Vous êtes sur la page 1sur 45

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Down syndrome merupakan kelainan yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi
klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik
dan mental. Syndrome Down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan
mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini
terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi
pembelahan.

Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme) adalah suatu kelainan kromosom yang
menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan kelainan fisik (medicastore).
Sindrom Down adalah kecacatan kromosom bercirikan kehadiran bahan genetik salinan
tambahan kromosom pada keseluruhan trisomi 21 atau sebahagian, disebabkan translokasi
kromosom (wikipedia melayu). Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat
dikenalai dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat
adanya kromosom 21 yang berlebihan (Soetjiningsih).

Retardasi mental merupakan suatu kelainan mental seumur hidup, diperkirakan lebih
dari 120 juta orang di seluruh dunia menderita kelainan ini. Oleh karena itu retardasi mental
merupakan masalah di bidang kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial dan pendidikan
baik pada anak yang mengalami retardasi mental tersebut maupun keluarga dan masyarakat.
Retardasi mental merupakan suatu keadaan penyimpangan tumbuh kembang seorang anak
sedangkan peristiwa tumbuh kembang itu sendiri merupakan proses utama, hakiki, dan khas
pada anak serta merupakan sesuatu yang terpenting.
Prevalens retardasi mental pada anak-anak di bawah umur 18 tahun di negara maju
diperkirakan mencapai 0,5-2,5% , di negara berkembang berkisar 4,6%. Insidens retardasi
mental di negara maju berkisar 3-4 kasus baru per 1000 anak dalam 20 tahun terakhir. Angka
kejadian anak retardasi mental berkisar 19 per 1000 kelahiran hidup.1 Banyak penelitian
melaporkan angka kejadian retardasi mental lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan
perempuan.
Berdasarkan uraian diatas kami selaku mahasiswa keperawatan tertarik untuk membuat
makalah mengenai Retardasi Mental.

1
Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada
seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya
penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan
mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada
reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial
(pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo
Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact)
pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala
kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara
berkomunikasi yang aneh.
Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota,
berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.
Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan
terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil
yang lebih baik.

Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan
ini mencapai 40% sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9
kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir
dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah
tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih
misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Di Amerika
Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan
lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang
mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka
kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis.
Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak perempuan yang
terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta,
hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan
jumlah anak austime dapat mencapai 150 – 200 ribu orang.

Berdasarkan hal diatas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih memahami
konsep anak dengan autisme, dimana konsep ini saling terkait satu sama lain. Semoga Askep
2
ini dapat membantu para orang tua, masyarakat umum dan khusnya kami (mahasiswa
keperawatan) dalam memahami anak dengan autisme, sehingga kami harapkan kedua anak
dengan kondisi ini dapat diperlakukan dengan baik.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan down syndrom, retardasi mental, dan autisme ?
2. Apa penyebab dari down syndrom, retardasi mental, dan autisme?
3. Bagaimana klasifikasi dari down syndrom, retardasi mental, dan autisme?
4. Bagaimana gejala klinis dari retardasi mental dan penegakkan diagnosis pada down
syndrom, retardasi mental, dan autisme?
5. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan pada down syndrom, retardasi mental,
dan autisme ?
6. Bagaimana prognosis dari down syndrom, retardasi mental, dan autisme ?
7. Bagaimana penatalaksanaan yang diberikan pada down syndrom, retardasi mental,
dan autisme ?

C. TUJUAN
Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan down
syndrom, retardasi mental, dan autisme

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DOWN SYNDROM
1. DEFINISI
Down syndrome merupakan kelainan yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi
klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik
dan mental. Syndrome Down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan
mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini
terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi
pembelahan (Wikipedia indonesia). Sindroma Down (Trisomi 21, Mongolisme) adalah suatu
kelainan kromosom yang menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan
kelainan fisik (medicastore).

Sindrom Down adalah kecacatan kromosom bercirikan kehadiran bahan genetik salinan
tambahan kromosom pada keseluruhan trisomi 21 atau sebahagian, disebabkan translokasi
kromosom (wikipedia melayu).

Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenalai dari fenotipnya dan
mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya kromosom 21 yang
berlebihan (Soetjiningsih).

Kesan salinan tambahan ini mempunyai perbedaan jelas antara individual, bergantung
kepada tahap salinan tambahan, latar belakang genetik, faktor persekitaran, dan peluang
rawak. Sindrom Down berlaku pada kesemua populasi manusia, dan kesan seumpamanya
telah di dapati pada spesies lain seperti chimpanzee dan tikus. Baru-baru ini, penyelidik telah
mencipta tikus dengan kebanyakan kromosom 21 manusia (tambahan kepada kromosom
tikus biasa). Bahan kromosom tambahan datang dalam berbagai cara berbeda. Kariotip
manusia biasa hadir sebagai 46,XX atau 46,XY, menunjukkan 46 kromosom dengan aturan
XX bagi betina dan 46 kromosom dengan aturan XY bagi jantan.

Down syndrome merupakan kelainan yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi
klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik
dan mental. Down syndrome ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon

4
Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala
mengecil, hidung yang datar menyerupai orang mongolia maka sering juga dikenal dengan
Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merubah nama dari
kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk pada penemu pertama syndrome ini
dengan istilah Down Syndrome dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang
sama.

2. ETIOLOGI

Pada tahun 1959 Leujene dkk (dikutip dari sony HS, dalam buku tumbuh kembang
anak karangan Soetjiningsih) melaporkan temuan mereka bahwa pada semua penderita
sindrom down mempunyai 3 kromosom 21 dalam tubuhnya yang kemudian disebut dengan
trisomi 21. tetapi pada tahun – tahun berikutnya, kelainan kromosom lain juga mulai tampak,
sehingga disimpulkan bahwa selain trisomi 21 ada penyebab lain dari timbulnya penyakit
sindrom down ini.
Meskipun begitu penyebab tersering dari sindrom down ini adalah trisomi 21 yaitu
sekitar 92-95%, sedangkan penyebab yang lain yaitu 4,8-6,3% adalah karena kketurunan.
Kebanyakan adalah translokasi Robertisonian yaitu adanya perlekatan antara kromosom 14,
21 dan 22. Penyebab yang telah diketahui adalah kerena adanya kelainan kromosom yang
terletak pada kromosom yang ke 21, yaitu trisomi. Dan penyebab dari kelainan kromosom ini
mungkin disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini, antara lain:
a. Non disjungtion (pembentukan gametosit)
b. Genetik
Bersifat menurun. Hal ini dibuktikan dengan penelitian epidemiologi pada kelurga yang
memiliki riwayat sindrom down akan terjadi peningkatan resiko pada keturunannya
c. Radiasi
Menurut Uchida (dikutip dari Puechel dkk, dalam buku tumbuh kkembang anak
karangan Soetjiningsih) menyatakan bahwa sekitar 30% ibu yang melahirkan anak
dengan sindrom down adal ibu yang pernah mengalami radiasi pada daerah perut.
Sehingga dapat terjadi mutasi gen.
d. Infeksi
Infeksi juga dikaitkan dengan sindrom down, tetapi sampai saat ini belum ada ahli yang
mampu menemukan virus yang menyebabkan sindrom down ini.

5
e. Autoimun
Penelitian Fial kow (dikutip dari Puechel dkk, dalam buku tumbuh kembang anak
karangan Soetjiningsih) secara konsisten mendapatkan adanya perbedaan antibodi ibu
yang melahirkan anak dengan sindrom down dengan anak yang normal.
f. Usia ibu
Usia ibu diatas 35 tahun juga mengakibatkan sindrom down. Hal ini disebabkan karena
penurunan beberapa hormon yang berperan dalam pembentukan janin, termasuk hormon
LH dan FSH.
g. Ayah
Penelitian sitogenetik mendapatkan bahwa 20 – 30% kasus penambahan kromosom 21
bersumber dari ayah, tetapi korelasi tidak setinggi dengan faktor dari ibu.
h. Gangguan intragametik yaitu gangguan pada gamet, kemungkinan terjadi Translokasi
kromosom 21 dan 15.
i. Organisasi nukleus yaitu sintesis protein yang abnormal sehingga menyebabkan
kesalahan DNA menuju ke RNA.
j. Bahan kimia juga dapat menyebabkan mutasi gen janin pada saat dalam kandungan
k. Frekwensi coitus akan merangsang kontraksi coitus, sehingga dapat berdampak pada
janin.

