Vous êtes sur la page 1sur 24

MAKALAH

PSIKO-FISIOLOGI: INTERAKSI PIKIRAN DAN FUNGSI TUBUH

Oleh

Kelompok 02

PROGRAM SARJANA ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018

i
MAKALAH

PSIKO-FISIOLOGI: INTERAKSI PIKIRAN DAN FUNGSI TUBUH

Diajukan guna untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikososial dan Budaya
dalam Keperawatan dengan Penanggung Jawab Mata Kuliah Ns. Emi Wuri
Wuryaningsih, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J

Disusun oleh

Yusi Ayu Permatasari NIM 182310101110

Widya Mayang Anggraeni NIM 182310101120

Rizky Lukman Saputra NIM 182310101125

Aditya Kusuma Wardana NIM 182310101134

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayahnya kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan makalah pendidikan yang berjudul “Psiko-fisiologi: Interaksi
Pikiran dan Fungsi Tubuh”. Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata
kuliah Psikososial dan Budaya dalam Keperawatan yang diampu oleh Ns. Emi Wuri
Wuryaningsih, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J. Makalah pendidikan ini dapat
terselesaikan dengan baik tentu saja tidak lepas dari pihak-pihak yang tidak bisa
kami sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan
dalam penulisan makalah pendidikan ini dari segi kosa kata, ejaan, singkatan, tata
bahasa, isi dan lain lain. Oleh karena itu, koreksi, kritik, dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan guna dijadikan evaluasi agar makalah ini dapat tersusun
lebih baik.

Demikian makalah ini kami susun, semoga informasi dalam makalah ini
dapat menambah kekayaan intelektual bangsa.

Jember, 18 Oktober 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1

1.2 Tujuan .........................................................................................................1

1.2.1 Tujuan Umum ................................................................................1

1.2.2 Tujuan Khusus ...............................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................3

2.1 Reaksi Psiko-Fisiologi Terhadap Penyakit Akut Maupun Kronis .......3

2.2 Perspektif Psikologi Terhadap Nyeri ......................................................3

2.2.1 Pengertian Nyeri Akut dan Kronis ..............................................3

2.2.2 Organik dan Psikogenik ...............................................................6

2.2.2.1 Organik ..............................................................................6

2.2.2.2 Psikogenik ........................................................................11

2.2.3 Gate Theory of Pain ....................................................................13

2.2.4 Pengkajian Nyeri .........................................................................14

2.2.5 Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap


Nyeri ..............................................................................................15

2.2.6 Manajemen Nyeri Berdasarkan Pendekatan Psikologis .........18

BAB III PENUTUP ..............................................................................................20

3.1 Kesimpulan ...............................................................................................20

3.1 Kesimpulan ...............................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................21

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketidak mampuan dalam penyesuaian diri terhadap berbagai persoalan


hidup manusia, bukan hanya menyebabkan gangguan mental. Dari beberapa
penelitian diketahui bahwa situasi yang memberi tekanan pada seseorang dapat
mengakibatkan keluhan-keluhan fisik seperti sakit kepala, asam lambung
meningkat, dan sebagainya. Banyak kasus dimana analisa dan segala jenis
pemeriksaan oleh dokter menunjukkan seseorang secara fisik tidak mempunyai
masalah fisik. Namun pada kenyataannya orang tersebut mengeluh karena sakitnya.
Masalah-masalah emosional yang tidak ditangani adalah penyebab 85%
penyakit fisik. Itulah mengapa penanganan penyakit fisik tidak membuahkan hasil
yang tuntas karena mengabaikan masalah emosional.
Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan
somatis yang artinya tubuh. Dalam Diagnostic And Statistic Manual Of Mental
Disorders edisi ke empat (DSM IV) istilah psikosomatis telah digantikan dengan
kategori diagnostik faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
Gangguan psikofisiologis merupakan gangguan kesehatan yang umum
dijumpai di populasi, namun seringkali menimbulkan kesalahpahaman dibidang
medis. Psikosomatis merupakan salah satu gangguan kesehatan atau penyakit yang
ditandai oleh bermacam-macam keluhan fisik.
Dalam gangguan psikofisiologis faktor-faktor psikologis benar-benar
menyebabkan gangguan-gangguan fisik. Misalnya, stress psikologis yang lama
dapat menyebabkan produksi asam lambung bertambah dan asam tersebut dapat
menyebabkan lubang pada dinding lambung. Dalam gangguan somatoform, faktor-
faktor psikologis menyebabkan simtom-simtom gangguan-gangguan fisik tetapi
tidak ada gangguan-gangguan yang aktual (tidak ada jaringan-jaringan yang rusak
dalam tubuh). Misalnya seseorang yang menderita gangguan konversi

1
kemungkinan akan menderita kelumpuhan pada lengan, tetapi syaraf-syaraf otot
atau tulang lengan tidak rusak.

