Vous êtes sur la page 1sur 19

LAPORAN PENDAHULUAN

PARTUS NORMAL

DI RUANG AL FARABI / RSIB

OLEH:

DEWI CHINTIYA

NPM 1714201110069

PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

TAHUN 2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA MAHASISWA : DEWI CHINTIYA

NPM : 1714201110069

JUDUL LP : PARTUS NORMAL

BANJARMASIN, 30 JANUARI 2019

PRESEPTOR AKADEMIK PRESEPTOR KLINIK

............................................... .................................................

Kristina Yuniarti.,Ns.M.Kep Hilda Mariana, S.Kep.,Ns


LAPORAN PENDAHULUAN

PARTUS NORMAL RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN

1. Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


Sistem Reproduksi wanita mencakup Ovarium, tuba uterin, uterus, vagina,
vulva, dan payudara. Kesemua Organ-organ ini menghasilkan gamet wanita (ovum)
dan hormone. Struktur tersebut merupakan gudang bagi semen pria. Merupakan
sarang tempat bagi ovum yang dibuahi untuk tumbuh menjadi infan, dan ASI untuk
bayi yang baru lahir
1.1. Ovarium
Kelenjar seks primer wanita adalah dua buah ovarium. Besar keduanya
adalah sebesar buah almond dan terletak pada masing-masing sisi dari uterus, di
bawah dan belakang tuba uteri. Ovarium di pertahankan pada tempatnya oleh
ligament, melalui ligament tersebut ovarium mendapatkan persarafan dan suplai
darah. Ovarium mengandung kantung sekretorius kecil, atau folikel, terbenam
dalam jaringan penunjang. Masing-masing folikel mengandung ovum yang
matang dan ovum tersebut di keluarkan dari ovarium kedalam rongga pelvis
melalui suatu proses yang disebut ovulasi.Ovarium juga menghasilkan dua
hormone utama wanita progesterone dan estrogen.
1.2. Tuba Uterin
Kedua tuba uterin (juga disebut fallopi atau oviduk) adalah struktur
muscular dengan panjang hampIr mencapai 5 inci yang dilekatkan pada salah
satu sisi korpus atas uterus. Tuba ini membawa ovum ke uterus melalui
perpaduan dari gerakan peristaltik dan silia yang terdspat pada tuba. Tidak
terdapat hubungan langsung antara ovarium dan tuba uterin, tetapi tonjolan-
tonjolan yang menyerupai jari jari yang disebut fimbrae memanjang dari ujung
tuba. Gerakan fimbrae menyebabkan arus dalam cairan peritoneal yang
menyapu ovum ke dalam tuba, yang membutuhkan waktu sekitar 5 hari untuk
sampai ke uterus.
Bila sperma yang berenang bebas menjalar samoai ke tuba dan ovum
bergerak kearah tuba, mungkin terjadi pembuahan di mana saja keduanya
bertemu . Biasanya ovum yang telah di buahi melanjutkan perjalanan sampai ke
dalam rongga uterus sebelum membenamkan diri ke dalam dinding uterus, ini
di sebut kehamilan tuba. Jarang terjadi , ovum yang telah dibuahi gagal untuk
menemukan jalan masuk ke dalam tuba dapat melekatkan dirinya pada rongga
peritoneum hal ini menyebabkan kehamilan abdominal. Kehamilan di luar tuba
uterus dikenal sebagai kehamilan ektopik atau kehamilan ekstrauterin.
1.3. Uterus
Uterus adalah suatu kubah, yang berbentuk buah pear, Organ Muskular
berukuran hampir segenggaman. Uterus umumnya menjorok kedepan atau
antefleksi, dan terletak di dalam pelvis di antara kandung kemih dan rectum.
Uterus tertahan di tempatnya oleh ligamentum
a. Ligamentum latum melekat pada kedua sisi uterus pembuluh darah uterin
dan persarafan melewati ligamentum tersebut
b. Ligamentum uterosakralis menghubungkan uterus ke sacrum pada kedua
sisi rectum.
c. Ligamentum Kardinale memanjang di bawah dasar ligamentum mayor dan
menahan uterus sehingga tidak jatuh ke dalam vagina
d. Ligamentum teres memanjang dari uterus dekat tuba uterin melewati kanalis
