Vous êtes sur la page 1sur 52

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Fakultas Keperawatan Kertas Karya Diploma

2017

Asuhan Keperawatan pada Tn. L


dengan Prioritas Masalah Gangguan
Istirahat dan Tidur :Hipertensi di
Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia

Ritonga, Ummi Kalsum Sundari

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/2628
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
Asuhan Keperawatan pada Tn. L dengan Prioritas Masalah
Gangguan Istirahat dan Tidur :Hipertensi
di Kelurahan Sari Rejo Kecamatan
Medan Polonia

Karya Tulis Ilmiah (KTI)


Disusun dalam Rangka Menyelesaikan
Program Studi DIII Keperawatan

Oleh
Ummi Kalsum Sundari Ritonga
142500030

PROGRAM STUDI DIII


KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATA
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
JULI 2017

Universitas Sumatera Utara


1

Universitas Sumatera Utara


1

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan pada
pasien dengan Perioritas Masalah Kebutuhan Dasar Istirahat dan Tidur di
Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia.
Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan program pendidikan Ahlimadya Keperawatan di Program Studi
DIII Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara Medan.
Dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan, dan arahan dari kedua orang tua saya, Ayahanda (Maratua Ritonga,
SE) dan Ibunda (Nurjannah Tanjung, SE) serta adik saya (Fandi Ritonga)
yangselalu mendoakan dan tidak pernah lelah memberikan dukungan moril
maupun materil dengan penuh kasih sayang dan juga dari semua pihak secara
langsung maupun tidak langsung sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis
Ilmiah ini.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Setiawan, S.Kp, MNS, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Sumatra Utara Medan.
2. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku Pembantu Dekan I Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Sumatra Utara Medan.
3. Ibu Cholina T. Siregar, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.KMB, Selaku Pembantu Dekan
II Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara.
4. Ibu Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat, Selaku Pembantu Dekan
III Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara.
5. Ibu Mahnum Lailan Nasution, S.Kep, Ns, M.Kep ketua Program Studi DIII
Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kebijakannya.
6. Ibu Ellyta Aizar, S.Kp, M.Biomed selaku pembimbing yang telah memberik
an bimbingan dan meluangkan waktu serta pikiran dalam penyusunan Karya
Tulis ilmiah ini.

1ii

Universitas Sumatera Utara


7. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS sebagai Dosen Pembimbing Akademik dan Dosen
Penguji yang telah meluangkan waktu, serta dengan sabar memberikan
bimbingan dan saran-sarannya.
8. Segenap Dosen yang telah memberikaan ilmunya kepada saya dan Karyawan
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
9. Kepada Rekan-rekan mahasiswa Fakultas IlmuKeperawatan Universitas
Sumatera Utara Medan khususnya Program StudiDIII Keperawatan Stambuk
2014 yang telah berpartisipasi dan mendukungselama penyusunan Karya
Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauhdari
kesempurnaan baik isi maupun susunannya. Maka dengan segala kerendahanhati
penulis mengharapkan kritik dan saran serta masukan dari semua pihak
demikesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Medan, Juli 2017
Penulis

Ummi Kalsum Sundari Ritonga

iii1

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ............................................................................................ i
Kata Pengantar.................................................................................................... ii
Daftar Isi .............................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2. Tujuan .................................................................................................. 2
1.3. Manfaat ................................................................................................ 3
BAB II Konsep Teori Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Istirahat
& Tidur sehubungan dengaan Kondisi Penyakit Hipertensi
2.1.PengertianHipertensi ............................................................................. 4
2.1.1. Etiologi Hipertensi ............................................................................. 5
2.1.2. Patofisiologi Hipertensi ..................................................................... 5
2.1.3. Manifestasi Klinis .............................................................................. 6
2.1.4. Penatalaksanaan ................................................................................. 7
2.2. Istirahat & Tidur ................................................................................... 8
2.2.1. Fisiologis / Mekanisme Tidur ............................................................ 9
2.2.2. Tahapan Tidur.................................................................................... 10
2.2.3. Gangguan Tidur ................................................................................. 12
2.2.4. Penyebab Ganguuan Tidur ................................................................ 16
2.3. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Istirahat dan Tidur
2.3.1. Pengkajian ......................................................................................... 18
2.3.2. Analisa Data ...................................................................................... 19
2.3.3. Rumusan Masalah.............................................................................. 19
2.3.4. Perencanaan ....................................................................................... 23
2.3.5. Implementasi ..................................................................................... 24
2.3.6. Evaluasi ............................................................................................. 24
BAB III Pengelolaan Kasus Pasien Gangguan Istirahat dan Tidur
(sehubungan dengan kondisi penyakit hipertensi)
3.1. Pengkajian ............................................................................................ 25
3.1.1. Analisa Data ..................................................................................... 32

1
iv
Universitas Sumatera Utara
3.1.2.Rumusan Masalah............................................................................... 33
3.1.3. Diagnosa Masalah .............................................................................. 33
3.1.4. Perencanaan ....................................................................................... 34
3.1.4. Pelaksanaan Keperawatan ................................................................. 36
3.1.5. Catatan Perkembngan ........................................................................ 40
BAB IV PENUTUP
3.1. Kesimpulan ........................................................................................... 42
3.2. Saran ..................................................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 43
LAMPIRAN

v1

Universitas Sumatera Utara


BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kebutuhan dasar manusia merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk
meningkatkan derajat kesehatan. Menurut Abraham Maslow, manusia mempunyai
lima kebutuhan yang membentuk tingkatan yang dikenal dengan Hierarki Maslow
yang disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak
terlalu krusial, adapun kebutuhan yang dimaksud meliputi fisiologis, kebutuhan
keamanan dan keselamatn, kebutuhan cinta dan memiliki, kebutuhan harga diri
dan kebutuhan aktualisasi diri (Alimul, 2006).
Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang termasuk ke
dalam kebutuhan fisiologis. Tidur sebagai salah satu kebutuhan dasar, juga hal
yang Universal. Dikatakan Universal oleh karena umumya semua individu
dimanapun ia berada membutuhkan tidur dan tidak pernah ada individu yang
selama hidupnya tidak tidur. Hal ini mengindikasikan bahwa tidur memliki peran
penting bagi manusia. Tidur memiliki peran esensial bagi kesehatan fisiologis
maupun psikologis individu dan menjadi dasar bagi kualitas hidup seseorang.
Tidur suatu keadaan yang berulang-ulang, perubahan status kesadaran yang terjadi
selama periode tertentu. Jika orang memperoleh tidur yang cukup, mereka merasa
tenaganya lebih pulih. Menurut beberapa ahli, tidur merupakan waktu untuk
perbaikan dan penyembuhan sistem tubuh untuk periode keterjagaan yang
berikutnya.
Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan oleh
adanya berbagai faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor yang
mempengaruhi tidur individu antara lain usia, lingkungan, kelelahan, gaya hidup,
stress psikologis, alkohol, dan stimulant, diet, merokok, motivasi, dan keadaan
sakit (Alimul, 2006).
Prevelensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran menurut
usia >18 tahun sebesar 25,8%. Prevelensi hipertensi di Indonesia yang di peroleh
melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan adalah 9,4% yang di Diagnosis
tenaga kesehatan sebesar atau sedang minum obat sebesar 9,5%. Jadi terdapat

