Vous êtes sur la page 1sur 10

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)


http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN UDARA DI TERMINAL KOTA


SEMARANG

Dhita Ayu Fauziah, Mursid Rahardjo, Nikie Astorina Yunita Dewanti


Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro
Email: dhitafz@gmail.com

Abstract: Transport is a major source of air pollution. PM10 is a pollutant which is


a health predictor and can cause vital pulmonary damage. Terminal is one of the
high locations of air pollution due to the activity of motor vehicles. This study aims
to measure the level of air pollution and the relationship between inhaled dust
levels and vital capacity of lung at Semarang City Terminal. The type of research
is observational analytic research with cross sectional approach. The population
in this study is the air in Semarang City Terminal and 76 traders. The sample of
this research is PM10 at 1 point on the three terminals with the number of
respondents as many as 30 traders using purposive random sampling. The
results of laboratory PM10 ambient air in Semarang City terminal is in the range
38.39 - 99.35 µg/m3 and the inhaled dust levels of traders are in the range 0.83 -
3.33 mg/m3. Measuring the pulmonary vital instrument of traders shows the
normal results of 13 traders and 17 traders are not normal. The results of the
research with Chi Square test showed that the association of inhaled dust content
with vital capacity of lung (p = 0,024) and the presence of inhaled dust levels
exceeding NAB (3 mg / m3) was an abnormal lung vital capacity risk factor (RP =
2.18) . The air quality in Semarang City Terminal is in good and medium category
and there is correlation of inhaled dust level with vital capacity of lung at
permanent traders at Semarang City Terminal.

Keywords : Air Pollution, PM10, Vital capacity of lung, Terminal, Semarang


City

PENDAHULUAN yang berbeda-beda setiap harinya,


Terminal adalah tempat aktivitas transportasi yang tinggi
umum yang memiliki risiko terjadi akan menyebabkan tingginya tingkat
pencemaran udara diakibatkan pencemaran udara yang terjadi.
karena adanya aktivitas kendaraan Pencemaran udara dapat
bermotor yang menghasilkan memberikan dampak terhadap
buangan emisi. Pemantauan kualitas kesehatan manusia, hewan,
udara terminal memiliki peran yang tanaman maupun berdampak
sangat penting dalam menentukan terhadap material. Dampak negatif
tercemar atau tidaknya udara pada dari operasional transportasi di
lokasi terminal dengan terminal adalah penurunan kualitas
membandingkan hasil pengukuran udara ambien di lingkungan terminal
ke dalam Indeks Standar oleh debu maupun gas pencemar.
Pencemaran Udara (ISPU). Selain itu, di Terminal Kota
Terminal Kota Semarang Semarang juga terdapat pedagang
melayani kendaraan dengan jumlah yang terpapar emisi dari kendaraan
di terminal setiap harinya.
561
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Sektor transportasi memiliki responden yang berada di 15


