Vous êtes sur la page 1sur 21

LONG CASE

SMF/BAGIAN ILMU BEDAH

TRAUMA TAJAM ABDOMEN

Oleh
Selvy Anriani, S. Ked
1208017026

Pembimbing :
dr. Widhitomo, Sp.B

SMF ILMU BEDAH


Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Luka tusuk (vulnus punctum) adalah luka yang disebabkan oleh benda
tajam seperti pisau, paku dan benda tajam lainnya. Biasanya pada luka tusuk,
darah tidak keluar (keluar sedikit) kecuali benda penusuknya dicabut. Luka tusuk
sangat berbahaya bila mengenai organ vital seperti paru, jantung, ginjal maupun
abdomen.1
Benda tajam merupakan benda yang permukaannya mampu mengiris
sehingga kontinuitas jaringan hilang. Kekerasan akibat benda tajam menyebabkan
luka iris, luka tusuk atau luka bacok. Luka tusuk adalah luka yang diakibatkan
oleh benda tajam atau benda runcing yang mengenai tubuh dengan arah
tegak lurus atau kurang lebih tegak lurus. Luka tusuk merupakan luka terbuka
dengan luka lebih dalam dari panjang luka. Tepi luka biasanya rata dengan sudut
luka yang runcing pada sisi tajam benda penyebab luka tusuk.1,2
Jika abdomen mengalami luka tusuk, usus yang menempati sebagian besar
rongga abdomen akan sangat rentan untuk mengalami trauma penetrasi. Secara
umum organ-organ padat berespon terhadap trauma dengan perdarahan.
Sedangkan organ berongga bila pecah mengeluarkan isinya dalam hal ini bila usus
pecah akan mengeluarkan isinya ke dalam rongga peritoneal sehingga akan
mengakibatkan peradangan atau infeksi. Trauma perut merupakan luka pada isi rongga perut
dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada
penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan
tindakan laparatomi.2

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Abdomen


a. Anatomi Luar dari Abdomen3
1. Abdomen Depan
Definisi abdomen depan adalah bidang yang bagian superiornya
dibatasi oleh garis intermammaria, di inferior dibatasi oleh kedua
ligamentum inguinale dan simfisis pubis serta di lateral oleh kedua linea
aksilaris anterior.
2. Pinggang
Ini merupakan daerah yang berada diantara linea aksilaris anterior dan
linea aksilaris posterior, dari sela iga ke-6 diatas, ke bawah sampai crista
iliaca. Di lokasi ini adanya dinding otot abdomen yang tebal, berlainan
dengan dinding otot yang lebih tipis dibagian depan, menjadi pelindung
terutama terhadap luka tusuk.
3. Punggung
Daerah ini berada dibelakang dari linea aksilaris posterior, dari ujung
bawah scapula sampai crista iliaca. Seperti halnya daerah flank, disini otot-
otot punggung dan otot paraspinal menjadi pelindung terhadap trauma
tajam.

b. Anatomi Dalam dari Abdomen3


1. Rongga Peritoneal
Rongga peritoneal terdiri dari dua bagian, yaitu atas dan bawah. Rongga
peritoneal atas dilindungi oleh bagian bawah dari dinding thorax yang
mencakup diafragma, hepar, lien, gaster dan colon transversum. Bagian ini
juga disebut komponen thoracoabdominal dari abdomen. Pada saat
diafragma naik sampai sela iga IV pada waktu ekspirasi penuh, setiap
terjadi fraktur iga maupun luka tusuk tembus dibawah garis
intermammaria bisa mencederai organ dalam abdomen. Rongga peritoneal

3
bawah berisikan usus halus, bagian colon ascendens dan colon descendens,
colon sigmoid dan pada wanita, organ reproduksi internal.
2. Rongga Intraperitoneal
Rongga yang potensial ini adalah rongga yang berada dibelakang
dinding peritoneum yang melapisi abdomen dan didalamnya terdapat aorta
abdominalis, vena cava inferior, sebagian besar dari duodenum, pankreas,
ginjal dan ureter serta sebagian posterior dari colon ascendens dan colon
descendens, dan juga bagian rongga pelvis yang retroperitoneal. Cedera
pada organ dalam retroperitoneal sulit dikenali karena daerah ini jauh dari
jangkauan pemeriksaan fisik yang biasa dan juga cedera disini pada
awalnya tidak akan memperlihatkan tanda maupun gejala peritonitis.
Disamping itu, rongga ini tidak termasuk dalam bagian yang diperiksa
sampelnya pada diagnostic peritoneal lavage (DPL).4
3. Rongga Pelvis
Rongga pelvis yang dilindungi oleh tulang-tulang pelvis, sebenarnya
merupakan bagian bawah dari rongga intraperitoneal, sekaligus bagian
bawah dari rongga retroperitoneal. Terdapat didalamnya rectum, vesica
urinaria, pembuluh-pembuluh iliaca dan pada wanita, organ reproduksi
internal. Sebagaimana halnya bagian thoracoabdominal, pemeriksaan
organ-organ pelvis terhalang oleh bagian-bagian tulang diatasnya.