1.2 Tujuan
a. Untuk mengetahui reaksi psiko-fisioloigi terhadap penyakit akut maupun kronis
b. Untuk mengetahui bagaimana perspektif psikologi terhadap nyeri
c. Untuk mengetahui maksud Gate Theory of Pain
d. Untuk mengetahui bagaimana pengkajian nyeri yang harus dilakukan
e. Untuk mengetahui faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi terhadap
nyeri
f. Untuk mengetahui bagaimana manajemen nyeri berdasarkan pendekatan
psikologis

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Reaksi Psiko-Fisiologi Terhadap Penyakit Akut Maupun Kronis

Secara singkat, Kellner (1994) mengungkapkan bahwa istilah psikosomatik


menunjukkan hubungan antara jiwa dan badan. Gangguan psikosomatik
didefinisikan sebagai suatu gangguan atau penyakit fisik dimana proses psikologis
memainkan peranan penting, sedikitnya pada beberapa pasien dengan sindroma ini.
Istilah psikosomatis berasal dari bahasa Yunani yaitu psyche yang berarti jiwa dan
soma atau badan (Atkinson,1999). Dijelaskan oleh Kartono dan Gulo (1987) bahwa,
psikosomatis adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh tekanan-tekanan
emosional dan psikologis atau gangguan fisik yang terjadi sebagai akibat dari
kegiatan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi gejala emosi.
Selanjutnya Hakim (2004) menjelaskan bahwa, keluhan-keluhan
psikosomatis dapat berupa, jantung berdebar-debar, sakit maag, sakit kepala
(pusing, migren), sesak nafas dan lesu. Berdasarkan dalam konteks penelitian yang
dimaksud dengan Psikosomatis adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh
tekanan-tekanan emosional dan psikologis atau gangguan fisik yang terjadi sebagai
akibat dari kegiatan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi gejala emosi

2.2 Perspektif Psikologi Terhadap Nyeri

2.2.1 Pengertian Nyeri Akut dan Kronis

Nyeri akut diartikan sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang


kompleks berkaitan dengan sensorik, kognitif dan emosional yan berkaitan
dengan trauma jaringan, proses penyakit, atau fungsi abnormal dari otot atau
organ visera. Nyeri akut berperan sebagai alarm protektif terhadap cedera
jaringan. Reflek protektif (reflek menjauhi sumber stimuli, spasme otot, dan

3
respon autonom) sering mengikuti nyeri akut. Secara patofisiologi yang
mendasari dapat berupa nyeri nosiseptif ataupun nyeri neuropatik.

Nyeri kronik didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung sampai


melebihi perjalanan suatu penyakit akut, berjalan terus menerus sampai
melebihi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan suatu trauma, dan
terjadinya secara berulang-ulang dengan interval waktu beberapa bulan atau
beberapa tahun. Banyak klinikus memberi batasan lamanya nyeri 3 atau
6 .Nyeri akut terjadi karena adanya kerusakan jaringan yang akut dan tidak
berlangsung lama. Sedangkan nyeri kronik, tetap berlanjut walaupun lesi
sudah sembuh. Ada yang memakai batas waktu 3 bulan sebagai nyeri kronik.
Untuk membedakan nyeri akut dan nyeri kronik secara klinis ditampilkan
seperti tabel 2. Intensitas nyeri dapat dinilai salah satunya menggunakan
Visual Analogue Scale (VAS). Skala ini mudah digunakan bagi pemeriksa,
efisien dan lebih mudah dipahami oleh pasien. Klasifikasi berdasarkan
intensitas nyeri yang dinilai dengan Visual Analog Scale (VAS) adalah
angka 0 berarti tidak nyeri dan angka 10 berarti intensitas nyeri paling berat.

Berdasarkan VAS, maka nyeri dibagi atas :

a. Nyeri ringan dengan nilai VAS : < 4 (1-3).

b. Nyeri sedang dengan nilai VAS : (4 -7).

c. Nyeri berat dengan nialai VAS : >7 ( 8-10).