peran yang penting dalam terminal Jawa tengah terdapat 65%
pencemaran udara dan merupakan yang mengalami gangguan fungsi
sumber pencemaran udara utama. paru dan 35% tidak mengalami
Partikel debu (PM10) adalah salah gangguan fungsi paru.(5)
satu polutan yang menyebabkan Pengukuran dan analisis
polusi. PM10 merupakan prediktor tingkat pencemaran udara dilakukan
kesehatan, dimana naik dan untuk mengetahui konsentrasi zat
turunnya PM10 berasosiasi dengan pencemar di udara dan tingkat
kadar zat-zat pencemaran lainnya kualitas udara ambien pada lokasi
ketika sama-sama berada di dalam dan waktu tertentu yang didasarkan
udara. Uji toksikologi menunjukkan kepada dampak terhadap kesehatan
bahwa PM10 yang terhisap langsung manusia, nilai estetika dan makhluk
ke dalam paru-paru dan mengendap hidup lainnya. Sebelumnya belum
di alveoli dapat membahayakan pernah diadakan pemeriksaan rutin
sistem pernafasan.(1) Sumber utama dan pemantauan kualitas udara di
dari emisi PM10 adalah dari terminal Kota Semarang, sehingga
kendaraan diesel dengan bahan tidak diketahui kondisi udara di
bakar solar. terminal tersebut. Tujuan dari
Pada tahun 2010, sekitar 3,3 penelitian ini adalah untuk
juta orang di seluruh dunia menganalisis tingkat pencemaran
meninggal hanya dikarenakan udara dan hubungan kadar debu
menghirup debu-debu kecil yang terhirup dengan kapasitas vital paru
beterbangan di udara dan pedagang tetap di Terminal Kota
diperkirakan akan berlipat ganda Semarang
pada tahun 2050.(2) Debu yang
masuk alveoli dapat menyebabkan METODE PENELITIAN
pengerasan pada jaringan (fibrosis)
dan apabila 10% alveoli mengeras Metode penelitian yang
akan mengakibatkan berkurangnya digunakan adalah analitik
elastisitas alveoli dalam menampung observasional dengan desain
udara. Fibrosis yang terjadi dapat penelitian cross sectional. Penelitian
menurunkan kapasitas vital paru..(3) dilakukan di tiga terminal Kota
Kapasitas vital paru yang tidak Semarang yaitu Terminal Mangkang,
maksimal dapat diakibatkan karena Terminal Penggaron dan Terminal
faktor dari luar tubuh atau ekstrinsik Terboyo. Variabel bebas dalam
meliputi lingkungan kerja fisik dan penelitian ini adalah kadar debu
faktor dari dalam tubuh penderita itu terhirup dengan variabe
sendiri atau instrinsik.(4) pendahulunya adalah volume lalu
Hasil penelitian yang lintas dan konsentrasi PM10.
dilakukan oleh Soedjono tahun 2003 Sedangkan variabel terikatnya
menunjukkan bahwa konsentrasi adalah kapasitas vital paru.
rata-rata PM10 di Terminal Jawa Populasi objek dalam
Tengah yaitu sebesar 409,1 µg/Nm3 penelitian ini adalah udara pada
dan Terminal Semarang merupakan lingkungan terminal di Kota
salah satu terminal yang konsentrasi Semarang dan populasi subjeknya
debunya di atas baku mutu. adalah pedagang tetap di 3 terminal
Sedangkan pengukuran terhadap Kota Semarang sebanyak 76
fungsi paru pedagang terminal pedagang. Pengambilan sampel
diperoleh hasil bahwa dari 309 objek dilakukan dengan
menggunakan Proportionate
562
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Stratified Random Sampling, HASIL DAN PEMBAHASAN


sehingga sampel objek yang Gambaran Umum Lokasi
digunakan yaitu konsentrasi PM10 di Penelitian
1 titik pada tiga terminal yaitu
Terminal Mangkang, Terminal Penelitian dilakukan di tiga
Penggaron dan Terminal Terboyo. terminal Kota Semarang yaitu
Penentuan titik dilakukan dengan Terminal Mangkang, Penggaron dan
memilih zona terpadat lalu lintas dan Terboyo. Terminal Mangkang adalah
dimana terdapat banyak pedagang. terminal tipe A yang melayani
Sampel subjek penelitian ini adalah kendaraan umum untuk angkutan
menggunakan minimal sampel yaitu antar kota dan antar provinsi atau
30 pedagang tetap dan angkutan lalu lintas batas negara,
menggunakan metode purposive angkutan kota dan angkutan
random sampling. Setiap terminal pedesaan. Terminal Penggaron
diwakilkan oleh 10 pedagang tetap. adalah terminal tipe B yang melayani
Kriteria inklusi responden adalah kendaraan umum untuk angkutan
bersedia menjadi responden dan antar kota dalam provinsi, angkutan
kriteria eksklusi adalah memiliki kota dan angkutan pedesaan.
riwayat penyakit paru. Sedangkan terminal Teboyo adalah
Pengukuran volume lalu terminal tipe C yang berada di jalan
lintas dilakukan menggunakan hand Terminal Terboyo, Genuk, Kota
tally counter pada saat jam sibuk Semarang. Terminal Terboyo
selama 1 jam. Pengukuran merupakan terminal penumpang
konsentrasi PM10 udara ambien yang berfungsi melayani kendaraan
menggunakan High Volume Air umum untuk angkutan pedesaan.
Sampler (HVAS) selama 1 jam, serta
kadar debu terhirup dilakukan Karakteristik Responden
menggunakan Personal Dust Responden pada penelitian
Sampler (PDS) selama 1 jam. ini adalah pedagang tetap di
Sedangkan pengukuran kapasitas terminal, mayoritas pedagang
vital paru pedagang menggunakan memiliki usia ≥ 30 tahun sebanyak
spirometer. Data diolah berdasarkan 96,7% dengan rata-rata usia 29,40
4 tahap, yaitu: editing, coding, entry dan standar deviasi 9,565. Mayoritas
data, dan tabulating. Analisis pedagang berjenis kelamin laki-laki
univariat dengan menggunakan (66,7%), memiliki status gizi lebih
tabel distribusi frekuensi untuk (80%). Sebagian besar pedagang
mendiskripsikan karakteristik memiliki masa kerja ≥10 tahun
responden, volume lalu lintas, (66,7%) dengan rerata 15,77 tahun ±
konsentrasi PM10, kadar debu SD 8,516 dan terpapar debu selama
terhirup dan kapasitas vital paru. >8 jam/hari (90%). Mayoritas
Data diuji kenormalannya pedagang tidak memiliki kebiasaan
menggunakan uji normalitas shapiro- merokok (70%) dan tidak memakai
wilk untuk jumlah sampel kurang dari APD selama melakukan aktivitas
sama dengan 50. Analisis bivariat kerjanya (100%) di terminal.
menggunakan uji Chi Square
dengan tingkat ketelitian 0,05 untuk Volume Lalu Lintas
mengetahui hubungan antara kadar Volume lalu lintas di Terminal
debu terhirup dengan kapasitas vital Mangkang sebanyak 64 kend/jam,
paru pada pedagang tetap di Terminal Terboyo sebanyak 90
terminal Kota Semarang. kend/jam dan Terminal Penggaron

