Vous êtes sur la page 1sur 23

LAPORAN PRAKTIKUM SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

“PENILAIAN INSPEKSI SANITASI TERMINAL LARANGAN SIDOARJO”

Dosen Pembimbing :

1. Rusmiati, SKM., M.SI


2. Bambang Sunarko, SKM., M.Mkes
3. Fitri Rokhmalia, SST., M.KL

Disusun Oleh:

1. Jerry Ryan S P27833116003 8. Sri Maulinasari P27833116020


2. Umi Mardiyah P27833116006 9. Atiyatus Eka P P27833116023
3. Lutfi Yasinta Y P27833116007 10. Sazkia Nuhaa S P27833116026
4. Nila Lovita A P27833116009 11. Nur Fadlila R P27833116029
5. Firly Oktaviani P27833116013 12. Faikoh Kurratun P27833116038
6. Eunike Febe N P27833116016 13. Devi Oktaviana P27833116040
7. Dwi Wahyuni H P27833116017 14. Hylda Pravyta P P27833116043

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA
SEMESTER IV
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA sehingga laporan
ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
laporan agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam laporan ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini.

Surabaya, 25 April 2018

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Visi pembangunan kesehatan nasional yang menggambarkan masyarakat
Indonesia di masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan sehat dan perilaku
sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata, serta
memiliki drajat kesehatan yang setinggi tingginya.

Terminal adalah tempat beserta fasilitasnya yang digunakan untuk naik,


menurunkan serta menunggu penumpang dari sarana angkutan umum. Sedangkan sanitasi
terminal yaitu pengawasan pada beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh
terhadap kesehatan manusia yang ada di terminal.Terminal penumpang dapat
dikelompokan atas dasar tingkat penggunaan terminal kedalam tiga tipe sebagai berikut.

1. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan


antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota
dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan.
2. Terminal penumpang tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan
antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan.
3. Terminal penumpang tipe C berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan
pedesaan.

Ada beberapa permasalahan yang sering muncul di terminal seperti sampah.


Masalah sampah kadang sering dianggap remeh oleh sebagian kalangan. Padahal
sampah apabila dibiarkan begitu saja tanpa adanya pengelolaan yang serius akan
menyebabkan bencana yang besar. Sebagai contoh adalah bencana banjir yang melanda
kota-kota di Indonesia. Banjir yang terjadi diakibatkan oleh kegiatan manusia sendiri,
yaitu sampah yang tidak dikelola dengan baik. Sampah-sampah tersebut akhirnya
menggunung dan menghambat aliran air sehingga akan menyebabkan banjir. Dampak
yang lain dari tidak adanya pengelolaan sampah adalah munculnya berbagai macam
jenis penyakit yang dibawa oleh perantara. Misalnya saja penyakit malaria,demam
berdarah, berbagai macam penyakit kulit, desentri dll.

Sampah adalah benda yang tidak dipakai, tidak diinginkan dan dibuang yang
berasal dari suatu aktifitas dan akan terus ada dengan berbagai permasalahannya selama
manusia hidup dan beraktifitas. Sumber dari sampah pada umumnya berhubungan erat
dengan penggunaan tanah dan pembagian daerah untuk berbagai kegunaan.pada
dasarnya sumber sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, akan tetapi
dalam laporan ini hanya akan mengambil sumber sampah pada tempat pelayanan
kesehatan.
Pengelolaan sampah yang baik, dimulai sejak dini, yaitu dari sumber sampah
tersebut berasal. Apabila dari sumbernya sudah dilakukan pengelolaan secara baik,
maka dalam perjalanannya sampah tersebut tidak akan menjadi barang sisa yang
tidak berguna tetapi menjadi barang yang masih mempunyai manfaat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Lokasi di Terminal Larangan Sidoarjo ?
2. Bagaimana Kontruksi dan Tata Ruang di Terminal Larangan Sidoarjo?
3. Bagaimana Keadaan Fasilitas Sanitasi di Terminal Larangan Sidoarjo?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Dengan adanya kegiatan praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat
memahami dan mengetahui prosedur pelaksanaan penilaian inspeksi sanitasi
tempat-tempat umum khususnya terminal
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui Lokasi di Terminal Larangan Sidoarjo
2. Mengetahui Kontruksi dan Tata Ruang di Terminal Larangan Sidoarjo
3. Mengetahui Keadaan Fasilitas Sanitasi di Terminal Larangan Sidoarjo
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Pemerintah
Sebagai tinjauan atau evaluasi tentang kelayakan tempat umum bagi
masyarakat, dan sekaligus menjadi bahan untuk peningkatan kualitas tempat
umum khususnya terminal.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Mengetahui pentingnya sanitasi tempat-tempat umum dan segala
kemungkinan yang terjadi di tempat umum salah satunya penularan penyakit
sehingga dapat melakukan pencegahan secara dini.
1.4.3 Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan pembelajaran dan penelitian lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi kegiatan yang


berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau
menularnya suatu penyakit, sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat
dicegah.
Sanitasi tempat-tempat umum menurut Mukono (2006), merupakan problem kesehatan
masyarakat yang cukup mendesak. Karena tempat umum merupakan tempat bertemunya
segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang dipunyai oleh masyarakat. Oleh sebab
itu tempat umum merupakan tempat menyebarnya segala penyakit terutama penyakit yang
medianya makanan, minuman, udara dan air. Dengan demikian sanitasi tempat-tempat umum
harus memenuhi persyaratan kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Tempat-tempat umum harus mempunyai kriteria sebagai berikut
:
a) Diperuntukkan bagi masyarakat umum, artinya masyarakat umum boleh keluar masuk
ruangan tempat umum dengan membayar atau tanpa membayar.
b) Harus ada gedung/ tempat peranan, artinya harus ada tempat tertentu dimana
masyarakat melakukan aktivitas tertentu.
c) Harus ada aktivitas, artinya pengelolaan dan aktivitas dari pengunjung tempat-tempat
umum tersebut.
d) Harus ada fasilitas, artinya tempat-tempat umum tersebut harus sesuai dengan
ramainya, harus mempunyai fasilitas tertentu yang mutlak diperlukan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di tempat-tempat umum.
Tempat atau sarana layanan umum yang wajib menyelenggarakan sanitasi lingkungan
antara lain, tempat umum atau sarana umum yang dikelola secara komersial, tempat yang
memfasilitasi terjadinya penularan penyakit, atau tempat layanan umum yang intensitas jumlah
dan waktu kunjungannya tinggi. Tempat umum semacam itu meliputi hotel, terminal angkutan
umum, pasar tradisional atau swalayan pertokoan, bioskop, salon kecantikan atau tempat
pangkas rambut, panti pijat, taman hiburan, gedung pertemuan, pondok pesantren, tempat
ibadah, objek wisata, dan lain-lain.
Tempat umum adalah suatu tempat dimana orang banyak atau masyarakat umum
berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara sementara (insidentil) maupun secara terus
menerus (permanent), baik membayar mapupun tidak membayar.
Kriteria suatu tempat umum adalah terpenuhinya beberapa syarat :

1) Diperuntukkan bagi masyarakat umm


2) Harus ada gedung/tempat yang permanen
3) Harus ada aktivitas (pengusaha, pegawai, pengunjung)
4) Harus ada fasilitas (SAB, WC, Urinoir, tempat sampah, dll)

Sedangkan yang disebut sanitasi tempat-tempat umum adalah suatau usaha untuk
mengawasi dan mencegah kerugian akibat dari tidak terawatnya tempat-tempat umum tersebut
yang mengakibatkan timbul dan menularnya berbagai jenis penyakit. Sasasan khusus yang
harus diberikan dalam pengawasn tempat-tempat umum meliputi :

1) Manusia sebagai pelaksana kegiatan (kebersihan secara umum maupun personal


hygiene)
2) Alat-alat kebersihan
3) Tempat kegiatan
Manfaat adanya Sanitasi Tempat Umum:

1. Adanya kumpulan manusia yang berhubungan langsung dengan lingkungan


2. Kurangnya pengertian dari masyarakat mengenai masalah kesehatan
3. Kurangnya fasilitas sanitasi yang baik
4. Adanya kemungkinan besar terjadinya penularan penyakit
5. Adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan
6. Adanya tuntutan physical dan mental confort

Aspek penting dalam penyelenggaraan sanitasi tempat-tempat umum

a. Aspek teknis/hukum (persyaratan H dan S, Peraturan dan perundang-undangan


sanitasi
b. Aspek sosial, yang meliputi pengetahuan tentang : kebiasaan hidup, adat istiadat,
kebudayaan, keadaan ekonomi, kepercayaan, komunikasi, dll
c. Aspek administrasi dan management, yang meliputi penguasaan pengetahuan
tentang cara pengelolaan STTU yang meliputi : Man, Money, Method, Material dan
Machine

Hambatan yang sangat sering dijumpai dalam pelaksanaan sanitasi di tempat-tempat umum

Pengusaha

a. Belum adanya pengertian dari para pengusaha mengenai peraturab per undang-
undangn yang menyangkut usha STTU dan kaitannya dengan usaha kesehtan
masyarakat
b. Belum mengetahui / kesadaran mengenai pentingnya usaha STTU untuk
menghindari terjadinya kecelakaan atau penularan penyakit
c. Adanya sikap keberata dari pengusaha untuk memenuhi persyaratan-persyaratan
karena memerlukan biaya ekstra
d. Adanya sikap apatis dari masyarakat tenang adanya peraturan/persyaratan dari
STTU
Pemerintah
a. Belum semua peraltan dimiliki oelh tenaga pengawas pada tingkat II dan kecamatan
b. Masih terbatasnya pengetahan petugas dalam melaksanakan pengawasan
c. Masih minimnya dana yang dialokasikan untuk pengawasan STTU
d. Belum semua kecamatan /tingkat II memiliki saran transportasi untuk melakukan
kegiatan pengawasan