Tabel 2. Perbedaan Nyeri Akut dan Nyeri Kronik (Meliala,2004)

Aspek Nyeri Akut Nyeri kronik


Lokasi Jelas Difus,
menyebar
Deskripsi Mudah Sulit
Durasi Pendek Terus
berlangsung

4
Fisiologis Kondisi alert Muncul
(BP, HR) puncak-puncak
nyeri
Istirahat Mengurangi Memperburuk
nyeri nyeri
Pekerjaan Terkendali Dipertanyakan
Keluaraga & Menolong, Lelah,
relasi suportif deteorasi
Finansial Terkendali Menurun &
bisa
kekurangan
Mood Asietas, akut Depresi, rasa
bersalah,
iritabilitas,
marah, frustasi,
putus asa
Toleransi nyeri Terkendali Kurang
terkendali
Respon dokter Positif, Merasa
memberi disalahkan,
harapan menambah
jumlah obat,
follow-up
menjemukan
Pengobatan Mencari Fokus pada
penyebab dan fungsi dan
mengobatinya manajemen

2.2.2 Organik dan Psikogenik

2.2.2.1 Organik

5
Nyeri timbul akibat adanya rangsangan oleh zat-zat algesik pada
reseptor nyeri yang banyak dijumpai pada lapisan superficial kulit dan pada
beberapa jaringan di dalam tubuh, seperti periosteum, permukaan sendi, otot
rangka dan pulpa gigi. Zat-zat algesik yang mengaktifkan reseptor nyeri
adalah ion K, H, asam laktat, serotonin, bradikinin, histamin dan
prostaglodin. Respon terhadap stimulus untuk stimulus nyeri disebut
nosiseptor yang merupakan ujung-ujung saraf bebas tidak bermielin yang
mampu mengubah berbagai stimulus menjadi impuls saraf, yang
diinterpretasikan oleh otak sebagai sensasi nyeri. Badan-badan sel saraf
tersebut terdapat pada ganglia radiks dorsalis, atau saraf trigeminal pada
ganglia trigeminal, dan badan-badan sel saraf tersebut mengirimkan satu
cabang serat saraf menuju ke perifer, serta cabang lainnya menuju medula
spinalis atau batang otak.

Nosiseptor diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu saraf-saraf tidak


bermielin dan berdiameter kecil yang mengkonduksikan impuls saraf
dengan lambat, yaitu serabut saraf C dan saraf-saraf bermielin berdiameter
lebih besar yang mengkonduksikan impuls-impuls saraf lebih cepat yaitu
serabut saraf Aδ. Impuls-impuls saraf yang dikonduksikan oleh serat
nosiseptor Aδ menghasilkan sensasi nyeri yang tajam dan cepat, sedangkan
serat nosiseptor C menghasilkan sensasi nyeri yang tumpul dan terlambat.
Kebanyakan nosiseptor beujung bebas yang mendeteksi adanya kerusakan
jaringan.

Selama proses inflamasi, nosiseptor menjadi lebih peka dan


mengakibatkan nyeri yang terus menerus. Rangkaian proses yang menyertai
antara kerusakan jaringan sebagai sumber stimuli nyeri sampai
dirasakannya persepsi nyeri adalah suatu proses elektrofisiologik yang
disebut sebagai nosisepsi. Terdapat empat proses dalam nosisepsi, yakni :
transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi.

Transduksi

6
Transduksi merupakan proses pengubahan stimuli nyeri (noxious
stimuli) menjadi suatu impuls listrik pada ujung-ujung saraf. Proses
transduksi dimulai ketika nociceptor yaitu reseptor yang berfungsi untuk
menerima rangsang nyeri teraktivasi. Aktivasi reseptor ini (nociceptors)
merupakan sebagai bentuk respon terhadap stimulus yang datang seperti
kerusakan jaringan atau trauma. Trauma tersebut kemudian menghasilkan
mediatormedator nyeri perifer sebagai hasil dari respon humoral dan neural.
Prostaglandin beserta ion H+ dan K+ berperan penting sebagai activator
primer nosiseptor perifer serta menginisiasi respon inflamasi dan sensitisasi
perifer yang menyebabkan pembengkakan jaringan dan nyeri pada lokasi
cedera.

Transmisi

Transmisi merupakan serangkaian kejadian-kejadian neural yang


membawa impuls listrik melalui sistem saraf ke area otak. Proses transmisi
melibatkan saraf aferen yang terbentuk dari serat saraf berdiameter kecil ke
sedang serta yang berdiameter besar. Saraf aferen akan ber-axon pada dorsal
horn di spinalis. Selanjutnya transmisi ini dilanjutkan melalui sistem
contralateral spinalthalamic melalui ventral lateral dari thalamus menuju
cortex serebral. Proses penyaluran impuls melalui saraf sensoris setelah
proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut Aδ fiber dan C
fiber sebagai neuron pertama dari perifer ke medula spinalis. Proses tersebut
menyalurkan impuls noxious dari nosiseptor primer menuju ke sel di dorsal
horn medulla spinalis.

