Vous êtes sur la page 1sur 4

BUKAN KHASHOGGI, KEJAHATAN REZIM SAUDI YANG

SESUNGGUHNYA ADALAH YAMAN

Dunia benar-benar marah dengan pembunuhan terhadap Jurnalis Jamal


Khashoggi yang terjadi di Kantor Kedutaan Saudi di Turki, pada saat
bersamaan dunia seolah lupa dengan bom-bom Mohammed bin Salman dan
sekutunya Uni Emirat Arab telah membunuh puluhan orang setiap hari di
Yaman. Menurut Yemen Data Project, pesawat Saudi dan Emirat telah
melakukan lebih dari 18.500 serangan udara ke Yaman sejak perang
dimulai—rata-rata lebih dari 14 serangan setiap hari selama lebih dari 1.300
hari. Mereka telah mengebom sekolah, rumah sakit, rumah, pasar, pabrik,
jalan, pertanian, dan bahkan situs bersejarah. Puluhan ribu warga sipil—
termasuk ribuan anak-anak—telah tewas atau cacat karena serangan udara
Saudi. Jan Egeland, kepala Dewan Pengungsi Norwegia dan penasihat PBB,
memperingatkan pada awal bulan ini bahwa kelaparan sudah dekat. Warga
sipil di Yaman tidak sedang kelaparan, tapi mereka dibuat kelaparan. Cara
dilancarkannya perang secara sistematis telah mencekik warga sipil
sehingga membuat makanan yang tersedia lebih sedikit dan tidak terjangkau
bagi jutaan orang.

Apa yang terjadi saat ini di Yaman, merupakan kelanjutan dari


pemberontakan Syiah Houthi. Hingga tanggal 21 September 2014, ibu kota
Yaman, Shan’a jatuh ke tangan Haouthi. Februari 2015, Presiden Yaman,
Abd Rabbuh Mansour Hadi melarikan diri ke Aden dari ibukota Sanaa.
Sebelumnya dia telah disandera sebagai tahanan rumah oleh pemberontak
Hautsi selama beberapa pekan. Dan pada Maret 2015, Presiden Mansour
Hadi mengumumkan pemindahan ibukota dan menjadikan kota Aden
sebagai ibukota negaranya. Dia juga menyatakan bahwa ibukota Sanaa telah
menjadi “kota yang diduduki” oleh pemberontak Syiah.

Karena desakan separatis Houthi yang kian kuat, akhirnya Hadi mengirim
surat ke beberapa negara teluk. Presiden Manshur Hadi menceritakan
kondisi Yaman yang sudah berada di ambang kehancuran, sehingga
membutuhkan pertolongan dari “para saudaranya”. Presiden menuliskan
suratnya dengan sapaan “al-Akh” (saudara) bagi para pemimpin negara
teluk.

Surat itu ditujukan kepada para pemimpin negara teluk, Arab Saudi, Uni
Emirat, Bahrain, Oman, Kuwait, dan Qatar. Hadi mengutip piagam PBB
tentang hak pembelaan diri setiap bangsa, dari gangguan yang mengancam
keselamatan negara, dan kesepakatan antar-negara teluk untuk bersama-
sama saling melindungi. Atas dasar ini, ia mempersilahkan para pemimpin
negara teluk untuk segara mengatasi pemberontak Syiah Houthi di Yaman
dengan kafah wasail (sarana yang memadai).
Penting diperhatikan bahwa AS adalah sponsor utama dalam serangan
brutal Arab Saudi, dan hal ini sudah diakui Menlu Saudi, Adel al-Jubeir,
“Ada pejabat-pejabat Inggris dan AS dan negara-negara lain di pusat
komando kami. Mereka tahu daftar target pengeboman...”

Bom yang digunakan adalah bom cluster buatan AS, jenis bom yang dilarang
PBB karena dampaknya yang sangat mematikan, sehingga Sekjen PBB
menilai aksi Saudi hampir dapat dikategorikan ‘kejahatan perang’ (may
amount to a war crime).

