Vous êtes sur la page 1sur 23

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN


BATU SALURAN KEMIH

Dosen Pengampu :
Firdawsyi Nuzula.S.Kp.,M.Kes

Oleh :

Heri Dwi Saputro (14.401.16.038)

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN


AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada studi epidemologi, diketahui bahwa penduduk pria eropa memiliki
prevalensi kejadian urolithiasis 3% dibanding wanita. Pria lebih beresiko daripada wanita
untuk terkena batu saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor utamanya
adalah lifestyle yang tidak sehat, sehingga memicu pembentukan batu, baik bersifat
primer, sekunder maupun tersier. Penduduk daerah dengan geografis yang memiliki
kandungan mineral tinggi menjadikan tingkat prevalensi meningkat sehingga sering
disebut sebagai daerah stone belt (sabuk batu) (Prabowo & Pranata, 2014, p. 111).

Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal)
pada ureter atau daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran
perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan Kristal
yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai
pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik
sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis
ginjal (Nuari & Widayati, 2017, p. 197).
B. Batasan Masalah
Masalah pada pembahasan ini dibatasi pada konsep teori penyakit dan konsep
asuhan keperawatan klien yang mengalami batu saluran kemih.
C. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari batu saluran kemih?
2. Bagaimana etiologi dari batu saluran kemih?
3. Bagaimana tanda dan gejala dari pada batu saluran kemih?
4. Bagaimana patofisiologi dari pada batu saluran kemih?
5. Bagaimana klasifikasi dari batu saluran kemih?
6. Bagaimana komplikasi pada batu saluran kemih?
7. Bagaimana asuhan keperawatan dari batu saluran kemih?

1
D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah proses pembelajaran mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah diharapkan
mahasiswa dapat mengerti dan memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pada
klien dengan batu saluran kemih dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui definisi batu saluran kemih.
b) Untuk mengetahui etiologi batu saluran kemih.
c) Untuk mengetahui tanda dan gejala batu saluran kemih.
d) Untuk mengetahui patofisiologi pada batu saluran kemih.
e) Untuk mengetahui klasifikasi batu saluran kemih.
f) Untuk mengetahui komplikasi pada atu saluran kemih.
g) Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada batu saluran kemih.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Batu saluran kemih (urolithiasis) merupakan obstruksi benda padat pada saluran
kencing yang terbentuk karena factor presipitasi endapan dan senyawa tertentu. Batu
tersebut bisa terbentuk dari berbagai senyawa, misalnya kalsium oksalat (60%), fosfat
(30%), asam urat (5%) dan sistin (1%) (Prabowo & Pranata, 2014, p. 111).
Urolithiasis adalah suatu keadaan terbentuknya batu (calculus) pada ginjal dan
saluran kemih. Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu
seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu dapat ditemukan
di setiap bagian ginjal sampai ke kandung kemih dan ukurannya bervariasi dari deposit
granuler kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang
berwarna oranye (Suharyanto & Majid, 2013, p. 150).
Jadi dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa batu saluran kemih adalah
suatu batu yang sudah terbentuk dari endapan mineral yang berada di kandung kemih,
karena dengan adanya batu tersebut akan membuat saluran kemih menjadi tersumbat
dan akan terhambat, dalam batu kandung kemih mempunyai ukuran yang berbeda-beda
dari ukuran yang kecil sampai besar.

2. Etiologi
a. Peningkatan pH Urine
Peningkatan pH pada urine merangsang kristalisasi pada senyawa-senyawa
tertentu, misalnya kalsium. Pada waktu terjadinya peningkatan pH (basa), maka ion-ion
karbonat akan lebih mudah mengikat kalsium, sehingga lebih mudah terjadinya ikatan
antara kedua. Kondisi inilah yang memicu terbentuknya batu kalsium bikarbonat
b. Penurun pH urine
Jika peningkatan urine bisa menyebabkan pembentukan batu, maka penurunan
pH pun menjadi precursor terbentuknya batu. pH yang rendah (asam) akan
memudahkan senyawa-senyawa yang bersifat asam untuk mengendap, misalnya
senyawa asam urat. Dengan pengendapan asam urat inilah terbentuk batu asam urat

