Vous êtes sur la page 1sur 13

Peningkatan angka usia harapan hidup merupakan salah satu indikator

keberhasilan perbaikan kualitas kesehatan dan kondisi sosial masyarakat Indonesia


(Komnas Lansia, 2010). Hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS pada tahun
2010 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia memiliki angka harapan hidup hingga
70,1 tahun. Angka ini jauh lebih baik dari angka harapan hidup masyarakat Indonesia
tiga dekade sebelumnya, yaitu di bawah 60 tahun (BPS, 2015). Semakin maju suatu
negara, semakin banyak penduduknya yang mencapai lanjut usia. Kemajuan di
berbagai bidang kehidupan termasuk bidang kesehatan dan ekonomi dipercaya
merupakan salah satu penyebab meningkatnya usia harapan hidup pada lansia
(Komnas Lansia, 2010).
Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan bahwa angka harapan
hidup di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai tahun 2015, dari
60,1 menjadi 70.1. Jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 20,24 juta
jiwa yang setara dengan 8,03% dari seluruh penduduk. Jumlah individu lansia di
Indonesia saat ini menduduki peringkat tiga terbanyak di dunia. Bahkan diprediksi
seiring dengan peningkatan tingkat kesejahteraan dan angka harapan hidup,
Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah lansia paling banyak di dunia pada
tahun 2025 mendatang, yakni berjumlah 36 juta jiwa. Jika dilihat menurut provinsi, tiga
besar provinsi yang memilki persentase lansia di atas 7% adalah Daerah Istimewa
Yogyakarta (13,05%), Jawa Tengah (11,11%), dan Jawa Timur (10, 96%). Jumlah
penduduk lansia tertinggi di Indonesia berada di provinsi Yogyakarta, dengan rata-
rata angka harapan hidup penduduk di Yogyakarta mencapai 73,22 tahun (BPS,
2015).
Menurut UU no 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, lansia adalah
seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas (BPKP, 1998). Organisasi Kesehatan
Dunia atau World Health Organization (WHO) sendiri memilki batasan yang lebih luas
mengenai yang disebut sebagai lansia yaitu, lanjut usia pertengahan (middle age)
pada kelompok umur 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) antara 60-74 tahun, lanjut usia
tua (old) yaitu antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun.
Stanley & Beare (2007) memberikan batasan bahwa usia kronologis yang spesifik
pada saat seseorang dikatakan masuk kategori lansia sangat bervariasi karena
budaya yang berbeda, yaitu berkisar antara usia 45 sampai 75 tahun. Melihat kondisi
lansia di Indonesia, maka partisipan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
lansia yang berusia 55 tahun – 70 tahun, karena diperkirakan usia tersebut masih
dapat melakukan mobilitas dengan baik untuk mengikuti penelitian.
Kenaikan angka harapan hidup dan jumlah lansia yang semakin banyak ini,
tentu harus diimbangi dengan kesejahteraan bagi lansia itu sendiri. Kesejahteraan
pada lansia dapat tercapai apabila lansia dapat menjalankan tugas-tugas
perkembangan sesuai dengan tahapannya. Sepanjang rentang kehidupannya,
individu akan mengalami perkembangan yang harus dijalani dengan melakukan
tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahapannya (Monks, Knoers, & Harditono
2002). Tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada masa lansia sendiri adalah
menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik maupun kesehatan,
menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga,
menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup, membentuk hubungan sosial
dengan orang-orang seusianya, membentuk pengaturan kehidupan fisik yang
memuaskan dan menyesuaikan diri dengan peran sosialnya yang baru (Hurlock,
2004).
Keberhasilan lansia dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan ini
mengarahkan lansia pada tercapainya successful aging. Successful aging merupakan
suatu kondisi puncak di mana seorang lansia tidak hanya berumur panjang tetapi juga
dalam kondisi yang sehat, sehingga memungkinkannya untuk melakukan kegiatan
secara mandiri, tetap berguna dan memberikan manfaat bagi keluarga dan kehidupan
sosial. Kondisi demikan sering disebut sebagai harapan hidup untuk tetap aktif
(Suadirman, 2011). Kriteria utama dari lansia yang mencapai successful aging
menurut Havighurst adalah adanya kepuasan hidup yang dirasakan oleh lansia
(dalam Schroots, 1996). Menurut Diener (2009), life satisfaction atau kepuasan hidup
menjelaskan bagaimana seseorang mengevaluasi atau menilai hidupnya secara
keseluruhan, yang merupakan penilaian subjektif seseorang terhadap hidupnya.