Universitas Sumatera Utara


2

0,1% yang minum obat sendiri. Responden yang mempunyai tekanan darah
normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar 0,7%. Jadi prevelensi
hipertensi di Indonesia sebesar 26,5%(Kemenkes RI,2013).
Saat Penulis Praktek Belajar Lapangan terdapat beberapa kasus yaitu
Asma dan DM. Penulis mengambil kasus Hipertensi pada Tn. L sebagai tugas
akhir Karya Tulis Ilmiah. Alasan Penulis tertarik mengangkat kasus Hipertensi
dengan Gangguan Pola Tidur karena Penulis lebih memahami, dan juga data
subjektif yang di dapatkan lebih mendukung yaitu klien mengatakan bahwa ia
sulit tidur di malam hari dan data objektif terlihat adanya kantung mata yang
berwarna hitam, Klien sering menguap dan wajah klien terlihat lemas.
B.TUJUAN
Tujuan Penulisan Karya Ilmiah ini adalah :
1. Tujuan Umum
Mampu Melakukan Asuhan Keperawatan pada Klien Hipertensi di Kelurahan Sari
Rejo Kecamatan Medan Polonia.
2. Tujuan Khusus
A.Mampu melakukan Pengkajian Asuhan Keperawatan pada Tn. L dengan
prioritas masalah Gangguan Istirahat dan Tidur akibat Hipertensi.
B.Mampu menetapkan Diagnosa Keperawatan pada Tn. L dengan prioritas Gangguan Istirahat
dan Tidur akibat Hipertensi.
C.Mampu menetapkan Rencana Intervensi Asuhan Keperawatan pada Tn. L dengan prioritas
masalah Gangguan Istirahat dan Tidur akibat Hipertensi.
D.Mampu melaksanakan Implementasi Keperawatan pada Tn. L dengan prioritas
masalah Gangguan Istirahat dan Tidur akibat Hipertensi.
E. Mampu melakukan Evaluasi Keperawatan pada Tn. L dengan prioritas masalah
Gangguan Istirahat dan Tidur akibat Hipertensi.

Universitas Sumatera Utara


3

C. MANFAAT
1. Pasien
Menggurangi Gangguan Istirahat dan Tidur Klien serta meningkatkan
kenyamanan pada Klien.
2. Penulis
Dapat menambah Pengetahuan tentang Intervensi terhadap Gangguan Istirahat
dan Tidur akibat Hipertensi serta meningkatkan Keterampilan dan Wawasan bagi
Penulis.

Universitas Sumatera Utara


BAB II
Konsep Teori Asuhan Keperawatan Pasa Pasien Gangguan Istirahat &
Tidur sehubungan dengan Kondisi Penyakit Hipertensi
2.1. Hipertensi
Prevelensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran menurut
usia >18 tahun sebesar 25,8%. Prevelensi hipertensi di Indonesia yang di peroleh
melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan adalah 9,4% yang di diagnosis
tenaga kesehatan sebesar atau sedang minum obat sebesar 9,5%. Jadi terdapat
0,1% yang minum obat sendiri. Responden yang mempunyai tekanan darah
normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar 0,7%. Jadi prevelensi
hipertensi di Indonesia sebesar 26,5%(Kemenkes RI,2013).
Prevalensi hipertensi di Sumatera Utara menurut Riskesdas tahun 2007
adalah 5,8% dari seluruh penduduk dan menduduki urutan keempat dari sepuluh
penyakit tidak menular di Provinsi Sumatera Utara (Dinas Kesehatan Provinsi
Sumatera Utara, 2008). Sedangkan berdasarkan survei awal yang dilakukan
peneliti di RSUP H. Adam Malik Medan didapatkan data prevalensi hipertensi,
baik hipertensi esensial maupun hypertensive heart disease without (congestive)
heart failure, meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun yaitu pada tahun
2009 sebanyak 941 orang menjadi 1720 orang pada tahun 2010.
Hipertensi merupakan kondisi yang paling umum dijumpai dalam
perawatan primer.Hipertensi menurut World Health Organization (WHO) adalah
suatu kondisi dimana pembuluhdarah memiliki tekanan darah tinggi (tekanan
darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darahdiastolik ≥90 mmHg) yang
menetap. Tekanan darah adalah kekuatan darah untuk melawantekanan dinding
arteri ketika darah tersebut dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh. Semakin
tinggi tekanan darah maka semakin keras jantung bekerja(WHO, 2013).
Penyakit hipertensi merupakan penyakit kelainan jantung yang ditandai
oleh meningkatnya tekanan darah dalam tubuh. Seseorang yang terjangkit
penyakit ini biasanya berpotensi mengalami penyakit-penyakit lain seperti stroke,
dan penyakit jantung(Murwani Arita, 2009).

Universitas Sumatera Utara


5

2.1.1. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
hipertensi esensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder atau hipertensi
renal.
1) Hipertensi esensial
Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus.
Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas
sistem saraf simpatis, sistem renin angiotensin, defek dalam ekskresi Na,
peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko
seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. Hipertensi primer biasanya
timbul pada umur 30 – 50 tahun(Murwani Arita, 2009).
2) Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal terdapat sekitar 5 % kasus.
Penyebab spesifik diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing,
feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan
kehamilan, dan lain – lain(Murwani Arita, 2009)
2.1.2. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin
II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE
memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Selanjutnya
oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I.
Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin
II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan
darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar
pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin.
Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.

Universitas Sumatera Utara


6

Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan


dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah
meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.Aksi kedua
adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron
merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk
mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan
ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat
komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi
jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume
sirkulasi darah, kaliber vaskuler, viskositas darah, curah jantung, elastisitas
pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis hipertensi esensial dapat dipicu
oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet, tingkat
stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi. Perjalanan
penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang kadangkadang
muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah periode asimtomatik yang
lama, hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi dengan komplikasi,
dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil, jantung, ginjal, retina dan
susunan saraf pusat.
Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30
tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini
pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian
menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi
dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun(Murwani Arita, 2009)
2.1.3. Manifestasi Klinis
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala
pada hipertensi esensial dan tergantung dari tinggi rendahnya tekanan darah,

Universitas Sumatera Utara


7

gejala yang timbul dapat berbeda-beda. Kadang-kadang hipertensi esensial


berjalan tanpa gejala, dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ
target seperti pada ginjal, mata, otak dan jantung
Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita hipertensi
mungkintidak menunjukkan gejala selama bertahun – tahun. Masa laten ini
menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang
bermakna. Bila terdapat gejala biasanya bersifat tidak spesifik, misalnya sakit
kepala atau pusing. Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah
marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata
berkunang-kunang. Apabila hipertensi tidak diketahui dan tidak dirawat dapat
mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke atau
gagal ginjal. Namun deteksi dini dan parawatan hipertensi dapat menurunkan
jumlah morbiditas dan mortalitas.
2.1.4. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1. Target tekanan darah yatiu <140/90 mmHg dan untuk individu berisiko
tinggi seperti diabetes melitus, gagal ginjal target tekanan darah adalah
<130/80 mmHg.
2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler.
3. Menghambat laju penyakit ginjal.
Terapi dari hipertensi terdiri dari terapi non farmakologis dan farmakologis
seperti penjelasan dibawah ini.
1. Terapi Non Farmakologis
a. Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih.
Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap
tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat
penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi.
b. Meningkatkan aktifitas fisik.
Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50%
daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30-45 menit
sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.

Universitas Sumatera Utara


8

c. Mengurangi asupan natrium.


Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat
anti hipertensi oleh dokter.
d. Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol
Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan
lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol
lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.
2. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC
VII yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron
antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonist,
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II
Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/ blocker (ARB).
2.2. Istirahat & Tidur
Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang
berakibat badan menjadi lebih segar.
Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan
tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang – ulang dan
masing – masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang
berbeda.
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus
dipenuhi oleh semua orang. Istirahat dan tidur yang cukup, akan membuat
tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri
memiliki makna yang berbeda pada setiap individu. Istirahat berarti suatu
keadaan tenang, relaks, tanpa tekanan emosional, dan bebas dari perasaan
gelisah. Beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali.
Berjalan-jalan di taman terkadang juga bisa dikatakan sebagai suatu
bentuk istirahat.
Terdapat beberapa karakteristik dari istirahat, diantaranya:
a. Merasa segala sesuatu dapat diatasi dan di bawah kontrolnya.

