya jumlah unit yang diproduksi ataupun banyaknya
aktivitas yang dilakukan. Pada biaya ini, jumlah yang akan kita keluarkan per unit atau per
aktivitas justru berjumlah tetap sedangkan untuk biaya secara total jumlahnya akan
menyesuaikan dengan banyaknya jumlah unit yang diproduksi ataupun jumlah aktivitas yang
dilakukan.
Biaya variabel atau biaya langsung (Variable cost) adalah biaya tetap untuk per unit
produk, dan akan berubah bila mengalami perubahan dalam jumlah unit produksi maupun
penjualan.
Contohnya seperti buruh langsung, bahan baku, biaya bahan bakar, biaya sks merupakan
biaya variabel, yang besar jumlahnya tergantung pada jumlah sks yang kita ambil x biaya per sks
yang telah ditetapkan. Kemudian bila dikaitkan juga ke dalam dunia peternakan, biaya variable
ini contohnya pakan ternak, bibit ternak, dan lain sebagainya.
2.2 Total Penerimaan
Total Penerimaan adalah jumlah seluruh penerimaan perusahaan dari hasil penjualan sejumlah
produk (barang yang dihasilkan). Penerimaan atau Revenue adalah semua penerimaan produsen
dari hasil penjualan barang atau outputnya. Total Revenue (TR) adalah penerimaan total dari
hasil penjualan output. Cara untuk menghitung penerimaan total dapat dilakukan dengan
mengalikan jumlah produk dengan harga jual produk per unit.
2.3 Analisis Data
Dalam kaitan dengan pembahasan analisis kelayakan usaha ini difokuskan pada beberapa
indikator yaitu: Ratio Cost Ratio (R/C) dan Break Even Point (BEP).
 Ratio Cost Ratio
3
Ratio Cost Ratio adalah nisbah antara penerimaan dengan biaya. Secara matematik hal ini
dituliskan:

Kriteria uji : Jika R/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan.

Jika R/C = 1, maka usaha tersebut berada dalam keadaan Break Even Point.

Jika R/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan.

 Break Even Point (BEP)


Break Event Point (BEP) adalah titik pulang pokok di mana total revenue sama
dengan total cost. Dilihat dari jangka waktu pelaksanaan sebuah proyek/usaha, terjadinya titik
pulang pokok tergantung pada besaran penerimaan sebuah proyek/usaha untuk dapat menutupi
segala biaya operasi, dan biaya-biaya lainnya, termasuk pemeliharaan dan biaya modal lainnya.
Analisis Break Even Point (BEP) dipergunakan untuk melihat batas nilai atau volume
produksi dari suatu usaha. BEP bisa dihitung berdasarkan harga ayam (BEP harga ayam) atau
berdasarkan berat hidup ayam (BEP berat hidup ayam).

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pembahasan Masalah


Setelah kami melakukan analisis di peternakan ayam ras pedaging yang bertempat di
Tabanan Bali, kami mendapatkan hasil sebagai berikut :

Sewa lahan Milik sendiri


Kandang (8000 ekor) Rp. 500,000,000 (Masa pakai 20 tahun)
Pelaratan Kandang Rp. 15,000,000 (Masa pakai 5 tahun)
Pam Rp. 400,000/periode
Listrik Rp. 3.500,000/periode
Vitamin Rp. 20,000/botol

4
Vaksin Rp. 50.000/botol
Pakan Ternak Rp. 370.000.000/sak
Tenaga Kerja Rp.2.000.000/periode

PBB Rp. 200.000/tahun

Pemeliharaan sampai siap panen dilakukan selama 30 hari (1 bulan) tanpa istirahat
kandang. Dengan periode produksi 12 kali pertahun. Moralitas 300 ekor. Berat ayam
diasumsikan homogen 1,75 kg.

Analisis kelayakan usaha peternakan ayam ras pedaging di Kabupaten Tabanan selama 1
periode terakhir adalah sebagai berikut :

 Biaya Tetap (FC/Fixed Cost)


Biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh perubahan aktivitas perusahan. Biaya
tetap mesti dikeluarkan walaupun perusahan tidak melakukan aktifitas dan biaya ini akan tetap
dalam batas tertentu walaupun perusahan mengurangi atau menambah produksi.

Biaya Tetap (FC)


Biaya Penyusutan
Kandang : Rp. 500.000.000/20/12 = Rp. 2.083.333
Peralatan : Rp. 15.000.000/5/12
 Biaya Variabel (VC/Variabel Cost) = Rp. 250.000
Biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh perubahan aktivitas perusahan. Jika
PBB : Rp. 200.000/12 Biaya Variabel = Rp. (VC)
16.666
perusahan tidak melakukan aktivitas maka biaya ini tidak ada dan biaya ini akan berubah seiring
Biayabiaya
Total Produksi
penyusutan (TFC) = 2.349.999
dengan aktivitas produksi perusahan.
Bibit : Rp. 6.000/ekor x 8.000 ekor = Rp. 48.000.000
Ransum : Rp. 370.000/sak x 450 sak = Rp. 166,500.000
Vaksin : Rp. 20.000/botol x 18 botol = Rp. 360.000
Vitamin : Rp. 50.000/botol x 24 kali = Rp. 1.200.000
TK : Rp. 2.000.000 = Rp. 2.000.000
PAM : Rp. 400.000 = Rp. 400.000 5

Listrik : Rp. 3.500.000 = Rp. 3.500.000


Total biaya produksi (TVC) = Rp. 221.960.000
 Total Biaya (TC/ Total Cost)

Biaya produksi adalah sejumlah nilai yang dikeluarkan untuk sejumlah faktor - faktor
produksi yang diperlukan dalam kegiatan proses produksi. Seluruh nilai faktor - faktor produksi
yang diperlukan dalam proses produksi disebut biaya total. Biaya yang diperlukan berkaitan
dengan waktu yang diperlukan dalam penyediaan faktor - faktor produksi yang akan digunakan
dalam proses produksi yaitu jangka pendek dan jangka panjang.

Total Biaya (TC)

Total Biaya (TC) = Biaya Variabel (TVC) + Biaya Tetap (TFC)

= Rp. 221.960.000 + Rp. 2.349.999

= Rp. 224.309.999

 Penerimaan (TR/ Total Revenue)

Penerimaan adalah sejumlah uang atau barang yang diterima seseorang atau rumah
tangga dalam suatu periode tertentu. Selanjutnya, penerimaan adalah nilai produk yang
dihasilkan. Penerimaan tersebut dinamakan penerimaan total.

Total Penerimaan (TR)

Mortalitas : 300 ekor

Ayam siap panen : 8000 – 300 = 7.700 ekor, berat 1,8 kg

Berat ayam siap panen : 7.700 x 1.8 = 13.860

Harga jual per kg berat hidup : Rp. 19.000 = Rp. 19.000 6


Total Penerimaan (TR) = 13.860 x Rp. 19.000

= Rp. 263.340.000
 Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah total uang yang diperoleh atau diterima dikurangi dengan
sejumlah biaya. Dalam melakukan suatu usaha seorang pengusaha akan berpikir bagaimana ia
mengalokasikan input seefisien mungkin atau dapat memperoleh hasil yang maksimal (Moehar,
2002). Untuk mengetahui berapa besar pendapatan dari usaha peternakan ayam ras pedaging,
maka dapat dihitung dengan rumus menurut Soekartawi (2003) sebagai berikut:

Keuntungan

Keuntungan = Total Penerimaan (TR) – Total Biaya (TC)

= Rp.263.340.000 – Rp. 224.309.999

= Rp. 39.030.001

 Break Even Point (BEP)

BEP Unit

VC = TVC/Q

= Rp. 221.960.000/8.000

= Rp. 27.745
BEP Unit = TFC / (P - VC)

= Rp. 2.349.999/ (RP. 33.250 - RP. 27.745)

= 426,9

7
Artinya, peternak akan mencapai titik balik modal dan tidak mengalami kerugian jika
ayam yang dipelihara sebanyak 426,9. Pada periode ini ayam yang dipelihara sebanyak 8.000
ekor, jadi peternak mencapai titik balik modal dan tidak mengalami kerugian.

BEP Rupiah

BEP Rupiah = BEP Unit x P

= 426,9 x Rp. 33.250

= Rp. 14.194.425

Artinya, peternak akan mencapai titik balik modal dan tidak mengalami kerugian jika
total ayam yang dijual mencapai Rp. 14.194.425 per unit. Pada periode ini total penerimaan (TR)
mencapai Rp. 263.340.000 jadi peternak mencapai titik balik modal dan tidak mengalami
kerugian.

 Ratio Cost Ratio (R/C Ratio)

Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)

B/C Ratio = Total Penerimaan (TR)/Total Biaya (TC)

= Rp.pengeluaran
Artinya, setiap 263.340.000/Rp.
biaya 224.309.999
sebesar Rp 1,- akan diperoleh penerimaan sebesar Rp
1,17 sehingga usaha
= ini
Rp.secara
1.17 ekonomis layak untuk dikembangkan.

BAB IV

8
PENUTUPAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil penghitungan, kami mendapatkan bahwa, usaha Pak Sukarana ini memiliki
kapasitas kandang 8.000 ekor ayam broiler, dimana jumlah mortalitasnya sebanyak 300 ekor,
dan berat rata-rata seberat 1,75. Usaha ini mengeluarkan biaya produksi (total cost) sebesar Rp.
224.309.999 dan total penerimaan (total revenue) yang didapat sebesar Rp. 263.340.000, jadi
dalam satu periode usaha Pak Sukarana mendapat keuntungan sebesar Rp. 39.030.001.
Dalam usaha ini Pak Sukarana akan mencapai titik BEP (Unit) jika ternak yang dipelihara
sebanyak 362 ekor dan BEP (Rp) sebesar Rp. 12.041.978,98. Setelah dihitung R/C rationya
diperoleh hasil 1.17. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan ternak milik Pak Sukarana layak
untuk diusahakan karena, setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1,- akan diperoleh penerimaan
sebesar Rp 1,17 (R/C ratio > 1).
4.2 Saran

Adapun saran-saran yang penulis dapat sampaikan untuk meningkatkan usaha peternakan
ayam ras pedaging adalah sebagai berikut:

Peternak harus menyediakan sebuah kandang yang khusus bagi ternak yang sedang
terjangkit penyakit agar penyakit tersebut tidak menular kepada ternak yang sehat sehingga
peternak mampu mengisolasi dan merawat ternak mereka dengan baik dan mampu untuk
mengurangi jumlah mortalitas yang ada dalam usaha ternak mereka. Sehingga, jumlah
keuntungan yang diperoleh akan lebih banyak dan para pelanggan merasa puas akan hasil usaha
mereka karena ayam yang dihasilkan merupakan ayam yang sehat sehingga, meningkatkan
jumlah permintaannya dalam dunia pasar.

DAFTAR PUSTAKA

9
Amareko, S. L. 2002. Pengantar Ilmu Ekonomi. Buku Ajar Fakultas Peternakan. Undana.
Kupang.
Arifien, M. 2002. Rahasia Sukses Memelihara Ayam Broiler di Daerah Tropis. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Deno Ratu, M. R, dkk. 2010. Kewirausahaan Peternakan. Undana Press. Kupang.
Jakfar dan Kasmir. 2007. Studi Kelayakan Bisnis.Edisi ke-2. Kencana, Jakarta.
Moehar, M. S. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. PT Bumi Aksara.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Rasyaf, M. 1996. Memasarkan Hasil Peternakan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sutawi. 1999. Kemitraan Sebagai Strategi Manajemen Risiko.
http://infobaa.umm.ac.id/files/file/Artikel_Koran/kemitraan_sebagai manajemen_resiko.pdf.

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ayambroiler.

10