Vous êtes sur la page 1sur 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit meniere dinamakan sesuai nama seorang dokter di perancis, prosper
meniere, yang pada tahun 1861 pertama kali menerangkan mengenai trias gejala
(vertigo tak tertahankan episodik, tinitius, dan kehilangan pendengaran sensorineural
berfluktasi) sebagai penyakit telinga dan bukan merupakan penyakit sentral otak.
(Brunener & Struadth, 2011)
Pada kebanyakan kasus, penyakit meniere hanya mempengaruhi satu telinga saja
namun pada beberapa kasus dapat terjadi pula pada kedua telinga dan dialami oleh 10%
sampai 20% dari pasien yang mengidap penyakit meniere. (Mansjoer, 2011)
Penyakit meniere secara khas dapat terjadi mulai dari usia 20 sampai 50 tahun,
baik pada pria maupun wanita sama pengaruhnya darinpenyakit ini. Namun pada
kelompok usia 40 dan 60 tahun lebih memiliki resiko yang besar untuk terkena penyakit
ini dibandingkan dengan kelompok usia yang lainnya, tetapi pada penyakit ini juga
dapat menyerang berbagai kelompok bahkan menyerang anak-anak. (NICDC, 2010)
Gangguan pendengaran dan ketulian merupakan masalah kesehatan penting di
Indonesia dan perlu mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat, termasuk
organisasi profesi. Sebanyak 360 juta penduduk dunia mengalami ketulian, separuhnya
(180 juta) berada di Asia Tenggara (WHO, 2012).
Indonesia peringkat ke-4 di Asia Tenggara untuk angka ketulian tertinggi setelah
Sri Lanka, Myanmar, dan India. Kementerian Kesehatan RI memiliki rencana strategis
untuk mengatasi masalah tersebut. (Kemenkes, 2017).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi Meniere sisease?
2. Apa etiologi Meniere sisease?
3. Apa manifestasi klinis meniere sisease ?
4. Bagaimana patofisologi Meniere sisease?
5. Bagaimana WOC Meniere sisease?
6. Bagaimana penatalakasanaan pada pasien Meniere sisease?
7. Apa pemeriksaan penunjang Meniere sisease?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Meniere sisease?
2. Untuk mengetahui Meniere sisease?
1
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis meniere sisease ?
4. Untuk mengetahui patofisologi Meniere sisease?
5. Untuk mengetahui WOC Meniere sisease?
6. Untuk mengetahui penatalakasanaan pada pasien Meniere sisease?
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Meniere sisease?

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI

Meniere sisease adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo, tinnitus,
dan berkurangnya pendengaran secara progesif.

Meniere diseaseadalah suatu kelainan lebirin yang etiologinya belum diketahui


dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu gangguan pendengaran, tinnitus dan
serangan vertigo. (Mansjoer.2000)

2.2 ETIOLOGI

Penyebab pasti dari penyakit meningere sampai sekarang belum diketahui secara
pasti banyak ahli yang mempunya pendapat berbeda. Sampai saat ini dianggap
penyebab dari penyakit ini disebabkan karena adanya gangguan dalam fisiologi sistem
endolimfe yang dikenal hidroks endolimfo. Yaitu suatu keadaan dimana jumlah cairan
endolimfe mendadak meningkat sehingga mengakibatkan gilatasi dari skala media.

1. Virus Herpes (HSV)


2. Herediter
3. Alergi
4. Trauma kepala
5. Autoimun

2.3 MENIFESTASI KLINIS


Pada saat serangan biasanya terdapat trias Meniere yaitu vertigo, titanus, dan
gangguan pendengaran
1. Derajat I, gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan
vagal seperti pucat dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo
menyerang, pasien dapat merasakan sensasi di telinga yang berlangsung selama
20 menit hingga beberapa jam. Diantara serangan pasien sama sekali normal.
2. Derajat II, gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi.
Muncul gejala tuli sensori neural terhadap frekuensi rendah.
3. Derajat III, gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progesif
memburuk. Kali ini mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami
tuli total. Vertigo mulai berkurang atau menghilang.