3
c. Kandungan matriks batu tinggi
Ginjal yang berfungsi sebagai tempat filtrasi sangat berisiko untuk terjadi
endapan. Partikel-partikel dalam darah dan urine membersihkan beban kepada ginjal
untuk melakukan filtrasi. Dengan kondisi matriks pembentukan batu yang
konsentrasinya tinggi dalam darah maupun urine, maka proses sedimentasi pada ginjal
akan semakin cepat yang lambat laun akan membentuk.
d. Kebiasaan makan (lifestyle)
Secara tidak disadari, pola hidup utamanya konsumsi makanan memberikan
kontribusi terhadap batu. Sumber makanan yang mengandung tinggi purin, kolesterol,
dan kalsium berpengaruh pada proses terbentuknya batu. Hal ini dikarenakan senyawa-
senyawa tersebut nantinya akan dilakukan proses filtrasi pada ginjal karena sehari-hari
makanan yang telah diserap oleh villi pada mukosa intestinal akan beredar dalam
sirkulasi yang pastinya akan melewati ginjal. Dari sinilah senyawa prekursor tersebut
akan merangsang pembantuan batu.
e. Obat-obatan
Obat-obatan yang mempengaruhi filtrasi ginjal (glomerulus filtration ratel
GFR) maupun yang mempengaruhi keseimbangan asam basa bisa menjadi precursor
terbentuknya batu.
f. Stagnasi urine
Sesuai dengan prinsip cairan, bahwa mobilitas cairan yang rendah akan
mempengaruhi tingkat sedimentasi yang tinggi. Oleh karena itu, hambatan aliran urine
yang diakibatkan berbagai faktor (obstruksi, input inadekuat) bisa meningkatkan resiko
pembentukan batu.
g. Penyakit
Beberapa penyakit seringkali menjadi penyebab terbentuknya batu. Infeksi
saluran kemih sering menjadi pemicu terbentuknya batu yang disebut dengan struvit,
hal ini dibuktikan dengan temuan batu struvit yang merupakan kombinasi dari
magnesium, ammonium dan fosfat pada area-area yang terinfeksi pada saluran kemih.
Hiperkalsemia juga menjadi pemicu terbentuknya batu, karenanya tingginya kadar
kalsium darah. Kondisi asam urat juga bisa menyebabkan terbentuknya batu asam urat
seperti yang dijelaskan di atas.

4
h. Obesitas
Kondisi berat berlebihan (obesity) meningkatkan resiko terbentuknya batu ginjal
sebagai dampak dari peningkatan ekskresi kalsium, oksalat dan asam urat, sehingga
menjadi bahan/matriks pembentukan batu (Prabowo & Pranata, 2014, p. 114).

3. Tanda dan Gejala


Tanda gejala yang timbul berhubungan dengan :
a. Ukuran batu (ukuran batu yang lebih besar cenderung lebih banyak
menimbulkan gejala-gejala)
b. Lokasi batu
c. Obstruksi aliran urine
d. Pergerakan batu (misalnya dari pelvis ginjal ke kandung kemih)
e. Infeksi
Gejala dan tanda utama dari adanya batu ginjal atau uretra adalah serangan nyeri
hebat yang tiba-tiba dan tajam. Berdasarkan bagian organ yang terkena nyeri ini
disebut kolik ureter atau kolik renal. Kolik renal terasa di region lumbal
menyebar ke samping dan ke belakang menuju daerah testis pada laki-laki dan
kandung kencing pada wanita. Kolik uretra terasa nyeri di sekitar genetalia dan
sekitarnya. Saat nyeri ditemukan mual, muntah, pucat, berkeringat, dan cemas
serta sering kencing. Nyeri dapat berakhir beberapa menit hingga beberapa hari.
Nyeri dapat terjadi intermitten yang menunjukkan batu berpindah-pindah. Nyeri
yang disebabkan oleh batu pada ginjal tidak selalu berat dan menyebabkan kolik
kadang-kadang terasa nyeri tumpul, atau terasa berat (Suharyanto & Majid,
2013, p. 155).

