Vous êtes sur la page 1sur 18

Pahlawan – Pahlawan Indonesia

Sebelum Tahun 1908


1. Pangeran Diponogoro

Lahir : 11 November 1785, Yogyakarta

wafat : 8 Januari 1855.

tempat dimakamkan : Makasar, Sulawesi Selatan

Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Dan
Pangeran Diponegoro adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro
mempunyai 17 putra dan 5 orang putri. la wafat di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur
69 tahun. Ia wafat sejak ia di asingkan ke Makasar oleh Jenderal De Kock, yaitu pemimpin pasukan
Belanda dalam perang Diponegoro yang melawan rakyat pribumi. Perang Diponegoro terjadi karena saat
Belanda membangun jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan
membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Ternyata di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam
dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal itu membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan
untuk melawan Belanda. Beliau kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang
melewati makam tersebut. karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 Belanda mengepung
rumah Diponegoro. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan
Diponegoro di Magelang. Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa
anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado,
kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di
Magelang. Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota
laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian
dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
2. Tuanku Imam Bonjol

Lahir : Tanjung Bunga, Pasaman, Sumatera Barat 1772

Wafat : 8 November 1864

Tempat Dimakamkan : Manado, Sulawesi Utara

Nama sesungguhnya adalah Muhammad Syahab. Semasa remaja , ia biasa dipanggil dengan nama Peto
Syarif. Pada saat remaja biasa di panggil Malim Basa. Tahun 1807 Malim basa mendirikan Benteng di
kaki bukit Tajadi yang kemudian diberi nama Imam Bonjol. Sejak saat itu ia dikenal dengan nama Tuanku
Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol wafat karena adanya Perang Paderi. Perang Paderi tarjadi karena pada
waktu itu di Minangkabau, sedang terjadi pertentangan yang hebat antara kaum Paderi (kaum agama)
dengan kaum adat tentang kehidupah bebas para kaum adat seperti berjudi dan mabuk mabukan. Pada
awalnya, pertentangan ini hanya melibatkan kaum adat dan kaum paderi saja. Tapi karena kedudukan
kaum adat semakin terdesak, Kaum adat lalu meminta bantuan kepada Belanda.

Sejak saat itu pulalah, Belanda ikut campur dalam pertentangan di Minangkabau. Lalu Belanda mulai
mendirikan benteng di Batu Sangkar dan di Bukit Tinggi untuk memperkuat kedudukannya. Tuanku Imam
Bonjol memliki banyak pengikut yang membuat Belanda kewalahan. Apalagi pada saat yang bersamaan,
Belanda juga terdesak dengan Perang Diponegoro sehingga Belanda merasa perlu “berdamai sementara”
dengan kaum paderi untuk mengalihkan kekuatan di Pulau Jawa menghadapi Perang Diponegoro.

Setelah berakhirnya perang Diponegoro, Belanda kembali menyerang Markas-markas Tuanku Imam
Bonjol. Namun Tuanku Imam Bonjol adalah panglima perang yang handal sehingga membuat Belanda
harus mengerahkan bantuan tambahan dan siasat-siasat licik.

Sehingga untuk menangkapTuanku Imam Bonjol, Belanda menggunakan cara-cara kotor dengan cara
mengajak berunding di seikitar Bukit Gadang dan Tujuh Lurah. Dan disitu pulalah Tuanku Imam Bonjol
ditangkap pada tanggal 25 Oktober 1937.

Tuanku Imam Bonjol lalu ditawan di Bukit Tinggi lalu diasingkan dari Cianjur lalu ke Ambon dan terakhir
di Manado. Tuanku Imam Bonjolakhirnya wafat di Manado pada tanggal 8 November 1864.
Pemerintah lalu menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepadanya berdasarkan SK Presiden RI No
087/TK/1973.
3. Sultan Hasanuddin

Nama Tokoh : Sultan Hasanuddin

Tempat / tanggal lahir : Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631

Wafat : Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 (39 tahun)

Tempat Makam : Komplek Pemakaman, Jl. Palantika, Kelurahan Ketangka, Gowa, Makassar

Deskripsi Perjuangan : Ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian


timur untuk melawan Kompeni. Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan
pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18
November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena
itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara
ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan
sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni
berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan
Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
4. Cut Nyak Meutia

