Vous êtes sur la page 1sur 8

Nama : Nurul Muafiqah

Nim : A31114512

Matkul : Pengauditan 1

SEJARAH PENGAUDITAN

Pengauditan telah mulai dilakukan sejak abad ke lima belas. Tahun kelahiran pengauditan
laporan keuangan secara pasti tidak diketahui, tetapi dari berbagai sumber dapat diketahui bahwa
pada sekitar awal abad ke limabelas jasa auditor telah mulai digunakan di Inggris. Meskipun
pengauditan telah lahir sejak beberapa abad yang lalu, namun perkembangan yang pesat baru
terjadi pada abad ini.

Penguditan Independen Sebelum Tahun 1900


Kelahiran fungsi pengauditan di Amerika Utara berasal dari Inggris. Akuntansi sebagai profesi
diperkenalkan di bagian benua ini oleh Inggris pada paruh kedua abad ke sembilan belas. Para
akuntan di Amerika Utara mengadopsi bentuk laporan dan prosedur audit sebagaimana yang
berlaku di Inggris. Perusahaan-perusahaan publik di Inggris pada waktu itu harus tunduk pada
undang-undang yang disebut Companies Act. Menurut undang-undang tersebut semua
perusahaan publik harus diaudit. Ketika fungsi audit mulai diekspor ke Amerika Serikat, bentuk
laporan model Inggris turut diadopsi pula meskipun peraturan yang berlaku di Amerika Serikat
tidak sama dengan yang berlaku di Inggris. Sebagaimana disebutkan di atas, di Inggris semua
perusahaan publik harus diaudit, sedangkan di Amerika Serikat pada waktu itu tidak wajib
diaudit. Keharusan untuk diaudit datang dari badan yang mengatur pasar modal yang
disebut Securities and Exchange Commission (SEC), serta dari pengakuan umum mengenai
manfaat pendapat auditor atas laporan keuangan.

Tidak adanya peraturan undang-undang yang mengharuskan audit atas laporan yang
diberikan kepada para pemegang saham, menyebabkan audit pada abad ke semblin belas menjadi
beraneka-ragam, kadang-kadang hanya meliputi neraca saja, tapi ada pula yang berupa audit atas
semua rekening yang ada pada perusahaan dan dilakukan secara menyeluruh dan mendalam.
Auditor biasanya mendapat penugasan dari manajemen atau dari dewan komisaris perusahaan,
dan laporan hasil audit biasanya dialamtkan kepada pihak intern perusahaan, bukan kepada para
pemegang saham. Pemberian laporan kepada pemegang saham pada waktu itu tidak biasa
dilakukan. Para manajer perusahaan hanya mengingikan untuk mendapat jaminan dari auditor
bahwa kecurangan dan kekeliruan dalam pencatatan tidak terjadi.

Perkembangan di Abad Ke dua puluh


Memasuki abad XX, revolusi industri kira-kira telah berusia 50 tahun dan selama masa itu
jumlah perusahaan industri telah berkembang dengan pesat. Jumlah pemegang saham juga
semakin bertambah dan mereka sudah mulai menerima laporan auditor. Kebanyakan pemegang
saham baru ini tidak memahami makna pekerjaan seorang auditor, dan kesalahpahaman melanda
banyak pihak termasuk para pimpinan perusahaan dan bankir. Pada umumnya mereka
beranggapan bahwa pendapat auditor adalah jaminan keakuratan laporan keuangan.

Profesi akuntansi di Amerika berkembang pesat setelah berakhirnya Perang Dunia I.


Sementara itu kesalahpahaman tentang fungsi pendapat auditor masih terus berlangsung,
sehingga pada tahun 1917 Federal Reserve Board menerbitkan Federal Reserve Buletin yang
memuat cetak ulang suatu dokumen yang disusun oleh American Institute of Accountant (yang
selanjutnya berubah menjadi American Institute of Certified Public
Accountants atau AICPA pada tahun 1957) yang berisi himbauan tentang perlunya akuntansi
yanng seragam, tetapi tulisan tersebut sesungguhnya lebih banyak menguraikan tentang
bagaimana mengaudit neraca. Pernyataan teknis ini merupakan pernyataan pertama yang
dikeluarkan oleh profesi akuntansi di Amerika Serikat dari sekian banyak pernyataan yang
dikeluarkan selama abad ke-20.

