Vous êtes sur la page 1sur 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas

(maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di

sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Diagnosa tumor otak ditegakkan

berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi

dan patologi anatomi. Dengan pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosa

tumor otak apalagi membedakan yang benigna dan yang maligna, karena gejala klinis

yang ditemukan tergantung dari lokasi tumor, kecepatan pertumbuhan masa tumor dan

cepatnya timbul gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan

otak yang dapat menyebabkan kompresi, infasi dan destruksi dari jaringan otak(Fagan

Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977; Merrit, 1979).

Jumlah penderita kanker otak masih rendah, yakni hanya enam per 100.000 dari

pasien tumor/kanker per tahun, namun tetap saja penyakit tersebut masih menjadi hal

yang menakutkan bagi sebagian besar orang. Pasalnya, walaupun misalnya tumor yang

menyerang adalah jenis tumor jinak, bila menyerang otak tingkat bahaya yang

ditimbulkan umumnya lebih besar daripada tumor yang menyerang bagian tubuh lain.

Tumor susunan saraf pusat ditemukan sebanyak ± 10% dari neoplasma seluruh tubuh,

dengan frekuensi 80% terletak pada intrakranial dan 20% di dalam kanalis spinalis. Di

Indonesia data tentang tumor susunan saraf pusat belum dilaporkan. Insiden tumor otak

pada anak-anak terbanyak dekade 1, sedang pada dewasa pada usia 30-70 dengan pundak

usia 40-65 tahun (Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977; Merrit,

1979).
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara

sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel ini akan terus berkembang

mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan

neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial). Hal ini

ditandai dengan nyeri kepala, nausea, muntah dan papil edema. Penyebab dari tumor

belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang menunjukan bahwa beberapa agent

bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliptu

faktor herediter, kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang

mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma cerebral dan

penyakit peradangan. (Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977;

Merrit, 1979).

Untuk Penatalaksanaan tumor otak, yang perlu diperhatikan adalah usia, general

health, ukuran tumor, lokasi tumor dan jenis tumor. Metode yang dapat digunakan antara

lain: pembedahan, radiotherapy, dan chemotherapy. Seorang Perawat berperan untuk

membuat asuhan keperawatan yang tepat bagi klien dengan tumor otak serta

mengimplementasikannya secara langsung mulai dari pengkajian, diagnosa, hingga

intervensi yang harus diberikan.

B. Anatomi fisiologi otak

1. Sistem Saraf Pusat

a. Otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

1) Cerebrum (Otak Besar)

Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut

dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum

merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang.

Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika,


bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan

intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian ini. Cerebrum

secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus. Bagian lobus

yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit

disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah: Lobus Frontal,

Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus Temporal.

 Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak

Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan,

kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi

penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan

kemampuan bahasa secara umum.

 Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor

perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.

 Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan

kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk

suara.

 Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan

rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan

interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.

2) Cerebellum (Otak Kecil)

Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat

dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi

otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol

keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan

dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti


gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci

pintu dan sebagainya. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan

gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak

terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke

dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.

3) Brainstem (Batang Otak)

Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga

kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum

tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk

pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses

pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight

(lawan atau lari) saat datangnya bahaya Batang otak dijumpai juga pada hewan

seperti kadal dan buaya. Oleh karena itu, batang otak sering juga disebut

dengan otak reptil. Otak reptil mengatur “perasaan teritorial” sebagai insting

primitif. Contohnya anda akan merasa tidak nyaman atau terancam ketika

orang yang tidak Anda kenal terlalu dekat dengan anda.

Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:

 Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian

teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil.

Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan

mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.

 Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri

badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla

mengontrol fungsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah,

pernafasan, dan pencernaan.


 Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak

bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita

terjaga atau tertidur.

4) Limbic System (Sistem Limbik)

Sistem Limbik terletak pada bagian tengah otak membungkus batang otak

ibarat kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Bagian

otak ini sama dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut

dengan otak mamalia. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus,

amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi

menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis,

rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga

memori jangka panjang. Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah

Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang

perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak. Sistem limbik menyimpan

banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut

sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl

Gustav Jung menyebutnya sebagai "Alam Bawah Sadar" atau ketidaksadaran

kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan

perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai

tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta,

penghargaan dan kejujuran.