3
2.4 PENATALAKSANAAN
a. Terapi
1. Terapi Medis Profilaksis
 Vasodilator
 Antikolinergikntin
 Penggunaan Hormon Tiroid
 Pemberian Vitamin
 Diet rendah garam dan pemberian diuretic
 Program pantang makanan
2. Terapi Simtomatik
 Sedative
 Antihistamine dan antiemetic
 Depresan vestibuler
 Pembedahan
 Labirinektomi

4
2.1 Pathway

Idiopatik

Virus herpes, herediter, Gangguan fisiologi system


alergi, trauma kepala, endolimfe
auto imun.

Hidroks endolimfe

Meningkatnya Meningkatnya Meningkatnya Jalan keluar sakus


hidrostatik pada osmotic dalam osmotic ruang endolimfatikus
ujung arteri kapiler ekstrakapiler terhambat

Penyerapan endolimfe dalam skala


media oleh stria vaskularis terhambat

Hidrops (pembengkakan endolimfe)

Stress mekanisme Penekanan diujung


koklea Kerusakan sel rambut
saraf vestibuler

Bergerak secara acak


Rupture pelebaran Fungsi vestibuler
dan perubahan berkurang atau terganggu
membrane risher
Potensial listrik tidak
teratur ke nervous Vertigo
Tercampurnya koklealis dan ke korteks
endolimfe & perilimfe temporalis
Merangsang saraf
parasimpatis
Keabnormalan komposisi Tinitus
cairan endolimfe dan
perilimfe Mual dan muntah
MK : Ansietas

Gangguan pendengaran MK : Resiko


ketidakseimbangan
elektrolit
MK : Gangguan
persepsi sensori
MK : Resiko tinggi
cedera

5
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Ilustrasi Kasus :
Pasien datang ke Rumah Sakit pada tanggal 25 maret 2017 pukul 08.00 wib. Pada saat
datang ke RS pasien tampak pucat, tampak gelisah, sulit berkonsentrasi dan mengatakan
mengalami gangguan pendengaran dimana terasa telinga kanannya berdengung keras dan
terasa penuh pada telinga. Pasien juga mengeluh bahwa dia terkadang juga mengalami pusing
berputar-putar yang sangat hebat dan sering terjadi dan akan hilang dengan sendirinya. Pasien
mengatakan nafsu makannya berkurang karena sering merasa mual dan muntah sehari muntah
2x dalam sehari.Pasien mengatakan mengalami gangguan tidur karena merasa binggung
dengan keadaanya. Pasien mengatakan cemas dan gelisah dengan keadaanya. Hasil
pemeriksaan didapatkan hasil : kesadaran composmentis, TTV : TD : 110/80 mmHg, S : 37 c
, RR : 20x / menit, N : 94x / menit. Hb : 10 g / dL. Pada pemeriksaan Weber suara hanya
terdengar pada telinga kiri, auditorium menunjukkan adanya sensorineural hearing loss.

3.1. Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama : Ny. T Nama penanggung jawab: Tn.E
Jenis kelamin : Perempuan jenis kelamin : laki-laki
Usia : 31 tahun usia : 35 tahun
Suku/Bangsa : Jawa suku : jawa
Agama : Islam agama : islam
Pendidikan : SMA pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT pekerjaan : wiraswata
Status perkawinan : Menikah status perkawinan: menikah
Alamat : Jl. Merpati Indah gg. 12 alamat : Jl. Merpati Indah gg. 12
Tgl MRS : 25 maret 2017
Tgl Pengkajian : 26 maret 2017

B. Keluhan utama :
Pasien mengatakan mengalami gangguan pendengaran, telinga kanannya
berdengung keras dan terasa penuh pada telinga.
C. Riwayat Penyakit Sekarang :

6
Pasien datang ke Rumah Sakit pada tanggal 25 maret 2017 pukul 08.00 wib. Pada
saat datang ke RS pasien mengatakan mengalami gangguan pendengaran dimana
terasa telinga kanannya berdengung keras dan terasa penuh pada telinga. Pasien juga
mengeluh bahwa dia terkadang juga mengalami pusing berputar-putar yang sangat
hebat dan sering terjadi dan akan hilang dengan sendirinya. Pasien mengatakan
nafsu makannya berkurang karna sering merasa mual dan muntah sehari muntah 2x
dalam sehari.Pasien mengatakan mengalami gangguan tidur. Pasien mengatakan
cemas dengan keadaanya
D. Riwayat penyakit terdahulu :
Pasien mengatakan sakit sudah dirasakan sejak 2 bulan yang lalu
E. Riwayat penyakit keluarga
Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit seperti yang
dialami sekarang.
F. Pola aktifitas sehari-hari :
 Makan dan minum :
 Sebelum sakit : klien mengatakan klien makan 3x sehari dengan porsi
yang cukup.
 Selama sakit : klien mengatakan tidak memiliki nafsu makan karna
sering mual dan muntah.
 Eliminasi :
Pola dan defekasi : normal
jumlah warna : normal
konsistensi : normal
 Istirahat atau tidur :
 Sebelum sakit : klien mengatakan waktu tidur malam yaitu pukul 21.00 –
04.00 wib 3x sedangkan tidur siang yaitu 13.00-14.00 wib.
 Selama sakit : klien mengatakan sulit tidur karna sering merasakan
pusing.
 Personal hygiene meliputi :
Pola atau frekuensi mandi : 2 kali sehari.
Menggosok gigi : 2 kali sehari.
Keramas : seminggu 2x.
Perawatan mengganti balutan atau duk : sehari 8 kali.
G. Keadaan umum

7
Kesadaran: Composmetis
TD: 110/80mmHg
Suhu: 37°C
Nadi: 94x/menit
RR: 20x/mnt
TB : 156 CM
BB : 43 kg
IMT : 17,7 kg /m2.
Hb : 10 g/ Dl
Ter gliserin
Auditogram
1. Head to toe
a) Kulit dan rambut
- Inspeksi
Jumlah rambut : Rambut Pendek, Lurus dan jarang (seperti rambut
jagung)
Warna rambut : Hitam
Warna kulit : Sawo matang
b) Kepala
- Inspeksi
Bentuk simetris antara kanan dan kiri dan tidak ada trauma
pembengkakan pada kepala
- Palpasi
Tidak ada nyeri tekan.
c) Mata
- Inspeksi
Mata Kanan : penglihatan baik, konjungtiva tidak anemis, sclera
tidak ikterik, simetris
Mata kiri : terdapat benjolan , tampak memerah
- Palpasi
saat ditekan nyeri dengan skala 7.
d) Telinga
- Inspeksi
Bentuk simetris, ada tumpukan serumen
- Palpasi
8
Nyeri tekan
e) Hidung
- Inspeksi
Simetris, tidak ada sekret, tidak ada lesi
- Palpasi
Tidak ada benjolan
f) Mulut
- Inspeksi
Mukosa bibir lembab , tidak ada stomatitis
g) Leher
- Inspeksi
Bentuk leher simetris, tidak terdapat benjolan di leher
- Palpasi
Tidak ada nyeri tekan
h) Sistem Respirasi
- Inspeksi
Bentuk dada normal simetris kiri dan kanan, frekuensi pernafasan
20x/mnt
- Palpasi
Tidak terdapat nyeri tekan
i) Abdomen
- Inspeksi
Permukaan perut datar, warna kulit sawo matang, tidak adanya
luka.
- Palpasi
Bunyi peristaltic usus terdengar 6x/hari
- Perkusi
Bunyi tympani
- Auskultasi
Tidak ada nyeri tekan dan benjolan
j) Paru-paru
- Inspeksi
Pengembangan dada kanan-kiri simetris
- Palpasi
Fremitus kanan sama dengan kiri
9
- Auskultasi
Normal
- Perkusi
- Sonor

3.2. Analisa Data


NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS : Ideopatik Gangguan presepsi
- Pasien mengatakan sensori
menglami gangguan Meningkatnya hidrostatik
pendengaran dengan telinga pada ujung arteri
kanan berdenging keras Meningkatnya osmotic
- Pasien mengatakan bahwa dalam kapiler
telinga kanannya terasa Meningkatnya osmotic
penuh ruang ekstrakapiler
DO : Jalan keluar sakus
- Pemeriksaan weber suara endolimfatikus terhambat
hanya terdengar pada
telingga kiri
Penyerapan endolimfe
- Auditorium mengatakan dalam skala media oleh
stria vaskularis terhambat
adanya sensorineural
hearing loss
Hidrops (pembengkakan
endolimfe)