3. PATOFISIOLOGI

Kromosom 21 yang lebih akan member efek kesemua sistem organ dan menyebabkan
perubahan sekuensi spectrum fenotipe. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi yang
mengancam nyawa, dan perubahan proses hidup yang signifikan secara klinis. Down
syndrome akan menurunkan survival prenatal dan meningkatkan morbiditas prenatal dan
postnatal. Anak-anak yang terkena biasanya mengalami keterlambatan pertumbuhan fisik,
maturasi, pertumbuhan tulang dan pertumbuhan gigi yang lambat.

Kromosom yang berlebih akan memberikan tampilan fisik yang tipikal seperti
retardasi mental, struktur fasial yang khas, anomaly pada ekstremitas atas, dan penyakit
jantung congenital. Pada kromosom 21 bertanggung jawab menimbulkan penyakit jantung
congenital pada penderita down syndrome. Sementara gen yang baru dikenal yaitu DSCR1
yang sangat terekspresi pada otak dan jantung dan menjadi penyebab utama retardasi mental
dan detak jantung.

Abnormalitas fungsi fisiologis dapat mempengaruhi metabolism thyroid dan


malabsorbsi istestinal. Infeksi yang sering terjadi dikatakan akibat dari respon sistem imun
yang lemah, dan meningkatnya insidensi terjadi kondisi autoimun, termasuk hipothiroidism
dan juga penyakit hashimoto.

6
Penderita dengan Down syndrome sering kali menderita hipersensitivitas terhadap
proses fisiologis tubuh, seperti hipersensitivitas terhadap pilocarpine dan respon lain yang
abnormal. Anak-anak yang menderita down syndrome lebih rentan menderita leukemia,
seperti Transient Myeloproliferative Disorder dan Acute Megakaryocytic Leukemia. Hamper
keseluruhan anak yang menderita down syndrome yang mendapat leukemia terjadi akibat
mutasi hematopoietic transcription faktor gen yaitu gatai.

7
4. MANIFESTASI KLINIS

Gejala atau tanda-tanda yang muncul akibat Down syndrome dapat bervariasi mulai
dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Tanda
yang paling khas pada anak yang menderita Down Syndrome adalah adanya keterbelakangan
perkembangan fisik dan mental pada anak (Olds, London, & Ladewing, 1996).

Penderita sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol
berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian
anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar,
mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata
menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).

Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-
jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar.
Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom
ini juga bisa menyebakan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain. Pada
bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. Kelainan ini yang biasanya
berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada sistim pencernaan dapat
ditemui kelainan berupa sumbatan pada esophagus (esophageal atresia) atau duodenum
(duodenal atresia). Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut
biasanya akan diikuti muntah-muntah.

Manifestasi klinik dari down syndrome yang lainya adalah seperti:

a. Bentuk tulang tengkoraknya asimetris atau ganjil dengan bagian belakang kepalanya
mendatar (sutura sagitalis terpisah).
b. Lesi pada iris mata (bintik Brushfield), matanya sipit ke atas dan kelopak mata berlipat-
lipat (lipatan epikantus) serta jarak pupil yang lebar.
c. Kepalanya lebih kecil daripada normal. (mikrosefalus) dan bentuknya abnormal serta
Leher pendek dan besar
d. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease (kelainan jantung
bawaan). kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal
dengan cepat.
e. Hidungnya datar (Hidung kemek/Hipoplastik) lidahnya menonjol, tebal dan kerap
terjulur serta mulut yang selalu terbuka.

8
f. Tangannya pendek dan lebar dengan jari-jari tangan yang pendek dan seringkali hanya
memiliki satu garis tangan pada telapak tangannya. Tapak tangan ada hanya satu lipatan
g. Jarak ibu jari kaki dengan jari kedua lebar
h. Jari kelingking hanya terdiri dari dua buku dan melengkung ke dalam (Plantar Crease).
i. Telinganya kecil dan terletak lebih rendah
j. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan (hampir semua penderita sindroma Down
tidak pernah mencapai tinggi badan rata-rata orang dewasa)
k. Keterbelakangan mental.
l. Hiper fleksibilitas.
m. Bentuk palatum yang tidak normal
n. Kelemahan otot

Namun tidak semua ciri – ciri di atas akan terpenuhi pada penderita penyakit sindrom
down, berdasarkan penelitian terakhir orang dengan penyakit sindrom down juga dapat
mengukir prestasi seperti kebanyakan orang yang normal.

5. KOMPLIKASI
a. Sakit jantung berlubang (mis: Defek septum atrium atau ventrikel, tetralogi fallot)
b. Mudah mendapat selesema, radang tenggorok, radang paru-paru
c. Kurang pendengaran
d. Lambat/bermasalah dalam berbicara
e. Penglihatan kurang jelas
f. Retardasi mental
g. Leukemia

6. PROGNOSIS DOWN SINDROM

Anak-anak dengan down syndrome memiliki resiko tinggi kelainan jantung dan
leukemia. Jika terdapat kedua penyakit tersebut maka harapan hidupnya berkurang, jika
kedua penyakit itu tidak ditemukan maka anak bisa bertahan sampai dewasa. Beberapa down
syndrome mengalami hal-hal berikut:

1. gangguan tiroid

9
2. ganguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa
3. ganguan penglihatan karena ada ganguan pada retina dan kornea.
4. pada usia 30 tahun menderita demensia (berupa hilang ingatan, penuruna kecerasan
perubahan keperibadian). Bisa terjadi kematian dini, meskipun banyak juga penderita
yang berumur panjang.

7. PENATALAKSANAAN

Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk
mengatasi kelainan ini. Dengan demikian penatalaksanaan dioptimalkan untuk
meminimalkan dampak yang dapat terjadi pada penderita serta memberikan dukungan yang
dapat memungkinkan penderita dapat tumbuh dan berkembang serta mampu bersosialisasi
dengan baik. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami
kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat
tonus otot-otot yang lemah.

Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup
serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan
kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan
pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar
penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan
adanya Leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga
penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat.

B. RETARDASI MENTAL
A. DEFINISI
Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang
(subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya
terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang utama
ialah inteligensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo:
kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W.F. Maramis, 2005: 386).
Retardasi mental (RM) adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki kemampuan
mental yang tidak mencukupi (WHO).
American Association on Mental Deficiency (AAMD) membuat definisi retardasi
mental yang kemudian direvisi oleh Rick Heber (1961) sebagai suatu penurunan fungsi

10
intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan
dengan gangguan adaptasi sosial.
B. PENYEBAB

Penyebab retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal, perinatal dan
postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam
penyebab terjadinya retardasi mental, dan banyak diantaranya yang dapat dicegah.
Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab biologis dan
psikososial.
Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut:
• Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai sangat berat
• Tampak sejak lahir atau usia dini
• Secara fisis tampak berkelainan/aneh
• Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal maupun postnatal
• Tidak berhubungan dengan kelas sosial
Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
• Biasanya merupakan retardasi mental ringan
• Diketahui pada usia sekolah
• Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium
• Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
• Ada hubungan dengan kelas sosial
Melihat struktur masyarakat Indonesia, golongan sosio ekonomi rendah masih
merupakan bagian yang besar dari penduduk, dapat diperkirakan bahwa retardasi mental
di Indonesia yang terbanyak adalah tipe sosio-kultural.
Penyebab retardasi mental tipe klinis atau biologikal dapat dibagi dalam:
a. Penyebab pranatal
o Gangguan metabolisme
Gangguan metabolisme asam amino yaitu Phenyl Keton Uria (PKU), Maple
Syrup Urine Disease, gangguan siklus urea, histidiemia, homosistinuria, Distrofia
okulorenal Lowe, hiperprolinemia, tirosinosis dan hiperlisinemia. Gangguan
metabolisme lemak yaitu degenerasi serebromakuler dan lekoensefalopati

11
progresif. Gangguan metabolisme karbohidrat yaitu galaktosemia dan glycogen
storabe disease.
o Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom muncul dibawah 5 persen kehamilan, kebanyakan
kehamilan yang memilki kelainan kromosom berakhri dengan kasus keguguran
hanya setenggah dari satu persen yang lahir memiliki kelainan kromosom, dan
akan meninggal segera setelah lahir. bayi yang bertahan, kebanyakan akan
memiliki kelainan down syndrome, atau trisomy 21. Manusia normal memiliki 46
kromosom (23 pasang). orang dengan kelainan down syndrome memiliki 47
kromosom (23 pasang + 1 kromosom pada kromosom ke 21).
o Infeksi maternal selama kehamilan
yaitu infeksi TORCH dan Sifilis. Cytomegali inclusion body disease
merupakan penyakit infeksi virus yang paling sering menyebabkan retardasi
mental. Infeksi virus ringan atau subklinik pada ibu hamil dapat menyebabkan
kerusakan otak janin yang bersifat fatal. Penyakit Rubella kongenital juga dapat
menyebabkan defisit mental.
o Komplikasi kehamilan
Meliputi toksemia gravidarum, Diabetes Mellitus pada ibu hamil yang tak
terkontrol, malnutrisi, anoksia janin akibat plasenta previa dan solutio plasenta
serta penggunaan sitostatika selama hamil.
b. Penyebab perinatal
o Prematuritas
Dengan kemajuan teknik obstetri dan kemajuan perinatologi menyebabkan
meningkatnya keselamatan bayi dengan berat badan lahir rendah sedangkan bayi-
bayi tersebut mempunyai resiko besar untuk mengalami kerusakan otak, sehingga
akan didapatkan lebih banyak anak dengan retardasi mental.
o Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya
akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan.
o Kernikterus
Kernikterus adalah sindrom neurologis akibat pengendapan bilirubin tak
terkonjugasi di dalam sel-sel otak.
o Hipoglikemia: menurunnya kadar gula dalam darah.

