Vous êtes sur la page 1sur 15

MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIK

“KOMUNIKASI DENGAN LANSIA”

OLEH :
NI LUH SUTAMIYANTI (183222936)

B-11A

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2018
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini
yang berjudul “Komunikasi Dengan Lansia” ini tepat pada waktunya. Adapun makalah ini
merupakan salah satu tugas dari Keperawatan Gerontik.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan dari
berbagai pihak dan sumber. Karena itu kami sangat menghargai bantuan dari semua pihak
yang telah memberi kami bantuan dukungan juga semangat, buku-buku dan beberapa sumber
lainnya sehingga tugas ini bisa terwujud. Oleh karena itu, melalui media ini kami sampaikan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya dan jauh dari
kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang kami miliki.
Maka itu kami dari pihak penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik yang dapat
memotivasi saya agar dapat lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, 14 Februari 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii

BAB I......................................................................................................................................1

PENDAHULUAN..................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................2

1.3 Tujuan.............................................................................................................................2

1.4 Manfaat..........................................................................................................................2

BAB II....................................................................................................................................3

PEMBAHASAN....................................................................................................................3

2.1 Pengertian Lanjut Usia (Lansia).....................................................................................3

2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi pada Pasien Lanjut Usia..............................3

2.3 Sekilas Komunikasi........................................................................................................4

2.4 Teknik Umum untuk Berkomunikasi dengan Pasien Lanjut Usia.................................5

2.5 Tips untuk Komunikasi yang Efektif dengan Pasien Lanjut Usia.................................7

2.6 Pendekatan untuk Berkomunikasi..................................................................................8

2.7 Masalah-Masalah Yang Umum Terjadi Pada Lansia Dengan Komunikasi....................9

BAB III.................................................................................................................................11

PENUTUP............................................................................................................................11

3.1 Kesimpulan...................................................................................................................11

3.2 Saran.............................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk kelangsungan hidup diri
sendiri yang meliputi keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan
diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Kedua, untuk
kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan
mengembangkan keberadaan suatu masyarakat tersebut (Pearson dan Nelson dalam
Mulyana, 2009:5). Selain hal tersebut, menurut William I. Gorden dalam Mulyana
(2009:5-6), terdapat empat fungsi komunikasi, yakni komunikasi sosial, komunikasi
ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental, tidak saling meniadakan
(mutually exclusive). Fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication events)
tampaknya sama sekali tidak independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi
lainya meskipun terdapat sesuatu fungsi yang dominan.
Dengan meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk lanjut usia berbagai masalah
klinis pada pasien lanjut usia akan menjadi semakin sering dijumpai di praktek klinis.
Jumlah penduduk di Indonesia menurut data Perserikatan Bangsa Bangsa, Indonesia
diperkirakan mengalami peningkatan jumlah warga lanjut usia yang tertinggi di dunia,
yaitu 414 %, hanya dalam waktu 35 tahun (1990-2025), sedangkan di tahun 2020
diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia akan mencapai 25,5 juta. Menurut Lembaga
Demografi Universitas Indonesia, persentase jumlah penduduk berusia lanjut tahun 1985
adalah 3,4 % dari total penduduk, tahun 1990 meningkat menjadi 5,8 % dan di tahun
2000 mencapai 7,4 %,, seperti terlihat pada tabel 1. (Czeresna, 2006). Dokter yang
berpraktek perlu memahami kebutuhan yang unik pada populasi pasien lanjut usia ini
sehingga mereka akan lebih siap berkomunikasi secara efektif selama kunjungan pasien
lanjut usia tersebut (Hingle & Sherry, 2009).
Terdapat banyak bukti bahwa kesehatan yang optimal pada pasien lanjut usia tidak
hanya bergantung pada kebutuhan biomedis akan tetapi juga tergantung dari perhatian
terhadap keadaan sosial, ekonomi, kultural dan psikologis pasien tersebut. Walaupun
pelayanan kesehatan secara medis pada pasien lanjut usia telah cukup baik tetapi mereka
tetap memerlukan komunikasi yang baik serta empati sebagai bagian penting dalam
penanganan persoalan kesehatan mereka. Komunikasi yang baik ini akan sangat

1
membantu dalam keterbatasan kapasitas fungsional, sosial, ekonomi, perilaku emosi yang
labil pada pasien lanjut usia (William et al., 2007).