563
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

sebanyak 14 kend/jam. Jumlah kota dan BRT (Bus Rapid Transit)


kendaraan terbanyak yaitu di Trans Semarang.(6)
Terminal Terboyo dan paling sedikit Tingginya volume lalu lintas
di Terminal Penggaron. di Terminal Mangkang, Terminal
Terminal Mangkang Penggaron dan Terminal Terboyo
merupakan terminal tipe A yang yaitu pada waktu pagi hari dan sore
seharusnya melayani bus AKDP hari, hal ini sesuai dengan penelitian
(antarkota dalam provinsi), AKAP yang dilakukan Zakaria tahun 2013
(antarkota antarprovinsi), angkutan yang menunjukkan bahwa intensitas
perkotaan dan angkutan pedesaan. kendaraan bermotor yang melintas
Namun pada kenyataannya hanya di Terminal Joyoboyo baik mobil
sebagian bus AKDP dan AKAP yang pribadi maupun angkutan umum
masuk ke Terminal Mangkang, pada pagi hari dan sore hari jumlah
sehingga kondisi Terminal kendaraan yang melintas sangat
Mangkang tidak seramai Terminal padat sekali dibandingkan pada
Terboyo. Hal ini diakibatkan karena siang hari.(7)
Terminal di Kota Semarang masih
dalam masa transisi.(6) Konsentrasi PM10 Udara Ambien
Pada penelitian yang Hasil pengukuran yang dilakukan
dilakukan di Terminal Penggaron menunjukkan bahwa konsentrasi
terdapat kendaraan sebanyak 14 PM10 di Terminal Mangkang sebesar
kendaraan/jam, hal ini diakibatkan 64,27 µg/m3, Terminal Penggaron
karena sebagian kendaraan (bus) sebesar 38,39 µg/m3 dan Terminal
memilih untuk menaikkan dan Terboyo sebesar 99,35 µg/m3.
menurunkan penumpang dipinggir Berdasarkan Surat Keputusan
jalan dan hanya bus BRT (Bus Gubernur Jawa Tengah Nomor 8
Rapid Transit) Trans Semarang Tahun 2001 tentang Baku Mutu
yang masuk ke lokasi Terminal Udara Ambien Provinsi Jawa
Penggaron. Tengah menyatakan bahwa baku
Penelitian di Terminal mutu udara ambien untuk PM10
Terboyo menunjukkan bahwa adalah sebesar 150 µg/m3. Hasil
volume kendaraan sebanyak 90 penelitian yang dilakukan
kendaraan/jam. Hal ini dikarenakan menunjukkan bahwa konsentrasi
Terminal Terboyo sedang berada PM10 di tiga terminal masih
pada masa transisi dari terminal tipe memenuhi syarat baku mutu yang
A ke tipe C dan terminal angkutan ditetapkan. Meskipun demikian
barang, sehingga masih banyak konsentrasi PM10 harus dilakukan
kendaraan yang berada di Terminal pemantauan, karena semakin
Terboyo. Hingga saat ini, Terminal meningkatnya jumlah kendaraan
Terboyo melayani bus AKDP atau bus yang berada di terminal
(antarkota dalam provinsi), AKAP akan meningkatkan konsentrasi
(antarkota antar provinsi), angkutan PM10 di udara.