Langkah-langkah dalam implementasi usaha sttu:

a. Identifikasi masalah (problem identification)


b. Pemeriksaan H&S TTU (sanitary inspection)
c. Follow Up
d. Evaluasi
e. Pencatatan dan pelaporan
Pengertian Terminal
Definisi terminal menurut Direktur Jendral Perhubungan Darat, No. 31 Tahun 1995,
Terminal Transportasi merupakan :
a. Titik simpul dalam jaringan transportasi jalan yang berfungsi sebagai pelayanan
umum.
b. Tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian lalu lintas.
c. Prasarana angkutan yang merupakan bagian dari sistem transportasi untuk
melancarkan arus penumpang dan barang.
d. Unsur tata ruang yang mempunyai peranan penting bagi efisiensi kehidupan kota.
Menurut Keputusan Mentri Perhubungan No.31 Tahun 1995 bahwa Terminal
Penumpang adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikan
penumpang, perpindahan intra dan /atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan
dan pemberangkatan kendaraan umum.
Menurut Direktur Jendral Perhubungan Darat, No.14 2002, terminal angkutan
penumpang merupakan salah satu bagian dari sistem transportasi, tempat kendaraan umum
mengambil dan menurunkan penumpang dari satu moda ke moda transportasi lainnya, juga
merupakan prasarana angkutan penumpang dan menjadi unsur ruang yang mempunyai peran
penting bagi efisiensi kehidupan wilayah. Dilihat dari sistem jaringan transportasi secara
keseluruhan, terminal angkutan umum pusat dari sistem jaringan transportasi, tempat
bertemunya sekumpulan angkutan umum. Terminal berperan sangat penting dan berfungsi
secara signifikan karena terminal angkutan umum merupakan komponen utama dari jaringan
transportasi jalan. Dibutuhkan suatu pelayanan yang baik yang berfungsi secara efektif dan
efisien pada sebuah terminal agar mendukung terhadap kelancaran efektifitas dan efisiensi
kendaraan umum secara keseluruhan. Sebuah terminal harus mampu memberikan pelayanan
yang baik, untuk itu untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai sebuah terminal yang baik maka
kapasitas terminal harus memadai untuk mencakup semua pergerakan kendaraan umum di
suatu wilayah.
Terminal merupakan prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan
menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur
kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum;
Terminal penumpang dapat dikelompokan atas dasar tingkat penggunaan terminal kedalam tiga
tipe sebagai berikut:
a. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan
antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota
dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan.
b. Terminal penumpang tipe B berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan
antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan.
c. Terminal penumpang tipe C berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan
pedesaan.
Kriteria Lokasi Terminal
Penentuan lokasi terminal biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dari suartu daerah
dalam menempatkan sebuah prasarana publik tergantung dari jaringan transportasi jalan dan
jumlah kendaraan umum yang ada di daerah tersebut. Dilihat dari tipe terminal Bandar
laksamana yang terletak di wilayah kabupaten, Terminal Bandar Laksamana Kabupaten
Indragiri Hilir merupakan Terminal penumpang Tipe B.
Menurut Keputusan Mentri Perhubungan No 31 Tahun 1995 bahwa Penetapan lokasi
terminal penumpang Tipe B selain harus memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10, harus memenuhi persyaratan:
a. terletak dalam jaringan trayek antar kota dalam propinsi;
b. terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas
IIIB;
c. jarak antara dua terminal penumpang tipe B atau dengan terminal penumpang tipe
A, sekurang-kurangnya 15 km di Pulau Jawa dan 30 km di Pulau lainnya;
d. tersedia lahan sekurang-kurangnya 3 ha untuk terminal di Pulau Jawa dan Sumatera,
dan 2 ha untuk terminal di pulau lainnya;
e. mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan jarak
sekurang-kurangnya 50 m di Pulau Jawa dan 30 m di pulau lainnya, dihitung dari
jalan ke pintu keluar atau masuk terminal.
Rancangan pembuatan dan penetapan lokasi terminal Tipe B biasanya dilakukan oleh
Kepala Daerah Tingkat I setelah mendengar pendapat Kepala Kantor Wilayah Departemen
Perhubungan setempat dan mendapat persetujuan Direktur Jenderal, untuk terminal
penumpang tipe B. Menurut Abubakar 1996, dalam Purba 2008 dalam pembangunan terminal
agar tercapainya tujuan dari pembangunan terminal harus mempertimbangkan beberapa hal
yaitu :
a. Terminal harus sesuai dengan tata ruang.
b. Terminal harus menjamin kelancaran lalu lintas barang maupun penumpang.
c. Lokasi Terminal hendaknya dapat mendukung kegiatan serta penggunaan terminal
secara efektif dan efisien.
d. Lokasi terminal hendaknya tidak mengganggu kelancaran lalu lintas serta tidak
merusak kelestarian lingkungan sekitarnya.
Fasilitas terminal

Fasilitas terminal dapat dikelompokkan atas fasilitas utama dan fasilitas pendukung,
semakin besar suatu terminal semakin banyak fasilitas yang bisa disediakan.