Universitas Sumatera Utara


9

b.Merasa diterima eksistensinya baik di tempat tinggal, kantor, atau


dimanapun. Juga termasuk ide-idenya diterima oleh orang lain.
c. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan.
d. Memiliki kepuasan terhadap aktivitas yang dilakukannya.
e. Mengetahui adanya bantuan sewaktu-waktu bila memerlukan.
Seseorang dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda-tanda sebagai
berikut:
a. Aktifitas fisik minimal
b. Tingkat kesadaran yang bervariasi
c. Terjadi perubahan- perubahan proses fisiologis tubuh, dan
d. Penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses fisiologis,
perubahan tersebut antara lain:
a. Penurunan tekanan darah, denyut nadi.
b. Dilatasi pembuluh darah perifer.
c. Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktus gastroinstestinal.
d. Relaksasi otot-otot rangka.
e. Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30%.
2.2.1. Fisiologi / Mekanisme Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya
hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan
menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas ini diatur
oleh sistem pengaktivsi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh
tingkat kegiatan susunan saraf pusat termsuk pengaturan kewaspadaan dan tidur.
Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam
mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, reticular activating system (RAS)
dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, perabaan, juga dapat
menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses
pikir.
Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin
seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan disebabkan
adanya pelepasan serum serotinin dari sel khusus yang berada di pons dan batang

Universitas Sumatera Utara


10

otak tengah, yaitu bulbarsynchronizing regional (BSR), sedangkan


banguntergantung dari keseimbangan implus yang diterima di pusat otak dan
sistem limbik. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus
atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.
2.2.2. Tahapan Tidur
EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level
otak, otot dan aktivitas mata. Normalnya tidur dibagi menjadi dua yaitu
nonrapid eye movement ( NREM ) dan rapid eye movement ( REM ). Selama
masa NREM seseorang terbagi menjadi empat tahapan dan memerlukan kira –
kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahap REM adalah tahapan terakhir
kira – kira 90 menit sebelum tidur berakhir.
1. Tahapan tidur NREM
a. NREM tahap I
- Tingkat transisi.
- Merespons cahaya.
- Berlangsung beberapa menit.
- Mudah terbangun dengan rangsangan.
- Aktivitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun.
- Bila terbangun terasa sedang bermimpi.
b. NREM tahap II
- Periode suara tidur.
- Mulai relaksasi otot.
- Berlangsung selama 10-20 menit.
- Fungsi tubuh berlangsung lambat.
- Dapat dibangunkan dengan mudah.
c. NREM tahap III
- Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak.
- Sulit di bangunkan
- Relaksasi otot menyeluruh.
- Tekanan darah menurun.
- Berlangsung 15-30 menit.

Universitas Sumatera Utara


11

d. NREM tahap IV
- Tidur nyenyak.
- Sulit untuk di bangunkan , butuh stimulus intensif.
- Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun.
- Sekresi lambung menurun.
- Gerak bola mata cepat.
2. Tahap tidur REM
a. Lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM.
b. Padaa orang dewasa normal REM yaitu 20-25% dari tidur malamnya.
c. Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi mimpi.
d. Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga berperan
dalam belajar, memori, dan adaptasi.
3. Karakteristik tidur REM
a. Mata : Cepat tertup dan terbuka.
b. Otot- otot : Kejang otot kecil, otot besar imobilisasi.
c. Pernapasan : Tidak teratur kadang dengan apnea.
d. Nadi : Cepat dan ireguler.
e. Tekanan darah : Meningkat atau fluktuasi.
f. Sekresi gaster : Meningkat.
g. Metabolisme : Meningkat, temperatur tubuh naik
h. Gelombang otak : EEG aktif.
i. Siklus tidur : Sulit dibangunkan.

Universitas Sumatera Utara


12

Siklus tidur normal sebagai berikut


Bangun

NREM I REM

NREM II NREM II NREM III

NREM III NREM III

NREM IV
2.2.3. Gangguan Tidur
Pengetahua mengenai gangguan tidur yang sering terjaadi membantu
perawat mendapatkan dan mengenali data yang tepat. Gangguan tidur
dapat dikategorikan sebagai parasomnia, gangguan primer, dan gangguan
sekunder.
2.2.3.1. Parasomnia
Parasomnia adalah perilaku yang dapat menggangu tidur atau terjdi selama
tidur. Internasional Classification of Sleep Disorder (American Sleep
Disorder assosiation 1997) membagi parasomnia menjadi gangguan
terjaga(misalnya berjalan dalam tidur,teror tidur), gangguan transisi
bangun tidur (misalnya mengigau), parasomnia yang berhubungan dengan
tidur REM (misalnya mimpi buruk) dan lainnya (misalnya bruksisme)
2.2.3.2. Gangguan Tidur Primer
Gangguan tidur primer adalah gangguan yang masalah utamanya berupa
masalah tidur seseorang. Gangguan ini meliputi insomnia, hipersomnia,
narkolepsi, apnea tidur, dan deprivasi tidur.
2.2.3.3. Insomnia
Insomnia, gangguan tidur yang paling sering terjadi, adalah
ketidakmampuan untuk tidur dengan jumlah atau kualitas yang cukup.
Individu yang menderita insomnia tidak merasa segar pada saat bangun
tidur. Terdapat tiga tipe insomnia.

Universitas Sumatera Utara


13

1. Sulit tidur (insomnia awal).


2. Sulit untuk tetap tertidur karena sering terbangun atau terbngun dalam
waktu lama (insomnia intermiten berkala atau insomnia pemeliharaan).
3.Terbangun pada dini hari atau terbangun sebelum waktunya (insomnia
terminal).
Insomnia dapat terjadi akibat ketidaknyamanan fisik tetapi lebih sering
terjadi akibat stimulasi mental yang berlebihan karena ansietas. Individu
yang terbiasa menggunakan obat-obatan atau yang meminum
alkoholdalam jumlah besar cenderung menderita insomnia. Penanganan
insomnia sering kali mengharuskan klien untuk membentuk pola prilaku
baru yang menginduksi tidur. Kegunaan obat tidur masih digunakan. Obat-
obatan tersebut tidak mengatasi penyebab masalah dan penggunaan
berkepanjangan dapat menciptakan ketergantungan obat.
2.2.3.4. Hipersomnia
Hipersomnia, kebalikan dari insomnia yaitu tidur berlebihan, terutama di
siang hari. Individu yang menglami hipersomnia sering kali tidur sampai
tengah hari dan banyak tidur siang selama siang hari. Hipersomnia dapat
disebabkan oleh kondisi medis, misalnya kerusakan sistem saraf pusat dan
gangguan ginjal, hati, atau metabolik tertentu seperti asidosis diabetakum
dan hipotiroidisme.Pada beberapa kondisi seseorang menggunakan
hipersomnia sebagai sebuah mkanisme koping untuk menghindar dari
tanggung jawab selama siang hari.
2.2.3.5. Narkolepsi
Narkolepsi dari bahasa yunani narco artinya ’’mati rasa’’, dan lepis
artinya ’’serangan’’ adalah gelombang rasa ngantuk yang berlebihan
secara mendadak yang terjadi di siang hari sehingga narkolepsi juga
disebut sebagai ”serangan tidur”. Penyebabnya tidak diketahui walau
diyakini bahwa narkolepsi terjadi karena kurangnya hipokretin kimia
dalam sistem saraf pusat yang mengatur tidur. Awitan gejala cederung
terjadi antara usia 15 da 30 tahun. Pada serangan narkoleptik, tidur dimulai
dengan fase REM. Walaupum individu yang menderita narkolepsi tidur
dengan baik di malam hari ,mereka tidur beberapa kali selama siang hari

