Vous êtes sur la page 1sur 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mazhab historis mengkaji pertumbuhan ekonomi dari sisi
sejarahnya, sehingga teori-teori ini disebut pula Teori Tahap-tahap
Pertumbuhan Ekonomi. Teori ini berasal dari Jerman pada abad XIX
sebagai reaksi terhadap “sistem persaingan bebas” (laissez faire) yang lahir
dan berkembang di Inggris.
Dengan berhasilnya tokoh-tokoh neo-klasik dalam mementahkan
serangan pemikiran-pemikiran sosialis/marxis, maka bendera sistem
liberal/kapitalisme kembali berkibar. Walaupun sistem pakar-pakar neo-
klasik berhasil mementahkan serangan kaum sosialis, tidak berarti sistem
ini dianut semua negara-negara di daratan Eropa. Pada waktu yang
bersamaan, di Jerman perkembangan suatu aliran pemikiran ekonomi yang
disebut Aliran Sejarah (historis).
Pola pemikiran aliran sejarah didasarkan pada prespektif sejarah.
Kerangka dasar teoritisnya berikut pola pendekatan yang digunakan oleh
aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi sangat
berbeda dan terpisah dari aliran utama (mainstream) yang berawal dari
kaum klasik. Adapun nama aliran sejarah diinspirasikan oleh keberhasilan
metode sejarah dalam bidang-bidang hukum dan bahasa. Oleh segolongan
pakar-pakar Jerman sendiri, ada yang menamakan alian sejarah sebagai
aliran “etis”, untuk menunjukan ketidaksenangan mereka pada paham
hidonisme klasik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana awal mula lahirnya aliran sejarah?
2. Bagaimana Serangan Terhadap Metode Klasik?

3. Bagaimana metode sistem Induktif-historis yang di anut aliran sejarah?

4. Siapa sajakan tokoh-tokoh aliran sejarah?

1
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
1. Supaya mengetahui awal mula lahirnya aliran sejarah.
2. Supaya mengetahui bagaimana serangan yang dilakukan tokoh aliran
sejarah terhadap aliran klasik.
3. Supaya mengetahui metode induktif-histotis tang di pakai aliran sejarah.
4. Supaya mengetahui tokoh-yokoh aliran sejarah.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Awal mula Aliran Sejarah
Abad kesembilan belas merupakan masa keemasan bagi lahirnya
ide-ide baru dan gerakan intelaktual dimana manusia mulai menyadari
kemampuannya untuk merubah keadaan dalam semua lapangan kehidupan.
Kesadaran tersebut telah membawa perubahan cara pandang dalam melihat
eksistensi manusia. Pada masa ini manusia dipandang sebagai wujud
dinamis yang senantiasa berkembang dalam lintasan sejarah.
Dibidang hukum, abad kesembilan belas dapat dikatakan sebagai
tonggak lahirnya berbagai macam aliran atau mazhab hukum yang
pengaruhnya bisa dirasakan sampai saat ini. Aliran atau mazhab hukum
yang lahir pada masa ini secara sederhana dapat diklasifikasi menjadi tiga
aliran yaitu : mazhab positivisme, mazhab utilitarianisme dan mazhab
historis atau sejarah.
Dalam rentang sejarah, perkembangan aliran pemikiran hukum
sangat tergantung dari aliran pemikiran hukum sebelumnya, sebagai
sandaran kritik dalam rangka membangun kerangka teoritik berikutnya.
Disamping itu kelahiran satu aliran sangat terkait dengan kondisi
lingkungan tempat suatu aliran itu pertama kali muncul. Dengan kata lain
lahirnya satu aliran atau mazhab hukum dapat dikatakan sebagai jawaban
fundamental terhadap kondisi kekinian pada zamannya. Sebagai contoh
dapat dikemukakan kritik positivisme dan aliran sejarah terhadap aliran
hukum alam atau kritik kaum realis terhadap positivistik. Demikian juga
halnya dengan kritik yang ditujukan oleh postmodernisme terhadap
kemapanan modernisme.
Kelahiran mazhab sejarah dipelopori oleh Friedrich Carl von
Savigny (1779-1861) melalui tulisannya yang berjudul Von Beruf unserer
Zeit fur Gesetzgebung und Rechtwissenschaft (Tentang Pekerjaan pada
Zaman Kita di Bidang Perundang-undangan dan Ilmu Hukum), di pengaruhi
oleh dua faktor yaitu pertama ajaran Montesqueu dalam bukunya “L’ esprit

3
des Lois” dan pengaruh faham nasionalisme yang mulai timbul pada awal
abad ke 19. Disamping itu, munculnya aliran ini juga merupakan reaksi
langsung dari pendapat Thibaut yang menghendaki adanya kodifikasi
hukum perdata Jerman yang didasarkan pada hukum Prancis (Code
Napoleon). Kedua pengaruh tersebut bisa digambarkan sebagai berikut:
Menurut Friedmann Aliran ini juga memberikan aksi tertentu terhadap dua
kekuatan besar yang berkuasa pada zamannya. Kedua hal tersebut menurut
Friedmann adalah :

1. Rasionalisme dari abad 18 dengan kepercayaan terhadap hukum alam,


kekuasaan akal dan prinsip-prinsip pertama yang semuanya
dikombinasikan untuk meletakkan suatu teori hukum dengan cara
deduksi dan tanpa memandang fakta historis, cirri khas nasional, dan
kondisi sosial;

2. Kepercayaan dan semangat revolusi Prancis dengan pemberontakannya


terhadap tradisi, kepercayaan pada akal dan kekuasaan kehendak
manusia atas keadaan-keadaan zamannya.

Sedangkan Lili Rasjidi mengatakan kelahiran aliran/mazhab


sejarah merupakan reaksi tidak lansung dari terhadap aliran hukum alam dan
aliran hukum positif. Hal pertama yang mempengaruhi lahirnya mazhab
sejarah adalah pemikran Montesqueu dalam bukunya “L’ esprit des Lois”
yang mengatakan tentang adanya keterkaitan antara jiwa suatu bangsa
dengan hukumnya.

Menurut W. Friedman gagasan yang benar-benar penting dari


L’esprit des Lois adalah tesis bahwa hukum walaupun secara samar
didasarkan atas beberapa prinsip hukum alam mesti dipengaruhi oleh
lingkungan dan keadaan seperti: iklim, tanah, agama, adat-kebiasaan,
perdagangan dan lain sebagainya. Berangkat dari ide tersebut Montesqueu
kemudian melakukan studi perbandingan mengenai undang-undang dan
pemerintahan.