1) Fasilitas utama

a) Jalur pemberangkatan kendaraan umum;


b) Jalur kedatangan kendaraan umum;
c) Tempat parkir kendaraan umum selama menunggu keberangkatan, termasuk di
dalamnya tempat tunggu dan tempat istirahat kendaraan umum;
d) Bangunan kantor terminal;
e) Tempat tunggu penumpang dan/atau pengantar;
f) Menara pengawas;
g) Loket penjualan karcis;
h) Rambu-rambu dan papan informasi, yang sekurang-kurangnya memuat petunjuk
jurusan, tarif dan jadwal perjalanan;
i) Pelataran parkir kendaraan pengantar dan/atau taksi.

2) Fasilitas penunjang

a) Kamar kecil/toilet;
b) Musholla;
c) Kios/kantin;
d) Ruang pengobatan;
e) Ruang informasi dan pengaduan;
f) Wartel;
g) Tempat penitipan barang;
h) Taman.

Persyaratan Sanitasi Terminal

Terminal adalah merupakan tempat-tempat umum, sehingga perlu memenuhi


syarat-syarat sanitasi tempat-tempat umum. Persyaratan minimal sanitasi terminal yang
perlu ditetapkan adalah sebagai berikut:
Letak Terminal
Menentukan letak untuk membangun terminal harus disesuaikan dengan perencanaan tata
kota.
Bangunan Terminal
a. Tempat Parkir
Persyaratan minimal hygiene sanitasi yang berlaku adalah sebagai berikut:
 Bersih dari sampah dan genangan – genangan air.
Tempat parkir yang bersih dari sampah dan genangan – genangan air
akan menguntungkan dari segi estetik dan kesehatan. Apabila tempat parkir
kotor dengan sampah –sampah dan genangan air, akan dapat menimbulkan
kecelakaan dan juga dapat menjadi sarang berbagai serangga dan tikus. Adanya
genangan air tersebut akan menciptakan tempat hidup dan berkembangnya
nyamuk. Sedangkan kita ketahui bahwa nyamuk merupakan serangga yang
dapat menyebarkan berbagai macam penyakit pada manusia seperti: malaria,
demam berdarah, penyakit kaki gajah dan sebagainya.
 Berlantai aspal atau beton.
Lantai aspal dan beton penting agar tempat tersebut tidak lekas rusak
sehingga tidak menimbulkan lubang – lubang yang dapat menjadi tempat
genangan – genangan air, juga agar menyenangkan bagi penumpang karena tidak
terjadi goncangan – goncangan kendaraan. Disamping itu, tempat parkir tidak
akan menjadi becek bila turun hujan, dan juga mudah dibersihkan dari sampah –
sampah yang mengotori tempat tersebut.
 Tersedia tanda – tanda yang jelas.
Adanya tanda – tanda akan memudahkan dalam pengaturan parkir
kendaraan, sehingga tidak terjadi kesemrawutan parkir kendaraan.

b. Ruang Tunggu
Yang penting diperhatikan mengenai ruang tunggu terminal agar tidak
meninggalka masalah – masalah kesehatan adalah:
 Lantai dibuat dari bahan kedap air dan tidak licin.
Hal tersebut dimaksudkan agar kotoran yang ada mudah dibersihkan
juga agar tidak membahayakan bagi orang karena kemungkinan terjadinya
kecelakaan akibat licinnyapermukaan lantai.
 Tempat duduk bersih.
Tempat duduk yang bersih dan bebas dari kutu busuk, akan membuat
orang senang mendudukinya karena orang tidak perlu cemas pakaiannya akan
kotor. Tempat duduk tersebut jadi harus bebas dari kutu busuk sebab orang akan
merasa terganggu dengan adanya gigitan kutu busuk.
 Ruang tunggu harus dan tersedia tempat – tempat sampah yang tertutup dan
kedap air.
Ruang tunggu yang bersih akan menyenangkan orang dan membuat
orang betah di tempat tersebut untuk menunggu keberangkatan dan kedatangan
dari terminal bus. Untuk itu perlu dijaga kebersihan dan perlu tersedia tempat
pengumpul sampah yang tertutup dan kedap air. Bila tempat tersebut tidak
bersih dan menimbulkan bau yang tidak sedap dapat menimbulkan rangsangan
pada penumpang untuk meludah/berdahak sembarangan di lantai. Hal ini akan
menyebabkan ruang tunggu tersebut akan menjadi kotor lagi. Diantara mereka
ini mungkin ada yang berpenyakit menular misalnya TBC yang digilirannya
akan dapat menular kepada orang lain. Disamping itu bau tersebut bisa
mengundang kedatangan serangga dan tikus sebagai vektor penyakit menular.
 Penerangan yang cukup.
Di ruang tunggu terminal bus perlu diberi penerangan secukupnya
agar menerangi semua sudut ruang bagi orang – orang di tempat itu, sehingga
hal – hal yang tidak diinginkan seperti saling tabrakan/bersenggolan, barang –
barang tertukar, pencurian dan sebagainya tidak terjadi. Adapun penerangan
minimal yang disyaratkan adalah 5 footcandles.
 Sekeliling bangunan harus ada saluran pembuangan air kotor.
 Ventilasi yang cukup.
Ventilasi yang cukup berguna untuk memberikan angin segar yang
berasaldaripertukaranudarakepadapenumpang yang berada di ruangtunggu. Hal
ini dimaksudkan agar penumpang tidak merasa gerah.
 Selalu dijaga kebersihannya.
a. Kantor dan Loket