Modulasi

Modulasi adalah proses yang mengacu kepada aktivitas neural


dalam upaya mengontrol jalur transmisi nociceptor tersebut. Proses
modulasi melibatkan sistem neural yang komplek. Impuls nyeri ketika
sampai di saraf pusat akan dikontrol oleh sistem saraf pusat dan
mentransmisikan impuls nyeri ini kebagian lain dari system saraf seperti

7
bagian cortex. Selanjutnya impuls nyeri ini akan ditransmisikan melalui
saraf-saraf descend ke tulang belakang untuk memodulasi efektor.

Persepsi

Persepsi adalah proses yang subjective. Persepsi merupakan hasil


akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses
transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan
suatui perasaan yang subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri. Proses
persepsi ini tidak hanya berkaitan dengan proses fisiologis atau proses
anatomis saja, akan tetapi juga meliputi cognition (pengenalan) dan memory
(mengingat). Oleh karena itu, faktor psikologis, emosional, dan berhavioral
(perilaku) juga muncul sebagai respon dalam mempersepsikan pengalaman
nyeri tersebut. Proses persepsi ini jugalah yang menjadikan nyeri tersebut
suatu fenomena yang melibatkan multidimensional

Beberapa traktus asenden berperan dalam mentransmisikan impuls


nosisepsi dari dorsal horn ke target supraspinal, yaitu traktus
spinomesencephalic, spinoreticular dan spinotalamikus, dimana traktus
spinotalamikus merupakan traktus yang utama untuk jalur persepsi. Akson
dari sel dorsal horn bersinaps dengan sel thalamus, yang mengubah
transmisi impuls nosiseptif langsung ke korteks somatosensoris.

Lanjutan respon tubuh terhadap nyeri

Nyeri sebagai suatu pengalaman sensoris dan emosional tentunya


akan menimbulkan respon terhadap tubuh. Respon tubuh terhadap nyeri
merupakan terjadinya reaksi endokrin berupa mobilisasi hormon-hormon
katabolik dan terjadinya reaksi imunologik, yang secara umum disebut
sebagai respon stres.Rangsang nosiseptif menyebabkan respons hormonal
bifasik, artinya terjadi pelepasan hormon katabolik seperti katekolamin,
kortisol, angiotensin II, ADH, ACTH, GH dan Glukagon, sebaliknya terjadi
penekanan sekresi hormon anabolik seperti insulin. Hormon katabolik akan
menyebabkan hiperglikemia melalui mekanisme resistensi terhadap insulin

8
dan proses glukoneogenesis, selanjutnya terjadi katabolisme protein dan
lipolisis. Kejadian ini akan menimbulkan balans nitrogen negatif.
Aldosteron, kortisol, ADH menyebabkan terjadinya retensi NA dan air.
Katekolamin merangsang reseptor nyeri sehingga intensitas nyeri
bertambah sehingga terjadilah siklus vitrousus. Sirkulus vitiosus merupakan
proses penurunan tekanan O2 di arteri pulmonalis (PaO2) yang disertai
peningkatan tekanan CO2 di arteri pulmonalis (PCO2) dan penurunan pH
akan merangsang sentra pernafasan sehingga terjadi hiperventilasi. Respon
nyeri memberikan efek terhadap organ dan aktifitas. Berikut beberapa efek
nyeri terhadap oragan dan aktifitas:

Efek nyeri terhadap kardiovaskular

Pelepasan katekolamin, Aldosteron, Kortisol, ADH dan aktifasi


Angiostensin II akan mennimbulkan efek pada kardiovaskular.
Hormonhormon ini mempunyai efek langsung pada miokardium atau
pembuluh darah dan meningkatkan retensi Na dan air. Angiostensin II
menimbulkan vasikontriksi. Katekolamin menimbulkan takikardia,
meningkatkan otot jantung dan resistensi vaskular perifer, sehingga
terjadilah hipertensi. Takikardia serta disritmia dapat menimbulkan iskemia
miokard. Jika retensi Na dan air bertambah makan akan timbul resiko gagal
jantung.

Efek nyeri terhadap respirasi

Bertambahnya cairan ekstra seluler di paru-paru akan menimbulkan


kelainan ventilasi perfusi. Nyeri didaerah dada atau abdomen akan
menimbulkan peningkatan otot tonus di daerah tersebut sehingga muncul
risiko hipoventilasi, kesulitan bernafass dalam mengeluarkan sputum,
sehingga penderita mudah hipoksia dan atelektasis.

Efek nyeri terhadap sistem organ lain

Peningkatan aktifitas simpatis akibat nyeri menimbulkan inhibisi fungsi


saluran cerna. Gangguan pasase usus sering terjadi pada penderita nyeri.

9
Terhadap fungsi immunologik, nyeri akan menimbulkan limfopenia, dan
leukositosis sehingga menyebabkan resistensi terhadap kuman patogen
menurun.