inguinalis sampai labia mayora.
Uterus dibagi menjadi tiga area :
a. bawah, bagian terkecil yang disebut leher atau serviks
b. bagian sentral yang disebut badan atau korpus
c. Bagian atas, bagian yang membulat yang disebut fundus, merupakan bagian
atas tempat tuba uterin memasuki uterus.
Dua buah perpanjangan uterus ke dalam mana tuba uterin terbuka disebut
sebagai tanduk atau kornus. Serviks dibagi menjadi tiga bagian :
a. Ostium internus, yang terbuka ke dalam uterus
b. Ostium eksternus, yang terbuka ke dalam vagina
c. Kanalis serviksalis merupakan bagian di antara ostium.
Bagian luar uterus di tutupi oleh jaringan ikat yang disebut perimetrium.
Permukaan dalamnya, yang di sebur endometrium, dibentuk dari jaringan
sekretorius yang mengandunf pembuluh darah dan kelenjar. Endometrium
merupakan lapisan yang rontok setiap bulan pada saat menstruasi. Dinding
uterus yang disebut myometrium, merupan bagian terbesar dari tiga lapisan
lainnya.
Dinding tebal dari myometrium terbentuk dari jalinan serat-serat otor
yang tumbuh dan meregang karena perubahan uterus selama kehamilan. Serat
dari lapisan dalam menjalar dengan arah sirkuler, bagian dari lapisan tengahnya
menjalar dalam pila angka delapan, dan lapisan bagian terluar menjalar dalam
arah melebar. Karena pembuluh darah dari uterus melalui pola jalinan ini.
Kontraksikan serat-serat setelah melahirkan menyebabkan kontekasi pembuluh
darah dan mengendalikan pendarah uterus.
1.4. Vagina
Vagina adalah suatu kanal muscular membranosa dengan panjang
sekitar 7,62 cm yang menghubungkan uterus dan vulva. bagina menerima penis
dan semen pada pada saat koitus, mengeluarkan aliran menstruasi, dan
membentuk saluran tempat terjadinya kelahiran. Serviks menjorok ke bawah ke
dalam vagina bagian atas sehingga terbentuk ruang di antara serviks dan
dinding vagina.. Ruang ini disebut fornikus, dan merupakan yang terdalam.
Fornikis Posterior, ditemukan di belakang serviks. Dinding vagina memiliki
banyak lipatan, atau tugae, yang memungkinkan terjadinya peregangan selama
koitus dan kelahiran anak.
1.5. Dasar pelvik
Dasar velvik dibentuk oleh beberapa lapisan otot, termasuk kelompok
spinter dan elevator ani. Secara relative spinter lemak, otot seperti lingkaran
yang berdekatan dengan ostium bagina luar, rectum dan meatus urinarius.
Sebgai catatan adalah m.bulbokavernosus, yang mengelilingi vagina bersama
dengan spinker eksternal, otot ini memberikan bentuk lingkar delapan dari
vagina dan rectum. Kelopok levelator ani yang kuat termasuk otot
pubokoksigeal, iliokoksigeal, dan puborektal. Otot-otot ini disebut dengan
diafragma pelvik membentuk gantungan di atas tempat uterus vagina, rectum
dan kandung kemih di tahan oleh ligamentum dan fasia.
1.6. Vulva
Genetalia eksterna wanita di sebut vulva termasuk mon pubis, labia
majora, labia minora, klitoris, vestibula, dan perineum. Saling berhubungan dan
terletak dekat dengan meatus urinarius ostium vagina,rectum, dan kelenjar
Bartholin’s dan Skene’s.
a. Mons pubis, juga di sebut mons veneris adalah kulit yang di seliputi oleh
lemak membantali ospubikum. Setelah pubertas, rambut halus tumbuh di
atas mons dan bawah di atas labia mayora.
b. Labia mayora, atau bibir besar, adalah lipatan kulit yang besar dan
jaringan lemak yang memanjangan ke arah belakang dan ke bawah mons
sampai sekitar 1 inci dari rectum. Rambut dan kelenjar sebasea terletak
pada kulit ini kadang-kadang terjai infeksi yang menenai kelenjar ini
sangat sakit dan sukar sembuh membutuhkan pengobatan medis yang
intensif
