Vous êtes sur la page 1sur 16

PROSES PRODUKSI

1.1 Proses Produksi


ORF (Onshore Receiving Unit) merupakan fasilitas Produksi untuk mengolah gas dari
offshore yang berasal dari area poleng dan PHE/KE-5 melalui pipa 14’’ dari CPP dan 16’’
dari PPP. yang terletak di desa sidorukun Gresik, yang memilki Sistem pemisahaan fasa Fluida,
Compressing gas, serta treatmant awal seperti Injeksi H2S Scevenger untuk mengurangi
kandungan H2S pada gas. Kemudian gas yang sudah semi-oleh ini dikirim munuju ORF. ORF
sendiri terdiriatas lima inti unit pengolahan yaitu dengan reciving unit, gas dehydration system,
Glycol Contactor, dan condensate proscess,
Gas kemudian di proses ORF (Onshore Receiving Unit) untuk menghasilkan dray gas
yang akan di jual kepelanggan. ORF hanya melakukan pengelolahan produksi dehydration
suystem dan proses Condensate. Proses di ORF menghaasilkan gas dan Condensate, gas di
produksi dengan mengontakkan TEG (Triethyline Glycol) dengan gas yang bersal dari offhore
atau gas yang banyak mengandung banyak uap air, sedangakn untuk Condensate dui tampung
sementra di dalam tangki penampungan sebelum dei distribusikan. TEG yangb telah di
gunakan untguk mengikat uap air dalam gas kemudian diregenarasi kembali ke dalam TGRS.

1.2 Dehidrasi Gas


Proses Dehidrasi gas bertujuan untuk menghilangkan kandungan uap air pada gas,
pemisahaan kandungan air selain mencegah korosi juga mencegah pembentukan senyawa
hedrate dan memaksimalkan efisiensi aliran dari pipa.
Gas alam yang bersal dari Offshore (Area Poleng dan PHE-5) masuk ke ORF melalui Pipa
14” dari CPP dan 16” dari PPP. Gas tersebut kemudian di terima oleh Pig receiver untuk
menghilangkan mengotor dari gas yang masuk dan mengumpulkan pengotor dari prosess
pigging. Proses piggingh yang melalui Pipa 14’’ masuk ke Pig receiver (M-221) dan proses
Plaging masuk pada pipa masuk ke Pig receiver (M-201). Gas yang telah melalui proses Piging
kemudian di alirkan Ke Slug chatcer (M-205) untuk menstabilkan gas yang telah masuk agar
tidak terjadi Slugging, selain itu Slug Catcher juga berfungsi untuyk memisahkan liquid dari
gas dan menyimpan condensate sebelum di proses lebih lanjut. Gas dari Slug Catcher kemudian
di lairkan ke gas Scrubber (V-222 dan V-202) untuk di hilangkan kotoran-kotoran yang ikut
tercampur serta menghilangkan kandungan liquidc dan hidrocarbon. Gas kemudian di alirkan
ke glycol Contactor (V-231 dan V-211) untuk di lakukan proses dehidrasi gas. Dalam Glycol
Contactor gas yang masih mengandung uap air (Wet Gas) mengalir dari bawah dan Glycol di
semprotkan dari bagian atas kolom contactor sehingga terjadi contact pad saat pada saat itulah,
air yang berada pada gas akan di diikat oleh TEG. sehingga, gas yang keluar dari bagian ats
gas-glycol heat exchanger. Gas Kering (dray Gas) kemudian menuju gas metering untuk
diukur gas Pressure (Psi), Gas Tempratur (˚F) Flow rate (MMscf) dan Energy Flowrate
(MMBTU).
Richn Glycol (glikol yang kaya air) akan meninggalkan contactor mengalir menuju TGRS
(TGRS-1 dan TGRS-2), tgrs (Trietyhline Regeneration Systtem) adalah tempat regenerasi
glycol untuk mendapatakan uap air yang terikat pada glycol sehingga didapatkan glycol yang
mendekati murni (lean glycol) untuk dapat digunakan kembali untuk dehidrasi gas.
1.3 Condensate Process