Stress mekanisme koklea

Rupture pelebaran dan


perubahan membrane
risher

Tercampurnya endolimfe
& perilimfe

Keabnormalan komposisi

10
cairan endolimfe dan
perilimfe

Gangguan pendengaran

2. DS : Ideopatik Ansietas
- Pasien mengatakan sering
tidak bisa tidur karena Meningkatnya hidrostatik
pada ujung arteri
merasa khawatir atas
Meningkatnya osmotic
keadaanya dalam kapiler
Meningkatnya osmotic
- Pasien mengatakan merasa
ruang ekstrakapiler
cemas atas keadaanya Jalan keluar sakus
endolimfatikus terhambat
DO :
- Pasien tampak cemas
Penyerapan endolimfe
- Pasien tampak sulit
dalam skala media oleh
berkonsentrasi stria vaskularis terhambat
- Pasien tampak tengang dan
gelisah Hidrops (pembengkakan
endolimfe)

Stress mekanisme koklea

Kerusakan sel rambut

Bergerak secara acak

Potensial listrik tidak


teratur ke nervous koklealis
dan ke korteks temporalis

Tinitus

3. DS : Ideopatik Resiko ketidak


- Pasien mengatakan seimbangan elektrolit
mengatakan kepalanya Meningkatnya hidrostatik
pada ujung arteri
pusing dan berputar-putar
Meningkatnya osmotic
hebat dan akan hilang dalam kapiler

11
dengan sendirinya Meningkatnya osmotic
ruang ekstrakapiler
- Pasien mengatakan nafsu
Jalan keluar sakus
makan berkurang karena endolimfatikus terhambat
sering mual dan muntah
- Pasien mengatakan muntah Penyerapan endolimfe
dalam skala media oleh
2x dalam sehari
stria vaskularis terhambat
DO :
- Pasien terlihat pucat
Hidrops (pembengkakan
- kesadaran composmentis endolimfe)
- TTV :
 TD : 110/80 mmHg Penekanan diujung saraf
vestibuler
 S : 37 c
 RR : 20x / menit
 N : 94x / menit Fungsi vestibuler
 Hb : 10 g / dL. berkurang atau terganggu

Vertigo

Merangsang saraf
parasimpatis

Mual dan muntah

3.3. Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan presepsi sensori b.d gangguan pendengaran
2. Ansietas b.d penyakit akut
3. Resiko ketidak seimbangan elektrolit b.d muntah

3.4. Intervensi
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Kperawatan Hasil
1. Gangguan presepsi NOC NIC
sensori b/d gangguan Setelah dilakukan Neurologik Monitoring :

12
pendengaran tindakan keperawatan 1. Monitor tingkat neurologis
selama 3 x 24 jam, 2. Monitor fungsi neurologis klien
diharapakan gangguan 3. Monitor respon neurologis
persepsi sensori dapat 4. Monitor reflek-reflek meningeal
berkurang dan sembuh. 5. Monitor fungsi sensori dan
persepsi : pendengaran
Dengan kriteria hasil: 6. Monitor tanda dan gejala
1. Menunjukan tanda penurunan neurologis klien
dan gejala persepsi
dan sensori baik : Ear Care :
penglihatan, 1. Kaji fungsi pendengaran klien
pendengaran, 2. Jaga kebersihan telinga
makan, dan minum 3. Monitor respon pendengaran
baik. klien
2. Mampu 4. Monitor tanda dan gejala
mengungkapkan penurunan pendengaran
fungsi persepsi dan 5. Monitor fungsi pendengaran
sensori dengan klien
tepat
2. Ansietas b/d NOC NIC
penyakit akut Setelah dilakukan Anxiety Reduction (penurunan
tindakan 1x 24 jam kecemasan)
diharapkan kecemasan 1. Gunakan pendekatan yang
terhadap penyakit bisa menenangkan (BHSP)
teratasi dan pasien 2. Jelaskan semua prosedur dan
mengerti tentang apa yang dirasakan selama
penyakitnya. prosedur
3. Temani pasien untuk
Dengan kriteria hasil : memberikan keamanan dan
Klien mampu mengurangi takut (dengan
mengidentifikasi dan cara menemani pasien dan
mengungkapkan gejala keluarga sangat berperan
cemas. penting)
1. Mengidentifikasi, 4. Dorong keluarga untuk