c. Labia minora, atau bibir kecil, terletak di antara labia mayora. Ke dua
lipatan kulit kecil memanjang ke belakang dari klitoris. Bibir ini tidak
memiliki rambut tetapi memiliki banyak kelenjar.
d. Klitoris, adalah korpus panjang kecil dari jaringan erectile terletak tepat di
atas sudut anterior labia monira merupakan organ yang serupa penis pada
pria. Klitoris memberikan respons terhadap rangsangan seksual dan sekresi
dan kemungkinan besar merupakan area yang paling erotis dari tubuh
wanita
e. Vestibula adalah ruang segitiga di antara blabia utera, vagina, dan kelenjar
barthilon’s terbuka ke dalam vestibula
f. Duktus dari kedua kelenjar skene’s mengalirkan sekresinpelumas melalui
ostium pada masing masing meatus urinarius.
1.7. Kelenjar Mama
Kelenjar mama atau payudara (buah dada) adalah pelengkapan pada
organ reproduksi wanita dan mengeluarkan air susu. (pada laki-laki kelenjar ini
rudimenter). Buah dada terlrtak dalam fasia superfifialis di daerah pectoral
antara sternum dan aksila dan melebar dari kira-kira iga kedua atau ketiga
sampai iga ke enam atau ke tujuh. Berat dan ukuran buah dada berlain-lainan
pada masapubertas membesar dan bertambah besar selama hamil dan sesudah
melahirkan dan menjadi atrofik pada usia lanjut.
Bentuk buah dada cembung ke depan dengan puting ditengahnya yang
terdiri atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua. Putting ini dilingkari
daerah berwarna coklat yang di sebut areola. Dekat dasar putting terdapat
kelenjar sebaseus yaitu kelenjar Montgomery, yang mengeluarkan zat lemak
supaya putting tetap lemas. Putting berlubang lubang 15 sampai 20 buah, yang
merupakan saluran dari kelenjar susu
Struktur buah dada terdiri atas bahan kelenjar susu atau jaringan alveolar
tersusun atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh jaringan ikat dan jaringan
lemak. Setiap lobules terdiri atas sekelompo alveolus yang bermuara ke dalam
ductus laktiferus (saluran air susu) yang bergabung dengan ductus-duktus
lainnya yang membentuk saluran yang lebih besar dan berakhir dalam saluran
sekretorik. Krtika saluran-saluran ini mendekat putting, membesar untuk
membentuk wadah penampungan air susu yang disebut sinus laktiferus
kemudian saluran-saluran itu menyempit lagi dan menembus putting dan
bermuara di atas permukaannya
Sejumlah besar lemak ada di dalam jaringan pada permukaaan buah
dada, dan juga di antara lobus. Saluran limfe banyak dijumpai. Saluran limfe
mulai sebagai pleksus dalam ruang interlobular jaringan kelenjar, bergabung
dan membentuk saluran lebih besar, yang berjalan kea rah kelompok pectoral
kelenjar aksiler, yaitu kelenjar mama bagian dalam dan kelenjar
supraklavikuler. Persediaan darah di ambil dari cabang arteria aksilaris,
interkostalis dan mama intrana, dan pelayanan persarafan dari saraf saraf kutan
di dada.
2. Definisi Partus Normal ( Intranatal )
Persalinan adalah suatu proses dimana fetus dan plasenta keluar dari uterus, di
tandai dengan peningkatan aktifitas myometrium ( frekuensi dan intensitas kontraksi)
yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks serta keluarnya lendir darah
(show) dari vagina.
Proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42
minggu),tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
Persalinan normal yaitu suatu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan
yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan persentasi
kepala (posisi belakang kepala),dari rahim ibu melalui jalan lahir (baik jalan lahir
lunak maupun jalan lahir kasar ),dengan tenaga ibu itu sendiri.