564
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Tabel 1. Konsentrasi PM10 Udara Ambien di Terminal Kota Semarang Tahun


2017
Lokasi Konsentrasi PM10 Suhu Awal Suhu Akhir Kelembaban
(µg/m3) (°C) (°C) (%RH)
Terminal Mangkang 64,27 31,7 37,1 65,2
Terminal Penggaron 38,39 33,3 35,9 50,9
Terminal Terboyo 99,35 35,4 45,8 49,6
Rata-Rata 67,34 33,47 39,6 55,23

Suhu dan kelembaban juga dipengaruhi oleh sumber


merupakan salah satu parameter pencemaran. Sehingga meskipun
yang membedakan konsentrasi debu kelembaban di Terminal Mangkang
di tiga terminal Kota Semarang. lebih tinggi dibandingkan di Terminal
Pada penelitian ini menunjukkan Penggaron namun konsentrasi
bahwa terminal yang memiliki suhu debunya lebih tinggi di Terminal
tertinggi adalah Terminal Terboyo Penggaron. Hal ini dapat diakibatkan
sebesar 45,8°C dan suhu terendah karena sumber pencemaran udara di
adalah Terminal Penggaron sebesar Terminal Penggaron lebih sedikit
35,9°C. Keadaan suhu yang tinggi dibandingkan sumber pencemaran
menyebabkan kadar debu di di Terminal Mangkang.(8)
terminal tinggi. Suhu yang tinggi juga Hal ini didukung oleh
akan menyebabkan kondisi penelitian yang dilakukan Aisyiah
permukaan tanah menjadi kering, pada tahun 2014 menunjukkan
sehingga konsentrasi debu akan bahwa nilai estimasi parameter suhu
lebih tinggi. Selain itu, tingkatan dan kecepatan angin yang bernilai
suhu yang tinggi menyebabkan positif menyimpulkan bahwa
keadaan kelembaban menjadi semakin tinggi suhu udara atau
berkurang. semakin panas kondisi udara dan
Hasil pengukuran terhadap angin yang berhembus lebih cepat
kelembaban menunjukkan bahwa akan menyebabkan penyebaran
terminal dengan kelembaban partikel debu di udara juga semakin
tertinggi adalah Terminal Mangkang tinggi.(9)
dengan kelembaban sebesar 65,2%, Penelitian ini menunjukkan
sedangkan terminal dengan bahwa semakin banyaknya volume
kelembaban terendah adalah lalu lintas yang ada di terminal maka
Terminal Terboyo dengan konsentrasi PM10 di udara ambien
kelembaban sebesar 49,6%. juga semakin meningkat. Pada
Semakin tinggi kelembaban maka proses pembakaran bahan bakar
semakin besar pula potensi debu dapat menyebabkan timbulnya gas
untuk mengalami penggumpalan buang dari kendaraan, dimana
sehingga memungkinkan terjadinya kendaraan dengan bahan bakar
pengendapan dan akan turun ke solar akan menghasilkan emisi lebih
tanah dengan pengaruh gravitasi. tinggi dibandingkan kendaraan
Terminal Terboyo merupakan berbahan bakar bensin.
terminal yang memiliki suhu paling Berdasarkan Peraturan Menteri
tinggi dibanding yang lainnya, Lingkungan Hidup nomor 5 tahun
kelembabannya paling rendah dan 2006 tentang Ambang Batas Emisi
konsentrasi debu PM10 paling tinggi. Gas Buang Kendaraan Bermotor
Namun selain dipengaruhi oleh suhu Lama, uji emisi kendaraan bermotor
dan kelembaban, konsentrasi debu adalah uji emisi gas buang yang
565
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