12
c. Penyebab postnatal
o Infeksi (meningitis, ensefalitis)
o Trauma fisik
o Kejang lama
o Intoksikasi (timah hitam, merkuri)

C. KLASIFIKASI RETARDASI MENTAL


Berikut ini adalah klasifikasi retardasi mental berdasarkan PPDGJ III:
1. F70 Retardasi Mental Ringan (IQ 55-69)
Mulai tampak gejalanya pada usia sekolah dasar, misalnya sering tidak naik
kelas, selalu memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau
mengerjakan hal-hal yang berkaitan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang
berkaitan dengan kebutuhan pribadi. 80 % dari anak RM termasuk pada golongan ini.
Dapat menempuh pendidikan Sekolah Dasar kelas VI hingga tamat SMA. Ciri-cirinya
tampak lamban dan membutuhkan bantuan tentang masalah kehidupannya.
2. F71 Retardasi Mental Sedang (IQ 35-49)
Sudah tampak sejak anak masih kecil dengan adanya keterlambatan dalam
perkembangan, misalnya perkembangan wicara atau perkembangan fisik lainnya.
Anak ini hanya mampu dilatih untuk merawat dirinya sendiri, pada umumnya tidak
mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya, angka kejadian sekitar 12% dari seluruh

13
kasus RM. Anak pada golongan ini membutuhkan pelayanan pendidikan yang khusus
dan dukungan pelayanan.
3. F72 Retardasi Mental Berat (IQ 20- 34)
Tampak sejak lahir, yaitu perkembangan motorik yang buruk dan kemampuan
bicara yang sangat minim, anak ini hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan
keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar, angka kejadian 8% dari seluruh RM.
Memiliki lebih dari 1 gangguan organik yang menyebabkan keterlambatannya,
memerlukan supervisi yang ketat dan pelayanan khusus.
4. F73 Retardasi Mental Sangat Berat (IQ < 20)
Sudah tampak sejak lahir yaitu gangguan kognitif, motorik, dan komunikasi yang
pervasif. Mengalami gangguan fungsi motorik dan sensorik sejak awal masa kanak-
kanak, individu pada tahap ini memerlukan latihan yang ekstensif untuk melakukan
“self care” yang sangat mendasar seperti makan, BAB, BAK. Selain itu memerlukan
supervisi total dan perawatan sepanjang hidupnya, karena pada tahap ini pasien benar-
benar tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
5. F78 Retardasi Mental lainnya
Kategori ini hanya dignakan bila penilaian dari tingkat Retardasi Mental
intelektual dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan
karena adanya hendaya sensorik atau fisik, seperti buta, bisu tli, dan penyandang yang
perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak mampu.

D. DIAGNOSIS & GEJALA RETARDASI MENTAL


Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes intelegensia saja,
melainkan juga dari riwayat penyakit, laporan dari orangtua, laporan dari sekolah,
pemeriksaan fisis, laboratorium, pemeriksaan penunjang. Yang perlu dinilai tidak hanya
intelegensia saja melainkan juga adaptasi sosialnya. Dari anamnesis dapat diketahui
beberapa faktor risiko terjadinya retardasi mental. Pemeriksaan fisis pada anak retardasi
mental biasanya lebih sulit dibandingkan pada anak normal, karena anak retardasi mental
kurang kooperatif. Selain pemeriksaan fisis secara umum (adanya tanda-tanda dismorfik
dari sindrom-sindrom tertentu) perlu dilakukan pemeriksaan neurologis, serta penilaian
tingkat perkembangan. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan retardasi mental dapat
ditemukan berbagai macam perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala:
mikrosefali, hidrosefali, dan down syndrome. Wajah pasien dengan retardasi menral

14
sangan mudah dikenali seperti hipertelorisme, yaitu lidah yang menjulur keluar,
gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi wajah yang tampak tumpul.
Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes intelegensia. Namun, tingkat
kecerdasan intelegensia bukan satu-satunya karakteristik, melainkan harus dinilai
berdasarkan sejumlah besar ketrampilan spesifik yang berbeda. penilaian tingkat
kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan klinis,
prilaku adaptif dan hasil tes psikometrik. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala
dapat membantu menilai adanya kalsifikasi serebral, perdarahan intra kranial pada bayi
dengan ubun-ubun masih terbuka. Pemeriksaan laboratorium dilakuka atas indikasi,
pemeriksaan ferriklorida dan asam amino urine dapat dilakukan sebagai screening
PKU. Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya kelainan
kromosom yang mendasari retardasi mental tersebut. Beberapa pemeriksaan penunjang
lain dapat dilakukan untuk membantu seperti pemeriksaan BERA, CT-Scan, dan MRI.
Kesulitan yang dihadapi adalah kalau penderita masih dibawah umur 2-3 tahun, karena
kebanyakan tes psikologis ditujukan pada anak yang lebih besar. Pada bayi dapat dinilai
perkembangan motorik halus maupun kasar, serta perkembangan bicara dan bahasa.
Biasanya penderita retardasi mental juga mengalami keterlambatan motor dan American
Psychiatric Association (APA) pada tahun 1994, mensyaratkan tiga diagnosis
keterbelakangan mental, yaitu:
 Fungsi intelektual secara signifikan dibawah rata-rata: IQ sekitar 70 atau kurang
menurut tes IQ yang diadakan secara individu.
 Ketidakmampuan atau kelemahan yang terjadi bersamaan dengan fungsi adaptasi saat
ini (yakni efektivitas seseorang dalam memenuhi standar yang diharapkan pada
usianya dengan kelompok budayanya) setidaknya dalam bidang berikut ini: yaitu
komunikasi, perhatian diri sendiri, kehidupan rumah tangga, keterampilan sosial-
interpersonal, penggunaan sumber dalam komunitas, self dierection, keterampilan
akademik fungsional, pekerjaan, waktu luang, kesehatan dan keamanan.
 Terjadi sebelum berusia 18 tahun.
Tingkatan keterbelakangan mental menurut APA, diklasifikasikan menjadi mild
retardation (tingkat IQ 50 atau 55 sampai sekitar 70), moderate mental retardation
(tingkat IQ 35 atau 40 sampai 50 atau 55), severe mental retardation (tingkat IQ 20
atau 25 sampai 35 atau 40), dan profound mental retardation (tingkat IQ dibawah 20
atau 25).

15
Dibawah ini sekilas tentang perubahan perilaku terkait usia pada anak dengan
keterbelakangan mental :

Keterbelakangan Mental Ringan (IQ = 50 -70)


 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): lebih lambat daripada rata-rata dalam berjalan, makan
sendiri, dan berbicara, namun pengamat sambil lalu tidak melihat keterbelakangan ini.
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): Belajar keterampilan motorik-pemahaman dan kognisi
(membaca dan arithmatic) di kelas tiga sampai kelas enam oleh remaja tahap ini,
dapat belajar untuk menyesuaikan diri secara sosial.
 Dewasa (21 tahun keatas): Biasanya mencapai keterampilan sosial dan kejuruan yang
diperlukan untuk merawat diri, membutuhkan bimbingan dan bantuan ketika berada
pada kondisi ekonomi sulit atau stress sosial.

Keterbelakangan Mental menengah (IQ = 35 – 49)


 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): sebagian besar perkembangan kelihatan dengan jelas
terlambat.
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): belajar berkomunikasi dan merawat kesehatan dasar dan
kebutuhan keamanan.
 Dewasa (21 tahun keatas): melakukan tugas tanpa keterampilan atau semi terampil
sederhana pada kondisi yang diawasi, berpartisipasi pada permainan sederhana dan
melakukan perjalanan sendiri di tempat yang dikenal, mampu merawat diri sendiri.