Kantor merupakan tempat bekerja karyawan yang melakukan pekerjaan


ketata usahaan untuk pengelolaan terminal yang bersangkutan. Untuk itu perlu
dipenuhi syarat – syarat sanitasi yang berlaku.
Adapun persyaratan minimal hygiene sanitasi yang berlaku untuk kantor dan loket
diterminal adalah:

 Keadaan bersih dan teratur.


Karena kantor merupakan tempat bekerja, maka kantor perlu dijaga
kebersihannya serta barang – barang seperti meja, kursi, lemari dan
sebagainya. Selainitu juga harus diatur dengan rapi. Hal ini disamping
memberikan pemandangan yang menyenangkan, juga dapat menambah
kegairahan kerja bagi karyawan.
 Tersedia kotak – kotak sampah.
Adanya kotak – kotak sampah dimaksudkan untuk menampung semua
sampah kantor berupa kertas – kertas dan sebagainya agar kertas – kertas
tersebut tidak berserakan di dalam kantor. Di samping itu juga dapat
menimbulkan kesan jorok. Sampah tersebut dapat pula menimbulkan beberapa
masalah seperti tempat persembunyian serangga dan tikus serta bahaya
kebakaran.
 Ventilasi udara yang baik.
Ventilasi udara baik dimaksudkan untuk mengadakan pertukaran cahaya
dalam ruang kantor sehingga udara di dalam ruangan tetap bersih. Apabila
ventilasi tidak baik, maka pertukaran udara dalam ruangan tidak baik sehingga
dapat kekurangan udara segar. Hal ini dapat mengakibatkan menurunnya
kegairahan kerja bahkan lebih parah lagi dapat mengakibatkan “heat strook”
dan pingsan. Untuk itu maka ventilasi harus diatur dengan baik sehingga
pertukaran udara dalam ruangan kantor tersebut dapat berjalan baik pula.
 Loket berbatas kaca dengan lubang sempit.
Adanya kaca pada loket yang membatasi antara penjual dan pembeli
karcis dimaksudkan agar disamping memberikan cahaya yang cukup ke dalam
loket, juga untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan penyakit secara
langsung antara penjual dan pembeli karcis. Bila tidak dibatasi kaca, maka dapat
terjadi penularan penyakit melalui tetesan ludah halus (droples infection) seperti
penyakit Tuberculosa, Diptheri, Pertussis.
 Penerangan
Penerangan secukupnya di dalam kantor dan loket dimaksudkan agar
karyawan yang bekerja di lokasi dapat penerangan dengan baik, sehingga
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik pula. Apabila penerangan kurang,
akan dapat menyebabkan kerusakan/penyakit mata padakaryawan. Penerangan
minimal yang di ijinkan dalam kantor dan loket adalah 10 – 20 footcandles.
 Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit secara langsung dari
karyawan terminal terhadap masyarakat pengunjung, maka karyawan terminal
terutama karyawan loket harus dalam keadaan sehat, mempunyai sertifikat
kesehatan, yang menunjukkan tidak menderita penyakit jalan pernafasan yang
menular dan tidak berpenyakit kulit atau mata.
b. Fasilitas P3K
Tempat umum seperti terminal kemungkinan terjadi kecelakaan adalah besar
sekali. Untuk itu perlu tersedia fasilitas P3K (Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan), minimal tersedia kotak P3K. Fasilitas tersebut penting untuk
menolong orang yang mengalami kecelakaan di terminal. Adapun tujuan dari
pertolongan ini adalah:
 Mencegah bahaya maut.
 Mencegah kecelakaan.
 Mencegah terjadinya infeksi
Agar dapat memberikan pertolongan yang layak kepada orang yang
mengalami kecelakan,sebelum si korban di bawa ke Rumah Sakit, perlu
diperhatikan:
 Adanya petugas yang terlatih dalam memberikan pertolongan pertama.
 Adanya peralatan dan obat-obatan P3K yang baik dan cukup.
 Adanya pengeras suara.
Ketersediaan pengeras suara penting di terminal guna memberikan
pengumuman-pengumuman atau perintah kepada karyawan terminal. Selain
itu pengemudi juga dapat menggunakannya untuk memberikan pengumuman.
c. Pagar Terminal
Sekeliling terminal perlu diberi pagar yang cukup tinggi dan
kuat.Selaindimaksudkan untuk menunjukkan batas-batas terminal,pagar juga perlu
untuk menjaga keamanan. Adanya pagar akan memperkecil kemungkunan
terjadinya kecelakaan seperti ditabrak kendaraan yang disebabkan oleh
seseorang yang masuk terminal melalui sembarangan tempat dan ia akan
menyeberangi jalan raya ditempat yang bukan semestinya. Selain fungsi
diatas, pagar juga perlu untuk mencegah masuknya hewan peliharaan seperti
anjing, kambing, ayam dan sebagainya ke dalam terminal.