wajib dilakukan untuk kendaraan yaitu berupa penurunan kapasitas


bermotor secara berkala. vital paru pada pedagang tetap di
Pelaksanaan uji emisi di suatu Terminal Kota Semarang.
daerah dievaluasi oleh Bupati atau Pada terminal Kota Semarang
Walikota minimal 6 bulan. Uji emisi belum dilakukan upaya pemantauan
telah dilaksanakan secara rutin di kualitas udara secara rutin, sehingga
terminal, namun kendala yang terjadi tingkat kualitas udara tidak diketahui
adalah tidak semua kendaraan dengan pasti. Tingkat kualitas udara
menjalani uji emisi. perlu dipantau secara rutin karena
pencemaran udara dari kendaraan
Tingkat Kualitas Udara di bermotor akan menyebabkan
Terminal Kota Semarang peningkatan biaya di masa
Tabel 2. Hasil Pengukuran mendatang dalam bentuk
Konsentrasi PM10 di pembiayaan kesehatan. Sehingga
Terminal Kota Semarang perlu adanya upaya pengendalian
Lokasi PM10 Nilai Kategori pencemaran udara yang serius.
3
(µg/m ) ISPU
Kadar Debu Terhirup
per 24
Jam Tabel 3. Kadar Debu Terhirup
Mangkang 64,27 57,135 Sedang Responden Penelitian di
(51-100) Terminal Kota Semarang
Penggaron 38,39 38,39 Baik Tahun 2017
(0-50) Lokasi Rata-Rata Debu
Terboyo 99,35 74,675 Sedang Terhirup (µg/m3)
(51-100) Terminal 1,580
Mangkang
Tabel 2 diatas menunjukkan Terminal 0,997
bahwa tingkat kualitas udara pada Penggaron
Terminal Mangkang dan Terminal Terminal Terboyo 2,416
Terboyo masih dalam kategori Rata-Rata 1,664
sedang yaitu berada pada rentang
51-100. Sedangkan di Terminal Tabel 3 menunjukkan bahwa
Penggaron tingkat kualitas udara rata-rata kadar debu terhirup
masih dalam kategori baik yaitu responden adalah 1,664 µg/m3.
pada rentang 0-50. Berdasarkan Peraturan Menteri
Tingkat kualitas udara di Tenaga Kerja dan Transmigrasi
terminal Kota Semarang masih Nomor PER.13/MEN/X/2011 tahun
dalam kategori baik dan sedang, hal 2011 tentang Nilai Ambang Batas
ini dipengaruhi oleh volume lalu Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
lintas yang tidak terlalu padat. Udara Lingkungan Kerja yaitu
Apabila volume kendaraan tinggi sebesar 3 mg/m3. Rata-rata kadar
maka hal itu akan berpengaruh pada debu terhirup responden tertinggi di
tingkat pencemaran udara. Volume Terminal Terboyo dan terendah di
lalu lintas juga dapat meningkatkan Terminal Penggaron.(10)
kadar partikulat debu yang berasal
dari permukaan jalan, komponen Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kadar
ban dan rem. Meskipun memiliki Debu Terhirup Responden
kategori sedang, namun di kedua Penelitian di Terminal Kota
terminal ini sudah ditemukan adanya Semarang Tahun 2017
gangguan kesehatan pada manusia

566
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Kadar Debu Frekuensi Presentase Kapasitas Vital Paru