5) Medulla Spinalis

Medulla spinalis merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang

berbentuk silinder memanjang dan terletak seluruhnya di dalam canalis

verterbalis, dikeliling oleh tiga lapis selaput pembungkus yang di sebut


meninges. Apalagi lapisan-lapisan, struktur-struktur dan ruangan-rungan yang

mengeliling medulla spinalis itu disebutkan dari luar ke dalam secara berturut-

turut, maka terdapatlah :

 Dinding canalis verterbralis (terdiri atas vertebrae dan ligmenta)

 Lapisan jaringan lemak (ekstradural) yang mengandung anyaman

pembuluh-pembuluh darah vena

 Dura mater

 Arachnoidea

 Ruang subrachnoidal (cavitas subarachnoidealis), yang antara lain berisi

liquor cerebrospinalis

 Pia mater, yang kaya dengan pembuluh-pembuluh darah dan yang langsung

membungkus permukaan sebelah luar medulla spinalis.

Lapisan meninges terdiri atas pachymeninx (dura meter) dan leptomeninx

(arachnoidea dan pia meter). Pada tubuh dewasa, panjang medulla spinalis

adalah sekitar 43 sentimeter. Pada masa kehidupan intrauterina usia 3 bulan,

panjang medulla spinalis sama dengan panjang canalis vertebralis, sedang

dalam masa-masa berikutnya terjadi suatu perbedaan kecepatan pertumbuhan

memnjang, canalis vertebralis tumbuh lebih cepat dari pada medulla spinalis,

sehingga ujung caudal medulla spinalis berangsur-angsur terletak pada tingkat-

tingkat yang lebih tinggi. Pada masa kehidupan intrauterina usia 6 bulan, ujung

caudal corpus vertebrae lumbalis III; pada saat lahir ujung tersebut sudah

terletak setinggi tepi caudal corpus vertebrae lumbalis II. Pada usia dewasa,

ujung caudal medulla spinalis biasanya terletak setinggi tepi cranial corpus

vertebrae lumbinalis I dan II. Posisi ujung caudal medulla spinalis ini

dapat menunjukkan variasi satu corpus vertebrae ke arah cranial atau caudal.
C. Definisi

Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas

(maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di

sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan

selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal

dari jaringan otak itu sendiri disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ

lain (metastase) seperti kanker paru, payudara, prostate, ginjal, dan lain-lain disebut

tumor otak sekunder. (Mayer. SA,2014).

Tekanan intra kranial ( TIK ) adalah suatu fungsi nonlinier dari fungsi otak, cairan

serebrospinal ( CSS ) dan volume darah otak sehingga. Sedangkan peningkatan intra

kranial ( PTIK ) dapat terjadi bila kenaikan yang relatif kecil dari volume otak, keadaan

ini tidak akan cepat menyebabkan tekanan tinggi intrakranial, sebab volume yang

meninggi ini dapat dikompensasi dengan memindahkan cairan serebrospinal dari rongga

tengkorak ke kanalis spinalis dan volume darah intrakranial akan menurun oleh karena

berkurangnya peregangan durameter. Hubungan antara tekanan dan volume ini dikenal

dengan complience. Jadi jika otak, darah dan cairan serebrospinal volumenya terus

menerus meninggi, maka mekanisme penyesuaian ini akan gagal dan terjadi peningkatan

intrakranial yang mengakibatkan herniasi dengan gagal pernapasan dan gagal jantung

serta kematian.
D. KLASIFIKASI TUMOR OTAK

Menurut Price, Sylvia Ardeson tahun 2000, tumor otak dapat diklasifikasikan menjadi

beberapa jenis, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Glioma

Glioma merupakan tumor jaringan glia yang ada didalam otak (jaringan penunjang

dalam system saraf pusat (misalnya neuroligis). Jaringan ini bertanggung jawab atas

sekitar 40 sampai 50% atas kejadian tumor otak yang kini banyak ditemukan.

2. Tumor meningen

Tumor meningen atau disebut dengan meningioma merupakan tumor asal meningen.

Meningen merupakan lapisan pembungkus otak seperti lapisan araknoid, subaraknoid

dan lapisan duramater. Sel-sel mesofel dan sel-sel jaringan penyambung araknoid

dan dura mater inilah yang biasanya terjadi tumor atau perutmbuhan sel yang tidak

normal.

3. Tumor hipofisis

Tumor hipofisis merupakan tumor yang terjadi pada bagian otak yang bernama

hipofisis. Tumor hipofisis ini berasal dari sel-sel kromofob, eosinofil atau basofil dari

hipofisis anterior.

4. Tumor saraf pendengaran

Tumor saraf pendengaran atau biasa disebut dengan neurilemoma merupakan tumor

otak yang kini terdapat kasus sekitar 3 sampai 10 % tumor otak atau intrakranial.

Tumor ini berasal dari sel schawan selubung saraf yang melindungi saraf.

5. Tumor metastatis

Tumor metastasis atau disebut dengan lesi-lesi metastasis merupakan tumor otak

yang terjadi kira-kira 5-10 % dari seluruh tumor otak dan dapat berasal dari bagian-

bagian tubuh lainnya seperti tumor payudara, tumor paru-paru dan lain-lain.
6. Tumor pembuluh darah otak

Tumor pembuluh darah otak merupakan tumor yang terjadi pada pembuluh darah

otak dan dapat dibedakan lagi menjadi beberapa tumor seperti:

a. Angioma adalah pembesaran massa pada pembuluh darah abnormal yang didapat

didalam atau diluar daerah otak. Tumor ini diderita sejak lahir yang lambat laun

membesar.

b. Hemangiomablastoma adalah neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler

embriologis yang paling sering dijumpai dalam serebelum

c. Sindrom non hippel-lindan adalah gabungan antara hemagioblastoma serebelum,

angiosmatosis retina dan kista ginjal serta pancreas.

7. Tumor congenital

Tumor kongenital atau gangguan perkembangan merupakan tumor yang jarang sekali

terjadi. Tumor ini antara lain adalah kondoma yang terdiri atas sel-sel yang berasal

dari sisa-sisa horokoida embrional dan dijumpai pada dasar tengkorak manusia

E. Patofisiologi Tumor Otak

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis progresif yang disebabkan oleh dua

faktor yaitu gangguan fokal oleh tumor dan kenaikan tekanan intrakranial (TIK).

Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau

infasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Perubahan suplai

darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis

jaringan otak. Akibatnya terjadi kehilangan fungsi secara akut dan dapat dikacaukan

dengan gangguan serebrovaskuler primer (Price, S. A., & Wilson, L. M. (1995).

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron akibat kompresi,

invasi, dan perubahan suplai darah ke dalam jaringan otak. Peningkatan TIK dapat

diakibatkan oleh beberapa faktor seperti bertambahnya massa dalam tengkorak, edema
sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi CSS. Tumor ganas menyebabkan edema dalam

jaringan otak yang diduga disebabkan oleh perbedaan tekanan osmosis yang

menyebabkan penyerapan cairan tumor. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan oleh

kerusakan sawar di otak, menimbulkan peningkatan volume intracranial dan

meningkatkan TIK. Peningkatan TIK membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat.

Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari ataupunn berbulan-bulan untuk

menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna apabila tekanan intracranial timbul

cepat. Mekanisme kompensasi ini meliputi menurunkan volume darah intrakranial,

menurunkan volume CSS, menurunkan kandungan cairan intrasel, dan mengurangi sel-

sel parenkim otak. Kenaikan tekanan yang tidak diatasi akan mengakibatkan herniasi

unkus serebellum. Herniasi unkus timbul jika girus medialis lobus temporalis bergeser ke

inferior melalui insisura tentorial karena adanya massa dalam hemisfer otak. Herniasi

menekan mesensefalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf ke-3.

Pada herniasi serebellum, tonsil serebellum tergeser ke bawah melalui foramen magnum

oleh suatu massa posterior. Kompresi medulla oblongata dan terhentinya pernapasan

terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan

intrakranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik, dan gangguan

pernapasan.( Batticaca, Fransisca.B. 20013)

F. Etiologi

Penyebab tumor otak belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang menunjukan bahwa

beberapa agent bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor tertentu. Agent

tersebut meliputi faktor herediter, kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi.

Ada juga yang mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma

cerebral dan penyakit peradangan. Metastase ke otak dari tumor bagian tubuh lain juga

dapat terjadi. Karsinoma metastase lebih sering menuju ke otak daripada sarcoma.
Lokasi utama dari tumor otak metastase berasal dari paru-paru dan payudara. (Muhamad

Judha dan Nazwar Hamdani Rahil : 2014 halm 97)

G. Manifestasi klinik tumor otak

1. Gejala tumor otak secara umum

Gejala klinis pada tumor otak secara umum dikenal dengan istilah trias klosis tumor

otak, yaitu:

a. Nyeri kepala

Nyeri kepala merupakan gejala tersering, dapat bersifat dalam, terus-

menerus, tumbuh, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri paling hebat pada pagi

hari dan lebih berat saat beraktivitas sehingga dapat meningkatkan TIK pada saat

membungkuk, batuk, dan mengejan pada saat BAB. Nyeri kepala dapat

berkurang bila diberi aspirin dan kompres air dingin di daerah yang sakit. Lokasi

yang sering menimbulkan nyeri terjadi di 1/3 daerah tumor dan 2/3 di dekat atau

di atas tumor.

b. Mual dan muntah

Mual (nausea) dan muntah (vomit) terjadi sebagai akibat rangsangan pusat

muntah pada medulla oblongata. Sering terjadi pada anak-anak dan berhubungan

dengan peningkatan TIK yang disertai pergeseran batang otak. Muntah dapat

terjadi tanpa didahului mual dan dapat proyektil.

c. Papil edema

Papil edema disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan

papilla saraf optikus. Bila terjadi pada pemeriksaan oftalmoskopi (funduskopi),

tanda ini mengisyaratkan terjadi tekanan TIK. Kadang disertai gangguan

penglihatan, termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks (saat-saat di

mana penglihatan berkurang. ( Batticaca, Fransisca.B. 2008)


2. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:

Lobus frontal

o Menimbulkan gejala perubahan kepribadian

o Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral,

kejang fokal

o Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia

o Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy

o Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia

Lobus parietal

o Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym

o Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus

angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmann’s

Lobus temporal

o Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang didahului

dengan aura atau halusinasi

o Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese

o Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala

choreoathetosis, parkinsonism.

Lobus oksipital

o Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan

o Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang

menjadi hemianopsia, objeckagnosia.

Tumor di ventrikel ke III

o Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan

obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial


mendadak, pasien tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan

kesadaran

Tumor di cerebello pontin angie

o Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma

o Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa

gangguan fungsi pendengaran

o Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin

angel

Tumor Hipotalamus

o Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe

o Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan

seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan cairan dan elektrolit,

bangkitan

Tumor di cerebellum

o Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat terjadi

disertai dengan papil udem

o Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari

otot-otot servikal

Tumor fosa posterior

o Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan

nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma.

(Bram Al Azri:2013)

H. Penatalaksanaan medis

Tumor otak yang tidak terobati menunjukkan arah kematian, salah satu akibat dari

peningkatan TIK atau dari kerusakan otak yang disebabkan tumor. Pasien-pasien dengan
kemungkinan tumor otak harus di evaluasi dan di obati segera bila memungkinkan

sebelum kerusakan neurologis tidak dapat diubah. Tujuannya adalah mengangkat dan

memusnahkan semua tumor atau banyak kemungkinan tanpa meningkatnya penurunan

neurologik (paralisis, kebutaan) atau tercapainya gejala-gejala dengan mengangkat

sebagian (dekompresi). Salah satu variasi pengobatan dapat digunakan ; pendekatan

spesifik bergantung pada tipe tumor, lokasinya dan kemampuan untuk dicapai dengan

mudah. Pada beberapa pasien, kombinasi ini dapat dignakan sebagai modal

o Pendekatan pembedahan konvesional memerlukan insisi tulang (kraniotomi).

Pendekatan ini digunakan untuk mengobati pasien meningioma, neuroma akustik,

astrositoma kistik pada serebelum, kista koloid pada ventrikel ke tiga, tumor

kongenial seperti kista dermoid dan beberapa glanuloma. Untuk pasien-pasien

dengan glioma malignan, pengangkatan tumor secara menyeluruh, dan pengobatan

tidak mungkin, tetapi dapat masuk akal dengan tindakan yang mencakup

pengurangan tekanan intrakranial (TIK), mengangkat jaringan nekrotik dan

mengurangi bagian yang besar dari tumor, yang secara teori meninggalkan sedikit

sel yang tertinggal atau menjadi resisten terhadap radiasi atau kemoterapi

o Pendekatan stereotaktik meliputi penggunaan kerangka tiga dimensi yang mengikuti

lokasi tumor yang sangat teepat, kerangka stereotaktik dan studi pencitraan multipel

(sinar-x, CT) yang lengkap digunakan untuk menentukan lokasi tumor dan

memeriksa posisinya. Laser atau radiasi dapat dilepaskan dengan pendekatan

stereotaktik. Radioisotop dapat juga ditempelkan langsung kedalam tumor untuk

menghasilkan dosis tinggi pada radiasi tumor (brakhiterapi) sambil meminimalkan

pengaruh pada jaringan otak disekitarnya.

o Penggunaan pisau gamma diakukan pada “bedah-radio” sampai dalam, untuk tumor

yang tidak dapat dimasukan obat, tindakan tersebut sering dilakukan sendiri. Lokasi
yang tepat dilakukan dengan menggunakan pendekatan stereotaktik dan melalui

laporan pengujian Dan posisi pasien yang tepat. Dosis sangat tinggi radiasi akan

dilepaskan pada luass bagian yang kecil. Keuntungan metoda ini adalah tidak

membtuhkan insisi pembedahan, kerugiannya adalah waktu yang lambat diantara

pengobatan dan hassil yang diharapkan.

o Modalitas tindakan lain terdiri dari kemoterapi dan terapi sinar radiasi eksternal,

dimana digunakan hanya salah satu model atau kombinasi dengan menggunakan

pendekatan seperti gambaran diatas. Terapi radiasi merupakan dasar pada

pengobatan beberapa tumor otak, juga menurunkan timbulnya kembali tumor uyang

tidak lenngkap. Transpalantasi sumsum tulang analog intravena digunakan pada

beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi atau terapi radiasi, karena keadaan

ini penting sekali untuk “menolong” pasien terhadap adanya keracunan pada sum-

sum tulang sebagai akibat dosis tinggi kemoterapi dan radiasi. Sum-sum tulang

pasien diaspirasi sedikit, biasanya dilakukan pada kepala iliaka dan di simpan.

Pasien yang menerima dosis kemoterapi dan terapi radiasi yang banyak, akan

menghancurkan sel-sel keganasan (malignan). Sum-sum kemudian di infus kembali

setelah pengobatan lengkap. Kortikosteroid boleh digunakan sebelum peengobatan

sesuai dengan diperkenankannya penggunaan obat ini, yang didasari melalui

evaluasi diagnostik dan kemudian menurunkan edema serebral dan meningkatkan

kelancaran serta pemulihan lebih cepat (Price, S. A., & Wilson, L. M. (1995).

Penatalaksanaan keperawatan

o Praoperatif, evaluasi refleks muntah dan kemampuan menelan.

o Ajarkan pasien untuk mengarahkan makanan dan cairan ke sisi yang tidak

terganggu. Bantu pasien ke posisi tegak ketika akan makan, tawarkan diet

semilunak, dan sediakan alat pengisap (suction) jika respon muntah menghilang.
o Kaji kembali fungsi setelah operasi (pascaoperatif)

o Lakukan peemeriksaan neurologis, pantau tanda-tanda vital, dan buat grafik alur

neurologis. Beri jarak antara intervensi keperawatan untuk mencegah peningkatan

tekanan intrakranial yang terjadi dengan cepat.

o Reorientassikan kembali pasin jika perlu terhadap orang, waktu, dan tempat.

Gunakan alat pengorientasi (barang pribadi, foto, daftar, jam). Supervisi dan abntu

perawatnan diri. Pantau dan lakukan inteervensi untuk menegah cidera.

o Pantau pasien kejang.

o Periksa fungsi motorik pada interval tertentu; kaji gangguan sensori.

o Evaluasi gaya bicara.

o Kaji pergerakan mata, ukuran pupil, dan reaksi pupil.

I. Komplikasi tumor otak

1. Edema Serebral. Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk disekitar

lesi sehingga menambah efek masa yang mendesak (space-occupying). Edema

Serebri dapat terjadi ekstrasel (vasogenik) atau intrasel (sitotoksik).

2. Hidrosefalus. Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh ekspansin massa dalam

rongga cranium yang tertutup dapat di eksaserbasi jika terjadi obstruksi pada aliran

cairan serebrospinal akibat massa.

3. Herniasi Otak. Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi sentra, unkus, dan

singuli.

4. Epilepsi

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah. (Ed.8).

Jakarta: EGC
Konsep keperawatan tumor otak

A. Pengkajian

1. Anamnesis diagnosis medis.

2. Identitas klien meliputi nama, umur, (sering terjadi pada usia tua), jenis kelamin,

pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah

sakit, nomor register, dan diagnosis medis.

3. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan

kesehatan biasanya berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial dan

adanya gangguan fokal seperti nyeri keepala hebat, muntah-muntah, kejang, dan

penurunan tingkat kesadaran

4. Riwayat penyakit sekarang. Kaji bagaimana terjadi nyeri kepala, mual, muntah,

kejang, dan penurunan tingkat kesadaran. Adanya penurunan atau perubahan tingkat

kesadaran dihubungkan dengan perubahan di dalam intrakranial. Keluhan perubahan

perilaku juga umum tejadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi,

tidak responsif, dan koma.

5. Riwayat penyakit dahulu. Kaji adanya riwayat nyeri kepala sebelumnya. Pengkajian

riawayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit saat ini dan

merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberkan tindakan

selanjutnya.

6. Pengkajian psiko-sosio-spiritual

Mekanisme koping yang digunakan oleh klien juga penting untuk dikaji guna

menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya dan perubahan

peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam

kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga ataupun masyarakat.

7. Pemeriksaan fisik
8. Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret

akibat kelemahan reflek batuk b. Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi

jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas

terdengar ronchi /aspirasi c. Circulation TD dapat normal atau meningkat , hipotensi

terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia,

kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.

9. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan dan kesehatan

 Riwayat keluarga denga tumor

 Terpapar radiasi berlebih.

 Adanya riwayat masalah visual-hilang ketajaman penglihatan dan diplopia

 Kecanduan Alkohol, perokok berat

 Terjadi perasaan abnormal

 Gangguan kepribadian / halusinasi

10. Pola nutrisi metabolik

 Riwayat epilepsy

 Nafsu makan hilang

 Adanya mual, muntah selama fase akut

 Kehilangan sensasi pada lidah, pipi dan tenggorokan

 Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan Faringeal)

11. Pola eliminasi

 Perubahan pola berkemih dan buang air besar (Inkontinensia)

 Bising usus negatif d. Pola aktifitas dan latihan

 Gangguan tonus otot terjadinya kelemahan otot, gangguan tingkat kesadaran

 Resiko trauma karena epilepsy

 Hamiparase, ataksia
 Gangguan penglihatan

 Merasa mudah lelah, kehilangan sensasi (Hemiplegia)

12. Pola tidur dan istirahat

 Susah untuk beristirahat dan atau mudah tertidur f. Pola persepsi kognitif dan

sensori

 Pusing

 Sakit kepala

 Kelemahan

 Tinitus

 Afasia motorik

 Hilangnya rangsangan sensorik kontralateral

 Gangguan rasa pengecapan, penciuman dan penglihatan

 Penurunan memori, pemecahan masalah

 Kehilangan kemampuan masuknya rangsang visual

 Penurunan kesadaran sampai dengan koma.

 Tidak mampu merekam gambar

8. Pola persepsi dan konsep diri

 Perasaan tidak berdaya dan putus asa

 Emosi labil dan kesulitan untuk mengekspresikan

9. Pola peran dan hubungan dengan sesama

 Masalah bicara

 Ketidakmampuan dalam berkomunikasi ( kehilangan komunikasi verbal/ bicara

pelo )

 Reproduksi dan seksualitas

 Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas


 Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas

 Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress

 Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah

 Mekanisme koping yang biasa digunakan

 Perasaan tidak berdaya, putus asa

 Respon emosional klien terhadap status saat ini

 Orang yang membantu dalam pemecahan masalah

 Mudah tersinggung k. Sistem kepercayaan

 Agama yang dianut, apakah kegiatan ibadah terganggu

b. Diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan

No. Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)


1. Domain 2 : nutrisi Setelah dilakukan tindakan Mengatur cairan :
Kelas 5 : hidrasi perawatan selama 3x24 jam, klien  Monitor indikasi retensi atau
Kode : 00026 dapat menunjukkan kriteria hasil : kelebihan cairan (edema)
Kelebihan volume cairan 1. Terbebas dari tidak ada edema,  Mengkaji kemungkinan
b.d gangguan mekanisme anasarka. faktor resiko dari
regulasi ketidakseimbangan cairan
 Kaji lokasi dan luas edema
 Kolaborasi pemberian
diuretic sesuai intruksi
 Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
muncul memburuk
2. Domain 12. Kenyamanan Setelah di lakukan tindakan MANAJEMEN NYERI:
Kelas 1 . Kenyamanan fisik keperawatan selama 2x24 o Lakukan pengkajian nyeri
Kode 00133 jam,diharapkan pasien dapat secara komprehensif
Nyeri kronis b.d gangguan menunjukan tingkat nyeri dalam termasuk lokasi ,
iskemik skala 3 : (1=gangguan ekstrem, karakteristik ,durasi ,
2=berat ,3=sedang ,4=ringan ,5= frekuensi,kualitas dan factor
tidak ada gangguan ) dengan presipitasi .
indikator : o Observasi nonverbal dari
o Klien mengatakan nyeri yang ketidaknyamanan
dirasakan berkurang (skala 3) o Gunakan komunikasi
o Klien tidak lagi menunjukan terapeutik untuk mengetahui
ekspresi wajah terhadap lokasi nyeri pasien .
nyeri,dalam nilai normal(2-5) o Kaji kultur yang
o Klien tidak lagi menunjukan mempengaruhi respon nyeri
ekspresi (meringis ),dalam nilai o Control lingkungan yang
normal(2-5) dapat mempengaruhi nyeri
o Klien mengatakan merasa seperti suhu rungan ,
nyaman setelah nyeri pencahayaan dan kebisikan
berkurang . o Membantu mengeksplorasi
dengan pasien factor yang
dapat meningkatkan atau
memperburuk nyeri
o Anjurkan pasien untuk
penggunaan obat nyeri yang
memadai
o Berikan obat nyeri yang
optimal dengan obat
analgesic yang di resepkan
o Memberikan informasi yang
akurat untuk promosi
pengetahuan keluarga dan
respon terhadap nyeri.
3. Domain 11. Setelah dilakukan tindakan o Mengkaji perilaku dan
Keamanan/perlindungan keperawatan selama 3x24 jam , faktor yang dapat
Kelas 2. Cedera fisik klien diharapkan mampu mempengaruhi risiko jatuh
Kode 00155 menghindari risiko jatuh dengan o Mendorong klien untuk
Resiko jatuh kriteria hasil : menggunakan tongkat atau
o Perilaku pencegahan jatuh : alat pembantu berjalan
Faktor resiko Meminimalkan faktor resiko o Membantu ke toilet
· Usia > 65 tahun o Tidak ada kejadian jatuh seringkali. Interval
· Gangguan visual dijadwalkan
Penyakit vaskuler o Mendidik anggota keluarga
tentang faktor risiko yang
berkontribusi terhadap jatuh
dan bagaimana mereka
dapat menurunkan risiko
tersebut
o Sarankan adaptasi rumah
untuk meningkatkan
keselamatan
o Berkolaborasi dengan
anggota tim kesehatan lain
untuk meminimalkan efek
samping dari obat yang
berkontribusi terhadap jatuh
(mis ;hipotensi otrostatik
dan kiprah goyah)
4. Domain 5 :persepsi/kognisi Setelah dilakukan tindakan o Libatkan pasein dan
Kelas 5 : komunikasi keperawatan selama 3x24jam keluarga dalam
Kode :00051 diharapkan klien tidak lagi mengembangkan rencana
Hambatan komunikasi verbal mengalami hambatan komunikasi komunikasi
b/d gangguan fisiologis verbal dengan menentukan o Berikan perawatan dengan
(tumor otak) komunikasi dengan yang sikap yang rileks,tidak
DS: dibuktikan dengan indikator: terburu-buru,dan tidak
· Klien mengeluh kesulitan Komunikasi: menghakimi
mempertahankan o Penerimaan interpretasi dan o Berikan kontinuitas dengan
komunikasi ekspresi pesan lisan,tulisan dan melaksanakan tugas
· Klien mengeluh nonverbal klien membaik keperawatan untuk
mengespresikan pikiran o Komunikasi ekspretif memelihara kepercayaan
secara verbal (kesulitan berbicara):ekspresi dan mengurangi stress
· Klien mengeluh kesulitan pesean verbal dan atau terhadap klien
menggunakan ekspresi nonverbal yang bermakna o Bimbing komunikasi satu
tubuh o Pengolahan informasi:klien arah dengan tepat
mampu untuk Communication enhancement
memperoleh,mengatur, :speech deficit
o dan menggunakan informasi o Gunakan penerjemah,jika
o Klien mampu mengontrol diperlukan beri satu kalimat
respon ketakutan dan simple setiap bertemu,jika
kecemasan terhadap diperlukan
ketidakmapuan dalam o Konsultasikan dengan
berbicara dokter kebutuhan terapi
o Klien mampu wicara
memanajemenkan o Dorong pasienuntuk
o Kemampuan fisik yang berkomunikasi secara
dimiliki perlahan untuk mengulangi
o Klien mampu permintaan
mengkomunikasikan o Dengarkan dengan penuh
kebutuhan dengan lingkungan perhatian
sosial o Berdiri didepan pasien
ketika berbicara
o Gunakan kartu baca
,kertas,pensil,bahasa
tubuh,gambar,daftar
kosakata,bahasa
asing,computer,dan lain-lain
untuk memfasilitasi
komunikasi dua arah yang
optimal
o Ajarkan bicara dari
esophangus jika diperlukan
o Beri anjuran kepada pasien
dan keluarga tentanng
penggunaan alat bantu
bicara (misalnya,prostesi
trakeoesofagus dan laring
buatan)
o Berikan pujian positive,jika
diperlukan
o Anjurkan pada pertemuan
kelompok
o Anjurkan kunjungan
keluarga secara teratur
untuk member stimulus
komunikasi
o Anjurkan ekspresi diri
dengan cara lain dalam
menyampauikan informasi
(bahasa isyarat)
5. Domain : 2 nutrisi Setelah dilakukan tindakan Aspiration precautions :
Kelas : 1 makan keperawatan selama 2x24 jam klien o memantau tingkat kesadaran
Diagnosa : 00103 mampu menelan dengan baik refleks batuk , refleks
Gangguan menelan b/d dengan indicator . muntah ,dan kemampuan
gangguan neuromuskolar ( Kriterial hasil : menelan .
mis : penurunan atau  klien dapat mempertahankan o nyuapkan makanan ke klien
hilangnya refleks muntah ) makanan dalam mulut dalam jumlah kecil
 klien mampu menelan dengan o beri penawaran makanan
adekuat atau cairan yang dapat di
 klien mampu mengontrol mual bentuk menjadi lobus
dan muntah sebelum menelan.
 tidak ada kerusakan otot o Potong makanan menjadi
tenggorong atau otot wajah potongan-potongan kecil
menelan , mengerakan lidah o Beri obat dalam bentuk obat
atau refleks muntah . mujarab
o Istirahat atau
menghancurkan pil sebelum
pemberian.
o Kepala tempat tidur di
tinggikan 30 sampai 45
menit setelah makan .
REFERENSI

Doenges E. Marilynn, dkk, 2000, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa


Keperawatan, edisi II, EGC, Jakarta.
Doenges E. Mariylnn at all., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan (Terjemahan Indonesia),
Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sue Moorhead, Mario Johnson, Meridean L. Maas., Elizabeth Swanson,2015 NANDA, NIC,
NOC, Jakarta. Buku Kedokteran EGC
Amin Huda Nurarif, Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC, Edisi Revisi Jilid 3. Yogjakarta. Mediaction
Zulkarnain, N., 2012., Asuhan Keperawatan (ASKEP) Tumor Otak. http://nuzulul-
fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35597-Kep%20neurobehaviour-
askep%20Tumor%20Otak.html#popup. Diakses pada tanggal 23 Januari 2016 Nerdyana,
2012, Tanda dan Gejala Tumor Otak.
Carpenito, L. J. (1997). Diagnosa keperawatan. ( Ed. 6). Jakarta: EGC
IOWA OUTCOME PROJECT. 2000. Nursing Outcome Classification 2nd. USA : Mosby
IOWA OUTCOME PROJECT. 2000. Nursing Intervension Classification 2nd. USA : Mosby
Long, B. C. (1996). Perawatan medikal bedah. Jakarta: EGC
Lumbantobing, SM. 2006. Neurologi Klinik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
NANDA.2009. nursing diagnoses Definition and classification. USA: Willey Blackwell
Price, S. A., & Wilson, L. M. (1995). Patofisiologi; konsep klinik proses- proses penyakit.
(Ed. 4). Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah. (Ed.8).
Jakarta: EGC