Keterbelakangan Mental Berat (IQ = 20 – 34)


 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): perkembangan motorik sangat tertunda, sedikit atau
tidak berbicara, mendapat mamfaat dari pelatihan mengerjakan sendiri (misalnya
makan sendiri).
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): biasanya berjalan kecuali jika terdapat ketidakmampuan
motorik, dapat memahami dan merespon pembicaraan, dapat mengambil mamfaat
dari pelatihan mengenai kesehatan dan kebiasaan lain yang dapat diterima.
 Dewasa (21 tahun keatas): melakukan kegiatan rutin sehari-hari dan memperbesar
perawatan diri sendiri, memerlukan petunjuk dan pengawasan ketat dalam lingkungan
yang dapat dikendalikan.

16
Keterbelakangan Mental Sangat Berat (IQ dibawah 20)
 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): keterbelakangan ekstrem disemua bidang, kemampuan
sensorik minimal, membutuhkan bantuan perawatan diri.
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): semua bidang perkembangan tampak jelas tertunda,
respon berupa emosi dasar dan mendapatkan manfaat dari pelatihan dalam
penggunaan anggota badan dan mulut, harus diawasi dengan ketat.
 Dewasa (21 tahun keatas): barangkali dapat berjalan dan berbicara dengan cara
primitive, mendapatkan mamfaat dari aktivitas fisik regular, tidak dapat merawat diri
sendiri, tetapi membutuhkan bantuan perawatan diri.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak yang menderita retardasi
mental,yaitu:
a. Kromosom kariotipe
b. EEG (Elektro Ensefalogram)
c. CT (Cranial Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)
d. Titer virus untuk infeksi congenital
e. Serum asam urat (Uric acid serum)
f. Laktat dan piruvat
g. Plasma asam lemak rantai sangat panjang
h. Serum seng (Zn)
i. Logam berat dalam darah
j. Serum tembaga (Cu) dan ceruloplasmin
k. Serum asam amino atau asam organik
l. Plasma ammonia
m. Analisa enzim lisozom pada lekosit atau biopsy kulit:
n. Urin mukopolisakarida

F. PROGNOSIS RETARDASI MENTAL


Mengukur kecerdasan dan perilaku adaptif dapat membantu klasifikasi dari
kecenderungan keterbelakangan dan dapat memprediksikan apakah individu tersebut
dapat hidup secara independen. Individu dengan keterbelakangan mental menengah
(moderate mental retardation) lebih sering ditemukan dapat mencapai seilf-sufficiency

17
dan mendapatkan hidup yang bahagia. Untuk mencapai tujuannya, mereka membutuhkan
lingkungan yang sesuai dan mendukung seperti pendidikan, komunitas, lingkungan
sosial, keluarga dan keterampilan yang konsisten. Harapannya lebih kecil untuk individu
yang menderita keterbelakangan mental sangat berat (profound retardation). Individu
dengan profound retardation membutuhkan dukungan yang besar dan biasanya tidak bisa
hidup secara independen atau di rumah secara berkelompok.
Penelitian menemukan bahwa mereka memiliki harapan hidup yang lebih kecil.
Kecenderungan dari keterbelakangan invidu cenderung menetap selama hidup. Misalkan
seorang anak didiagnosa memiliki keterbelakangan mental berat (severe) pada usia 5
tahun, maka ia akan memiliki diagnosa yang sama pada usia 21 tahun. Hal ini mungkin
tidak akan terlalu terlihat oleh keluarga mereka, dimana anak-anak dengan
keterbelakangan memiliki kemampuan yang mirip dengan rekan-rekan mereka, namun
akan nampak bahwa mereka akan semakin tertinggal dengan sejalannya usia mereka.

G. PENCEGAHAN RETARDASI MENTAL


Terjadinya retardasi mental dapat dicegah. Pencegahan retardasi mental dapat
dibedakan menjadi dua: pencegahan primer dan pencegahan sekunder.
a. Pencegahan Primer
Usaha pencegahan primer terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan
dengan:
1) pendidikan kesehatan pada masyarakat,
2) perbaikan keadaan sosial-ekonomi,
3) konseling genetik,
4) Tindakan kedokteran, antara lain:
a) perawatan prenatal dengan baik,
b) pertolongan persalinan yang baik, dan
c) pencegahan kehamilan usia sangat muda dan terlalu tua.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan
dengan diagnosis dan pengobatan dini peradangan otak dan gangguan lainnya.

H. PENANGANAN RETARDASI MENTAL


Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita
saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun orangnya pasti

18
memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental,
apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. Oleh karena itu agar orang tua
dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis
dan teknis. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. Konseling
dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu
mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu.
Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesis dari
orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan, persalinan, dan pertumbuhan serta
perkembangan anak. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.
a. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
1) Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki
dengan sebaik-baiknya.
2) Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah.
3) Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang,
sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan
hilang.
Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih
anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental mudah
terinterupsi. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan
adalah dengan merangsang indera.
b. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi
mental, yaitu:
1) Latihan di rumah: belajar makan sendiri, membersihkan badan dan
berpakaian sendiri, dst.,
2) latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social,
3) Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin
penderita, dan
4) latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal
yang baik dan buruk secara moral..

19
C. AUTISME

1. DEFENISI

Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan
realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305)

Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal,
aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30
bulan.(Behrman, 1999: 120)

Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk
mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan,
perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305)

Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif (DSM IV, sadock dan
sadock 2000)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan


perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktivitas
imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa kegagalan mengembangkan hubungan
antar pribadi (umur 30 bulan),hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa,
fenomena ritualistik dan konvulsif serta penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas.

2. ETIOLOGI

a. Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot) terutama
pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan kemampuan bicara).
b. Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).
c. Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti).
d. Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan tidak
menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf, perubahan
struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan.

20
e. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan sensori
serta kejang epilepsi
f. Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak
Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh

Pada masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur anak, anak tidak
berespon saat diangkat dan tampak lemah. Tidak adanya kontak mata, memberikan kesan
jauh atau tidak mengenal. Bayi yang lebih tua memperlihatkan rasa ingin tahu atau minat
pada lingkungan, bermainan cenderung tanpa imajinasi dan komunikasi pra verbal
kemungkinan terganggu dan tampak berteriak-teriak. Pada masa anak-anak dan remaja, anak
yang autis memperlihatkan respon yang abnormal terhadap suara anak takut pada suara
tertentu, dan tercengggang pada suara lainnya. Bicara dapat terganggu dan dapat mengalami
kebisuan. Mereka yang mampu berbicara memperlihatkan kelainan ekolialia dan konstruksi
telegramatik.

Dengan bertumbuhnya anak pada waktu berbicara cenderung menonjolkan diri dengan
kelainan intonasi dan penentuan waktu. Ditemukan kelainan persepsi visual dan fokus
konsentrasi pada bagian prifer (rincian suatu lukisan secara sebagian bukan menyeluruh).
Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas panca indera penciuman, kecap dan raba
ketika mengeksplorais lingkungannya. Pada usia dini mempunyai pergerakan khusus yang
dapt menyita perhatiannya (berlonjak, memutar, tepuk tangan, menggerakan jari tangan).
Kegiatan ini ritual dan menetap pada keaadan yang menyenangkan atau stres. Kelainann lain
adalh destruktif, marah berlebihan dan akurangnya istirahat. Pada masa remaja perilaku tidak
sesuai dan tanpa inhibisi, anak austik dapat menyelidiki kontak seksual pada orang asing.

3. CARA MENGETAHUI AUTISME PADA ANAK

Anak mengalami autisme dapat dilihat dengan:

a. Orang tua harus mengetahui tahap-tahap perkembangan normal.


b. Orang tua harus mengetahui tanda-tanda autisme pada anak.
c. Observasi orang tua, pengasuh, guru tentang perilaku anak dirumah, diteka, saat
bermain, pada saat berinteraksi sosial dalam kondisi normal.

