Vous êtes sur la page 1sur 21

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

A. PENGERTIAN
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg
dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan
sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan diastolic 90 mmHg ( Smeltzer, 2001).
Menurut Price (2005) Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana
terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang
mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat
istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.
Hipertensi berasal dari dua kata yaitu hiper yang berarti tinggi dan tensi yang artinya
tekanan darah. Menurut American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah
suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat dari kondisi
lain yang kompleks dan saling berhubungan (Sani, 2008).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan, hipertensi adalah peningkatan tekanan darah
secara kronis dan persisten dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya
di atas 90 mmHg.

B. ETIOLOGI
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara mereka
menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan penyebab medisnya.
Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder). (
Smeltzer, 2001).
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya
(terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit
lain. ( Smeltzer, 2001).
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab, seperti; beberapa perubahan
pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. (Price, 2005)
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10%
penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya
adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). ( Smeltzer, 2001)
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada
kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin
(noradrenalin). (Price, 2005)
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder :
1. Penyakit Ginjal
a. Stenosis arteri renalis
b. Pielonefritis
c. Glomerulonefritis
d. Tumor-tumor ginjal
e. Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
f. Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
g. Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2. Kelainan Hormonal
a. Hiperaldosteronism
b. Sindroma Cushing
c. Feokromositoma
3. Obat-obatan
a. Pil KB
b. Kortikosteroid
c. Siklosporin
d. Eritropoietin
e. Kokain
f. Penyalahgunaan alkohol
g. Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
a. Koartasio aorta
b. Preeklamsi pada kehamilan
c. Porfiria intermiten akut
d. Keracunan timbal akut
Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :
a. Peningkatan kecepatan denyut jantung
b. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
c. Peningkatan TPR yang berlangsung lama

C. FAKTOR PREDISPOSISI
Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti umur,
jenis kelamin, dan keturunan. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar
monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini menyokong
bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya Hipertensi. (Smeltzer, 2001).
Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang olahraga,
merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap
timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi
saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf
parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. (Price, 2005)
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten
(tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap
tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti, akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan
lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh
stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. (Price, 2005)

Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari populasi Hipertensi dan
dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan terjadinya Hipertensi
dikemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi
esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume
darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang
mempunyai berat badan normal. ( Smeltzer, 2001).
D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat
vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang
berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia
simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls
yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh
darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsangan vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. (Smeltzer,
2001).
Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas
vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke
ginjal, mengakibatnkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium
dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor
tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. (Price, 2005)

E. MANIFESTASI KLINIS
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara
tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan
darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada
penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. (Price, 2005)
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

1. Sakit kepala
2. Kelelahan
3. Mual
4. Muntah
5. Sesak nafas
6. Gelisah
Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung
dan ginjal. (Price, 2005)
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma
karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang
memerlukan penanganan segera. (Price, 2005)

F. KLASIFIKASI
The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu :
Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *
Kategori Sistolik (mmhg) Diastolik (mmhg)
Normal < 130 <85
Normal tinggi 130-139 85-89
Hipertensi
Tingkat 1 (ringan) 140-159 90-99
Tingkat 2 (sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (berat) ≥180 ≥110

Tidak minum obat antihipertensi dan tidak sakit akut. Apabila tekanan sistolik dan
diastolik turun dalam kategori yang berbeda, maka yang dipilih adalah kategori yang lebih
tinggi. berdasarkan pada rata-rata dari dua kali pembacaan atau lebih yang dilakukan pada setiap
dua kali kunjungan atau lebih setelah skrining awal. (Smeltzer, 2001).
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat
jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai
"normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.
Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua
lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. (Price, 2005)
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi
tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal.
Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir
setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80
tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang
secara perlahan atau bahkan menurun drastis. (Price, 2005)
Disamping itu juga terdapat hipertensi pada kehamilan (pregnancy-induced
hypertension/PIH) PIH adalah jenis hipertensi sekunder karena hipertensinya reversible setelah
bayi lahir. PIH tampaknya terjadi akibat dari kombinasi peningkatan curah jantung dan TPR.
Selama kehamilan normal volume darah meningkat secara drastis. Pada wanita sehat,
peningkatan volume darah diakomodasikan oleh penurunan responsifitas vascular terhadap
hormon-hormon vasoaktif, misalnya angiotensin II. Hal ini menyebabkan TPR berkurang pada
kehamilan normal dan tekanan darah rendah. Pada wanita dengan PIH, tidak terjadi penurunan
sensitivitas terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga peningkatan besar volume darah
secara langsung meningkatkan curah jantung dan tekanan darah. PIH dapat timbul sebagai akibat
dari gangguan imunologik yang mengganggu perkembangan plasenta. PIH sangat berbahaya
bagi wanita dan dapat menyebabkan kejang, koma, dan kematian. (Smeltzer, 2001).

G. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM POKJA RS
Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah diantaranya :
1. Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient ischemic attack
(TIA).
2. Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut (IMA).
3. Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
4. Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen Fakultas kedokteran USU,
Abdul Madjid (2004), meliputi :
1. Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan
menentukan adanya kerusakan organ dan factor resiko lain atau mencari penyebab
hipertensi. Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium,
natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, HDL, LDL
2. Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP (dapat
mengidentifikasi hipertensi, sebagai tambahan dapat dilakukan pemerisaan lain, seperti
klirens kreatinin, protein, asam urat, TSH dan ekordiografi.
3. Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose (DM) kalium
serum (meningkat menunjukkan aldosteron yang meningkat), kalsium serum (peningkatan
dapat menyebabkan hipertensi: kolesterol dan tri gliserit (indikasi pencetus hipertensi),
pemeriksaan tiroid (menyebabkan vasokonstrisi), urinanalisa protein, gula (menunjukkan
disfungsi ginjal), asam urat (factor penyebab hipertensi).
4. Pemeriksaan radiologi : Foto dada dan CT scan
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas dan Istirahat
Gejala : kelemahan, keletihan, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2. Sirkulasi
Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit
serebrovaskular. Episode palpitasi, perspirasi.
Tanda : kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk
menegakan diagnosis). Hipotensi postural (mungkin berhubungna dengan regimen
obat ). Nadi : denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis ; perbedaan denyut
seperti denyut femoral melambat sebagai kompensasi denyutan radialis atau
brakialis; denyut popliteal, tibialis posterior, pedalis tidak teraba atau lemah.
Frekuensi/irama : takikardia berbagai disritmia. Bunyi jantung : terdengar S2 pada
dasar ; S3 (CHF dini); S4 (pergeseran ventrikel kiri/hipertrofi ventrikel kiri).
Murmur stenosis valvular. Ekstremitas ; perubahan warna kulit, suhu dingin
(vasokonstriksi perifer) ; pengisian kapiler mungkin melambat /tertunda
(vasokonstriksi)
3. Integritas ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, atau marah kronik
(dapat mengindikasikan kerusakan serebral). Faktor-faktor stress
multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda : letupan suara hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak.
Gerak tangan empati, otot muka tegang (khusus sekitar mata), gerakan fisik cepat,
pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.
4. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti, infeksi/obstruksi atau riwayat
penyakit ginjal dimasa lalu).
5. Makanan dan Cairan
Gejala : makanan yang disukai, yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak,
tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng, keju, telur); kandungan tinggi
kalori. Mual, muntah. Perubahan berat badan akhir-akhir ini
(meningkat/menurun).
Tanda : berat badan normal atau obesitas. Adanya edema (mungkin umum atau tertentu);
kongesti vena; glukosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah diabetik)
6. Neurosensori
Gejala : keluhan pening/pusing. Berdenyut. Sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun
dan menghilang secara spontan stelah beberapa jam ). Episode kebas/kelemahan
pada satu sisi tubuh. Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur).
Tanda : status mental : perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir,
atau memori (ingatan). Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan
dan /atau reflex tendon dalam. Perubahan-perubahan retinal optik: dari
sklerosis/penyempitan arteri ringan sampai berat dan perubahan sklerotik dengan
edema atau papiledema, eksudat, dan hemoragi tergantung pada berat/lamanya
hipertensi.
7. Nyeri dan ketidaknyamanan
Gejala : angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung). Nyeri hilang timbul pada
tungkai/klaudasi (indikasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah). Sakit
kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Nyeri
abdomen/massa (feokromositoma)
8. Pernafasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja. Takipnea, ortopnea, dispnea
nokturnal paroksismal. Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat
merokok.
Tanda : distress respirasi/penggunaan otot aksesori pernapasan. Bunyi napas tambahan
(krekles/mengi). Sianosis.
9. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan. Episode parestesia unilateral transien. Hipotensi
posturnal.
10. Pembelajaran dan Penyuluhan
Gejala : faktor-faktor risiko keluarga :hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM,
penyakit serebrovaskular/ginjal.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru akibat oedem paru
2. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan penurunan suplai oksigen otak
3. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokontriksi
pembuluh darah
4. Nyeri akut / kronis berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral dan iskemia
miokard
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum dan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen
7. Gangguan persepsi sensori : penglihatan berhubungan dengan penekanan saraf optikus
8. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran , penglihatan ganda ( diplopia )
9. PK : Gagal Jantung
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta : EGC
Chung, E.K. 1995. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh
Petrus Andryanto, Jakarta : EGC
Doenges,M. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC
Gunawan, Lany. 2001. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit
Kanisius
Marvyn, Leonard. 1995. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta :
Penerbit Arcan
NANDA.2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: definisi dan Klasifikasi.
Jakarta : EGC.
NANDA, 2007-2008. Diagnosa Nanda (Nic & Noc), Disertai Dengan Discharge Planning.
Price, S, A. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 volume 1.
Jakarta ; EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta :EGC
Sobel, Barry J, et all.1999. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi, Jakarta :
Penerbit Hipokrates
Tom, S. 1995. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta
: Arcan
Peter.S. 1996. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta : Arcan.
Tucker, S.M, et all . 1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan
evaluasi , Edisi V, Jakarta : EGC
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. M.G