4
Seperti yang telah diuraikan diatas, selain dipengaruhi oleh
pemikiran Montesque lahirnya mazhab sejarah juga banyak dipengaruhi
oleh semangat nasionalisme Jerman yang mulai muncul pada awal abad 19.
Dengan memanfaatkan moment (semangat nasionalisme), Savigny
menyarankan penolakan terhadap gagasan Tibhaut tentang kodifikasi
hukum yang tersebar dalam pamfletnya “Uber Die Notwetdigkeit Eines
Allgemeinen Burgerlichen Rechts Fur Deutschland” (Keperluan akan
adanya kodefikasi hukum perdata negara Jerman).

Dalam suasana demikian, Savigny mendapatkan “Lahan subur”


untuk membumikan ajarannya yang mengatakan bahwa ‘hukum itu tumbuh
dan berkembang bersama masyarakat. Dan oleh karenanya setiap bangsa
memiliki “volgeist” (jiwa rakyat) yang berbeda, maka hukum suatu negara
tidak dapat diterapkan bagi negara lain, meskipun negara lain itu adalah
bekas penjajahnya. Dalam kaitan inilah kemudian Savigny mengatakan,
adalah tidak masuk akal jika terdapat hukum yang berlaku universal pada
semua waktu. Hukum yang sangat tergantung atau bersumber kepada jiwa
rakyat tersebut dan yang menjadi isi dari hukum itu ditentukan oleh
pergaulan hidup manusia dari masa ke masa (sejarah).

2.2 Serangan Terhadap Metode Klasik

Dalam pandangan kaum klasik, perekonomian sebaiknya di


serahkan pada kekuatan pasar. Setiap orang di bebaskan berbuat demi
kepentingan masing-masing. Pada akhirnya melalui invisible hand, akan
tercipta suatu harmoni secara keseluruhan. Pemikiran seperti ini juda di
kecam oleh pakar-pakar sejarah, sebab di nilai terlalu mekanistis. Mereka
menghendaki agar hal ini di ganti dengan dasar pemikir yang lebih etis.
Pada intinya pemikir aliran sejarah menolak argumentasi pemikir-
pemikir klasik bahwa ada undang-undang alam tentang kehidupan ekonomi.
Masyarakat harus dianggap satu kesatuan organisme tempat interaksi sosial
berkait dan berhubungan antarindividu.

5
Apalagi pemikiran aliran Historys Jerman yang di kemukakan oleh
Wilhelm Roscher, Bruno Hildebrand dan Karl Knies, bereaksi negative
terhadap pencerahan Inggris dan ekonomi klasik. Mereka tidak menyukai
metode deduktif dan kesimpulan Laissez faire Adam Smith, Malthus, dan
Ricardo. Menurut aliran jerman ini tidak ada hukum ekonomi ilmiah yang
terpisah dari poitik, adat, dan sistem hukum. Hanya melalui studi sejarahlah
sarjana bisa menyimpulkan tentang isu-isu dan kebijakan ekonomi. Gustaf
Schmoller, seorang anggota ekstrem dari aliran historis Jerman, melangkah
lebih jauh dengan mengatakan secara terang-terangan bahwa aliran klasik
“abstrak” dan terlalu teoritis sehingga dianggap tidak cocok untuk megajar
di Universitas Jerman, dan selama bertahun-tahun pengikut Manger tidak
bisa menduduki posisi akademik di Jerman1.
Menurut kaum sejarah metode deduktif ini sering tidak sesuai
dengan realitas. Oleh karena itu, metode tersebut dapat membawa kita pada
kesimpulan yang keliru. Untuk mengatasi kelemahan metode klasik
tersebut, pemikir-pemikir aliran sejarah menawarkan metode induktif-
historis.
2.3 Metode Induktif Historis
Metode Induktif adalah Metode dimana suatu keputusan dilakukan
dengan mengumpulkan semua data informasi yang ada dalam realitas
kehidupan. Realita tersebut mencakup setiap unsur kehidupan yang dialami
kehidupan, keluarga, masyarakat likal, dan sebagainya yang mencoba
mencari jalan pemecahan sehingga upaya pemenuhan kebutuhan tersebut
dapat dikaji secermat mungkin2.
Dalam metode Induktif Historis para tokoh aliran sejarah
mengumpulkan kenyataan-kenyataan ekonomi dari sejarah. Dari data-data
yang dikumpulkan ini kemudian di ambil kesimpulan umum. Pola
pendekatan induksi-empiris berpangkal tolak dari pengamatan dan

1
Mark Skousen, Sang Maestro “Teori-teori Ekonomi Modern”: Sejarah Pemikiran Ekonomi
(Jakarta: Prenada,2006),222.
2
Dedi Supyadi, filsafat Ilmu,13.

6
pengkajian yang bersifat khusus dan dari sini di ambil suatu kesimpulan
umum (reasoning from the ticular to the general ). Dengan metode induksi-
empiris, hokum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori ekonomi hanya berlaku di
suatu tempatpada waktu-waktu tertentu. Hal ini di sebabkan hokum, dalil,
maupun teori ekonomi sangat tergantung pada kondisi dan lingkungan
setempat. Dengan dmikian para pemikir sejarah, hokum ekonomi tidak
berlaku universal, tetapi bisa berubah sewaktu-waktu sesuai keadaan dan
masalah yang dihadapi3.
2.4 Tokoh-tokoh Aliran Sejarah
Tokoh-tokoh aliran sejarah cukup banyak. Sebagian besar berasal
dari Jerman, antara lain: Friedrich List, Wilhelm Roscher, Bruno
Hildebrand, Karl Knies, Gustav Von Schmoler, Lujo Brentano, Georg
Friedrich Knapp, Karl Bucher, Max Weber, dan Werner Sombart, dari
Inggris adalah William Cunningham dan J.W. Ashley. Dari Amerika serikat
adalah Henry Carey, Simon Nelson Patten, dan Daniel Reymond. Namun
yang akan di bahas dalam makalah ini hanyalah tokoh-tokoh yang di anggap
sangat penting saja yaitu4:
1. Friedrich List
Friedrich List lahir dan memperoleh pendidikan di Jerman. Ia
juga pernah mengajar di Negara tersebut. Namun, ide-idenya
memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat. Di Amerika Serikat List
berprofesi menjadi editor salah satu surat kabar yang terbit di
pennsvylmania dan aktif dalam gerakan-gerakan proteksionis.
Dalam hidupnya List juga mengarang buku. Salah satu buku List
yang terkenal adalah: Das Nationale System der Politischen Oekonomie,
der Internationale Handel, die Handels Politik und der Deutche
ollverein, atau dalam bahasa Inggrisnya: The National System of Political
Economy, International Trade, Trade Policy and The German Customs
Union (1841). Dalam bukunya List menyerang pakar-pakar klasik yang

3
Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2016),127/
4
Deliarnov, Perkembangan pemikiran ekonomi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2016),128.