Tempat / tanggal lahir : Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870


Wafat : Alue Kuring, Aceh, 24 Oktober 1910

Tempat Makam : Alue Kuring, Aceh

Deskripsi perjuangan : Berjuang melawan Belanda di Aceh bersama suaminya yang bernama Teuku
Muhammad (Teuku Tjik Tunong). Ia melakukan perlawanan dengan sisa pasukannya. Ia menyerang dan
merampas pos – pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada
tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue
Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.
5. Patti Mura

Nama Lengkap : Kapitan Pattimura


Nama Asli: Thomas Matulessy

Tanggal Lahir: Negeri Haria, Pulau Saparua-Maluku, tahun 1783

Meninggal : Benteng Victoria, Ambon, 16 Desember 1817

Perjuangan : Perlawannya terhadap penjajah Belanda pada tahun 1783. Perlawannya terhadap penjajahan

Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah
sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap.
Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada
tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya.

Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau kompromi dengan
Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk
melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Beliau memilih gugur di tiang gantung
sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali
rahim ibu yang melahirkannya.

Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak wilayah Indonesia yang pernah
dikuasai oleh dua negara kolonial secara bergantian. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu
negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan, tanpa perebutan. Demikianlah wilayah
Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris
dan kembali lagi oleh Belanda.

Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Pada tahun 1798, wilayah
Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika
pemerintahan Inggris berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan terakhir
berpangkat Sersan.

Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada tahun 1816, Belanda kembali lagi
berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa, rakyat Maluku langsung mengalami
penderitaan. Berbagai bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil
pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun
sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di
Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku.
6. Cut Nyak Dien

Tanggal Lahir : Lampadang, Aceh tahun 1850

Wafat : Sumedang Jawa Barat tahun, 6 November 1908

Makam : Gunung puyuh, Sumedang, Jawa Barat

Perjuangan : Cut Nyak Dien menikah pada usia 12 tahun dengan Teuku Cik Ibrahim Lamanga. Namun
pada saat pertempuran di Gletarum, Juni 1878, Suami Cut Nyak Dien (Teuku Ibrahim) gugur. Kemudian
Cut Nyak dien bersumpah hanya akan menerima pinangan dari laki-laki yang bersedia membantu untuk
menuntut balas kematian sang suami.

Cut Nyak Dien akhirnya menikah kembali dengan Teuku Umar tahun 1880, kemenakana ayahnya Seorang
pejuang Aceh yang juga cukup disegani oleh Belanda. Sejak itu Cut Nyak Dien selalu berjuang berama
suami barunya, Teuku Umar (September 1893- Maret 1896). Dalam perjuangannya, Teuku Umar berpura-
pura bekerjasama dengan Belanda sebagai taktikuntuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang
lainnya. Sementara Itu Cut Nyak Dien tetap berjuang melawan Belanda di Kampung halaman Teuku
Umar. Teuku Umar akhirnya bergabung lagi kembali dengan para pejuang setelah taktiknya diketahui oleh
Belanda.
Tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh namun Cut Nyak Dien
tetap meneruskan perjuanngannya dengan bergerilya dan tidak pernah mau berdamai dengan Belanda yang
disebutnya “Kafir-Kafir”.

Perjuangannya yang berat karena memaksanya beserta pasukannya keluar masuk hutan menyebabkan
keadaan Cut Nyak Dien drop dan menderita sakit Encok.

Karena kasihan dengan keadaan Cut Nyak Dien, para pengawalnya membuat kesepakatan dengan Belanda
asal “Cut Nyak Dien tidak diperlakukan sebagaiorang terhormat dan bukan sebagai penjahat perang”

Sebagai tawanan, Cut Nyak Dien masih sering kedatangan tamu dan karenanya Belanda masih
menghkawatirkan pengaruh Cut Nyak Dien sehingga membuangnya ke Sumedang.
Cut NYak Dien akhirnya wafat di Pengasingan sebagaipejuang wanita berhati baja dan ibu bagi rakyat
Aceh.

Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Cut Nyak Dien
berdasarkanSK Presiden RI No 106/1964.
7. Christina Martha Siahahu

Lahir : Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800

Wafat : Laut Maluku, 2 Januari 1818

Makam : Laut Maluku

Christina Martha Siahahu adalah putri dari seorang pemimpin pejuang rakyat Maluku, Kapitan Paulus
Tiahahu. Sejalan dengan semakin meluasnya perlawanan yang dilakukan Kapitan Pattimura di Saparua,
penduduk di Nusa Laut pun gigih berjuang melawan Belanda. Christina Martha Siahahu yang saat itu
masih amat muda terlah ikut berperang mendampingi ayahnya. Christina Martha dan ayahnya juga sempat
menguasai Benteng Beverwijk.

Belanda kemudian menugaskan perwira angkatan lautnya untuk pergi ke Nusa Laut untuk memerangi
pejuang-pejuang disana. Perlawanan rakyat Nusa Laut akhirnya dapat dipatahkan dan Benteng Beverwijk
berhasil dikuasai kembali oleh Belanda pada tanggal 10 November 1817.

Christina dan ayahnya akhirnya dapat ditangkap oleh Belanda dan mendapatkan hukuman. Ayahnya
mendapat hukuman mati, sementara Christina dibebaskan oleh Belanda akibat belum cukup umur / terlalu
muda. Paulus mengajak anaknya untuk melihat eksekusi tembak mati yang dilakukan oleh Belanda
terhadap ayahnya, dan Christina melihat itu semua dengan tegar.

Setelah dibebaskan berupaya untuk memberontak lagi. Akhinya ia kembali ditangkap bersama 39
pemberontak lainnya. Christina Martha Siahahu dihukum dibuang ke Pulau Jawa. Christina bersama
pemberontak lainnya diangkut ke Pulau Jawa dengan menggunakan kapal Evertzen.
Di atas kapal, Christina Martha Siahahu jatuh sakit. Namun ia menolak untuk diberi makan dan diobati
oleh Belanda sehingga akhirnya ia meninggal dalam perjalanan. Jenazahnya kemudia secara diam-diam
diturunkan ke laut oleh seorang perwira Belanda yang bersimpati pada perjuangannya.

Untuk menghormati jasa-jasa Christina Matha Tiahahu, berdasarkan Surat Keputusan Presiden
RI No. 012/TK/1969, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepadanya.
8. Pangeran Antasari

Lahir : Banjarmasin, 1797


Wafat : Bayan Begak, 11 Oktober 1862

Makam : Banjarmasin.

Perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda dimulai saat Belanda mengangkat Tamjidillah sebgai Sultan
Banjar menggantikan Sultan Adam yang wafat. Rakyat Banjar dan keluarga besar Kesultanan Banjar,
termasuk Pangeran Antasari, menuntut agar Pangeran Hidayatullah, sebagai pewaris takhta Kesultanan
Banjar, harus menjadi Sultan Banjar. Sejak saat itulah, rakyat Banjar dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah,
Pangeran Antasari, dan Demang Leman mengangkat senjata melawan Belanda.

Pangeran Antasari ebrhasil menyerang dan menguasai kedudukan Belanda di Gunung Jabuk. Pangeran
Antasari jugat menyerang tambang batubara Belanda di Pengaron. Pejuang-pejuang Banjar juga berhasil
menenggelamkan kapal Onrust beserta pemimpinnya, seperti Laetnan Van der Velde dan Letnan Bangert.
Peristiwa yang memalukan Belanda ini terjadi atas siasat Pangeran Antasari dan Tumenggung Suropati.

Pada Tahun 1861, Pangeran Hidayatullah berhasil ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Cianjur, Jawa
Barat. Pangeran antasari kemudian mengambil alih pimpinan utama. Ia diangkat oleh rakyat sebagai
Panembahan Amiruddin Khafilatul Mu’min, sehingga kualitas peperangan menjadi semakin meningkat
karena ada unsur agama. Sayang, Pangeran Antasari akhirnya wafat tanggal 11 Oktober 1862 karena
penyakit cacar yang saat itu sedang mewabah di Kalimantan Selatan. Padahal, saat itu, ia sedang
menyiapkan serangan besar-besaran terhadap Belanda.

Untuk menghormati jasa-jasa Pangeran Antasari, berdasarkan Surat Keputusan Presiden


RI, No.06/TK/1968, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasionak Kepadanya.
9. Teuku Umar

Lahir : Meulaboh, Aceh, 1854 ( bulan dan tanggal tidak disebutkan )

Wafat : Meulaboh , Aceh, 11 February 1899

Makam : Kampung Mugo,Pedalaman Meulaboh

Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun
1873 hingga tahun 1899. Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati
yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta
berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia
berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar
juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh
lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang
kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik
(kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kemudian Teuku Umar menikah dengan Cut Nyak Dien, sebelemnya Cut Nyak Dien sudah memiliki
suami, tetapi meninggal dunia, kemudia ia menikah dengan Cut Nyak Dien. Kemudian mereka berdua
melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun
1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi
bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar
berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu,
dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan
Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer.
Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan
dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata
lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh.
Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah
memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu,
pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang
Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan
Gubernur Ban Teijn.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa
pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar.
Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela
rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan
Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar
mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut
menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-
luka di pihak Belanda.

Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz
diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan
secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan
perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar
Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah
air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga
diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.
10. Sisingamangaraja XIII

lahir : Bakara, Tapanuli, 1849

Wafat : Simsim,17 Juni 1907

Makam : Pulau Samosir

Nama aslinya Patuan Besar Ompu Pulo Batu. Nama Sisingamaraja XII baru dipakai pada 1867, setelah ia
diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat. Sabng ayah meninggal akibat serangan
penyakit kolera.
Febuari 1878, Sisingamaraja mulai melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Kolonial Belanda. Ini
dilakukan untuk mempertahankan daerah kekuasaannya di tapanuli yang dicaplok Belanda. Dimulai dari
penyerangan terhadap pos-pos Belanda lainnya terus berlangsung di antaranya sebagai berikut:

– Mei 1883, pos Belanda di Uluan dan Balige diserang oleh pasukan Sisingamaraja.

– Tahun 1884, pos Belanda berhasil memperkuat pasukan bdan persenjataannya. Kondisi ini

membuat pasukan Raja Batak ini semakin terdesak danb terkepung. Pada pertempuran inilah
Sisingamaraja XII gugur tepatnya padab tanggal 17 Juni 1907. Bersama-sama dengan purinya (Lopian)
dan dua orang putranya (Patuan Nagari dan Putaun Anggi)

Sisingamaraja kemudian dimakamkan di Balige dan selanjutnya kembali dipindahkan ke pulau Samosir.
Sisingamaraja dianugrahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional berdasarkan SK Presiden
RI No.590/1991
11. Dewi Sartika

Tanggal Lahir : 4 Desemeber 1884


Tempat Lahir : Cicalengka, Bandung, Jawa Barat
Wafat : 11 Septembet 1947 ( umur 62 ) di Tasikmalaya, Jawa Barat

Biografi Singkat Dewi Sartika


Ketika anak-anak beliau selalu memainkan peran sebagai seorang guru dengan teman-temannya
setelah sekolah. Sepeninggalan ayahnya yang sudah meninggal. Beliau tinggal bersama
pamannya. Saat itu beliau mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan budaya sunda.

Sekitar tahun 1899, Dewi Sartika pindah ke kota Bandung. Dan pada tanggal 16 Januari 1904,
beliau mendirikan sekolah yang diberi nama Sekolah Isteri di darah Pendopo Kabupaten
Bandung.

Setelah itu sekolah yang didirikannya itu berkembang menjadi 9 sekolah yang tersebar di seluruh
Jawa Barat. Dan kemudian semakin berkembang menjadi satu sekolah di setiap kota maupun
kabupaten pada tahun 1920. Kemudian pada bulan September 1929 berubah nama menjadi
Sekolah Raden Dewi.
12. Ki Hadjar Dewantara

Tanggal Lahir : 2 Mei 1889


Tempat Lahir : Pakualaman, Yogyakarta
Wafat : 26 April 1959 ( umur 69 tahun ) di Yogyakarta
Agama : Islam

Biografi Singkat Ki Hadjar Dewantara


Beliau merupakan pelopor pendidikan, politisi dan aktivis pergerakan kemerdekaan
Indonesia. Ki Hadjar Dewantara juga merupakan pendiri suatu lembaga pendidikan yang
memberikan kesempatan untuk para pribumi jelata dalam menuntut ilmu seperti halnya priyayi
ataupun orang-orang Belanda lainnya.

Hari Pendidikan Nasional ditetapkan sesuai dengan tanggal kelahiran beliau untuk menghormati
jasa-jasanya. Salah satu semboyan Ki Hadjar Dewantara pun dijadikan slogan untuk Kementrian
Pendidikan Nasional Indonesia.
TUGAS KELOMPOK

FOTO BESERTA BIOGRAFI PAHLAWAN


INDONESIA SEBELUM TAHUN 1908

NAMA ANGGOTA :
1. REVALINA RAMADHANI
2. AYU FEBRIANTI
3. MELVINA YUBELIA
4. I GEDE SATIYO