DENGAN KASUS HIPERTENSI DI KELURAHAN OLUHUTA

KECAMATAN KABILA KABUPATEN BONEBOLANGO

A. DATA UMUM

1. Identitas Kepala Keluarga


Nama KK : Tn. M.B
Umur : 51 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Suku : Gorontalo
Alamat : Kel. Oluhuta, Kec. Kabila, Kab. Bonebolango
2. Komposisi Keluarga :
Hub.
No Nama L/P Umur Pekerjaan Pendidikan
Keluarga
1 Ny. M.G P 61 Thn Istri IRT SD
2 Nn. P.B P 20 Thn Anak Mahasiswa D3

3. Genogram

a. Keterangan :
: Laki-laki : Klien

: Perempuan ------ : Tinggal Serumah

X : Meninggal
b. Keterangan Genogram

Bapak dan ibu klien meninggal karena hipertensi. Saudara kedua klien meninggal
karena hipertensi dan saudara keempat klien meninggal tanpa diketahui penyebabnya.
Klien tinggal bersama suami dan putri tunggalnya.

4. Tipe Keluarga
Tipe keluarga Ny. M.G yaitu Nuclear Family (keluarga inti) yang terdiri dari suami,
istri anak kandung.
5. Suku Ayah
Keluarga Ny. M.G merupakan penduduk asli Gorontalo.
6. Agama
Seluruh anggota keluarga beragama Islam dengan keyakinan yang dianut keluarga
menganggap kesehatan merupakan anugerah Tuhan.
7. Status Sosial Ekonomi Keluarga
a. Pendapatan Keluarga Satu Bulan : Rp. 2.000.000
b. Pengelola Keuangan Keluarga : Ny. M.G sebagai ibu dan istri
c. Bagaimana Pandangan keluarga terhadap pendidikan anggota keluarga :
Keluarga menganggap pendidikan itu sangat penting.
d. Adalah nilai dan keyakinan yang bertentangan dengan kesehatan :
Keluarga tidak memiliki nilai dan keyakinan yang bertentangan dengan
kesehatan.
8. Aktifitas Rekreasi keluarga
a. Kebiasaan rekreasi dalam keluarga
Tempat rekreasi yang sering di kunjungi di pantai
b. Bagaimana keluarga menggunakan waktu senggang
Keluarga menggunakan waktu senggang dengan cara melakukan kegiatan sehari-
hari di rumah seperti membersihkan rumah dan kegiatan lainnya .

B. RIWAYAT PERKEMBANGAN
1. Tahap Perkembangan Saat ini
Tahap perkembangan keluarga saat ini memasuki tahap perkembangan keluarga
menghadapi masyarakat.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Ny. M.G dan keluarga ingin masalah kesehatan yang dihadapi saat ini dapat kembali
normal dan sembuh sehingga dapat menikmati hidup dalam keluarga secara sehat
jasmani dan rohani.
3. Riwayat keluarga Inti
Ny. M.G mengalami hipertensi sudah sejak tahun 2007. Ny. M.G mengonsumsi obat
amlodipine 1 x 1 pagi. Klien mengeluh sering merasa nyeri pada dada dan pangkal
leher. Nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk. Skala nyeri 8. Dan apabila nyeri
timbul akan berlangsung kurang lebih 1-2 jam. Klien mengikuti kegiatan prolansi
didaerah tersebut. BB klien 60 Kg, TD 180/100 mmHg, RR 22x/mnt, N 80x/mnt dan
SB 36,5oC.
4. Riwayat keluarga sebelumnya
Ny. M.G berusia 61 tahun, anak ke 3 dari 9 bersaudara. Memiliki 1 orang anak.
Kakak ke 2 dari Ny M.G yakni Tn. L.G pernah mengalami penyakit hipertensi yang
menyebabkan struk dan sudah meninggal dunia. Begitu pula dengan saudara ke 4
Ny. M.G memiliki penyakit hipertensi dan telah meninggal dunia. Ke 2 orang tua
Ny. M.G telah meninggal dunia akibat penyakit hipertensi.