d. Pemadam Kebakaran
Untuk mencegah kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran
diterminal, maka di tempat tersebut perlu tersedia alat pemadam kebakaran yang
selalu siap digunakan. Pada alat tersebut perlu dilengkapi dengan cara
penggunaannya. Penempatan alatpemadamkebakaran harus sedemikian rupa
sehingga mudah dilihat dan dicapai agar segera cepat digunakan apabila
terjadiperistiwa kebakaran.

e. Pencahayaan
Di terminal terutama di tempat parkir, pintu masuk dan pintu keluar terminal
perlu diberi pencahayaan yang cukup. Untuk tempat ini penerangan minimal yang
dianjurkan adalah 5 footcandles.

f. Bangunan Tempat Ibadah


Persyaratan sanitasi bagi rumah ibadah hampir sama dengan bangunan
lain,akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah penyediaan air yang cukup serta
pemeliharaan kebersihan bangunan.

Ruang Lingkup Kesling di Terminal


a. Penyediaan Air Bersih
Air merupakan kebutuhan pokok manusia,karena dapat digunakan untuk
minum, mandi dan keperluan lainnya, tetapi air dapat pula merupakan media
untuk hidup dan berkembangbiaknya bakteri yang dapat menimbulkan
penyakit.Oleh karena itu air bersih dalam terminal sangat penting sekali untuk
keperluan warung-warung, cuci dan pembersih kakus/wc umum.
Yang dimaksud dengan penyediaan air bersih disini adalah usaha
penyediaan air yang bebas dari kotoran-kotoran serta bebas bibit penyakit yang
mungkin dapat menimbulkan gangguan kesehatan terhadap manusia. Kebutuhan
akan air bersih ini sebaiknya dipenuhi dari sumber air PAM, karena air dari
sumber ini kebersihannya terjamin. Apabila hal ini tidak mungkin, dapat pula
diperoleh dari sumur pompa atau sumur galian asal memenuhi syarat kesehatan.
b. Sarana Pembuangan Tinja/Urinoir dan Kamar Mandi Umum
Yang dimaksud dengan kakus umum adalah kakus yang diperuntukkan
bagi umum dan jumlahnya lebih banyak dan bentuknya lebih besar, disesuaikan
dengan kapasitas daya tampung.
Urinoir adalah suatu bangunan yang khusus sebagai tempat kencing untuk
pria. Diterminal, WC umum penting perannya guna melayani para pengunjung
yang ingin membuang kotoran,tetapi apabila fasilitas ini tidak memenuhi syarat
kesehatan akan mudah menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit
menular.Disamping bahaya pencemaran penyakit, WC yang tidak memenuhi
syarat kesehatan juga dapat menimbulkan bahaya kecelakaan, misalnya
tergelincir. Agar bahaya kesehatan itu dapat dihindari, maka yang penting
diperhatikan mengenai WCumum diterminal adalah:
1 WC harus memakai leher angsa.
WC umum di terminal perlu memakai leher angsa karena dengan
menggunakan leher angsa tersebut, maka bau tidak bisa keluar karena ditahan
oleh air yang tetap ada disitu. Maka, tidak akan mengundang kedatangan lalat
dan binatang lainnya.
2 Tersedia air bersih yang cukup.
Uihkan kotoran harus tersedia air pembersih yang cukup. Bila air
pembersih tidak cukup maka kotoran tidak akan tergelontor
sehingga WC akan bau, hal ini mengundang kedatangan lalat dan binatang
lain yang kemudian binatang tersebut dapat menghinggapi kotoran. Keadaan
ini akan menimbulkanpenyakit seperti kolera, tyhus perut dan sebagainnya.
Penyakit ini dapat dipindahkan lalat keorang lain melalui makanan atau
minuman serta alat-alat yang dihinggapi.
3 Tersedia tempat cuci tangan dan sabun.
Adanya perlengkapan ini dimaksudkan untuk mencuci dan
membersihkan tangan bagi orang-orang yang baru selesai
menggunakan WC. Hal ini penting terutama bagi para penjaja makanan
untuk umum. Dengan demikian tanganmereka tidak mencemari makanan.
Makanan yang tercemar akan berbahaya bagi masyarakat konsumen
makanan tersebut.
4 Tersedia tempat khusus untuk memelihara dan merawatnya.
Untuk menjaga kebesihan WC tersebut maka perlu ada petugas
khusus untuk menjaga kebersihannya. Ini dimaksudkan agar WC umum itu
tetap terpelihara kebersihannya dan tidak menjadi licin atau mampet. Bila
lantainya licin akan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan karena
tergelincir. Apabila lubang WC mampet, maka fasilitas tersebut tidak akan
berfungsi lagi.
5 Ada pemisah antara WC wanita dan WC pria.
Pemisah ini perlu, karena bila tidak ada pemisah akankurang baik dari
segi tatasusila/kesopanan.
6 Jumlah WC disesuaikan dengan jumlah pengunjung.
Untuk tempat umum, pembangunan WC umum perlu disesuaikan
dengan jumlah pengunjung yang datang. Jumlah wc yang ideal tempat umum
adalah 1 WC untuk 40 pengunjung wanita dan satu WC urinoir untuk 60
pria.
Untuk sebuah terminal, syarat tentang WC umum yang harus dipenuhi
menurut Direktorat Higiene SanitasiDepartemenKesehatan yaitu:
 Jamban memakai leher angsa.
 Jumlah jamban minimal 2 buah, 1 buah untuk pria dan 1 buah lagi untuk
wanita.
 Urinoir bersih.
 Jumlah urinoir minimal 1 buah untuk setiap 25 pengunjung pria rata-
rata/hari.
 Pencahanyaan jamban dan urinoir dianjurkan minimal 1 footcandles.
 Terlindung dari pandangan orang lain.

