Vous êtes sur la page 1sur 28

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA AMAN DAN NYAMAN

NYERI PADA Tn S CIDERA KEPALA RINGAN DI RUANG INAYAH RSU

PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG.

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar


Ahli Madya Keperawatan pada Program Studi D III Keperawatan
Di STIKes BHAMADA Slawi

Disusun oleh:

Laely Mamluaturohmah

A0016022

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan

kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi

akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007).

Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya dan lebih

dari 700.000 mengalami cedera cukup berat yang memerlukan perawatan

dirumah sakit, dua pertiga ii berusia dibawah 30 tahun dengan jumlah laki-

laki lebih banyak dibandingkan jumlah wanita, lebih dari setengah semua

pasien cedera kepala mempunyai signifikasi terhadap cedera bagian tubuh

lainya (Smeltzer and bare, 2002 ).

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pasien cedera kepala

ringan mengalami nyeri kepala, beberapa penelitian menemukan bahwa

38% pasien cedera mengalami accute post traumatik headeche (ATPH)

dengan gejala paling sering pada daerah frontal dan tidak ada hubunganya

dengan berat luka cedera (Walter et al, 2005), juga dikatakan oleh

Oshinsky (2009) bahwa pasien trauma kepala ringan akan mengalami

nyeri pada minggu pertama setelah trauma, 12 dari 33 (36%), dari hasil

penelitian sebelumnya juga menunjukan bahwa dari 297 pasien cedera

kepala mengalami nyeri kepala 3 hari sampai 1 miinggu 33% ( Bekkelund

and Salvesen,2002 ).
Nyeri kepala pada pasien cedera kepala ringan disebabkan oleh

perubahan neurokimia meliputi depolarisasi saraf, pengeluaran asam

amino pada neuro transmiter yang berlebihan, disfungsi serotogenik ,

gangguan opiate endogen. Gejala klinis nyeri pada pasien cedera kepala

ringan terdapat beberapa tipe yaitu : nyeri kepala migraine, nyeri kepala

kluster, nyeri kepala cercicogenik dari hasil penelitian didapatkan hasil 37

% pasien mengalami nyeri kepala tension, 27 % migraine dan 18 %

cercicogenik dan gejala nyeri akan terus dialami oleh pasien sampai 1

tahun ( Lenaerts and Couch, 2004 ).

Penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Keperawatan

Pemenuhan Gangguan Rasa Aman Dan Nyaman Nyeri Pada Tn.S : Cedera

Kepala Ringan Di Ruang Inayah RSU PKU Muhammadiyah Gombong”

karena penulis ingin memberikan informasi tentang cara mengurangi rasa

nyeri dengan non farmakologi dan memberikan asuhan keperawatan pada

klien dengan gangguan rasa aman nyeri

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalahnya

adalah “ Bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan gangguan rasa

aman dan nyaman nyeri pada Tn S, cedera kepala ringan di Ruang Inayah

RSU PKU Muhammadiyah Gombong? ”


C. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien

dengan cedera kepala ringan

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu meningkatkan pengertian mengenai masalah

yang berhubungan dengan cedera kepala ringan.

b. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data pada klien dengan

cedera kepala ringan.

c. Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pengkajian pada klien

dengan cedera kepala ringan.

d. Mahasiswa mampu melakukan rencana tindakan pada klien dengan

cedera kepala ringan

e. Mahasiswa mampu melakukan tindakan keperawatan pada klien

dengan cedera kepala ringan.

f. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil tindakan yang dilakukan

pada klien dengan cedera kepala ringan.

D. Manfaat penulisan

1. Bagi profesi keperawatan

Memberikan asuhan tentang bagaimana merawat pasien dengan

cedera kepala, dengan menggunakan proses keperawatan yang

meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi.


2. Bagi Penulis

a. Memperoleh pengalaman yang nyata dalam merawat klien

dengan cedera kepala.

b. Menambah pengetahuan tentang penerapan asuhan keperawatan

pada klien dengan cedera kepala.