Universitas Sumatera Utara


14

bahkan saat berbicara dengan orang lain atau saat mengendarai mobil.
Narkolepsi menurut riwayat telah di kendalikan oleh stimulan dan
antidepresan sistem saraf pusat tetapi sebuah obat yang telah diakui oleh
Food and Drug Administration Amerika Serikat tahun 1999, yaitu
medofinil, meningkatkan kewaspadaan tanpa menstimulasi sistem tubuh
lain atau menggangu tidur di waktu malam.
2.2.3.6. Apnea Tidur
Apnea tidur adalah henti nafas secara periodik selama tidur. Gangguan ini
perlu dikaji oleh seorang ahli di bidang tidur, tetapi apnea tidur sering kali
dicurigai pada orang yang berdengkur dengan keras, sering terjaga di
waktu malam, mengalami rasa ngantuk yang berlebihan di siang hari,
insomnia, sakit kepala di pagi hari, kemunduran intelektual, iritabilitas
atau perubahan keperibadian lain, serta perubahan fisiologis seperti
hipertensi dan aritmia jantung. Apnea tidur sering terjadi pada pria berusia
lebih dari 50 tahun dan pada wanita pasca menopause.
Periode apnea yang berlangsung dari 10 detik sampai 2 menit, terjadi
selama tidur REM, atau tidur NREM. Frekuensi periode apnea berkisar
dari 50-600 kali permalam. Episode apnea ini menyedot energi seseorang
dan menyebabkan rasa ngantuk berlebihan di siang hari.Tiga tipe apnea
tidur yang umum adalah apnea obstruktif, apnea pusat, apnea campuran.
Apnea obstruktif terjadi pada saat struktur faring atau rongga mulut
menyumbat aliran udara. Individu terus berupaya untuk bernafas yaitu otot
dada dan abdomen bergerak. Pergerakan diafragma menjadi lebih kuat dan
lebih kuat sampai obstruksi disingkirkan. Pembesaran tonsil, deviasi
septum nasal, polip hidung, dan kegemukan dapan menjadi penyebab
apnea obstruktif pada klien.
Apnea pusat diduga melibatkan defek pusat pernafasan di otak. Setiap
upaya pernafasan, seperti pergerakan dada dan aliran udara menurun.
Klien yang mengalami cedera batang otak dan distrofi otot misalnya sering
kali mengalami apnea tidur pusat. Pada saat ini tidak ada obatnya. Apnea
campuran merupakan kombinasi dari apnea pusat dan apnea obstruktif.

Universitas Sumatera Utara


15

Episede apnea tidur biasanya dimulai dengan dengkuran setelah itu


pernapasan berhenti diikuti dengan dengusan yang jelas saat pernapasan
kembali. Menjelang akhir setiap episode apnea, peningkatan kadar karbon
dioksida di dalam darah menyebabkn klien terbngun.
Penanganan untuk apnea tidur dapat di tunjukkan pada penyebab apnea.
Misalnya pengangkatan pembesaran tonsil. Prosedur bedah lain, termasuk
pengangkatan jaringan berlebih di dalam faring dengan menggunakan
laser, menggurangi atau menghilangkan dengkuran dan dapat efektif
dalam meredakan apnea. Dalam kasus lain penggunaan alat tekanan jalan
napas positif berkelanjutan (continuous positive airway pressure, CPAP)
pada hidung di malam hari terbukti efektif dalam mempertahankan bukaan
jalan nafas.
2.2.3.7. Deprivasi Tidur
Gangguan berkepanjangan dalam jumlah, kualitas, dan konsistensi tidur
dapat memicu sebuah sindrom yang disebut deprivasi (kurang) tidur,ini
bukan merupakan gangguan tidur tetapi merupakan akibat dari gangguan
tidur. Deprivasi tidur menimbulkan beragam gejala fisiologis dan prilaku,
keparahanya bergantung pada tingkat deprivasi. Dua tipe pertama
deprivasi tidur adalah deprivasi REM dan deprivasi NREM. Kombinasi
kedua defrivasi tersebut dapat meningkatkan keparahan gejala.
2.2.3.8. Gangguan Tidur Sekunder
Gangguan tidur sekunder adalah gangguan tidur yang di sebabkan oleh
kondisi klinis lain. Gangguan ini mungkin di kaitkan dengan kondisi
mental, neurologi, atau kondisi lain. Contoh dari kondisi yang
menyebabkan gangguan tidur sekunder adalah depresi, alkohollisme,
demensia, parkinsonisme, tiroid, penyakit paru obstruktif menahun, dan
penyakit tukak lambung.

Universitas Sumatera Utara


16

2.2.4.Penyebab Gangguan Tidur


Faktor Fisik
Keadaan sakit menjadikan seseorang kurang tidur, bahkan tidak bisa
tidur.Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik,
atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi dapat
menyebabkan masalah tidur. Penderita hipertensi pada umumnya
mengalami nyeri, selain itu penderita juga mudah lelah, merasa tidak
nyaman, sulit bernafas, sukar tidur. Gejala-gejala tersebut dapat
mengganggu tidur seseorang.
A. Pusing.
Seseorang yang sering mengalami pusing melaporkan sering terbangun
pada malam hari karena sakit kepala. Hal ini juga sering terjadi pada
pasien dengan hipertensi.pusing akan menyebabkan gangguan tidur dan
apabila pusing semakin parah maka akan semakin parah juga tingkat
gangguan tidurnya.pusing dapat menyebabkan seseorang terbangun
dari tidurnya sehingga total jam tidur menjadi berkurang.
B. Rasa tidak nyaman
Rasa tidak nyaman merupakan penyebab utama kesulitan untuk tidur atau
sering terbangun pada malam hari, rasa tidak nyaman merupakan salah
satu faktor terjadinya gangguan tidur dimana seseorang akan merasa
gelisah dan sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak.
C. Sulit bernafas
kesulitan bernafas dapat menyebabkan seseorang sering terbangun dari
tidurnya di malam hari, kadang-kadang ada kesulitan untuk jatuh tertidur
lagi ketika sudah terbangun akibat kesulitan bernafas dan ini dapat
menyebabkan nyeri kepala dan perasaan tidak enak ketika bangun di pagi
hari.
D. Sukar tidur
kesulitan tidur dapat menyebabkan berbagai gangguan tidur dan ia juga
menambahkan bahwa orang yang kesulitan tidur biasanya tidak
mendapatkan tidur yang cukup sehingga akan mempengaruhi
aktivitasnya di pagi hari.

Universitas Sumatera Utara


17

E. Mudah lelah
Kelelahan dapat menyebabkan gangguan tidur, dimana biasanya seseorang
yang kelelahan akan merasa seolah-olah mereka bangun ketika tidur dan
biasanya tidak mendapatkan tidur yang dalam.
Faktor Lingkungan
keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan untuk tertidur
dan tetap tertidur di antaranya adalah suara/ kebisingan, suhu ruangan,
dan pencahayaan. Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi
seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur.
A. Suara bising
Kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat
membangunkan seseorang dari tidur sebagian besar orang tidak
mengeluhkan kurang tidur karena kebisingan tetapi memiliki tidur yang
non-restoratif, mengalami kelelahan dan atau sakit kepala pada saat
bangun pagi dan kantuk yang berlebihan di siang hari.
B. Sorot lampu ruangan yang terlalu terang
sorot lampu yang terlalu terang dapat menyebabkan gangguan tidur dan
dapat menghambat sekresi melatonin pada tubuh. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya pergeseran sistem sirkadian, dimana jadwal
tidur maju secara bertahap.
C. Suhu ruangan
Suhu ruangan yang terlalu panas/ terlalu dingin seringkali menyebabkan
seseorang gelisah. Keadaan ini akan mengganggu tidur seseorang.
seseorang akan mengalami gangguan tidur apabila tidur di ruangan yang
terlalu panas ataupun terlalu dingin.