Tabel 2.4 Konsekuensi Fisiologis terhadap Nyeri

Sistem Tubuh Respon terhadap Manifestasi


Nyeri Klinis
Endokrin/Metabolik Gangguan sekresi Penurunan berat
hormon ACTH, badan
kortisol, Demam
katekolamin,
Peningkatan
insulin
laju napas dan
laju jantung
Kardiovaskular Peningkatan laju Unstable
jantung Angina
Peningkatan Infark
resistensi vaskular miokardial
Peningkatan
DVT
tekanan darah

Respirasi Keterbatasan usaha Pneumonia


respirasi Atelektasis
Gastrointestinal Penurunan laju Anoreksia
pengosongan Konstipasi
lambung
Ileus
Penurunan motilitas
usus
Muskuloskeletal Muscle spasm Imobilitas

10
Lemah

Imun Gangguan fungsi Infeksi


imun
Genitourinari Abnomalitas Hipertensi
hormon yang Gangguan
mengatur jumlah elektrolit
urin, volume cairan
dan elektrolit
Tennant F. The Physiologic Effects of Pain on the Endocrine System.
Spinger Healthcare. 2013. 2:75-86.

2.2.2.2 Psikogenik

Nyeri adalah suatu persepsi yang merupakan mekanisme


proteksi tubuh yang bertujuan memberikan peringatan (alerting)
akan adanya penyakit, luka, atau kerusakan jaringan sehingga dapat
segera diidentifikasi penyebabnya dan dilakukan pengobatan.
Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP),
nyeri didefinisikan sebagai pengalam sensorik dan emosional yang
tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan
atau potensial akan menyebabkan kerusakan jaringan. Dari definisi
diatas terlihat betapa pentingnya faktor psikis. Timbulnya rasa nyeri
tidak hanya sekedar sebagai proses sensorik saja tetapi merupakan
persepsi yang kompleks yang melibatkan fungsi kognitif, mental,
emosional, dan daya ingat.

Definisi dari gangguan nyeri menurut DSM-IV-TR adalah


adanya nyeri yang merupakan keluhan utama dan menjadi fokus
perhatian klinis. Faktor piskologis sangat berperan dalam gangguan
ini. Gejala utama adalah nyeri pada satu tempat atau lebih, yang
tidak dapat dimasukkan secara penuh sebagi kondisi medik

11
nonpiskiatrik maupun neurologik. Gangguan ini berkaitan dengan
penderitaan emosional dan hendaya dalam fungsi kehidupan.

Secara neurofisiologi nyeri dapat dibagi atas nyeri nosiseptik


dan nyeri non-nosiseptik. Nyeri nosiseptik adalah nyeri yang
disebabkan oleh aktivitas nosiseptor baik bersifat pada serabut u-
delta maupun serabut c, oleh stimulus-stimulus nyeri yang bersifat
mekanis, terminal, maupun kimiawi. Nyeri nosispetik dapat dibagi
atas nyeri somatik dan nyeri viseral. Nyeri somatik bersifat tumpul,
lokasinya jelas berhubungan dengan lesi dan biasanya dan akan
membaik dengan istirahat. Contoh nyeri somatik adalah nyeri
muskuloskletal, nyeri artritik, nyeri pasca bedah, dan metastasis.
Nyeri viseral berhubungan dengan distensi rongga yang berongga,
lokasinya sulit dideskripsikan bersifat dalam, seperti diremas, dan
disertai kram. Nyeri ini biasanya berhubungan dengan gejala-gejala
autonom, seperti mual,muntah, diaforesis. Kadang-ladang nyeri
viseral disertai rujukan (referred pain) di kulit.

Nyeri yang berhubungan dengan aktivitas nosiseptor disebut


nyeri nonnosiseptik, yang dapat dibagi atas nyeri neuropatik dan
nyeri psikogenik. Nyeri neuropatik disebabkan trauma neural atau
iritasi saraf. Nyeri ini akan tetap memanjang walaupun faktor
presipitasinya sudah hilang. Pasien akan merasa seperti nyeri
terbakar, alodenia, atau sensasi elektrik.

Nyeri psikogenik adalah nyeri yang tidak berhubungan


dengan nyeri nosiseptik maupun nyeri neuropatik dan disertai
dengan gejala-gejala psikis yang nyata. Proses nyeri dapat dibagi
menjadi adanya kerusakan jaringan akibat penyakit, misalnya
kanker, penyakit sendi otot dan lain-lain, disebut sebagai nyeri
nosiseptik. Nyeri akibat aktivitas abnormal susunan saraf yang
disebut nyeri neuropatik dan adanya gangguan psikis yang
mendasari sebab timbulnya nyeri disebut nyeri psikogenik.