4. Patofisiologi
Berbagai kondisi yang menjadi pemicu terjadinya batu saluran kemih menjadi
kompleksitas terjadinya urolithiasis. Komposisi batu yang beragam menjadi faktor
utama bekal identifikasi penyebab urolithiasis. Batu yang terbentuk dari ginjal (renal)
dan berjalan menuju ureter paling mungkin tersangkut pada satu dari tiga lokasi sebagai
berikut :
a. Sambungan pelvik
b. Titik ureter menyilang pembuluh darah illiaka
c. Sambungan ureterovesika

5
Perjalanan batu dari ginjal ke saluran kemih sampai dalam kondisi statis
menjadikan modal awal dari pengambilan keputusan untuk tindakan pengangkatan
batu. Batu yang masuk pada pelvis akan membentuk pola koligentes, yang disebut
sebagai batu staghorn.
Stagnansi batu pada saluran kemih menimbulkan gambaran klinis yang
berbeda-beda. Stagnansi batu yang lama akan menyebabkan berbagai komplikasi,
misalnya hidronephrosis, gagal ginjal, infeksi ginjal, ketidakseimbangan asam basa,
bahkan mempengaruhi beban kerja jantung dalam memompa darah ke sirkulasi
(Prabowo & Pranata, 2014, p. 116).

6
Pathway batu saluran kemih :
Urolithiasis

PenurunanUrine flow Stagnansi Urine Pada VU

IritabilitasUrine
Mukosa Ureter Regangan Otot m. Detrusor Menigkat

Lesi & Inflamasi Sensitifitas Meningkat

Nyeri Akut

Stress Ulcer HCL Meningkat Nausea,


Vomiting

Ketidakseimbangan

Nutrisi: Kurang dari


Kebutuhan Tubuh
Robekan Vaskuler

Hematuria / Gross Hematuria Kebocoran Plasma

Resiko Ketidakseimbangan Volume Absorbsi Nutrient


Cairan Inadekuat

Haluaran Inadekuat

Refluks
Kolonisasi Bakteri
Retensi Urine
Meningkat
Hidronephrosis

Gangguan
Resiko Gangguan Fungsi Ginjal Eliminasi Urine Resiko Infeksi

7
(Prabowo & Pranata, 2014, p. 118).

4. Klasifikasi
a. Batu kalsium
Batu kalsium merupakan jenis batu terbanyak, batu kalsium biasanya terdiri dari
fosat atau kalsium oksalat. Dari bentuk partikel yang terkecil disebut pasir atau kerikil
sampai ke ukuran yang sangat besar “staghorn” yang berada di pelvis dan dapat masuk
ke kaliks
Faktor penyebab batu kalsium adalah :
a) Hipercalsuria (peningkatan jumlah kalsium dalam urin) biasanya disebabkan oleh
komponen :
1. Peningkatan reopsi kalsium tulang, yang banyak terjadi pada hiperparatiroid
primer atau pada tumor paratiroid
2. Peningkatan absorbs kalsium pada usus yang biasanya dinamakan susu-alkali
syndrome, sarcoidosis
3. Gangguan kemampuan renal mereabsorbsi kalsium melalui tubulus ginjal
4. Abnormalitas strukur biasanya pada daerah pelvikalises ginjal
b) Hiperoksaluri : ekresi oksalat urine melebihi 45 gram perhari. Keadaan ini
biasanya dijumpai pada pasien yang mengalami gangguan pada usus sehabis
menjalani pembedahan usus dan pasien yang banyak mengkonsumsi makanan
yang kaya oksalat seperti teh, kopi instan, soft drink, jeruk sintrun, sayuran
berdaun hijau banyak terutama bayam
c) Hipositraturi : di dalam urin sitrat akan bereaksi menghalangi ikatan kalsium
dengan oksalat atau fosfat. Karena sifat dapat bertindak sebagai penghambat
pembentukan batu kalsium. Hal ini dapat terjadi karena penyakit asidosis tubuli
ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretic golongan thiazid dalam
jangka waktu yang lama
d) Hipomagnesuri : magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu
kalsium, karena didalam urin magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi
magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan kalsium oksalat.
b. Batu struvit
Batu struvit dikenal juga dengan batu infeksi karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
kuman golongan pemecah urea atau urea spilitter yang dapat menghasilkan enzim

