Vous êtes sur la page 1sur 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aneurisma berasal dari bahasa Yunani “aneurysma” berarti pelebaran.
Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi membesar
secara abnormal atau mengembang (over – inflated) seperti balon yang
menonjol keluar.
Aneurisma adalah pembuluh darah biaasanya arteri yanng twrjadi
akibat kelemahan dinding pembuluh draah karena defek, penyakit/cedera,
sehingga berbentuk tonjolan yang berdenyut yang pada tonjolan tersebut
bisa terdengar mur – mur (Kamus Keperawatan Edisi 17).
Aneurisma adalah pelebaran atau menggelembungnya dinding
pembuluh darah, yang didasarkan atas hilangnya dua lapisan dinding
pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima, sehingga menyerupai
tonjolan/balon (http//asramamedikalkunhas.blogspot.com).
Berdasarkan hal diatas maka kelompok tertarik untuk membuat
makalah dengan judul ”Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Aneurisma Aorta Torakalis”.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah I Sistem Kardiovaskular.
2. Tujuan khusus
a. Agar mahasiswa/i mampu melakukan pengkajian pada
klien dengan aneurisma aorta torakalis.
b. Agar mahasiswa/i mampu menentukan diagnosa
keperawatan pada klien dengan aneurisma aorta torakalis.
c. Agar mahasiswa/i mampu merencanakan tindakan
keperawatan pada klien dengan aneurisma aorta torakalis.

1
d. Agar mahasiswa/i mampu melaksanakan tindakan
keperawatan pada klien dengan aneurisma aorta torakalis.
e. Agar mahasiswa/i dapat melakukan evalasi pada klien
dengan aneurisma aorta torakalis.

2
BAB II
KONSEP TEORI

A. Trauma Pelvis
Merupakan 5 % dari seluruh fraktur. 2/3 trauma pelvis terjadi
akibat kecelakaan lalu lintas. 10% diantaranya disertai trauma pada alat-
alat dalam rongga panggul seperti uretra, buli-buli, rektum serta pembuluh
darah.
B. Mekanisme / Patofisiologi Pelvis
Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena
tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua
dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada
ramus pubis.
Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas:
1. Kompresi anteroposterior
Hal ini biasanya akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki dengan
kendaraan. Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata terbelah
dan mengalami rotasi eksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini
disebut sebagai open book injury.
2. Kompresi lateral
Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami
keretakan. Hal ini terjadi apabila ada trauma samping karena
kecalakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Pada keadaan ini
ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya mengalami fraktur dan
bagian belakang terdapat strain dari sendi sakroiliaka atau fraktur ilium
atau dapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang sama.
3. Trauma vertikal
Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal
disertai fraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakroiliaka pada sisi
yang sama. Hal ini terjadi apabila seseorang jatuh dari ketinggian pada
satu tungkai
4. Trauma kombinasi

3
Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan diatas.
C. Manifestasi Klinis
Fraktur panggul sering merupakan bagian dari salah satu trauma
multipel yang dapat mengenai organ – organ lain dalam panggul. Keluhan
berupa gejala pembengkakan, deformitas serta perdarahan subkutan
sekitar panggul. Penderita datang dalam keadaan anemia dan syok
karena perdarahan yang hebat. Terdapat Anamnesis:
a. Keadaan dan waktu trauma
b. Miksi terakhir
c. Waktu dan jumlah makan dan minum yang terakhir
d. Bila penderita wanita apakah sedang hamil atau menstruasi
e. Trauma lainnya seperti trauma pada kepala
Pemeriksaan klinik:
a. Keadaan umum
1) Denyut nadi, tekanan darah dan respirasi
2) Lakukan survei kemungkinan trauma lainnya
b. Lokal
1) Pemeriksaan nyeri: Tekanan dari samping cincin panggul, Tarikan
pada cincin panggul
2) Inspeksi perineum untuk mengetahui adanya perdarahan,
pembengkakan dan deformitas
3) Tentukan derajat ketidakstabilan cincin panggul dengan palpasi
pada ramus dan simfisis pubis
4) Pemeriksaan colok dubur
D. Berdasarkan klasifikasi Tile:
1. Fraktur Tipe A: pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri
bila berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat
kerusakan pada visera pelvis.

2. Fraktur Tipe B dan C: pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan
tidak dapat berdiri, serta juga tidak dapat kencing. Kadang – kadang
terdapat darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat lokal

4
tetapi sering meluas, dan jika menggerakkan satu atau kedua ala ossis
ilium akan sangat nyeri.

E. Pemeriksaan Pennunjang
1. Pemeriksaan radiologis:
a. Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan
pemeriksaan radiologis dengan prioritas pemeriksaan rongent
posisi AP.
b. Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi
interna dan eksterna bila keadaan umum memungkinkan.
2. Pemeriksaan urologis dan lainnya:
a. Kateterisasi
b. Ureterogram
c. Sistogram retrograd dan postvoiding
d. Pielogram intravena
e. Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal
F. Penatalaksanaan trauma pelvis
1. Tindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat – alat dalam rongga
panggul
2. Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:
a. Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif
seperti istirahat, traksi, pelvic sling
b. Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan
operasi yang dikembangkan oleh grup ASIF
3. Berdasarkan klasifikasi Tile:
a. Fraktur Tipe A: hanya membutuhkan istirahat ditempat tidur yang
dikombinasikan dengan traksi tungkai bawah. Dalam 4-6 minggu
pasien akan lebih nyaman dan bisa menggunakan penopang.

b. Fraktur Tipe B:

1) Fraktur tipe openbook

5
Jika celah kurang dari 2.5cm, diterapi dengan cara beristirahat
ditempat tidur, kain gendongan posterior atau korset elastis. Jika
celah lebih dari 2.5cm dapat ditutup dengan membaringkan
pasien dengan cara miring dan menekan ala ossis ilii
menggunakan fiksasi luar dengan pen pada kedua ala ossis ilii.
2) Fraktur tipe closebook
Beristirahat ditempat tidur selama sekitar 6 minggu tanpa fiksasi
apapun bisa dilakukan, akan tetapi bila ada perbedaan panjang
kaki melebihi 1.5cm atau terdapat deformitas pelvis yang nyata
maka perlu dilakukan reduksi dengan menggunakan pen pada
krista iliaka.
c. Fraktur Tipe C

Sangat berbahaya dan sulit diterapi. Dapat dilakukan reduksi


dengan traksi kerangka yang dikombinasikan fiksator luar dan
perlu istirahat ditempat tidur sekurang – kurangnya 10 minggu.
Kalau reduksi belum tercapai, maka dilakukan reduksi secara
terbuka dan mengikatnya dengan satu atau lebih plat kompresi
dinamis.

G. Komplikasi
1. Komplikasi segera
a. Trombosis vena ilio femoral : sering ditemukan dan sangat berbahaya.
Berikan antikoagulan secara rutin untuk profilaktik.
b. Robekan kandung kemih : terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau
tusukan dari bagian tulang panggul yang tajam.
c. Robekan uretra : terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah
uretra pars membranosa.
d. Trauma rektum dan vagina
e. Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahan masif
sampai syok.
f. Trauma pada saraf :
1) Lesi saraf skiatik : dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat
operasi. Apabila dalam jangka waktu 6 minggu tidak ada perbaikan,
maka sebaiknya dilakukan eksplorasi.

6
2) Lesi pleksus lumbosakralis : biasanya terjadi pada fraktur sakrum
yang bersifat vertikal disertai pergeseran. Dapat pula terjadi gangguan
fungsi seksual apabila mengenai pusat saraf.
2. Komplikasi lanjut
a. Pembentukan
tulang heterotrofik : biasanya terjadi setelah suatu trauma jaringan lunak
yang hebat atau setelah suatu diseksi operasi. Berikan Indometacin sebagai
profilaksis.
b. Nekrosis
avaskuler : dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu setelah trauma.
c. Gangguan
pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder : apabila terjadi fraktur pada
daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang akurat, sedangkan
sendi ini menopang berat badan, maka akan terjadi ketidaksesuaian sendi
yang akan memberikan gangguan pergerakan serta osteoartritis
dikemudian hari.
d. Skoliosis
kompensator

7
BAB II
PEMBAHASAN
Trauma Pelvis Perempuan riwayat KLL dengan terlempar dari becak sejauh
5m, ditemukan di pinggiran pagar selokan. Mengeluh nyeri pada perut bagian bawah,
ada luka aberasi di sekitar tonjolan tulang panggul. Pada saat dilakukan pemeriksaan
palpasi pada psias kanan kiri, teraba krepitasi. Respirasi : 28x/menit, N : 120x/menit,
TD : 110/90 mmHg.
A. Pengkajian
1. Data subyektif
a. Pasien mengalami trauma pada pelvis
b. Pasien mengeluh nyeri pada perut bagian
bawah
2. Data obyektif
a. Respirasi : 28x/menit
b. Nadi : 120x/menit
c. TD : 110/90 mmHg
d. Teraba krepitasi pada psias kanan kiri
e. Ada luka di sekitar tonjolan tulang panggul

B. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut (00132)

Domain 12 : comfort
Class 1 : physical comfort
Definisi : sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang timbul
dari kerusakan jaringan aktual atau potensial atau penggambaran dari kerusakan
(International association for the study of pain); yang terjadi tiba-tiba atau secara
pelan-pelan dari intensitas ringan hingga berat dengan diantisipasi atau dapat
diprediksi dan dalam waktu kurang dari 6 bulan.
Defining characteristics :
a. Perubahan respirasi (normalnya 12-20x/menit)
b. Laporan secara verbal dari pasien
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri
NOC (Nursing Outcome Classifications) :

8
a. Comfort level (tingkat kenyamanan)