12
2.2.3 Gate Theory of Pain

Ketika individu mengalami cedera, sebuah sinyal bergerak dari


lokasi cedera melalui spinal cord, dan kemudian menuju otak. Otak
menginterpretasi sinyal dari kerusakan jaringan dan individu mempersepsi
nyeri (Otis, 2007). Gate control theory dari melzack dan Patrick (1965)
menjelaskan hubungan antara aspek-aspek fisiologis dan psikologis dalam
mekanisme nyeri. Menurut gate control theory, sistem pusat bertindak
sebagai dasar fisiologis bagi peran dari faktor-faktor psikologis dalam
pengalaman nyeri. Di dalam spinal cord, input sensori dimodifikasi oleh
mekanisme neural dan dorsal horn, bagian ini bertindak sebagai suatu
gerbang yang tidak nyata yang menghambat atau memfasilitasi transmisi
impuls-implus saraf dari lokasi peripheral ke otak. Pada proses menghambat
sinyal cedera, proses ini menghambat sinyal sehingga menurunkan nyeri,
sebaliknya pada proses memfasilitasi transmisi, proses ini mempercepat
sinyal sehingga meningkatkan nyeri. Integrasi yang kompleks ini, diatur
oleh interaksi yang resiprokal dari faktor-faktor kognitif, emosional, dan
fisikal, membentuk cara individu mempersepsi dan berespon terhadap nyeri
(Golden, 2005)

2.2.4 Pengkajian Nyeri

Pengkajian nyeri merupakan proses lanjut yang meliputi faktor-


faktor multidemensional, perumusan manajemen nyeri terhadap rencana
keperawatan dan yang tepat dilakukan pada tahap awal dari penanganan
nyeri. Pengkajian ini sangat penting dalam mengidentifikasi penyebab nyeri
dan memasukkan pengkajian pada intensitas dan karakteristik nyeri.
Psikososial dan pengkajian menggunakan diagnosa yang tepat dalam
menentukan penyebab nyeri (Suza, 2007). Meskipun pengkajian nyeri
adalah aktivitas yang sering dilakukan perawat, pengkajian nyeri
merupakan tindakan yang sulit dilaksanakan.

13
Perawat harus mengetahui lebih dalam tentang pengalaman nyeri
dari sudut pandang klien. Keuntungan pengkajian nyeri bagi klien adalah
nyeri dapat diidentifikasi, dikenali sebagai sesuatu yang nyata, dapat diukur,
dapat dijelaskan, serta digunakan untuk mengevaluasi perawatan.
Pengkajian nyeri yang benar akan memudahkan perawat untuk status nyeri
klien, lebih bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap perawatan
yang diberikan.

Pengkajian dapat dilakukan dengan cara PQRST:

1. P (pemacu), yaitu faktor yang memengaruhi gawat atau ringannya nyeri


2. Q (quality), yaitu kualitas dari nyeri itu sendiri. Seperti apakah rasanya :
tajam, tumpul, atau tersayat.
3. R (region), yaitu daerah perjalanan nyeri
4. S (severity), adalah keparahan atau intensitas nyeri
5. T (time), yaitu lamanya nyeri/waktu serangan atau frekuensi nyeri

2.2.5 Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap Nyeri

1. Jenis Kelamin

Pria dengan wanita memiliki tingkat emosional yang berbeda-beda


ketika nyeri, wanita menunjukkan ekspresi emosional lebih kuat dari pria.
Menangis misalnya, adalah hal atau perilaku yang sudah dapat diterima pada
wanita sementara pada laki-laki hal ini dianggap hal yang memalukan
(Lewis,1983)

2. Usia

Usia merupakan faktor yang penting dalam merespon nyeri. Cara


merespon nyeri antara lansia dengan orang yang lebih muda dapat berbeda.
Lansia cenderung mengabaika nyeri dan menahan nyeri yang berat dalam
waktu yang lama sebelum melaporkannya atau mencari perawatan
kesehatan (Brunner & Suddarth, 2001). Sedangkan pada orang yang lebih

14
muda tidak cenderung tidak dapat menahan nyeri dan mengeluhkan nyeri
tersebut.