13
mengungkapkan dan menemani anak (memberikan
menunjukkan tehnik penjelasan kepada orang tua
untuk mengontol jika anak butuh ditemani)
cemas. (Dengan cara 5. Identifikasi tingkat
mendengarkan kecemasan
musik atau dengan 6. Bantu pasien mengenal situasi
mencium aroma yang menimbulkan
terapi) kecemasan
2. Vital sign dalam 7. Dorong pasien untuk
batas normal. (RR: mengungkapkan perasaan,
24 x/menit, N: ketakutan, persepsi
80x/menit) 8. Instruksikan pasien
3. Postur tubuh, menggunakan teknik relaksasi
ekspresi wajah, 9. Berikan obat untuk
bahasa tubuh dan mengurangi kecemasan
tingkat aktivfitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan.

3. Risiko NOC NIC


Setelah dilakukan Manajemen elektrolit/Cairan
ketidakseimbangan
1. Berikan cairan yang sesuai
tindakan 1x 24 jam
elektolit b/d Muntah
2. Tingkatkan intake/cairan per
diharapkan pasien tidak
oral (misalnya memberikan
sampai mengalami
cairan peroral sesuai preferensi
mual dan muntah
pasien, tempatkan (cairan)
ketempat yang mudah
Dengan kriteria hasil :
dijangkau , memberikan
1. Mempertahankan
sedotan, dan menyediakan air
urine output sesuai
segar) yang sesuai
dengan usia dan BB,
3. Berikan (cairan) pengganti
BJ urine normal, HT
nasogastrik yang diresepkan
normal
berdasarkan output
2. Tekanan darah, nadi,
4. Dapatkan spesimen
suhu tubuh dalam

14
batas normal laboratorium untuk pemantauan
3. Tidak ada tanda- perubahan cairan atau elektrolit
tanda dehidrasi, ( misalnya hematokrit, BUN,
Elastisitas turgor protein, natrium dan kadar
kulit baik, membran kalium) yang sesuai
mukosa lembab, Menejemen nutrisi
tidak ada rasa haus 1. Tentukan status gizi pasien dan
yang berlebihan kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizi
2. Tentukan jumlah kalori dan
jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan
gizi
3. Atur diet yang diperlukan
(yaitu menyediakan makanan
tinggi protein : menyarankan
menggunakan bumbu-bumbu
dan rempah-rempah sebagai
alternatif untuk garam,
menyediakan pengganti gula:
menambahkan atau mengurangi
kalori menambah atau
mengurangi vitamin mineral
atau suplemen
4. Ciptakan lingkungan yang
optimal pada saat
mengkonsumsi makanan
(misalnya, bersih, berventilasi,
santai dan bebas dari bau yang
menyengat)
5. Anjurkan pasien untuk duduk
pada posisi tegak di kursi, jika
memungkinkan.

15
3.5. Implementasi
No Hari,Tgl dan Jam Diagnosa Implementasi
Keperawatan
1. Senin 27 maret 2017 Gangguan presepsi Neurologik Monitoring :
15:00 pM sensori b/d gangguan 1. Memonitoring fungsi
pendengaran neurologis klien
2. Memonitoring fungsi sensori
dan persepsi : pendengaran
3. Memonitoring tanda dan
gejala penurunan neurologis
klien
Ear Care :
1. Menjaga kebersihan telinga
2. Memonitoring tanda dan
gejala penurunan
pendengaran
3. Monitor fungsi pendengaran
klien

3 Kamis 20 maret Ansietas b/d penyakit Anxiety Reduction


2017 akut (penurunan kecemasan)
07: 00 pM 1. Menggunakan pendekatan
yang menenangkan (BHSP)
2. Menjelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan
selama prosedur
3. Mendorong keluarga untuk
menemani anak
(memberikan penjelasan
kepada orang tua jika anak
butuh ditemani)
4. Mengidentifikasi tingkat
kecemasan
5. Menginstruksikan pasien