Definisi : Perasaan fisik dan psikologi yang tenang


Indikator :
- Melaporkan kesejahteraan fisik
- Melaporkan kepuasan dengan kontrol gejala
- Melaporkan kesejahteraan psikologis
- Mengekspresikan kepuasan dengan kontrol nyeri
b. Pain Control (kontrol nyeri)

Definisi : Tindakan seseorang untuk mengatasi nyeri


Indikator
- Mengenal penyebab nyeri
- Mengenal onset nyeri
- Menggunakan tindakan pencegahan
- Menggunakan pertolongan non-analgetik
- Menggunakan analgetik dengan tepat
- Mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mencari pertolongan
- Menggunakan sumber-sumber yang ada
- Mengenal gejala nyeri
- Melaporkan gejala-gejala kepada tenaga kesehatan profesional
- Melaporkan kontrol nyeri
c. Pain Level (Tingkat nyeri)

Definisi : Gambaran nyeri atau nyeri yang ditunjukkan


Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pada pasien
dengan gangguan nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria :
- Melaporkan nyeri berkurang
- Tidak menununjukkan ekspersi wajah menahan nyeri
- Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

Tidak mual
- Tanda vital dalam rentang normal

Nursing Intervention Classification (NIC) Pain Acute


a. Pemberian Analgetik
Definisi: Menggunakan agen farmakologi untuk mengurangi atau menghilangkan
nyeri

9
Aktivitas
- Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan berat nyeri sebelum memberikan
pengobatan
- Cek catatan medis untuk jenis obat, dosis, dan frekuensi pemberian analgetik
- Kaji adanya alergi obat
- Pilih analgetik atau kombinasi analgetik yang sesuai ketika menggunakan lebih dari
satu obat.
- Tentukan pilihan jenis analgetik (narkotik, non-narkotik, atau NSAID/obat anti
inflamasi non steroid) bergantung dari tipe dan beratnya nyeri
- Pilih rute, IV,IM untuk pemberian pengobatan injeksi
- Berikan tanda pada narkotik dan obat terbatas lain, sesuai dengan protokol
- Monitor tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik narkotik saat pertama
kali atau jika muncul tanda yang tidak biasanya
- Berikan analgetik lain dan atau pengobatan lain jika diperlukan untuk memperkuat
reaksi analgetik
- Evaluasi keefektifan analgetik dengan frekuensi interval teratur setiap pemberian,
tetapi terutama setelah dosis awal, observasi tanda dan gejala serta efek obat
(misalnya depresi pernafasan, mual muntah, mulut kering, dan konstipasi)
- Dokumentasikan respon analgetik dan efek yang muncul
- Evaluasi dan dokumentasikan tingkat sedasi pasien yang mendapatkan opioid.
- Lakukan tindakan untuk mengurangi efek analgetik (misal konstipasi dan iritasi
lambung)

- Kolaborasikan dengan dokter jika obat, dosis, dan rute pemberian, atau perubahan
interval diindikasikan, buat rekomendasi spesifik berdasar pada prinsip kesamaan
analgetik
b. Cutaneus stimulation : stimulasi pada kutan
Definisi: Stimulasi pada kulit dan dibawah jaringan untuk menurunkan tanda dan
gejala yang tidak diinginkan seperti nyeri, spasme otot, atau inflamasi
Aktivitas
- Diskusikan variasi metode pada stimulasi kulit, efeknya terhadap sensasi, dan
harapan pasien selama kegiatan
- Seleksi strategi stimulasi kutan yang spesifik, berdasar pada keinginan pasien,
kemampuan untuk berrpartisipasi, kesukaan, dukungan orang dekat, dan
kontraindikasi
- Lakukan sesuai indikasi, frekuensi, dan prosedur aplikasi
- Aplikasikan stimulasi secara langsung disekitar area yang dipakai
- Pilih tempat stimulasi, pertimbangkan alternatif tempat lain jika aplikasi langsung
tidak memungkinkan

10
- Pertimbangkan titik penekanan pada area yang distimulasi, jika mungkin
- Tentukan lama dan frekuensi stimulasi, sesuai metode yang dipakai
- Anjurkan untuk menggunakan stimulasi yang teratur, jika mungkin
- Ajak keluarga untuk berpartisipasi, jika mungkin
- Seleksi metode atau tempat alternatif untuk stimulasi, jika tujuan tidak dapat
tercapai
- Hentikan stimulasi, jika nyeri bertambah atau terjadi iritasi kulit
- Evaluasi dan dokumentasikan respon klien selama stimulasi
c. Pemberian Medikasi

Definisi: Menyiapkan, memberikan, dan mengevaluasi keefektifan obat yag


diresepkan dan yang tidak diresepkan dokter
Aktivitas
- Kembangkan kebijakan dan prosedur untuk keakuratan dan keamanan pemberian
pengobatan
- Kembangkan dan gunakan lingkungan yang aman dan efisien dalam pemberian
pengobatan

11