c. Otot Penyusun Dinding Abdomen4


Otot penyusun dinding abdomen bagian depan/ventral (dari dalam ke luar)
1. M. rectus abdominis (kiri-kanan linea mediana)
- Tersusun memanjang daricostae 5-7 ke symphisispubis
- Dibungkus vagina m. rectiabdominis
- Fungsi :Menarik dada saat ekspirasi, mengangkat pelvis, antefleksi
columna vertebralis, membantu rotasi rongga dada
2. M. transversus abdominis
3. M. obliquus internus abdominis
4. M. obliquus eksternus abdominis

4
Otot penyusun dinding abdomen bagian belakang/dorsal (dari dalam ke luar)
1. M. psoas major dan m psoas minor
2. M. quadratus lumborum
3. M. erector trunci
4. M. latissimus dorsi

Gambar 2.1. Otot Penyusun Dinding Abdomen

d. Fascia3,4
1. Linea Alba adalah suatu garis putih yang dibentuk oleh jaringan ikat kasar dari proc.
xiphoideus ke symphisis os pubis diantara kedua mm rectiabdominis.
2. Linea Semi lunaris adalah suatu garis putih yang dibentuk oleh tendo m.
Obliquus dan m. transversus, dimulai dari cartilagocostaeberakhir ke bawahumbilikus
di kiri dan kanan linea alba.
3. Fascia: (dari luar)
a. superfisial abdominis (ventral)
b. superfisial dorsi (dorsal)
c. transversa abdominis (dalam)
d. Dalam fascia transversa abdominis = peritoneum parietale

5
Gambar 2.2. Fascia

e. Vaskularisasi4
1. Aorta abdominalis masuk ke rongga perut setinggi v thoracalis
XIIberakhirsetinggi lumbalis IV = bercabang menjadi arteri iliaca communis.
2. A iliaca communis
a) a. iliaca externa yang kemudian bercabang menjadi a epigastrica inferior dan a
circumflexailium profunda dan setelah masuk lakuna vasorum menjadi a
femoralis.
b) a. hypogastrica bercabang menjadi a iliolumbalis.
3. Cabang aorta abdominal = arteri lumbalis.
4. arteri femoralis bercabang menjadi arteri epigastrica superficialis dan
arteri circum-flexa iliumsuperficialis
f. Inervasi4
Dinding abdomen :
a. Nervus intercostalis 7 s/d 12
1. Kulit dinding perut
2. Peritoneum parietale
3. Muscle: transversus abdominis, obliquus internus dan externus abdominis,
rectus abdominis.
b. Nervus lumbalis
1. Kulit sampai di daerah gluteus medial.

6
2. Muscle: quadratuus lumborum, psoas major dan minor, iliohypogastricus dan
ilioinguinalis.
g. Peritoneum4
1. Differensiasi dari mesoderm
2. Membungkus organ-organ dalam abdomen kecuali ginjal dan pankreas (ekornya
saja yang masuk peritoneum)
3. Bagian saluran pencernaan yang terletak di luar peritoneum=
a. Duodenum
b. Colon ascenden dan descenden
4. Saluran pencernaan yang terletak di dalam peritoneum=
a. Jejunum dan ileum
b. Colon transversum
c. Colon sigmoideum dan caecum
5. Digantung oleh jaringan ikat yang dinamakan mesocolon(colon) dan mesenterium
(usus halus).

2.2. Trauma Abdomen


Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka ataupun cedera. Trauma
abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara
diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk.3
Trauma pada dinding abdomen terdiri dari :
a. Kontusio dinding abdomen disebabkan trauma non-penetrasi
Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera intra abdomen,
kemungkinan terjadi eksimosis atau penimbunan darah dalam jaringan
lunak dan masa darah dapat menyerupai tumor.
b. Laserasi, Jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus
rongga abdomen harus di eksplorasi, atau terjadi karena trauma
penetrasi.
Trauma Abdomen adalah terjadinya atau kerusakan pada organ abdomen
yang dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan
metabolisme, kelainan imonologi dan gangguan faal berbagai organ.