Kepuasan hidup adalah keadaan sejahtera dan adanya kepuasan hati yang
merupakan kondisi menyenangkan dan muncul apabila kebutuhan dan harapan
tertentu dari individu dapat tercapai (Hurlock, 2004). Kepuasan hidup merupakan
salah satu konsep yang dianggap mencerminkan sebuah kondisi kehidupan yang
baik. Terdapat dua konsep terkait dengan kepuasan hidup yaitu kualitas hidup dan
kesejahteraan subjektif (Berg, 2008).
Untuk mencapai kepuasan hidup, salah satu tugas perkembangan yang harus
dilakukan lansia adalah menyesuaikan diri dengan perubahan dalam hal kesehatan
fisik. Penyesuaian ini tidaklah mudah dikarenakan masa lansia cenderung ditandai
dengan munculnya penyakit degeneratif atau pun penyakit kronis. Papalia, Old, &
Feldman (2008) menyebutkan bahwa ketika individu menjadi semakin tua, ia
cenderung mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan adanya penurunan
fungsi organ, adanya kondisi penyakit kronis, dan kehilangan kemampuan untuk
menyembuhkan diri. Depkes RI (2015) juga menyebutkan bahwa di Indonesia kurang
lebih sekitar 70% lanjut usia menderita penyakit kronis. Di Indonesia, dari hasil studi
tentang kesehatan lanjut usia, di ketahui bahwa penyakit kronis terbanyak yang
diderita lansia adalah penyakit sendi (52,3%), hipertensi (38,8%), dan katarak (23%)
(Komnas Lansia, 2010). Dari data tersebut diketahui bahwa penyakit kronis
merupakan jenis penyakit yang banyak diderita oleh lansia.
Salah satu penyakit kronis yang paling banyak diderita para lanjut usia adalah
hipertensi. Sebanyak 1 milyar lanjut usia di dunia atau 1 dari 4 lanjut usia menderita
hipertensi. Bahkan, diperkirakan jumlah lanjut usia yang menderita hipertensi akan
meningkat menjadi 1,6 milyar menjelang tahun 2025 (Wahdah, 2011). Hipertensi
merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni
mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hipertensi
merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan
darah di atas normal, yaitu 140/90 mmHg. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai
31,7% (Depkes, 2010).
Hipertensi pada umumnya tidak memberi gejala apapun, atau gejala yang
timbul samar-samar dan tersembunyi. Seringkali yang terlihat adalah gejala akibat
penyakit, komplikasi atau penyakit yang menyertai (Darmojo, 2011). Gejala yang
ditimbulkan hipertensi ini antara lain pusing, sakit kepala, epistaksis, tengkuk terasa
pegal, mudah lelah, penglihatan kabur, wajah memerah, sulit bernapas setelah
melakukan aktivitas yang berat, nokturia, telinga berdengung, vertigo, kadang pada
kondisi yang lebih parah dijumpai mual muntah dan lain-lain (Azizah, 2011). Tidak
banyak tanda atau gejala yang menyertai hipertensi sehingga lansia terkadang tidak
sadar bahwa dirinya mengidap hipertensi dan baru berobat ketika terjadi kelainan
fungsi organ sebagai akibat dari hipertensi. Oleh sebab itulah penyakit ini disebut
silent killer (WHO, 2013).
Hasil wawancara di lapangan pada saat penulis menjalani Praktek Kerja
Profesi Bidang Klinis di Puskesmas Danurejan I yang berlangsung dari tanggal 1 Juli
– 4 September 2015, terhadap 7 orang lansia yang mengalami hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas Danurejan I menemukan bahwa lansia menyadari banyak
perubahan yang terjadi pada dirinya setelah mereka divonis menderita hipertensi.