8
urease dan merubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak.
Suasna ini memudahkan garam-garam magnesium, ammonium fosfat, dan karbonat
membentuk batu magnesium ammonium fosfat (MAP). Kuman-kuman pemecah urea
adalah proteus spp, klabsiella, serratia, enterobakter, pseudomonas, dan stapillokokus
c. Batu Asam Urat
Faktor yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah :
a) Urin yang terlalu asam yang dapat disebabkan oleh makanan yang banyak
mengandung purine, peminum alcohol
b) Volume urin yang jumlahnya sedikit (<2 liter perhari) atau dehidrasi
c) Hiperurikosuri : kadar asam urat melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat yang berlebih
dalam urin bertindak sebagai inti batu untuk terbentuknya batu kalsium oksalat
d. Batu sistin
Cystunuria mengakibatkan kerusakan metabolic secara congetinal yang
mewarisi penghambat atosomonal. Batu sistin merupakan jenis yang timbul biasanya
pada anak kecil dan orang tua.
e. Batu xanthine
Batu xanthine terjadi karena kondisi hederiter hal ini terjadi karena defisiensi
oksidasi xanthine (Nuari & Widayati, 2017, p. 200).

5. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi berupa kerusakan tubular dan iskemik partial
(Suharyanto & Majid, 2013, p. 156).

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengakajian
a. Identitas
Secara anatomis, tidak ada faktor jenis kelamin dan usia yang signifikan
dalam proses pembentukan batu. Namun, angka kejadian urolithiasis dilapangan
seringkali terjadi pada laki-laki dan pada masa usia dewasa. Hal ini dimungkinkan
karena pola hidup, aktifitas, dan kondisi geografis (Prabowo & Pranata, 2014, p. 121).

9
b. Status kesehatan saat ini
1) Keluhan Utama
Keluhan yang sering ditemukan pada pasien dengan urolithiasis adalah nyeri
(pada punggung, panggul, abdominal, lipat paha, genetalia), mual muntah,
kesulitan dalam kencing (Prabowo & Pranata, 2014, p. 121).
2) alasan masuk rumah sakit
Adanya rasa nyeri: lokasi, karakter, durasi, dan faktor yang memicunya
(Suharyanto & Majid, 2013, p. 156).
3) Riwayat Penyakit sekarang
Pada observasi sering ditemukan adanya hematuria (baik secara mikroskopis
maupun gross), oliguria. Kondisi kolik (ginjal atau ureter) biasanya timbul secara
tiba-tiba (mendadak) dengan pemicu yang beragam (aktifitas rendah, input cairan
rendah, pengaruh gravitasi yang tinggi, imobilitas) (Prabowo & Pranata, 2014, p.
121).
c. Riwayat kesehatan terdahulu
1) Riwayat penyakit sebelumnya
Kaji riwayat penyakit sebelumnya, utamanya penyakit yang meningkatkan
resiko terbentuknya batu, misalnya asam urat, hiperkolestrol, hiperkalsemia, dan
lain sebagainya (Prabowo & Pranata, 2014, p. 121).
2) Riwayat penyakit keluarga
Urolithiasis bukan merupakan penyakit menular dan genetik, sehingga tidak
ada pengaruhnya terhadap keluarga yang sebelumnya mengalami batu saluran
kemih (Prabowo & Pranata, 2014, p. 121).
3) Riwayat pengobatan
Adanya riwayat pemakaian diuretic golongan thiazid dalam jangka waktu
yang lama (Nuari & Widayati, 2017, p. 199).
d. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum :
a) Kesadaran : klien dalam keadaan composmentis (Suharyanto & Majid, 2013, p.
163).
b) Tanda-tanda vital
Peningkatan tekanan darah, peningkatan suhu > 37,50C, peningkatan nadi
>100x/menit, dan biasanya RR meningkat (Suharyanto & Majid, 2013, p. 163).