C. LINGKUNGAN
1. Karakteristik rumah :
a. Jenis Rumah : Rumah berlantai tembok semen
b. Jenis Bangunan : Permanen
c. Luas Bangunan : 15 x 12 m2
d. Luas Pekarangan : 3 x 3 m2
e. Status Kepemilikan Rumah : Rumah Pribadi
f. Kondisi Ventilasi Rumah : Tersedia ventilasi yang memenuhi syarat
g. Kondisi Penerangan Rumah : Terdapat lampu disetiap ruangan
h. Kondisi pencahayaan Rumah : Terdapat jendela diruang tamu, kamar dan
ruang keluarga, sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah.
i. Kondisi Lantai : Lantai rumah menggunakan keramik
j. Kebersihan Rumah secara Keseluruhan : Rumah klien nampak bersih
secara keseluruhan
k. Bagaimana pembagian ruangan ruangan di rumah : Jumlah kamar yakni 3
kamar, terdapat ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, kamar mandi,
teras, gudang
l. Pengelolaan sampah keluarga : Sampah dibuang ditempat sampah
kemudian dibakar
m. Sumber air bersih dalam keluarga : SAB dalam keluarga menggunakan
DAP
n. Kondisi jamban Keluarga : Jamban yang digunakan berada didalam
rumah.
o. Pembuanugan Limbah Keluarga : Terdapat septic tank dibelakang rumah
klien

Denah Rumah

TERAS

GARASI KAMAR I

RUANG
TAMU
GUDANG
KAMAR
II

KAMAR 3 KAMAR
MANDI

DAPUR TEMPAT
JEMURAN
2. Karakteristik tetangga dan Komunitas RW
Tetangga Ny. M.G merupakan penduduk asli Gorontalo, keluarga Ny. M.G memiliki
komunikasi yang baik dan terbuka dengan tetangganya. Tidak ada budaya yang
khusus mempengaruhi pandangan keluarga terhadap kesehatan dan tidak ada
pantanga dalam makan.
3. Mobilisasi Geografis Keluarga
Keluarga Ny. M.G tidak pernah berpindah tempat tinggal, dari dulu hingga sekarang
rumah yang ditempati Ny. M.G sama.
4. Perkumpulan Keluarga dan interaksi di masyarakat
Keluaga bergaul dekat dengan para tetangga.
5. Sistem Pendukung Keluarga
Keluarga mempunyai kartu jamkesmas untuk menunjang kesehatan.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Komunikasi Keluarga
Kebanyakan penduduk sekitar merupakan penduduk asli gorontalo dan bahasa yang
di gunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa gorontalo. Keluarga berkomunikasi
antar keluarga dan berkunjung langsung ke rumah keluarga yang lain karena rumah
saling berdekatan.
2. Struktur Kekuatan Keluarga
Jika ada masalah dalam keluarga, keluarga berusaha untuk mengatasinya. Misalnya
untuk pengeluaran uang untuk kebutuhan sehari-hari di bicarakan dengan anggota
keluarga yang lain.
3. Struktur Peran
a. Tn. M.B sebagai kepala keluarga bertanggung jawab apabila terdapat masalah
yang ada. Tn. M.B mancari nafkah dengan cara bekerja sebagai wiraswasta.
b. Ny. M.G sebagai istri dari Tn. M.B bertanggung jawab untuk membantu dalam
hal urusan rumah tangga. Ny M.G sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga.
c. Nn. P.B sebagai anak dari Tn M.B dan Ny. M.G masih duduk di bangku kuliah.
4. Struktur Nilai dan Norma Budaya
Tidak ada adat dan budaya yang khusus yang mempengaruhi pandangan keluarga
terhadap kesehatan dam tidak ada pantangan dalam makanan.
E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
 Gambaran diri
- Tn. M.B merasa puas dengan kemampuan dirinya. Tn. M.B dapat menafkahi
keluarganya. Dalam keluarga Tn. M.B saling terbuka dalam komunikasi dan
saling menghargai satu sama lain antara anggota keluarga .
- Ny. M.G merasa cemas dengan keadaan yang di alaminya. Namun hal itu tidak
membuat beliau putus asa.
- Nn. P.B merasa bangga menjadi bagian keluarga dari Tn. M.B dan Ny. M.G.
Nn P.B selalu berusaha untuk dapat membanggakan kedua orang tuanya.
2. Fungsi Sosialisasi
Keluarga bergaul dekat dengan para tetangga dan menjalin hubungan dengan
anggota keluarganya atau sanak saudaranya.
3. Fungsi Perawatan Keluarga
Ny. M.G sudah lama menderita hipertensi dan suaminya berusaha mengatasinya
dengan membawanya berobat ke puskesmas terdekat serta minum obat secara teratur
dan mengurangi stres, dan mengatur pola makan. Keluarga menyediakan makanan
sesuai dengan penghasilan keluarga, menggunakan pakaian sederhana, pengetahuan
keluarga mengenai sehat cukup, di tandai dengan bisa membedekan mana keluarga
yang sehat dan sakit. Keluarga kurang memodivikasi lingkungan, di tandai dengan
halaman rumah tidak di maanfaatkan dengan baik.