3. Bagi Institusi

a. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi

kepustakaan dalam pembelajaran dan dapat dikembangkan untuk

penelitian selanjutnya khususnya tentang penerapan asuhan

keperawatan pada klien dengan cedera kepala.

b. Bagi BPM

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan kebijakan dalam

usaha promosi kesehatan khususnya tentang penerapan asuhan

keperawatan pada klien dengan cedera kepala.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi cidera kepala

Cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurology atau

menurunnya kesadaran tanpa menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer,

2002).

Cedera kepala ringan adalah trauma kepala dengan GCS: 15 (sadar

penuh) tidak ada kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri

kepala, hematoma, laserasi dan abrasi (Mansjoer, 2000).

Cedera kepala ringan adalah cedera kepala tertutup yang ditandai dengan

hilangnya kesadaran sementara (Corwin, 2000)

Jadi cedera kepala ringan adalah cedera karena tekanan atau

kejatuhan benda tumpul yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi

neurology sementara atau menurunya kesadaran sementara, mengeluh

pusing nyeri kepala tanpa adanya kerusakan lainnya.

1. Etiologi

Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, perkelahian,

jatuh, dan cedera olah raga, cedera kepala terbuka sering disebabkan

oleh pisau atau peluru. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab

terbesar kematian dan kecacatan utama pada usia produktif dan

sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping

penanganan dilokasi kejadian dan transportasi korban ke rumah sakit,


penilaian dan tindakan awal diruang gawat darurat sangat menentukan

pelaksanaan dan prognosis selanjutnya (Corwin, 2000).

2. Patofisiologi

Adanya cedera kepala dapat menyebabkan kerusakan struktur,

misalnya kerusakan pada parenkim otak, kerusakan pembuluh darah,

perdarahan, edema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan

adenosis tripospat, perubahan permeabilitas vaskuler, patofisiologi

cedera kepala dapat terbagi atas dua proses yaitu cedera kepala primer

dan cedera kepala sekunder, cedera kepala primer merupakan suatu

proses biomekanik yang terjadi secara langsung saat kepala terbentur

dan dapat memberi dampat kerusakan jaringan otat. Pada cedera

kepala sekunder terjadi akibat dari cedera kepala primer, misalnya

akibat dari hipoksemia,iskemia dan perdarahan. Perdarahan cerebral

menimbulkan hematoma misalnya pada epidural hematoma,

berkumpulnya antara periosteun tengkorak dengan durameter, subdura

hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter

dengan subaraknoid dan intra cerebral, hematoma adalah

berkumpulnya darah didalam jaringan cerebral. Kematian pada

penderita cedera kepala terjadi karena hipotensi karena gangguan

autoregulasi, ketika terjadi autoregulasi menimbulkan perfusi jaringan

cerebral dan berakhir pada iskemia jaringan otak (Tarwoto, 2007).

Infeksi, fraktur tengkorak atau luka terbuka dapat merobekan

membran meningen sehingga kuman dapat masuk. Infeksi meningen


ini biasanya berbahaya karena keadaan ini memiiki potensi menyebar

ke sistem saraf yang lain (Gustiawan 2010).

PC yang tinggi dan P yang rendah akan memberikan prognosis

yang kurang baik, oleh karenanya perlu dikontrol P tetap > 90 mmHg,

Sa > 95% dan PC 30 – 50 mmHg.atau mengetahui adanya masalah

ventilasi perfusi atau oksigenasi yang dapat meningkatkan TIK.