10
2) Body System
a) Sistem pernapasan
Perubahan frekuensi pernapasan dikarenakan nyeri akut (Suharyanto & Majid,
2013, p. 156).
b) Sistem kardiovaskuler
Pasien penderita BSK biasanya mengalami takikardia (Suharyanto & Majid,
2013, p. 167).
c) Sistem persarafan
Pasien mengalami syok karena nyeri yang dirasakan (Suharyanto & Majid, 2013,
p. 164).
d) Sistem perkemihan
Terdapat perubahan pola berkemih, nyeri pada saat miksi, disuria (Suharyanto &
Majid, 2013, p. 163).
e) Sistem pencernaan
Pasien penderita batu saluran kemih biasanya nyeri tekan abdomen pada region 8
dan tidak terdengar bising usus (Suharyanto & Majid, 2013, p. 167).
f) Sistem Integumen
Pasien mengalami kulit pucat dan turgor kulit menurun (Suharyanto & Majid,
2013, p. 163).
g) Sistem muskuloskeletal
Pasien mengalami nyeri (Nuari & Widayati, 2017, p. 213).
h) Sistem Endokrin
Adanya penurunan hormone reproduksi (Nuari & Widayati, 2017, p. 198).
i) Sistem reproduksi
Pasien penderita BSK biasanya merasakan nyeri pada testis (laki-laki) dan nyeri
pada labia mayora (perempuan) (Prabowo & Pranata, 2014, p. 114).
j) Sistem pengindraan
Tidak ada gangguan dalam sistem penginderaan (Suharyanto & Majid, 2013, p.
164).
k) Sistem imun
Tidak ditemukan gangguan imun pada pasien (Suharyanto & Majid, 2013, p.
164).

11
e. Pemeriksaan Penunjang
a) Foto Polos Abdomen
Mendeteksi adanya batu ginjal pada system pelvicalyses, kalsifisikasi
parenkim ginjal, batu ureter, kalsifikasi dan batu kandung kemih (Prabowo &
Pranata, 2014, p. 122).
b) Urografi Intravena
Dengan pemasukan zat kontras 50-100 maka batu ginjal bisa teridentifikasi.
Hal ini akan memperlihatkan pelvicalyses, ureter, dan vesika urinaria (Prabowo
& Pranata, 2014, p. 122).
c) Pielografi Antegrad
Kontras langsung disuntikkan ke dalam system pelvicalyses, sehingga akan
tergambarkan batu (Prabowo & Pranata, 2014, p. 123).
d) Urinalisis
Sering ditemukan adanya hematuria pada urine. Hal ini jika terjadi lesi pada
mukosa saluran kemih karena iritasi dari batu (Prabowo & Pranata, 2014, p.
123).
f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan klinis pada klien urolithiasis bergantung pada letak dan
ukuran batu. Hal ini untuk mempertimbangkan apakah memerlukan tindakan
pembedahan atau cukup dengan mini invasive. Teknologi saat ini sangat
berkembang dan memberikan manfaat yang luar biasa dalam dunia pembedahan.
Meminimalisir tindakan pembedahan sangat menguntungkan pada pasien, baik
secara finansial maupun tingkat pemulihannya. Oleh karena itu, beberapa
tindakan pengangkatan batu dilakukan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir.
Berikut ini penatalaksanaan pada pasien urolithiasis :
a) Simptomatik
Pemberian obat-obatan pelarut batu dilakukan jika ukuran batu tidak terlalu
besar dan tidak terlalu keras. Peluruh batu akan memecah batu lebih kecil,
sehingga bisa diirigasi keluar bersama urine. Minum air putih yang banyak
diperlukan saat irigasi batu. Sehingga frekuensi kencing akan meningkat
dari kualitas dan kuantitas (Prabowo & Pranata, 2014, p. 119).
b) Pembedahan
Pembedahan dilakukan jika ukuran batu besar dan tidak memungkinkan
untuk dikeluarkan dengan tindakan simptomatik maupun litotripsi.