21
Tanda autis berbeda pada setiap interval umumnya.

a. Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi tegang bila
diangkat ,cuek menghadapi orangtuanya, tidak bersemangat dalam permainan
sederhana (ciluk baa atau kiss bye), anak tidak berupaya menggunakan kat-kata.
Orang tua perlu waspada bila anak tidak tertarik pada boneka atau binatan gmainan
untuk bayi, menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila anak terlihat
tertarik pada kedua tangannya sendiri.
b. Pada usia 2-3 tahun dengan gejal suka mencium atau menjilati benda-benda, disertai
kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain sebagai benda atau alat, menolak
untuk dipeluk, menjadi tegang atau sebaliknya tubuh menjadi lemas, serta relatif cuek
menghadapi kedua orang tuanya.
c. Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak merasa sangat
terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari. Bila anak akhirnya mau
berbicara, tidak jarang bersifat ecolalia (mengulang-ulang apa yang diucapkan orang
lain segera atau setelah beberapa lama), dan anak tidak jarang menunjukkan nada
suara yang aneh, (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata terbatas
(walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa juga
berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri.

4. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis yang ditemuai pada penderita Autisme :

a. Penarikan diri, Kemampuan komunukasi verbal (berbicara) dan non verbal yang tidak
atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena dapat menirukan lagu-lagu dan istilah
yang didengarnya, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual
kelainan pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan
sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan berteman. Dalam tes non
verbal yang memiliki kemampuan bicara cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat
memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi,
berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot dan
menghabiskan waktu untuk bermain sendiri.

22
b. Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit,
keasyikan dengan bagian-bagian tubuh.
c. Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap pada objek.
Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak
tercenggang dengan objek mekanik.
d. Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara
lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi terikat dan tidak bisa
dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan .
e. Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.
f. Kontak mata minimal atau tidak ada.
g. Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan benda, dan
menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran dan sensitivitas terhadap
rangsangan, sedangkan hilangnya respon terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut
terhadap suara keras yang mendadak menunjukan menurunnya sensitivitas pada
rangsangan lain.
h. Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak pada emosional
i. Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara tepat) saat
berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang tidak berujung pangkal,
bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. Anak umumnya mampu untuk
berbicara pada sekitar umur yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun.
j. Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara
fungsional.
k. Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan mengedipkan mata,
wajah yang menyeringai, melompat, berjalan berjalan berjingkat-jingkat.

Ciri yang khas pada anak yang austik :

a. Defisit keteraturan verbal.


b. Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik.
c. Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau dipikirkan orang
lain).

Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah:

a. Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal.

23
b. Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal.
c. Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel dan tidak
imajinatif.

Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.

5. PENGOBATAN

Orang tua perlu menyesuaikan diri dengan keadaan anaknya, orang tua harus
memeberikan perawatan kepada anak temasuk perawat atau staf residen lainnya. Orang tua
sadar adanaya scottish sosiety for autistik children dan natinal sosiety for austik children yang
dapat membantu dan dapat memmberikan pelayanan pada anak autis. Anak autis memerlukan
penanganan multi disiplin yaitu terapi edukasi, terapi perilaku, terapi bicara, terapi okupasi,
sensori integasi, auditori integration training (AIT),terapi keluarga dan obat, sehingga
memerlukan kerja sama yang baik antara orang tua , keluarga dan dokter.

Pendekatan terapeutik dapat dilakukan untuk menangani anak austik tapi


keberhasilannya terbatas, pada terapi perilaku dengan pemanfaatan keadaan yang terjadi
dapat meningkatkan kemahiran berbicara. Perilaku destruktif dan agresif dapat diubah
dengan menagement perilaku.

Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant konditioning yaitu


dukungan positif (hadiah) dan hukuman (dukungan negatif). Merupakan metode untuk
mengatasi cacat, mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis. Kesabaran
diperlukan karena kemajuan pada anak autis lambat.

Neuroleptik dapat digunakan untuk menangani perilaku mencelakkan diri sendiri yang
mengarah pada agresif, stereotipik dan menarik diri dari pergaulan sosial.

Antagonis opiat dapat mengatasi perilaku, penarikan diri dan stereotipik, selain itu
terapi kemampuan bicara dan model penanganan harian dengan menggunakan permainan
latihan antar perorangan terstruktur dapt digunakan. Masalah perilaku yang biasa seperti
bising, gelisah atau melukai diri sendiri dapat diatasi dengan obat klorpromasin atau
tioridasin.

24
Keadaan tidak dapat tidur dapat memberikan responsedatif seperti kloralhidrat,
konvulsi dikendalikan dengan obat anti konvulsan. Hiperkinesis yang jika menetap dan berat
dapat ditanggulangi dengan diit bebas aditif atau pengawet .

Ada pun Macam-macam terapi autis lainnya diantaranya:

Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada
otak hingga dapat bekerja kembali.

Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan
berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut
memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup
sekaligus merangsang kemampuan berbicara.

Terapi balur. Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh
penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyandang
autis. Caranya, menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit.
Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.

Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan perhatian dan bersosialisasi
dengan lingkungannya. Caranya dengan membuat si anak melakukan berbagai kegiatan
seperti mengambil benda yang ada di sekitarnya.

Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada
sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan
terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain

Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh
lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik
pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan
frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang
ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk
keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga
dapat meningkatkan neurotransmitter.

25
Terapi anak autis dengan lumba-lumba sudah terbukti 4 kali lebih efektif dan lebih
cepat dibanding terpi lainnya. Gelombang suara yang dipancarkan lumba-lumba ternyata
berpengaruh pada perkembangan otak anak autis.

Bedasarkan keberhasilan terapi gelombang lumba-lumba, maka CD Terapi Anak Autis


ini diciptakan. Gelombang Sonar yang dihasilkan oleh lumba-lumba bisa direkam, dan ditiru
pola gelombangnya untuk diproduksi secara digital. Produk CD ini adalah hasil karya digita
yang “meniru” pola gelombang suara lumba-lumba untuk penyembuhan.

Terapi Gelombang Otak untuk Autis ini menggunakan Frekwensi Gelombang SMR
atau Sensori Motor Rhytm. Penderita epilepsy, ADHD ( Attention Deficit and Hyperactivity
Disorder) dan Autism ternyata tidak menghasilkan gelombang jenis ini. Para penderita
gangguan di atas tidak tidak mampu berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal yang dianggap
penting. Sehingga setiap pengobatan yang tepat adalah cara agar otaknya bisa menghasilkan
getaran SMR tersebut.

Kami, sebagai pemilik gelombangotak.com, bukanlah seorang ahli dalam pengobatan


anak autis. kami bukan dokter atau psikolog. Namun kami tahu, CD Terapi Anak Autis sudah
membantu banyak orang. Puluhan orang tua yang sudah membeli CD ini mengabarkan
perkembangan motorik dan kognitif anak autis mereka lebih cepat dan lebih baik dibanding
sebelum menggunakan CD Terapi Anak Autis ini.

Kami tidak menjamin CD Terapi Anak Autis yang harganya sangat terjangkau ini bisa
membuat anak autis sembuh/normal 100%, tapi mendengar penuturan para pembeli CD
Terapi Anak Autis ini, kami sangat yakin bahwa CD ini akan sangat membantu kemajuan
anak autis. Oya… perlu anda ingat, CD Terapi Anak Autis bukanlah pengobatan utama,
melainkan hanya sebagai terapi pelengkap untuk anak autis. Tetaplah berkunjung ke dokter
atau ahli lainnya untuk memeriksakan anak anda tercinta.

Banyak anak autis yang tidak mendapat kesempatan menikmati terapi lumba-lumba.
Mungkin karena masalah biaya atau memang karena di kota tempat anda tinggal tidak ada
tempat terapi lumba-lumba. Namun dengan CD Audio Branwave Terapi Anak Autis yang
meniru pola gelombang lumba-lumba, masalah biaya dan kelangkaan terapi lumba-lumba
sudah bisa diatasi.

26
CARA MENGGUNAKANNYA sangat mudah..! Anda putar saja CD Terapi Anak
Autis ini di ruangan atau tempat bermain anak anda. Boleh juga diputar di kamar tidur, saat
anak anda sedang tidur. Anda tida perlu memaksa anak Anda untuk konsentrasi
mendengarkannya. Putar saja CD ini seperti memutar musik. Meskipun anak tidak
mendengarkan, otak anak tetap merespon rangsangan gelombang suara frekuensi tertentu
yang keluar dari speaker. CD ini bisa diputar dengan semua perangkat elektronik yang bisa
memutar mp3. Gunakan speaker stereo untuk hasil tebaik. CD Audio Brainwave Terapi Anak
Autis ini sangat aman digunakan oleh siapapun, semudah mendengarkan musik.

Dapat disimpulkan bahwa terapi pada autisme dengan mendeteksi dini dan tepat waktu
serta program terapi yang menyeluruh dan terpadu.