F. STRES DAN KOPING KELUARGA


1. Stres jangka pendek
Bila ada anggota keluarga yang sakit sebagian biaya yang di pakai untuk kebutuhan
keluarga terpaksa di gunakan untuk mencukupi biaya anggota keluarga yang sakit.
2. Stres jangka panjang
Penghasilan keluarga hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
3. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah
Keluarga Ny. M.G berusaha menghadapi kesulitan dari masalah dengan sabar dan
tetap berusaha sesuai kemampuan yang ada.
4. Strategi koping yang digunakan
Bila ada masalah keluarga akandi bicarakan bersama-sama dan memecahkannya
secara musyawarah, tiap anggota keluarga bebas mengungkapkan pendapatnya.
Pengambilan keputusan oleh Tn. M.B dan Ny. M.G di bantu anggota keluarga yang
lain.
5. Strategi adaptasi disfungsional
Ny. M.G sudah lama mengalami hipertensi namun tidak mengonsumsi obat
hipertensi sejak pertama kali mengalaminya. Setelah mulai konsumsi obat
hipertensi, klien tidak rutin. Klien hanya konsumsi obat pada saat tekanan darah
naik. Tetapi sudah berapa bulan terakhir, semenjak pergi ke dokter, klien sudah rutin
mengonsumsi obat darah tinggi setiap harinya.

G. HARAPAN
Klien dan keluaga berharap semoga penyakit yang di derita klien bisa sembuh dan selalu
dapat diberikan kesehatan dalam keluarga , kerukunan, keselamatan dan selalu
dimudahkan dalam rejeki.
ANALISA DATA

NO DATA MASALAH
1. DS : Nyeri akut b.d peningkatan tekanan
- Klien mengatakan nyeri vaskuler serebral
P : Nyeri hilang timbul
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : Nyeri pada dada dan
pangkal leher
S : Skala nyeri 8
T : Apabila nyeri timbul akan
berlangsung kurang lebih
- Klien mengatakan mempunyai
riwayat hipertensi
DO :
- KU lemah
- TD : 180/100 mmHg
- Klien nampak meringis
-
2. DS : Ansietas b.d proses penyakit
- Klien mengatakan cemas
dengan keadaannya
- Klien mengatakan susah tidur
- Klien mengatakan malas makan

DO :
- klien nampak cemas
- klien nampak pucat
- klien nampak gelisah
4. IMPLEMENTASI

DIAGNOSA
HARI/TGL JAM IMPLEMENTASI
KEP.
1 Jumat, - Melakukan pengkajian nyeri secara
07-09-2018 komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik,durasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi d/h
P : Nyeri hilang timbul
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : Nyeri di dada dan pangkal leher
S : Skala nyeri 8
T : Apabila nyeri timbul akan berlangsung
kurang lebih 1-2 jam
- Menggunakan komunikasi terapeutik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
klien.
- Mengontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri.
- Mengajarkan tehnik non farmakologi
- Melibatkan keluarga dalam melakukan
perawatan pada klien
- Menganjurkan klien untuk memeriksakan
kesehatan secara berkala apabila muncul
keluhan
2 Jumat, - Mengidentifikasi tingkat kecemasan
07-09-2018 - Menggunakan pendekatan yang
menenangkan.
- Membantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan.
- Mendorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan , persepsi.
- Menginstruksikan klien menggunakan
teknik relaksasi.
- Mendengarkan denga penuh perhatian.