12
pembedahan (lumbotomy) dilakukan dengan memperhatikan letak batu,
sehingga teknik insisi akan mengikuti dari pertimbangan tersebut (Prabowo
& Pranata, 2014, p. 120).
c) Extracorporeal Shock Wave Litripsy (ESWL)
Mekanisme pemeriksaan adalah anda berbaring di mesin khusus yang
menghasilkan gelombang kejut. Gelombang kejut yang dibuat di luar tubuh
dan masuk melalui jaringan kulit dan tubuh sampai mereka berhenti pada
batu yang lebih padat. Batu-batu tersebut terurai menjadi partikel biasanya
dilakukan secara rawat jalan. Waktu pemulihan yang relatif singkat, dan
kebanyakan orang dapat melanjutkan kegiatan normal dalam beberapa hari
kemudian. Namun banyak orang akan melihat ada darah dalam urin mereka
selama beberapa hari setelah perawatan (Nuari & Widayati, 2017, p. 208).
d) Litotripsi ureter
Tindakan ini bisa dilakukan jika batu berada pada sepertiga bawah (URS)
dan diatas saluran ureter. Litotripsi pada batu sepertiga atas ureter dilakukan
dengan mendorongnya terlebih dahulu untuk masuk ke pelvis renalis
sebelum dilakukan litotripsi. Pada kondisi batu ureter pasca operasi,
biasanya dilakukan pemasangan DJ Stent. Hal ini untuk memperlancar
irigasi urine untuk keluar dikarenakan terjadinya inflamasi pada ureter
visceral pasca iritasi batu. Stent akan ditanamkan in situ dalam ureter dalam
beberapa waktu sampai evaluasi hidronephrosis dinyatakan sudah negatif
(Prabowo & Pranata, 2014, p. 120).
e) Litolapaksi Endoskopik
Sebenarnya litotripsi pada batu vesika bisa dilakukan dengan non invasive
melalui uretra. Batu akan dihancurkan dengan menggunakan penghancur
aligator yang dimasukkan melalui dilator dan dibantu optik. Metoda
litolapaksi endoskopik dilakukan melalui sistoskopi kaku melalui kateter
irigasi pascaoperasi (Prabowo & Pranata, 2014, p. 120).

2. Diagnosa Keperawatan
a. Retensi urin
Definisi : pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap
Penyebab :
1. Peningkatan tekanan uretra

13
2. Kerusakan arkus reflex
3. Blok spingter
4. Disfungsi neurologis (mis. Trauma, penyakit saraf)
5. Efek agen farmakologis (mis. Atropine, belladonna, psikotropik, antihistamin,
opiate)
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
1. Sensasi penuh pada kandung kemih
Objektif
1. Disuria/anuria
2. Distensi kandung kemih
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1. Dribbling
Objektif
1. Inkontinensia berlebih
2. Residu urin 150 ml atau lebih
Kondisi klinis terkait
1. Benigna prostat hyperplasia
2. Pembengkakan perineal
3. Cedera medulla spinalis
4. Rektokel
5. Tumor di saluran kemih (SDKI, 2016, p. 115).
b. Gangguan Elimenasi Urin
Definisi : disfungsi elimenasi urin
Penyebab :
1. Penurunan kapasitas kandung kemih
2. Infeksi kandung kemih
3. Penurunan kemampuan menyadari tanda-tanda gangguan kandung kemih
4. Efek tindakan medis dan diagnostik (mis. Operasi ginjal, operasi saluran kemih,
anestesi, dan obat-obatan)
5. Kelemahan otot pelvis
6. Ketidakmampuan mengakses toilet (mis. imobilisasi)
7. Hambatan lingkungan

14
8. Ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan eliminasi
9. Outlet kandung kemih tidak lengkap (mis. Anatomali saluran kemih kongenital)
10. Imaturitas (pada anak usia < 3 tahun)
Gejala dan tanda mayor
Sebjektif :
1. Desakan berkemih (urgensi)
2. Urin menetes (dribbling)
3. Sering buang air kecil
4. Nokturia
5. Mengompol
6. Enuresis
Objektif :
1. Distensi kandung kemih
2. Berkemih tidak tuntas (hesitancy)
3. Volume residu urin meningkat
Gejala dan tanda minor
Subjektif :
1. (tidak tersedia)
Objektif :
1. (tidak tersedia)
Kondisi klinis terkait
1. Infeksi ginjal dan saluran kemih
2. Hiperglikemi
3. Trauma
4. kanker
5. cedera/tumor/infeksi medulla spinalis
6. neuropati diabetikum
7. neuropati alkoholik
8. stroke
9. Parkinson
10. Sklerosis multiple
11. Obat alpha adrenergic