Universitas Sumatera Utara


18

2.4. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Istirahat dan Tidur


2.4.1. Pengkajian
1. Riwayat Keperawatan
a. Kebiasaan pola tidur bangun, apakah ada perubahan pada : waktu
tidur, jumlah jam tidur, kualitas tidur, apakah mengalami mimpi yang
mengancam.
b. Dampak pola tidur terhadap fungsi sehari-hari : apakah merasa segar
saat bangun,apa yang terjadi jika kurang tidur.
c. Adakah alat bantu tidur : apa yang anda lakukan sebelum tidur,apakah
menggunakan obat-obatan untuk membantu tidur.
d. Gangguan tidur atau faktor-faktor kontribusi : jenis gangguan tidur,
kapan masalah itu terjadi.
2. Pemeriksaan fisik
a. Observasi penampilan wajah, perilaku, dan tingkat energi pasien.
b. Adanya lingkaran hitam di sekitar mata, mata sayu, dan
konjungtivamerah.
c. perilaku : iritabel, kurang perhatian, pergerakan lambat, bicaralambat,
postur tubuh tidak stabil, tangan tremor, sering menguap, mata tampak
lengket, menarik diri, binggung dan kurang koordinasi.
3. Penyimpangan Tidur
Penyimpangan tidur meliputi perubahan tingkah laku dan auditorik,
meningkatnya kegelisahan, gangguan persepsi, halusinasi visual dan
auditorik, binggung dan disorientasi tempat dan waktu, gangguan
koordinasi, serta bicara rancu, tidak sesuai, dan intoasinya tidak teratur.
4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Elektroencefalogram (EEG)
b. Elektromiogram (EMG)
c. Elektrookulogram (EOG)

Universitas Sumatera Utara


19

2.4.2. Analisa Data


Penegakan kriteria keperawatan yang akurat akan dapat dilaksanakan
apabila analisa data yang dilakukan cermat dan akurat. Berikut ini contoh proses
analisa data untuk menegakkan kriteria keperawatan pada klien(Kozier, 2010).
analisa data dari diagnosa keperawatan gangguan pola tidur dibagi
menjadi data subjektif dan data objektif antara lain:
a. Data subjektif
Bangun lebih awal atau lebih lambat dari yang diinginkan, ketidakpuasan
tidur, keluhan verbal tentang kesulitan untuk tidur, keluhan verbal tentang
perasaan tidak dapatistirahat dengan baik.
b. Data objektif
Penurunan kemampuan berfungsi, penurunan proposi tidur fase REM,
(misalnya mengantuk yang berlebihan, penurunan motivasi), penurunan
proporsi tidur tahap 3 dan 4 insomnia dini hari, peningkatan proporsi
tidur tahap 1, totalwaktu tidur kurang dari usia normal, perpanjangan
waktu bangun, gangguan dorongan diri untuk tidur dengan pola normal,
insomnia pada saat tidur, awitan tidur lebih dari 30 menit, bangun 3 kali
atau lebih di malam hari.
2.4.3. Rumusan Masalah
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut diagnosa
keperawatan NANDA Ada beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin dapat
muncul pada pasien yang mengalami masalah pada Domain ke-4 kelas satu,
yaitu:
a. Insomnia
Pasien mengalami gangguan pada kualitas dan kuantitas tidur yang
menghambat fungsi.
Penyebab terjadinya insomnia:
- Pola aktivitas (misalnya waktu, kuantitas).
- Ansietas
- Depresi
- Faktor linngkungan (kebisingan, kelembaban, tatanan tempat tidur yang
kurang nyaman, dan lain sebagainya).

Universitas Sumatera Utara


20

- Ketakutan
- Tidur siang atau tidur sore lama
- Berduka
- Perubahan hormone terkait jenis kelamin
- Gangguan pola tidur normal (misalnya, berpergian, kerja shift)
- Konsumsi alkohol, kafein, obat, atau substansi lainnya.
- Tidur terputus
- Tangguang jawab sebagai orang tua
- Ketidaknyamanan fisik (nyeri panas, sesak napas, mual, dan lain
sebagainya).
- Stres
Didapatkan beberapa data-data yang mendukung, berikut ini adalah data-
data yang dapat memperkuat dalam menegakkan diagnosa insomnia apabila pada
pasien yang dirawat didapatkan beberapa data dan tidak harus semua data yang
ada berikut ini:
- Afek tampak berubah
- Tampak kurang bergairah.
- Menyatakan perubahan dalam perasaan.
- Menyatakan penurunan status kesehatan.
- Menyatakan penurunan kualitas hidup.
- Menyatakan sulit berkonsentrasi.
- Menyatakan sulit tidur.
- Menyatakan sulit tidur nyenyak.
- Menyatakan kurang puas tidur (pada saat ini).
- Menayatakan kurang bergairah.
- Menyatakan sulit tidur kembali setelah terbangun. Menyatakan gangguan
tidur yang berdampak pada keesokanhari.
- Menyatakan terbangunterlalu pagi.
- Sering membolos dari aktivitas.
b. Deprivasi tidur
Periode panjang tanpa tidur (“tidur ayam”, yang priodik dan alami secara
terus menerus).

Universitas Sumatera Utara


21

Penyebab terjadinya deprivasi tidur:


- Pergeseran tahap tidur terkait penuaan.
- Demendia.
- Paralisis tidur familial.
- Hipersomnilen system saraf pusat idiopatik.
- Aktivitas di siang hari tidak adekuat.
- Narkolepsi.
- Mimpi buruk.
- Peran sebagai orang tua yang mengakibatkan tidak dapat tidur.
- Pergerakan ekstremitas periodic (misalnya, sindrom resah kaki
mioklonus noktural).
- Apnea tidur.
- Enuresis ketika tidur.
- Ereksi nyeri ketika tidur.
- Terror tidur.
- Tidur berjalan.
- Sindrom sundowner.
- Ketidaksingkronan irama sirkardi yang terus menerus.
- Stimulasi lingkungan yang terus menerus.
- Hygiene tidur tidak adekuat yang terus menerus.
- Ketidaknyamanan kontinu pada lingkungan tidur.
Data-data yang dapat mendukung untuk menegakkan diagnosa Deprivasi tidur
adalah:
- Konfusi akut.
- Agitasi.
- Ansietas.
- Apatis.
- Sering memberontak.
- Mengantuk di siang hari.
- Penurunan kemampuan berfungsi.
- Keletihan.
- Fleeting nystagmus.

Universitas Sumatera Utara


22

- Halusinasi.
- Tremor tangan.
- Peningkatan sensitivitas terhadap nyeri.
- Ketidakmampuan konsentrasi.
- Iritabilitas.
- Letargi.
- Lesu.
- Malaise.
- Gangguan persepsi(gangguan sensasi tubuh,waham,merasa
melayang/sempoyongan)
- Gelisah.
- Reaksi lambat.
- Paranoia sementara.
c. Kesiapan Meningkatkan Tidur
Pola “tidur ayam” yang priodik dan alami, yang memberi istirahat adekuat,
mempertahankan gaya hidup yang diinginkan, dan dapat ditingkatkan.Penyebab
terjadinya kesiapan meningkatkan tidur, masih belum diketahui.Data-data yang
mendukung untuk menegakkan diagnose devrivasi tidur adalah:
- Jumlah tidur sesuai kebutuhan perkembangan.
- Mengekspresikan perasaan dapat beristirahat setelah tidur.
- Mematuhi rutinitas tidur yang meningkatkan kebiasaan tidur.
- Penggunaan obat penginduksi tidur hanya kadang-kadang saja.
- Menyatakan merasa cukup istirahat setelah tidur.
d. Gangguan Pola Tidur.
Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur kibat factor eksternal.
Penyebab terjadinya gangguan pola tidur:
- Kelembaban lingkungan sekitar.
- Suhu lingkungan sekitarnya.
- Tangguang jawab pemberi asuhan.
- Perubahan pajanan terhadap cahaya-gelap.
- Gangguan (misalnya untuk tujuan terapeutik, pementauan, pemeriksaan
laboratorium).

Universitas Sumatera Utara


23

- Kurang control tidur.