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana komunikasi dengan kelompok, keluarga lansia?
b. Apa saja masalah – masalah yang umum terjadi pada lansia dengan komunikasi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana Komunikasi dengan Lansia

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui bagaimana komunikasi dengan kelompok, keluarga lansia


b. Untuk mengetahui apa saja masalah – masalah yang umum terjadi pada lansia
dengan komunikasi

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
semua pihak, khususnya kepada mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan
wawasan mengenai komunikasi dengan lansia.

1.4.2 Manfaat Praktis


Hasil dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu
pembelajaran bagi mahasiswa yang nantinya ilmu tersebut dapat dipahami dan
diaplikasikan dalam praktik keperawatan gerontik.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lanjut Usia (Lansia)


Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999;8). Pada lanjut usia akan terjadi proses
menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994). Karena
itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural
disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan
episode terminal (Darmojo dan Martono, 1999;4). Penggolongan lansia menurut Depkes
dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok yakni : Kelompok lansia dini (55 – 64
tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia, kelompok lansia (65 tahun ke
atas), Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.

Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 katagori, yaitu :

1. Usia lanjut : 60 – 74 tahun


2. Usia tua : 75 -89 tahun
3. Usia sangat lanjut : lebih dari 90 tahun.

2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi pada Pasien Lanjut Usia


Komunikasi dengan pasien lanjut usia dapat menjadi lebih sulit dibandingkan dengan
komunikasi pada populasi biasa sebagai akibat dari gangguan sensori yang terkait usia
dan penurunan memori. Orang ketiga juga dapat menjadi bagian dari interaksi, karena
pasien lanjut usia seringkali ditemani oleh anggota keluarga yang dicintai yang aktif
terlibat pada perawatan pasien dan berpartisipasi dalam kunjungan. Ada banyak faktor
lain yang mempengaruhi efektivitas komunikasi dengan pasien lanjut usia. Pasien lanjut
usia sering hadir dengan masalah yang kompleks dan beberapa keluhan utama, yang
memerlukan waktu untuk menyelesaikannya. Untuk setiap dekade kehidupan setelah usia
40 tahun, pasien kemungkinan mengalami satu penyakit kronik baru. Sehingga pada usia
80 tahun, orang kemungkinan memiliki paling tidak 4 penyakit kronis (Vieder et al.,
2002). Faktor lain adalah bahwa pasien lanjut usia umumnya lebih sedikit bertanya dan
menunggu untuk ditanya sesuai kewenangan dokter (Haug & Ory, 1987;Greene et

3
al.,1989). Masalah usia atau dikenal dengan istilah ageism juga merupakan hal yang
lazim dijumpai pada perawatan kesehatan dan secara tidak sengaja berperan terhadap
buruknya komunikasi dengan pasien lanjut usia (Ory et al., 2003).

2.3 Sekilas Komunikasi


A. Kegunaan Komunikasi
Komunikasi berguna untuk pertukaran informasi dan untuk membina hubungan
dengan orang lain, atau dengan kata lain komunikasi merupakan aspek dasar pada
hubungan antar manusia dan merupakan sarana untuk berhubungan dengan orang
lain. Pada pasien lanjut usia berbagai bentuk dari penyakit dan ketidakmampuan
dapat berpengaruh terhadap proses komunikasi dan perawatan kesehatannya,
sehingga diperlukan cukup perhatian dan sikap yang baik untuk proses
komunikasi tersebut Sering kali terjadi bahwa baik pihak keluarga maupun medis
melupakan atau tidak memperhatikan berbagai hambatan yang ada untuk
tercapainya komunikasi yang efektif pada pasien lanjut usia yang akhirnya dapat
mengakibatkan interpretasi yang keliru terhadap pesan yang disampaikan maupun
yang diterima oleh mereka (Smith & Buckwalter, 1993).
B. Komponen pada proses komunikasi
1. Pembicara : Orang yang menyampaikan pesan.
2. Pendengar : Orang yang menerima pesan.
3. Pesan verbal : Kata kata yang secara aktual diucapkan atau disampaikan.
4. Pesan nonverbal: Kesan yang ditangkap saat kata kata tersebut diucapkan
termasuk ekspresi wajah, tekanan suara, postur dan sikap tubuh dan pilihan
kosa kata yang digunakan.
5. Umpan Balik : Respon berupa tanggapan baik verbal maupun non verbal.
6. Konteks : Fisik dan lingkungan sosial atau pengaturan dalam pesan yang
dikirim.
7. Persepsi : Kemampuan untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan informasi
indrawi menjadi dimengerti dan bermakna.
8. Evaluasi : Kemampuan untuk menganalisa informasi yang diterima,
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masa lalu.
9. Transmisi : Ekspresi yang sebenarnya dari informasi dari pengirim kepada
penerima
2.4 Teknik Umum untuk Berkomunikasi dengan Pasien Lanjut Usia
1. Menunjukkan Hormat dan Keprihatinan
Komunikasi pasien yang baik didasarkan pada respect atau hormat kepada pasien
dan memahami serta mengapresiasi setiap pasien sebagai sosok manusia yang
unik. Untuk menunjukkan rasa hormat, anda harus menghadapi pasien secara
formal dan menyapa dengan “Bapak” atau “Ibu”, kecuali pasien sebelumnya telah

4
meminta anda untuk memanggil dengan nama pertamanya, dan hindarkan
menggunakan istilah yang merendahkan seperti “manisku”, “sayangku”,
‘cintaku”. Berkomunikasi yang saling bertatap mata dengan duduk di kursi dan
langsung menatap pasien. Dengan melakukan hal ini, anda menunjukkan
perhatian sejati dan aktif mendengarkan, serta membantu pasien untuk mendengar
dan memahami anda secara lebih baik. Sentuhan lembut di tangan, lengan, atau
pundak pasien akan menyampaikan rasa turut prihatin dan perhatian (Adelman et
al., 2000).
2. Memastikan bahwa Pasien Didengar dan Dipahami
Mempertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa dan mendengarkan adalah
kunci komunikasi efektif antara pasien lanjut usia dan dokter (Adelman et al.,
2000 ; Ory et al., 2003). Membiarkan pasien lanjut usia untuk berbicara beberapa
menit tentang masalahnya tanpa interupsi akan memberikan lebih banyak
informasi daripada riwayat pendukung yang terstruktur cepat. Merasa sedang
diburu-buru akan menyebabkan mereka merasa bahwa mereka sedang Tidak
didengarkan atau dipahami (Adelman et al., 2000). Penelitian menunjukkan
bahwa pasien lanjut usia dan dokter sering tidak sepaham tentang tujuan dan
masalah medis yang dihadapi. Komunikasi yang buruk dapat mengganggu
pertukaran informasi serta menurunkan kepuasan pasien (Greene et al., 1989).
Pada umumnya, anda harus berbicara pelan, jelas, dan keras tanpa berteriak,
menggunakan bahasa dan kalimat yang singkat dan sederhana. Karena pasien
lanjut usia umumnya lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk ditanya sesuai
kewenangan dokter, khususnya penting untuk sering merangkum dan memancing
pertanyaan (Adelman et al., 2000;Robinson et al., 2006).
Strategi Umum Tambahan untuk Memperbaiki Komunikasi dengan Pasien Lanjut
Usia :
a. Menggabungkan data pendahuluan sebelum perjanjian untuk bertemu, karena
pasien
b. pasien lanjut usia khas memiliki berbagai masalah kesehatan yang kompleks.
c. Meminta pasien menceritakan keluhannya hanya sekali (yaitu tidak bercerita dulu
kepada
d. perawat atau asisten kemudian baru kepada anda) untuk meminimalkan frustasi
dan kelelahan pasien.
e. Menghindarkan jargon medis.
f. Menyederhanakan dan menuliskan instruksi.
g. Menggunakan diagram, model, dan gambar.