7
di sebutnya “kosmopolitan” sebab mengabaikan peran pemerintah.
karena ia menghendaki adanya proteksi pemerintah bagi industri-industri
yang masih lemah. Suatu hal yang dapat dimengerti karena dia
menghendaki berkembangnya industri di Jerman yang pada waktu itu
masih jauh tertinggal dibandingkan dengan di Inggris. Dengan demikian
menurut Friedrich List perkembangan ekonomi yang sebenarnya
tergantung kepada peranan pemerintah, organisasi swasta dan
lingkungan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan5.

Friedrich List meneliti tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dari


segi perkembangan teknik produksi atau perilaku masyarakat dalam
berproduksi. Tahap-tahap tersebut adalah :

1. Fase dimana terdapat adanya pengembala

Ini adalah bentuk kegiatan manusia yang paling awal


(primitif) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (berproduksi).
Produk yang dibutuhkan oleh masyarakat pada tahap ini adalah
bahan makanan, yang jelas merupakan suatu kebutuhan yang sangat
mendasar bagi suatu kehidupan. Bahan pangan ini dapat dibagi dua,
yaitu: (i) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan (ii) yang berasal
dari hewan. Pangan nabati pada tahap ini dapat diambil begitu saja
dari alam tanpa perlu bersusah payah menanam dan apalagi
memprosesnya. Sementara pangan hewani diperoleh dengan cara
berburu. Bila bahan pangan di suatu daerah habis, maka mereka
akan mencari yang lain di tempat yang lain pula dengan membawa
serta hewan yang masih mereka miliki atau belum habis dimakan.
Dengan demikian mereka mempunyai pola hidup mengembara dan
dengan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi kepada alam.

2. Fase dimana terdapat adanya petani-petani

5
Ibid.,129.

8
Seiring dengan berjalannya waktu jumlah penduduk kian
meningkat dan oleh karena itu kebutuhannya, khususnya kebutuhan
akan bahan pangan juga meningkat, sehingga diperlukan jumlah
bahan pangan yang semakin banyak pula. Dengan demikian jumlah
bahan pangan di suatu lokasi menjadi semakin cepat habis,
dibandingkan dengan periode sebelumnya.Hal ini berarti bahwa
untuk memenuhi kebutuhan pangannya masyarakat tersebut
memerlukan route pengembaraan yang semakin jauh dan dengan
frekuensi yang semakin besar. Hal ini sudah jelas memerlukan
tenaga dan energi yang semakin besar pula, sementara daya tahan
tubuh masyarakat pada waktu itu belum berkembang dengan
memadai terutama karena pengetahuan tentang kesehatan dapat
dikatakan sama sekali tidak ada. Oleh karena itu pola hidup
mengembara menemukan titik jenuhnya dan masyarakat tradisional
tersebut terdorong untuk memikirkan cara produksi alternatif. Maka
lama-kelamaan mulai dikenal kehidupan bercocok tanam (bertani)
tradisional.Oleh karena pertanian dalam arti luas meliputi pula usaha
peternakan, maka tahap ketiga ini disebut pertanian.

3. Fase dimana terdapat adanya pertanian dan industri secara


berdampingan.

Di sektor pertanian ini terdapat, apa yang disebut dengan


pengangguran musiman (seasonalunemployment). Seperti diketahui
beberapa kegiatan pokok dalam suatu usaha tani antara lain adalah :
pembenihan, pembersihan lahan, pengelolaan lahan sampai siap
untuk ditanami, bertanam membersihkan rerumputan yang tumbuh
di sekitar tanaman (menyiang), memelihara/ mengatur pengairan,
melindungi tanaman dari ancaman ternak/ hewan lainnya seperti
burung dan babi, panen dan kemudian pasca panen. Diantara
kegiatan-kegiatan tersebut terdapat waktu senggang yang kadang-
kadang relatif panjang, misalnya periode antara sesudah bertanam

9
atau menyiang sampai datangnya musim panen. Disamping itu di
beberapa daerah atau belahan bumi seperti di Eropa, Jepang dan
Cina bagian utara, karena kondisi cuaca dan iklim, maka kegiatan
pertanian yang normal hanya dapat dilakukan beberapa bulan saja
dalam setahun. Maka dapat dipahami bahwa waktu senggang ini
dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai jenis
pekerjaan lain dan yang terpenting diantaranya adalah membuat
berbagai produk kerajinan tangan untuk keperluan rumah tangga
yang dilakukan di rumah-rumah. Dengan demikian, lama kelamaan
berkembanglah apa yang disebut dengan industri rumah tangga
(home industry). Produk-produk yang dihasilkan antara lain:

1. Barang anyaman seperti tikar, kain, renda, topi dan jala,

2. Barang keramik/ tembikar seperti periuk, piring, cawan, piring,


panci, gelar dan tempayan,

3. Berbagai barang ukiran/ hiasan,

4. Peralatan pertanian dan/atau transportasi seperti: kapak, cangkul,


pisau, parang, pedang, bajak, gerobak, bendi dan pedati.

Pada tahap-tahap awal dari perkembangannya industri rumah


tangga ini adalah bersifat sambilan, berskala keci dan banyak
menggunakan tenaga manusia.Sementara itu produksinya juga
hanya untuk keperluan lokal atau daerah di sekitar produk itu dibuat.
Perkembangan industri rumah tangga ini pada akhirnya juga
mendorong kemajuan di sektor pertanian yaitu melalui perbaikan
teknik produksi, sehingga perekonomian memasuki memasuki tahap
kedua yang bercirikan: pertanian yang semakin berkembang yang
dilengkapi dengan industri manufaktur berskala kecil.

4. Fase dimana baik pertanian, industry maupun perniagaan telah


berkembang.