Mereka menjadi cenderung lebih sensitif, mudah marah dan mudah tersinggung
dengan ucapan orang lain. Lansia mengaku cemas dengan penyakit hipertensi yang
dialaminya dan selalu memikirkannya. Sebagian dari lansia mengatakan jika mereka
sudah ketergantungan pada obat dan mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
seperti masa muda karena penyakit hipertensi yang dideritanya.
Selain itu studi awal yang dilakukan peneliti kepada beberapa orang lansia
yang mengalami penyakit kronis di sebuah komunitas paguyuban perkumpulan
pensiunan dosen tanggal 17 April 2016 juga menemukan bahwa mereka merasa
khawatir terhadap penyakit yang sedang diderita sehingga menyebabkan mereka
kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari secara optimal. Hal ini dikarenakan adanya
larangan-larangan dan keharusan yang dijalankan lansia seperti misalnya diet
makanan, olahraga yang teratur dan juga rutin minum obat. Sebagian besar dari
mereka mengalami penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, jantung, dan juga
katarak yang menyebabkan mereka harus menjalani proses pengobatan yang rutin
sehingga mereka merasa menjadi lansia yang tidak berguna, dikarenakan harus
bergantung kepada keluarganya dalam hal melakukan aktivitasnya. Peneliti juga
menyebarkan skala kepuasan hidup singkat yang berisikan 5 pernyataan tentang
kepuasan hidup dari Diener (2011) kepada 5 orang lansia di Panti Wredha Budhi
Darma pada tanggal 20 April 2016, dan kepada 9 orang lansia di Persatuan
Wredhatama Rakyat Indonesia pada tanggal 18 Agustus 2016. Berdasarkan hasilnya
diketahui bahwa 8 orang lansia memiliki kepuasan hidup yang rendah, dan sisanya 4
orang memiliki kepuasan hidup yang sedang.
Hasil wawancara, observasi dan penyebaran skala singkat di atas
menunjukkan bahwa berbagai perubahan yang terjadi pada lansia penderita
hipertensi seperti menjadi mudah emosi atau sensitif, mengalami kecemasan akan
penyakitnya, harus minum obat yang rutin, melakukan diet makanan dan olahraga
yang teratur, serta cenderung bergantung kepada orang lain dapat memicu terjadinya
stres pada lansia sehingga mempengaruhi kepuasan hidupnya. Variabel stres sendiri
dalam beberapa penelitian malah menjadi faktor risiko kambuhnya hipertensi (Bloom,
Nolan, Irvine, Baker, Abbey, & Tobe, 2013).
Andria (2013) dalam penelitiannya menemukan bahwa emosi negatif seperti
marah atau sedih yang diakibatkan oleh stres yang sering dialami lansia dapat
menyebabkan resiko terjadinya hipertensi. Stres dapat memicu timbulnya hipertensi
melalui aktivasi sistem saraf simpatis yang mengakibatkan naiknya tekanan darah
secara tidak menentu. Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan
dilepaskan dan kemudian akan meningkarkan tekanan darah melalui konstraksi arteri
dan peningkatan denyut jantung yang apabola tesus berlanjut maka tekanan darah
orang tersebut akan tinggi sehingga dikatakan mengalami hipertensi (Suoth Bidjuni,
& Malara 2014).
Oleh karena itu dapat dikatakan ada hubungan timbal balik antara stres dan
hipertensi. Hipertensi yang dialami lansia dapat menimbulkan stres, namun
sebaliknya apabila stres ini tidak diatasi maka akan menimbulkan resiko kambuhnya
hipertensi. Canbaz dkk (2002) menemukan bahwa hipertensi merupakan salah satu
penyakit kronis yang banyak dialami oleh para lansia terutama bagi lansia wanita,
Selain itu lansia yang mengalami penyakit kronis mempunyai kualitas hidup lebih
rendah dibanding dengan lansia yang tidak mengalami penyakit kronis sehingga
kepuasan hidup lansia tersebut cenderung menurun.