Dalam proses di ORF, gas scrubber menghasilkan condensat yang dimasukan dalam
flash drum (V-207). Kondensat tersebut akan tercampur dengan kondensat yang berasal dari
slug catcher (M-205). Didalam flash drum dilakukan pemisahan kondensat, gas, dan air. Gas
yang dihasilkan akan menuju flaring system sedangkan condensate akan masuk ke condensate
heat exchenger. Sebelum masuk ke condensat tank (T-201 A&B) dengan pompa (P-203 A/B),
kondensat tersebut perlu diberikan suatu perlakuan untuk menstabilkan propertis dari
kondensat itu sendiri terutama tekanannya. Hal tersebut tetap dilakukan agar kondenst tetap
stabil dalam wujud liquid yang biasanya disebut pengontrolan RPV (Reid Vapor Pressure).
Sehingga supaya tetap stabil, perlu dilewatkan kedalam heat exchanger (E-206), condensate
heat, dan degasser. Pengontrolan RVP bisa dilakukan secara manual atau otomatis. Secara
manual, bisa dilakukan dengan pengecekan secara berkala oleh pihak laboratorium dari
pengambilan sempel yang ada. Sedangkan untuk secara otomatis, dapat dilakukan dengan
control room. Selain pengecekan RPV, condensate juga dilakukan pengecekan API degree dan
semakin kecil komposisi endapannya, maka harga jual kondensatnya akan semakin tinggi.
Setelah cukup memenuhi condensate tank, selanjutnya akan dilakukan pengolahan lebih lanjut
oleh unit bagian hilir yaitu refinery unit yang akan mengolah kondensat yang terkumpul.
Kondensat tersebut akan diangkut dengan menggunakan kapal tanker. Ketika suatu vassel
mengalami suatu maintenence, maka perlu dilakukan pengosongan vassel dengan
mengeluarkan fluida yang ada didalam vassel.

3.4 Regenerasi glycol


Rich Glycol akan meninggalkan contactor dan akan menggalir melalui koil menuju
akumulator. Akumulator akan dipanaskan terlebih dahulu dengan menggunakan lean glycol
yang panas. Supaya lebih efisien, rich glycol juga akan dipanaskan di awal pada bagian
regenerator tower/TGRS (TGRS-1 dan TGRS-2) oleh uap air panas. Koil pada bagian atas
stripper menyediakan refluks air.
Kontrol suhu ini meyakinkan bahwa air yang meninggalkan still tidak membawa keluar
kelebihan glycol. Pertukaran panas antara rich glycol yang dingin serta lean glycol yang panas
dapat dipanaskan dua atau lebih double pipe heat exchanger secara seri. Kenaikan panas ini
dapat mengurangi konsumsi fuel reboiler dan melindungi pompa sirkulasi glycol.
Setelah terjadi pertukaran panas antara glycol-glycol, larutan rich glycol dimasukan kedalam
flash tank untuk dibersihkan hidrokarbon terlarut. Glycol disaring melalui filter sebelum
dipanaskan di regenerator colum. Dan mengotori reboiler fire tube. Larutan kemudian
memasuki regeneration columm dan menggalir kebawah melalui packed section kedalam
reboiler. Uap ari panas dihasilkan didalam reboiler dari cairan glycol dan naik kedalam packed
bed. Uap air dan sarapan gas alam keluar dari bagian atas stripper. Glycol panas yang sudah
diregenerasi (lean glycol) mengalir keluar melalui reboiler menuju akumulator dan diinginkan
oleh heat exchenger dan dipompa lagi kedalam bagian contactor. Pompa diproteksi dengan
disaring lean glycol setelah meninggalkan akumulator. Pada contactor tower yang bertekanan
tinggi, TEG menyerap hidrokarbom dan hampir semua dipisahkan didalam flash tank (V-207).
Hidrocarbon aromatis memiliki sedikit daya larut yang lebih baik di dalam TEG dan tidak
sepenuhnya dapat terpisah didalam flash tank.

Glycol Regeneration

Dry Gas
RICH GLYCOL
Reflux coil
M-221
V-222
Still
column

V-223/E-215
Surge drum/ reboiler

LEAN
GLYCOL
V – 211
Glycol Contactor
V-212
Glycol flash drum

Wet Gas
F-201A

E-243

F-202

F-201B

E-242
LEAN GLYCOL

P-211A

P-211 B

Gambar 3.1 Process Flow diagaram TGRS-1


A. Fasilitas Produksi
1. Pig Recceiver
Pig Recceiver berfungsi untuk menerima pengotor dari gas yang akan di proses dengan
mengumpulkan kotoran yang terbawa pada saaat proses Pigging. Proses Pigging dari
Incoming From CPP Pipa 14’’ masuk ke Pig Recciever (M-201) dan Proses Pigging untuk gas
yang melalui Incoming from Pipa 16’’ Masuk ke Pig Recceiver (M-221).