10
Dalam jangka panjang, secara alamiah masyarakat ternyata
belajar dari pengalamannya, sehingga teknologi produksi, baik di
sektor pertanian, maupun di sektor rumah tangga, dari waktu ke
waktu terus diperbaiki. Jumlah produk yang dihasilkan semakin
banyak, semakin beragam dan semakin canggih dan dengan cara
yang semakin efisien. Laju pertumbuhan teknologi ini semakin
dipacu dengan dikenalkannya sistem persaingan yang mendorong
berkembangnya spesialisasi baik antar pekerja maupun antar
negara.Perkembangan spesialisasi memperbesar tingkat
interpendensi antar pekerja dan antar negara dan oleh karena itu
mendorong pertumbuhan sektor perdagangan.Sebaliknya sektor
perdagangan kembali merangsang perkembangan unit-unit produksi
dan konsumsi yang ada di dalam masyarakat baik dalam sektor
pertanian maupun dalam sektor manufaktur.

List dalam hal mengemukakan teorinya bertujuan untuk


menunjukkan bahwa Jerman sekitar tahun 1840 sebagian besar masih
berada pada fase ke 3.

Guna menandingi industry Inggris yang sudah jauh lebih maju,


maka pemerintah harus membantu industry dalam negeri dengan jalan
mengadakan bea impor tinggi yang dinamakan Erziehungszolle.
Argumen List ini, hingga kini terkenal dalam literature ekonomi
internasioanl sebagai “infant industry argument”.

List mengatakan bahwa kebijaksanaan ekonomi yang benar


adalah kebijaksanaan yang memungkinkan majunya kondisi-kondisi
ekonomi Negara sendiri. Bukan sebaliknya memajukan Negara dan
bangsa lain.

2. Teori tahap Karl Bucher

Karl Bücher (16 February 1847 – 12 November 1930) adalah


ekonom Jerman yang menyusun teori tentang pertumbuhan ekonomi.

11
Dalam teorinya, ekonomi berkembang dari kondisi sederhana yaitu dari
Rumah tangga tertutup menjadi rumah tangga dunia. Ekonomi berasal
dari isttilah Yunani “oikos” yang berarti rumah tangga, dan “nomos”
yaitu aturan atau urusan.

Karl Bucher mengemukakan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Tahap rumah tangga tertutup (die Stufe Der Geschlossene


Hauswirtscaft). Adalah rumah tangga dimana alat pemuas kebutuhan
ekonomi didapatkan dari hanya rumah tangga dan lingkungan
disekitarnya. Interaksi ekonomi seperti penjualan barang dan jasa juga
sangat terbatas. Tahapan ini terjadi pada masa awal peradaban hingga
sekitar tahun 1000 M pada Abad Pertengahan.

2. Tahap rumah tangga kota (die Stufe der Stadt und Umlandwirtschaft).
Adalah rumah tangga dimana kegiatan ekonomi mulai berinteraksi
dengan wilayah lebih luas. Rumah tangga tertutup berinteraksi dengan
rumah tangga lain. Tempat terjadinya Interaksi adalah di pasar.

3. Tahap rumah tangga Negara. Pada tahapan ini rumah tangga di kota
saling berinteraksi dan menyebabkan timbulnya rumah tangga bangsa.
Wilayah dari rumah tangga ini adalah satu negara, misalnya di
Indonesia.

4. Tahap rumah tangga dunia (die Stufe der Volkswirtshaft). Seiring


dengan berkembangnya globalisasi rumah tangga di negara-negara di
dunia saling berinteraksi dan menyebabkan timbulnya rumah tangga
dunia. Kegiatan ekonomi terjadi dengan proses ekspor dan impor
antar negara.

Inti teori tahap yang dikemukakan Bucher adalah sebagai berikut


Pada jaman dahulu di Jerman terdapat tanah-tanah pertanian luas, yang
dinamakan Frohnhof (Di Romawi kuno terdapat apa yang dinamakan
Latifundia). Frohnhof dimiliki oleh tuan-tuan tanah kaya, gabungkan diri
di dalamnya, yang pada dasarnya berarti bahwa mereka tunduk terhadap

12
kekuasaan tuan tanah tersebut. Tuan tanah menjamin keselamatan para
petani kecil itu terhadap serangan dari musuh dan sebagai kontraprestasi
dimintanya pajak dari mereka.

Pajak umumnya berbentuk natura (yakni berbentuk misalnya


gandum, ternak, anggur, dan sebagainya) dan kadang-kadang pula
berupa jasa-jasa tenaga kerja. Perkembangan selanjutnya adalah bahkan
lambat laun pembagian kerja makin meluas hingga akhirnya timbul
macam-macam spesialisasi, misalnya ( pada zaman itu di Eropa) ada
pandai besi yang menghususkan diri membuat alat-alat rumah tangga,
ada pula yang menghususkan diri dalam hal pembuatan senjata. Dengan
bertambah majunya pekerjaan tengan, makin berkembang pula
perniagaan. Untuk kebutuhann perniagaan dibutuhkan tanah lapangan
yang cukup luas.

Lama kelamaan para pedagang menetap sekitar lapangan tersebut


(marktplein), tindakan mana akhirnya juga diikuti oleh para pekerja
tangan. Demikianlah gambaran mengenai terbentuknya kota pada waktu
itu produksi dilakukan berdasarkan pesanan (op bestel ling). Demi
menjamin mutu hasil pekerjaan didirikan oleh para pengusaha kota
macam-macam gilde. Gilde adalah kumpulan produsen dalam macam-
macam bidang kerajinan tangan. Ada dua golongan dalam gilde yakni
para gilde meesters (ahli-ahli), dan para gezellen (para murid yang
melalui suatu meestersproef (bukti kecakapan) pada suatu waktu
mengharap mencapai gelar gilde meester. Peraturan gilde sangat ketat,
hingga lambat laun timbul pertentangan antara para meesters dan para
gezel.

Lambat laun dengan dihapuskannya gilde, produksi kini


ditujukan untuk pasar, untuk pembeli yang tidak dikenal. perniagaan
makin meluas, hingga bukan saja meliputi perniagaan antara daerah,
melainkan juga perniagaan antara Negara-negara. Karl Bucher mencoba
menjelaskan bahwa Negara-negara akan berkembang kearah rumah-

13
rumah tangga Nasioanl. Jadi tidak ada kecenderungan perkembangan
kearah rumah tangga dunia.

3. Teori tahap dari Hildebrand

Hildebrand adalah tokoh yang aktif dalam berbagai penelitian dan


penulisan karya-karya ilmiah. Dalam melakukan penelaahan dan
penelitian-penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya mempelajari
sejarah. Artinya penelitian-penelitian ekonomi harus di dukung oleh data
statistik empiris yang di kumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi.