Berdasarkan hasil preliminary study dapat ditarik kesimpulan kondisi yang
dialami lansia penderita hipertensi yaitu terjadinya penurunan aspek psikologis dan
fisik karena proses penuaan sehingga terbatas dalam melakukan aktivitas, merasa
tidak puas dengan kondisi hidupnya saat ini terutama terkait penyakitnya, adanya
kecemasan akan masa depannya terhadap penyakit yang dimilikinya dan takut akan
kematian, harga diri turun karena merasa tidak berguna dan bergantung kepada orang
lain disebabkan oleh penyakitnya, dan merasa pesimis terhadap hidup karena
kesepian dan terbatasnya hubungan sosial. Oleh karena itulah lansia penderita
penyakit kronis, termasuk hipertensi memiliki kemungkinan untuk terhambat dalam
mencapai successful aging dan menikmati hidup yang lebih puas dikarenakan
penyakitnya tersebut. Masalah-masalah yang terjadi pada masa lansia menimbulkan
afek negatif yang menjadikan kepuasan hidupnya rendah.
Penelitian yang dilakukan Wang, Iwaya, Kumano, Suzukamo, Tobimatsu, &
Fukudoo (2002) memang menemukan bahwa kepuasan hidup lansia secara signifikan
dipengaruhi oleh status kesehatan. Selain itu beberapa penelitian mengaitkan
beberapa faktor yang berhubungan langsung dengan kepuasan hidup lansia. Lansia
yang memiliki jaringan sosial pertemanan dan keluarga yang luas memiliki tingkat
kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan lansia yang terisolasi secara sosial
(Borg, Hallberg, & Blomquist, 2005). Dukungan sosial, religiusitas, jenis aktivitas, dan
pemikiran positif juga terbukti berhubungan dengan kepuasan hidup pada lansia
(Indriana, 2012). Menurut Santrock (2002) banyak faktor berhubungan dengan
kepuasan hidup pada lansia diantaranya pendapatan, kesehatan, suatu gaya hidup
aktif, serta jaringan pertemanan keluarga. Shane dan Synders (2003) dalam
penelitiannya menemukan bahwa faktor pekerjaan dan kesehatan berkaitan erat
dengan kepuasan hidup lansia. Kesehatan fisik dan psikis merupakan faktor yang
sangat penting bagi terciptanya kepuasan hidup terutama pada orang dewasa.
Diener, Suh, & Lucas (2003) juga menemukan bahwa tingkat kepuasan hidup individu
dipengaruhi oleh faktor kebudayaan masyarakat, kesejahteraan sosial seperti
pendapatan dan kesehatan, dan tipe kepribadian seseorang.
Penelitian yang dilakukan Indriana (2003) mengenai kepuasan hidup orang
lanjut usia juga menemukan bahwa hal-hal yang dapat mempengaruhi kepuasan
hidup lansia diantaranya adalah jenis aktivitasnya, religiusitas, status perkawinan,
tingkat kemandirian, tingkat pendidikan dan daerah tempat tinggalnya. Penelitian
yang dilakukan Borg dkk (2005), menemukan bahwa kepuasan hidup yang lebih tinggi
ditemukan pada lansia dengan beberapa karakteristik, seperti usia lansia yang lebih
muda, lansia yang tinggal di rumah, lansia yang perawatan dirinya baik, lansia yang
masih berpartisipasi dalam kegiatan fisik, lansia dengan sumber daya ekonomi yang
baik, tingkat kesepian yang rendah pada lansia, kesehatan yang baik, dan lansia yang
terhindar dari perasaan khawatir.
Melihat berbagai masalah yang dihadapi oleh lansia tersebut, terutama lansia
yang mengalami hipertensi, maka perlu diberikan pelayanan yang optimal bagi lansia
agar dapat mempertahankan kepuasan hidupnya. Terdapat banyak intervensi
psikologis yang telah diberikan kepada lansia untuk meningkatkan kepuasan hidup
pada lansia terutama lansia yang menderita penyakit kronis seperti terapi dengan
pendekatan kognitif-perilakuan (Ehde, Dillworth, & Turner, 2014; Satre, Knight, &
David, 2006; Januzzi, 2000), terapi mindfullness (Morone, Greco, & Weiner, 2014;
Morone & Greco, 2008), logotherapy (Kanin, 2011). art therapy (Malchiodi, 2003;
Malchiodi, 2005) dan reminiscence (Westerhof & Bohlmeijer, 2014; Stinson, 2009).
Mackin dan Arean (2005) juga menyatakan bahwa terdapat beberapa intervensi yang
dapat diberikan kepada lansia untuk meningkatkan kepuasan hidup yaitu terapi
kognitif dan perilaku, reminiscience therapy, dan interpersoal psychotherapy.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian psikoterapi memberikan nilai lebih pada
penanganan pasien penyakit kronis dibandingkan hanya melakukan penanganan
menggunakan farmakoterapi saja khususnya pada pasien depresi (Cuijper, Straten,
Schurmans, Oppen, Hollon, & Andersson, 2010).
Terapi Reminiscence merupakan salah satu intervensi yang menggunakan
memori untuk memelihara kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup lansia
(Chen, Li & Li, 2012). Dalam kegiatan terapi ini, terapis memfasilitasi lansia untuk
mengumpulkan kembali memori-memori masa lalu yang menyenangkan sejak masa
anak, remaja dan dewasa serta hubungan klien dengan keluarga, kemudian dilakukan
sharing dengan orang lain (Syarniah, 2010). Sejalan dengan bertambahnya usia,
kecenderungan untuk mengenang meningkat dan semakin penting. Terapi
reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri, membantu individu mencapai
kesadaran diri, memahami diri, beradaptasi terhadap stres, meningkatkan kepuasan
hidup dan melihat dirinya dalam konteks sejarah dan budaya (Fontaine & Fletcher,
2003). Dengan kata lain terapi reminiscence yang diberikan kepada lansia dapat
meningkatkan harga diri dan kepuasan hidup lansia, meningkatkan kemampuan
beradaptasi terhadap stres melalui kemampuan penyelesaian masalah dan
meningkatkan hubungan sosial berdasarkan keunikan dan prestasi yang dimiliki
lansia.
Selain itu, terapi reminiscence yang sederhana dapat menjadi suatu
mekanisme koping untuk menghadapi stres (Brody dan Semel, 2006). Reminiscing
dapat berefek secara teraupetik dikemukakan pertama kali oleh Robert Butler (1963),
seorang psikiater pakar psikogeriatri memakai istilah “life review”. Teori yang yang
mendasari terapi reminiscence sesungguhnya konsisten dengan teori perkembangan
psikologi dewasa yang dikemukakan pada waktu yang sama oleh Erik Erikson.
Erikson berpendapat bahwa untuk waktu terbanyak pada masa dewasa, individu
dituntut untuk menemukan kreativitas dan kegiatan yang penuh makna demi untuk
menghindari kebuntuan perasaan hingga masa lansia (dalam Haber, 2003). Terapi
reminisence yang dilakukan secara berkelompok dapat memotivasi lansia untuk
berbagi pengalaman dan memori yang mereka alami di masa lalu. Kegiatan ini dapat
membantu lansia dalam melakukan katarsis atas emosi-emosi yang dialaminya serta
membantu lansia untuk memperoleh kembali makna kehidupan mereka. Terapi dalam
bentuk kelompok juga memfasilitasi lansia untuk mengekspresikan dirinya dan
memperoleh dukungan dari kelompok (Pishvaei, Moghanloo, & Moghanloo, 2015).
Terapi Reminiscence efektif untuk lansia karena terapi ini menggunakan
metode yang berhubungan dengan memori. Terapi ini tidak hanya melibatkan
kegiatan mengingat peristiwa di masa lalu namun juga merupakan proses yang
terstruktur secara sistematis dan berguna untuk merefleksikan kehidupan lansia untuk
mengevaluasi ulang, menyelesaikan konflik dari masa lalu, menemukan makna hidup,
dan menilai koping adaptif sehingga akan memotivasi lansia untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapinya saat ini. Psikoterapi secara khusus telah dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan yaitu sebagai intervensi dalam tahap akhir kehidupan
individu (Chen dkk, 2012).
Penggunaan art therapy terbukti efektif untuk menurunkan perasaan kesepian
dan kekosongan yang biasanya dialami oleh orang lanjut usia juga dapat membuat
lansia memiliki pandangan yang seimbang tentang hidupnya (Malchiodi, 2003).
Menurut Malchiodi (2005), art therapy merupakan kombinasi penerapan seni dan
psikologi dengan konsep-konsep yang berasal dari kedua bidang tersebut. Art therapy
dikembangkan dengan keyakinan bahwa setiap orang dapat mengekspresikan diri
dengan kreatif dan proses terapiutik yang terjadi dalam pembuatan karya seni lebih
penting daripada hasil seni itu sendiri (Malchiodi, 2003). Penelitian yang dilakukan
Ravid-Horesh (2004) pada lansia menemukan bahwa sebelum dan sesudah diberikan
art therapy dapat dilihat penilaian gambar dari lansia mengalami perbedaan, serta
menunjukkan dampak positif setelah diberikannya art therapy. Studi kasus tunggal
dalam penelitian ini menunjukkan respon positif terhadap art therapy bila digunakan
sebagai alat untuk mengevaluasi kehidupan lansia. Proses terapi seni membuat
partisipan lansia menjadi menjalani hidupnya dengan lebih sehat.
Art therapy dapat menyelesaikan konflik emosional, meningkatkan kesadaran
diri, mengembangkan keterampilan sosial, mengontrol perilaku, menyelesaikan
permasalahan, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan harga diri (Slayton,
Kaplan, & Marylhurst, 2010). Art therapy juga dapat memberikan pengaruh positif
dalam meningkatkan kualitas hidup dan peningkatan kesehatan fisik dan psikologis
(Svenks, Oster, Thyme, Magnusson, Sjodin, Eisemann, & Lindh, 2008). Case dan
Dalley menemukan bahwa art therapy dapat mengembangkan kepribadian
seseorang, meningkatkan pemahaman diri, meningkatkan kepuasan hidup,
mengatasi masalah emosional dan dapat digunakan pada semua kelompok umur
terutama pada lansia (dalam Liebmann 2004).
Salah satu contoh art therapy adalah creative art therapy (CAT) yang
merupakan salah satu jenis pengobatan alternatif meliputi tari/gerakan, musik, seni,
drama, yoga, dan terapi puisi. CAT dengan terapi musik terbukti efektif dapat
membantu menurunkan kecemasan kepada pasien penyakit kronis yaitu kanker yang
sedang melakukan kemoterapi. Terapi musik juga membantu untuk menaikkan
persepsi positif terhadap pengobatan pada pasien yang mengalami penyakit kronis.
Selain itu melalui ekspresi bermakna dalam art therapy juga dapat meningkatkan rasa
kebahagiaan pasien. Studi ini menunjukkan bahwa CAT dapat meningkatkan kualitas
hidup pada pasien penyakit kronis terutama kanker yang sedang menjalani terapi.
Semua pasien yang berpartisipasi melaporkan kepuasan dengan intervensi CAT dan
menyatakan bahwa mereka ingin melanjutkan program (Madden, Mowri, Gao, Cullen,
& Foreman, 2010).
Pada prakteknya kedua pendekatan di atas yakni reminiscence dan art
therapy biasanya diintegrasikan dalam satu program intervensi. Dalam penelitian
Ostrander (2013), terapi reminiscence diberikan dengan metode-metode seni seperti
gambar, musik, dan gerakan. Art therapy sendiri sebenarnya bukan merupakan
bagian yang terpisah dari reminiscence, karena media yang digunakan dalam
reminiscence pun adalah art therapy seperti gambar, foto, musik, tarian, dan puisi.
Penggunaan kombinasi dari reminiscence dan art therapy ini disarankan dalam
penelitian sebelumnya karena akan lebih bermanfaat dan efektif terlebih untuk lansia,
metode yang kreatif sangat diperlukan seperti mengintegrasikan beberapa
pendekatan.
Penelitian yang dilakukan oleh DiSabato (1995), juga menemukan bahwa
dengan penggunaan terapi seni yang diintegrasikan dengan reminiscence dapat
meningkatkan proses verbal dalam reminiscence, sehingga kombinasi dari kedua
terapi ini terbukti lebih efektif diberikan kepada lansia dibandingkan dengan
memberikannya secara terpisah. Oleh karena itulah fokus pada penelitian ini
menggunakan integratif terapi dari reminiscence dan art therapy dalam menangani
lansia yang mengalami hipertensi. Kombinasi dari dua terapi ini memberikan
kesempatan bagi lansia untuk mengembangkan proses kreatifnya dalam berpikir dan
mengingat untuk mengenang masa lalunya dengan bantuan stimulus dari art therapy
yang digunakan sebagai media untuk mengurangi permasalahan terkait kesehatan
mental dan meningkatkan well-being (Ostrander, 2013).
Integratif terapi dari reminiscence dan art therapy pada penelitian ini akan
diberikan secara pendekatan kelompok. Ada beberapa alasan penggunaan terapi
kelompok menjadi lebih efektif dikarenakan adanya faktor-faktor kuratif dan efek
terapeutik dalam terapi kelompok. Interaksi dalam intervensi secara kelompok dapat
menyadarkan peserta bahwa mereka mengalami masalah yang sama sehingga tidak
merasa sendirian. Terdapat juga faktor eksistensi yang sangat cocok diberikan
kepada lansia karena lansia akan diajak untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa
penting dan menyakitkan yang pernah dan akan terjadi dalam kehidupan, termasuk
kesadaran tentang kematian dan kejadian-kejadian yang tidak terduga datangnya
dalam kehidupan individu (Yalom & Lesczc, 2005).
Terapi reminiscence secara berkelompok mempunyai keuntungan lebih
banyak dibandingkan dilaksanakan secara individu. Keuntungan yang dicapai apabila
terapi ini dilaksanakan secara kelompok adalah lansia akan mempunyai kesempatan
untuk berbagi (sharing) pengalaman dengan anggota kelompok. Lansia akan dapat
mengeksplorasi perasaannya dan meningkatkan hubungan interpersonalnya. Faktor
kuratif dalam terapi kelompok sangat bermanfaat bagi lansia yang mempunyai
permasalahan, khususnya bagi yang mengalami kekhawatiran akan kondisi fisiknya
yang mulai menurun. Di dalam kelompok orang lanjut usia akan merasa bahwa dirinya
bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan tersebut. Kehadiran anggota
kelompok lain akan sangat membantu mengurangi perasaan terisolasi yang dirasakan
orang lanjut usia karena mereka merasa ada teman berbagi dan mempunyai
permasalahan yang sama.. Mereka juga dapat meniru dan mendapatkan cara-cara
yang baru dalam menghadapi permasalahannya sehingga mereka lebih dapat
beradaptasi dengan keadaan yang dimiliki sekarang ini (Kennard, 2006; Ebersole &
Hess, 2001).
Begitu juga dengan penerapan intervensi kelompok dalam art therapy yang
lebih disarankan karena hasil terapi kelompok lebih baik dibanding terapi individu bagi
sebagaian terapis (Liebmann, 2004). Kelompok dapat menjadi media belajar dan
menerapkan berbagai keterampilan sosial. Selain itu anggota kelompok dapat saling
memberikan dukungan dan membantu penyelesaian masalah anggota lainnya,
anggota kelompok juga mendapatkan masukan dari anggoota kelompok lain, anggota
kelompok dapat mencoba peran baru, dari melihat bagaimana orang lain bereaksi,
kelompok dapat mempercepat munculnya sumber-sumber dan kemampuan yang
selama ini tersembunyi, dan kelompok dapat lebih demokratis, berbagai keluiatan dan
tanggung jawab (Liebmann, 2004)
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menggunakan integrasi dari konsep
terapi reminiscence dan art therapy sebagai salah satu bentuk intervensi yang
diberikan kepada lansia secara kelompok untuk meningkatkan kepuasan hidup lansia
yang menderita hipertensi. Intervensi yang diberikan ini disebut dengan “Program
Lansia SABAR” (Sehat dan Bermakna). “Program Lansia SABAR” ini dirancang
sebagai program integratif yang menggabungkan teknik art therapy dalam proses
mereview kembali kehidupan lansia. Terdapat delapan fungsi yang dapat dicapai
dalam reminiscence yaitu death preparation, identity, problem solving, teach/inform,
conversation, boredom reduction, bitterness revival, dan intimacy maintenance
(Webster dalam Westerhof & Bohlmeijer, 2014).
Berdasarkan konsep tersebut, death preparation merupakan cara individu
untuk menggunakan pengalaman dimasa lalu untuk merasakan ketenangan dan
menerima kematian. Identity merupakan penggunaan masa lalu untuk menemukan,
mengklarifikasi, atau menyimpulkan identitas diri. Problem solving adalah
penggunaan reminisence sebagai mekanisme konstruktif coping untuk mengingat
bagaimana individu memecahkan masalahnya dimasa lalu. Selanjutnya conversation
adalah penggunaan reminiscence secara informal untuk berhubungan dengan orang
lain atau menjaga komunikasi kembali dengan orang lain. Teach/inform merupakan
penggunaan memori secara informal untuk menyampaikan pelajaran hidup dan
pengalaman kepada orang lain. Boredom reduction merupakan langkah untuk
memikirkan kembali tentang masa ketika individu berada pada lingkungan yang
negatif dan bagaimana individu berhasil melewatinya. Bitterness revival merupakan
langkah untuk mengingat kembali pengalaman negatif yang mengakibatkan individu
terus memiliki pikiran negatif. Intimacy maintenance merupakan proses kognitif dan
emosional yang merepresentasikan pentingnya orang-orang yang ada disekeliling
individu (Westerhof & Bohlmeijer, 2014).
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam terapi
reminiscence lansia diminta mengingat kejadian di masa lalu dan dapat mengambil
makna dari pengalaman di masa lalu tersebut baik kejadian menyenangkan maupun
yang kurang menyenangkan sehingga nantinya diharapkan dapat meningkatkan
harga diri dan kepuasan hidup lansia, meningkatkan kemampuan beradaptasi
terhadap stres melalui kemampuan penyelesaian masalah dan meningkatkan
hubungan sosial dengan melakukan terapi ini secara berkelompok. Tujuan akhirnya
diberikan terapi ini agar dapat meningkatkan kepuasan hidup lansia terutama lansia
penderita hipertensi.
Melalui terapi ini lansia diminta mengingat kejadian di masa lalu dan dapat
mengajak lansia untuk tetap bersemangat dan antusias dalam melakukan kegiatan
sehari-hari, mereview kembali kejadian-kejadian penting kehidupan di masa lalu
terutama yang menyenangkan dengan stimulus art therapy untuk meningkatkan harga
diri, menemukan strategi coping penyelesaian masalah yang berhasil dilakukan di
masa lalu, mengambil makna positf dari kejadian di masa lalu dalam menjalani
keadaan saat ini, dan mendapatkan dukungan sosial dari anggota kelompok karena
terapi ini dilaksanakan dalam bentuk kelompok. Hasil akhir yang diharapkan dari terapi
ini adalah meningkatkanya kepuasan hidup lansia yang ditandai dengan antusias,
semangat dan senang dalam melakukan kegiatan sehari-hari, menganggap hidupnya
penuh arti, menerima dengan tulus kondisi kehidupannya saat ini, merasa telah
berhasil mencapai tujuan hidupnya atau bersyukur atas pencapaian hidupnya saat ini,
memiliki gambaran diri atau konsep diri yang positif, dan memiliki suasana hati yang
menyenangkan dan merasa optimis dalam memandang hidup. Program “Lansia
SABAR” ini dilaksanakan sebanyak enam kali pertemuan dengan durasi per satu
pertemuan selama maksimal 120 menit.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah Program “Lansia Sabar” dapat
meningkatkan kepuasan hidup pada lansia penderita hipertensi. Penelitian ini
diharapkan memberikan manfaat baik teoritis maupun praktis. Secara teoritis,
penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dalam pengembangan teori
kepuasan hidup pada lansia penderita hipertensi. Secara praktis, modul maupun
materi program diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para praktisi dalam
melakukan penanganan terkait kondisi kepuasan hidup lansia penderita hipertensi.
Hipotesis dari penelitian ini adalah Program “Lansia Sabar” dapat meningkatkan
kepuasan hidup pada lansia penderita hipertensi