c. Pembuangan Air Kotor


Air kotor dalam terminal umumnya berasal dari air hujan dan air warung-
warung, rumah makan, air kakus/urinoir. Agar terminal tidak becek maka
sebaiknya diberi saluran air disekeliling bangunan. Beberapa hal yang bersifat
umum pada saluran kotor diterminal yang perlu diperhatikan.
 Jangan menimbulakan genangan air terutama untuk air hujan dihalaman.
 Saluran air pembuangan kotor harus diusahakan sedemikian
rupa sehingga air kotor dapat mengalir dengan baik dan lancar.
 Saluran-saluran air kotor harus tertutup dan rapat dariserangga dan tikus.
 Disamping ruji-ruji atau gawang-gawang pada pangkal dan ujung saluran
untuk mencegah masuknya kotoran dan sampah dari halaman, kamar
mandi yang dapat berupa daun-daun dan kertas, plastik dan lain-lain
sehingga dapat menyebabkan tersumbatnya saluran tersebut.
d. Sarana Pembuangan Sampah
Sampah diterminal umunya berasal dari warung-warung, rumah makan
atau kios-kios, penjual keliling, penumpang dan para karyawan. Untuk
menghindari pengotoran oleh sampah sebaiknya disediakan tong-tong atau bak
sampah untuk penyimpanan sementara yang dibuat dari bahan tahan karat dan
memenuhi syarat sebagai tempat sampah yang saniter, dengan jumlah yang
disesuaikan dengan kebutuhan. Penempatannya hendaknya didekat sumber
sampah. Dan sebaiknya juga harus ada tempat pengumpulan sementara untuk
menampung sampah yang belum terangkut dalam sehari. Kebersihan terminal
hendaknya diperhatikan dengan menyapu dua sampai tiga kali sehari.
Pembuangan sampah diterminal yang baik hendaknya dipenuhi dengan
memperhatikan tiga segi yaitu:
1 Segi Estetika
Cara pembuangan sampah harus dapat mengurangi dan
menghilangkan pemandangan yang tidak enak serta bau-bauan yang tidak
sedap.
2 Segi Ekonomi
Pembuangan sampah harus mengurangi kerusakan yang
mengakibatkan perlunya tambahan pengeluaran/biaya untuk perbaikan
dan pengeluaran yang lain sehubungan dengan akibat tidak baiknya
pembuangan sampah (misalnya kerusakan jaringan pipa air, karyawan
yang sakit).
3 Segi Hygiene dan Sanitasi
Pembuangan sampah harus dapat dicegah terjadinya
perkembangbiakan serangga dan tikus di terminal, serta tidak mengotori
persediaan air minum.
Cara pembuangan sampah selanjutnya diterminal ada 3 tahap/fase pembuangan
sampah yaitu:
 Tempat Sampah/Penampungan Sampah
Jenis sampah yang berasal dari terminal dapat dibedakan menjadi dua
jenis sampah yaitu sampah kering dan sampah basah. Oleh karena itu tempat
penampungannya harus disesuaikan dengan jenis sampah tersebut. Untuk
sampah kering bisa dari papan biasa, sedangkan dari logam yang tidak mudah
berkarat untuk tempat penampungan sampah basah. Selain itu syarat-syarat
untuk tempat sampah ini adalah sebagai berikut:
 Mempunyai konstruksi yang kuat.
 Mudah dibersihkan, pengisian dan pengosongan sampah.
 Untuk haliniperlu dihilangkan adanya sudut lancip.
 Tidak menyulitkan dalam pengangkutan selanjutnya.
 Mempunyai tutup, murah dan tidak sulit untuk mendapatkannya.
 Pengumpulan Sampah
Tempat sampah ini biasanya diletakkan dibagian-bagian tertentu
yang sesuai dengan keadaannya. Hal tersebut berguna untuk menampung
sementara sampah yang berasal dari tempat penyimpanan sampah sementara
yang untuk selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan sampah yang telah
disediakan oleh pemerintah.
Untuk pembuangan sampah di terminal bus, yang penting
diperhatikan adalah disamping tempat sampah yang perlu memenuhi syarat,
juga diperhatikan agar tempat sampah itu tersedia dalam jumlah yang cukup
untuk menampung volume sampah yang ada. Penempatannya juga harus
sedemikian rupa, sehingga memudahkan bagi orang untuk menggunakannya
dan mudah juga bagi petugas sampah mengangkutnya.
 Pembuangan Sampah ke Tempat Akhir
Dalam tahap ini fasilitas yang digunakan oleh pemerintah dengan
menggunakan kendaraan pengangkutan sampah (truk) yang
pengangkutannya dilakukan 1-2 hari sekali dimana sampah tersebut
selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan sampah resmi yang telah
ditentukan oleh dinas kebersihan.
e. Fasilitas Lainnya
 Tempat cuci tangan.
Harus tersedia tempat cuci tangan yang baik minimal 1 buah yang
dilengkapi dengan sabun dan serbet kain.
 Telepon umum.
Telepon umum dalam terminal perlu sekali untuk pengunjung dan
sewaktu-waktu digunakan dalam keadaan bahaya misalnya kebakaran.
Penempatannya sebaiknya di dekat ruang tunggu.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Lokasi Praktikum