Akar Masalah Konflik Yaman

Media massa dan para pengamat umumnya memotret konflik Yaman sebagai
perang antara Saudi melawan proxy Iran di Yaman, pasukan Al Houthi. Arab
Saudi digambarkan tengah khawatir pengaruh Syiah dan Iran semakin kuat
di Yaman, dan akan meluas ke negaranya. Pendapat seperti ini sangat
menyederhanakan masalah, atau bahkan telah menggeser opini publik dari
akar masalah yang sesungguhnya.

Bila motif Arab Saudi membombardir Yaman semata-mata demi ‘membantai


Syiah’, jelas bertentangan dengan fakta bahwa mayoritas korban
pembombardiran dari udara itu adalah warga sipil sehingga yang tewas
sama sekali tidak bisa ‘dipilih’. Populasi Muslim di Yaman adalah Populasi
Muslim di Yaman adalah 55% Sunni, 40% Shiah Zaidiyah (berbeda dari
Syiah Iran).

Selain itu, bila kita meneliti sejarah Yaman, terlihat bahwa di negara ini
sudah terjadi banyak konflik internal yang melibatkan banyak faksi, baik
antara faksi Ikhwanul Muslimin (IM), faksi Imam Yahya (Syiah-Zaidiyah),
faksi Sosialis, antara rezim Saleh (yang awalnya didukung IM, namun
kemudian berseteru dengan IM), faksi suku Al Houthi (Syiah-Zaidiyah). Saat
ini kubu yang berseteru adalah Ansharullah (suku Al Houthi dan faksi-faksi
Sunni Syafii) melawan kelompok-kelompok berhaluan Wahabi, Al Qaida,
ISIS, dan Arab Saudi.

Namun akar masalah konflik Yaman dan konflik lainnya di negeri-negeri


kaum muslimin bermula dari runtuhnya Khilafah Utsmani. Sejak itu
negara-negara imperialis Barat baik Eropa dan Amerika mulai mencengkram
dan membagi-bagi wilayah Utsmani. Akar persoalan ini telah disimpulkan
oleh David Fromkin dalam bukunya, A Peace to End All Peace, “Pembagian
bekas Kekaisaran Ottoman setelah Perang Dunia I menjadi biang keladi
ketidakpastian politik dan kemelut di Irak Modern dan seluruh Timur
Tengah dalam setengah abad belakangan ini.”

Para Penjajah Barat meninggalkan rezim-rezim sekular diwilayah


cengkaraman mereka. Rezim tersebut, baik bercirikan monarki dengan label
relijius (seperti Saudi), kapitalis maupun sosialis komunis untuk selanjutnya
menjadi boneka negara-negara imperialis untuk menjajah kawasan ini.

Demikian pula dengan konflik Yaman, tak terlepas dari tangan Amerika,
Inggris, Italia dan sekutu-sekutu mereka. Yaman jatuh bangun dalam
konflik yang berkepanjangan demi kepentingan negara-negara tersebut
melalui kaki tangan mereka dibumi Yaman. Sehingga tampak jelas bagi kita
bahwapolarisasinya sama sekali bukan Sunni-Syiah. Pada 2011, seiring
dengan gelombang Arab Spring, rakyat Yaman (dari berbagai suku dan
mazhab) bangkit berdemo menuntut pengunduran Saleh yang telah
berkuasa 33 tahun. Ia melarikan diri pada November 2011 ke Arab Saudi,
dan digantikan oleh Mansur Hadi.

Perang adalah sebuah aktivitas yang sangat mahal. Karena itu potensi
ekonomi dan geopolitik yang sangat besarlah yang menjadi pivotal
factor (penyebab utama) bagi negara-negara kuat untuk menggelontorkan
dana sangat besar untuk membiayai faksi-faksi yang berseteru di Yaman.
Aktor asing terkuat di Yaman, tentu saja AS, yang sejak 2001
menggelontorkan ratusan juta dollar (dana total sejak 2008 hingga 2010
yang diterima rezim Saleh dari AS mencapai 500 juta dollar). AS juga
menginvestasi dana dan perlengkapan militer tercanggihnya di Pulau
Socotra.