5
h. Menjadwalkan pasien lanjut usia terlebih dahulu, karena mereka umumnya lebih
siap dari segi waktu dan secara klinis cenderung kurang sibuk.

Sumber : Adelman et al., 2000;Robinson et al., 2006


3. Menghindari Ageism
Salah satu hal terpenting yang harus diingat ketika berkomunikasi dengan pasien
lanjut usia adalah menghindarkan ageism. Ageism, suatu istilah yang pertama
disampaikan oleh Robert Butler, direktur pertama the National Institute on Aging,
adalah systematic stereotyping dan diskriminasi terhadap seseorang karena mereka
berusia lanjut (Butler, 1969). Ageism adalah hal yang lazim pada perawatan kesehatan
dan dapat direfleksikan dalam tindakan seperti meremehkan masalah medis,
menggunakan bahasa yang bersifat merendahkan, hanya memberikan sedikit edukasi
tentang regimen preventif, menawarkan sedikit pengobatan untukmasalah kesehatan
mental, menggunakan panggilan yang bernada menghina, menghabiskan lebih sedikit
masalah psikososial, dan membuat stereotype orang tua (Ory et al., 2003). Untuk
menghindarkan ageism, mulailah mengenal pasien lanjut usia sebagai satu pribadi
dengan riwayat dan penyelesaian yang jelas. Pendekatan ini memungkinkan anda
untuk menemui setiap pasien lanjut usia sebagai individu yang unik dengan
pengalaman seumur hidup yang berharga bukan orang tua yang tidak produktif dan
lemah (Roter, 2000). Juga penting untuk tidak mengasumsikan bahwa semua pasien
lanjut usia adalah sama. Bisa saja dijumpai “orang berjiwa muda” dengan usia 85
tahun serta “orang berjiwa tua” dengan usia 60 tahun. Setiap pasien dan setiap
masalah harus diperlakukan dengan unik.
4. Mengenal Kultur dan Budaya
Mengenal latar belakang kultur dan budaya pasien untuk kemudian
mengaplikasikannya dalam komunikasi dokter-pasien lanjut usia juga merupakan hal
penting dalam mempengaruhi persepsi pasien terhadap baik dan berkualitasnya
pelayanan kesehatan yang diberikan dokter (Ong et al., 1995).
2.5 Tips untuk Komunikasi yang Efektif dengan Pasien Lanjut Usia
A. Strategi Umum
1. Persiapkan lingkungan ruang pemeriksaan, memperbanyak penerangan dan
menurunkan kebisingan (mempertimbangkan kemungkinan berkurangnya
penglihatan dan pendengaran)
2. Memanggil pasien dan anggota keluarga dengan sebutan “Bapak” atau “Ibu”
dan menghindarkan sebutan “manis”, “sayang”, atau “cintaku”