Berdasarkan kerusakan jaringan otak : komusio serebri (gegar

otak) merupakan gangguan fungsi neurologik ringan tanpa adanya

kerusakan struktur otak, terjadi hingga kesadaran kurang dari 10 menit

atau tanpa amnesia, mual muntah dan nyeri kepala, kontusio serebri (

memar) : gangguan kerusakan neurologik disertai kerusakan jaringan

otak tetapi kontinuitas jaringan otak masih utuh, hingga kesadaran

lebih dari 10, kenfusio serebri : gangguan fungsi neurologik disertai

kerusakan otak yang berat dengan fraktur tengkorak, massa otak

terkelupas keluar dari rongga intrakranial. Tipe trauma kepala terbagi

menjadi 2 macam, yaitu : trauma terbuka, menyebabkan fraktur

terbuka pada tengkorak, laterasi durameter, dan kerusakan otak jika

tulang tengkorak menusuk otak , trauma tertutup : kontusio serebri

gegar otak adalah merupakan bentuk trauma kapitis ringan, kontusio

serebri atau memar merupakan perdarahan kecil pada otak akibat

pecahnya pembuluh darah kapiler, hal ini bersama sama denga

rusaknya jaringa saraf atau otak yang menimbulkan edema jaringan

otak di daerah sekitarnya, bila daerah yang mengalami cidera cukup


luas maka akan terjadi peningkatan tekanan intrakranial

(Wahjoepramono, 2005).

3. Manifestasi Klinis

Tanda-tanda dari terjadinya cedera kepala ringan adalah :

Pingsan tidak lebih dari 10 menit, tanda-tanda vital dalam batas

normal atau menurun, setelah sadar timbul nyeri, pusing, muntah,

GCS 13-15, tidak terdapat kelainan neurologis. Gejala lain cedera

kepala ringan adalah : Pada pernafasan secara progresif menjadi

abnormal, respon pupil mungkin lenyap atau progresif memburuk,

nyeri kepala dapat timbul segera atau bertahap seiring dengan tekanan

intrakranial, dapat timbul muntah-muntah akibat tekanan intrakranial,

perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik pada berbicara serta

gerakan motorik dapat timbul segera atau secara lambat

(Corwin,2000).

4. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan klien cedera kepala ditentukan atas dasar

beratnya cedera dan dilakukan menurut prioritas, yang ideal

penatalaksanaan tersebut dilakukan oleh tim yang terdiri dari perawat

yang terlatih dan dokter spesialis saraf dan bedah saraf, radiologi,

anastesi, dan rehabilitasi medik. Klien dengan cedera kepala harus

dipantau terus dari tempat kecelakaan, selama transportasi : di ruang

gawat darurat, unit radiology, ruang perawatan dan unit ICU sebab
sewaktu-waktu dapat berubah akibat aspirasi, hipotensi, kejang dan

sebagainya. Menurut prioritas tindakan pada cedera kepala ditentukan

berdasarkan beratnya cedera yang didasarkan atas kesadaran pada saat

diperiksa.

5. Klien dalam keadaan sadar ( GCS : 15 )

1) Cedera kepala simpleks ( simple head injury )

Klien mengalami cedera kepala tanpa diikuti dengan gangguan

kesadaran, amnesia maupun gangguan kesadaran lainya. Pada

klien demikian dilakukan perawatan luka, periksa radiologi hanya

atas indikasi, kepada kelurga diminta untuk mengobservasi

kesadaran.

2) Kesadaran terganggu sesaat

Klien mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah cedera

kepala dan saat diperiksa sudah sadar kembali, maka dilakukan

pemeriksaan foto kepala dan penatalaksanaan selanjutnya seperti

cedera kepala simpleks.

6. Klien dengan kesadaran menurun

1) Cedera kepala ringan atau minor head injury ( GCS : 13-15)

Kesadaran disorientasi atau not abay comand tanpa disertai defisit

fokal serebral. Setelah pemeriksaan fisik dilakukan perawatan

luka, dilakukan foto kepala, CT Scan Kepala dilakukan jika

dicurigai adanya hematoma intrakranial, misalnya ada interval

lusid, pada follow up kesadaran semakin menurun atau timbul


lateralisasi, observasi kesadaran, pupil, gejala fokal serebral

disamping tanda-tanda vital. Klien cedera kepala biasanya disertai

dengan cedera multipel fraktur, oleh karena itu selain disamping

kelainan serebral juga bisa disertai dengan kelainan sistemik (

Corwin, 2000).

7. Pemeriksaan penunjang

1) CT-Scan : untuk mengidentifikasi adanya SOL hemografi,

menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan.

2) Angiografiserebral : menunjukan kelainan sirkulasi serebral

seperti kelainan pergeseran jaringan otak akibat edema,

perdarahan trauma.

3) EEG : untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya

petologis.

4) Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang ( fraktur)

5) BAER ( Brain Auditori Evoker Respon ) : menentukan fungsi

korteks dan batang otak.

6) PET ( Position Emission Yomography ) menunjukan perubahan

aktivitas metabolisme pada otak.

7) Fungsi Lumbal CSS : dapat menduga adanya perubahan sub

araknoid.

8) Kimia atau elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang

berperan dalam peningkatan TIK atau perubahan status mental.

(Doengooes,2000)
8. Patway

Kecelakaan sepeda motor, jatuh, benturan karena benda tajam,

Tumpul dan perkelahian, cedera karena olahraga.Tekanan Trauma

jaringan kepala

Trauma jaringan
TIK meningkat
Kulit
Kompresi vena dan Nyeri
cairan cerebro Kerusakan integritas kulit
Aliran darah ke

Otak menurun
Peningkatan PC
Vasodilatai dan edema
Penurunan P serebral
Tekanan intrakranial
semakin meningkat
Metabolisme anaerob Penekanan pusat
vasomotor
Produksi asam laktat Penurunan
meningkat
Kesadaran
Ketidakmampuan reflek Kelemahan otot
Reseptor nyeri
batuk
Nyeri Akumulasi sekret tirah baring
Hambatan mobilitas fisik
Bersihan jalan nafas tidak
efektif
Defisit

perawatan diri
Bruner & Sudart, ( 2002 ). ; Corwin.,( 2000). ; Doengoes.,Dkk.(2000).

B. KOMPLIKASI

1. Perdarahan didalam otak, yang disebut hematoma intraserebral dapat

menyertai cedera kepala tertutup yang berat, atau lebih sering cedera
kepala terbuka. Pada perdarahan diotak, tekanan intrakranial

meningkat, dan sel neuron dan vaskuler tertekan. Ini adalah jenis

cedera otak sekunder.Pada hematoma, kesadaran dapat menurun

dengan segera, atau dapat menurun setelahnya ketika hematoma

meluas dan edema interstisial memburuk.

2. Perubahan perilaku yang tidak kentara dan defisit kognitif dapat

terjadi da tetap ada.(Corwin J Elizabeth ; 2009 : 246)

C. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Fokus pengkajian

Fokus pengkajian pada cedera kepala ringan menurut Doengoes

(2000).

a. Riwayat kesehatan meliputi: keluhan utama, kapan cidera terjadi,

penyebab cidera, riwayat tak sadar, amnesia, riwayat kesehatan

yang lalu, dan riwayat kesehatan keluarga.

b. Pemeriksaan fisik head to toe

c. Keadaan umum (tingkat kesadaran dan kondisi umum klien).

d. Pemeriksaan persistem dan pemeriksaan fungsional

1) Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera:

penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa).

2) Sistem persarafan (tingkat kesadaran/ nilai GCS, reflek bicara,

pupil, orientasi waktu dan tempat).


3) Sistem pernafasan (nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan

kepatenan jalan nafas).

4) Sistem kardiovaskuler (nilai TD, nadi dan irama, kualitas, dan

frekuensi).

5) Sistem gastrointestinal (nilai kemampuan menelan, nafsu

makan/ minum, peristaltik, eliminasi).

6) Sistem integumen (nilai warna, turgor, tekstur dari kulit, luka/

lesi).

7) Sistem reproduksi

8) Sistem perkemihan (nilai frekuensi BAK, volume BAB)

9) Pola Makan / cairan

Gejala : mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.

Tanda : muntah kemungkinan muntah proyektil, gangguan

menelan (batuk, air liur keluar,disfagia).

10) Aktifitas / istirahat

Gejala : merasa lemah, letih, kaku, kehilangan keseimbangan.

Tanda : perubahan kesadaran, letargie, hemiparese,

kuadreplegia, ataksia, cara berjalan tak tegap, masalah

keseimbangan, kehilangan tonus otot dan tonus spatik.

11) Sirkulasi

Gejala : normal atau perubahan tekanan darah.Tanda :

perubahan frekuensi jantung (bradikaria, takikardia yang

diselingi disritmia).
12) Integritas ego

Gejala : perubahan tingkah laku kepribadian (terang atau

dramatis)

Tanda : cemas mudah tersinggung, delirium,agitasi, bingung,

depresi dan impulsive.

13) Eliminasi

Gejala : inkontinensia kandung kemih / usus atau megalami

gangguan fungsi,

14) Neurosensori

Gejala : kehilangan kesadaran, amnesia seputar kejadian,

vertigo, sinkope, tinnitus, kehilangan pendengaran, Perubahan

dalam penglihatan seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan

sebagian lapang pandang, fotopobia.

Tanda : perubahan status mental (oreintasi, kewaspadaan,

perhatian /konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi

atau tingkah laku dan memori). Perubahan pupil (respon

terhadap cahaya simetris), Ketidakmampuan kehilangan

pengideraan seperti pengecapan, penciuman dan pendengaran.

Wajah tidak simetris, gengaman lemah tidak seimbang, reflek

tendon dalam tidak ada atau lemah, apaksia, hemiparese,

postur dekortikasi atau deselebrasi, kejang sangat sensitivitas

terhadap sentuhan dan gerakan.

15) Nyeri dan kenyamanan


Gejala : sakit kepala dengan intensitas dengan lokasi yang

berbeda bisaanya sama.

Tanda : wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan

nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat, merintih.

2. Diagnosa keperawatan

1) Nyeri akut b.d agen cidera fisik: post traumatik.

2) Ketidakefektian pembersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas.

3) Hambatan mobilitas fisik b.d ketidaknyamanan

4) Defisit perawatan diri total b.d hambatan mobilitas fisik

5) Kerusakan integritas kulit : luka lecet dan luka robek b.d faktor

mekanik ( J.Wikinson, 2007 ).

3. Fokus intervensi

a. Nyeri akut b.d agen cidera fisik: post traumatik.

Tujuan kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam klien dapat mengontrol

nyeri.

1) Klien mampu melaporkan nyeri kepada penyedia perawatan.

2) Klien akan mampu menunjukan teknik relaksasi individual

yang efektif untuk mencapai kenyamanan.

3) Klien mampu menggunakan tindakan mengurangi nyeri

dengan analgesik dan non analgesik secara tepat.

Intervensi :

1) Minta klien untuk menilai nyeri pada skala 0 sampai 10


Rasional : untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami klien.

2) Lakukan pengakajian nyeri yang komprehensif meliputi

lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas, keparahan

nyeri dan faktor pencetusnya

Rasional : untuk mengetahui kondisi nyeri yang dialami klien

secara komprehensif.

3) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi untuk

mengurangi tingkat nyeri sesuai dengan kenyamanan klien.

Rasional : untuk mengurangi nyeri dengan cara non

farmakologi.

4) Dukung adanya penggunaan agen farmakologi untuk

pengurangan nyeri

Rasional : untuk mengurangi nyeri.( J.Wikinson, 2007 ).

b. Ketidakefektian pembersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas

Tujuan kriteria hasil :

1) Klien menunjukan pernafasan yang optimal pada saat

terpasang alat bantu pernafasan.

2) Menunjukan kecepatan dan irama respirasi dalam rentang

batas normal

3) Mempunyai jalan nafas yang paten.

Intervensi :

1) Monitor status neurologic


Rasional : untuk mengetahui tingkat kesadaran dan potensial

peningkatan TIK

2) Pantau status pernafasan pasien ( kedalaman, frekuensi dan

kecepatan nafas )

Rasional : untuk mengetahui perkembangan status pernafasan

klien

3) Informasikan kepada klien dan keluarga teknik nafas dalam

untuk meningkatkan pola penafasan

Rasional : untuk meningkatkan pola pernafasan klien.

4) Berikan tambahan sesuai kebutuhan

Rasional : untuk memenuhi kebutuhan klien

5) Posisikan pasien sesuai tingkat kenyamanan

Rasional : dengan posisi yang nyaman diharapkan status

pernafasan klien dapat meningkat( J.Wikinson, 2007 ).

c. Hambatan mobilitas fisik b.d ketidaknyamanan

Tujuan kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam klien dapat melakukan

aktivitas mobilitas.

1) Klien akan akan menunjukan pengguanaan alat bantu secara

benar dengan pegawasan.

2) Klien mampu meminta bantuan untuk aktifitas mobilisasi

sesuai keperluan.

Intervensi :
1) Ajarkan teknik ambulasi dan perpindahan yang aman.

Rasional : dengan teknik perpindahan yang aman diharapkan

klien dapat beraktifitas secara aman.

2) Anjurkan kepada keluarga untuk melakukan pengawasan

terhadap aktifitas klien.

Rasional : untuk menjaga keamanan klien dalam beraktifitas.

3) Kaji kebutuhan klien akan bantuan pelayanan kesehatan

Rasional : untuk mengetahui tingkat kebutuhan klien dalam

mobilisasi.

4) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan aktifitas

klien .

Rasional : keluarga adalah orang terdekat klien yang harus

ikut dalam proses perawatan klien.( J.Wikinson, 2007 ).

d. Defisit perawatan diri total b.d hambatan mobilitas fisik.

Tujuan kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam klien dapat melakukan

aktivitas sesuai kemampuanya.

1) Klien akan menerima bantuan perawatan dari orang lain.

2) Klien mampu mengenali atau mengetahui kebutuhan akan

bantuan untuk pemenuhan kebutuhan personal hygiene dan

perawatan diri.

3) Klien akan mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang

kebersihan tubuh dan hygiene mulut.


Intervensi :

1) Kaji tingkat kekuatan dan toleransi terhadap aktiitas.

Rasional : untuk mengetahui kemampuan klien dalam

pemenuhan kebutuhan personal hygiene

2) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan hygiene

klien.

Rasional : keluarga adalah orang terdekat klien yang harus

ikut dalam proses perawatan klien.

3) Kaji membran mukosa oral dan kebersihan tubuh setiap hari.

Rasional : untuk memonitor hygiene personal klien

4) Anjurkan dan motivasi klien untuk menerima bantuan orang

lain.

Rasional : untuk memenuhi kebutuhan hygiene personal

klien.

5) Ajarkan kepada klien dan keluarga akan penggunaan metode

alternatif untuk mandi dan hygiene mulut.

Rasional: untuk mempermudah klien dan keluarga memenuhi

hygiene personal klien.

6) Fasilitasi keperluan pemenuhan hygiene personal klien.

Rasional : dengan difasilitasi akan mempermudah keluarga

dan klien dalam memenuhi kebutuhan hygiene personal klien

( J.Wikinson, 2007 ).
e. Kerusakan integritas kulit : luka lecet dan luka robek b.d faktor

mekanik.

Tujuan kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam diharapkan masalah

Kerusakan integritas kulit klien : luka lecet dan luka robek dapat

teratasi.

1) Pasien dan keluarga akan menunjukan perawatan kulit yang

optimal.

2) Menunjukan penyembuhan luka yang baik ditandai dengan

pembentukan nekrosis dan pengelupasan jaringan nekrotik

Intervensi :

1) Lakukan perawatan luka secara rutin.

Rasional : untuk menjaga kebersihan luka.

2) Inspeksi luka setiap hari.

Rasional : Untuk mengetahui kondisi luka.