Penatalaksanaan anak pada autisme bertujuan untuk:

a. Mengurangi masalah perilaku.


b. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa.
c. Anak bisa mandiri.
d. Anak bisa bersosialisasi.

6. PROGNOSIS

Anak terutama yang mengalami bicara, dapat tumbuh pada kehidupan marjinal, dapat
berdiri sendiri, sekalipun terisolasi, hidup dalam masyarakat, namun pada beberapa anak
penempatan lama pada institusi mrp hasil akhir. Prognosis yang lebih baik adalah tingakt
intelegensi lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional, kurangnya gejala dan perilaku
aneh. Gejala akan berubah dengan pertumbuhan menjadi tua. kejang-kejang dan kecelakaan
diri sendiri semakin terlihat pada perkembangan usia.

27
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. DOWN SYNDROM
5. PENGKAJIAN

a. Lakukan pengkajian Fisik


b. Lakukan pengkajian perkembangan
c. Dapatkan riwayat keluarga, terutama yang berkaitan dengan usia ibu atau anak lain
mengalami keadaan serupa
d. Observasi adanya manifestasi Sindrom Down:
1) Karakeristik Fisik (Paling sering terlihat)
a) Tengkorak bulat kecil dengan oksiput datar
b) Lipatan epikantus bagian dalam dan fisura palpebra serong (mata miring ke atas
dan keluar)
c) Hidung kecil dengan batang hidung tertekan kebawah (hidung sadel)
d) Lidah menjulur kadang berfisura
e) Mandibula hipoplastik (membuat lidah tampak besar)
f) Palatum berlengkung tinggi
g) Leher pendek tebal
h) Muskulatur Hipotonik (perut buncit, hernia umbilikus)
i) Sendi hiperfleksibel dan lemas
j) Tangan dan kaki lebar, pandek tumpul.
k) Garis simian (puncak transversal pada sisi telapak tangan)
2) Intelegensia
a) Bervariasi dan retardasi hebat sampai intelegensia normal rendah
b) Umumnya dalam rentang ringan sampai sedang
c) Kelambatan bahasa lebih berat daripada kelambatan kognitif
3) Anomaly congenital (peningkatan insiden)
a) Penyakit jantung congenital (paling umum)
b) Defek lain meliputi:Agenesis renal, atresia duodenum, penyakit hiscprung, fistula
esophagus, subluksasi pinggul. Ketidakstabilan vertebra servikal pertama dan
kedua (ketidakstabilan atlantoaksial)
4) Masalah Sensori (seringkali berhubungan)
a) Kehilangan pendengaran konduktif (sangat umum)
b) Strabismus
c) Myopia
d) Nistagmus
e) Katarak

28
f) Konjungtivitis
5) Pertumbuhan dan perkembangan seksual
a) Pertumbuhan tinggi badan dan BB menurun, umumnya obesitas
b) Perkembangan seksual terhambat, tidak lengkap atau keduanya
c) Infertile pada pria, wanita dapat fertile
d) Penuaan premature uum terjadi, harapan hidup rendah

6. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan nutrisi (pada neonatus) : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kesulitan pemberian makanan karena lidah yang menjulur dan palatum yang tinggi.
2. Risiko tinggi cedera b/d hiperekstensibilitas sendi, instabilitas atlantoaksial

3. RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA NOC NIC

1 Resiko Kejadian Jatuh Manajemen Lingkungan :


Cedera Keselamatan
1. jatuh saat berdiri
1. dentifikasi kebutuhan
2. Jatuh saat berjalan keamanan pasien
3. Jatuh saat duduk berdasarkan fungsi fisik dan
kognitif serta prilaku
4. Jatuh dari tempat tidur dimasa lalu

5. jatuh saat dipindahkan 2. Indentifikasi hal hal yang


membahayakan
6. Jatuh saat naik tangga dilingkungan (misalnya,
bahaya fisik, biologi dan
7. Terjun saat turu tangga
kimiawi)
8. Jatuh saat kekamar mandi
3. Singkirkan bahan
9. Jatuh saat membungkuk berbahaya dari lingkungan
jika diperlukan

4. Modifikasi lingkungan
Keseimbangan untuk meminimalkan bahan
berbahaya dan berisiki
1. Mempertahankan
keseimbangan saat duduk 5. Sediakan alat untuk
tanpa sokongan pada beradaptasi (misalnya, kursi
punggung 5untuk pijakan dan
pegangan tangan)
2. Mempertahankan
keseimbangan dari posisi 6. Gunakan peralatan
duduk ke posisi berdiri perlindungan (misalnya,
pengekangan, pegangan

29
3. Mepertahankan keseimbangan pada sisi, kunci pintu,
ketika berdiri pagar, dan gerbang) untuk
membatasi mobilitas fisik
4. Mempertahankan atau aksek pada situasi yang
keseimbangan ketika berjalan membahayakan
5. Mempertahankan 7. Beritahukan pada lembaga
keseimbangan ketika berdiri yang berwenang untuk
dengan satu kaki melakukan perlindungan
6. Mempertahankan lingkungan (misalnya, dinas
kesehatan, pelayanan
keseimbangan sementara
menggeser berat badan dari lingkungan, badan
satu kaki ke kaki lain lingkungan hidup dan
polisi)
7. Mempertahankan
keseimbangan saat berputar 8. Monitor lingkungan
360 derajat terhadap terjadinya
perubahan status kesehatan
8. Postur
9. Bantu pasien saat
9. Terpelintir melakukan perpindahan
kelingkungan yang lebih
10. Pusing aman (misalnya, rujukan
untuk mempunyai asisten
11. Goyah
rumah tangga)
12. tersandung
10. Inisiasi atau lakukan
program skrining terhadap
bahan yang membahayakan
lingkungan (misalnya,
logam berat dan radon)

11. Edukasi individu dan


kelompok yang berisiko
tinggi terhadap bahan
berbahaya yang ada di
lingkungan

Pencegahan jatuh

1. identifikasi kekurangan
baik kognitif atau fisik dari
pasien yang mungkin
meningkatkan potensi jatuh
pada lingkungan tertentu

2. Identifikasi prilaku dan


faktor yang mempengaruhi

30
risiko jatuh

3. Kaji ulang riwayat jatuh


bersama dengan pasien dan
keluarga

4. Identifikasi karakteristik
dari lingkungan yang
mungkin meningkatkan
potensi jatuh (misalnya,
lantai licin dan tangga
terbuka)

5. Monitor gaya berjalan


(terutama kecepatan),
keseimbangan dan tingkat
kelelahan dengan ambulasi

6. Tanyakan pasien mengenai


persepsi keseimbangan,
dengan tepat

7. Bantu ambulasi individu


yang memiliki ketidak
seimbangan

8. Sediakan alat bantu


(misalnya, tongkat dan
walker) untuk
menyeimbangkan gaya
berjalan

9. Letakkan benda benda


dalam jangkauan yang
mudah bagi pasien

10. Ajarkan pasien bagaimana


jika jatuh untuk
meminimalkan cidera

11. Sediakan pasien yang


memiliki ketergantungan
suatu alat untuk meminta
pertolongan (misalnya,
penyediaan bel atau lampu
panggil) saat caregiver tidak
ada

12. Ajarkan anggota keluarga


mengenai faktor risiko yang
berkontribusi terhadap

31
adanya kejadian jatuh dan
bagaimana keluarga bisa
menurunkan risiko ini

2 Ketidakseim Status Nutrisi Bayi Manajemen Nutrisi


bangan
1. Intake nutrisi 1. Tentukan status gizi pasien
Nutrisi:Kura
dan kemampuan pasien
ng dari 2. Intake makanan lewat mulut untuk memenuhi kebutuhan
kebutuhan gizi
3. Intake cairan lewat mulut
tubuh
4. Toleransi makanan 2. dentifikasi adanya alergi
atau intoleransi makanan
5. Perbandingan berat / tinggi yang dimiliki pasien

6. Hidrasi 3. Tentukan apa yang menjadi


preferensi makanan bagi
7. Pertumbuhan pasien
8. Glukosa darah 4. Instruksikan pasien
mengenai kebutuhan nutrisi
9. Hemoglobin
(yaitu : membahas pedoman
10. Kapasitas pengikat zat besi diet dan piramida makanan)
total
5. Bantu pasien dalam
11. Serum albumin menentukan pedoman atau
piramida makanan yang
12. Intake kalori paling cocok dalam
memenuhi kebutuhan
13. Intake protein
nutrisi
14. Intake lemak
6. Tentukan jumlah kalori dan
15. Intake karbohidrat jenis nutrisi yang
dibutuhkan untuk
16. Intake vitamin memenuhi persyaratan gizi

