Vous êtes sur la page 1sur 10

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN

Mata kuliah : Praktikum Ekologi Hewan

“Pengamatan Serangga Nocturnal”

OLEH :

NAMA : NADIA VERMONI SUCI

NIM : 4163341038

JURUSAN : BIOLOGI

PROGRAM : PENDIDIKAN BIOLOGI

KELOMPOK : 2 ( DUA)

Tgl.Pelaksanaan : 21 NOVEMBER 2018

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
I. JUDUL : Pengamatan Serangga Nocturnal

II. TUJUAN :
1. Untuk mengetahui kelimpahan, keanekaragaman jenis dan jumlah insekta
malam di laboratorium ekologi.
2. Untuk mengetahui rangsangan dalam bentuk cahaya akan mempengaruhi
kegiatan insekta malam.
3. Untuk mengetahui hubungan antara kepentingan spesies dengan faktor yang
mempengaruhi serangga noctural.
4. Untuk mengetahui faktor lingkungan abiotik yang mempengaruhi serangga
noctural.
5. Untuk mengetahui faktor biotik yang mempengaruhi serangga noctural.

III. TINJAUAN TEORI


Salah satukeanekaragaman hayati yang dapat di temukan di Indonesia
adalahserangga, dengan jumlah 250.000 jenis atau sekitar 15% dari jumlah jenis biota utama
yang diketahui di Indonesia. Sebagai komponen ekosistem tanaman duku berasosiasi dengan
komponen biotik dan abiotik sehingga siklus energi tetap berjalan. Salah satu mahluk hidup
yang berasosiasi dengan tanaman duku adalah serangga yang merupakan penyusun mata
rantai ekosistem pada pertanaman duku. Terbatasnya informasi mengenai serangga –serangga
yang berinteraksi dengan tanaman duku menjadi salah satu faktor penghambat untuk
pengembangan penelitian serangga duku di masa datang (Koko Muarib, 2015).
Lampu perangkap merupakan suatu unit alat untuk menangkap atau menarik serangga
yang tertarik cahaya pada waktu malam hari. Alat ini berfungsi untuk mengetahui keberadaan
atau jumlah populasi serangga di lahan pertanian. Komponen utama dari lampu perangkap
atau yang dikenal juga dengan light trap ini yaitu lampu, corong dan kantung plastik, serta
rangka beratap. Lampu, dengan daya minimal 100watt, berfungsi untuk menarik serangga
pada waktu malam hari. Corong merupakan tempat masuknya serangga, kantung plastik
berfungsi untuk menampung serangga yang tertangkap. Kemudian, rangka beratap fungsinya
untuk melindungi lampu dan hasil tangkapan terutama dari hujan (Binari Manurung, 2018).
Serangga hama memiliki kemampuan untuk menemukan tanaman inang. Menurut
Sunarno (2011) kesesuaian isyarat visual maupun isyarat kimia akan menyebabkan serangga
lebih tertarik menemukan inangnya. Respon dapat berupa gerak mendekat, menjauh maupun
mematikan serangga secara perlahan (Shimoda & Honda, 2013). Respon tersebut dijadikan
landasan oleh para peneliti untuk mengendalikan serangga hama di pertanian. Bentuk
pengendalian hama yaitu sticky trap, yellow trap, light trap, pemanfaatan senyawa atraktan,
repelen dan feromon, dan insektisida nabati maupun kimia. Hasil wawancara kepada petani
pada bulan Januari 2016 di Desa Selokerto, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang
menunjukkan sebagian besar petani jeruk menggunakan insektisida kimia dalam
mengendalikan serangan hama. Mereka menganggap insektisida kimia lebih efektif
menurunkan serangan hama. Light trap sudah diterapkan di pertanian untuk menurunkan
serangan OPT. Penggunaan cahaya lampu dalam mengendalikan hama berdasarkan
fotorespon serangga nokturnal terhadap cahaya. Menurut Shimoda & Honda (2013) cahaya
kuning pada lampu efektif mengendalikan aktivitas moth. Dengan mengetahui respon
serangga terhadap cahaya lampu pada warna yang berbeda, diharapkan dapat digunakan
sebagai alternatif dalam pengendalian serangga yang merugikan tanaman jeruk (Oktaviona,
2016).
Pengamatan dilakukan pada waktu malam hari dan siang hari untuk mendapatkan data
perilaku dari serangga yang memiliki waktu aktivitas berbeda. Seluruh serangga yang
mengunjungi bunga ditangkap untuk dianalisis kemungkinan fungsi mereka sebagai agen
penyerbuk. Serangga yang aktif pada siang hari ditangkap menggunakan jala serangga
sementara serangga yang aktif pada malam hari ditangkap menggunakan jalan serangga dan
light trap. (Tutut Indah ,2016)
Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat potensial dalam mendukung
keanekaragaman flora dan fauna (Ruslan, 2009). Menurut Setia (2012), hutan hujan tropis
memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dimana antara flora dan fauna saling
berinteraksi satu sama lain. Diantara hubungan interaksi yang ada adalah hubungan saling
menguntungkan satu sama lain. Hubungan saling menguntungkan ini akan membentuk
ekosistem yang seimbang (Yanika Bano Marheni, 2017)