- Kurang privasi.
- Pencahayaan.
- Bising.
- Bau gas.
- Restrain fisik.
- Teman tidur.
- Tidak familier dengan perabotan tidur.
Data-data yang dapat mendukung untuk menegakkan diagnose gangguan pola
tidur adalah:
- Perubahan pola tidur normal.
- Penurunan kemampuan berfungsi.
- Ketidak puasan tidur.
- Menyatakan sering terjaga.
- Menyatakan tidak mengalami kesulitan tidur.
- Menyatakan tidak merasa cukup istirahat.
2.4.4. Perencanaan
Tujuan utama untuk klien yang mengalami gangguan tidur adalah
mempertahankan (atau menciptakan) pola tidur yang memberikan kecukupan
energi unutk melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan lainnya adalah untuk
meningkatkan perasaan sejahtera klien dan meningkatkan perasaan sejahtera klien
dan meningkatkan kualitas (bukan kuantitas) tidur klien. Perawat merencanakan
intervensi keperawatan spesifik untuk mencapai tujuan berdasarkan etiologi tiap
diagnosis keperawatan. Intervensi ini dapat mencakup mengurangi distraksi
lingkungan, meningkatkan ritual waktu tidur, menyediakan upaya kenyamanan,
menjadwalkan asuhan keperawatan untuk memberikan periode tidur yang tidak
terganggu, dan megajarkan metode pengurangan stres, teknik relaksasi atau cara
lain untuk menciptakan kebiasaan tidur yang baik.
1. Lakukan pengkajian masalah ganggua tidur pasien, karakteristik, dan
penyebab kurang tidur.
2. Lakukan mandi air hangat sebelum tidur.
3. Berikan susu hangat sebelum tidur.

Universitas Sumatera Utara


24

4. Keadaan tempat tidur yang nyaman, bersih, dan bantal yang nyaman.
5. Tingkatkan aktivitas sehari-hari dan kurangi aktivitas sebelum tidur.
6. Anjurkan klien untuk makan tinggi Protein sebelum tidur misalnya keju,
kacang
7. Pengetahuan kesehatan : jadwal tidur mengurangi stres, cemas dan
latihan relaksasi.
8. Anjurkan klien untuk tidurdengan posisi yangnyaman, seperti posisi
SIM (Miring Kanan Miring Kiri)
2.4.5. Implementasi
Intervensi keperawatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tidur
klien melibatkan banyak upaya non farmakologi. Upaya ini terdiri atas
penyuluhan kesehatan mengenai kebiasaan tidur, dukungan terhadap ritual waktu
tidur, penyediaan lingkungan yang tenang,upaya khusus meningkatkan
kenyamanan dan relaksasi, dan pertimbangan penting mengenai penggunaan obat
tidur.
2.4.6. Evaluasi
Dengan menggunakan data yang dikumpulkan selama perawatan dan hasil
yang di susun selama tahap perencanaan sebagai panduan, perawat menilai apakah
tujuan klien dan hasil telah tercapai. Data yang dikumpulkan terdiri dari observsi
durasi tidur klien dan tanda tidur REM dan NREM dan pertanyaan mengenai
bagaimana perasaan klien pada saat bangun,atau mengenai penggunaan teknik
relaksaki, kepatuhan terhadap siklus bangun tidur yang konsisten,atau
mengkonsusmsi susu sebelum tidur.

Universitas Sumatera Utara


BAB III
Pengelolaan Kasus Pasien Gangguan Istirahat dan Tidur ( sehubungan
dengan kondisi Penyakit Hipertensi )

PROGRM DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN USU

3.1. FORMAT PENGKAJIAN PASIEN

I. BIODATA
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. L
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Umur : 51 Tahun
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jalan Karya Bakti I No. 16 Kelurahan Sari Rejo
Kecamatan Medan Poloni
Tanggal Persalinan :-
Ruangan/kamar :-
Golongan darah :-
Tanggal Pengkajian : 20 Juni 2017
Diagnosa Medis : Hipertensi
II. KELUHAN UMUM
Tn. L mengatakan sulit tidur di malam hari
III. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
A. Provocative/palliative
1. Apa Penyebabnya

25

Universitas Sumatera Utara


26

Tn. A mengatakan bahwa gangguan tidur ini terjadi sejak kurang lebih 1 Tahun
yang lalu terutama saat Nyeri Kepala.
2. Hal-hal yang memperbaiki keadaan
berusaha untuk tidur.
B. Quantity/quality
1. Bagaimana dirasakan
Tn. L mengatakan tubuhnya lemas, kepala pusing, dan merasar ngantuk
tetapi sulit untuk tidur.
2. Bagaimana dilihat
Ketika di observasi Tn. L tampak lemas, adanya kantong mata berwarna
hitam.
IV. RIWAYAT HIPERTENSI
Pasien mengalami Hipertensi kurang lebih 5 tahun yang lalu.
V. RIWAYATKESEHATAN MASA LALU
A. Penyakit yang pernah dialami
Stroke Ringan.
B. Pengobatan/tindakan yang dilakukan
Minum Obat,
C. Pernah dirawat/dioperasi
Pernah.
D. Lama dirawat
3 Hari.
E. Alergi
Ada alergi obat.
VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
A. Orang tua
Hipertensi.
B. Saudara Kandung
Hipertensi dan DM.
C. Penyakit keturunan yang ada
Hipertensi.

Universitas Sumatera Utara


27

D. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
E. Anggota keluarga yang meninggal
Ayah.
F. Penyebab meninggal
Hipertensi.
VII. RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL
A. Tn. L menerima penyakit yang di deritanya dengan ikhlas.
B. Konsep Diri
- Gambaran Diri : Tn. L menyatakanbahwa ia menyukai tubuhnya.
- Ideal Diri : klien mengatakan untuk selalu diberikan kesehatan
dan umur panjang
- Harga Diri : Tn. L mengatakan sangat bahagia dengan
hidupnya dan telag dikaruniai anak 2
- Peran Diri : Tn. L berperan sebagai suami dan ayah untuk 2
orang anak.
- Identitas : Kepala Rumah tangga dengan 2 anak
C. Keadaan Emosi
Tn. L Selalu menahan / mengontrol emosinya.
D. Hubungan sosial:
- Orang yang berarti : Anak-anak, Istri dan kedua orang tuanya.
- Hubungan dengan keluarga : Baik, Tn. L sering bersillaturahmi.
- Hubungan dengan orang lain : Baik.
- Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain :Tidak ada hambatan.
E. Spiritual
- Nilai dan keyakinan : Klien percaya dengan keyakinan agama yang
dianutnya.
- Kegiatan ibadah :Tn. L selalu shalat 5 waktu.

Universitas Sumatera Utara


28

VIII. STATS MENTAL


Tidak ada kelainan status mental, penampilan Tn. L rapi, afek; sesuai,
interaksi selama wawancara; kooperatif, dan memori; tidak ada gangguan daya
ingat.
IX. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum
Keadaan umum Tn. L baik.
B. Tanda-tanda Vital
- Suhu tubuh : 36,5 C
- Tekanan darah : 150/80 mmhg
- Nadi : 80 x/i
- Pernafasan : 20 x/i
- TB : 160Cm
- BB : 65 Kg
C. Pemeriksaan Gangguan Pola Tidur
1. Riwayat Keperawatan
a. Kebiasaan Pola Tidur dan Bangun : Tidak dilakukan
Pemeriksaan
Apakah ada perubaha pada waktu tidur : Tidak dilakukan
Pemeriksaan
Jumlah jam tidur : 3 jam
Kualitas tidur : Tidak Nyenyak
Apakah mengalami mimpi yang mengancam : Tidak dilakukan
pemeriksaan
b.Dampak pola tidur terhadap fungsi sehari- hari : Tidak dilakukan
pemeriksn
Apakah merasa segar saat bangun : Tidak
Apa yang terjadi jika kekurangan tidur : Tidak dilakukan
pemeriksaan
c. Adakah alat bantu untuk tidur : Tidak ada
Adakah menggunakan obat obatan untuk membantu tidur
: tidak ada

Universitas Sumatera Utara


29

d. Jenis gangguan tidur : Insomnia


e. Kapan masalah itu terjadi : Kurang lebih 1 tahun yang lalu.
2. Pemeriksaan Fisik
Adanya lingkaran hitam di sekitar mata, wajah pucat dan lemas,sering
menguap.
3. Penyimpangan tidur : Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pemeriksaan diagnostik : Tidak dilakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan thoraks/dada
- Inspeksi thoraks (Normal, burrel chest, funnel chest, pigeon chest, flail
chest, kifos koliasis) : Tidak dilakukan
pemeriksaan
- Pernapasan (frekuensi, irama) : Tidak dilakukan
pemeriksaan
- Tanda kesulitan bernafas : Tidak dilakukan
pemeriksaan
Pemeriksaan paru
- Palpasi getaran suara: Tidak dilakukan pemeriksaan
- Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Auskultasi (suara napas, suara ucapan, suara tambahan)
: Tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan jantung
- Inspeksi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Palpasi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Auskultasi : Tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan abdomen
- Inspeksi (bentuk, benjolan) : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Auskultasi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Palpasi (tanda nyeri tekan, benjolan, ascites, hepar, lien)
: Tidak dilakukan pemeriksaan.
- Perkusi (suara abdomen) : Tidak dilakukan Pemeriksaan
.