3) Kaji dan dokumentasikan tentang karateristik luka, bau luka,

ada atau tidaknya eksudat, ada atau tidaknya tanda-tanda

infeksi luka,dan ada atau tidaknya jaringan nekrotik.

Rasional : untuk mengetahui tingkat keparahan luka

4) Ajarkan kepada klien dan keluarga tentang cara perawatan

luka.

Rasional : agar klien dan kelurga dapat melakukan perawatan

luka di rumah dengan baik ( J.Wilkinson, 2007).


4. Penatalaksanaan kegiatan

Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari

rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap

pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan

ditujukan pada nursing oders untuk membantu klien mencapai

tujuan yang diharapkan (Nursalam, 2001 : 63). Pelaksanaan

pada pasien dengan cedera kepala tersebut.

5. Evaluasi

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses

keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,

rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.

(Nursalam, 2001 : 71).

Hasil evaluasi yang bisa didapatkan pada pasien dengan cedera

kepala sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ada


BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Dari pengertian yang sudah dipaparkan pada BAB I dapat

disimpulkan bahwa cedera kepala ringan adalah Jadi cedera kepala

ringan adalah cedera karena tekanan atau kejatuhan benda tumpul yang

dapat menyebabkan hilangnya fungsi neurology sementara atau

menurunya kesadaran sementara, mengeluh pusing nyeri kepala tanpa

adanya kerusakan lainnya.

Penulis dalam melakukan pengkajian dilakukan melalui

wawancara kepada pasien dan keluarga, membaca buku status pasien,

juga dengan pemeriksaan fisik langsung kepada pasien, serta mencari

informasi tentang pasien kepada para perawat Ruang Inayah, sehingga

dapat diperoleh data yang sesuai dengan keadaan pasien dan dapat

mempermudah dalam merencanakan tindakan keperawatan.

1. Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis pada kasus Tn.S

dengan cedera kepala ringan didapatkan masalah keperawatan yaitu

:.Nyeri akut b.d agen cidera fisik : post traumatic, Ketidakefektian

pembersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas, Kerusakan

integritas kulit : luka lecet dan robek b.d faktor mekanik, Defisit

perawatan diri b.d hambatan mobilitas.


2. Dari hasil analisa data yang didapatkan dari hasil pengkajian oleh

penulis pada kasus Tn.S dengan cedera kepala ringan penyusun

sudah merencanakan beberapa rencana tindakan keperawatan.

3. Dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien penulis

berusaha membina hubungan baik dengan komunikasi teraupetik

dengan keluarga pasien sehingga lebih memudahkan dalam

pelaksanaan rencana tindakan.

4. Langkah terakhir berupa evaluasi tindakan yang dilakukan secara

optimal. evaluasi dilakukan oleh penulis pada tanggal 18&19 juli

2012 dari evaluasi ke 4 masalah keperawatan yang didapatkan oleh

penulis, semua masalah keperawatan sudah teratasi sesuai dengan

criteria hasil masing-masing masalah keperawatan. penulis tetap

melakukan pendelegasian asuhan keperawatan pada Tn.S kepada

perawat ruangan untuk melakukan tindakan keperawatan selanjutnya

agar pelayanan keperawatan untuk dapat didapatkan lebih optimal.

B. Saran

Sehubungan dengan masalah-masalah yang ditemukan selama pemberian

asuhan keperawatan dan untuk meningkatkan mutu pelayanan

keperawatan agar lebih baik lagi, penulis memberikan saran sebagai

berikut :

1. Dalam melakukan pengumpulan data atau pengkajian kepada klien

sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dan lenkap, agar dalam


penusunan diagnose menyeluruh tidak hanya didasarkan pada

penyakit saja tetapi juga pada kebutuhan dasar manusianya.

2. Sebaiknya dalam pemberian asuhan keperawatan seluruh diagnose

harus diatasi, tidak hanya mengatasi masalah yang actual saja tetapi

masalah potensial atau diagnose prioaritas yang lain harus diatasi.

3. Dalam proses asuhan keperawatan saat melaksanakan implementasi

keperawatan sebaiknya klien dan keluarga diberitahu maksud dan

tujuan dari tindakan agar klien dan keluarga tidak bertanya-tanya.

4. Dalam penulisan dokumentasi keperawatan terutama pada lembar

perkembangan diharapkan evaluasi ditulis sesuai dengan respon

pasien saat tindakan agar pembaca lebih mudah mengerti dalam

memahami perkembangan klien

5. Rencana keperawatan yang sudah dilakukan dan yang belum

dilakukan diharapkan untuk didelegasikan kepeda perawatan yang lain

pada saat pre dan post confren.

6. Tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah klien diharapkan

disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah dibuat.

7. Intervensi keperwatan sebaiknya disesuikan dengan masalah yang

muncul pada klien sehingga dalam menjalankan tindakan keperawatan

perawatan tidak bingung.


DAFTAR PUSTAKA

Arif .,(2000). Cedera Kepala Ringan,

http://www.ebdosama.blogspot.com/accessed 15 maret 2009

Assosiasi Institusi Pendidikan Keperawatan jawa tengah. (2006). Standar

Prosedur Operasional Keperawatan. Surakarta : AIP DII Keperawatan

Jawa Tengah.

Bekkelund & Salvesen.(2002).Prevelance Of Head Trauma In Patient With

Difult Head Ache : The North Norway Head Ache Study Departemen of

Neurology Tromso University Hospital.

Brooker.(2008),Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC

Carpenito. L.J., (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Alih

Bahasa Ester M, EGC Jakarta.

Corwin, E.J., (2000). Patofisiologi, Alih Bahasa Brahn U , Pandit EGC


,Jakarta

Dongoes , M.E. Moorhourse, M.F ; Geissler, A. C,. (2000). Rencana Asuhan

Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian

Perawatan Pasien Edisi 3 , Alih Bahas Karisa Dan Sumarwati, EGC, Jakarta.

Gustiawan (2010). Patofisiologi cedera kepala ringan

http://ml.scribd.com/doc/58939642/jurnalacessed 26 juli 2010

Lenaerts and Couch., (2004). Post Traumatic Head Ache, Curent Treatmen

option in Neurology edisi 6. University of Amerika

Mansjoer, A. Dkk., (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Media Aescculapius,

Jakarta

Mustagfir.,(2000). http//digilip.unimus.com/=638.accessed 13 juni 2008.

NANDA., (2005-2006), Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, Alih

BahasaBudi Santosa, Prima Medika, NANDA

Oshinsky., (2009). Paint Remapping In Migraine : A Novel Characteristic

Following , American Head Ache Society

Rahayu, U, S.Kp.M.Kep. dkk (2010). LA Penelitian Pegaruh Guide Imagery

Relaxation Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Cedera Kepala Ringan.

pustaka.unpad.ac.id/wp…/pengaruh_guide_imagery_relaxation.pdf

Shell & Faizi. ( 2002), Asuhan Keperawatan Pada Nn.S Dengan Cedera
Kepala Ringan Dibangsal Flamboyan Rsud Pandan Arang Boyolali

htp://www.jurnalskripsi.net/pdf/cedera-kepala acessed11 maret 2006

Smeltzer, S.C, & Bare, B.G., ( 2002). Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8

Volume 2, Alih Bahasa Kuncara, H.Y,dkk, EGC, Jakarta

Tarwoto.( 2007). Patofisiologi cedera kepala ringan

http://ml.scribd.com/doc/58939642/jurnalacessed 26 juli 2010

Wahjopramono.(2005). Patofisiologi cedera kepala ringan

http://ml.scribd.com/doc/58939642/jurnalacessed 26 juli 2010

Welker et al., (2005). Head Ache After Muderat and Severe Traumatic Brain

Injury Alongtudinal Analysis . Archaphys Med Rehabilitation, 86 1793-1800

Wilkinson,J.M., (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Dengan

Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, EGC Jakarta