6
3. Bicaralah dengan pelan, jelas, tanpa berteriak, menggunakan nada yang kalem
dan ekspresi yang menyenangkan.
4. Gunakan sentuhan lembut dengan sentuhan ringan di tangan, lengan, atau
bahu.
5. Pertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa, membiarkan pasien selama
beberapa menit untuk mengekspresikan masalahnya jika mampu
6. Memastikan bahwa agenda pasienlah yang anda hadapi
7. Meminta pasien lanjut usia untuk mengulang kembali setiap instruksi yang
penting
8. Memberikan instruksi tertulis paling tidak dengan huruf berukuran 14.
9. Ingatlah pentingnya masalah psikososial ketika merawat pasien lanjut usia.
a. Gangguan Kognitif Pasien
b. Jangan mengabaikan pasien.
c. Bertanyalah dengan pertanyaan sederhana yang hanya memerlukan
jawaban “ya” atau “tidak” dan bahasa tubuh sederhana.
10 Ketika melakukan pemeriksaan, berikan instruksi satu persatu.
a. Pertemuan dengan Keterlibatan Pihak Ketiga.
b. Persiapkan lingkungan ruang pemeriksaan dengan 3 kursi dalam bentuk
segitiga.
c. Pada mulanya berikan pertanyaan kepada pasien, kemudian mintalah
masukan dari pendamping pasien.
11 Mintalah pasien dan pendamping pasien untuk mengulang kembali setiap
instruksi yang penting.

2.6 Pendekatan untuk Berkomunikasi


Ketika berkomunikasi dengan pasien lanjut usia dengan pendengaran yang berkurang,
tataplah pasien sehingga pasien dapat membaca bibir dan menggunakan isyarat mata.
Meminimalkan kebisingan, dan berbicara pelan, jelas, dan dalam nada yang normal.
Berteriak akan menghambat komunikasi, mengubah nada berfrekuensi tinggi, dan
mempersulit pasien untuk memahami kata-kata anda. Jika suara anda melengking,
meredam lengkingan ketika anda berbicara dapat membantu pasien untuk mendengar
anda dengan lebih baik. Ketika memberikan instruksi untuk medikasi, tes, atau
pengobatan, hindarkan untuk bertanya kepada pasien apakah dia mengerti. Orang dengan
gangguan pendengaran mungkin akan menjawab “ya” tanpa menyadari bahwa mereka
belum mendengar apapun atau salah memahami beberapa informasi. Pendekatan yang
lebih baik untuk mengecek pemahaman pasien adalah dengan meminta pasien untuk
mengulang instruksi (Adelman et al., 2000). Akhirnya, karena pendengaran memburuk
dikemudian hari, appointment yang lebih awal umumnya lebih baik (Veras & Mattos,
2007). Jika tersedia, pengeras suara (alat portable yang memperkuat suara dokter dan

7
memancarkannya ke headphones yang dipakai oleh pasien) diketahui sangat
memudahkan komunikasi dengan pasien yang mengalami gangguan pendengaran (Fook
& Morgan, 2000).
Ketika berkomunikasi dengan pasien dengan gangguan penglihatan, lingkungan klinik
dapat diperbaiki dengan memperbanyak pencahayaan, menggunakan warna-warna
kontras untuk membuat objek lebih jelas (mis. kerangka pintu, kursi yang berada dilantai
klinik), dan menggunakan huruf yang besar serta berwarna kontras untuk setiap tanda.
Setiap bahan dengan tulisan harus dicetak paling tidak dengan huruf berukuran 14 diatas
kertas berwarna. Direkomendasikan untuk menggunakan dua sumber cahaya,
pencahayaan untuk latar belakang dan lampu tertutup (Roter, 2000).
Ketika membahas rencana pengobatan, ingatlah masalah keamanan potensial yaitu
gangguan penglihatan. Sebagai contoh, pasien lanjut usia kadang-kadang akan
meletakkan obatnya dalam satu wadah dan tergantung pada satu warna untuk
mengenalinya. Ini dapat menjadi masalah keamanan, karena banyak obat yang berwarna
putih, biru muda, hijau muda, yang akan terlihat berwarna abu-abu oleh mata yang telah
menua. Warna merah, oranye, dan kuning paling baik dilihat dan dapat digabungkan
kedalam perawatan. Pada contoh lain, pasien yang mengalami kesulitan memastikan dosis
insulin dapat diinstruksikan untuk ditempatkan pada warna merah diatas meja, yang akan
mempermudahnya untuk melihat jarum dan vial. Kertas kontak berwarna merah dapat
dibalutkan pada pegangan untuk berjalan, tongkat atau tabung oksigen untuk membantu
pasien lanjut usia untuk mengambilnya (Adelman et al., 2000).

2.7 Masalah-Masalah Yang Umum Terjadi Pada Lansia Dengan Komunikasi


A. Pasien dengan Defisit Sensorik
Beberapa pasien menunjukkan defisit pendengaran dan penglihatan yang
terkait dengan usia, keduanya memerlukan adaptasi dalam berkomunikasi.
Penelitian mengindikasikan bahwa 16% – 24% individu berusia lebih dari 65
tahun mengalami pengurangan pendengaran yang mempengaruhi komunikasi
(Crews & Campbell, 2004 ; Mitchell, 2006). Bagi mereka yang berusia diatas 80
tahun, jumlah gangguan sensorik meningkat menjadi lebih dari 60% (Chia et al.,
2006). Aging/penuaan mengakibatkan penurunan fungsi pendengaran yang
dikenal sebagai presbyacussis, yang terutama berkenaan dengan suara
berfrekuensi tinggi. Suara berfrekuensi tinggi adalah suara konsonan yang
berdampak pada pemahaman pasien diawal dan akhir kata. Sebagai contoh, jika
anda berkata “Take the pill in the morning (Minumlah pil dipagi hari)”, pasien
akan mendengar vokal dalam kata tetapi pasien dapat berpikir anda berkata “Rake

8
the hill in the morning (Dakilah bukit dipagi hari)” (Fook & Morgan, 2000 ;
Ross et al., 2007).
Gangguan visual yang berhubungan dengan usia meliputi reduksi diameter
pupil; lensa mata menguning, yang mempersulit untuk membedakan warna
dengan panjang gelombang pendek seperti lavender, biru, dan hijau; dan
menurunkan elastisitas ciliary muscles, yang mengakibatkan penurunan
akomodasi ketika bahan cetakan dipegang diberbagai jarak. Kebanyakan pasien
lanjut usia mengalami penyakit mata yang menurunkan ketajaman penglihatan
(mis. katarak, degenerasi macular, glaucoma, komplikasi ocular pada diabetes).
Lebih dari 15% orang tua berusia lebih dari 70 tahun melaporkan penglihatannya
yang buruk, dan 22% lagi melaporkan penglihatannya hanya cukup untuk jarak
tertentu (Crews & Campbell, 2004). Bagi mereka yang berusia diatas 80 tahun,
30% melaporkan penglihatannya yang terganggu (Chia et al., 2006).
B. Pasien dengan Demensia
Amerika Serikat pada tahun 2008 diprediksi memiliki lebih kurang 5,2 juta
penduduk berusia lanjut yang diantaranya menderita beberapa bentuk demensia,
dan jumlahnya diprediksi akan meningkat dua kali lipat pada 30 tahun yang akan
datang (Hingle & Sherry, 2009). Sebagai akibatnya, dokter dapat berharap untuk
menemui lebih banyak pasien demensia dan pasien tersebut datang berkunjung ke
dokter ditemani oleh anggota keluarga atau perawat nonformal lain (Vieder et
al.,2002). (istilah caregiver digunakan dari point ini untuk merujuk pada setiap
orang yang menemani kunjungan yang merupakan informal caregiver). Penilaian
dan pengobatan pasien lanjut usia dengan demensia juga akan sangat membantu
bila melibatkan caregiver (Roter, 2000).
Ada banyak tingkatan demensia, yang memiliki berbagai kesulitan
komunikasi. Pasien pada stadium awal sering mengalami masalah untuk
menemukan kata yang ingin disampaikan, pasien banyak menggunakan kata-kata
yang tidak memiliki makna, seperti “hal ini”, “sesuatu”, dan “anda tahu”. Pada
demensia parah, pasien dapat menggunakan jargon yang tidak dapat dipahami atau
bisa hanya berdiam diri (Orange & Ryan, 2000).
Demensia memiliki efek yang merugikan pada penerimaan dan ekspresi
komunikasi pasien. Sebagian besar pasien mengalami kehilangan memori dan
mengalami kesulitan mengingat kejadian yang baru terjadi. Sebagian pasien
demensia memiliki rentang konsentrasi yang sangat singkat dan sulit untuk tetap
berada dalam satu topik tertentu (Miller, 2008).
C. Pasien yang Ditemani oleh Caregiver

9
Karakteristik utama kunjungan poliklinik geriatri adalah adanya orang ketiga,
dengan seorang anggota keluarga atau caregiver informal lainnya yang hadir
sedikitnya pada sepertiga kunjungan geriatrik (Roter, 2000).
Meskipun caregiver dapat mengasumsikan berbagai peran, termasuk pendukung,
peserta pasif, atau antagonis, pada sebagian besar kasus, caregiver menempatkan
kesehatan orang yang mereka cintai sebagai prioritasnya. Caregiver sangat
penting untuk sistem perawatan kesehatan lanjut usia. Mereka tidak hanya
membantu dengan nutrisi, aktivitas kehidupan sehari-hari, tugas rumah tangga,
pemberian obat, transportasi, dan perawatan lain untuk pasien lanjut
usia, caregivermembantu memudahkan komunikasi antara dokter dan pasien serta
mempertinggi keterlibatan pasien dalam perawatan mereka sendiri (Clayman et
al., 2005 ; Wolff & Roter, 2008). Juga merupakan hal penting untuk
memperlakukan pasien lanjut usia dalam konteks atau sudut pandang caregiver-
nya agar didapatkan hasil terbaik bagi keduanya (Griffith et al., 2004).

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesehatan yang optimal pada pasien lanjut usia atau selanjutnya penulis sebut sebagai
lansia tidak hanya bergantung kepada kebutuhan biomedis semata namun juga bergantung
kepada kondisi disekitarnya, seperti perhatian yang lebih terhadap keadaan sosialnya,
ekonominya, kulturalnya bahkan psikologisnya dari pasien tersebut. Hubungan saling
memberi dan menerima antara perawat dan pasien dalam pelayanan keperawatan disebut
sebagai komunikasi terapeutik perawat yang merupakan komunikasi profesional perawat.
Komunikasi antara perawat dan pasien lansia harus berjalan efektif terutama bagi pasien
lansia karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan dari pasien lansia
tersebut. Komunikasi yang baik dengan pasien adalah kunci keberhasilan untuk masalah
klinisnya. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar,
bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah
pada bentuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap
muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain sacara
langsung, baik secara verbal dan nonverbal.

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari
pembaca sangatlah kami perlukan agar dalam pembuatan makalah selanjutnya akan lebih
baik dari sekarang dan kami juga berharap pengetahuan tentang komunikasi dengan
lansia dapat terus di kembangkan dan diterapkan dalam bidang keperawatan gerontik.

11
DAFTAR PUSTAKA

Adelman, R.D., Greene, M.G., Ory, M.G. 2000. Communication between older patients and
their physicians. Clin Geriatr Med ;16:1–24

Brunner & Suddarth.2001.Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 1.Jakarta : EGC


Setyohadi. I. Alwi., M. Simadibrata.,S. Setiati (editor): Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid III, edisi IV, hal. 1425 – 1430. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Majerovitz, S.D., Greene, M.G., Adelman, R.D., Rizzo, C. 1994. The effects of the presence
of a third person on the physician-older patient medical interview. J Am Geriatr
Soc;42:413–9

Stewart, M., Meredith, L., Brown, J.B., Galajda. J. 2000. The influence of older
patientphysician communication on health and health-related outcomes. Clin Geriatr
Med; 16(1) : 25-36

William, S.L., Haskard, K.B., Dimatteo, M.R. 2007. The therapeutic effects of the physician-
older patient relationship: effective communication with vulnerable older patients. Clin
Interv Aging 2(3) : 453-67

12