Vous êtes sur la page 1sur 33

HIPOTERMIA PADA

NEONATUS

Debora S. Liana, dr., Sp.A


FK UNDANA
2016
1
PENDAHULUAN

• MASALAH YANG SIGNIFIKAN PADA NEONATUS, KHUSUSNYA


PADA BAYI BBLR DAN PREMATUR

• KONTRIBUSI TERHADAP RISIKO MORBIDITAS DAN


MORTALITAS

2
PENYEBAB

• Rasio permukaan tubuh dibanding berat badan lebih besar


• Lemak subkutan sedikit dengan kapasitas insulator (penyekat
panas) yang lebih kecil

• Persediaan lemak coklat belum berkembang (bayi prematur)

3
Otak Bayi Prematur

4
TERMOREGULASI

• Kemampuan untuk menyeimbangkan antara produksi panas dan


hilangnya panas dalam rangka menjaga suhu tubuh dalam keadaan
normal
• Kemampuan rendah pada neonatus
• Suhu tubuh normal  produksi dan kehilangan panas tubuh seimbang
5
KLASIFIKASI

• Suhu neonatus normal 36,5-37,5˚C


• Hipotemia ringan 36-36,5 ˚C
Hipotermia sedang 32-36 ˚C
Hipotermia berat <32 ˚C
• Hipertermia >37,5 ˚C
6
Neutral Thermal Environment (NTE)

Lingkungan suhu netral yaitu rentang suhu eksternal/ suhu lngkungan:


• Metabolisme dan konsumsi oksigen berada pada tingkat minimum
 bayi dapat mempertahankan suhu tubuh normal
• Suhu tubuh normal dengan pengeluaran kalori dan konsumsi
oksigen yang minimal
7
Neutral Thermal Environment

Klaus MH, Martin RJ, Fanaroff AA. Physical Environment dalam : Care of The High Risk Neonate. WB
Saunder, Philadelphia, Pensylvania. 1993 8
MEKANISME TERMOREGULASI

• TERMOREGULASI adalah keseimbangan antara kehilangan


panas dan produksi panas tubuh.
• Tujuan utamanya adalah mengendalikan lingkungan untuk
mempertahankan lingkungan suhu netral dan meminimalkan
pengeluaran energi.
9
PRODUKSI PANAS
• Pada saat lahir, suhu tubuh turun seketika diikuti dengan stres dingin
• Produksi panas terjadi akibat pelepasan norepinefrin yang
menyebabkan metabolisme simpanan lemak coklat dan konsumsi
oksigen dan glukosa
• Catatan: Karena neonatus tidak menggigil, mereka harus mengandalkan
termogenesis tanpa menggigil atau kimiawi untuk memproduksi panas
Kehilangan panas
10
METODE KEHILANGAN PANAS

Evaporasi
• Kehilangan panas ke udara ruangan melalui kulit yang basah atau selaput
mukosa.
Konduksi
• Terjadi jika bayi diletakkan pada permukaan yang dingin dan padat.
Radiasi
• Terjadi jika panas berpindah dari bayi ke benda padat lainnya tanpa melalui
kontak langsung.
Konveksi
• Kehilangan panas dari kulit bayi ke udara yang bergerak. 11
12
• Semua metode tersebut dapat menjadi masalah di bagian ruang bayi di
rumah sakit. Jika udara sangat panas, bayi akan mengumpulkan panas
terutama melalui radiasi dan konveksi.
• Neonatus sakit/ prematur tidak mempunyai kemampuan untuk
meningkatkan suhu tubuhnya dengan cara meningkatkan laju
metabolik.
• Selain itu, simpanan lemak coklat dan subkutan lebih sedikit
dibandingkan dengan neonatus cukup bulan.
13
Pemeriksaan Suhu

14

• Pemeriksaan suhu aksiler selama 5 menit


• Pemeriksaan suhu rektal tidak dianjurkan
HIPOTERMIA

suhu tbh di bawah 36,5 ºC


Faktor risiko :
• Lingkungan yang dingin
• Asuhan neonatus yang tidak tepat segera setelah lahir misalnya pengeringan tubuh
tidak memadai, baju tidak memadai, dan dipisahkan dari ibu.
• Prosedur penghangatan tidak memadai (sebelum dan selama perjalanan).
• Neonatus yang sakit dan stres.
15
TANDA DAN GEJALA HIPOTERMIA

Pengukuran suhu pada neonatus mungkin tidak dapat mendeteksi


secara dini adanya stres dingin, karena neonatus akan menggunakan
simpanan energi lebih dahulu untuk mempertahankan suhu tubuhnya.