Terhirup (%) Tabel 5 Distribusi Frekuensi
Di atas NAB 6 20 Kapasitas Vital Paru
Di bawah NAB 24 80 Pedagang Penelitian di
Total 30 100 Terminal Kota Semarang
Tahun 2017
Tabel 4 menunjukkan bahwa Kapasitas Frekuensi Presentase (%)
mayoritas kadar debu terhirup Vital Paru
responden sebanyak 80% (24 Tidak
responden) di bawah Nilai Ambang 17 56,7
Normal
Batas (NAB) yaitu sebesar 3 mg/m3. Normal 13 43,3
Sedangkan kadar debu terhirup Total 30 100
responden yang di atas Nilai
Ambang Batas yaitu sebanyak 20% Tabel 5 menunjukkan bahwa
(6 responden). mayoritas pedagang sebanyak
Pedagang yang memiliki 56,7% (17 pedagang) memiliki
kadar debu terhirup di atas Nilai kapasitas vital paru normal.
Ambang Batas merupakan Sedangkan pedagang yang
pedagang yang berada dekat mengalami gangguan atau tidak
dengan sumber pencemaran udara normal yaitu sebanyak 43,3% (13
yaitu bus.(11) Beberapa pedagang pedagang). Sebagian besar
pada saat penelitian berada dekat pedagang yang kapasitas vital
dengan bus yang merupakan parunya tidak normal itu mengalami
sumber pencemar, hal ini dapat restriksi ringan sebanyak 40% (12
mempengaruhi kadar debu terhirup pedagang). Pedagang yang
pedagang lebih besar. Selain itu, mengalami retriksi sedang sebanyak
pengukuran debu dengan PDS pada 3,3%, retriksi berat sebanyak 3,3%
penelitian ini dilaksanakan selama 1 dan mix obstruksi retriksi sebanyak
jam pada setiap pedagang. 10,0%.
Sehingga waktu pengukuran debu Pengukuran kapasitas vital
hirup antara 1 pedagang dengan paru dapat dipengaruhi oleh umur,
pedagang lainnya tidak sama, jenis kelamin, kondisi kesehatan,
sebagian pedagang diukur pada riwayat penyakit dan perkerjaan,
saat volume lalu lintas tinggi (waktu kebiasaan merokok dan olahraga
pagi hari) dan sebagian lagi diukur serta status gizi. Selain itu, kondisi
pada saat volume lalu lintas lengang lingkungan seperti kadar debu yang
(waktu siang hari). terhirup oleh pedagang juga turut
Volume kendaraan mempengaruhi kapasitas vital paru
merupakan salah satu faktor yang pedagang.(12) Gangguan pernafasan
mempengaruhi kadar debu di udara. karena debu dipengaruhi oleh
Penelitian yang dilakukan oleh Smith beberapa faktor yakni faktor debu itu
tahun 1976 menyatakan bahwa sendiri meliputi ukuran partikel,
kandungan partikel di jalan sangat bentuk, daya larut, konsentrasi, sifat
bergantung pada jarak dari sumber, kimiawi, lama pajanan dan faktor
kepadatan lalu lintas serta jenis individu berupa mekanisme
pohon dan kerapatannya. pertahanan tubuh.(13)

567
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Tabel 6 Hubungan Kadar Debu Terhirup dengan Kapasitas Vital Paru Pedagang
Penelitian di Terminal Kota Semarang Tahun 2017
Kapasitas Vital Paru
Kadar Debu Total
Tidak Normal Normal PR p value
Terhirup
f % F % F %
Di atas NAB 6 100,0 0 0,0 6 100,0
2,182 0,024
Di bawah NAB 11 45,8 13 54,2 24 100,0

Hubungan Kadar Debu Terhirup terhadap kapasitas vital paru.