17. Intake mineral 7. Berikan pilihan makanan


sambil menawarkan
18. Intake zat besi
bimbingan terhadap pilihan
19. Intake kalsium makanan yang lebih sehat,
jika diperlukan
20. Intake sodium
8. Atur diet yang diperlukan
21. Intake makanan lewat selang
9. Lakukan atau bantu pasien
22. Intake cairan intra vena terkait dengan perawatan
mulut sebelum makan
23. Intake cairan parenteral
10. Beri obat obatan sebelum

32
makan (misalnya,
penghilang rasa sakit,
Status nutrisi : asupan nutrisi antiemetik) jika diperlukan
1. Asupan kalori 11. Anjurkan keluarga untuk
2. Asupan protein membawa makanan favorit
pasien
3. Asupan lemak
12. Anjurkan pasien terkait
4. Asupan karbohidrat dengan kebutuhan diet
untuk kondisi sakit ( yaitu :
5. Asupan serat untuk pasien dengan
penyakit ginjal, pembatasan
6. Asupan vitamin
natrium, kalium, protein,
7. Asupan mineral dan cairan)

8. Asupan zat besi 13. Anjurkan pasien terkait


dengan kebutuhan makanan
9. Asupan kalsium tertentu berdasarkan
perkembangan atau usia
10. Asupan natrium
14. Pastikan diet mencakup
makanan tinggi kandungan
serat untuk mencegah
konstipasi

15. Monitor kalori dan asupan


makanan

16. Monitor kecenderungan


terjadinya penurunan dan
kenaikan berat badan

17. Anjurkan pasien untuk


memantau kalori dan intake
makanan

Monitor Nutrisi

1. Monitor pertumbuhan dan


perkembangan

2. Monitor kecendrungan
turun dan naiknya berat
badan

3. Monitor adanya mual dan


muntah

33
4. Monitor diet dan asupan
kalori

5. Identifikasi perubahan
nafsu makan dan aktifitas
akhir akhir ini

6. Tentukan pola makan

7. Lakukan pemeriksaan
laboratorium

8. Tentukan faktor faktor yang


mempengaruhi asupan
nutrisi (misalnya,
pengetahuan. Kertersediaan
dan kemudahan
memperoleh produk produk
makanan yang berkualitas)

9. Identifikasi adanya ketidak


normalan dalam rongga
mulut

10. Lakukan evaluasi


kemampuan menelan

11. Monitor adanya pucat,


kemerahan, dan jaringan
konjungtiva yang kering

B. RETARDASI MENTAL
1. PENGKAJIAN
Pengakajian dapat dilakukan melalui:
1. Neuroradiologi dapat menemukan kelainan dalam struktur kranium, misalnya
klasifikasi atau peningkatan tekanan intrakranial.
2. Ekoesefalografi dapat memperlihatkan tumor dan hamatoma.
3. Biopsi otak hanya berguna pada sejumlah kecil anak retardasii mental. Juga tidak
mudah bagi orang tua untuk menerima pengambilan jaringan otak dalan jumlah kecil
sekalipun karena dianggap menambah kerusakan otak yang memang tidak adekuat.
4. Penelitian bio kimia menentukan tingkat dari berbagai bahan metabolik yang
diketahui mempengaruhi jaringan otak jika tidak ditemukan dalam jumlah besar atau

34
kecil, misalnya hipeglekimia pada neonatus prematur, penumpukan glikogen pada
otot dan neuron, deposit lemak dalam otak dan kadar fenilalanin yang tinggi.
Atau dapat melakukan pengkajian sebagai berikut:
1. Lakukan pengkajian fisik.
2. Lakukan pengkajian perkembangan.
3. Dapatkan riwayat keluarga, teruma mengenai retardasi mental dan gangguan
herediter dimana retardasi mental adalah salah satu jenisnya yang utama
4. Dapatkan riwayat kesehatan unutk mendapatkan bukti-bukti adanya trauma
prenatal, perinatal, pascanatal, atau cedera fisik.
5. Infeksi maternal prenatal (misalnya, rubella), alkoholisme, konsumsi obat.
6. Nutrisi tidak adekuat.
7. Penyimpangan lingkungan.
8. Gangguan psikiatrik (misalnya, Autisme).
9. Infeksi, teruma yang melibatkan otak (misalnya, meningitis, ensefalitis,
campak) atau suhu tubuh tinggi.
10. Abnormalitas kromosom.
11. Bantu dengan tes diagnostik misalnya: analis kromosom, disfungsimetabolik,
radiografi, tomografi, elektro ersafalografi.
12. Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia. Stanford, binet, Wechsler
Intellence, Scale, American Assiciation of Mental Retardation Adaptif
Behavior Scale.
13. Observasi adanya manifestasi dini dari retardasi mental:
14. Tidak responsive terhadap kontak.~Kontak mata buruk selama menyusui.
15. Penurunan aktivitas spontan
16. Penurunan kesadaran terhadap suara getaran
17. Peka rangsang.
18. Menyusui lambat.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kerusakan fungsi
kognitf.
2. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita
retardasi mental.
3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainan fs. Kognitif
4. Gangguan komunikasi verbal b.d kelainan fs, kognitif

35
5. Risiko cedera b.d. perilaku agresif/ketidakseimbangan mobilitas fisik
6. Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial
7. Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak RM
8. Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik/kurangnya kematangan
perkembangan

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kerusakan fungsi
kognitf.
Intervensi keperawatan / rasional :
a. Libatkan anak dan keluarga dalam program stimulasi dini pada bayii untuk
membantu memaksimalkan perkembangan anak.
b. Kaji kemajuan perkembangan anak dengan interval regular, buat catatan yang
terperinci untuk membedakan perubahan fungsi samar sehingga rencana
perawatan dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.
c. Bantu keluarga menyusun tujuan yang realitas untuk anak, untuk mendorong
keberhasilan pencapaian sasaran dan harga diri.
d. Berikan penguatan positif / tugas-tugas khusus untuk perilaku anak karena hal
ini dapat memperbaiki motivasi dan pembelajaran.
e. Dorong untuk mempelajari ketrampilan perawatan diri segera setelah anak
mencapai kesiapan.
f. Kuatkan aktivitas diri untuk menfasilitasi perkembangan yang optimal.
g. Dorong keluarga untuk mencari tahu program khusus perawatan sehari dan
kelas-kelas pendidikan segera.
h. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama dengan anak lain.
i. Sebelum remaja, berikan penyuluhan pada anak dan orang tua tentang
maturasi fisik, perilaku seksual, perkawinan dan keluarga.
2. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita
retardasi mental.
Intervensi keperawatan / rasional.
a. Berikan informasi pada keluarga sesegera mungkin pada saat atau setelah
kelahiran.
b. Ajak kedua orang tua untuk hadir pada kpnferensi pemberian informasi.
c. Bila mungkin, berikan informasi tertulis pada keluarga tentang kondisii anak.

36
d. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang manfaat dari perawatan dirumah,
beri kesempatan pada mereka untuk menyeldiki semua alternatif residensial
sebelum membuat keputusan.
e. Dorong keluarga untuk bertemu dengan keluarga lain yang mempunyai
masalah yang sama sehingga mereka dapat menerima dukungan tambahan.
f. Tekankan karakteristik normal anak untuk membantu keluarga melihat anak
sebagai individu dengan kekuatan serta kelemahannya masing-masing.
g. Dorong anggota keluarga untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran
karena hal itu merupakan bagian dari proses adaptasi.

C. AUTISME

A. Pengkajian

a. Factor predisposisi

b. Psikososial

c. Konsep diri

d. Staus mental

e. Mekanisme koping

B. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Ketidakmampuan Koping Individu

2. Harga Diri Rendah

3. Kecemasan pada orangtua

4. Kurangnya pengetahuan

Diagnosa Keperawatan :

1. Ketidakmampuan koping individu berhubungan dengan tidak adekuat keterampilan


pemecahan masalah.

Domain 9 : Koping/Toleransi terhadap stress

Daya tampung terhadap peristiwa atau proses kehidupan

37
Kelas 2 : Respon Koping

Proses dalam mengelolah stress lingkungan

Pengertian : ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang benar dari stressor,


pemilihan respon tidak adekuat, dan atau ketidakmampuan dalam menggunakan sumber-
sumber yang tersedia.