15
Keterangan :
Diagnose ini masih bersifat umum untuk ditegakkan di klinik, sebaiknya
penegakkan diagnosis ini lebih spesifik pada inkontinensia atau retensi, namun
diagnosis ini lebih spesifik pada inkontinensia atau retensi. Namun diagnosis ini
dapat dipergunakan jika perawat belum berhasil mengidentifikasi faktor penyebab
inkontinensia atau retensi urin (SDKI, 2016, p. 97).
c. Nyeri akut
Definisi : pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas
ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan
Penyebab :
1. Agen pencedera fisiologis (mis. Inflamasi, iskemia, neoplasma)
2. Agen pencedera kimiawi (mis. Terbakar, bahan kimia iritan)
3. Agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat
berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan)
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
1. Mengeluh nyeri
Objektif
1. Tampak meringis
2. Bersifat protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)
3. Gelisah
4. Frekuensi nadi meningkat
5. Sulit tidur
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1. (tidak tersedia)
Objektif
1. Tekanan darah meningkat
2. Pola napas berubah
3. Nafsu makan berubah
4. Proses berfikir terganggu
5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri sendiri

16
7. Diaphoresis
Kondisi klinis terkait
1. Kondisi pembedahan
2. Cedera traumatis
3. Infeksi
4. Sindrom coroner akut
5. Glaucoma
Keterangan
*) pengkajian nyeri dapat menggunakan instrument skala nyeri, seperti :
- FLACC Behavioral Pain Scale untuk usia kurang dari 3 tahun
- Baker-Wong-FACES scale untuk usia 3-7 tahun
- Visual analogue scale atau numeric rating scale untuk usia di atas 7 tahun (SDKI,
2016, p. 172).

3. Intervensi
a. Retensi urine (Wilkinson, 2016, p. 469).
1) Tujuan : menunjukkan elimenasi urine, yang dibuktikan oleh indikator berikut (1-
5: selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau tidak mengalami gangguan)
2) Kriteria Hasil :
a) Residu pasca berkemih >100-200ml
b) Menunjukkan pengosongan kandung kemih dengan prosedur bersih
kateterisasi intermiten mandiri
c) Mendeskrisikan rencana perawatan dirumah
d) Tetap bebas dari infeksi saluran kemih
e) Mempunyai keseimbangan asupan dan haluaran 24 jam
f) Mengosongkan kandung kemih secara tuntas.
3) Nursing Interventions Classification (NIC) :
Aktifitas Keperawatan :
a) Identifikasi dan dokumentasikan pola pengosongan pola kandung kemih
b) Perawatan retensi urine (NIC) :
- Pantau penggunaan agens non-resep dengan antikolinergik atau agonis alfa
- Pantau efek obat resep, seperti penyekat saluran kalsium dan anti kolnergik
- Pantau asupan dan haluaran

17
- Pantau derajat distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi
Penyuluhan untuk pasien/keluarga :
a) Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang harus
dilaporkan (demam, menggigil, nyeri pinggang, hematuria, serta perubahan
konsistensi dan bau urine)
b) Perawatan retensi urine (NIC) : instruksikan pasien dan keluarga untuk
mencatat haluaran urine, bila diperlukan
Aktifitas kolaboratif :
a) Rujuk ke perawat terapi enterostoma untuk instruksi kateterisasi intermiten
mandiri menggunakan prosedur bersih setiap 4-6 jam saat terjaga
b) Perawatan retensi urine (NIC) : rujuk pada spesialis kontinensia urine jika
diperlukan.
b. Gangguan eliminasi urine (Wilkinson, 2016, p. 457).
1) Tujuan : menunjukkan elimenasi urine, yang dibuktikan oleh indicator berikut (sebut
1-5: selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau tidak mengalami gangguan):
- Pola elimenasi
- Mengosongkan kandung kemih sepenuhnya
- Mengenali urgensi
2) Kriteria Hasil :
a) Kontinensia urin
b) Menunjukkan pengetahuan yang adekuat tentang obat yang memengaruhi fungsi
perkemihan
c) Eliminasi urine tidak terganggu :
- Bau, jumlah, dan warna urine dalam rentang yang diharapkan
- Tidak ada hematuria
- Pengeluaran urine tanpa nyeri, kesulitan di awal berkemih, atau urgensi
- BUN, kreatinin serum dan berat jenis urine dalam batas normal
- Protein, glukosa, keton, pH, dan elektrolit urine dalam batas normal
3) Nursing Interventions Classification (NIC) :
Aktifitas Keperawatan :
a) Pantau elimenasi urine, meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna,
jika perlu
b) Kumpulkan spesimen urine porsi tengah untuk urinalis, jika perlu