dengan Kapasitas Vital Paru Semakin lama seseorang bekerja
Tabel 6 menunjukkan bahwa maka semakin banyak dia akan
ada sebanyak 6 (100,0%) pedagang terpapar bahaya yang ditimbulkan
dengan kadar debu terhirup di atas dari lingkungan kerja. Semakin lama
NAB memiliki kapasitas vital paru paparan berlangsung maka jumlah
tidak normal. Sedangkan diantara partikel yang mengendap di paru
pedagang dengan kadar debu akan semakin banyak. Lama
terhirup di bawah NAB, ada 11 paparan mempunyai pengaruh besar
(45,8%) yang memiliki kapasitas vital terhadap kejadian gangguan fungsi
paru tidak normal. Hasil uji Chi- paru.(15)
square diperoleh nilai p=0,024 maka Hal ini sesuai dengan
dapat disimpulkan bahwa ada penelitian yang dilakukan oleh
hubungan yang signifikan antara Deviandhoko tahun 2012
kadar debu terhirup dengan menyatakan bahwa kadar debu yang
kapasitas vital paru. Selain itu juga rendah tapi lama keterpaparannya
didapatkan nilai PR sebesar 2,182 terjadi dalam waktu yang lama akan
(95% CI 1,412-3,371). Nilai PR>1 menimbulkan efek kumulatif
maka kadar debu terhirup di atas sehingga pada akhirnya pekerja
NAB merupakan faktor risiko dapat mengalami gangguan fungsi
kapasitas vital paru tidak normal. Hal paru.(14)
ini berarti pedagang dengan kadar Penelitian yang dilakukan
debu terhirup di atas NAB memiliki oleh Soejono tahun 2003
risiko 2 kali lebih besar mempunyai menunjukkan bahwa hasil
kapasitas vital paru tidak normal pengukuran fungsi paru pada
dibandingkan pedagang dengan pedagang tetap di terminal dengan
kadar debu terhirup yang di bawah konsentrasi debu yang tinggi
NAB. memiliki peluang 3,27 kali untuk
Hal ini didukung oleh terkena gangguan fungsi paru. Hasil
penelitian yang dilakukan ini selaras dengan penelitian yang
Deviandhoko tahun 2012 dilakukan oleh Deviandhoko tahun
menyatakan bahwa paparan debu 2012 dimana ada hubungan antara
terhirup yang melebihi nilai ambang debu yang terhirup dengan
batas akan meningkatkan risiko gangguan fungsi paru yang diukur
terjadinya gangguan fungsi paru.(14) dengan nilai kapasitas paru dengan
Sedangkan pedagang dengan kadar p value 0,001.(14)
debu terhirup memenuhi syarat, ada Keluhan yang dialami oleh
yang memiliki kapasitas paru tidak pedagang yaitu sesak nafas, batuk
normal. Hal ini disebabkan karena dan nyeri dada. Keluhan yang paling
pedagang rata-rata memiliki masa banyak dirasakan oleh pedagang
kerja 15,8 tahun, dimana masa kerja adalah batuk. Berdasarkan hasil
dan lama kerja dapat berpengaruh wawancara diketahui bahwa

568
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

sebagian besar pedagang tidak terhirup agar tidak berdampak


mengetahui bahaya dan dampak pada manusia adalah sebesar 3
yang ditimbulkan akibat paparan µg/m3.
debu di lingkungan kerja, sehingga 5. Kapasitas Vital Paru pedagang
mereka tidak merasa khawatir tetap terminal Kota Semarang
dengan kondisi lingkungan kerjanya. mayoritas memiliki kapasitas
Pedagang juga menyatakan bahwa paru tidak normal sebanyak
mereka belum pernah melakukan 56,7%. Mayoritas yang memiliki
pemeriksaan kapasitas vital paru, kapasitas vital paru tidak normal
sehingga mereka tidak mengetahui adalah akibat mengalami
kondisi paru-parunya. Upaya gangguan retriksi ringan
pemeriksaan kesehatan rutin juga 6. Volume lalu lintas terbanyak di
perlu dilakukan untuk mendeteksi Terminal Terboyo dan volume
dini penyakit paru terutama untuk lalu lintas paling sedikit di
pekerja yang bekerja di lingkungan Terminal Penggaron
yang memiliki tingkat pencemaran 7. Tingkat kualitas udara Terminal
udara tinggi seperti di terminal. Penggaron memiliki kategori
baik, sedangkan Terminal
KESIMPULAN Mangkang dan Terminal Terboyo
Pada penelitian yang memiliki kategori sedang
dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 8. Ada hubungan antara kadar
1. Karakteristik responden pada debu tehirup dengan kapasitas
penelitian ini adalah sebagian vital paru pedagang tetap
besar pedagang memiliki usia ≥ terminal Kota Semarang dengan
30 tahun sebanyak 96,7%, p value 0,024.
berjenis kelamin laki-laki
(66,7%), memiliki status gizi lebih
(80%), masa kerja ≥10 tahun DAFTAR PUSTAKA
(66,7%) dengan rerata 15,77 1. Kusminingrum N, Gunawan.
tahun ± SD 8,516, terpapar debu Polusi Udara Akibat Aktivitas
selama >8 jam/hari (90%), tidak Kendaraan Bermotor di Jalan
memiliki kebiasaan merokok Perkotaan Pulau Jawa dan Bali.
(70%) dan tidak memakai APD Pus Litbang Jalan dan Jemb
selama melakukan aktivitas [Internet]. 2008;13. Available
kerjanya (100%). from:
2. Rata-rata volume kendaraan http://pu.go.id/uploads/services/i
pada terminal Kota Semarang nfopublik20130926120104.pdf
sebanyak 56 kendaraan/jam 2. Khabibi I. Polusi Udara
3. Konsentrasi PM10 udara ambien Indonesia di Posisi 8 Paling
pada terminal Kota Semarang Mematikan, Ini Kata Menteri Siti
berkisar antara 8,39 µg/m3- [Internet]. 2015 [cited 2017 Feb
99,35 µg/m3. Rata-rata 28]. Available from:
konsentrasi PM10 udara ambien http://news.detik.com/berita/302
adalah 67,34 µg/m3 (< 150 8851/polusi-udara-indonesia-di-
µg/m3) posisi-8-paling-mematikan-ini-
4. Pedagang tetap terminal yang kata-menteri-siti/komentar
kadar debu terhirup diatas nilai 3. Suma’mur. Higiene Perusahaan
ambang batas yaitu sebanyak 6 dan Kesehatan Kerja
pedagang (20% pedagang). Nilai (Hiperkes). Jakarta: Sagung
ambang batas kadar debu Seto; 2009.