Sign Symptom :

 Gangguan tidur
 Penurunan dukungan social
 Pemecahan masalah tak adekuat
 Perubahan pola komunikasi

2. Harga diri rendah berhubungan dengan respon negatif teman sebaya, kesulitan
dalam berkomunikasi.

Domain 6 : Persepsi Diri

Kesadaran terhadap diri

Kelas 2 : harga diri

Penilaian terhadap diri sendiri dalam kemampuan diri, kejelekan diri,kepentingan dan
kesuksesan

Pengertian : Keadaan yang lama mengenai evaluasi diri atau perasaan mengenai diri atau
kemampuan diri yang negative.

Sign Symptom :

§ Mengevaluasi diri tidak mampu menangani situasi baru.

§ Kurang kontak mata

§ Mencari ketenangan berlebihan

3. Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembangan anak.

Domain 9 : Koping / Toleransi terhadap stress

Daya tampung terhadap peristiwa atau proses kehidupan.

38
Kelas 2 : respon koping

Proses dalam mengelola stress lingkungan.

Pengertian : Perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai
dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh
individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya. Ini merupakan sinyal
peringatan akan adanya bahaya dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah
untuk menghadapinya.

Sign symptom :

§ Gelisah

§ Mudah tersinggung

§ Khawatir

4. Kurang pengetahuan pada orang tua berhubungan dengan cara mengatasi anak
dengan kesulitan belajar.

Domain 5 : Persepsi / Kognisi

System dalam memproses informasi termasuk perhatian, orientasi, sensasi, persepsi,


kognisi, dan komunikasi.

Kelas 4 : kognisi

Penggunaan dalam memori, belajar, berpikir, pemecahan masalah, abstaksi, pengambilan


keputusan, insight/pandangan, kapasitas intelektual, menghitung dan bahasa.

Pengertian :

Tidak ada atau kurang informasi kognitif berhubungan dengan topic yang spesifik.

Sign symptom :

§ Mengungkapkan adanya masalah

§ Mengikuti instruksi tidak akurat

§ Prilaku berlebihan atau tidak sesuai.

INTERVENSI

39
a. Ketidakmampuan koping individu berhubungan dengan tidak adekuat keterampilan
pemecahan masalah.

Tujuan : Klien mampu memecahkan masalah dengan koping yang efektif

1. CLIEN OUT COMES :

· Koping klien teratasi

· Klien mampu membuat keputusan

· Klien mampu mengendalikan impuls

· Klien mampu memproses informasi

2. NURSING OUT COMES : Koping

Indicator :

 Mengidentifikasi pola koping yang efektif


 Mencari informasi terkait dengan penyakit dan pengobatan
 Menggunakan prilaku untuk menurunkan stress
 Mengidentifikasi dan menggunakan berbagai strategi koping
 Melaporkan penurunan perasaan negatif

3. NURSING INTERVENTIONS CLASSIFICATION : Peningkatan Koping

Aktivitas

· Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya.

· Beri kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan masalahnya.

· Beri bimbingan kepada anak untuk dapat mengambil keputusan.

· Anjurkan kepada orang tua untuk lebih sering bersama anaknya.

· Hadirkan sibling untuk memberikan motivasi

· Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk mengurangi tingkat stress anak.

b. Harga diri rendah berhubungan dengan respon negatif teman sebaya, kesulitan
dalam berkomunikasi.

Tujuan : klien dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.

1. CLIEN OUT COMES :

40
· Klien mampu menunjukkan Harga dirinya

2. NURSING OUT COMES : Harga Diri

Indicator :

 Mengungkapkan penerimaan diri secara verbal


 Mempertahankan postur tubuh tegak
 Mempertahankan kontak mata
 Mempertahankan kerapihan/hygiene
 Menerima kritikan dari orang lain

3. NURSING INTERVENTIONS CLASSIFICATION : Peningkatan Harga Diri

Aktivitas

· Beri motivasi pada anak.

· Beri kesempatan anak mengungkapkan perasaannya.

· Beri latihan intensif pada anak untuk pemahaman belajar berkomunikasi.

· Modifikasi cara belajar sehingga anak lebih tertarik.

· Beri reward pada keberhasilan anak.

· Gunakan alat bantu/peraga dalam belajar berkomunikasi.

· Berikan suasana yang nyaman dan tidak menegangkan.

· Anjurkan kepada keluarga untuk mendekatkan anak pada sibling.

c. Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembangan anak.

Tujuan : Kecemasan orang tua tidak berkelanjutan.

1. CLIEN OUT COMES :

· Pasien mengerti tentang prosedur pengobatan

· Pasien tidak gelisah

· Pasien tidak merasa cemas

· Pasien tampak tenang

2. NURSING OUT COMES : Kontrol Ansietas

41
Indicator :

 Merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress


 Mempertahankan penampilan peran
 Melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori
 Manifestasi prilaku akibat kecemasan tidak ada
 Melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik

3. NURSING INTERVENTIONS CLASSIFICATION : Pengurangan Ansietas

Aktivitas

· Anjurkan orang tua untuk selalu memotivasi anaknya.

· Anjurkan orang tua untuk memberikan anaknya bimbingan belajar intensif.

· Anjurkan orang tua agar selalu memantau prilaku anak.

· Kolaborasi dengan ahli gizi untuk keseimbanga gizi anak.

· Anjurkan orang tua untuk membawa anaknya ke dokter bila perlu.

· Beri penjelasan tentang kondisi anak kepada orang tua.

d. Kurang pengetahuan pada orang tua berhubungan dengan cara mengatasi anak
dengan kesulitan berkomunikasi.

Tujuan : pengetahuan keluarga bertambah

1. CLIEN OUT COMES :

· Klien mengatakan memahami dan mengerti tentang proses penyakit dan prosedur
tindakan pengobatan.

2. NURSING OUT COMES :

Indicator :

Ä Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan yang di


anjurkan

Ä Menunjukkan kemampan melaksanaan aktivitas

3. NURSING INTERVENTIONS CLASSIFICATION :

Aktivitas

42
· Anjurkan orang tua bersama dengan anak untuk membuat jadwal belajar
berkomunikasi.

· Luangkan waktu kepada orang tua untuk mendengarkan keluhan.

· Anjurkan orang tua untuk lebih memperhatikan perkembangan anak.

· Berikan anak makanan seimbang, 4 sehat 5 sempurna untuk menutrisi otak.

· Berikan suplemen bila perlu.

· Kenali cara/metoda belajar anak.

· Biarkan anak menggunakan inisiatif/pemikirannya selama masih dalam batas yang


wajar.

43
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Down Syndrom merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi
pada manusia. Diperkirakan 20 % anak dengan down syndrom dilahirkan oleh ibu yang
berusia diatas 35 tahun. Synrom down merupakan cacat bawaan yang disebabkan oleh
adanya kelebiha kromosom x. Syndrom ini juga disebut Trisomy 21, karena 3 dari 21
kromosom menggantikan yang normal.95 % kasus syndrom down disebabkan oleh kelebihan
kromosom.

Retardasi mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi mental atau kesehatan
mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi
kejiwaan terhadap stimulus eksteren dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan
fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan mental.
Retardasi mental bisa saja terjadi pada setiap individu / manusia karena adanya faktor-
faktor dari dalam maupun dari luar, gejala yang ditimbulkan pada penderita retardasi mental
umumnya rasa cemas, takut, halusinasi serta delusi yang besar.
autisme adalah gangguan perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi
verbal dan non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa kegagalan
mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),hambatan dalam pembicaraan,
perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif serta penarikan diri dan kehilangan
kontak dengan realitas.

B. SARAN

Disarankan kepada para ibu agar memperhatikan kesehatan dirinya seperti


memperhatikan gizi, hati-hati mengkonsumsi obat-obatan dan mengurangi kebiasaan buruk
seperti: minum-minuman keras dan merokok.
Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan perlu melakukan langkah prepentif
guna menanggulangi gangguan mental yang dapat membahayakan kesehatan anak dan remaja
caranya yaitu dengan menggalakkan penyuluhan tentang retardasi mental kepada masyarakat.
Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat
diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik.

44
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction.

Bobak (2005). Buku ajar keperawatn maternitas. Jakarta: EGC.

Freedman et al. Modern Synopsis of Comprehensive Textbook of Psychiatry. Baltimore : The


Williams & Wilkins Co, 1972; pp 312 -329.
Maramis, W.F. (2005) Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Newman, Dorlan. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorlan Edisi 2008. Jakarta: EGC.
Wikipedia, the Free Encyclopedia. (2010) “Mental Retardation.” Terdapat pada:
http://en.wikipedia.org/wiki/Mental_retardation.

Sacharin, r.m, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2, EGC, Jakarta

Behrman, Kliegman, Arvin, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Alih Bahasa Prof.
DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K), EGC, Jakarta

45