7
Trauma abdomen pada isi abdomen, yaitu:5
a. Perforasi organ viseral intraperitoneum
Cedera pada isi abdomen mungkin di sertai oleh bukti adanya cedera
pada dinding abdomen.
b. Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen
c. Cedera thorak abdomen
Setiap luka pada thoraks yang mungkin menembus sayap kiri diafragma,
atau sayap kanan dan hati harus dieksplorasi.

2.3. Klasifikasi Trauma Abdomen


Trauma pada abdomen dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:6
a. Trauma penetrasi (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga
peritonium)
1. Luka Tusuk
2. Luka Tembak
b. Trauma non-penetrasi (trauma tumpul)

2.4. Definisi Luka Tusuk Abdomen


Luka tusuk merupakan bagian dari trauma tajam dimana luka tusuk masuk
ke dalam jaringan tubuh dengan luka sayatan yang sering sangat kecil pada kulit,
misalnya luka tusuk pisau. Berat ringannya luka tusuk tergantung dari dua faktor
yaitu:
a.Lokasi anatomi injury.
b.Kekuatan tusukan, perlu dipertimbangkan panjangnya benda yang
digunakan untuk menusuk dan arah tusukan.
Jika abdomen mengalami luka tusuk, usus yang menempati sebagian besar
rongga abdomen akan sangat rentan untuk mengalami trauma penetrasi. Secara
umum organ-organ padat berespon terhadap trauma dengan perdarahan.
Sedangkan organ berongga bila pecah mengeluarkan isinya dalam hal ini bila usus

8
pecah akan mengeluarkan isinya ke dalam rongga peritoneal sehingga akan
mengakibatkan peradangan atau infeksi.
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul
dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja. Trauma perut
merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya
dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan
dapat pula dilakukan tindakan laparatomi.1

2.5. Patofisiologi Luka Tusuk Abdomen


Jika terjadi trauma penetrasi atau non-penetrasi kemungkinan akan terjadi
pendarahan intraabdomen yang serius, pasien akan memperlihatkan tanda-tanda
iritasi yang disertai penurunan hitung sel darah merah yang akhirnya gambaran
klasik syok hemoragik. Bila suatu organ viseral mengalami perforasi, maka tanda-
tanda perforasi, tanda-tanda iritasi peritonium cepat tampak. Tanda-tanda dalam
trauma abdomen tersebut meliputi nyeri tekan, nyeri spontan, nyeri lepas dan
distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadi peritonitis umum. Bila syok
telah lanjut pasien akan mengalami takikardi dan peningkatan suhu tubuh, juga
terdapat leukositosis. Biasanya tanda-tanda peritonitis mungkin belum tampak.
Pada fase awal perforasi kecil hanya tanda-tanda tidak khas yang muncul. Bila
terdapat kecurigaan bahwa masuk rongga abdomen, maka operasi harus
dilakukan.1,3
Trauma tajam atau tusukan benda tajam memberi jejas pada kutis dan
subkutis, bila lebih dalam akan melibatkan otot abdomen, dan tusukan lebih dalam
akan menembus peritoneum dan mampu mencederai organ intraperitoneal atau
mungkin langsung mencederai organ retroperitoneal bila trauma berasal dari arah
belakang. Sangat jarang ditemui trauma tajam yang menembus dari muka sampai
belakang dinding abdomen atau sebaliknya.
Trauma tajam dinding abdomen akan menimbulkan perdarahan in situ, bila
trauma menembus peritoneum, mungkin terdapat polas omentum.