3. Etiologi Partus Normal


Apa yang menyebabkan partus belum di ketahui benar benar yang ada hanyalah
merupakan teori-teori yang komplek antara lain :
a. Faktor Hormon
b. Struktur Rahim
c. Pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi.
Awal terjadinya persalinan di ikuti oleh perubahan-perubahan morfologik dan
biokimia di dalam tubuh ibu hamil. Khususnya di dalam jaringan uterus untuk
mempersiapkan terjadinya kontraksi yang kuat dan terkoordinasi.Perubahan yang
terjadi pada uterus dapat kita lihat antara lain : perlunakan dan pematangan serviks,
perkembangan gap junction di antara sel-sel myometrium, peningkatan jumlah
reseptor oksitosin pada myometrium dan peningkatan reseptor kontraktif dari
myometrium terhadap uterotinim
Proses persalinan di mulai saat stimulus hormone dilepaskan yang merangsang
pembentukan uterotonim dan uterotropin. Hormon yang paling berkompeten
terhadap uterotonin ini adalah prostaglandin, oksitosin, angiotensis II, arginine
vasopressin dan bradykinin. Beberapa uterotonim ini di produksi dalam jaringan
intrautenin seperti desidua uterus dan mempran janin ekstraembrionik yang
merupakan jaringan sangat potensial enzimatik untuk pembentukan PGE2 dan
PGF2a. Sejumlah agen bioaktif yang di produksi dalam jaringan-jaringan ini,
berkumpul di dalam cairan amnion selama proses persalinan. Pengaturan dan
pembentukan gap junction merupakan factor yang cukup penting dalam proses
persalinan.
Beberapa poltulat seperti PGE2, PGF2a dan tromboksan dan mungkin
endoperoksida, merangsang pembentukan gap junction pada kehamilan cukup bulan
pada setiap sel dan selama proses persalinan sehingga jumlah dan ukurannya
semakin meningkat.
Oksitosin merupakan suatu uterotonin yang sangat paten berpenaruh dalam
mempermudah terjadinya kontraksi uterus pada kala dua persalinan, Sedangkan
peran janin dalam inisiasi persalinan yaitu dalam penarikan agen pemeliharaan
kehamilan melalui plasenta sebagai system komunikasi janin-ibu. Dimana plasenta
mengalami pengapuran di saat kehamilan matur. Jalur alternative lain komunikasi
janin yaitu melalui pari-paru janin atau ginjal, lewat sekresi atau ekresi yang
memasuki cairan amnion. Informasi ini menunjukan janin sudah matur dan implus-
implus tersebut dihantarkan oleh syaraf-syaraf aferen ke hipotalamus. Mekanisme
tersebut mengontrol pengeluaran hormonal melalui control umpan balik positif.

4. Patofisiologis Partus Normal


Kehamilan ( 37 – 42 Minggu )

Tanda-tanda inpartu

Proses Persalinan

Kala 1 Kala II Kala III Kala IV

Kontraksi Uterus Partus Pelepasan Plasenta Post

Nyeri Kerja Jantung Resiko Pendarahan Resiko Pendarahan


Kelelahan Devisit Volume Cairan Resiko Infeksi

Gangguan Respirasi

Proses Persalinan

4.1. Kala 1 : dimulai dengan pembukaan persalinan dan memiliki tiga fase
a. Fase Pasif
a) Pembukaan serviks 0 cm awal sapai 5 cm akhir
b) Kontraksi tidak teratur dan kemajuan dari teratur menjadi ringan ke
sedang durasi 5 sampai 30 menit terpisah, 30 sampai 45 detik
c) Pembukaan dan penipisan serviks sebagian
d) Pecahnya membrane/ketuban secara spontan atau buatan
e) Ibu banyak berbicara dan bersemangat
b. Fase aktif : Tahap 1 berakhir 8 sampai 20 jam primigravida atau 2 sampai
14 jam multigravida setelah mencapai fase ini
a) Pembukaan serviks 4 cm ( awal ) sampai 7 cm (akhir)
b) Kontraksi tidak teratur
c) Serviks membuka 7 cm
d) Dimulai penurunan janin
e) Ibu menjadi cemas dan gelisah
c. Fase transisi : berakhir saat pembukaan lengkap pada 10 cm
a) Pembukaan serviks 8 sampai 10 cm
b) Kontraksi teratur
c) Ibu lelah, marah dan gelisah dan merasa tidak berdaya
d) Mual muntah
e) Desakan untuk mengejan terjadi
f) Blood show
4.2. Kala II Durasi 30 menit sampai 3 jam untuk primigravida dan 5 sampai 30
menit untuk multigravida dimulai dengan pembukaan penuh dan di akhiri
dengan pelepasan plasenta.
a. Mengejan berhenti saat kelahiran janin. Pada kelahiran normal posisi kepala
janin bergerak melalui lengkungan, rotasi internal, perpanjangan, restitusi,
dan rotasi eksternal, kemudian pengeluaran dengan paksa dari tubuh
b. Fleksi kepala
c. Rotasi Internal
d. Ekstensi
e. Restitusi dan rotasi eksternal
f. Ekspulsi/pengeluaran
4.3. Kala III Durasi 3 sampai 30 menit primigravida di mulai dengan lahirnya
sendiri dan di akhiri dengan pelepasan plasenta
a. Plasenta terpisah dan di keluarkan salah satu dari dua permukaan muncul
lebih dahulu
a) Schulze sisi plasenta janin yang licin muncul lebih dulu
b) Duncan : Sisi plasenta janin yang lembab muncul lebih dulu
4.4. Kala IV Dimulai 1 sampai 4 jam primigravida dimulai dengan pelepasan
plasenta dan di akhiri dengan pertanda stabilisasi organ vital ibu
a. Tanda vital stabil
b. Lochia scant mengalami kemajuan menjadi sedang ke lochia rubra.