Hildebrend juga sering menekankan pentingnya evolusi dalam


perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat dari cara tiap
kelompok masyarakat dalam melakukan tukar menukar dan berdagang.
Kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas
tingkatan-tingkatan sebagai berikut:

1. Tukar menukar secara in-natura atau barter

2. Tukar menukar dengan perantaraan uang

3. Tukar menukar dengan menggunakan kredit.6

Inti teori tahap Hildebrand adalah sebagai berikut :

Semula manusia primitive hidupnya sangat bersahaja. Apa yang


dibutuhkannya diusahakannya sendiri (jadi apa yang diproduksi,
dikonsumsi sendiri). Lambat laun hidup secara berdikari tersebut tidak
dapat dipertahankan lagi, mengingat makin bertambhanya dan makin
meluasnya kebutuhan manusia, dan makin meluasnya pembagian kerja.
Timbullah hubungan tukar menukar secara barter, dimana B-B
(B=Benda) benda langsung ditukar dengan benda lain.

Disebabkan oleh karena tukar menukar ini natura banyak


menimbulkan kesulitan, maka akhirnya diketemukan orang uang yang

6
Ibid,.131.

14
dapat digunakan sebagai medium pertukaran hingga kini terlihat proses
pertukaran sebagai berikut : B – U – B = Benda – Uang – Benda. Lambat
laun penggunaan uang dedesak oleh system pemberian kredit.

Pada masa ini di Negara-negara maju orang sering melakukan


tukar menukar dengan menggunakan cek dan membeli barang melalui
katalog dan telepon.

Penelitian Hildebrend tersebut di anggap cukup baik untuk


bidang sosiologi, tetapi kurang bermakna di tinjau dari pengembangan
ilmu ekonomi. Salah satu kelemahan dari karya-karya penelitian sejarah
Hildebrend ialah berbagai penelitian yang dilakukannya hanya berupa
monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah
ekonomi. Namun karya-karya tersebut tidak disusunnya ke dalam suatu
kerangka acuan yang padu. Oleh karena itu, karya-karya penelitian
sejarah Hildebrand tersebut dinilai tidak berarti dalam pengembangan
ilmu ekonomi.

4. Teori tahap Gustov von Schmoler (1839-1917)

Schmoler adalah tokoh aliran sejarah yang di anggap paling gigih


dalam menyarankan agar metode deduktif klasik ditukar dengan metode
induktif-empiris. Seperti pakar aliran sejarah lainnya, Schmoler juga
menekankan perlunya kelenturan dalam perekonomian dan memberi
ruang pada pemerintah untuk memperbaiki keadaan ekonomi.
Sehubungan dengan ini, ia mempelajari dokumen-dokumen Negara
untuk mendemonstrasikan kemurahan hati birokrasi, yang mampu
membimbing dan menyatakan kekuatan-kekuatan masyarakat dan
menjamin diberlakukannya keadilan. Hal ini diyakininya tidak akan
terwujud dalam system perekonomian yang mengandalkan mekanisme
pasar.

Pandangan Chmoler di atas agak berbeda dengan tokoh-tokoh


aliran sejarah lainnya. Jika tokoh-tokoh aliran sejarah lain menghendaki

15
berbagai kebijaksanaan di bidang ekonomi, Schmoler menghendaki agar
kebijaksanaan juga menyangkut politik sosial. Lebih jauh dari itu, juga
kebijaksanaan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh. Misalnya
untuk meningkatkan posisi tawar menawar (bargaining position) kaum
buruh. Schmoler menganjurkan didirikan dan dibinanya organisasi-
organisasi serikat kerja.

Untuk mencapai tujuannya, Schmoler beserta rekan-rekan


mendirikan sebuah forum untuk menghimpun pemikiran-pemikiran
untuk menghadapi berbagai masalah ekonomi dan sosial. Hasil
kesimpulan dan pertemuan dalam forum disampaikan pada pemerintah
sebagai bahan masukan. Salah satu keberhasilan pertemuan-pertemuan
untuk menghimpun masukan bagi pemerintah ini adalah
diberlakukannya undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari
penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang di berikan kepada
kaum buruh sesuai undang-undang tersebut dianggap sangat maju untuk
zamannya. Hal itu karena di Negara-negara Eropa pada umumnya belum
memiliki undang-undang perlindungan kaum buruh seperti yang di buat
di Jerman tersebut7.

Schmoller menolak hukum “universal” manger (tokoh madzhab


Australia), schmoller menyebutnya tidak berguna8. Karena ekonomi
tidak bersifat unigversal akan tetapi selalu berubah-rubah sesuai dengan
keadaan dan masalah yang di hadapi.

5. Teori tahap dari Eugen Von Phillopovich

Seperti halnya Karl Bucher, dikemukakannya pula perbedaan


antara rumah tangga tertutup dan rumah tangga yang mengenal hubungan
tukar menukar.

7
Ibid,.132.
8
Mark Skousen, Sang Maestro, 226.

16
1. Ia membedakan Rumah tangga yang terkait secara local.

2. Rumah tangga yang terkait secara nasional

3. Rumah tangga dengan hubungan tukar menukar bebas

Hal yang terkait meliputi seluruh rumah-rumah tangga dunia.

6. Teori tahap dari Werner Sombart (1863-1941)

Salah satu hasil penelitian Sombart yang cukup sering di kutip


orang ialah penelitiannya tentang tahap-tahap perkembangan
kapitalisme. Dari hasil penelitiannya Sombart mengatakan bahwa
pertumbuhan masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan
pertumbuhan masyarakat. Dalam karyanya: Der Moderne Kapitalismus
(1902) Werner Sobart lebih lanjut mengatakan bahwa pertumbuhan
masyarakat kapitalis dapat di bedakan atas beberapa tingkatan9. Yaitu:

1. Tahap prerkapitalisme, (Vorkapitalismus)

Dalam tahap ini kaum kapitalis maupun paham kapitalis


belum dikenal masyarakat dalam tahap ini bekerja hanya memenuhi
kebutuhan hidup sendiri dengan dasar kekeluargaan. Masyarakat
umum bekerja pada sector pertaian yang kehidupanya masih bersifat
statis.

2. Tahap kapitalisme yang mulai tumbuh (Fruhkapitalismus)

Dalam tahap ini masyarakat sudah mulai bersifat dinamis,


manusia pada tahap ini sudah mulai mengenal uang serta mulai
memupuk uang dan harta. Suasana yang sifatnya kekeluargaan mulai
memudar dan sifat individualis mulai memasuki masyarakat.

