Vous êtes sur la page 1sur 5

ANATOMI DAN FISIOLOGI SKLERA

SKLERITIS

BATASAN :

Skleritis adalah inflamasi khronik dari sclera, dihubungkan dengan penyakit serius yang mana
menyebabkan gangguan penglihatan dan akan menyebabkan kehilangan penglihatan jika terapi tidak
adequate.

ETIOLOGI :

Gangguan kolagen autoimmune terutama rheumatoid arthritis, sekitar 5 % kasus skleritis dikaitkan
dengan penyakit jaringan konektif. Sekitar 0,5 % pasien (1 dalam 200) seropositif rheumatoid arthritis
berkembang menjadi skleritis. Penyakit kolagen lain yang diduga jadi erythematosus (SLE) dan
ankylosing spondylitis.

Gangguan metabolik seperti gout dan tiroksikosis juga dikaitkan dengan skleritis.

Beberapa infeksi : Herpes zoster ophthalmicus, infeksi staphylococcal dan sterptococcal kronik juga
diketahui dapat menyebabkan skleritis.

Penyakit Granulomatous : seperti tuberculosis, syphilis, sarcoidosis, leprosy dapat juga menyebabkan
skleritis.

Berbagai gangguan lain seperti irradiasi, trauma kimia, VKH syndrome, Behcet’s disesase and rosacea
juga diduga sebagai penyebab.

Skleritis juga dapat diinduksi oleh surgical tapi mekanisme pasti belum diketahui, terjadi biasanya 6
bulan post operatif

Idiopathic. Banyak penyebab lain dari skleritis yang tidak diketahui.

KLASIFIKASI :

I. Anterior scleritis (98%)


1. Non-necrotizing scleritis (85%)
(a) Diffuse
(b) Nodular
2. Necrotizing scleritis (13%)
(a) Dengan inflamasi
(b) Tanpa inflamasi (scleromalasia perforans)
II. Posterior scleritis (2%)

GAMBARAN KLINIS :

Gejala

Pasien mengeluh nyeri sedang sampai berat dan sering membangungkan pasien pada pagi hari. Nyeri
biasa menjalar sampai ke rahang bawah. Warna merah diffuse, photophobia ringan sampai berat dan
ringan, kadang-kadang terjadi pengurangan penglihatan.

Tanda

1. Non-necrotizing skleritis anterior difuse. Memiliki paling banyak variasi, ditandai dengan
inflamasi yang luas yang meliputi satu kuadran atau lebih dari sclera anterior. Terlihat area yang
terangkat dengan warna salmon pink sampai ungu.
2. Non-necrotizing skleritis anterior nodular. Ditandai dengan satu atau dua nodul sclera yang
berwarna keunguan dan keras, biasanya terletak dekat dengan limbus. Kadang-kadang nodule
tersusun seperti cincin mengitari limbus (annular scleritis).
3. Skleritis anterior necrotizing dengan inflamasi. Ini merupakan bentuk akut berat dari skleritis,
ditandai dengan adanya inflamasi terlokalisasi yang intense dikaitkan dengan infark karena
adanya vasculitis. Disini didapatkan adanya area nekrosis yang mengakibatkan penipisan dan
sclera menjadi labih transparan sehingga jaringan uvea dibawahnya dapat terlihat. Ini biasanya
dikaitkan dengan uveitis anterior.
4. Skleritis anterior necrotizing tanpa inflamasi (Scleromalacia perforans). Ini spesifik terjadi pada
wanita yang lebih tua yang biasanya terjadi setelah reumathoid arthritis yang lama. Ini ditandai
oleh bercak kakuningan dari sclera melting (obliterasi dari arteri yang mensupply sclera), yang
mana seringkali melibatkan episclera dan konjungtiva yang ada disekitar sclera. Perforasi
spontan secara extreme jarang terjadi.
5. Skleritis posterior. Inflamasi ini meliputi sclera dibelakang equator. Kondisi ini sering kali
menjadi salah diagnosis. Karakteristik ditandai dengan inflamasi struktur yang berbatasan
dengan sclera seperti pada : Exudative retinal detachment, macular oedema, proptosis dan
terbatasnya gerakan ocular.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM :

1. Tes serologis rheumatoid factor


2. Tes Wasserman
3. Pemeriksaan foto thoraks
4. Tes PPD

PENGOBATAN :

Non- necrotizing scleritis

1. Steroid topikal : obat terpilih/pengganti


a. Prednisolon asetat 1 %
b. Dexametasone 0,1 % tetes mata 3 – 6 kali perhari
2. Sistemik :
c. Fenilbutason atau Oksifenbutason 100 mg 6 kali/hari selama 4 hari
d. Indomethacin 100 mg 4 kali/hari atau 25 mg/hari selama 2 hari kemudian 50 mg/hari
selama 2hari selanjutnya 75 mg/hari sampai sembuh.
e. Obati penyakit yang mendasari

Necrotizing scleritis
1. Steroid topikal sama dengan diatas
2. Steroid dosis tinggi lalu di tapering
3. Tapi bila dengan steroid tidak response dapat diberikan imunosupresive seperti methotrexate
atau cyclophosphamide
4. Kontraindikasi subkonjungtival steroid, karena dapat menipiskan sclera dan perforasi.
EPISKLERITIS

BATASAN :

Episkleritis adalah Inflamasi rekuren benigna melibatkan kapsula tenon’s tapi tidak melibatkan sclera,
self-limiting, yang mana cenderung mengenai orang muda. Ini sering di kaitkan dengan penyakit
sistemik, tapi tidak pernah berkembang menjadi skleritis.

ETIOLOGI :

1. Penyebab pasti tidak diketahui


2. Ini dikaitkan dengan gout, rosacea dan psoriasis, herpes zoster, sifilis, tuberkulosa,rheumatoid
arthritis.
3. Ini juga diduga adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diakibatkan tubercular endogen atau
toxin streptococcus.

GAMBARAN KLINIS :

Terjadi bendungan pembuluh darah episklera dengan edem jaringan episklera dengan mata merah, rasa
tidak enak ringan seperti: rasa berpasir, rasa terbakar atau sensasi benda asing. Photophobia ringan dan
lakrimasi bias terjadi.

Berdasarkan gambaran klinis dapat dibagi 3 yaitu :

1. Diffuse episcleritis atau simple episcleritis, meskipun semua bagian dapat terlibat, maksimun
inflamasi sudah dapat dimasukkan dalam tipe ini jika sudah mengenai satu atau dua kuadran.
2. Nodular episcleritis, suatu flat nodul berwarna pink atau ungu dikelilingi injeksio, biasanya
berada 2-3 mm dari limbus. Nodule ini berada diatas konjungtiva dan dapat bergerak bebas

PEMERIKSAAN UMUM :

1. Tes serologis rheumatoid factor


2. Tes Wasserman
3. Pemeriksaan foto thoraks
4. Tes PPD

PERJALANAN KLINIS :
Episcleritis merupakan penyakit limited disease berlangsung 10 hari sampai 3 minggu dan dapat
mengalami resolusi spontan. Bagaimanapun dapat recurrens. Jarang terjadi episkleritis periodica.

PENGOBATAN

1. Steroid topikal : obat terpilih/pengganti


f. Prednisolon asetat 1 %
g. Dexametasone 0,1 % tetes mata 3 – 6 kali perhari
2. Sistemik :
h. Fenilbutason atau Oksifenbutason 100 mg 6 kali/hari selama 4 hari
i. Indomethacin 100 mg 4 kali/hari atau 25 mg/hari selama 2 hari kemudian 50 mg/hari
selama 2hari selanjutnya 75 mg/hari sampai sembuh.
j. Obati penyakit yang mendasari.