5. Manifestasi Klinis Partus Normal


5.1 Gejala Awal
a. Lightening/drapping
Proses terjadinya penurunan bagian kepala janin mesasuki pintu bawah
panggul. Lightening terjadi beberapa minggu atau beberapa jam seblum
persalinan. Penurunan kepala janin biasanya bervariasi waktunya pada
primigravida maupun multigravida. Pada primigravida kepala berangsur pada
kehamilan 36 minggu dan pada multigravida berlangsu pada usia kehamilan
38 minggu proses lightening dipengaruhi oleh adanya peregangan pada
jaringan otot dan bagian persendian tulang pelvis, diameter pelvis anterior
posterior sedikit bertambah luas.
b. Perubahan bentuk perut
Penurunan kepala, berdampak pada fundus uteri. Fundus uteri turun dan
perut tampak melebar ke samping
c. Perubahan Pola berkemih
Terjadi lightening yakni perunun kepala ke dalam rongga panggul akan
menekan kandung kemih yang ada di bagian anterior pangul. Kondisi ini
membuat ibu sering mengalami frekuensi berkemih yang berlebih dan hampir
tidak dapat menahan kontraksi untuk berkemih
d. Braxton hicks
Brakton Hicks diawal kehamilan telah ada, namun semakin usia
kehamilan matur intensitas Braxton hicks semakin kuat dan tidak
menimbulkan nyeri. Kondisi ini dipengaaruhi adanya penekanan kepala janin
di daerah lumbal dan thrakal pada saat kepala janin memasuki rongga
panggul. Faktor lain yakni pengaruh hormon estrogen dan progesterone yang
berkurang di akhir kehamilan sehingga memicu sekresi oksitosin dari
posterior hipofisis. Dengan demikian kontraksi uterus akan muncul yang
diawali dengan Braxton hicks sehingga Braxton hicks sering di sebut dengan
gejala false labor.
e. Pengeluaran mucus vagina
Sekresi serviks meningkat yang dikeluarkan lewat vagina.
Konsentrasinya pada awalnya kental dan berangsur angsur seperti lender.
Dengan demikian serviks mulai mengalami pendataran dan terjadi
pengeluaran plug mucus. Plug mucus adalah yang menutupi kanalis servikalis
dan sering bercampur dengan darah.

5.2 Gejala Inpartu


a. Kontraksi Uterus, Kontraksi berlangsung teratur, Intensitas semakin kuat,
durasinya semakin lama dan semakin sering. Kontraksi ini membuat
myometrium merenggang sehingga membuat ibu merasa tidak nyaman.
b. Pengeluaran, Mucus serviks yang keluar semakin sering, konsistensi encer
dan bercampur dengan darah.
c. Pecahnya ketuban mengeluarkan 500 sampai 1200 cc cairan kuning jernih
tanpa bau busuk, dipastikan dengan kertas nitrazine yang berubah menjadi
biru mengindikasikan alkalinitas air ketuban ( bukan urin asam )
d. Kadang di sertai adaya ketuban pecah dini Kondisi ini belangsung bila ada
masalah pada selaput amnion. Dalam hal ini bukan merupakan gejala
persalinan normal
e. Pada saat pemeriksaan dalam serviks sudah mengalami effacement
(pendataran) dan dilatasi (pembukaan)
f. Turunnya berat badan 0.5 sampai 1,4 Kg
g. Perubahan Gastrointestinal ketidakmampuan mencerna, diare, mual, dan
muntah mungkin terjadi
h. Gelombang energy tinggi tiba-tiba

6. Pemeriksaan Diagnostik
Walaupun kebijakan berbeda dari satu rumah sakit dengan rumah sakit yang
lain, sebagian besar dilakukan pemeriksaan darah dan urin ketika pasien masuk.
Perawat penerima bertanggung jawab terhadap pengumpulan spesimen urin yang
bersih, dan arus tengah. Petugas laboraturium biasanya mengumpulkan darah untuk
pemeriksaan yang diindikasikan pada formulir pemeriksaan laboraturium khusus.
Pemeriksaan urin seperti terlah disebutkan sebelumnya, mungkin dilakukan di ruang
bersalin oleh staf atau di laboraturium pusat. Petugas laboraturium melakukan
pemeriksaan darah, pemeriksaan ini dapat meliputi hemoglobin, Faktor Rh, jenis
penentuan, waktu pembekuan, hitung darah lengkap, dan kadang-kadang
pemeriksaan serologi untuk sifilis.

7. Penatalaksanaan Medis
7.1 Anamnesis
Tujuan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang riwayat
kesehatan, kehamilan dan persalinan. Informasi ini digunakan dalam proses
membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis dan mengembangkan
rencana asuhan atau perawatan yang sesuai.
Tanyakan pada ibu:
 Nama, umur dan alamat
 Gravida dan para
 Hari pertama haid terakhir
 Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu)
 Riwayat alergi obat-obatan tertentu
 Riwayat kehamilan yang sekarang
 Riwayat kehamilan sebelumnya
 Riwayat medis lainnya (masalah pernapasan, hipertensi, gangguan jantung,
berkemih dll)
 Masalah medis saat ini (sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau
nyeri epigastrium bagian atas). Jika ada, periksa tekanan darahnya dan
protein dalam urin ibu.
 Pertanyaan tentang hal-hal yang belum jelas atau berbagai bentuk
kekhawatiran lainnya.
 Dokumentasikan semua temuan.
 Setelah anamnesis lengkap, lakukan pemeriksaan fisik.
7.2 Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan
bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. Informasi dari hasil
pemeriksaan fisik dan anamnesis diramu/diolah untuk membuat keputusan
klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau
keperawatan yang paling sesuai dengan kondisi ibu. Pemeriksaan yang
dilakukan pada pasien dalam persalinan adalah :
 Pemeriksaan fisik secara umum
 Pemeriksaan Abdomen Pemeriksaan abdomen bertujuan untuk: - Menentukan
tinggi fundus - Memantau kontraksi uterus - Memantau denyut jantung janin -
Menentukan letak dan presentasi - Menentukan penurunan bagian terbawah
janin
 Pemeriksaan dalam Periksa dalam memegang peranan penting dalam
penanganan persalinan. Hal yang harus dinilai adalah :  Genitalia eksterna. 
Cairan vagina dan tentukan apakah ada lendir darah, perdarahan per vaginam
atau mekonium. Jika ada perdarahan pervaginam, jangan lakukan pemeriksaan
dalam, jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban.  Nilai
vagina. Luka parut di vagina mengindikasikan adanya riwayat robekan perineum
atau tindakan episiotomi sebelumnya. Hal ini merupakan informasi penting
untuk menentukan tindakan pada saat kelahiran bayi.  Nilai pelunakan serviks,
arah, pembukaan dan penipisan serviks  Pastikan tali pusat dan/atau bagian-
bagian kecil (tangan atau kaki) tidak teraba pada saat melakukan periksa dalam.
 Nilai penurunan bagian terbawah janin dan tentukan apakah bagian tersebut
telah masuk ke dalam rongga panggul, serta keseimbangan kepala panggul. 
Jika bagian terbawah adalah kepala, pastikan penunjuknya (ubun-ubun kecil,
ubun-ubun besar atau fontanela magna) dan celah (sutura) sagitalis untuk
menilai derajat penyusupan atau tumpang tindih tulang kepala dan apakah
ukuran kepala janin sesuai dengan ukuran jalan lahir. Sebelum melakukan
pertolongan persalinan, dilakukan persiapan peralatan, bahan dan obat- obatan
serta persiapan untuk bayi dan ibu yang harus disediakan keluarga.
7.3 Peralatan (partus set) : - 2 buah klem Kelly atau kocher - Lidokain 1% - Klem ½
kocher atau Kelly - Needle holder - Gunting tali pusat - Pinset & jarum -
Pengikat tali pusat steril - Kateter penghisap lendir DeLee - Kateter Nelaton -
Benang catgut 3.0 - Gunting episiotomi - Sarung tangan steril - Kassa dan kapas
steril - Spuit injeksi 2.5 mL dan 5 mL 2. Peralatan penunjang lainnya : - Partograf
- Apron (celemek plastik) - Tensimeter - Perlak plastik untuk alas ibu - Stetoskop
- Kantong plastik - Termometer - Surat rujukan - Sabun, deterjen & sikat kuku -
Larutan desinfektan klorin 0.5% 3. Obat-obatan emergency : - Larutan Ringer
Laktat 500 mL - Ergometrin maleat 0.2 mg 2 ampul - Set infus - Oksitosin 10 U
3 ampul - Kateter intravena ukuran 16-18 G - Magnesium sulfat 40% (10 g dalam
25 mL) 2 vial
7.4 Kala I
Selama kala I, harus dilakukan pemantauan terhadap : 1. Kemajuan persalinan : -
Kontraksi uterus atau his (frekuensi, kekuatan dan durasi). - Dilatasi serviks 2.
Kondisi ibu : - Periksa tensi dan nadi setiap 30 menit. - Status hidrasi. -
Perubahan sikap/ perilaku ibu. 3. Kondisi janin : - Periksa DJJ tiap 15 menit
(lebih sering dengan makin dekatnya kelahiran). - Penurunan presentasi dan
perubahan posisi. - Warna cairan tertentu.
7.5 Kala II
Selama kala II, harus dilakukan pemantauan terhadap : 4. Kemajuan persalinan :
- Kontraksi uterus atau his (frekuensi, kekuatan dan durasi). - Kekuatan hejan ibu
5. Kondisi ibu : - Periksa tensi dan nadi setiap 30 menit. - Status hidrasi. -
Perubahan sikap/ perilaku ibu. 6. Kondisi janin : - Periksa DJJ tiap 5 menit (lebih
sering dengan makin dekatnya kelahiran). - Penurunan presentasi dan perubahan
posisi. - Warna cairan tertentu.
7.6 Kala III
Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama: 1. Pemberian suntikan
oksitosin IM dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir. 23 2. Melakukan
penegangan tali pusat terkendali, agar segera terjadi separasi plasenta. 3. Masase
fundus uteri setelah plasenta lahir.
Prosedur Manajemen Aktif Kala III 1. Letakkan kain bersih di atas perut ibu,
letakkan bayi di perut ibu,pemberian oksitosin, klem tali pusat, Penegangan Tali
Pusat Terkendali.
7.7 Kala IV
Pemantauan kala IV : 1. Ganti baju ibu dengan baju bersih dan kering. Pasang
pispot datar dan lebar pada bagian bokong untuk memantau darah yang keluar. 2.
Tutup perut bawah dan tungkai dengan selimut. 3. Pantau tanda vital, kontraksi
uterus, tinggi fundus, status kandung kemih dan perdarahan tiap 15 menit hingga
2 jam pasca kala III. Lakukan estimasi jumlah perdarahan. 4. Masase uterus
untuk membuat kontraksi uterus tetap baik tiap 15 menit selama 1 jam pertama
dan setiap 30 menit selama jam kedua kala IV. 5. Beri obat-obatan yang
diperlukan dan minum secukupnya. 6. Bila setelah 2 jam kondisi ibu stabil dan
tidak ada komplikasi, pasangkan pembalut dan celana dalam. Pakaikan kain dan
selimuti ibu. Pindahkan ibu ke ruang perawatan dan lakukan rawat gabung
dengan bayinya sesegera mungkin.

8. Diagnosa Keperawatan Partus Normal


8.1 Nyeri Berhubungan dengan Kontaksi Uterus
8.2 Kecemasan berhubungan dengan proses persalinan
8.3 Resiko cedera berhubungan dengan proses persalinan

9. Intervensi Keperawatan Partus Normal


9.1 Nyeri Berhubungan dengan Kontaksi Uterus
Intervensi Keperawatan :
a. Kaji pengalaman nyeri Klien, tentukan tingkat nyeri yang di alami
b. Pantau keluhan nyeri klien
c. Observasi his dan dilatasi serviks
d. Beri kesempatan untuk istirahat
e. Anjarkan tindakan penurunan nyeri non invasive (relaksasi)
a) Relaksasi otot
b) Masase pinggang belakang
c) Bernafas perlahan, teratur atau nafas dalam kepalan tinju menguap
f. Anjurkan mobilisasi semampu klien
g. Beri informasi yang akurat untuk mentolelir rasa sakit
h. Jelaskan alasan mengapa klien dapat mengalami peningkatan penurunan nyeri
9.2 Kecemasan berhubungan dengan proses persalinan
Intervensi Keperawatan :
a. Kaji tingkat dan penyebab kecemasan klien
b. Orientasi pada lingkungan dengan penjelasan sederhana
c. Bicara perlahan dan tenang menggunakan kalimat pendek dan sederhana
d. Beri informasi yang cukup ,mengenai proses persalinan dan persiapannya
e. Beri dorongan untuk mengekspresikan perasaan
f. Beri pendampingan libatkan keluarga
g. Ajarkan teknik relaksasi
a) Bernafas dengan irama lambat
b) Relaksasi : mengendurkan otot dan massage
h. Perlihatkan rasa empati : tenang, menyentuh
i. Singkirkan stimulasi yang berlebihan mis ; menjaga ketenangan lingkungan,
batasi kontak dengan orang lain/ keluarga yang juga mEngalami kecemasan
j. Beri informasi tentang kemajuan persalinan dan motivasi ibu untuk melewati
fase tersebut
9.3 Resiko cedera berhubungan dengan proses persalinan
Intervensi Keperawatan :
a. Orientasi klien baru terhadap lingkungan kamarnya
b. Jelaskan penggunaan bel dan airphone
c. Ajarkan klien lakukan cara persalinan yang benar
d. Kaji dan monitor keadaan janin adanya fetal distress, pengeluaran
pervaginaan (pendarahan dan air ketuban), his, tanda komplikasi, periksa
dalam, tanda vital, kontraksi uterus, kemajuan persalinan, afgar score
e. Lakukan tindakan dan persiapan persalinan yang aman, siapkan peralatan
resusitasi sebelum kala III
f. Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan medis
Daftar Pustaka

Hamilton Mary. 2013. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Ed 6. Jakarta : Buku


Kedokteran EGC

Johnson Joyce Y.2014.Keperawatan Maternitas. Ed 1. Yogyakarta : Rapha Publishing

Kurnia Alen.2010. Gambaran Pengetahuan Bidan Dalam Pelaksanaan Standar Asuhan


Persalinan Normal Di Kecamatan Sukarame Palembang Tahun 2010.Karya Tulis
Ilmiah

Manurung Suryani.2011. Keperawatan Maternitas Asuhan Keperawatan Intranatal. Ed


1. Jakarta : CV.Trans Info Medika

Nugroho Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Badah, Penyakit


Dalam. Ed 1. Yogyakarta : Nuha Medika

Saputra Lyndon.2014. Asuhan Kebidanan Masa Persalinan Fisiologis dan Patologis.


Tanggerang Selatan : Binarupa Aksara Publisher

Pearce Evelyn C.2013. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Ed 39. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama

Y Eric Edwin , Wisnu Prabowo, dkk.2018.Persalinan Normal ( di akses pada web


http://skillslab.fk.uns.ac.id/wp-content/uploads/2018/02/Persalinan-Normal.pdf pada
tanggal 29 Januari 2019 jam 21.16 )