16
TANDA DAN GEJALA HIPOTERMIA

• Kaki teraba dingin.


• Kemampuan mengisap rendah atau tidak bisa menyusu.
• Letargi dan menangis lemah.
• Perubahan warna kulit dari pucat dan sianosis menjadi kutis marmorata
atau pletora.
• Takipnea dan takikardia.
17
Saat hipotermia menetap, tanda berikut berlanjut:
• Letargi
• Apnea dan bradikardia
• Risiko tinggi untuk terjadinya hipoglikemia, asidosis metabolik,
sesak nafas, dan faktor pembekuan yang abnormal (DIC,
perdarahan intraventrikel, perdarahan paru).
18
HIPERTERMIA
• suhu tubuh di atas 37.5 ºC
• Faktor risiko:
• Suhu lingkungan
• Dehidrasi
• Perdarahan Intrakranial
• Infeksi
• Catatan: Inkubator harus dipantau ketat terhadap terjadinya suhu
terlalu tinggi atau terlalu rendah yang tidak benar.
19
TANDA DAN GEJALA HIPETERMIA

• Kulit hangat terlihat kemerahan atau merah muda pada awalnya dan kemudian
terlihat pucat.
• Berkeringat; ketidakmampuan neonatus untuk mengeluarkan keringat mungkin
merupakan sebagian besar dari masalah yang terjadi.
• jika masalah berlanjut  meningkatnya laju metabolik, iritabel/rewel, takikardia, dan
takipnea, dehidrasi, perdarahan intrakranial, heat stroke, dan kematian.
20
KLASIFIKASI BERAT RINGAN HIPOTERMIA/HIPERTERMIA
TEMUAN*
ANAMNESIS PEMERIKSAAN KLASIFIKASI
- Bayi terpapar suhu lingkungan - Suhu Tubuh 32 oC- 36,4oC Hipotermia sedang
yang rendah - Gangguan napas
- Waktu timbulnya kurang dari 2 - Denyut jantung kurang dari 100
hari kali/menit
- Malas minum
- Letargi
- Bayi terpapar suhu lingkungan - Suhu tubuh < 32 oC Hipotermia berat
yang rendah - Tanda hipotermia sedang
- Waktu timbulnya kurang dari 2 - Kulit teraba keras
hari - Napas pelan dan dalam

21
ANAMNESIS PEMERIKSAAN KLASIFIKASI
- Tidak terpapar dengan dingin - Suhu tubuh berfluktuasi antara 36 oC – 39 Suhu tubuh tidak stabil (pertimbangkan
atau panas yang berlebihan oC meskipun berada di suhu lingkungan dugaan sepsis)
yang stabil
- Fluktuasi terjadi sesudah periode suhu stabil

- Bayi berada dilingkungan yang - Suhu tubuh > 37, 5 oC Hipertermia


sangat panas, terpapar sinar - Tanda dehidrasi (elastisitas kulit turun,
matahari, berada di dalam mata dan ubun-ubun besar cekung, lidah
inkubator, atau di bawah dan membran mukosa kering)
pemancar panas. - Malas minum
- Frekuensi napas > 60 kali. Menit
- Denyut jantung > 160 kali/ menit
- Letargi
- Iritabel
*Diagnosis pada kolom sebelah kanan tidak dapat ditegakkan apabila temuan yang dicetak tebal tidak dijumpai pada bayi.
Adanya temuan yang dicetak tebal, juga tidak menjamin diagnosis tegak. Diganosis ditegakkan hanya bila didapat temuan
yang dicetak miring. Temuan lain yang dicetak tegak merupakan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis,
tetapi bila tidak dijumpai tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis. 22

Buku Panduan Manajemen Bayi Bayi Baru Lahir (Depkes, 2004)


PENGENDALIAN SUHU DI UNIT PERAWATAN
NEONATUS

• Berikan lingkungan hangat yaitu lingkungan yang bebas dari aliran


udara yang bertiup.
• Keringkan bayi segera.
• Kontak kulit dengan kulit bersama ibu secara langsung dapat
berfungsi sebagai sumber panas. Selimuti ibu dengan bayinya
sekaligus atau tutupi dengan kain. 23
24
DI RUANG BERSALIN
• Gunakan radiant warmer pada saat lahir untuk semua neonatus dari ibu yang
mempunyai faktor risiko atau menunjukkan tanda stres intrapartum atau nilai Apgar
rendah.
• Gunakan topi bayi, jika ada, untuk menutupi bagian kepala.
• Bayi tidak menggunakan pakaian, kecuali popok, dan diletakkan tepat dibawah
penghangat di dalam radiant warmer.
• Probe pengukur suhu diletakkan rata di kulit neonatus, biasanya di bagian kanan perut.
• Suhu servo diatur 36,5°C.
• Suhu diukur setiap 30 menit atau sesuai instruksi dokter untuk menentukan bahwa
suhu neonatus berada pada kisaran yang tepat.
• Pastikan bahwa semua petugas yang terlibat dalam perawatan ini mampu
menggunakan inkubator dengan benar, memantau suhu bayi, dan menyesuaikan suhu
inkubator untuk mempertahankan lingkungan suhu netral (NTE).
• Inkubator memerlukan pasokan listrik yang tidak terputus, petugas terlatih untuk
pemeliharaan dan perbaikan, serta ketersediaan suku cadang untuk perbaikan.
• Perhatikan lokasi inkubator di ruang bayi. Inkubator harus jauh dari jendela yang
tidak bisa ditutup rapat. Suhu ruangan harus tepat dan tiupan angin minimal.
• Catatan: Jika inkubator terkena sinar matahari langsung atau lampu fototerapi
digunakan, pemantauan suhu neonatus dan penyesuaian suhu inkubator perlu sering
dilakukan untuk mencegah pemanasan yang berlebihan
• Jika neonatus memerlukan perawatan
dalam inkubator, penting untuk
menganjurkan orang tua bayi berkunjung
dan memeluknya sesering mungkin, dan
memanfaatkan kontak kulit dengan kulit
agar suhunya stabil.

27
• Suhu neonatus harus dipantau secara
berkala, setiap 4 jam atau sesuai
instruksi dokter untuk
mempertahankan suhu tubuh 36,5 –
37,5°C.
• Lubang jendela inkubator sedapat
mungkin harus digunakan saat
melakukan perawatan neonatus, dan
tidak dengan membuka pintu
inkubator yang lebih besar.

28
SUHU INKUBATOR
BERAT LAHIR SUHU INKUBATOR (OC) MENURUT UMUR
35oC 34 oC 33 oC 32 oC
<1500 g 1-10 hari 11 hari-3 minggu 3-5 minggu >5 minggu
1500-2000 g 1-10 hari 11 hari - 4 minggu >4 minggu

2100 – 2500 g 1-2 hari 3 hari – 3 minggu >3 minggu


>2500 g 1-2 hari > 2 hari

Buku Panduan Manajemen Bayi Bayi Baru Lahir (Depkes, 2004)

29
PERAWATAN METODE KANGURU

• Menghangatkan/mempertahankan bayi
pada suhu normal
• Memperlancar ASI/ Menfasilitasi menyusui
• Meningkatkan durasi menyusui
• Meningkatkan BABY BONDING
30
31
Remember !
Warm chain

• WARM DELIVERY ROOM • BATHING POSTPONED


(>25°C) • APPROPRIATE CLOTHING
• WARM RESCUSITATION • MOTHER & BABY
• IMMEDIATE DRYING TOGETHER
• SKIN-TO SKIN CONTACT • WARM TRANSPORTATION
• BREASTFEEDING • PROFESSIONAL ALERT

32
33