569
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

4. Yulaekah S. Paparan Debu F. Surat Edaran Menteri Tenaga


Terhirup dan Gangguan Fungsi Kerja No . SE ‐ 01 / MEN / 1997
Paru pada Pekerja Industri Batu Tentang Nilai Ambang Batas
Kapur (Studi di Desa Mrisi Faktor Kimia Di Udara
Kecamatan Tanggungharjo Lingkungan Kerja. 1997;
Kabupaten Grobogan). 12. Anes NI, Kawatu JMLUPAT,
Universitas Diponegoro; 2007. Kawatu U, Berhubungan F.
5. Soedjono, Setiani O, Faktor-Faktor Yang
Wahyuningsih NE. Pengaruh Berhubungan Dengan
Kualitas Udara (Debu, COx, Gangguan Fungsi Paru Pada
NOx, SOx) Terminal terhadap Pekerja di PT . Tonasa Line
Gangguan Fungsi Paru pada Kota Bitung Factors Associated
Pedagang Tetap Terminal Bus With Impaired Lung Function In
Induk Jawa Tengah. J Kesehat Workers at PT . Tonasa Line
Lingkung Indones. Bitung City unit pengantongan
2003;2(1):27–31. semen Tonasa Kota Bitung ,
6. Peraturan Menteri Perhubungan dimana para peke. JIKMU.
Republik Indonesia Nomor PM 2015;5(3):600–7.
132 Tahun 2015. 2015. 13. Darmawan A. Penyakit Sistem
7. Zakaria N, Azizah R. Analisis Respirasi Akibat Kerja. JMJ.
Pencemaran Udara (SO2), 2013;1(1):68–83.
Keluhan Iritasi Tenggorokan dan 14. Deviandhoko, Wahyuningsih
Keluhan Kesehatan Iritasi Mata NE, Nurjazuli. Faktor-faktor
pada Pedagang Makanan di yang berhubungan dengan
Sekitar Terminal Joyoboyo gangguan fungsi paru pada
Surabaya. Indones J Occup Saf pekerja pengelasan di kota
Heal. 2013;2(1):75–81. Pontianak. J Kesehat Lingkung
8. Nurjazuli, Setiani O, Fikri E. Indones. 2012;11(2):123–9.
Analisis Perbedaan Kapasitas 15. Khumaidah. Analisis Faktor-
Fungsi Paru pada Pedagang Faktor yang Berhubungan
Kaki Lima Berdasarkan Kadar dengan Gangguan Fungsi Paru
Debu Total di Jalan Nasional pada Pekerja Mebel PT Kota
Kota Semarang. J Kesehat Jati Furnindo Desa Suwawal
Masy [Internet]. 2010;6(1):66– Kecamatan Mlonggo Kabupaten
75. Available from: Jepara. Universitas Diponegoro;
http://jurnal.unimus.ac.id 2009.
9. Aisyiah K, Latra IN. Pemodelan
Konsentrasi Partikel Debu (PM
10) pada Pencemaran Udara di
Kota Surabaya dengan Metode
Geographically-Temporally
Weighted Regression. J Sains
dan Seni Pomits. 2014;2(1).
10. Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi. Peraturan Menteri
Tenaga Kerja Dan Transmigrasi
Nomor PER.13/MEN/X/2011.
Peratur Menteri Tenaga Kerja
Dan Transm. 2011;
11. Latif DA, Nilai L, Batas A, Kimia

570