IV. Alat dan Bahan


A. Alat
N
Nama Alat Jumlah
o
1 Lightrap 1 buah
2 Bola lampu berwarna 1 buah
3 Botol koleksi 1 buah
4 Kertas karton Secukupnya
5 Kertas label Secukupnya
B. Bahan

N
Nama Bahan Jumlah
o
1 Air Secukupnya
2 Alkohol 70% Secukupnya

V. PROSEDUR KERJA

No. Prosedur Kerja


1. Menempatkan lightrap pada tempat-tempat yang telah ditentukan seperti
pada langkah fitfall-trap
2. Masing-masing bola lampu di pasang pada lightrap dan menyalakannya
dalam kondisi tegak
3. Melakukan pemasangan mulai pukul 20.00 wib hingga 04.00 wib
4. Melakukan pengambilan sampel fauna noktural setiap 2 jam
5. Mengoleksi jenis serangga yang diperoleh
6 Melakukan identifikasi terhadap fauna terkoleksi

VI. HASIL PENGAMATAN DA PEMBAHASAN

A. Keanekaragaman Jenis Serangga


Hubungan keeratan antara serangkaian data kelimpahan suatu jenis hasil observasi
dengan keanekaragaman maksimum yang mungkin dicapai (richness) dan jumlah spesies
dapat menentukan indeks keanekaragamannya.Indeks Shannon-Wiener diperoleh dengan
perhitungan spesies darimkedua aspek tersebut dari distribusi individu diantara spesies.Odum
(1993) menyatakan bahwa fungsi Shannon atau indeks H’ menggabungkan komponen
keanekaragaman (variety) dan komponen kemerataan (eveness) sebagai suatu indeks
keanekaragaman secara keseluruhan (over all indeks for diversity) (Soegiyanto 1994 dalam
purwahyuni 2001).

B. Habitat Serangga
Serangga dapat ditemukan pada hampir semua habitat baik di lingkungan akuatik,
semi akuatik, dan di atas atau di bawah tanah (Borror, 1992).Oleh karena itu serangga
dikatakan bersifat kosmopolit.Aktivitas serangga sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya
matahari dan kemampuan dalam menyerap intensitas cahaya matahari yang berbeda-
beda.Beberapa serangga membutuhkan cahaya yang sedikit, sehingga serangga tersebut lebih
aktif melakukan aktivitasnya pada malam hari (nocturnal).Namun tidak jarang ada serangga
yang membutuhkan banyak dalam melakukan aktivitasnya sehingga lebih aktif pada siang
hari (diurnal).Hewan seringkali mengatur aktivitas mereka untuk menghindari dehidrasi
sehingga mereka bergerak ke tempat terlindung atau cenderung aktif pada malam hari
(Soejtipto, 1993).
Farb 1980 dalam Irawan 1990 menyatakan bahwa ada tiga hal yang menunjang
suksesnya kehidupan serangga dalam habitatnya, yaitu sebagai berikut.
a. Serangga mengalami metamorphosis sehingga pada tingkat larva dan dewasa hidup di
tempat yang berbeda dengan makanan yang berbeda pula.
b. Ada beberapa ordo yang memiliki sayap depan menebal menjadi penutup keras
sehingg melindungi bagian tubuh yang lunak.
c. Sebagian ordo memiliki mulut bertipe pengunyah sehingga dapat memakan makanan
yang keras.
C. Klasifikasi Serangga
Menurut E.L. Yordan dan P.S. Verma dalam Kastawi 1994, serangga diklasifikasikan
menjadi dua subklas, yaitu Apterygota dan Pterygota.Dasar pengklasifikasian ini adalah pada
ada tidaknya sayap. Menurut Kastawi dalam Brawan 1999, dua subclass tersebut ada 33 ordo
dan 12 diantaranya ditemukan di Indonesia, yaitu sebagai berikut.
1. Ordo Orthoptera
Hewan yang tergolong ordo ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Memiliki ukuran tubuh 4-75 mm
b. mempunyai dia sayap, sayap depan panjang menyempit dan sayap belakang meleba
c. Hewan tersebut memiliki tipe mulut penggigit dan pengunyah.
d. Hewan jantan mempunyai alat penghasil suara yang terletak di dada.
e. Contoh serangga yang tergolong dalam ordo ini adalah Blatella gertnatica.
2. Ordo Dermaptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a. Tubuh pipih dan berukuran 4-30 mm
b. Bersifat hemimetabola
c. Mulut bertipe pengunyah
d. Tidak bersayap atau dengan 1-2 sayap (sayap depan kecil seperti kulit, sayap belakang
seperti selaput, dan melipat di bawah depan bila sedang hinggap)
e. Hewan jantan mempunyai catut yang kokoh
f. Aktif pada malam hari (nocturnal)
g. Contoh spesies dalam ordo ini yaitu Farficula dan Anisolabis maritime
3. Ordo Mecoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut,
a. Tubuh ramping dengan kuran 1-35 mm
b. Bersifat holometabola
c. Mulut bertipe pengunyah
d. Antenna dan kaki panjang dengan kepala memanjang
e. Tidak bersayap atau memiliki dua pasang sayap yang panjang, sempit dan berupa
membran
f. Mempunyai organ penjepit yang terletak di ujung posterior abdomen dan organ tersebut
menyerupai organ penyengat pada kalajengking
g. Makanan berupa buah dan serangga yang mati
h. Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Panorpa rufescens dan
Hyloittacus picalis.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman
Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekarangaman ada enam dan tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Faktor waktu
Irawan (1999) menyebutkan bahwa waktu mempengaruhi kematangan suatu
komunitas selama perubahan waktu suatu organisme akan berkembang dan mengalami proses
keanekaragaman menjadi lebih baik. Ditambahkan lagi bahwa keanekaragaman ini
merupakan produk evolusi. Di daerah tropis organisme berkembang dan memiliki
keanekaragaman lebih tinggi dibandingkan dengan organisme di daerah kutub, dan komunitas
memiliki proses keanekaragaman sepanjang waktu sehingga komunitas yang lebih tua
memiliki lebih banyak spesies daripada komunitas yang muda.
2. Faktor heterogenitas spasial (ruang)
Menurut Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) relief atau topografi atau heterogenitas
makrospasial memiliki efek yang besar terhadap keanekaragaman spesies.Wilayah tropis
mempunyai kompleksitas lingkungan yang tinggi. Dalam hal ini factor fisik, komunitas
tumbuhan dan hewan sangat heterogen dan sangat cepat mengalami proses keanekaragaman
spesies. Di area yang memiliki relief topografi yang tinggi terdapat banyak habitat yang
berbeda sehingga berisi banyak spesies.
3. Faktor kompetisi
Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) menjelaskan bahwa peran kompetisi
mempengaruhi kekayaan spesies yang digambarkan melalui hubungan relung antar
spesies.Factor ini sangat penting dalam evolusi karena merupakan persyaratan habitat untuk
hewan dan tumbuhan menjadi lebih terbatas dan makanan untuk hewan juga menjadi sedikit.
Komunitas di daerah tropis memiliki lebih banyak spesies karena memiliki relung yang kecil
dan overlap relung yang tinggi.
4. Faktor predasi
Predasi dan kompetisi sama-sama mempengaruhi keanekaragaman spesies.Dalam
komunitas yang kompleks dan mendukung banyak spesies, interaksi yang dominan adalah
predasi, sedangkan dalam komunitas sederhana yang dominan adalah kompetisi.Keberadaan
predator dan parasit dapat menekan populasi mangsa sampai pada tingkat yang sangat
rendah. Adanya pengurangan kompetisi memungkinkan bertambahnya suatu spesies sehingga
akan mendukung munculnya predator baru.
5. Faktor stabilitas lingkungan
Faktor ini menunjukkan bahwa semakin stabil parameter lingkungan maka spesies
yang ada semakin banyak. Adanya kombinasi faktor stabilitas dengan waktu dapat
mempengaruhi keanekaragaman.
6. Faktor produktivitas
Menurut Krebs (1985) dalam Widagdo (2002) stabilitas dari produktivitas mempunyai
pengaruh utama terhadap keanekaragaman spesies dalam komunitas.Semakin besar
produktivitasnya, maka keanekaragamannya juga semakin besar. Namun tidak selalu benar
kalau semakin rendah produktivitasnya maka keanekaragamannya juga semakin rendah.

Waktu turut mempengaruhi keanekaragaman temporal yang dijumpai karena setiap


hewan memiliki siklus hidup yang membuatnya tidak selalu dapat teramati sebagai serangga
dewasa.Selain itu, waktu juga memiliki peran dalam aktivitas serangga setiap harinya.
Serangga malam yang dijumpai memiliki jam biologis pada malam hari untuk melakukan
aktivitas hidupnya seperti mencari makan dan tempat bersarang. Menurut Odum (1993)
serangga malam merupakan golongan hewan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya
untuk beraktifitas pada malam hari. Sebagai hewan berdarah dingin (poikilotermik) serangga
memiliki mekanisme pertahanan diri terhadap suhu yang rendah. Borror, dkk (1992)
menjelaskan bahwa beberapa serangga tahan hidup pada suhu-suhu yang rendah ini
menyimpan etilen glikol di dalam jaringan tubuh mereka untuk melindungi dari pembekuan.
VII. KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kami menemukan 5 spesies serangga dan serangga yang lebih dominan yaitu “Serangga
Kecil” dengan Indeks Dominansi 0,25 dan Indeks Keanekaragaman Shanoon winner
0,15.Sedangkan jenis spesies yang paling resisten adalah Ngengat dengan nilai indeks
Dominansi sebesar 0,0009 dan Indeks Keanekaragaman Shanoon Winner sebesar
0,0027.Hewan malam “serangga” akan terperangkap Light Trap karena hewan-hewan
tersebut mendekati cahaya.
2. Rangsangan dalam bentuk cahaya akan mempengaruhi kegiatan insekta malam. Cahaya
juga memberikan informasi vital tentang lingkungannya kepada binatang. Insekta adalah
makhluk hidup yang paling banyak di dunia, karena itu tak mengherankan bila
dimanapun kita berada hampir selalu menemukan mereka. Banyak jenis diantara insekta
yang merupakan pengganggu di lingkungan kita akan tetapi tidak sedikit pula yang
menguntungkan.

3. Hubungan antara kepentingan spesies secara umum menunjukan korelasi negatip artinya
komunitas akan mengandung sedikit spesies, dengan jumlah individu yang besar, dan
sebaliknya pada komunitas yang mempunyai banyak spesies, masing spesies dengan
cacah individu kecil. Kenekaragaman cenderung akan rendah apabila pada ekosistem
yang secara fisik atau mendapatkan tekanan lingkungan dan akan cenderung tinggi pada
ekosistem yang dibatasi, atau diatur faktor-faktor biotik.
4. Faktor lingkungan abiotik secara besarnyadapat dibagi atas faktor fisika dan faktor
kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas dan tekstur tanah. Faktor
kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah dan unsur-unsur mineral
tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan struktur komunitas hewan-hewan
yang terdapat di suatu habitat.
5. Faktor lingkungan biotik bagi hewan tanah adalah organisme lain yang juga terdapat di
habitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan golongan hewan lainya. Pada
komunitas itu jenis-jenis organisme itu saling berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Interaksi itu bisa berupa predasi, parasitisme, kompetisi dan penyakit. Dalam studi
ekologi hewan tanah, pengukuran faktor lingkungan abiotik penting dilakukan karena
besarnya pengaruh faktor abiotik itu terhadap keberadaan dan kepadatan populasi
kelompok hewan ini. Dengan dilakukannya pengukuran faktor lingkungan abiotik, maka
akan dapat diketahui faktor yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan dan kepadatan
populasi hewan yang di teliti. Tidak pula dapat dipungkiri, bahwa dalam mempelajari
ekologi hewan tanah perlu diketahui metode-metode pengambilan contoh di lapangan
karena hewan itu relatif kecil dan tercampur dengan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Koko Muarib, Akbar dan Dian Mutiara. 2015. Jenis-Jenis Serangga Nocturnal Pada Tanaman
Duku (Lansium Domesticum Corr.) Di Desa Srigeni Lama Kabupaten Oki Provinsi
Sumatera Selatan. Jurnal saintimika. Volume 12 (1).
Manurung, Binari. 2018. Ekologi Hewan. UNIMED PRESS. Medan.

Tutut Indah Sulistiyowati, Ramadhani Eka Putra. 2016. Perilaku Serangga Pengunjung Buah
Naga Merah (Hylocereus polyrhizus). Prosiding Seminar Nasional from Basic
Science to Comprehensive Education. ISBN: 978-602-72245-1-3

Oktaviona, Lupita. Preferensi Serangga Nokturnal Terhadap Warna Lampu Light Trap Di

Kebun Jeruk Siem. Jurnal Biologi. Vol 1 (1)

Yanika Bano Marheni, Abdulkadir Rahardjanto, Iin Hindun. 2017. Keanekaragaman


Serangga Permukaan Tanah Dan Peranannya Di Ekosistem Hutan Hujan Tropis Ranu
Pani.