9
Trauma tajam dapat dengan mudah mencederai hepar, mesenterium dan
mesokolon, gaster, pancreas atau buli-buli, namun karena sifat mobilitasnya,
jarang mencederai usus halus, kolon, limpa dan ginjal.
Akibat dari trauma tajam pada umumnya adalah perdarahan yang terpantau,
atau bila yang terkena cedera adalah gaster, akan didapati penyebaran asam
lambung dalam rongga peritoneum, yang akan memberi perangsangan yang cukup
hebat, berupa tanda-tanda peritonitis.
Luka tusuk akan mengakibatkan kerusakan jaringan karena laserasi ataupun
terpotong. Luka tusuk tersering mengenai hepar (40%), usus halus (30%),
diafragma (20%) dan colon (15%).1,3

2.6. Manifestasi Klinis


a. Penurunan kesadaran (malaise, letargi, gelisah) yang disebabkan oleh
kehilangan darah dan tanda-tanda awal shock hemoragik
b. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ.
c. Respon stres simpatis.
d. Perdarahan dan gangguan pembekuan darah.
e. Kontaminasi bakteri dan kematian sel.
2.7. Penilaian Luka Tusuk Abdomen
a. Anamnesis1,2,5
Bila meneliti pasien dengan trauma tajam, anamnese yang teliti harus
diarahkan pada waktu terjadinya trauma, jenis senjata yang dipergunakan, jarak
dari pelaku, jumlah tikaman dan jumlah perdarahan eksternal yang tercatat di
tempat kejadian. Bila mungkin, informasi tambahan harus diperoleh dari pasien
mengenai hebatnya maupun lokasi dari setiap nyeri abdominalnya dan apakah ada
nyeri alih.
b. Pemeriksaan Fisik1,2,5
1. Inspeksi
Umumnya pasien harus diperiksa tanpa pakaian. Abdomen bagian
depan dan belakang, dada bagian bawah dan perineum diteliti

10
bagaimanakah laserasinya, liang tusukannya, adakah benda asing yang
menancap, dan apakah ada omentum ataupun bagian usus yang keluar.
2. Evaluasi Luka Tusuk
Luka tusukan pisau biasanya ditangani lebih selektif, akan tetapi 30%
kasus mengalami cedera intraperitoneal. Bila ada kecurigaan bahwa luka
tusuk yang terjadi sifatnya superficial dan nampaknya tidak menembus
lapisan otot dinding abdomen, biasanya ahli bedah yang berpengalaman
akan mencoba untuk melakukan eksplorasi luka terlebih dahulu untuk
menentukan kedalamannya. Akan tetapi, karena 25-33% luka tusuk
diabdomen depan tidak menembus peritoneum, laparotomi pada pasien
seperti ini menjadi kurang produktif.
Dengan kondisi steril, anestesi lokal disuntikkan dan jalur luka diikuti
sampai ditemukan ujungnya. Bila terbukti peritoneum tembus, pasien
mengalami risiko lebih besar untuk cedera intraabdominal, dan banyak
ahli bedah menganggap ini sudah indikasi untuk melaksanakan
laparatomi. Setiap pzsien yang sulit kita eksplorasi secara lokal karena
gemuk, tidak kooperatif maupun karena perdarahan jaringan lunak yang
mengaburkan penilaian kita harus dirawat untuk evaluasi ulang atauapun
untuk laparatomi.
c. Pemeriksaan X-Ray untuk Screening Trauma Tajam
Pasien luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak
memerlukan pemeriksaan screening x-ray. Pada pasien luka tusuk diatas
umbilicus atau dicurigai dengan cedera thoracoabdominal dengan
hemodinamik yang normal, rontgen foto thorak tegak bermanfaat untuk
menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumothorak, ataupun untuk
dokumentasi adanya udara bebas intraperitoneal.

2.8. Pemeriksaan Diagnostik Pada Trauma Tajam


a. Cedera thorax bagian bawah
Untuk pasien yang asimptomatik dengan kecurigaan cedera pada
diafragma dan struktur abdomen bagian atas diperlukan pemeriksaan fisik

11
maupun thorak foto berulang, thoracoskopi ataupun laparoskopi ataupun
pemeriksaan CT scan. Dengan pemeriksaan diataspun kita masih bisa
menemukan adanya hernia diafragma sebelah kiri karena luka tusuk
thoracoabdominal, sehingga untuk luka seperti ini opsi lain diperlukan yaitu
eksplorasi bedah.1,2
b. Eksplorasi lokal luka
55-65% pasien luka tusuk tembus abdomen depan akan mengalami
hipotensi, peritonitis ataupun eviscerasi omentum maupun usus halus. Untuk
pasien seperti ini harus segera dilakukan laparotomi. Untuk pasien
selebihnya, sesudah konfirmasi adanya luka tusuk tembus peritoneum
sesudah melakukan eksplorasi lokal luka, setengahnya juga akan mengalami
laparotomi. Laparotomi ini merupakan salah satu opsi yang relevan untuk
semua pasien ini. Untuk pasien yang relatif asimptomatik (kecuali rasa nyeri
akibat tusukan), opsi diagnostik yang tidak invasive adalah pemeriksaan
fisik diagnostik serial dalam 24 jam, DPL maupun laparoskopi diagnostik.
Pemeriksaan fisik diagnostik serial membutuhkan sumber daya manusia
yang besar, tetapi dengan ketajaman sebesar 94%. Dengan DPL bisa
diperoleh diagnosa lebih dini pada pasien yang asimptomatik dan ketajaman
mencapai 90% bila menggunakan hitung jenis sel seperti pada trauma
tumpul. Laparoskopi diagnostik bisa mengkonfirmasi ataupun
menyingkirkan tembusnya peritoneum, tetapi kurang bermakna untuk
mengenali cedera tertentu.1,2,5