18
Penyuluhan pasien/keluarga :
a) Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
b) Instruksikan pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine, bila diperlukan
c) Instruksikan pasien untuk berespons segera terhadap kebutuhan elimenasi, jika
perlu
d) Ajarkan pasien untuk minum 200 ml cairan pada saat makan, di antara waktu
makan, dan di awal petang.
Aktifitas Kolaboratif :
a) Rujuk ke dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi saluran kemih
c. Nyeri akut (Wilkinson, 2016, p. 297)
1) Tujuan : memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut (sebutkan 1-5 : tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau
selalu):
- Mengenali awitan nyeri
- Menggunakan tindakan pencegahan
- Melaporkan nyeri yang dapat dikendalikan
2) Kriteria Hasil :
a) Memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai
kenyamanan
b) Mempertahankan tingkat nyeri pada ___ atau kurang (dengan skal 0-10)
c) Melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis
d) Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi faktor
tersebut
e) Melaporkan nyeri kepada layanan kesehatan
f) Menggunakan tindakan meredakan nyeri dengan analgesik dan non analgesik secara
tepat
g) Tidak mengalami gangguan dalam frekuensi pernapasan, frekuensi jantung, atau
tekanan darah
h) Mempertahankan selera makan yang baik
i) Melaporkan pola tidur yang baik
j) Melaporkan kemampuan untuk mempertahankan performa peran dan hubungan
interpersonal.
3) Nursing Interventions Classification (NIC) :
Aktifitas Keperawatan :
19
a) Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk
mengumpulkan informasi pengkajian
b) Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyaman pada skala 0-10 (0 =
tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan, 10 = nyeri hebat)
c) Gunakan bagan alir nyeri untuk memantau peredaraan nyeri analgesik dan
kemungkinan efek sampingnya
d) Kaji dampak agama, budaya, kepercayaan, dan lingkungan terhadap nyeri dan
respon pasien
e) Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia dan tingkat
perkembangan pasien
f) Manajemen nyeri (NIC) :
- Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi karakteristik,
awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau keparahan nyeri, dan
faktor presipitasinya
- Observasi isyarat non verbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka
yang tidak mampu berkomunikasi efektif.
Penyuluhan pasien/keluarga :
a) Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obatt khusus yang harus di
minum, frequensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan
interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengonsumsi obat tersebut (misalnya
pembatasan aktivitas fisik, pembatasan diet) dan nama orang yang harus
dihubungi bila mengalami nyeri membandel.
b) Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika peredaan
nyeri tidak dapat dicapai.
c) Informasikan kepada asien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri
dn tawarkan strategi koping yang disarankan.
d) Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesic narkotik atau opioid (misalnya,
risiko ketergantungan atau overdosis)
e) Managemen Nyeri (NIC) : berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab
nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat
prosedur.
f) Managemen Nyeri (NIC) : ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis
(misalnya, umpan-balik biologis, transcutaneous electrical nerve stimulation
(TENS), hypnosis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi,
20
terapi bermain, terapi aktivitas, akupresur, kompres hangat atau dingin, dan
masase) sebelum, setelah, dan jika memungkinkan, selama aktivitas yang
menimbulkan nyeri, sebelum nyeri terjadi atau meningkat dan bersama
penggunaan tindakan peredaran nyeri yang lain.
Aktifitas kolaboratif :
a) Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiate yang terjadwal (mis.
Setiap 4 jam selama 36 jam) atau PCA
b) Manajemen Nyeri (NIC) :
- Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat
- laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan saat ini
merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien di masa
lalu.

21
DAFTAR PUSTAKA

Nuari, N. A., & Widayati, D. (2017). Gangguan Pada Sistem Perkemihan &
Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta: Deepublish Publisher.

Prabowo, E., & Pranata, A. E. (2014). Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan. yogyakarta:
Nuha Medika.

SDKI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus
Pusat.

Suharyanto, T., & Majid, A. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: CV. TRANS INFO MEDIA.

Wilkinson, J. (2016). Diagnosa Keperawatan Intervensi Nanda Nic Noc. Jakarta: EGC.

22