2. Slug Catcher
Slug Catcher (M-205) adalah Separtor horizontal 2 fasa, untuk menangkap goncangan
aliran Liquid atau gas dari CPP dan/atau PPP untuk mencegah terjadinya Slugging. Slug
Catcher (M-205) di rangcang sedikit miring ketempat yang lebih rendah, sementra gas yang
memiliki berat jenis yang ringan akan naik keatas. Slug Catcher di rancang memiliki ukuran
yang panjang agar aliran gas dari turbulance dapat memiliki waktu yang cukup untuk menjadi
lebih stabil. Tekanan design Besar 860 psia pada suhu 100˚F tekan oprasi 400 psia pada suhu
75˚F.PSV set @860 psig.

Selain itu Slug cathcer berfungsi untuk menyimpan condensate dan memisahkan
kotoran yang mungkin masih terdapat dalm gas yang mengalir dalam pipa. Pada saat
pengiriman gas melalui pipa bawah laut dari CPP dan PPP menuju ORF bisa terjadi kondensasi
pada gas yang di sebabkan Pada Temperatur gas dan lingkungan laut sehingga gas bercampur
dengan cairan. Selain itu Slug Catcher juga berfungsi menangkap cairan yang mungkin
bercampur di dalm gas supaya tidak menganggu proses selanjutnya. Gas yang keluar dari
bejana ini di alirkan ke Gas Scrubber (V-202) untuk pemerosesan selanjutnya sementra Liquid
di alirkan ke Condesate Flsh Drum. Slug Catcher yang adas di ORF hanya menerima dari CPP,
sedangakn gas yang dari PPP langsung ke Gas Scrubber (V-222).
3. Gas Scruber
a. Gas Scruber (V-202) terdapat ORF 1 (satu) fasa yang berbentuk horizontal. Terdapat
gas dan liquid di dalam gas Scruber. Gas yang keluar dari Scruber di alirkan ke glycol
contractor (V-222) atau di kirim langsung ke konsumen setelah di campur dengan gas
yang keluar dari glycoll Contactor (V-231). Gas Scruber di rancang dengan tekanan
450 psi. Pada suhu 100˚F dan tekanan operasi 230 psi dengan suhu operasi 66˚F.

Gambar 2. 6 Gas Scubber (V-202)

b. Gas Scrubber (V-222) Terdapat ORF fasa 3 yang berbentuk Vertikal. Fungsing uuntuk
memisahkan liquid yang terrbawa oleh gas yang datang dari PPP. Terdapat gas dan
Liquid dalam Gas Scrubber. Gas yang keluar dari Scrubber di alirkan ke glycool
Contactor (V-231) dan edi kirimkan ke konsumer langsung ssetelah di campur dengan
gas yang keluar dari glycool contactor (V-211). Sedangkan Liquid di alirkan ke flash
drum (V-207). Gas Scruber di rancang dengan tekanan 650 psig pada suhu 200˚F dan
tekasna operasi 400 psig dengan suhu operasi85˚F.
Gambar 2.1 Gas Scubber (V-202)
4. Glycol Contactor
Glycol Contactor menerima gas dari gas Scrubber (V-202). Glycol Contactor di
rancang untuk mencerap kandungan aiar atau uap yang berda di dalam gas alam dengan
menyentuhkan TEG (Triethyline glycol) pada gas yang mengandung air atau uap air.
Sedangkan dry gas yang keluar dari Glycol contactor di kirimkan ke pelanggan (PJB dan PGN).
Pada ORF terdapat dua buah Glycol Contactor yaitu;

a. Glycol Contactor (V-211) dan (TGRS 1)


Dari Gas Scrubber (V-203) Gas yang keluar di alirkan ke glycol Contactor (V-211).
Gas yang keluar dari Glycol Contactor (V-211) di kirim ke konsumen setelah di
campur dengan gas yang kering dari Glycol Contactor (V-203). Glycol Contactor
di rancang dengna tekanan 450 psig pada suhu 100˚F dan tekanan operasi 320 psig
dengan suhu operasi 66˚F, kapsitas Glycol Contactor (V-211) sebesar 50 MMscfd
gas.
Gambar 2.2 Glycol Contactor (V-211)
b. Glycol Contactor (V-231) dan (TGRS 2)