2.9. Penatalaksanaan
Sesuai Advanced Trauma Life Support, penanganan yang penting untuk
trauma tajam pada abdomen, yaitu :1
a. Mengembalikan fungsi vital dan optimalisasi oksigenasi dan perfusi
jaringan.
b. Menentukan mekanisme trauma.
c. Pemeriksaan fisik yang hati-hati dan diulang berkala.

12
d. Menentukan cara diagnostik yang khusus bila diperlukan dan dilakukan
dengan cepat.
e. Tetap waspada akan kemungkinan adanya cedera vaskuler maupun
retroperitoneal yang tersembunyi.
f. Segera menentukan bila diperlukan operasi

Gambar 2.3. Manajemen Trauma Tembus 5


2.10. Penanganan Pre Hospital dan Hospital
a. Pre Hospital
1. Airway
Dengan kontrol tulang belakang. Membuka jalan napas menggunakan
teknik ‘head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala dan mengangkat
dagu, periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya
jalan napas. Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.7

13
2. Breathing
Dengan ventilasi yang adekuat. Memeriksa pernapasan dengan
menggunakan cara ‘lihat-dengar-rasakan’ tidak lebih dari 10 detik untuk
memastikan apakah ada napas atau tidak. Selanjutnya lakukan
pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat
tidaknya pernapasan).7
3. Circulation
Dengan kontrol perdarahan hebat. Jika pernapasan korban tersengal-
sengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak
ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio
kompresi dada dan bantuan napas dalam RJP adalah 30 : 2 (30 kali
kompresi dada dan 2 kali bantuan napas).7
Penetrasi (trauma tajam)
1. Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya)
tidak boleh dicabut kecuali dengan adanya tim medis.
2. Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan
dengan kain kassa pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau
sehingga tidak memperparah luka.
3. Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak
dianjurkan dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang
keluar dari dalam tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban
steril.
4. Imobilisasi pasien.
5. Tidak dianjurkan memberi makan dan minum.
6. Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka.
7. Kirim ke rumah sakit.
b. Hospital
Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli
bedah yang berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk
menentukan dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka
masuk dan luka keluar yang berdekatan.7

14
1. Skrinning pemeriksaan rontgen.
Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan
hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara
intraperitonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untuk
menentukan jalan peluru atau adanya udara retroperitoneum.
2. IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning
Ini di lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada.

2.11. Komplikasi
Akibat dari trauma tajam pada umumnya adalah perdarahan yang terpantau,
atau bila yang terkena cedera adalah gaster, akan didapati penyebaran asam
lambung dalam rongga peritoneum, yang akan memberi perangsangan yang cukup
hebat, berupa tanda-tanda peritonitis, Syok juga akan terjadi apabila pasien tidak
dilakukan resusitasi secepat mungkin serta infeksi.11

15
BAB 3
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas
• Nama : Tn. RO
• Umur : 20 tahun
• JK : Laki-laki
• Agama : Protestan
• Pekerjaan :-
• No MR : 46 93 34
a. Anamnesis
• Keluhan Utama : luka di perut kiri atas
• RPS : pasien mengeluh luka di perut kiri atas sejak 10 jam SMRS setelah
ditusuk oleh temannya. Luka disertai rasa nyeri. Riwayat pingsan (-), mual
(-), muntah (-), BAB berdarah (-), BAK (+) dalam batas normal. Keluhan
lain (-)
• MOI : pasien ditusuk di perut oleh temannya menggunakan benda tajam
pada jam 2 pagi (23/6/17), namun pasien tidak tau jenis benda tajamnya.
Awalnya pasien tidak sadar karena tidak ada nyeri, ia tersadar ada luka
ketika darah meleleh dari perutnya yang luka. (Pasien merupakan rujukan
dari RS Leona)
3.3 Primary Survey
A : bebas, paten

B : Spontan, RR : 25 x/menit

C : TD : 90/50 mmHg, N : 126x/menit

D : CM GCS E4V5M6

E : tampak luka yang telah dijahit sebanyak 2 jahitan pada regio LUQ abdomen

3.4 Secondary Survey

• KU tampak sakit sedang

• Kesadaran CM GCS :E4V5M6

16
• Kepala : jejas (-), Normocephal

• Mata :CA (+/+), pupil isokor, RCL/RCTL (+/+)

• Hidung : Rhinore (-), epistaksis (-), terpasang NGT mengalir darah


sebanyak ± 550 cc di dalam kantung urin

• Leher : jejas (-)

• Pulmo :

• I : pengembangan dada simetris, retraksi (-)

• P : Nyeri tekan (-), krepitasi (-)

• P : sonor pada seluruh lapangan paru

• A : vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

• Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop(-)

• Abdomen :

• I :Datar, tampak luka 2 jahitan pada LUQ

• A : bising usus (+) kesan menurun

• P : defens muskular (+)

• P : timpani

• Ekstremitas

• Look : jejas (-)

• Feel : CRT <3 detik, akral dingin

• Movement :dalam batas normal

17
3.5 Foto Jejas

3.6 Pemeriksaan Penunjang 23 Juni 2017

Laboratorium Hasil Pemeriksaan Interpretasi

HGB (gr/dl) 11,1 Normal

RBC (106/ul) 4,29 Normal

HCT (%) 35,8 Normal

WBC (103/ul) 11,3 Meningkat

Trombosit (103/ul) 224 Normal

3.7 Diagnosis

Trauma tajam abdomen + Syok hipovolemik + peritonitis

18
3.8 Penatalaksanaan

• IVFD RL loading 500 cc

• Pasang DC

• Ceftriaxon 2 x 1 g IV

• Ranitidin 2 x 50 mg IV

• Ketorolac 3 x 30 mg IV

• Pro cito laparotomy explorasi

3.9 Hasil

• Dilakukan laparotomy explorasi pada Tn RO/20 thn tanggal 23 Juni 2017


pkl 15.00 WITA di Ruang Operasi RS Johanes Kupang

• Hasil operasi :

Ditemukan perforasi pada corpus gaster, organ lain intak, diputuskan


dilakukan hecting pada corpus gaster yang luka, dan pemasangan drain abdomen.

19
BAB 4
KESIMPULAN
Luka tusuk merupakan bagian dari trauma tajam dimana luka tusuk masuk
ke dalam jaringan tubuh, misalnya luka tusuk pisau. Semua pasien luka tusuk
abdomen dan sekitarnya yang mengalami hipotensi, peritonitis ataupun eviscerasi
organ memerlukan laparotomi segera. Pasien luka tusuk abdomen depan dengan
gejala yang ringan, bila eksplorasi lokal menunjukkan tembusnya peritoneum,
dievaluasi dengan pemeriksaan fisik diagnostik berulang, walaupun laparotomi
merupakan opsi yang dapat dipertanggungjawabkan. Semua pasien luka tusuk
pinggang ataupun punggung yang asimptomatik dengan luka yang tidak pasti
superficial, sebaiknya dievaluasi dengan pemeriksaan fisik serial ataupun CT
dengan kontras. Juga disini pilihan laparotomi merupakan opsi yang dapat
diterima.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. American College of Surgeons. Advanced Trauma Life Support For


Doctors. 7th ed. New York : ATLS;2004
2. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran Jakarta : Media Aesculapius
FKUI; 2001
3. Sjamsuhidayat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 3. Jakarta: EGC; 2006
4. Snell, R S. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC;
2006
5. Brunicardi, CF. Andersen, D.K, Billiar RT, Dunn LD, dkk. Schwartz’s
Principles of Surgery. 10th ed. New York: McGraw-Hill;2015,p 179 – 183.
6. Hoff. W S., et al. Practice management guidelines for the evaluation of
Abdominal Blunt Trauma. The Journal of Trauma 2002;vol 53; p 602-615
7. Sabiston, DC. Textbook of Surgery. 19th ed. Canada: Elsevier;2012

21