Universitas Sumatera Utara


30

Pemeriksaanmusculoskeletal/ekstremitas (kesimetrisan, kekuatan


otot, edama) :Tidak dilakukan Pemeriksaan
Pemeriksaan neurologi (Nervus cranialis)
:Tidak dilakukan pemeriksaan
Fungsi motorik :Tidak dilakukan pemeriksaan
Fungsi sensorik (identifikasi sentuhan, tes tajam tumpul, panas
dingin, getaran) :Tidak dilakukan pemeriksaan.
Refleks (bisep, trisep, brachioradialis, patelar, tenson achiles,
plantar) :Tidak dilakukan pemeriksaan.
X.POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
I. Pola makan dan minum
- Frekuensi makan/hari : Tn. L makan 3 kali sehari
- Nafsu/selera makan : Tn. L mengatakan nafsu makan
- Nyeri ulu hati : Tn. L mengatakan tidak ada nyeri
- Alergi : Tidak ada alergi
- Mual dan muntah : Tn. L tidak mengalami mual dan muntah.
- Tampak makan memisahkan diri (pasien gangguan jiwa)
: Tidak ada gangguan jiwa.
- Waktu pemberian makan : Pagi jam 07.00, siang jam 13.00, malam
jam 19.00 WIB.
- Jumlah dan jenis makanan : 1 porsi makanan biasa.

- Waktu pemberian cairan/minum : Ketika Tn. A merasahaus.

- Masalah makan dan minum (kesulitan menelan, mengunyah)


: Tidak ada masalah.
II. Perawatan diri/personal hygiene
- Kebersihan tubuh : Tubuh TN. L bersih karena mandi 2 kali
sehari (pagi dan sore hari).
- Kebersihan gigi dan mulut : Saat di observasi gigi dan mulut Tn. L
tampak bersih
- Kebersihan kuku kaki dan tangan : Bersih

Universitas Sumatera Utara


31

III. Pola kegiatan/Aktivitas Istirahat


- Uraikan aktivitas pasie untuk mandi makan, eliminsi, ganti pakaian
dilakukan secara mandiri, sebagian, atau total : Mandiri
- Uraikan aktivitas ibadah pasien selama dirawat/sakit : ada aktivitas
IV. Pola eliminasi
1. BAB
- Pola BAB : 1 kali sehari
- Karakter feses : Lembek
- Riwayat perdarahan : Tidak ada
- BAB terakhir : Pada pagi hari
- Diare : Tidak ada diare
- Penggunaan laksatif : Tidak ada
2. BAK
- Pola BAK : Pola BAK 7-8 x/hari
- Karakter urine : Putih Jernih
- Nyeri/rasa terbakar/kesulitan BAK : Tidak ada
- Riwayat nyeri ginjal/kandung kemih : Tidak ada riwayat penyakit ginjal
- Penggunaan diuretic : Tidak ada
- Upaya mengatasi masalah : Tidak ada
V. Mekanisme koping
- Adaptif
o Bicara dengan orang lain
o Mampu menyelesaikan masalah
o Teknik relaksasi
o Aktivitas Konstruksi
o Olahraga

Universitas Sumatera Utara


32

3.1.1. ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI PROBLEM


DS : 1 Hipertensi Gangguan Pola Tidur
Pasien mengatakan
1
bahwa ia1sulit tidur di Kerusakan Vasculer
malam hari
1 dan sakit Pembuluh Darah
kepala. 1
DO : 1 Perubahan Struktur
Pasien sering Pembuluh Darah
mengantuk.
Pasien Tampak Lemas. Penyumbatan
Adanya kantung mata Pembuluh Darah /
berwarna hitam. Vasokontriksi
Klien jarang tidur siang.
Lama tidur siang klien 1 Gangguan Sirkulasi
jam. Serebral/ Otak
Kuantitas tidur malam
dari jam 02.00 – 05.00. Resistensi Pembuluh
TD : 150/80 mmhg Darah otak Meningkat
RR : 20x/i
HR : 80x/i Tekanan Darah
T : 36,5 Meningkat

Nyeri Kepala

Gangguan Pola Tidur

Universitas Sumatera Utara


33

3.1.2. Rumusan Masalah


Gangguan Pola Tidur
3.1.3. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik pada
Nyeri kepala ditandai dengan adanya kantung mata berwarna hitam, klien sering
mengantuk, dan klien tampak lemas.

Universitas Sumatera Utara


34

3.1.4. PERENCANAAN KEPERAWATAN DAN RASIONAL

Diagnosa Tujuan/ Kriteria Rencana Tindakan Rasional


Hasil
Gangguan Pola Pasien dapat tidur 1. Lakukan 1. Memberikan
Tidur 6-8 jam setiap Pengkajian masalah Informasi dalam
berhubungan malam. gangguan tidur menentukan rencana
dengan Secara Verbal pasien, karakteristik, keperwatan.
Ketidaknyamanan mengatakan dapat dan penyebab kurang 2. Meningkatkan
Fisik pada Nyeri lebih rileks dan tidur. tidur.
Kepala. lebih segar setelah 2. Lakukan mandi air 3. Susu mengandung
bangun tidur. hangat sebelum L-triftofan, asam
Mengidentifikasi tidur. amino alami yang
tindakan yang 3. Berikan susu merangsang untuk
dapat hangat sebelum tidur.
meningkatkan tidur. 4. Meningkatkan
tidur/ istirahat. 4. Keadaan tempat tidur.
tidur yang nyaman, 5. Dapat
bersih, dan bantal mempercepat klien
yang nyaman. untuk masuk pada
5. Tingkatkan tahap tidur.
aktivitas sehari-hari 6. Mengandung L-
dan kurangi aktivitas trytophan yang dapat
sebelum tidur. memepermudah
6. Anjurkan Klien tidur.
untuk makan tinggi
Protein 1 jam
sebelum tidur.
Misalnya keju,
kacang, tahu, tempe,
telur.

Universitas Sumatera Utara


35

7. Pengetahuan 7. Latihan Relaksasi


Kesehatan : jadwal meningkatkan tonus
tidur, menggurangi stres, otot simpatik yang
cemas dan latihan membantu
relaksasi. meningkatkan tidur.
8. Anjurkan Klien untuk 8. Meningkatkan pola
tidur dengan posisi yang tidur.
nyaman, seperti Posisi
SIM.
(posisi miring kanan dan
posisi miring kiri)

Universitas Sumatera Utara


36

3.1.5. PELAKSANAAN KEPERAWATAN


Hari/ No Implementasi Keperawatan Evaluasi
Tanggal DX
Selasa/ 1 - Melakukan pengkajian masalah gangguan S :
20-06- tidur klien, karakteristik dan penyebab kurang Klien Paham
2017 tidur. penyebab dari
- Mengukur TD, RR, HR dan T Klien. masalah
- Anjurkan keluarga klien untuk memberikan gangguan
Keadaan tempat tidur yang nyaman, bersih dan tidurnya.
bantal yang nyaman. Klien akan
Seperti menganti seprei dan sarung bantal mencoba untuk
dengan yang baru/ yang bersih. tidur dengan
- Menganjurkan Klien untuk minum susu sebelum posisi SIM.
tidur. O:
- Menganjurkan klien untuk mandi air hangat TD : 150/80
sebelum tidur. mmhg
- Menganjurkan Klien untuk tidur dengan posisi RR : 20x/i
yang nyaman seperti posisi sim (Posisi miring HR : 80x/i
kanan dan Kiri). T : 36,5
Kuantitas tidur
malam hari jam
02.00 – 05.00
A : Masalah
belum teratasi.
P : Intervensi di
lanjutkan

Universitas Sumatera Utara


37

Rabu/ 1 - - Mengukur TD, RR, HR, T Klien. S:


21-06- - - - Mengevaluasi kembali pola tidur klien. Klien
2017 - - Menanyakan kepada pasien tindakan apa saja mengatakan
yg sudah ia lakukan pada perencanaan yang bahwa dia
sebelumnya. Nyaman tidur
- - Menganjurkan pada Pasien untuk meningkatkan dengan posisi
aktivitas sehari – hari dan menggurangi aktivitas SIM tetapi ia
sebelum tidur. masih kesulian
- - Menganjurkan pada klien melakukan teknik untuk memulai
relaksasi seperti membaca buku atau menonton tidur.
tv sebelum tidur. O:
- - Mengajurkan Pasien untuk makan tinggi TD : 160/90
protein sebelum tidur seperti keju, kacang, tahu, mmhg
tempe, telur. RR : 20x/i
HR : 80x/i
T : 36,5
Kuantitas tidur
malam hari jam
02.00 – 05.00.
A : Maslah
teratasi
sebagian.
P : Intervensi
dialnjutkan

Universitas Sumatera Utara


38

Kamis/ 1 - Mengevaluasi Kembali Pola Tidur Pasien. S:


22-06- - -- Mengukur TD, RR,HR, T Klien. Pasien
2017 - - Mengevaluasi kembali rencana tindakan apa mengatakan
saj saja yang membuat pola tidur klien membaik. bahwa dia
sudah mulai
bisa tidur lebih
cepat dari jam
tidur
sebelumnya.
Klien juga
mengatakan
durasi jam
tidurnya
bertambah.
Klien juga
mengatakan
bahwa sebelum
tidur dia
menonton tv
terlebih dahulu,
minum susu.
O:
TD : 150/80
mmhg
RR : 20x/i
HR : 80x/i
T : 36,5

Universitas Sumatera Utara


39

Kuantitas tidur
malam hari jam
01.00 – 05.00.

Universitas Sumatera Utara


40

3.1.6. CATATAN PERKEMBANGAN


Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
No. DX Hari/Tanggal Pukul Tindakan Keperawatan
1 Selasa, 10.00 - - Melakukan pengkajian masalah gangguan
20-06-2017 10.15 tidur klien, karakteristik dan penyebab
10.30 kurang tidur.
11.00 -- - Mengukur TD, RR, HR, T Klien
- Anjurkan keluarga klien untuk
memberikan Keadaan tempat tidur yang
nyaman, bersih dan bantal yang nyaman.
Seperti menganti seprei dan sarung bantal
dengan yang baru/ yang bersih.
11.15 - Menganjurkan Klien untuk minum susu
sebelum tidur.
- Menganjurkan klien untuk mandi air
hangat sebelum tidur.
- Menganjurkan Klien untuk tidur dengan
posisi yang nyaman seperti posisi sim
(Posisi miring kanan dan Kiri).

No. DX Hari/Tanggal Pukul Tindakan Keperawatan

1 Rabu, 10.30 - - Mengukur TD, RR, HR, T Klien.


21-06-2017 10.45 - - - Mengevaluasi kembali pola tidur klien.
- - Menanyakan kepada pasien tindakan apa
saja yg sudah ia lakukan pada perencanaan
yang sebelumnya.
11.00 - - Menganjurkan pada Pasien untuk
meningkatkan aktivitas sehari – hari dan
menggurangi aktivitas sebelum tidur.

Universitas Sumatera Utara


41

- - Menganjurkan pada klien melakukan


teknik relaksasi seperti membaca buku
atau menonton tv sebelum tidur.
- Mengajurkan Pasien untuk makan tinggi
protein sebelum tidur seperti keju, kacang,
tahu, tempe, telur.

No. DX Hari/Tanggal Pukul Tindakan Keperawatan


1 Kamis, 11.00 - Mengevaluasi Kembali Pola Tidur Pasien.
22-06-2017 11.15 - - - Mengukur TD, RR,HR, T Klien.
11.30 - Mengevaluasi kembali rencana tindakan
ap apa saja ng yang membuat pola tidur klien
m membaik.

Universitas Sumatera Utara


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pada bab ini penulis akan membuat kesimpulan dari pengelolaan dan
pembahasan asuhan keperawatan gangguan Istirahat dan TidurTn. L dengan
Hipertensi di Kelurahan Sari Rejo Kecamatan medan Polonia Pengkajian pada Tn.
L didapatkan data Subjektif klien merasakan nyeri di bagian kepala.klien Juga
mengatakan susah tidur di malam hari tidur selama 3 jam. Data obyektif : TD :
150/ 80 mmhg, RR : 20x/i, HR : 80x/i dan T : 36 , Klien sering mengantuk,
adanya kantung mata berwarna hitam.Dari hasil pengkajian tersebut dapat
dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu: Gangguan Pola Tidur Berhubungan
dengan ketidaknyamanan fisik pada nyeri kepala.
Intervensi diagnosa pertama Gangguan pola tidur berhubungan dengan
Ketidaknyamanan Fisik pada Nyeri Kepala. kaji kebiasaan tidur pasien, berikan
tempat tidur yang nyaman, anjurkan untuk melakukan relaksaki. Implementasi
keperawatan yang dilakukan pada klien sesuai dengan perencanaan tindakan
asuhan keperawatan yang bertujuan sesuai dengan kriteria hasil.
Evaluasi diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan Ketidaknyamanan
fisik pada Nyeri Kepala mendapatkan hasil masalah teratasi.
B. Saran
1. Bagi Keluarga
Keluarga adalah orang terdekat dari klien, diharapkan dapat saling bekerja
sama dalam menemukan intervensi paling tepat untuk mengatasi masalah
kebutuhan dasar istirahat dan tidur yang dialami klien.
2. Bagi Penulis
Perlu untuk menambah dan meningkatkan kemampuan dalam memberikan
asuhan keperawatan pada pasien dengan prioritas masalah kebutuhan dasar
istirahat dan tidur serta perlu memperbaiki agar karya tulis ini lebih sempurna.

42

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Alimul, H, A, A. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta :


Salemba Medika.
Depkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan : Jakarta.
Dinas Kesehatan Kota Medan. (2008). Profil Kesehatan Kota Medan Tahun 2013.
Medan.
Kozier. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : ECG.
M. Judith. (2006). Buku Saku Diagnosis Keperawatan denganIntervensi ( NIC )
dan Kriteria Hasil ( NOC). Jakarta : EGC.
M. Judith. (2011). Buku Saku Edisi 9, Jakarta : EGC.
Murwani, A. (2009). Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Jogjakarta : Mitra
Cendekia Press.
Priyanto. (2015). Nursing Intervention Classification ( NIC ) dalamKeperawatan
Gerontik. Jakarta : Salemba Medika.
T, Heather, H.(2012). Diagnosis Keperawatan Defenisi dan Klasifikasi 2012-
2014.Jakarta : ECG.
Tarwoto&Wartonah. (2003). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatanjilid 1. Jakarta : Salemba Medika .
Tarwoto & Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatanjilid 3. Jakarta : Salemba Medika .
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatajilid 4. Jakarta : Salemba Medika.
WHO,(2013).Q&Ason hypertension.Available:
http://apps.who.ini/ins/bitstrenm/10665/81965/1/9789241564588eng.pdf.
Diakses tanggal 13 juli 2017.

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara