Vous êtes sur la page 1sur 26

HYPOGLYCEMIA PADA

NEONATUS
Debora S.Liana, dr., Sp.A
FK UNDANA
KUPANG
Definisi Hipoglikemia Pada
Neonatus

• Kadar glukosa <40-45 mg/dl dianggap tidak normal

• Sering gejala tidak jelas/asimptomatik.

• Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat


2
mencegah konsekuensi yang serius.
Penyebab dan Mekanisme Hipoglikemia

1. Berkurangnya simpanan glukosa dan menurunnya


produksi glukosa.
2. Meningkatnya pemakaian glukosa (hiperinsulinisme).
3. Kedua mekanisme tersebut.
3 4. Lain-lain.
penyebab dan mekanisme hipoglikemia)

1. Berkurangnya simpanan glukosa dan menurunnya produksi glukosa


Neonatus yang mempunyai risiko untuk keadaan ini:
 KMK
 BKB (prematur) atau BLB
 Penundaan pemberian asupan/ puasa
 Asfiksia perinatal
4
 Hipotermia dan atau stres dingin
penyebab dan mekanisme hipoglikemia)

2. Meningkatnya pemakaian glukosa: Hiperinsulinisme


Neonatus yang berisiko untuk keadaan ini:
 IDM  BMK
 Polisitemia
 Eritroblastosis fetalis (isoimunisasi RH-berat)
 Sindroma Beckwith-Wiedemann.
5
 Nesidioblastosis atau adenoma pankreatik.
 Malposisi kateter UA.
penyebab dan mekanisme hipoglikemia)

3. Lain-lain:
 Insufisiensi adrenal
 Sepsis
 Penyakit penyimpanan glikogen (glycogen storage
diseases)
 Transfusi tukar
6
 Penyakit jantung kongenital – hipopituitarisme kongenital
 Obat untuk ibu: steroid, beta blocker
Tanda Klinis Hipoglikemia pada Neonatus
 Neonatus bisa menunjukkan gejala ataupun tidak.
 Kecurigaan tinggi harus selalu diterapkan, dan selalu antisipasi
hipoglikemia pada neonatus dengan faktor risiko.
Tanda klinis:
• Tidak tenang, gerakan tak beraturan (jittering)
• Sianosis
7 • Kejang atau tremor
• Letargi dan sulit menyusui
• Asupan yang buruk
Diagnosis Hipoglikemia pada Neonatus
• Untuk mencegah abnormalitas perkembangan syaraf, maka
identifikasi dan pengobatan tepat waktu untuk hipoglikemia adalah
sangat penting.

• Pemantauan glukosa di tempat tidur (bed side) adalah tindakan


tepat untuk penapisan dan deteksi awal.
8

• Hipoglikemia harus dikonfirmasi oleh nilai serum dari laboratorium


jika memungkinkan.
TATALAKSANA

1. Memantau Kadar Glukosa Darah


Semua neonatus berisiko tinggi harus ditapis:
 Pada saat lahir
 30 menit setelah lahir
 Kemudian setiap 2-4 jam selama 48 jam atau sampai pemberian

9
minum berjalan baik dan kadar glukosa normal tercapai
tatalaksana
2. Pencegahan Hipoglikemia
 Menghindari faktor risiko yang dapat dicegah (misalnya hipotermia).
 Pemberian makan enteral, Jika bayi tidak mungkin menyusui, mulailah
pemberian minum dengan menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam
setelah lahir.
 Neonatus yang berisiko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai
asupan penuh dan tiga kali pengukuran normal yaitu berada di atas 45
10
mg/dl (diperiksa sebelum pemberian minum).
 Jika ini gagal, terapi IV dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar
glukosa dipantau.
tatalaksana

3. Perawatan Hipoglikemia
• Koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg dengan dekstrosa 10%
 = 2 cc/kg dan diberikan melalui IV selama 5 menit dan diulang
sesuai keperluan.
• Infus tak terputus (continual) glukosa 10% dengan kecepatan 6-8
mg/kg/menit harus dimulai.

11 • Kecepatan Infus Glukosa (GIR)

Kec cairan (cc/jam) x kons Dextrose (%)


6 x berat badan (Kg)
tatalaksana

3. Perawatan Hipoglikemia (lanjutan)


• Pemantauan glukosa di tempat tidur (bed side) secara
sering/berkala diperlukan untuk memastikan bahwa neonatus
mendapatkan glukosa yang memadai.
• Ketika pemberian makan telah dapat ditoleransi dan nilai
pemantauan glukosa di tempat tidur (bed side) sudah normal, maka
12 infus dapat diturunkan secara bertahap. Tindakan ini mungkin
memerlukan waktu 24-48 jam atau lebih untuk menghindari
kambuhnya hipoglikemia.
tatalaksana

4. Hipoglikemia Refraktori
Kebutuhan glukosa > 12 mg/kg/menit menunjukkan adanya
hiperinsulinisme. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan:
• Hidrokortison: 5 mg/kg IV atau IM setiap 12 jam
• Glukagon 200 ug IV (infus berkesinambungan 10 ug/kg/jam).
• Diazoxide 10 mg/kg/hari setiap 8 jam menghambat sekresi insulin
13 pankreas.
14

Bayi dari Ibu Dengan Diabetes


15

Pendahuluan

Pengendalian diabetes pada ibu merupakan faktor kunci


dalam menentukan hasil keluaran (outcome ) janin.
Data terbaru menunjukkan bahwa angka kesakitan dan
kematian perinatal pada anak dari ibu yang mengidap
diabetes melitus membaik dengan adanya tatalaksana
diit dan terapi insulin.
16
Patofisiologi

 Makrosomia
Karena hiperglikemia ibu – alur hiperinsulinemia janin
 Kecil untuk masa kehamilan
Ibu dengan penyakit ginjal, retinal atau jantung
mempunyai kecenderungan melahirkan bayi kecil untuk
masa kehamilan atau prematur, melahirkan bayi
dengan kondisi yang buruk, gawat janin atau kematian
janin.
GANGGUAN SPESIFIK YANG SERING DITEMUI PADA IDM
17

1. Gangguan metabolik
 Hipoglikemia
 Terjadi pada hampir 40% IDM
 Terjadi dalam waktu 1-2 jam setelah persalinan
 Pada saat persalinan, pasokan glukosa melalui plasenta terhenti, dan
karena tingginya konsentrasi insulin plasma, kadar glukosa darah menurun
 Hipokalsemia
 Terjadi pada hampir 50% IDM
 Tingkat keparahan berkaitan dengan keparahan diabetes ibu Paling rendah
pada usia 24-72 jam
 Hipomagnesemia
 Berkaitan dengan hipomagnesemia ibu dan keparahan diabetes ibu
gangguan spesifik yang sering ditemui pada idm
18
2. Gangguan kardiorespiratori
 Asfiksia perinatal
Terjadi pada hampir 25% IDM. Diakibatkan oleh prematuritas,
operasi sesar, intrauterine hipoksia yang disebabkan oleh
penyakit vaskular ibu atau makrosomia
 Penyakit membran hialin (HMD)
 Karena persalinan prematur, tertundanya kematangan produksi
surfaktan pulmonar (hiperinsulinisme bertentangan dengan kerja
kortisol) atau persalinan melalui operasi sesar elektif
gangguan spesifik yang sering ditemui pada idm
19

3. Gangguan hematologis
 Polisitemia dan hiperviskositas
Meningkatnya kadar eritropoetin
Meningkatnya produksi sel darah merah, sekunder terhadap
hipoksia janin pada ibu dengan penyakit vaskular
Transfusi plasenta intrauterus yang disebabkan oleh hipoksia
akut selama persalinan dan melahirkan
 Hiperbilirubinemia
 Trombosis vena ginjal
gangguan spesifik yang sering ditemui pada idm
20
4. Masalah morfologis dan fungsional
 Cedera lahir
 Mungkin termasuk fraktur klavikula, Erb's palsy dan cedera sistem syaraf
karena makrosomia dan prematuritas
Malformasi Kongenital
 Terjadi pada 6,4% IDM, Pengendalian
 Cacat jantung (TGA, VSD atau ASD)
 Cacat renal (misalnya agenesis)
 Cacat saluran gastrointestinal (small left colon syndrome atau situs inversus)
 Cacat neurologis (misalnya anensefali atau meningocele syndrome)
 Cacat skeletal (misalnya hemivertebrae atau caudal regression syndrome)
 Wajah abnormal, Microphthalmos
21
PRESENTASI KLINIS
PADA SAAT LAHIR
 Sembab, wajah plethoric
 Tremulous dan hipereksitasia
 Mungkin besar atau kecil untuk masa kehamilan
SETELAH LAHIR
 Hipoglikemia
 Tanda gawat napas
 Mungkin ada penyakit jantung. Didiagnosis dengan adanya pembesaran
cardiothymic ratio pada x-ray dada atau bukti fisis kegagalan jantung
 Anomali kongenital mungkin diketahui pada saat pemeriksaan fisis
22
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Kadar glukosa serum
 Diperiksa dengan dextrostix pada saat persalinan dan pada usia ½, 1, 2, 4, 8, 12, 24,
36 dan 48 jam
 Pengukuran < 45 mg/dl dengan dextrostix harus diverifikasi oleh pengukuran serum
glukosa
 Kadar serum kalsium Pada usia 6, 24 dan 48 jam
 Hematokrit  Pada saat lahir dan pada usia 24 jam
 Kadar bilirubin serum
 Tes lain:
 Analisis gas darah arteri
 Hitungan sel darah lengkap (CBC), kultur dan pewarnaan gram
diagnosis
23

2. Pemeriksaan Radiologi

Tidak diperlukan kecuali ada bukti masalah jantung,


pernapasan atau kerangka

3. Elektrokardiografi dan ekokardiografi

Jika dicurigai adanya hypertrophic cardiomyopathy


atau malformasi jantung
24 TATALAKSANA
1. Tatalaksana metabolic
 Hipoglikemia
 2 ml/kg dextrose 10% selama 5menit, ulangi sesuai kebutuhan
 Infusion terus menerus glukosa 10% dengan GIR 6-8 mg/kg/min
 Mulai pemberian minum enteral secepatnya
 kortikosteroid: pada hipoglikemia persisten (hidrokortison: 5 mg/kg/12 jam)
 Pertimbangkan pemberian glukagon dan epinefrin
 Hipokalsemia
 Dosis awal 1-2 ml/kg/dosis IV Kalsium glukonat 10% (perlahan10 minutes)
 Dosis pemeliharaan diberikan melalui infus (Berespon dalam waktu 3-4 hari)
 intravena terus menerus, 2-8 ml/kg/hari
tatalaksana
25

 Hipomagnesemia  Magnesium sulfat - 2 mEq/kg/dosis setiap 6 jam IV atau IM


 Masalah kardiorespiratori
 Asfiksia perinatal
 Penyakit membran hyaline
 Kardiomiopati
 Masalah hematologis
 Hiperbilirubinemia
 Pantau kadar serum bilirubin
 Fototerapi dan transfusi tukar jika diperlukan
 Tatalaksana makrosomia dan cedera lahir
26

TERIMA KASIH