16
menggunakan teknik
relaksasi ( dengan cara
mendengarkan musik atau
aroma terapi )
3. Jumat 31 maret 2017 Risiko Manajemen elektrolit/Cairan
1. Memberikan cairan yang
ketidakseimbangan
sesuai
elektolit b/d Muntah
2. Meningkatkan intake/cairan
per oral (misalnya
memberikan cairan peroral
sesuai preferensi pasien,
tempatkan (cairan) ketempat
yang mudah dijangkau ,
memberikan sedotan, dan
menyediakan air segar) yang
sesuai
3. Memberikan (cairan)
pengganti nasogastrik yang
diresepkan berdasarkan
output
4. Mendapatkan spesimen
laboratorium untuk
pemantauan perubahan
cairan atau elektrolit (
misalnya hematokrit, BUN,
protein, natrium dan kadar
kalium) yang sesuai
Menejemen nutrisi
1. Menentukan status gizi
pasien dan kemampuan
pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizi
2. Menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrisi yang
dibutuhkan untuk memenuhi

17
persyaratan gizi
3. Mengatur diet yang
diperlukan (yaitu
menyediakan makanan tinggi
protein : menyarankan
menggunakan bumbu-bumbu
dan rempah-rempah sebagai
alternatif untuk garam,
menyediakan pengganti gula:
menambahkan atau
mengurangi kalori
menambah atau mengurangi
vitamin mineral atau
suplemen
4. Menciptakan lingkungan
yang optimal pada saat
mengkonsumsi makanan
(misalnya, bersih,
berventilasi, santai dan bebas
dari bau yang menyengat)
5. Menganjurkan pasien untuk
duduk pada posisi tegak di
kursi, jika memungkinkan.

3.6. Evaluasi
NO DIAGNOSA TANGGAL EVALUASI
1. Gangguan presepsi sensori 2 April 2017 S:
b.d gangguan pendengaran - Pasien mengatakan bahwa
telinganya sudah tidak
bedenging lagi
- Pasien mengatakan bahwa
telinga kanannya terasa
bersih
O:

18
- Pemeriksaan weber suara
terdengar pada telingga kiri
dan kanan
- Auditorium mengatakan
tidak adanya sensorineural
hearing loss
A : Masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan

19
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit meniere dinamakan sesuai nama seorang dokter Perancis, Prosper Meniere,
yang pada tahun 1861 pertama kali menerangkan mengenai trias gejala
(vertigo tidak tertahankan episodik, tinitius, dan kehilangan pendengaran
sensorineural berfluktuasi) sebagai penyakit telinga dan bukan merupakan penyakit
sentral atau otak.
Etiologi penyakit Meniere tidak diketahui namun terdapat berbagai teori, termasuk
pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal-abnormal pada aliran darah yang menuju
ke labirin, gangguan elektrolit dalam cairan labirin, reaksi alergi, dan gangguan
autoimun. Beberapa ahli menyalahkan gangguan mikrovaskular di telinga dalam
sehingga terjadi peningkatan di atas normal kadar metabolit (glukosa, insulin, trigliserida,
dan kolesterol) dalam darah.
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi
ketidak seimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh
malabsorbsi dalam sakus endolimfatikus. Namun, ada bukti menunjukkan bahwa banyak
orang yang menderita penyakit Meniere mengalami sumbatan pada duktus
endolimfatikus.
Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops endolimfatikus, yang merupakan
pelebaran ruang endolimfatikus. Baik peningkatan tekanan dalam sistem ataupun
rupture membran telinga dalam dapat terjadi dan menimbulkan gejala Meniere, seperti
trauma, infeksi, alergi, dan fistula perilimfe, dan otosklerosis.

4.2 Saran
Demikian makalah yang telah kami susun, semoga dengan makalah ini
dapat menambah pengetahuan serta lebih bisa memahami tentang pokok bahasan
makalah ini bagi para pembacanya dan khususnya bagi mahasiswa yang telah menyusun
makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.

20
DAFTAR PUSTAKA

Suzanne, Smeltzer. 2011. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Indonesia: EGC

Mansjoer, Arif. 2011. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, jilid 1. Indonesia: EGC

Urrahman, Ziyya. 2013. Keperawatan Medikal Bedah PSIK FKIK UIN Syarif Hidayatullah.
Indonesia: EGC

Price, LA Wilson. 1998. Konsep Klinis Keperawatan Medikal Bedah. Semarang: Eprints
undip

21