Pada awalnya, para akuntan publik menyusun laporan tanpa mengikuti pedoman resmi.
Akan tetapi pada 50 tahun terakhir, profesi dengan cepat mengembangkan redaksi laporan yang
umum digunakan melalui AICPA. Redaksi atau susunan kalimat dalam laporan hasil audit tidak
lagi merupakan pekerjaan mengarang kalimat dalam laporan, melainkan merupakan proses
pengambilan keputusan. Alternatif bentuk tipe laporan yang dapat dipilih auditor tidak banyak,
dan sekali auditor memilih jenis pendapat yang diberikan dalam situasi tertentu, auditor tinggal
memilih jenis laporan yang dirncang untuk menyatakn pendapat tersebut.

Perkembangan Pengauditan di Indonesia


Profesi akuntansi di Indonesia masih tergolong muda. Pada masa penjajahan Belanda, jumlah
perusahaan di Indonesia belum begitu banyak, sehingga akuntansi dengan sendirinya hampir
tidak dikenal. Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang beroperasi di Indonesia pada waktu
itu, mengikuti model pembukuan seperti yang berlaku di negaranya. Situasi seperti itu
berlangsung hingga Indonesia merdeka. Akuntansi baru mulai dikenal di Indonesia setelah tahun
1950-an, yaitu ketika semakin banyak perusahaan didirikan dan akuntansi sistem Amerika mulai
dikenal, terutama melalui pendidikan di perguruan tinggi.

Tongga penting perkembangan akuntansi di Indonesia terjadi pada tahun 1973, yaitu
ketika Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menetapkan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia
(PAI) dan Norma Pemeriksaan Akuntan (NPA). Prinsip akuntansi dan norma pemeriksaan
tersebut hampir sepenuhnya mengadopsi prinsip akuntansi dan standar audit yang berlaku di
Amerika Serikat. Penetapan prinsip akuntansi dan norma pemeriksaan di Indonesia terutama
dipicu oleh lahirnya pasar modal yang mensyaratkan perusahaan yang akan menjual sahamnya di
pasar modal untuk memliki laporan keuangan yang telah diaudit. Selain itu perkembangan yang
terjadi dalam dunia perbankan sejak tahun 1988 semakin menuntut dilakukannya audit atas
laporan keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang akan mengajukan permohonan kredit ke
bank. Pada tahun 1995 lahir Undang-undang Perseroan Terbatas yang mewajibkan suatu
perseroan terbatas menyusun laporan keuangan dan jika perseroan merupakan perusahaan
publik, maka laporan keuangannya wajib diaudit oleh akuntan publik. Pada tahun yang sama
lahir pula Undang-undang Pasar Modal yang semakin meningkatkan peran akuntansi dan
pengauditan, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang sahamnya dijual di pasar modal
(perusahaan publik).

Sejalan dengan perkembangan profesi akuntansi dan dunia usaha di Indonesia, IAI telah
berkali-kali melakukan penyempurnaan dan pemutahiran prinsip akuntansi dan norma
pemeriksaan akuntan agar dapat mangakomodasiperkembangan yang sangat pesat dalam dunia
usaha, dengan tetap mangacu pada perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat dan profesi
akuntansi internasional. Pada tahun 1994 IAI melakukan penyusunan ulang prinsip akuntansi dan
standar audit yang disebut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Standar Profesional Akuntan
Publik (SPAP). Sejalan dengan itu Dewan Standar Akuntansi yang dibentuk IAI secara terus
menerus menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang hingga saat ini
telah mencapai 56 buah.

Seperti terjadi di Amerika Serikat seratus tahun lalu, fungsi pengauditan di Indonesia
memasuki abad ke-21 ini masih belum dipahami masyarakat. Banyak kesalahpahaman yang
terjadi atas laporan auditor, karena fungsi audit tidak dipahami dengan benar. Situasi demikian
nampak sekali ketika berbagai kasus terkenal seperti kasus Bank Summa, skandal Bank Bali
yang diaudit oleh Pricewaterhouse Coopers, dan sejumlah kasus lainnya, dikomentari berbagai
pihak. Kebanyakan komentar tersebut mencerinkan kesalahpahaman masyarakat, tidak saja
mengenai makna pendapat auditor atas laporan keuangan yang diperiksanya, tetap juga mengenai
perbedaan antara berbagai jenis audit yang bisa dilakukan oleh seorang auditor.

ALASAN LAPORAN KEUANGAN PERLU DIAUDIT

Audit atas laporan keuangan terutama diperlukan oleh perusahaan yang berbentuk
perseroan terbatas (PT). biasanya setahun sekali dalam rapat umum pemegang saham (RUPS)
para pemegang saham akan meminta pertanggungjawaban manajemen perusahaan dalam bentuk
laporan keuangan.

Laporan keuangan yang merupakan tanggung jawab manajemen perlu di audit oleh
akuntan public yang merupakan pihak ketiga yang independen, karena :

a. Jika tidak diaudit, ada kemungkinan bahwa laporan keuangan tersebut mengandung
kesalahan, baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja. Karena itu laporan keuangan
yang belum diaudit kurang dipercaya kewajarannya oleh pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut.
b. Jika laporan keuangan telah diaudit dan mendapatkan opini unqualified (wajar tanpa
pengecualian) dari KAP (Kantor Akuntan Publik), berarti pengguna laporan keuangan
bisa yakin bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji yang material dan
sajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia yaitu PSAK.
c. Sejak tahun 2001 perusahaan yang total asetnya Rp. 25 miliyar ke atas harus
memasukkan audited financial statements-nya ke departemen perdagangan dan
perindustrian.
d. Perusahaan yang go public harus memasukkan audited financial statemennya ke bapepam
paling lambat 90 hari setelah tahun buku
e. SPT yang didukung oleh audited financial statement lebih percaya oleh pihak pajak
dibandingkan dengan yang didukung oleh laporan keuangan yang belum diaudit.

JENIS-JENIS AUDIT

1. Audit berdasarkan luas pemeriksaan.

Pada segi ini, audit bisa dibedakan menjadi:

 General audit (pemeriksaan umum)


Suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh KAP independen
dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
secara keseluruhan. Pemeriksa tersebut harus dilakukan sesuai dengan standar propesional
akuntan publik dan memperhatikan kode etik akuntan indonesia, aturan etika KAP yang
telah diisahkan oleh ikatan akuntan indonesia serta standar pengendalian mutu.
 Special audit (pemeriksaan khusus)
Suatu pemeriksaan terbatas yang dilakukan oleh KAP yang independen, dan pada akhir
pemeriksaan auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadapa kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan. Pendapat yang diberikan terbatas pada pos masalah atau
masalah tertentu yang diperiksa. Karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas.

2. Audit berdasarkan bidang

1. Audit kepatuhan/ketaatan

Audit kepatuhan (compliance audit), berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan


memeriksa bukti-bukti untuk menetapkan apakah kegiatan keuangan atau operasi suatu
entitas telah sesuai dengan persyaratan ketentuan, atau peraturan tertentu.

Audit kepatuhan/ketaatan berfungsi menentukan sejauh mana peraturan, kebijakan,


hukum, perjanjian, atau peraturan pemerintah dipatuhi oleh entitas yang sedang diaudit.
Sebagai contoh pemeriksaan SPT individu dan perusahaan oleh kantor pajak untuk
kepatuhannya terhadap hukum pajak.

Pengujian ketaatan, auditor melakukan pengujian ketaatan yang mengkonfirmasikan


eksistensi, efektivitas, dan kesinambungan operasi pengendalian intern yang diandalkan
oleh organisasi. Pengujian ketaatan membutuhkan pemahaman atas pengendalian yang
akan di uji, jika pengendalian yang akan di uji adalah komponen-komponen sistem
informasi perusahaan , auditor harus memperhatikan teknologi yang harus digunakan oleh
sistem informasi. Ini membutuhkan pemahaman teknik-teknik sistem yang umum
digunakan untuk mendokumentasikan sistem informasi.

Jadi auditor harus mempunyai pemahaman mendasar mengenai teknik-teknik yang


digunakan dalam menganalisis dan merancang sistem. Bagan masukan-proses-
keluaran (input-process-output) IPO dan Hirarki-plus-masukan-proses-keluaran (HIPO),
Tabel keputusan dan metode matriks adalah contoh-contoh teknik sistem yang umum
digunakan dalam menganalisis dan merancang system.

2. Audit operasional

Audit operasional (operational audit), berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan


mengevaluasi bukti-bukti tentang efisiensi dan efektivitas kegiatan operasi entitas dalam
hubungannya dengan pencapaian tujuan tertentu.

Audit ini melibatkan pengkajian sistematis atas aktivitas organisasi, atau bagian dari itu,
sehubungan dengan penggunaan sumber daya yang efesien dan efektif. Tujuan dari audit
operasional adalah untuk menilai kinerja, mengidentifikasikan area yang perlu diperbaiki,
dan mengembangkan rekomendasi.

3. Audit Forensik

Tujuan dari audit forensik adalah mendeteksi atau mencegah berbagai jenis kecurangan
(fraud). Penggunaan auditor untuk melaksanakan audit forensik telah tumbuh pesat.
Beberapa contoh di mana audit forensik bisa dilaksanakan termasuk:

a. Kecurangan dalam bisnis atau karyawan


b. Investigasi criminal
c. Perselisihan pemegang saham dan persekutuan
d. Kerugian ekonomi dari suatu bisnis
e. Perselisihan pernikahan.
Muh Afiq Zulfikar

A31114322

SEJARAH AUDIT

Audit sudah dikenal dahulu pada zaman Mesopotamia dengan ditemukannya simbol-simbol
pada angka-angka transaksi keuangan seperti titik, cek list, dan lain-lain.

Di Mesir audit terlihat dari beberapa transaksi keuangan yang diperiksa oleh auditor.

Di Yunani menerapkan audit namun untuk posisi ini kerajaan menempatkan para budak agar
jika ada penyimpangan mudah untuk mencari informasi dengan cara menyiksa para budak
tersebut.

Dan di Romawi, audit menggunakan sistem "dengar transaksi keuangan", jadi setiap transaksi
disaksikan oleh auditor.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, audit sendiri dikenal sebagai pemeriksa tentang
kegiatan operasional, transaksi keuangan serta kepatuhan terhadap peraturan/kebijakan
perusahaan (System Operational Procedure) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Auditor dalam kegiatannya harus selalu independen.

Auditor Independen di dalam perusahaan dikenal sebagai Internal Auditor / Satuan


Pengawasan Intern dan di luar perusahaan dikenal sebagai External Auditor/Akuntan Publik.

Mengapa Laporan Keuangan Harus Diaudit?


Audit atas laporan keuangan terutama diperlukan oleh perusahaan yang berbentuk perseroan
terbatas (PT).
Biasanya setahun sekali dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) para pemegang saham
akan meminta pertanggungjawaban manajemen perusahaan dalam bentuk laporan keuangan.
Laporan keuangan yang merupakan tanggung jawab manajemen perlu diaudit oleh akuntan
publik yang merupakan pihak ketiga yang independen, Karena :

a. Jika tidak diaudit, ada kemungkin bahwa laporan keuangan tersebuot mengandung
keselahan baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja. Karena itu laporan keuangan
yang belum diaudit kurang dipercaya kewajarannya oleh pihak – pihak yang berkepentingan
terhadap laporan keuangan tersebut.
b. Jika laporan keuangan telah diaudit dan mendapatkan opini Unqualified (wajar tanpa
pengecualian) dari KAP (Kantor Akuntan Publik), berarti pengguna laporan keuangan bisa
yakin bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji yang material dan disajikan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di indonesia yaitu PSAK.
c. Sejak tahun 2001 perusahaan yang total asetnya Rp25 Miliar keats harus memasukkan
audited financial statements-nya ke departemen Perdagangan dan perindustrian.
d. Perusahaan yang go public harus memasukkan audited fiancial statement-nya ke Bapepam
paling lambat 90 hari setelah tahun buku.
e. SPT ynag didukung oleh audited financial statements lebih dipercaya oleh pihak pajak
dibandingkan dengan yang didukung oleh laporan keuangan yang belum diaudit.

JENIS-JENIS AUDIT

1. Audit berdasarkan luas pemeriksaan.

Pada segi ini, audit bisa dibedakan menjadi:

 General audit (pemeriksaan umum)


Suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh KAP independen
dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
secara keseluruhan. Pemeriksa tersebut harus dilakukan sesuai dengan standar
propesional akuntan publik dan memperhatikan kode etik akuntan indonesia, aturan etika
KAP yang telah diisahkan oleh ikatan akuntan indonesia serta standar pengendalian
mutu.
 Special audit (pemeriksaan khusus)
Suatu pemeriksaan terbatas yang dilakukan oleh KAP yang independen, dan pada akhir
pemeriksaan auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadapa kewajaran laporan
keuangan secara keseluruhan. Pendapat yang diberikan terbatas pada pos masalah atau
masalah tertentu yang diperiksa. Karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas.

2. Audit berdasarkan bidang

4. Audit kepatuhan/ketaatan

Audit kepatuhan (compliance audit), berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan


memeriksa bukti-bukti untuk menetapkan apakah kegiatan keuangan atau operasi suatu
entitas telah sesuai dengan persyaratan ketentuan, atau peraturan tertentu.

Audit kepatuhan/ketaatan berfungsi menentukan sejauh mana peraturan, kebijakan,


hukum, perjanjian, atau peraturan pemerintah dipatuhi oleh entitas yang sedang diaudit.
Sebagai contoh pemeriksaan SPT individu dan perusahaan oleh kantor pajak untuk
kepatuhannya terhadap hukum pajak.

Pengujian ketaatan, auditor melakukan pengujian ketaatan yang mengkonfirmasikan


eksistensi, efektivitas, dan kesinambungan operasi pengendalian intern yang diandalkan
oleh organisasi. Pengujian ketaatan membutuhkan pemahaman atas pengendalian yang
akan di uji, jika pengendalian yang akan di uji adalah komponen-komponen sistem
informasi perusahaan , auditor harus memperhatikan teknologi yang harus digunakan
oleh sistem informasi. Ini membutuhkan pemahaman teknik-teknik sistem yang umum
digunakan untuk mendokumentasikan sistem informasi.

Jadi auditor harus mempunyai pemahaman mendasar mengenai teknik-teknik yang


digunakan dalam menganalisis dan merancang sistem. Bagan masukan-proses-
keluaran (input-process-output) IPO dan Hirarki-plus-masukan-proses-keluaran (HIPO),
Tabel keputusan dan metode matriks adalah contoh-contoh teknik sistem yang umum
digunakan dalam menganalisis dan merancang system.
5. Audit operasional

Audit operasional (operational audit), berkaitan dengan kegiatan memperoleh dan


mengevaluasi bukti-bukti tentang efisiensi dan efektivitas kegiatan operasi entitas dalam
hubungannya dengan pencapaian tujuan tertentu.

Audit ini melibatkan pengkajian sistematis atas aktivitas organisasi, atau bagian dari itu,
sehubungan dengan penggunaan sumber daya yang efesien dan efektif. Tujuan dari
audit operasional adalah untuk menilai kinerja, mengidentifikasikan area yang perlu
diperbaiki, dan mengembangkan rekomendasi.

6. Audit Forensik

Tujuan dari audit forensik adalah mendeteksi atau mencegah berbagai jenis kecurangan
(fraud). Penggunaan auditor untuk melaksanakan audit forensik telah tumbuh pesat.
Beberapa contoh di mana audit forensik bisa dilaksanakan termasuk:

a. Kecurangan dalam bisnis atau karyawan


b. Investigasi criminal
c. Perselisihan pemegang saham dan persekutuan
d. Kerugian ekonomi dari suatu bisnis
e. Perselisihan pernikahan.