Gambar 2 3 Glycol Contactor (V-231)


5. TEG Regeneration Unit (TGRS)
TEG Regeneration Unit (TGRS) berfungsi sebagai regenrasi Absorben pada glycol
contactor, yaitu TEG. TEG yang telah di kontakkan dengan wet gas akan mengandung banyak
air dan sedikit hidrocarbon sehingga sehungga di Sebut Rich glycol. TEG agar bisa digunakan
kembali dalam poroses dehidrasi maka TEG harus diregenarasi. Peralatan yang digunakan
dalam proses regenarasi Glycol terdiri dari : Still Colomn,tube heat exhanger,glycol flsh drum,
Cadtridge Filter, the heat Axchanger, reboiler, surge tank, shell heat exchanger, dan glycol
pump, total kapasitas TGRS adalah 250 MMscfd. Pada ORF terdapat 2 buah TGRS yaitu ;

a. TGRS -1
TGRS 1 merupaka instalasi yang lama dimana kapasitasnya hanya 50 MMscfd
Gambar 2.4 TGRS 1
b. TGRS -2
TGRS 2 merupaka instyalasi baru dimanauntuk menambah kapasitas, TRGS 2 ini
mempunyai kapasitas 220 MMscfd.

Gambar 2.5TGRS 2

a) Preheater
Preheater pada system TGRS berupa satu reflux coil, dua double pipe heat exchanger lean-
rich glycol sdan satu double pipe heat exchanger gas/lean glycol. Preheater di gunakan untuk
meningkatan dari rich glycol secara bertahan karena suhu untuk regenarasi untuk reboiler
sekitar 3967˚F Selain itu reflux coil juga bisa berfungsi sebagai kontrol suhu agar TEG yang
sedagn di panaskan di reboiler tidak ikut menguap bersama air sehingga dapat meminimalisir
pnggunaan TEG, pada lean –rich glycol heat exchanger yang pertama, rich glycol dipansi oleh
lean glycol hingga mencapai suhu sekitar 140-175˚F. Glycol heat exchanger di gunakan untuk
mengurangi viskositas rich glycol sehingga dapat mempermudah process separasi pada glycol
Flash Drum.
Pada lean gylcol heat exchanger yang kedua, rich glycol di panasi oleh lean glycol hingga
suhu 24-275˚F yang di gunakan untuk mengurangi penggunaan enrgy padaboiler. Selain itu
alat ini di gunakan mendinginkan lean glycol yang telah di regenarasi untuk mengurangi suhu
dari lean glycol maka daya absorsi dari lean glycol akan lebih optimum serta mengurangi
kemungkinan adanya TEG yang hilang terbawa dry gas.
b) Glycol flash drum
Glycol flash drum adalah separator dua fasa degan retention time 5-10 menit untuk
mencegah terjadinya kelebihan hidrocarbon yang memeasuki regenrasi dimana larutan glycol
akan di Flash off. Fungsi dari glycol flash drum adalah untuk memisahkan gas dan liquid
(air,kondesat,dan rich glycol). Perinsip kerja lat ini berdasarkan densitas masing-masing zat
dimana gas yang paling ringan akan naik ke atas. Sedangkan rich TEG. Condesate, dan sedikit
air yang massa jenisnya lebih tinggi akan turun kebawah. Wire (Semacam Sekat) salah satu
peralatan dalam Glycol flash Drum yang berfungsi untuk memisahkan Condesat dan TEG.
TEG yang memilki berat jenis lebih besar akan mengendap ke bawah dan condesate kan
mengapung keatas. Jika level liquid lebih tinggi dari wire, Condesate akan mengalir melewati
Wire,Rich glycol akan mengalir ke Carchool Filter untuk proses regenerasi selanjutnya.
Condesate dialairkan ke flash drum (V-207) dan gas mengalir ke KO drum (V-204) Glycol
Flash drum di rancang degan tekan 150 psig pada suhu 300˚F dan tekana operasi 50 psig dengan
suhu operasi 170˚F.

c) Carchoal (F-202)
Carchoal filter di gunakan untuk mengabsorb condesate yang masih terkandung dalam rich
glycol, setelah tiu condensate yang telah di pisahakan dilairkan keflash drum V-20, sedagnakn
rich glycol dilairkan menuju reboiler.