Tanggal : 24 April 2018
Lokasi : Terminal Larangan (Jl. Soenandar Priyo Soedarmo,Sidoarjo)

3.2 Alat dan Bahan


 Alat Tulis
 Instrumen Penilaian Sanitasi Lingkungan Terminal

3.3 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan Laporan Penilaian Sanitasi
Lingkungan Terminal Larangan Sidoarjo adalah sebagai berikut :
a. Observasi
Pengamatan dilakukan secara langsung di lokasi Terminal Larangan Sidoarjo untuk
dapat lebih memahami kondisi Bangunan lingkungan dan Fasilitas yang ada di
Terminal Larangan Sidoarjo.
b. Wawancara
Melakukan tanya jawab secara langsung kepada pengelola Terminal mengenai item-
item yang diperiksa.
3.4 Prosedur Kerja
1. Menentukan lokasi Terminal yang dituju.
2. Membuat instrumen Penilaian Sanitasi Lingkungan Terminal.
3. Menuju ke lokasi Terminal.
4. Melakukan Observasi, wawancara dan mengisi instrumen sesuai dengan data yang
didapat.
5. Kembali kekampus untuk melakukan perhitungan skoryang didapat dan dibuat laporan.

3.5 Petunjuk Pengisian Instrumen


 Pengisian Identitas Instrumen yang meliputi
Nama Terminal :
Alamat :
Tanggal Pemeriksaan :
Petugas Pemeriksaan :

 Pemberian Nilai
1. Apabila kondisi tidak sesui sebagaimana tercantum pada komponen penilaian,
maka diberikan nilai 0. Bila sesuai bagaimana tercantum pada komponen
penilaian maka diberikan nilai sebesar angka pada kolom nilai untuk setiap
komponen penilaian.
2. Tiap bagian komponen penilaian, memiliki nilai antara 0-100.
3. Perhitungan :
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
a. Persentase skor = x100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

b. Skor = nilai yang didapat per-item x bobot

4. Kategori persentase skor


< 33,33% = kurang
33,33% - 66,66% = cukup
>66,67% = baik
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Aboejoewono, A. 1985. Pengelolaan Sampah Menuju ke Sanitasi Lingkungan dan
Permasalahannya; Wilayah DKI Jakarta Sebagai Suatu Kasus. Jakarta.

Candra Dermawan, 2006, Artikel Iptek - Bidang Teknologi Transportasi ITS: Sarana
Transportasi Lalu Lintas Darat Masa Depan. Pengantar Kesehatan Lingkungan,
Diterbitkan oleh EGC

Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Medan: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hilal, Nur.2008. Penyehatan Tanah dan Pengelolaan Ssampah Padat. JKL Purwokerto.

Kusnoputranto, H. 1986. Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Departemen P&K, UI

Maria, Fibriana. 2012. Analisis Sanitasi Lingkungan Terminal Kendaraan Bermotor Di Kota
Medan Tahun 2012. Sumatera Utara: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara
Mukono, H.J. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga University
Press
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 Tentang Angkutan Jalan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana Dan Lalu
Lintas Jalan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan.

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 Tentang Terminal Transportasi Jalan.

Suparlan. 1988. Pedoman Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum. Surabaya: Merdeka


print
Undang – undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan