Vous êtes sur la page 1sur 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bawang Bombay

2.1.1 Klasifikasi dan Tinjauan Umum

(a) (b)

Gambar 1. Morfologi tanaman bawang bombay (Allium cepa l), (a) batang dan daun bawang
bombay, (b) umbi bawang bombay (Wibowo.2007)

Bawang Bombay merupakan terna rendah yang tumbuh tegak dan tinggi

dapat mencapai 15 – 50 cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman semusim.

Perakarannya berupa akar serabut yang tidak panjang dan tidak terlalu dalam

tertanam dalam tanah.Seperti juga bawang putih dan bawang merah , tanaman ini

termasuk tidak tahan kekeringan (Wibowo, 2007).

Tanaman ini memiliki batang sejati atau disebut “discus” yang berbentuk

seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekatnya akar dan mata tunas

(titik tumbuh), diatas discus terdapat batang semu yang tersusun dari pelepah

5
6

pelepah daun dan batang semu yang berbeda di dalam tanah berubah bentuk dan

fungsi menjadi umbi lapis (Rahayu dan Berlian, 1999).

Berdasarkan taksonominya tanaman bawang bombay diklasifikasi sebagai berikut:

Kerajaaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Bangsa : liliales

Suku : Liliaceae

Marga : Allium

Jenis : Allium cepa l

(Sutarmi, 1986)

2.1.2 Kandungan Kimia dan Aktivitas Biologis

Bawang bombay mengandung kaya akan vitamin A, vitamin B1, vitamin

B2, vitamin B6, vitamin C, PP dan garam mineral seperti sodium, zinc, besi,

fosfor, belerang, kalsium, potasium, iodin, dan magnesium. Bawang bombay juga

mengandung minyak esensial sekitar 0,2-0,5% yang terdiri dari disulfida,

trisulfida, n-propil yang merupakan komponen dari dwimetylotiofen, minyak

essensial ini tersebar di seluruh bagian tanaman bawang bombay. Bawang

bombay juga mengandung asam amino seperti sistein dan methionin, dan kalsium

oksida sekitar 20%, pada bagian kulit luar pada bawang bombay ini kaya akan

senyawa flavonoid terutama senyawa quercetin dan kempferolu, bawang bombay

juga mengandung komponen belerang seperti dimetil sulfosida, propynylocystein

S-, propyl-, metil-, propynyloalline. Berdasarkan kandungan senyawa nya bawang


7

bombay berkhasiat sebagai antibakteri, antivirus, antiinflamasi, membantu

memperkuat daya tahan tubuh, mencegah penyakit dan infeksi (Gorenstein.2006).

2.2 Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu jenis komponen yang terkandung dalam

tanaman dan dapat ditemukan pada semua tanaman vaskuler. Flavonoid adalah

komponen yang mempunyai berat molekul rendah dan pada dasarnya merupakan

fenilbenzopiron (phenylchromones) dengan berbagai variasi pada struktur

dasarnya, yaitu tiga cincin utama yang saling melekat.Struktur dasar ini terdiri

dari dua cincin benzen (A dan B) yang dihubungkan melalui cincin heterosiklik

piran atau piron (dengan ikatan ganda) yang disebut cincinC (Middleton

dkk.,2000). Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri atas 15

atomkarbon yang membentuk susunan C6-C3-C6.Kerangka dasar dari flavonoid

ditunjukkan oleh Gambar 2 (Kristanti dkk., 2008).

Gambar 2. Kerangka dasar flavonoid (Vermerris, W and Nicholson R, 2006)

Flavonoid adalah kelompok penting dari polifenol, umumnya terdapat

pada tumbuhan. Sebanyak 4.000 flavonoid diketahui berada pada pigmen dari

tanaman tingkat tinggi. Kuersetin, kaemferol dan kuersitrin umumnya merupakan

flavonoid yang terdapat hampir 70 % pada tumbuhan. Flavonoid diturunkan dari

senyawa induknya yang dikenal dengan flavan (Singh, 2002).


8

Susunan C6-C3-C6dapat menghasilkan tiga jenis struktur, yaitu 1,3-

diarilpropan (flavonoid), 1,2-diarilpropan (isoflavonoid) dan 1,1-diarilpropan

(neoflavonoid). Berdasarkan struktur 1,3-diarilpropan, terdapatbeberapa jenis

flavonoid bergantung pada tingkat oksidasi rantai propan (C3).Salah satu jenis

flavanoid yaitu flavanol (katekin). Terdapat tiga jenis katekin yang perbedaannya

hanya pada jumlah gugus hidroksil pada cincin B (1, 2 atau 3). Atom H pada C-2

dan C-3 dalam senyawa katekin berposisi trans sedangkan pada epikatekin kedua

atom H berposisi cis (Kristanti dkk., 2008).

Gambar 3. Jenis-jenis flavonoid, (a) flavon, (b) flavonol, (c) isoflavon, (d) flavanon,

(e) kalkon, (f) auron (Mabry, et al., 1970)

Jenis utama flavonoid adalah antosianidin, flavonol, flavon, flavonon, dan

isoflavon (Spencer et al., 2003).Flavonol dan flavon merupakan senyawa yang

tersebar luas dari semua pigmen tumbuhan kuning(Robinson, 1995).Flavonol dan

flavon yang terdapat dalam tanaman, biasanya dalam bentuk O-

glikosida.Perbedaan yang paling utama antara flavonol dan flavon yaitu pada

flavonol terdapat gugus hidroksi pada gugus C3.Keduasenyawa ini banyak

terdapat pada bagian daun dan bagianluar daritanaman, danhanya sedikit yang

ditemukan pada bagian tanaman yang berada di permukaan tanah (Hertog dkk.,
9

1992). Apabila dibandingkan dengan jenis flavonoid lain, jenis flavonol dan

flavon merupakan dua dari jenis falvonoid yang paling banyak terdapat dalam

tanamansayur-sayuran (Robinson, 1995).

Flavonol terdiri atas kuersetin, kaemferol, dan mirisetin.Senyawa kuersetin

merupakangolongan flavonol yang paling banyak terdapat dalamtanaman dan

merupakan senyawa yang paling aktif dibandingkan senyawa lain dari golongan

flavonol (Fuhrman dan Aviram, 2002). Flavon yang terdiri atasapigenin dan

luteolin, hanya ditemukan pada bahan pangan tertentu, contohnya seledri yang

mengandung luteolin dan apigenin, lada yang hanya mengandung luteolin, dan

peterseli yang hanya mengandung apigenin (Lee, 2000). Kuersetin glikosida

merupakan komponen yang paling menonjol, namun juga terdapat glikosida dari

kaemferol, luteolin, danapigenin dalam sayur-sayuran (Hertog dkk., 1992).

Senyawa flavonoid lain yang juga berada di alam yaitu kalkon dan auron.

Kalkon merupakan aglikon flavonoid yang pertama kali terbentuk dalam

biosintesis semua varian flavonoid melaui jalur prazat dari alur sikimat dan alur

asetat malonat sedangkan auron merupakan turunan dari kalkon. Auron termasuk

golongan flavonoid yang menghasilkan warna kuning pada beberapa mahkota

bunga tertentu. Auron tidak mempunyai struktur inti flavonoid, tetapi

biosintesisnya secara langsung diturunkan dari kalkon yang merupakan prekusor

yang sangat penting dari semua flavonoid (Markham, 1988).

Flavonoid memiliki kontribusi yang penting dalamkesehatan manusia.

Menurut Markham (1988), disarankan agar setiap harinya manusiamengkonsumsi

beberapagram flavonoid. Flavonoid memiliki ikatan difenilpropana (C6-C3-C6)

yangdiketahui sebagai antimutagenik dan antikarsinogenik.Selain itu senyawa


10

inijuga memiliki sifat sebagai antioksidan, anti peradangan, anti bakteri, anti

alergi, dan dapatmenghambat oksidasi dari LDL (Low Density Lipoprotein).

2.3 Ekstraksi

Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan kimia berdasarkan pada

kelarutan komponen dengan pelarut yang digunakan. Ekstraksi menggunakan

simplisia bertujuan untuk memisahkan senyawa bahan alam dari jaringan kering

tumbuhan. Mikroorganisme dan hewan. Metode ekstraksi yang tepat ditentukan

oleh tekstur, kandungan air, bahan bahan yang akan di ekstrak dari senyawa –

senyawa yang akan di isolasi. Jika substansi yang akan di ekstrak terdapat di

dalam campuranya yang berbentuk padat, maka di laukukan proses ekstraksi

padat-cair (Rusdi.1998).

Maserasi merupakan contoh metoe ekstraksi padat – cair bertahap yang

dilakukan dengan jalan membiarkan padatan terendam dalam suatu pelarut. Proses

perendaman dalam usaha mengekstraksi suatu substansi dari bahan alam ini bisa

dilakukan tanpa pemanasan, dengan pemansan atau bahkan pada suhu pendidihan.

Salah satu keuntungan metode maserasi adalah cepat, terutama jika maserasi

dilakukan pada suhu didih pelarut (Kristanti dkk.2008). Secara teoritis pada suatu

maserasi tidak memungkinkan terjadinya ekstraksi absolut. Semakin besar

perbandingan cairan pengekstraksi terhadap simplisia , akan semakin banyak hasil

yang diperoleh (Voigt.1995).

Ekstraksi biasanya dimulai dengan menggunakan pelarut organik secara

beruurutan dengn kepolaran yang semakin meningkat. Pelarut n-heksan, eter,

petrolium eter, atau kloroform yang dapat digunakan untuk mengambil senyawa

yang kepolaranya rendah. Pelarut yang lebih polar seperti alkohol, dan etil asetat
11

diguanakan untuk mengambil senywa yang lebih polar. Hal ini berdasarkan

kaidah like disolve like yang artinya suatu senyawa polar akan larut dalam pelarut

yang polar begitu juga senyawa non polar akan larut dalam pelarut yang non

polar.(Kristanti dkk. 2008).

2.4 Fraksinasi

Fraksinasi merupakan proses pemisahan antara zat cair dengan zat cair.

Fraksinasi dilakukan secara bertingkat berdasarkan tingkat kepolarannya yaitu

dari non polar, semi polar, dan polar. Senyawa yang memiliki sifat non polar akan

larut dalam pelarut non polar, yang semi polar akan larut dalam pelarut semi

polar, dan yang bersifat polar akan larut ke dalam pelarut polar (Harborne, 1987).

Proses fraksinasi ini dapat menduga sifat kepolaran dari senyawa yang akan

dipisahkan. Teknik ekstraksi cair-cair terdiri dari beberapa tahap, yaitu kontak

antara pelarut dengan fase cair yang mengandung komponen yang akan diambil

(solute), kemudian solute akan berpindah dari fase umpan (diluen) ke fase pelarut.

Selanjutnya pemisahan dua fase yang tidak saling melarutkan, yaitu fase yang

banyak mengandung pelarut disebut fase ekstrak dan fase yang banyak

mengandung umpan disebut fase rafinat (Laddha and Degalesan, 1976).

Prinsip dasar ekstraksi cair-cair mengikuti Hukum Distribusi Nernst atau

disebut juga Hukum Partisi yang menyatakan bahwa “apabila suatu analit

dilarutkan ke dalam dua pelarut yang tidak saling campur, maka analit akan

terdistribusi dalam proporsi yang sama (merata) diantara dua pelarut yang tidak

saling campur”. Salah satu teknik ekstraksi cair-cair yang paling sering digunakan

adalah teknik ekstraksi berulang menggunakan corong pisah. Caranya paling

sederhana, yakni dengan hanya menambahkan pengekstrak yang tidak saling


12

campur dengan pelarut awal, kemudian dilakukan penggojogan hingga terjadi

kesetimbangan analit dalam kedua fase, didiamkan dan dipisahkan. Kelemahan

ekstraksi ini yakni kurang praktis, dan ada kemungkinan besar hilangnya analit

selama proses ekstraksi (Khopkar, 1990).

2.5 Antibakteri

2.5.1 Definisi antibakteri

Antibakteri secara umum adalah suatu komponen yang bersifat dapat

menghambat pertumbuhan (bakteriostatik) atau membunuh (bakterisidal), dan

digunakan untuk pengobatan infeksi pada manusia dan hewan

(Ganiswara,dkk,1995).

Aktivitas bakteriostatik yakni antibakteri tersebut berperan dalam

menghambat pertumbuhan bakteri dan jika bahan antibakteri dihilangkan maka

perkembangbiakan bakteri berjalan seperti semula. Sedangkan aktivitas

bakterisidal yakni antibakteri digunakan untuk membunuh bakteri serta jumlah

total organisme yang dapat hidup. Daya bakterisidal berbeda dengan bakteiostatik

karena prosesnya berjalan searah, yaitu bakteri yang telah mati tidak dapat

dibiakkan kembali meskipun bahan bakterisidal dihilangkan (Lay,1992).

2.5.2 Mekanisme kerja antibakteri

Zat antibakteri dalam melakukan efeknya, harus dapat mempengaruhi

bagian-bagian vital sel seperti membran sel, enzim-enzim dan protein struktural.

Pelczar (1998), menyatakan bahwa mekanisme kerja zat antibakteri dalam

melakukan efeknya terhadap mikroorganisme adalah sebagai berikut:


13

a. Antibakteri yang merusak dinding sel

Pada umumnya bakteri memiliki sutau lapisan luar yang kaku disebut

dinding sel (peptidoglikan), sintesis dinding sel ini melibatkan sejumlah langkah

enzimatik. Rusaknya dinding sel bakteri misalnya karena pemberian enzim

lisosim atau hambatan pembentukanya oleh karena obat antibakteri dapat

menyebabkan sel bakteri lisis. Kerusakan dinding sel bakteri akan berakibat

terjadinya perubahan yang mengarah pada kematian sel karena dinding sel

berfungsi sebagai pengatur pertukaran zat-zat dari luar dan ke dalam sel, serta

memberi bentuk sel.

b. Antibakteri yang mengubah permeabilitas membran sel

Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh selaput yang disebut membran

sel yang mempunyai permeabilitas selektif, membran ini tersusun atas fosfolipid

dan protein. Membran sel berfungsi untuk mengatur keluar masuknya zat antar sel

dengan lingkungan luar, melakukan pengangkutan zat-zat yang diperlukan aktif

dan mengendalikan susunan dalam diri sel. Proses pengangkutan zat-zat yang

diperlukan baik kedalam maupun keluar sel dimungkinkan karena di dalam

membran sel terdapat enzim protein untuk mensintesis peptidoglikan komponen

membran luar. Dengan rusaknya dinding sel bakteri secara otomatis akan

berpengaruh pada membran sitoplasma, beberapa antibakteri dapat menyebabkan

kerusakan pada membran sel bahan bahan ini akan menyerang dan merusak

membran sel sehingga fungsi permeabilitas membran mengalami kerusakan,

kerusakan pada membran sel ini akan mengakibatkan terhambatnya sel atau

matinya sel.
14

c. Antibakteri yang mengakibatkan kerusakan sitoplasma

Sitoplasma atau cairan sel terdiri atas 80% air, asam nukleat, protein,

karbohidrat, lipid, ion anorganik dan berbagai senyawa dengan bobot molekul

rendah. Kehidupan sutau sel tergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya, konsentrasi tinggi beberapa

zat kimia dapat mengakibatkan koagulasi dan denaturasi komponen-komponen

seluler yang vital.

d. Antibakteri yang menghambat kerja enzim

Dalam sel terdapat enzim dan protein yang membantu kelangsungan

proses-proses metabolisme, banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu

reaksi biokimia misalnya logam-logam berat, golongan tembaga, perak, air raksa

dan senyawa logam berat lainnya. Logam-logam ini akan mengikat gugus enzim

sulfihidril yang berakibat terhadap perubahan protein yang terbentuk,

penghambatan ini dapat mengakibatkan tergnggunya metabolisme atau matinya

sel.

e. Antibakteri yang menghambat sintesis asam nukleat dan protein

DNA, RNA dan protein memegang peranan amat penting dalam sel,

beberapa bahan antimikroba dalam bentuk antibiotik misalnya kloramfenikol,

tetrasiklin menghambat sintesis protein. Sedangkan sintesis asam nukleat dapat

dihambat oleh senyawa antibiotik misalnya mitosimin, bila terjadi gangguan pada

pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan

total pada sel.


15

2.5.3 Uji Antibakteri

Uji senyawa antibakteri adalah untuk mengetahui apakah senyawa uji

dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengukur respon pertumbuhan

populasi mikroorganisme terhadap agen antibakteri. Obat yang digunakan untuk

membasmi bakteri penyebab infeksi pada manusia harus memiliki sifat toksisitas

selektif setinggi mungkin bersifat sangat toksik untuk bakteri, tetapi relatif tidak

toksik untuk hospes (Pratiwi, 2008).

2.5.3.1 Metode Difusi

Prinsip metode difusi adalah pengukuran potensi antibakteri berdasarkan

diameter daerah hambatan bakteri karena berdifusinya obat dari titik awal

pemberian kedaerah difusi. Metode yang paling sering digunakan adalah metode

difusi agar, menggunakan cakram kertas saring yang berisi sejumlah tertentu obat

yang ditempatkan pada permukaan medianya, setelah di inkubasi, diameter zona

hambat hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan

obat terhadap organisme uji (Jawetz,1996).

Penuangan media metode difusi ke dalam cawan petri ada dua cara, yaitu

metode pour plate dan spread plate. Pada metode pour plate sebanyak 1ml atau 0,1

ml larutan biakan aktif dimasukan kedalam cawan petri kosong kemudian

ditambahkan media agar dalam keadaan hangat dan dihomogenkan, dibiarkan

memadat dan koloni bakteri akan berada diatas maupun di bawah media padat.

Pada metode spread plate, sebanyak 1ml atau 0,1 ml larutan biakan aktif

dimasukan dalam cawan petri berisi media padat kemudian diratakan dengan L

glass, koloni bakteri akan berada di atas permukaan media padat saja (Tortora,
16

2001). Zona bening diukur menggunakan penggaris dengan cara mengurangi

diameter keseluruhan dengan diameter cakram (Volk dan Wheeler, 1993).

2.5.3.2 Metode Dilusi

Metode ini dilakukan dengan cara mencampurkan zat antibakteri dan

media agar, yang kemudian diinokulasi dengan bakteri uji. Hasil pengamatan

yang akan diperoleh adalah tumbuh atau tidaknya bakteri dalam media. Aktivitas

antibakteri ditentukan dengan melihat konsentrasi hambat minimum (KHM), yang

merupakan konsentrasi terkecil dari suatu zat yang mampu memberikan efek

penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri uji (Jawetz, 1996). Menurut Volk

dan Wheeler (1993), metode ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Penipisan Lempeng Agar

Cara ini dilakukan dengan mengencerkan zat yang akan diuji sehingga

mengandung 100 µg/mL, kemudian dari larutan induk ini dibuat seri konsentrasi

dengan metode pengenceran kelipatan dua dalam media agar yang masih cair (45-

50ºC) lalu dituangkan ke dalam cawan petri. Bakteri uji diinokulasikan setelah

campuran agar dan zat uji membeku dan kering. Lalu diinkubasi dengan kondisi

optimum bakteri uji. Aktivitas dari zat uji ini dilihat dari hasil konsentrasi

hambatan minimum (KHM) zat uji. Konsentrasi hambatan minimum pada biakan

agar ditunjukkan dengan hasil biakkan yang mulai tampak jernih (tidak ada

pertumbuhan bakteri).

2. Pengenceran Tabung

Prinsip dari cara ini adalah pengahambatan pertumbuhan bakteri dalam

pembenihan cair oleh suatu zat antibakteri yang dicampur ke dalam pembenihan.

Suatu seri larutan zat uji dibuat dengan konsentrasi tertentu dengan cara
17

pengenceran kelipatan dua dalam media cair, kemudian diinokulasikan dengan

bakteri uji dan diinkubasikan sesuai kondisi optimum dari bakteri uji. Aktifitas

dari zat uji ini dilihat dari hasil konsentrasi hambatan minimum (KHM) dengan

melihat kejernihan pada tabung zat uji. Hambatan pertumbuhan bakteri ditentukan

dengan mengukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer pada

panjang gelombang 530 nm.

2.6 Escherichia coli

Bakteri merupakan organisme uniseluler, prokariotik, dan umumnya tidak

memiliki klorofil dengan ukuran rata-rata selnya 0,5-1 x 2-5 μm, memiliki bentuk

yang beraneka ragam yaitu kokus (bulat), basil (batang), dan spirilia (spiral).

Selain berinteraksi intraspesies, bakteri tersebut juga berinteraksi secara

interspesies dengan manusia, tumbuhan, dan hewan. Dalam interaksinya dengan

manusia, bakteri tersebut ada yang bersifat berbahaya dan yang tidak berbahaya.

Salah satu contoh bakteri patogen adalah Escherichia coli yang diketahui dapat

menyebabkan diare, kolera, dan berbagai penyakit pada saluran pencernaan.

Escherichia coli pertama kali ditemukan oleh seorang bacteriologist yang

berasal dari Jerman bernama Theodor Von Escherich pada tahun 1885. Secara

alamiah E. coli adalah penghuni umum dalam pencernaan manusia dan hewan

(Melliawati, 2009). Adapun taksonomi dari E. coli sebagai berikut;

Superdomain : Phylogenetica

Filum : Proterobacteria

Kelas : Gamma Proteobacteria

Ordo : Enterobacteriales

Family : Enterobacteriaceae
18

Genus : Escherichia

Species : Escherichia coli

Bakteri E. coli merupakan bakteri yang bersifat fakultatif anaerob dan

memiliki tipe metabolisme fermentasi dan respirasi tetapi pertumbuhannya paling

banyak di bawah keadaan anaerob, namun beberapa E. coli juga dapat tumbuh

dengan baik pada suasana aerob (Meng dan Schroeder, 2007). Suhu yang baik

untuk menumbuhkan E. coli yaitu pada suhu optimal 37ºC pada media yang

mengandung 1% peptone sebagai sumber nitrogen dan karbon. Ukuran sel dari

bakteri E. coli biasanya berukuran panjang 2,0 – 6,0 μm dan lebar 1,1 – 1,5 μm

dengan bentuk sel bulat dan cenderung ke batang panjang (Melliawati, 2009).

Struktur sel dari bakteri E. coli terdiri dari dinding sel, membran plasma,

sitoplasma, flagella, nucleus (inti sel), dan kapsul.

Membran sel terdiri dari sitoplasma yang mengandung nukleoprotein.

Membran sel E. coli ditutupi oleh dinding sel berlapis kapsul. Flagela dan fili E.

coli menjulur dari permukaan sel. Tiga struktur antigen utama permukaan yang

digunakan untuk membedakan serotipe golongan E. coli adalah antigen O (antigen

11 lipoporisakarida somatik di dalam dinding sel), antigen K (antigen polisakaride

kapsul), dan antigen H (antigen protein flagella) (Todar, 2008).

Bakteri E. coli mempunyai dinding sel yang kaku, berpori dan berguna

untuk memberikan bentuk tertentu pada sel serta berperan sebagai pelindung.

Dinding sel diklasifikasikan sebagai antigen O. Berdasarkan komposisi dinding

sel dan pewarnaannya itulah E. coli digolongkan sebagai bakteri Gram negatif.

Bakteri Gram negatif diketahui tidak tahan terhadap perlakuan fisik (bakteri akan

mati pada suhu 60 °C selama 30 menit). Namun, bakteri ini lebih tahan terhadap
19

antibiotik golongan penisilin dan golongan lainnya seperti streptomisin. Kapsul

pada bakteri E. coli terbentuk karena pengaruh media pertumbuhan dan kondisi

lingkungan. Kapsul terdiri dari polisakarida atau kompleks polisakarida-protein

yang dapat melindungi membran luar dari fagositik dan sistem komplemen.

Kapsul ini diklasifikasikan sebagai antigen K. Flagella dari E. coli bersifat

antigenik sehingga dikenal sebagai antigen H. Sedangkan membran selnya terdiri

dari beberapa lemak dan protein dalam presentase yang hampir sama dimana

lemaknya membentuk fase non polar yang kontinyu (Todar, 2008).

2.7 Staphylococcus aureus

Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk

bulat berdiameter 0,7-1,2 µm, tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak

teratur seperti buah anggur, fakultatif anaerob, dan tidak membentuk spora.

Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37ºC, tetapi membentuk pigmen paling

baik pada suhu kamar (20-25ºC). koloni pada perbenihan padat berwarna abu-abu

sampai kuning keemasan, berbentuk budar, halus, menonjol, dan berkilau (Jawetz,

2005).

Dinding sel Staphylococcus aureus memiliki lapisan pelindung yang kuat,

penampilannya relative amorf, tebalnya sekitar 20-40 . di bawah dinding sel

terdapat sitoplasma yang tertutup oleh membrane sitoplasma. Peptidoglikan

adalah komponen dasar dari dinding sel dan meningkat 50% dari massa dinding

sel (Harris,dkk.,2002).

Staphylococcus aureus adalah penyebab infeksi piogenik kulit, furunkel,

karbukel, osteomielitis, arthritis septik, infeksi luka, abses, pneumonia, empiema,

endokarditis, perikarditis, meningitis dan penyakit yang diperantarai toksin,


20

termasuk keracuan makanan, sindrom kulit terbakar dan sindrom syok toksik

(Wahab,2000).

Klasifikasi Staphylococcus aureus meurut Jawetz, dkk. (2005) adalah :

Superdomain : Procaryota

Filum : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Bacillales

Family : Staphylococcaceae

Genus : Staphylococcus

Species : Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran

pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung, mulut,

tenggorokan, dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga

sering terdapat pada pori-pori permukaan kulit, kelenjar keringat, dan saluran usus

( Schegel, 1994).