Menurut Potter & Perry (1993) usia adalah variable penting yang
mempengaruhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan
perkembangan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat
mempengaruhi bagaimana keduanya bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak
kesulitan untuk memahami nyer dan beranggapan kalau apa yang dilakukan
perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak belum dapat
mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua
atau perawat. Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perwat
harus mengkaji respon nyeri pada anak. \pada orang dewasa kadang
melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi
(Tamsuri, 2007)

3. Budaya

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zborowski (dalam Niven,


1994) ekspresi perilaku nyeri psikologi berbeda antara satu kelompok
dengan kelompok yang lain di satu lingkungan rumah sakit. Perbedaan
tersebut dianggap terjadi akibat sikap, dan nilai yang dianut oleh kelompok
etnik tersebut

Nyeri memiliki makna tersendiri pada individu dipengaruhi oleh


latar belakang budayanya (Davidhizar et all, 1997, Marrie, 2002) nyeri
biasanya menghasilkan respon efektif yang diekspresikan berdasarkan latar
belakang budaya yang berbeda. Ekspresi nyeri dapat dibagi kedalam dua
kategori yaitu tenang dan emosi (Davidhizar et all, 1997, Marrie, 2002)
pasien tenang umumnya akan diam berkenaa dengan nyeri, mereka
memiliki sikap dapat menahan nyeri. Sedangkan pasien yang emosional
akan berekspresi secara verbal dan akan menunjukkan tingkah laku nyeri
dengan merintih dan menangis (Marrie, 2002)

15
Memahami nilai-nilai budaya yang dimiliki seseorang dan
memahami mengapa nilai-nilai ini berbeda dari nilai-nilai kebudayaan
lainnya membantu untuk mengindari perilaku klien berdasarkan harapan
dan nilai budaya seseorang. Perawat yang mengetahui perbedaan budaya
akan mempunyai pemahaman yang lebih besar tentang nyeri pasien dan
akan lebih akurat dalam mengkaji nyeri dan respon-respon perilaku
terhadap nyeri jua efektif dalam meghilangkan nyeri pasien (Smeltzer &
Bare, 2003)

4. Ansietas (Kecemasan)
Menurut Racham dan Philips (dalam Niven 1994) ansietas
(kecemasan) mempunyai efek yang besar terhadap kualitas maupun
terhadap intensitas nyeri. Ambang batas nyeri dapat berkurang dengan
adanya penigkatan rasa cemas dan kecemasan menyebabkan terjadinya
lingkaran yang terus berputa karena peningkatan ansietas akan
mengakibatkan peningkatan sensitivitas nyeri. Secara umum, cara yang
afektif untuk menghilangkan nyeri adalah dengan mengarahkan pengobatan
nyeri ketimbang ansietas (Smeltzer & Bare, 2002)

5. Pengalaman Masa Lalu


Cara seseorang berespon terhadap nyeri adalah akibat dari banyak
kejadian yang terjadi selama rentang kehidupannya. Individu yang
mengalami nyeri selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat menjadi
mudah marah, menarik diri, dan depresi (Brunner & Suddarth, 2001).
Efek yang tidak diingankan yang diakibatkan dari pengalaman
sebelumnya menunjukkan pentingnya perawat untuk waspada terhadap
pengalaman masa lalu pasien denga nyeri. Jika nyeriya teratasi dengan tepat
dan adequat, individu mungkin lebih sedikit ketakutan terhadap nyeri
dimana mendatang dan mampu mentoleransi nyeri dengan baik (Smeltzer
& Bare, 2002)

16
6. Pola Koping
Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri
sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka sendiri dan
hasil akhir dari suatu peristiwa seperti nyeri. Sebaliknya individu yang
memiliki lokus kendali eksternal, mempersepsi faktor-faktor lain di dalam
lingkungan mereka seperti perawat sebagai individu yang bertanggung
jawab terhadap hasil akhir peristiwa seperti kesembuhan pasien. Individu
yang memiliki lokus kendali internal melaporkan mengalami nyeri yang
tidak terlalu berat daripada individu yang memiliki lokus kendali eksternal
(Potter & Perry, 2005)
Sumber koping lebih dari sekitar metode teknik. Seorang klien
mungki tergantung pada support emosianal dari anak-anak, keluarga atau
teman. Meskipun nyeri masih ada tetapi dapat meminimalkan kesendirian.
Kepercayaan pada agama dapat memberi kenyaman untuk berdo’a,
memberikan banyak kekuatan untuk mengatasi ketidaknyamanan yang
dating (Potter & Perry, 1993)

7. Dukungan Sosial dan Keluarga


Individu yang mengalami nyeri sering kali atau bahkan selalu
bergantung kepada keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan,
bantuan, perlindungan, dan rasa nyaman. Walaupun klien tetap merasakan
nyeri tetapi adanya dukungan social dan keluarga akan mengurangi rasa
kesepian dan ketakutan (Potter & Perry, 2005)

2.2.6 Manajemen Nyeri Berdasarkan Pendekatan Psikologis

Salah satu pendekatan yang menjelaskan keterkaitan antara aspek


fisiologis dan psikologis pada nyeri adalah pendekatan biopsychosocial.
Turk dan Flor (1999) menyatakan bahwa premis dasar dari pendekatan
biopsychosocial adalah bahwa faktor-faktor predisposisional dan faktor-
faktor biologikal yang ada dapat memulai, mempertahankan, dan

17
memodulasi ganguan-gangguan fisikal (physical
pertubations); faktor-faktor predisposisi dan psikologis yang ada
mempengaruhi penilaian dan persepsi dari tanda-tanda fisiologis internal;
dan faktor-faktor sosial membentuk respon-respon behavioral dari pasien
terhadap persepsi-persepsi dari gangguan-gangguan fisikal mereka
(Asmundson & Wright, 2004).