3. Tahap kapitalisme yang sudah berkembang (Hochkapitalismus)

17
Kehidupan tahap ini mulai diarahkan untuk mencari
keuntungan semaksimal mungkin. Sehingga pada tahap ini kaum
kapitalis atau kaum yang bermodal besar sudah mulai muncul, akibat
munculnya kaum kapitalis dalam tahap ini muncul kaum buruh atau
pekerja kaum kapitalis menguasai alat-alat produksi dengan tujuan
melakukan produksi secara besar-besaran.

4. Tahap kapitalisme akhir (Spatkapitalismus).

Dalam tahap ini muncul kaum sosialis bertujuan


mensejahterakan bersama. Munculnya kaum sosialis akibat adanya
kesenjangan kesejahteraan antara kaum kapitalis dengan kaum buruh.
Dengan munculnya kaum sosialis maka peran serta pemerintah dalam
pengedalian perekonomian mutlak dilakukan.

Namun Dalam tingkatan terakhir ini juga menunjukkan ciri-


ciri dari sikap individualisme yang sangat tinggi, tetapi kepentingan
masyarakat tidak di abaikan. Industry meluas ke padat modal, di
samping uang kartal juga di kenal uang giral. Motif laba maksimum
sangat tinggi, tetapi juga di pertimbangkan penggunaan laba untuk
kepentingan masyarakat, dan produksi untuk pasar.

Inti teori tahap Werner Sombart adalah sebagai berikut: pada


tahap Vorkapitalismus ini masyarakat menunjukkan sifat komuna listrik,
masyarakat untuk bagian terbesar terdiri dari para petani yang
menghasilkan apa yang dibutuhkan. Tukar menukar masih bersifat
barter. Di samping bertani, penduduk sebagian juga mengerjakan industri
perumahan.

Pada tahap friihkapitalismus, makin lama makin timbul


pertentangan antara sifat kekeluargaan dan induvidualisme. Pembagian
kerja yang makin meluas, menyebabkan bahwa orang-orang akhirnya
melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kecakapan mereka
masing-masing. Para pekerja tangan tergabung dalam macam-macam

18
gilde. Perniagaan belum begitu berkembang, karena produksi masih di
lakukan masih di lakukan pesanan. (perhatikan persamaan antara tahap
ini dengan tahap stadtwirtschaft dari karl bucher).

Pada tahap ketiga (tahap hochkapitalismus) di samping golongan


pedangang, pekerja tangan, serta para petani, timbul pula dua golongan
baru yakni golongan pemilik modal yang memiliki alat-alat produksi, dan
golongan hanya memiliki tenaga kerja mereka saja, yakni kaum buruh.
Pada fase ini produksi di lakukan secara masal dengan alat-alat produksi
yang termodern. Motif laba (profit motive) meluas di dalam lingkungan
kaum bermodal. Perniagaan berkembang hingga akhirnya meliputi
perniagaan internasional. Pada tahap yang dinamakan sombart fase
spatkapitalismus, kepentingan pribadi harus mengalah terhadap
kepentingan masyarakat.

Produksi bukanlah di tujukan untuk mengejar laba maksimal,


melainkan untuk mencapai peningkatan kemakmuran bagi seluruh
lapisan masyarakat. Tukar menukar dikendalikan oleh negara. Dapatlah
yang di terka bahwa yang di maksud dengan tahap terakhir ini yaitu tahap
sosialisme.

7. Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dari W.Rostow

Dalam bukunya: “Stages of economic growth” BAB II.


Dimulainya dengan kata-kata sebagai berikut: “It is possible to identify
all societies, in their economic dimensions, as lying within one of five
categories:

1. The traditional society

2. The preconditions for take off

3. The take off

4. The drive to maturity

19
5. The age of high mass consumption

Keterangan Rostow adalah Pertama-tama terdapat masyarakat


tradisional, pada masyarakat demikian terdapat batas terdapat tingkat
output yang dapat dicapai per orang, karena disana potensi ilmu
pengetahuan serta teknologi modern belum ada atau tidak diterapkan
secara teratur serta sistematik. Pada masyarakat demikian bagian yang
sangat besar dari sumber daya ekonomi di salurkan di bidang pertanian.
Hubungan-hubungan keluarga dan hubungan suku berpengaruh dalam
organisassi sosial. Misalkan dalam masyarakat tradisional dapat
digolongkan menjadi dunia pre –newton; dinasti-dinasti di tiongkok;
eropa pada abad pertengahan.

Tahap kedua, yaitu pertumbuhan ekonomi meliputi masyarakat


yang berada dalam periode transisi, yakni periode dimana perkembangan
prasyarat bagi take – of , pra syarat untuk take-off berkembang di Eropa
Barat pada akhir abad ke 17 dan permulaan abad ke 18. Di antara negara-
negara eropa barat, inggrislah yang mengalaminya, karena letak
geografik yang menguntungkan, sumber daya alamiah, kemungkinan
berniaga, struktur sosial dan politik merupakan syarat negara pertama
yang sepenuhnya mengembangkan pra syarat untuk take off. Kerap kali
sifat politis bersifat menentukan bagi priode transisi antara masyarakat
tradisional dan take off.

Tahap ke tiga yang dinamakan “take off” menurut Rostow adalah


interrval dimana penghambat serta penghalang lama akhirnya diatasi
selama periode take off, tingkat investasi efektif serta tabungan,dapat
meningkat. Katakana saja 5% dari jumlah pendapatan nasional, hingga
10% atau lebih. Selama fase “take off”, Industri-industri baru cepat
meluas dan menghasilakan laba yang sebagian direinvestasi dalam
bentuk pabrik-pabrik baru, dan industri-industri baru tersebut kembali
lagi menstimulir ekspansi selanjutnya. Periode take off bagi jepang
terjadi pada akhir abad ke 19. Rusia dan kanada mencapainya pada tahun-

20
tahun sebelum 1914, sedangkan india dan R.R.C. pada tahun 1950 telah
melaksanakan periode take off mereka.

Fase drive to maturity, menunjukkan bahwa kurang lebih 10


hingga 20% dari pendapatan nasional diivestasi secara kontinu, hal mana
menyebabkan bahwa output yang di capai melebihi jumlah pertambahan
penduduk. Perekonomian yang bersangkutan mencapai tempatnya pada
perekonomian internasional: barang-barang yang dahulu diimport, kini
diproduksi pada negara sendiri. Terlihat kecenderungan pergeseran fokus
dari industri batu bara, besi dan industri barat ke arah pembuatan
perkakas-perkakas, mesin, bahan kimia dan alat-alat perlengkapan
listrik. Maturity (kedewasaan) dapat didefinisi sebagai suatu tingkat,
dimana suatu perekonomian menunjukkan kapasitas untuk bergerak,
melampaui industri-industri semula yang mendorong take offnya, dan
untuk menyerap serta menerapkan efisien hasil-hasil akhir teknologi
modern.

Fase “age of high mass consumstion”. Pada tahap ini melalui


proses politis, negara-negara barat melakukan pilihan untuk
menyalurkan lebih banyak sumber daya ekonomi ke arah sejahteraan
sosial dan jaminan sosial. Dapat dikatakan bahwa semua teori
pembangunan, menghubungkan perambahan dalam pendapatan
perkapital, dengan empat faktor pokok yaitu:

1. Akumulasi modal

2. Pertumbuhan penduduk

3. Penemuan sumber daya baru dan

4. Kemajuan teknologik.

Keempat factor mempunyai hubungan erat antara satu sama lain.

8. Max Weber (18764-1920)

21
Max Weber adalah ahli sosiologi dalam arti luas, dimana ilmu
ekonomi dan sejarah ekonomi oleh Weber juga di masukkan sebagai
bagian dari ilmu sosiologi. Walaupun ia ahli sosiologi, tekanan utama
dalam pembahasannya adalah ekonomi. Ia juga cukup intens dalam
melihat pengaruh ajaran-ajaran agama tertentu, yaitu protestan, terhadap
kemajuan ekonomi. Dalam buku yang sangat terkenal; The Protestan
Ethic and Spririt of Capitalism (1958) ia menjelaskan bahwa ada
pengaruh nyata ajaran agama protestan terhadap perilaku dan kemajuaan
ekonomi10.

The protestant Ethic and The Spirit of Capitalisme adalah karya


penting yang memberikan kontribusi yang unik untuk ekonomi
institusional, kaum intelektual abad 19 dan awal abad 20 kecewa dengan
agama formal. Filsuf Jerman Friedrich Nietzche melihat iman sebagai
tongkat bagi orang yang pincang secara moral. Freud memandang agama
sebagai khayalan dan gangguan mental irasional, semacam neorosis.
Marx yang materialis menganggao kekuatan ekonomilah yang
membentuk agama, tetapi Weber melihat sebaliknya. Dia memuji Kristen
sebagai “ikatan sosial dari persaudaraan dunia”11. Dia tidak setuju
dengan Marx dan berpendapat bahwa kapitalisme berasal dari cita-cita
agamam bukan materialism historis. Secara husus, ajaran reformasi
protestan mengubah peradaban barat dan menyebabkan bangkitnya
kapitalisme.

Menurut Weber, yang melahirkan abad Kapitalisme bukanlah


keserakahan dan pencarian keuntungan tanpa batas. Perilaku seperti itu
sudah ada di dalam semua masyarakat di masa lalu. Pendapat bahwa
keserakahan adalah kekuatan pendorong di balik kapiutalisme adalah ide
naif yang semestinya di ajarkan di taman kanak-kanak sejarah kultural.
Seperti Adam smith dan Montesquieu, weber mengatakan,”keserakahan

10
Deliarnov, Perkembangan Pemikran Ekonomi, 134.
11
Diggins, Max Weber: Politics and the Spirit of Tragedy (New York: Basic Books,1996),95.

22
tanpa batas untuk mendapatkan keuntungan tidak identik dengan
kapitalisme, apalagi dengan semangatnya. Kapitalisme mungkin identic
dengan pembatasan diri, atau setidaknya pembatasan rasional, terhadap
dorongan yang irasional itu.”

Penyebab berkembangnya hsitoris dari kapitalisme modern


khususnya barat menurut Weber adalah datangnya doktrin Lutheran
tentang “panggilan”, doktrin Calvinis dan Putrian tentang kerja untuk
memptomosikan kejayaan tuhan (engkau boleh bekerja agar kaya demi
Tuhan, bukan demi daging dan dosa), dan penentuan kaum Methodis
terhadap pengangguran. Hanya di kalangan Protestanlah orang Kristen
yang dapat mendengar Khotbah John Wesley tentang kekayaan : “carilah
nafkah semampumu, simpanlah semampumu, dan berikan semampumu”.

Dalah khotbah Wesley tersebut, dia tidak menyebutkan


“belanjakan semampumu”, dari sini dapat disimpulkan bahwasannya
Kristen seperti yang di jelaskan oleh Weber, memproklamasikan
penyangkalan diri dan berpantang untuk memperingatkan bahaya
materialisme dan kesombongan. Pendakwah protestan tidak menyetujui
“konsumsi yang mencolok” dan karenanya kapitalis dan pekerja mesti
menabung dan menabung. Bahkan teori menabung ini tetap dilakukan
sampai sekarang yang disebut dengan Saving yaitu sebagian pendapatan
yang tidak dibuat konsumsi melainkan di simpan12. Seperti yang di
katakana Keynes, “disinilah sesungguhnya terletak justifikasi utama
sistem kapitalis. Jika orang kaya mengeluarkan kekayaan mereka untuk
kesenangan mereka sendiri, dunia tidak akan tahan terhadap hal seperti
itu. Tetapi mereka seperti lebah, yang menyimpan dan mengumpulkan
dengan menguntungkan seluruh komunitas karena mereka sendiri
mempersempit tujuan diri mereka sendiri”13.

12
Boediono, Pengantar Ilmu Ekonomi No.2 Ekonomi Makro (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta,2014),
38.
13
Mark schousen, Sang Maestro, 325.

23
Weber bertolak dari suatu asumsi dasar bahwa rasionalitas adalah
unsur pokok peradapan barat yang mampunyai nilai dan pengaruh
universal. Dalam kegiatan ekonomi, dapat dilihat bahwa banyak
peradapan dalam sejarah yang mengenal mencari laba. Akan tetapi,
hanya dibaratlah yang aktifitas mencari laba tersebut diselenggarakan
secara lebih terorganisasi secara rasional. Selanjutnya, inilah akar utama
sistem perekonomian kapitalisme yang mewujudkan diri dalam perilaku
ekonomi tertentu. Perilaku ekonomi kapitalis, menurut Weber, bertolak
dari harapan akan keuntungan yang diperoleh dengan mempergunakan
kesempatan bagi tukar-menukar yang didasarkan pada kesempatan
mendapatkan untung secara damai.

Hasil pengamatan Weber menunjukkan bahwa golongan


penganut agama protestan, terutama kaum Calvinis, menduduki tempat
teratas. Sebagian besar dari pemimipin-pemimpin perusahaan, pemilik
modal, pimpinan teknis dan komersial yang diamatinya (di Jerman)
adalah agama protestan, bukan orang katolik. Ajaran Calvin tentang
takdir dan nasib manusia, menurut Weber, adalah kunci utama dalam
menentukan sikap hidup para penganutnya. Bagi penganut Calvinis,
kerja adalah “beruf”, “panggilan” atau “tugas suci”. Menurut ajaran
Calvin keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang terpilih. Ini
yang mendorong orang bekerja keras agar masuk menjadi golongan
orang terpilih tersebut. Dalam kerangka pemikiran teologis seperti inilah
semangat kapitalisme, yang bersandar pada cita ketekunan, hemat,
rasional, berpenghitungan, dan sanggup menahan diri, menemukan
pasangannya.

Tentu tidak semua orang menerima tesis Weber. Beberapa pakar


mempertanyakan atau bahkan menentangnya. Pakar-pakar yang
menentang antara lain Bryan S. Turner, R.H. Tawney, Kurt Samuelson,
Robert N. Bellah, Andrew Greelley, dan tentu saja dari pakar-pakar lain
yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan

24
ekonomi, misalnya penelitian, tentang masyarakat islam dan penganut-
penganut agama Tokugawa di jepang.

9. Henry Charles Carey (1793-1879)

Henry Carey adalah seorang pemimpin gerakan proteksionis dari


Amerika Serikat. Ia tertarik dengan aliran sejarah, sebab ayahnya adalah
teman dekat Friedrich List sewaktu List berdiam di Amerika Serikat.
Dalam salah satu karyanya: Principles of Social Science, Carey
menekankan perlunya diversifikasi industri untuk menciptakan lapangan
pekerjaan lebih luas. Suatu Negara yang hanya mengandalkan
pembangunan pada ekspor produk-produk pertanian dinilainya sebagai
tindakan yang bodoh dan merugikan. Bagi Carey, hanya bangsa petani
yang bodoh saja yang secara berkelanjutan mengekspor barang-barang
mentah, dan menerima imbal-tukar produk-produk lain dalam jumlah
sedikit. Tindakan seperti ini hanya akan menyebabkan semakin
berkurangnya kesuburan tanah dan semakin melemahnya posisi Negara
dibanding Negara-negara lain yang maju pesat. Negara-negara maju
mengembangkan produk industri yang lebih tinggi nilai tambahnya.

Sehubungan dengan peringatan Carey diatas tindakan bijaksana


bagi pemeritah Indonesia adalah melarang ekspor kayu gelondongan dan
rotan beberapa tahun silam, sebab nilainya sangat kecil. Nilai tambah
yang lebih besar bisa diperoleh kalau bahan-bahan mentah seperti kayu
gelondongan dan rotan tersebut dinuat menjadi produk jadi baru di
ekspor. Begitu juga adalah langkah yang arif bijaksana bagi pemerintah
Indonesia untuk lebih mengembangkan aggribisnis dan agro-industri.

Pendukung-pendukung aliran sejarah lain dari Amerika adalah


Simon Nelson Patten dan Daneil Reymond. Nelson Patten (1852-1922)
mengajar ekonomi di University Of Pennsylvania. Ia banyak mengajukan
argumen-argumen yang menyokong proteksi sebagaiana dikemukakan
Carey. Sedang Daniel Reymod (1786-1849) adalah seorang ahli hukum

25
yang kemudian tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi. Pikiran-
pikirannya seperti yang tertuang dalam karyanya: Thoughts on Political
Economy. Karyanya itu memiliki kemiripan dengan pandangan tokoh-
tokoh yang dikemukakan terdahulu seperti Friedrich List dan Henry
Carey.

26
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Aliran sejarah ialah aliran yang pola pikirnya didasarkan pada
perspektif sejarah. Tokoh-tokoh aliran sejarah ini sangat menentang metode
pendekatan deduktif yang di gunakan kaum klasik. Menurut pakar ahli
sejarah metode deduksi di nilai terlalu abstrak dan terlalu teoritis, yang dari
beberapa postulat kemudian meng-claim bahwa pemikiran-pemikiran
mereka berlaku umum (universal). Menurut pakar sejarah metode deduksi
ini sering tidak sesuai dengan realitas. Oleh karena itu metode tersebut dapat
membawa kita pada kesimpulan yang keliru.
Tokoh aliran sejarah lebih meilih menggunakan metode induktif
historis mereka mengumpulkan kenyataan-kenyataan ekonomi dari sejarah
masalalu, sehingga dengan metode ini aliran sejarah dapat mnyimpulkan
bahwasaanya hukum ekonomi tidak berlaku secara universal, tetapi bisa
berubah-rubah sewaktu-waktu sesuai keadaan dan masalah yang di hadapi.
Aliran historis ini berkembang pertama kali di Jerman,karena tokoh
pertamanya adalah asli warga Jerman yaitu Friedrich List. List adalah salah
satu tokoh aliran sejarah yang menentang adanya pasar bebas, karena dia
menganggap bahwasannya paasar bebas hanya cocok pada Negara yang
sudah memiliki perekonomian yang baik seperti inggris, sedangkan di
Negaranya sendiri sistem peragangan bebas tidak cocok, karena pada waktu
itu keadaan industrialisasinya agak tertinggal dari keadaan industrialisasi di
Inggris. Karena itulah madzhab sejarah berfikir bahwasaanya hukum
ekonomi tidak bersifat universal. Selain Friedruch List banyak tokoh-tokoh
lain seperti Karl Bucher, Bruno Hildrebrand, Gustov von Schmoler, Werner
Sombart, Max Weber, Henry Charles Carey, dll.
Dari semua penjelasan di atas dapat dikatakan bahwasannya doktrin
aliran sejarah kurang jelas, karena mereka tidak mengembangkan sebuah
sistem, akan tetapi, lebih merupakan reaksi terhadap pemikiran-pemikiran

27
klasik dan neo klasik yang menghendaki tidak adanya campur tangan
pemerintah dalam perekonomian.

28
DAFTAR PUSTAKA
Deliarnov. 2016. Perkembangan Pemikiran Ekonomi (Edisi Revisi).
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Skousen, Mark. 2006. Sang Maestro “Teori-teori Ekonomi Modern”:
Sejarah Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Prenada.
Boediono. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi No.2 Ekonomi Makro.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Diggins, John Patrick. 1996. Max Weber: Politics and the Spirit of
Tragedy. New York: Basic Books.
Winardi, Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi, 1987
https://www.researchgate.net/publication/312083366 (pdf)

29