Fakta lain adalah bahwa Penjualan senjata AS ke Saudi. Pada bulan Maret
2018, Saudi membeli 6.600 rudal TOW 2B dari AS. Total pembelian senjata
itu senila 670 juta dolar AS. Sementara itu, sejak serangan Saudi ke Yaman
pada Maret 2015 lalu, nilai penjualan senjata Inggris ke Saudi meningkat
45,7% (1,9 miliar poundsterling). Pembeli terbanyak senjata buatan Perancis
sebagai negara eksportir senjata terbesar ketiga dunia adalah Arab Saudi.
Itu berarti, ketiga negara eksportir itu sangat diuntungkan dari perang ini.
Kemudian ketika pemerintahan boneka terbentuk, perusahaan-perusahaan
AS pula yang dipastikan akan mendapatkan berbagai kontrak infrastruktur
dan minyak (seperti yang terjadi di Libya dan Irak).
Para Rezim Arab seperti Arab Saudi, Iran, dan Bahrain serta Suriah
memainkan ‘kartu konflik sektarian’ untuk keuntungan domestik dan
regional politik mereka sendiri. Mereka menggunakannya untuk
meningkatkan sentiman masyarakat untuk menampilkan diri mereka
sebagai pahlawan Muslim ‘Sunni’ atau ‘Syiah’ serta mengkonsolidasikan
kursi mereka atas kekuasaan dan memberikan pengaruh secara regional
untuk tujuan yang egoistik.

Ingat, Rasulullah Saw telah memberi kita warisan yang sangat kuat yaitu
ikatan Ukhuwah Islam di antara umat Islam, ikatan ini lebih kuat daripada
ikatan kebangsaan bahkan ikatan darah keluarga jadi karena itulah Dakwah
Rasulullah Saw. dianggap sebagai sihir oleh kafir Quraisy. Sedangkan kita
saat ini menyaksikan tragedi pembantaian dan penindasan yang menimpa
umat Islam oleh Barat, justru semakin membangkitkan kembali kebangkitan
Islam. Dimanapun hal itu terjadi, baik di Suriah, Gaza, Afrika Tengah,
Myanmar, Xinjiang atau Papua, ia telah mengguncang perasaan umat.
Ukhuwah Islam yang mulia ini telah membuat umat Islam yang terpencar
berubah menjadi satu yang memiliki satu detak jantung, satu kekuatan dan
satu suara.

Ingat, Muslim Sunni dan Syiah di Yaman, Irak dan tempat-tempat lain
pernah tinggal berdampingan dengan damai di selama berabad-abad di
bawah pemerintahan Islam Khilafah. Mereka dulu hidup harmonis dan
berperang melawan musuh negara. Baik Muslim Sunni maupun Syiah saat
ini telah mengalami nasib tertindas di bawah sistem politik kapitalisme
sekuler yang menyebabkan mereka melakukan ketidakadilan dan
penindasan yang kejam, kemiskinan massal dan krisis multidimensi.

Sesungguhnya Islam, baik dari sisi budaya, sejarah dan warisannya


merupakan faktor pemersatu umat yang mengikat umat Islam di dunia
Muslim, sementara sistem sekuler yang diberlakukan di barat telah
mengeksploitasi perbedaan untuk tujuan politik. Islam selalu
memerintahkan umatnya berusaha untuk membangun ikatan persaudaraan
Muslim yang kuat dan mencegah perpecahan, menentang konsep seperti
pragmatisme, kapitalisme, liberalisme dan komunisme yang menyebabkan
perpecahan. Islam mengajarkan rasa kepedulian dan tanggung jawab yang
kuat dan menjamin masyarakat untuk hidup harmonis.