Nyeri adalah persepsi subjektif yang merupakan hasil dari


transduksi, transmisi dan modulasi dari input sensori yang disaring melalui
komposisi genetic seseorang dan learning history sebelumnya dan
dimodulasi lebih lanjut oleh keadaan psikologis saat ini, penilaian
idiosyncratic, ekspektasi- ekspektasi, keadaan mood saat ini, dan
lingkungan sosiokultural seseorang (Turk & Monarch, 2002).

Menurut Turk, karakteristik dari pendekatan cognitive-behavioral


terhadap manajemen nyeri adalah sebagai berikut:

a. Berorientasi pada masalah.


b. Educational (mengajarkan keterampilan-keterampilan selfmanagement,
problem solving, coping, dan komunikasi).
c. Kolaboratif (pasien dan terapis bekerja bersama-sama).
d. Menggunakan latihan di klinik dan rumah untuk memperkuat keterampilan
dan mengidentifikasi area-area yang bermasalah.
e. Mendorong pengekspresian dari perasaan-perasaan dan kemudian
mengendalikan perasaan-perasaan yang mengganggu rehabilitasi.
f. Menekankan pada hubungan antara pikiran, perasaan, perilaku, dan
fisiologis.
g. Mengantisipasi kemunduran dan kelemahan dan mengajari pasien
bagaimana untuk menanganinya.

18
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penyakit akut serta penyakit kronis sangat berhubungan dengan psikologi


seorang manusia. Psiko-fisiologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari
mengenai hubungan suatu psikologi manusia dengan kinerja serta fungsi tubuh
manusia. Penyakit mampu mempengaruhi psikologi dan sebaliknya.

Nyeri dibagi menjadi 2, yaitu nyeri akut serta nyeri kronis. Dalam
mekanisme pendekatan dalam nyeri terdapat 2 pendekatan, yaitu organic dan
psikogenik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri dengan persepi, antara
lain jenis kelamin, usia, budaya, ansietas (kecemasan), pengalaman masa lalu, pola
koping, serta dukungan social dan keluarga.

3.2 Saran

Tenaga kesehatan khusunya seorang perawat perlu mengupayakan untuk


menjaga keseimbangan antara psikologi dan fisiologis tubuh pasien, karena
mengingat pentingnya hubungan antara psikologi dan kinerja fungsi tubuh manusia.
Perawat dituntut untuk mampu menuntun dan mendampingi pasien dengan
penyakit akut maupun kronis serta berusaha memberikan sugesti sehingga mampu
meningkatkan kepercayaan pasien bahwa dia akan sembuh.

19
DAFTAR PUSTAKA

Cangkrangadinata. 2016. Penerapan Terapi Dengan Pendekatan Cognitive-


Behavioral Dalam Penanganan Nyeri Kronik. Jurnal Pemikiran & Penelitian
Psikologi. 11(1): 1-10.

Lobo, Y, dkk. 2014. Mekanisme Nyeri. Makalah. Kupang: Program Studi


Keperawatan STIKES Citra Husada Mandiri Kupang.
http://www.academia.edu/14634106/MEKANISME_NYERI_2012 (Diuduh
pada tanggal 18 Oktober 2018)

Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta : Selemba Medika.

Putri, S, A., P. 2010. Peranan Psikolog Dalam Menangani Penderita Nyeri Psikolog
Di Rumah Sakit. Majalah Ilmiah informatika. 1(1): 80-92.

Ryantama, A.A.W. 2017. Respon Tubuh Terhadap Nyeri. Makalah. Denpasar:


Universitas Udayana.
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/2c9675bbd8553e58
6250c0dd16cbfcd9.pdf (Diunduh pada tanggal 15 Oktober 2018)

Swari, A.A.D.A. 2015. Hubungan antara Nyeri dan Psikogenik dan Cemas. Referat.
Jakarta: Universitas Kristen Krida Wacana.
http://www.academia.edu/31522484/Documents.tips_referat_hubungan_ant
ara_nyeri_psikogenik_dan_gangguan_cemas (Diunduh pada tanggal 15
Oktober 2018)

20