d) Fine filter (F-201) A/B


Fine Filter berfungsi sebagai penyaring solid-solid yang mungkin ada akibat kotoranya
larutan larutan. Aalt ini di rancang untuk dapat menyaring solid yang lebih besar dari lima
micron. Kandungan padatan dalam glycol harus dijaga di bawah 0,01% dengan berat 100 ppm
untuk mencegah kerusakan pompa, hot exchanger tersumbat, mengotori contactor, foaming
/busa dan hot spot pada fire tube. Rich glycol setelah di saring aakn dialirkan menuju reboiler.
e) Reboiler
Reboiler Perinsip kerja reboiler sama dengan proses destilasi diman zat dengan titik didih
lebih rendah akan menguap terlebih dahulu.. titik didh rich glycol dan titik didih besar air 404˚F
dan 212˚F. Ricg glycol akan di panaskan pada alat ini hingga mencapai 396˚F dimna air yang
terkandung di dalamnya akak menguap terlebih dahulu. Alalt pemanasan tersebut adalah
bunner, bunner meemiliki skala pembakar, yaitu main bunner memilki dua skala pembakakr,
yaitu main dan skala pilot. Untuk TEG yang sedikit mengandung air (lean glycol) di alirkan ke
Surge tank.

f) Surge tank
Surge tank berfungsi untuk menstabilkan aliran dari lean glycol. Sealin itu, surge tank
merupakan tanki untuk mengumpulkan lean glycol sebelem di alirkan lebih lanjut. Setelah dari
surge tank, lean glycol di alirkan ke Heat excanger dua kali (E-214B) untuk menindikan lean
glycol hingga suhu 160-175˚F dan suhu operasi pada pompa sirkulasi TEG sekitar 179,7˚F,
setelah dari lean/rich glycol heat exhcanger, lean glycol dipompa menuju TEG contactor.
Sebelum di masukkan ke TEG contactor, lean glycol masuk gas/glcyol heat exhanger untuk di
dinginkan kembali.

g) Flare
Pembuangan gas tidak langsung di buang ke atmosfir karena gas tersebut bisa
membentuk gas glycol yang bersifat flambbole dan karsanigenik apalagi pada saat malam hari,
densitas gas lebih berat karena suhu udara yang lebih dingin sehingga gas teersebut akan lebih
berkumpul di darat. Apalagi saat terkena petir maupun percikan api maka dapt dengan mudah
terbakar. Flare adalh pembakaran gas liar.

Gambar 2.6 Flare


B. Condesate Flash Drum
Flash drum (V-207) adalh sepaarator dua fasa, yang menerima liquid (minyak/air) dari
slug catcher (M-205). Gas Srubber (V-202) serta Glycol Contactor (V-211), gas yang keluar
dari flash drum dialirkan ke fluid gas scrubber (V-205), dan liquid nya di alirkan melalui
condesate heat exchanger (E-206). Condesate exchangher (E-201), Degasser (V-203) sebelum
di pindahkan ke condesate tank (T-201) A dan B. Condensate flash drum di rancang dengan
tekanan 170 psi pada suhu 100˚F dan tekanan operasi 100 psig dengan suhu operasi 64˚F,
kapasitas gas 0,3 MMscfd, dan liquid 250 BOPD.

Gambar 2.7 Condesate Flash Drum


1. Condesate Heat exchanger (E-206)
Sebelum di pompa ke tanki penyimpanan, condesate di panaskan di dalam exchanger
yang memilkik rancangan bagnuan tekan shell dan tube 170 psig pada 200˚F. Tekan operaasi
yang masuk ke shell adalah 100 psig pada 640˚F dan yang keluar dari shell adalah 93 psi pada
suhu 105 ˚F, untuk masuk ke tube adalah 30 psig pada 1350˚F dan keluaradri tube adalah 25
psig pada 85˚F. Condesate heat exchanger ini memiliki kapsitas 0,5 MMBTU/day.

Gambar 2. 8 Condesate heat exchanger


2. Condensate Heater (E-201)
Condesate heater (E-201) bekerja sebagai pemanas condesate yang masuk. Selain itu
fungsinya untuk menstabilkan condensate. Air yang masih terbawa dalam condesate akan di
panaskan sampai air menguap, alat ini bekerja pada suhu 174195˚F pada tekanan 23 psi.

Gambar 2.9 Condesate Heater

3. Degesser (V-203)
Degesser (V-203) adalah separator horizontal dua fasa, yang di rancang untuk
memisahkan gas yang masih terkandung di dalam minyak, Degesser (V-203) di rancang
dengan tekanan 50 psi pada suhu 200˚F dan tekana operasi 5 psi dengan suhu operasi 136˚F,
kapasitas gas 0,75 MMscfd, dan 2% water 2500 BOPD.

Gambar 2.10 Degesser

4. Condensate transfer pump (P-203 A/B


Pompa (P-203 A/B ) di gunakan untguk memompakan condesate menuju
Condesate tank (T-201 A/B)
Gambar 2 11 Condesate Transfer Pump

5. Condesate Tank (T-201 A/B)


Condesate tank (T-201 A/B ) berfungsi untuk menyimpan condesate yang di terima
dari poleng dan KE-5 setelah di peroses ORF plant. Kapasitas tanki adalah 1000bbl/1 tank.
PSV di set pada 1.73 inch H2O atau 0.86 inch H2O.

Gambar 2.12 Condesate Tank

C. Metring Gas
Dalam proses pengukuran gas ada beberapa parameter antra lain: gas pressure (psi),
gas temprature (derajat ˚F), Flowrate (MMscf), dan Energy Flowrate (MMBTU), Scf (Standart
Cubic feet), merupakakn suatu volume untuk mrngetahui besar aliran gas yang mengaliri,
sedangakn BTU (British Termal Unit) meruapak sdatuan lain dari energi yang di pakaki untuk
mernentukan beberapa besar panas (kalor), dari gas tersebut yang di jual ke konsumen.
Sedasngkan MM meruapakan angka romawi yang berarti Satujuta , yang mana fungsinya
hanya untuk menyederhanakan nilai dari kedua parameter tersebut.
Gambar 2.13 Gas Matering

D. Flare KO Drum (V-204)


Flare KO Drum (V-204) berfungsi untuk memisahkan gas dengan Condesate
sebelum masuk ke flare System dan membatasi cairan yang di alirkan ke flare system.

Gambar 2.14 Flare KO Drum

1. HP KO Drum (V-232)
HP KO Drum (V-232) di rancang untuk memisahkan cairan condesate, yang di lepas
dan terkumpul dan membatasi jumlah cairan yang di alirkan ke Flare Trip.
Gambar 2.15 HP KO Drum (V-232)

2. HP KO Pump (P-232)
HP KO Pump (P-232) di rancang untuk mentransfer Condesate dari HP KO Pump (P-
232 menuju Closed Drain API Skimmer.

Gambar 2.16 HP KO Pump (P-232)

3. Flare KO Condesate Pump


Flare KO Condesate Pump di gunakan untuk memompakan Condesate menjuju
Sistem Flareing.
4. Flare System Package (U-200)
Flare System Package untuk membakar gas buangan, Flare Sytem Package untuk
embakar gas buangan di ketinggian ujntuk memastikan Fluks radiasi panas di permukaan tanah
saat operasi masih di dalam batas yang di ijinkan untuk menghindari akibat tidak aman pada
operator, peralatan dan lingkungan.

5. Fire water Pump (P-210 A/B)


Flare water Pump (P-210 A/B) Berfungsi untuk memompa air dari kolam penyimpanan
fire water menuju hydrat.

6. Well water Pump


Well water pump di rancang untuk Memopa air yagn bersal dari tangki penyimpanan
air untuk sanitasi.
7. Diesel Stroge tank (T-202)
Diesel Stroge tank (T-202) di gunaka untuk menyimpan Diesel yang akan di gunakan
untuk peralatan yang menggunakan bahan bakar diesel. dan sebagai bahan bakar cadangan
apabila terjadi Problem pemadaan listrik.

8. Diesel Transfer Pump (P-204)


Diesel Transfer Pump (P-204) di gunaikan untuk mentranfser diesel dari Storege tank
(T-202) ke fasilata Penggunak Diesel.

9. Utilly Air Reciever (V-208)


Utilly Air Reciever (V-208) berfungsi untuk menampung udara dari dryer pacbage
pada air sytem.

10. Brun Pit (M-203)


Brun Pit di rancang sebagai tempat pembakaran uap air hasil regenerasi TEG.

Gambar 2.17 Brun Pit


11. Slop Oil Pump
Slop Oil Pump di gunakan untuk memompa Condesate dari API Skimer ke vassel (V-
207) pada proses Condesate Proses Line.
12. API Skimmer
API Skimmer berfungsi sebagai tempat penampung liquid berupa minyak dan air
yang terkandung pada gas selama proses pengeringan gas.