Vous êtes sur la page 1sur 46

LAPORAN KOMPREHENSIF

ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN LEUKHORE


FISIOLOGIS DI PUSKESMAS TANAH KALI KEDINDING SURABAYA

OLEH :
ROSMIATI
011813243063

PROGRAM PROFESI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan kebidanan pada remaja dengan leukhore fisiologis di Puskesmas


Tanah Kali Kedinding Surabaya, telah disahkan oleh pembimbing pada :

Hari :
Tanggal :

Surabaya,………November 2018
Mahasiswa

Rosmiati
011813243063

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik


Program Studi Profesi Bidan Puskesmas Tanah Kali Kedinding
FK Unair Surabaya

Rize Budi Amalia, S.Keb.,Bd., M.Kes Dyah Sabrang Purwaningrum, SST


NIP.19841023 201611 3 201 NIP. 19621111 198803 2 011
BAB 1
PEDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa remaja merupakan masa transisi antara anak-anak ke dewasa. Selama
masa ini, akan terjadi perubahan percepatan pertumbuhan, munculnya tanda seks
sekunder, mulai terjadi fertilitas, dan terjadi perubahan psikososial (Soetjiningsih,
2010). Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang
besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (2014), diperkirakan, jumlah remaja
berjumlah 1,2 milyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia. Sedangkan di
Indonesia jumlah remaja kelompok usia 10-19 tahun menurut Sensus Penduduk
2010 sebanyak 43,5 juta atau sekitar 18% dari jumlah penduduk (Kemenkes,
2013).
Secara sosial remaja banyak mengalami tuntutan dan tekanan yang
ditujukan pada diri mereka. Remaja diharapkan untuk tidak lagi seperti anak-anak,
remaja harus lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam kehidupannya. Secara
psikologis remaja mulai mengalami rasa suka dan tertarik terhadap lawan jenis
dan mempunyai rasa sensitif yang lebih tinggi dibanding ketika masa anak-anak.
Perubahan yang terjadi pada remaja baik secara fisik, sosial, maupun psikologis,
menuntut remaja untuk memahami pertumbuhan dan perkembangan yang mereka
alami agar mereka mampu melewati masa peralihannya. (Wirdhana,2012).
Perhatian pada kelompok remaja menjadi hal penting untuk dilakukan,
mengingat masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual. Sifat
khas remaja mempunyai rasa keingintahuan yang besar, menyukai petualangan
dan tantangan, serta cenderung berani menanggung risiko atas perbuatan tanpa
didahului oleh pertimbangan yang matang. Apabila keputusan yang diambil dalam
menghadapi konflik tidak tepat, maka akan menyebabkan remaja jatuh dalam
perilaku yang berisiko. Sehingga remaja memerlukan adanya ketersediaan
pelayanan kesehatan peduli remaja yang dapat memenuhi kebutuhan kesehatan
remaja (Kemenkes, 2013).
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan remaja dengan menggunakan
management kebidanan Varney dan dokumentasi SOAP yang tepat sesuai dengan
kebutuhan remaja.
1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu dengan benar :
1). Menjelaskan mengenai teori dan konsep dasar asuhan kebidanan pada
remaja
2). Mengintegrasikan teori dan manajemen asuhan kebidanan serta
mengimplementasikannya pada kasus yang dihadapi, yang meliputi:
(1) Melakukan pengkajian data subjektif dan objektif asuhan kebidanan
pada remaja
(2) Melakukan analisis data yang telah diperoleh untuk merumuskan
diagnosa dan masalah aktual pada remaja
(3) Melakukan identifikasi diagnosa dan masalah potensial pada remaja.
(4) Mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera dan rujukan pada remaja.
(5) Menyusun rencana asuhan kebidanan pada remaja
(6) Melaksanakan rencana asuhan kebidanan pada remaja yang telah
disusun.
(7) Melakukan evaluasi hasil asuhan yang telah dilakukan pada remaja.
(8) Melakukan dokumentasi asuhan kebidanan yang telah diberikan pada
remaja.
(9) Menganalisis asuhan kebidanan pada remaja yang telah dilaksanakan
dengan teori yang ada.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Remaja


2.1.1. Pengertian remaja
Secara etimologi remaja adalah tumbuh, menurut Papalia dan Olds 2001,
Banduraa 1970, Hasselt 1987, Sprinthal dan Collinns 1988 remaja yaitu transisi
antara kanak-kanak dan dewasa, menurut Borring dalam Hurlock 1990 remaja
adalah transisi untuk menyiapkan diri masuk ke dunia dewasa, dan menurut
Santrock remaja adalah periode yang meliputi perubahan bilogis, kognitif dan
sosial ( Saadi, 2017).
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan
fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu
periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa
pubertas (Wisyastuti, 2009), hal ini sama denan pengertian remaja menurut WHO
dimana remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 19 tahun (WHO,2014).
Menurut peraturan menteri kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja
adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja 10-24
tahun dan belum menikah (BKKBN,2012).
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah
tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara
penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak dan
orang dewasa. Oleh karena, itu remaja sering kali dikenal dengan fase “mencari
jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan
memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya. Namun, yang
perlu ditekankan di sini adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan
yang tengah berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif,
emosi, maupun fisik (Ali, dkk, 2010).
2.1.2 Tahap-tahap Remaja
Perkembangan dalam segi rohani atau kejiwaan juga melewati tahapan-
tahapan yang dalam hal ini dimungkinkan dengan adanya kontak terhadap
lingkungan atau sekitarnya. Menurut Ali, dkk (2010) dan Soetjiningsih, dkk,
(2010), masa remaja dibedakan menjadi:
1). Masa remaja awal (10-13 tahun)
(1). Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya
(2). Tampak dan merasa ingin bebas
(3). Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya
dan mulai berfikir khayal (abstrak)
2). Masa remaja tengah (14-16 tahun)
(1). Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri
(2). Ada keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan jenis
(3). Timbul perasaan cinta yang mendalam
(4). Kemampuan berfikir abstrak (berkhayal) makin berkembang
(5). Berkhayal mengenai hal-hal yang bekaitan dengan seksual
3). Masa remaja akhir (17-19 tahun)
(1). Menampakkan pengungkapan kebebasan diri
(2). Dalam mencari teman sebaya lebih selektif
(3). Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya
(4). Dapat mewujudkan perasaan cinta
(5). Memiliki kemampuan berfikir khayal atau abstrak
2.1.3 Tahapan Pubertas Wanita
Pubertas pada perempuan meliputi mulainya perkembangan payudara
(thelarche) hingga maturasi payudara dan mulainya menstruasi (menarche)
hingga pembentukan dari periode menstruasi regular. Munculnya rambut pubis
(pubarche) berasal dari sekresi pubertal adrenal androgen (adrenarche),
meskipun produksi ovarian androgen juga terjadi (Diana, 2001)
Pembesaran payudara biasanya pertanda pertama (thelarche) dan sering
unilateral. Menarche biasanya muncul 2-3 tahun setelah perkembangan payudara,
sedangkan pubarche adalah puncak pertumbuhan ditandai dengan munculnya
bulu-bulu sebagai tanda sekresi androgen dan mulai pada tahap yang sama
produksi kelenjar keringat apocrine dan berhubungan dengan munculnya bau
badan pada orang dewasa (Saadi, 2017).

1). Thelarche
Merupakan istilah yang menggambarkan tentang payudara. Kelenjar mamae
atau payudara merupakan turunan lapisan ectoderm yang sangat sensitif terhadap
hormone. Susunan payudara saat lahir terdiri dari duktus laktiferus dan alveoli.
2). Menarche
Menarche menggambarkan onset siklus menstruasi. Menarche merupakan
puncak dari rangkaian peristiwa kompleks yang meliputi pematangan aksis HHO
(hipotalamus-hipofisis-ovarium) untuk memproduksi ovum ataupun endometrium
matang sehingga dapat menunjang zigot jika terjadi pembuahan.
Tahap pematangan aksis HHO yang menyebabkan ovulasi :
- Peningkatan pelepasan FSH dan LH dari kelenjar hipofisis
- Pengenalan dan respon ovarium terhadap gonadotropin sehingga
memungkinkan terjadinya produksi steroid ovarium (estrogen dan
progesterone)
- Terbentuknya umpan balik positif pada kelenjar hipotalamus dan hipofifis oleh
estrogen.
Pematangan ovarium saat pubertas menyebkan dimulainay produksi
estrogen oleh selsel granulosa yang mengelilingi ovum. Tahun tahun pertama
setelah menarche pengaturan umpan balik positif hipotalamus terhadap estrogen
ovarium belum matang menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur dan
anovulasi (tidak terbentuk korpus luteum). Setelah 5 tahun, 90% anak perempuan
mengalami menstruasi yang teratur dan ovulatoir.
3). Pubarche
Munculnya rambut pubis (pubarche) berasal dari sekresi pubertal adrenal
androgen (adrenarche), adrenal mensekresi dan mesintesis androstenedion
dehidroepiandrosteron (DHEA) dan dehidroepiandrosteronsulfat (DHEA-S).
DHEA dan DHEA-S berperan pada pertumbuha awal ramut pubis aksila serta
sintesis dan sekresi kelenjar sebasea. Adrenarke terjadi karena mekanisme
intrinsik yang telah terprogram oleh kelenjar adrenal (Saadi, 2017).
Tabel 2.1 Tingkatan Maturitas Wanita Berdasarkan Skala Tanner
Stadium Rambut Pubis Payudara
1. Pra-pubertas Pra-pupertas
2. Jarang, sedikit berpigmen, lurus Payudara dan papila menonjol sebagai
batas medial labia ±(9-13,4) tahun bukit kecil, diameter areola bertambah
±(8,9-12,9) tahun
3. Lebih hitam mulai keriting, Payudara dan areola mmbesar, tidak
jumlah bertambah ±(9,6-14,1) ada pemisahan garis bentuk ±(9,9-
tahun 13,9) tahun
4. Kasar, keriting, banyak tetapi Areola dan papila membentuk bukit
lebih sedikit daripada orang kedua ± (10,5-15,3) tahun
dewasa ±(10,4-14,8) tahun
5. Segitiga wanita dewasa, Bentuk dewasa, papila menonjol,
menyebar ke permukaan mediah areola merupakan bagian dari garis
paha ± (13-16) tahun bentuk umum payudara ±(13-16) tahun
Sumber : Behrman, dkk, 2012.

2.1.4 Perubahan fisik remaja


1). Perubahan hormonal
Pubertas terjadi sebagai akibat peningkatan sekresi gonadotropin releasing
hormone (GnRH) dari hipotalamus, diikuti oleh sekuens perubahan sistem
endokrin yang kompleks yang melibatkan sistemumpan balik negatif dan positif.
Selanjutnya, sekuens ini akan diikuti dengan timbulnya tanda-tanda seks
sekunder, pacu tumbuh, dan kesiapan untuk reproduksi. Pubertas normal diawali
oleh terjadinya aktivasi aksis hipotalamus–hipofisis–gonad dengan peningkatan
GnRH secara menetap
Pada saat remaja atau pubertas, inhibisi susunan saraf pusat terhadap
hipotalamus menghilang sehingga hipotalamus mengeluarkan GnRH akibat
sensitivitas gonadalstat. Selama periode prepubertal gonadalstat tidak sensitif
terhadap rendahnya kadar steroid yang beredar, akan tetapi pada periode pubertas
akan terjadi umpan balik akibat kadar steroid yang rendah sehingga GnRH dan
gonadotopin akan dilepaskan dalam jumlah yang banyak. Pada awalnya GnRH
akan disekresi secara diurnal pada usia sekitar 6 tahun. Hormon GnRH kemudian
akan berikatan dengan reseptor di hipofisis sehingga sel-sel gonadotrop akan
mengeluarkan luteneizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH).
Hal ini terlihat dengan terdapatnya peningkatan sekresi LH 1-2 tahun sebelum
awitan pubertas. Sekresi LH yang pulsatile terus berlanjut sampai awal pubertas
Pada periode pubertas, selain terjadi perubahan pada aksis hipotalamus-
hipofisis-gonad, ternyata terdapat hormon lain yang juga memiliki peran yang
cukup besar selama pubertas yaitu hormone pertumbuhan (growth hormone/GH).
Pada periode pubertas, GH dikeluarkan dalam jumlah lebih besar dan
berhubungan dengan proses pacu tumbuh selama masa pubertas. Pacu tumbuh
selama pubertas memberi kontribusi sebesar 17% dari tinggi dewasa anak lakilaki
dan 12% dari tinggi dewasa anak perempuan.
Hormon steroid seks meningkatkan sekresi GH pada anak laki-laki dan
perempuan. Pada anak perempuan terjadi peningkatan GH pada awal pubertas
sedangkan pada anak laki-laki peningkatan ini terjadi pada akhir pubertas.
Perbedaan waktu peningkatan GH pada anak laki-laki dan perempuan serta awitan
pubertas dapat menjelaskan perbedaan tinggi akhir anak laki-laki dan perempuan
(Batubara, 2010).
2) Perubahan fisik
Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja baik perempuan dan
laki-kali memasuki usia antara 9 – 15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya
tubuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-
perubahan di dalam tubuh yg memungkinkan untuk bereproduksi atau
berketurunan. Perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau sering
dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi pada
perempuan atau mimpi basah pada laki-laki.
(1) Tanda-tanda perubahan seks primer
a. Menstruasi
Peristiwa menstruasi dibagi menjadi folikulogenesi yang terdiri dari fase
folikuler, ovulasi dan fase luteal yang terjadi di ovarium dan perubahan
endometrium yang terdiri dari fase menstruasi, foliferasi dan fase sekretorik
(Saadi, 2017)
a) Siklus folikulogenesis
- Fase folikuler
Foliker primordial : dibentuk sejak dalam kandungan, puncaknya pada
16-20 minggu (6-7 juta), berisi oosit imatur yang dikelilingi sel granulosa
bertipe pipih selapis, berada dalam fase istirahat
Folikel primer : oosit membesar, sel granulosa bermitosis lebih dari
selapis. Oosit dan folikel tumbuh cepat hamper 0,1 mm. oosit membentuk
mikrovili, sel granulosa membentuk filofodia (zona pellusida), mulai
terbentuk reseptor FSH, tetapi tidak bergantung pada gonadotropin sampai
tahap antral (gonadotropin independen).
Folikel sekunder aktivitas mitosis folikel tinggi, bertambah lapisan sel
granulosa, membrane granulosa. Membrane granulosa mulai
mensekresikan cairan folikel (belum nampak). Terbentuk sel teka interna
(besar, bulat dan seperti epitel) dan teka ekterna (lebih kecil/fibroblast)
Pre antral : akhir dari inisiasi rekrutmen dari sel primordial sampai
dengan preantral). Oosit berkembang sempurna dikelilingi zona pleusida,
terdiri dari + 9 lapis sel granulosa, membrane basal, teka interna, kapiler,
teka ekterna.oosit mencapai maksimal dan letaknya ektrinsik dalam
folikel.
Folikel antral : stimulus FSH dan estrogen menghasilkan cairan antar sel
granulosa sehingga membentuk rongga atau antrum.rongga memisahkan
sel granulosa menjadi 2, yaitu kumulus ooforus ( kelompok granulosa
yang merapat disekitar oosit, reseptor FSH menurun) dan mural
(kelompok sel granulosa yang membentuk dinding folikel, reseptor FSH
meningkat) penghasil estrogen (Saadi, 2017)
- Ovulasi
Ovulasi merupakan peningkatan kadar estrogen yang menghambat
pengeluaran FSH, kemudian hipofise mengeluarkan LH (lutenizing
hormon). Peningkatan kadar LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari
folikel. Folikel primer primitif berisi oosit yang tidak matur (sel
primordial). Sebelum ovulasi, satu sampai 30 folikel mulai matur didalam
ovarium dibawah pengaruh FSH dan estrogen. Lonjakan LH sebelum
terjadi ovulasi mempengaruhi folikel yang terpilih. Di dalam folikel
yang terpilih, oosit matur dan terjadi ovulasi, folikel yang kosong
memulai berformasi menjadi korpus luteum. Korpus luteum mencapai
puncak aktivitas fungsional 8 hari setelah ovulasi, dan mensekresi baik
hormon estrogen maupun progesteron. Apabila tidak terjadi implantasi,
korpus luteum berkurang dan kadar hormon menurun. Sehingga
lapisan fungsional endometrium tidak dapat bertahan dan akhirnya luruh
(Bobak, dkk 2012)
Terjadi 14 hari sebelum mentruasi yang akan dating, dan ovulasi terjadi 12
jam setelah lonjakan LH (Saadi, 2017).
- Fase luteal
Pasca lonjakan LH terjadi vaskularisasi ketengah ruang volikel dan
mengisinya dengan darah (corpus rubrum), selama 3 hari pasca ovulasi sel
granulosa terus membesar dan terbentuk korpus luteum. Pada 8-9 hari
pasca ovulasi vaskularisasi mencapai puncaknya bersamaan puncaknya
kadar progesterone dan estrogen. (Saadi, 2017)
b) Siklus Endomentrium
Siklus endometrium menurut Bobak, dkk (2012), terdiri dari empat
fase, yaitu :
- Fase menstruasi
Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan
disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale.
Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-6 hari).
Pada awal fase menstruasi kadar estrogen, progesteron, LH (Lutenizing
Hormon) menurun atau pada kadar terendahnya selama siklus dan
kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai meningkat.
- Fase proliferasi
Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang
berlangsung sejak sekitar hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid,
misalnya hari ke-10 siklus 24 hari, hari ke-15 siklus 28 hari, hari
ke-18 siklus 32 hari. Permukaan endometrium secara lengkap kembali
normal sekitar empat hari atau menjelang perdarahan berhenti. Dalam
fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm atau sekitar 8-10
kali lipat dari semula, yang akan berakhir saat ovulasi. Fase proliferasi
tergantung pada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium.
- Fase sekresi
Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari
sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada akhir fase sekresi,
endometrium sekretorius yang matang dengan sempurna mencapai
ketebalan seperti beludru yang tebal dan halus. Endometrium menjadi
kaya dengan darah dan sekresi kelenjar.
- Fase iskemi/premenstrual
Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari
setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus
luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron menyusut. Seiring
penyusutan kadar estrogen dan progesteron yang cepat, arteri spiral
menjadi spasme, sehingga suplai darah ke endometrium fungsional
terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah dari lapisan
basal dan perdarahan menstruasi dimulai.
Gambar 2.2 Siklus menstruasi.
(2) Tanda-tanda perubahan seks sekunder
Pada masa pubertas ditandai dengan kematangan organ-organ reproduksi,
termasuk pertumbuhan seks sekunder. Pada masa ini juga remaja mengalami
pertumbuhan fisik yang sangat cepat (BKKBN, 2012). Ciri-ciri seksual pada
remaja putri seperti pinggul menjadi tambah lebar dan bulat, kulit lebih halus dan
pori-pori bertambah besar. Selanjutnya ciri sekunder lainnya ditandai oleh
kelenjar lemak dan keringat menjadi lebih aktif, dan sumbatan kelenjar lemak
dapat menyebabkan jerawat (Al-Mighwar, 2006).
Ciri seksual sekunder ditandai dengan tumbuhnya rambut pubis, keratinisasi
(kornifikasi) mukosa vaginna, pembesaran labiya mayora dan minora, pembesaran
uterus dan peninngkatan timbunan lemak di pinggul dan paha akibat pengaruh
dari estrogen pada masa pubertas (Saadi,2017). Menurut Widyastuti, dkk (2009)
tanda-tanda seks sekunder pada wanita antara lain:
a) Rambut
Rambut kemaluan pada wanita juga tumbuh seperti halnya remaja laki-laki.
Tumbuhnya rambut kemaluan ini terjadi setelah pinggul dan payudara mulai
berkembang. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah tampak setelah haid.
Semua rambut kecuali rambut wajah mula-mula lurus dan terang warnanya,
kemudian menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting.
b) Pinggul
Pinggul pun menjadi berkembang, membesar dan membulat. Hal ini sebagai
akibatmembesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak di bawah
kulit.
c) Payudara
Seiring pinggul membesar, maka payudara juga membesar dan puting susu
menonjol. Hal ini terjadi secara harmonis sesuai pula dengan berkembang
dan makin besarnya kelenjar susu sehingga payudara menjadi lebih besar
dan lebih bulat.
d) Kulit
Kulit, seperti halnya laki-laki juga menjadi lebih kasar, lebih tebal, pori-pori
membesar. Akan tetapi berbeda dengan laki-laki kulit pada wanita tetap
lebih lembut.
e) Kelenjar lemak dan kelenjar keringat
Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi lebih aktif. Sumbatan kelenjar
lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat dan baunya menusuk
sebelum dan selama masa haid.
f) Otot
Menjelang akhir masa puber,otot semakin membesar dan kuat. Akibatnya
akan membentuk bahu, lengan dan tungkai kaki.
g) Suara
Suara berubah semakin merdu. Suara serak jarang terjadi pada wanita.
Empat pertumbuhan tubuh yang paling menonjol pada perempuan ialah
pertambahan tinggi badan yang cepat, menarche, pertumbuhan buah dada,
dan pertumbuhan rambut kemaluan (Santrock, 2007).
3) Perkembangan psikologis masa remaja
Widyastuti dkk (2009) menjelaskan tentang perubahan kejiwaan pada masa
remaja. Perubahan-perubahan yang berkaitan dengan kejiwaan pada remaja
adalah:
(1) Perubahan emosi. Perubahan tersebut berupa kondisi:
- Sensitif atau peka misalnya mudah menangis, cemas, frustasi, dan
sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang jelas. Utamanya sering terjadi
pada remaja putri, lebih-lebih sebelum menstruasi.
- Mudah bereaksi bahkan agresif terhadap gangguan atau rangsangan luar
yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya mudah terjadi perkelahian.
Suka mencari perhatian dan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
- Ada kecenderungan tidak patuh pada orang tua, dan lebih senang pergi
bersama dengan temannya daripada tinggal di rumah.
(2) Perkembangan intelegensia. Pada perkembangan ini menyebabkan remaja:
- Cenderung mengembangkan cara berpikir abstrak, suka memberikan
kritik.
- Cenderung ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku
ingin mencoba-coba. Tetapi dari semua itu, proses perubahan kejiwaan
tersebut berlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan fisiknya.
4) Perkembangan kognitif masa remaja
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti
belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa (Jahja, 2012). Menurut Piaget
(dalam Santrock, 2001; dalam Jahja, 2012), seorang remaja termotivasi untuk
memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam
pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di
mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam
skema kognitif mereka.
Remaja telah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih
penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga mengembangkan ide-ide ini.
Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi
remaja mampu mengholah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide
baru.
Masa remaja awal (sekitar usia 11 atau 12 sampai 14 tahun), transisi keluar
dari masa kanak-kanak,menawarkan peluang untuk tumbuh – bukan hanya dalam
dimensi fisik, tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial (Papalia dkk,
2008)
2.1.5 Faktor yang Mempengaruhi Usia Menarche
Menurut Lestari (2011), faktor yang mempengaruhi usia menarche
diantaranya :
1) Faktor internal
a. Organ Reproduksi
Faktor yang mempengaruhi usia ketika mendapat haid pertama
adalah vagina tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, rahim yang
tidak tumbuh, indug telur yang tidak tumbuh. Beberapa wanita remaja
tidak mendapat haid karena vaginanya mempunyai sekat. Tidak jarang
ditemukan kelainan lebihkompleks lagi, yaitu wanita remaja tersebut tidak
mempunyai rahim atau rahim tidak tumbuh dengan sempurna yang disertai
tidak adanya lubang kemaluan. Kelainan ini disebut “ogenesisgenitalis”
yang bersifat permanen, artinya perempuan tersebut tidak akan
mendapatkan haid selama – lamanya.
b. Hormonal
Alat reproduksi perempuan merupakan alat akhir
(endorgan)sehingga dipengaruhi oleh sistem hormonal yang kompleks.
Rangsangan yang datang dari luar, masuk kepusat panca indra, diteruskan
melalui striae terminalis menuju pusat yang disebut pubertas inhibitor.
Dengan hambatan tersebut, tidak terjadi rangsangan terhadap hipotalamus.
Yang akan memberikan rangsangan pada Hipofise Pars Posterior sebagai
Mother of Glad (pusat kelenjar – kelenjar).
Rangsangan terus menerus datang ditangkap oleh panca indra,
dengan makin selektif dapat lolos menuju Hipotalamus selanjutnya
menuju Hipofise anterior (depan) mengeluarkan hormon yang dapat
merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon spesifiknya, yaitu
kelenjar tyroid yang memproduksi hormon tiroksin, kelenjar indung telur
yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron, sedangkan kelenjar
adrenal menghasilkan hormon adrenalin. Pengeluaran hormon spesifik
sangat penting untuk tumbuh kembang mental dan fisik.
Perubahan yang berlangsung dalam diri seorang perempuan pada
masa pubertas dikendalikan oleh hipotalamus, yakni suatu bagian tertentu
pada otak manusia. Kurang lebih sebelum gadis itu mengalami datang
bulan atau haid, hypotalamus itu mulai menghasilkan zat kimia, atau yang
kita sebut sebagai hormon yang akan dilepaskannya. Hormon pertama
yang akan dihasilkan adalah perangsang kantong rambut (FSH; Folikel
Stimulating Hormon). Hormon ini merangsang pertumbuhan folikel yang
mengandung sel telur dalam indung telur. Karena terangsang oleh FSH,
folikel itu pun akan menghasilkan estrogen yang membantu pada bagian
dada dan alat kemaluan gadis.
Peningkatan taraf estrogen dalam darah mempunyai pengaruh pada
hipotalamus yang disebut feed back negatieve, ini menyebabkan
berkurangnya faktor FSH. Akan tetapi juga membuat hipotalamus
melepaskan zat yang kedua, yaitu faktor pelepas berupa hormon lutinasi
pada gilirannya hal ini menyebabkan kelenjarnya bawah otak melepaskan
hormon lutinasi (LH; Luteinizing Hormone). Hormon LH menyebabkan
salah satu folikel itu pecah dan akan mengeluarkan sel telur untuk
memungkinkan terjadinya pembuahan. Folikel nyang tersisa dikenal
dengan “korpus lutium”. Korpus lutium selanjutnya menghasilkan
estrogen, lalu mulai mengeluarkan zat baru yang disebut “Progesterone”.
Progesteron akan mempersiapkan garis alas dari rahim untuk menerima
dan memberi makanan bagi sel telur yang telah dibuahi. Apabila sel telur
tidak dibuahi, taraf estrogen dan progesteron dalam aliran darah akan
merosot sehingga menyebabkan garis alas menjadi pecah – pecah, proses
ini akibat timbul perdarahan saat datang haid yang pertama.
c. Penyakit
Beberapa penyakit kronis yang menjadi penyebab terlambatnya
haid adalah infeksi, kanker payudara. Kelainan ini menimbulkan berat
badan yang sangat rendah sehingga datangnya haid akan tertunda.
2) Faktor Eksternal
a. Gizi
Zat gizi mempunyai nilai yang sangat penting, yaitu untuk
memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang
sehat, terutama bagi mereka yang masih dalam pertumbuhan. Keadaan gizi
gadis remaja dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan usia
menarche. Dengan demikian perbedaan usia menarche dan siklus haid
sangat ditentukan berdasarkan keadaan status gizi. Semakin lengkap status
gizinya, maka semakin cepat usia menarche. Kebiasaan perempuan remaja
untuk makan tidak teratur juga berpengaruh, misalnya tidak sarapan, dan
diet yang tidak terkendali.
b. Pengetahuan Orang Tua
Setiap wanita remaja yang mengalami transisi kedewasaan atau
mulai menampakkan tanda – tanda pubertas, terutama menarche akan
mengalami kecemasan. Penjelasan dari orang tua tentang menarche dan
permasalahannya akan mengurangi kecemasan remaja putri ketika
menarche datang. Disinilah orang tua sangat dibutuhkan terutama pada
ibu.
c. Gaya Hidup
Gaya hidup berperan sangat penting dalam menentukan usia
menarche, pada anak – anak remaja yang mempunyai aktivitas olahraga,
aktivitas lapangan. Remaja putri yangmemiliki pola makan sehat dan
olahraga baik akan memperoleh menarche dengan normal dan baik.
Penelitian diberbagai negara menunjukkan hanya sepertiga dari 10 remaja
putri yang melakukan olahraga cukup. Sikap remaja putri dalam
menghadapi haid pertama yang berbeda – beda ini setidaknya dipengaruhi
dari usia, tingkat pengetahuan, kondisi Psikis.
2.1.6 Permasalahan Kesehatan Remaja
Masalah kesehatan remaja dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu
masalah kesehatan fisik dan masalah perilaku
1) Masalah Kesehatan Fisik
Penyakit-penyakit ringan yang terjadi pada remaja tetap merupakan
masalah yang harus mendapat perhatian, sebab bila tidak ditanggulangi akan
menurunkan kualitas remaja sebagai sumber daya manusia. Beberapa
penyakit yang sering dijumpai antara lain:
a. Akne
Merupakan masalah kulit yang paling mengganggu remaja dan
ditemukan pada sekitar 80% remaja. Penyakit ini merupakan gangguan
pada kelenjar pilosebaseus yang ditandai dengan sumbatan dan
peradangan folikel. Akne berkaitan dengan masalah kebersihan kulit, pola
makan, hormonal, psikologis, dan infeksi bakteri (Soetjiningsih, 2010).
Akne paling sering terjadi pada masa remaja dan dimulai pada awal
pubertas. Insiden akne pada remaja bervariasi antara 30-60% dengan
insiden terbanyak pada usia 14-17 tahun pada perempuan dan 16-19 tahun
pada laki-laki (Soetjiningsih, 2010).
b. Masalah Payudara
Perubahan anatomik dan kelainan congenital dapat terjadi pada masa
remaja. Payudara yang asimetri, suatu keainan jinak dengan satu payudara
berkembang lebih dini atau pertumbuhannya lebih cepat daripada yang
lain, lazim terjadi. Hal ini biasanya terjadi di antara Tanner 2 dan 4,
menetap sampai dewasa pada 25% perempuan (Abraham, 2006).
c. Sindrom premenstruasi (pre-menstrual syndrom/ PMS)
Berbagai keluhan yang muncul sebelum haid, yaitu antara lain
cemas, lelah, susah berkonsentrasi, susah tidur, hilang energi, sakit kepala,
sakit perut dan sakit payudara. Sindroma pra haid biasanya ditemukan 7-
10 hari menjelang haid. [enyebab pasti belum diketahui, tetapi diduga
hormone estrogen, progesterone, prolactin dan aldosterone berperan dalam
terjadinya sindroma prahaid. ketidakseimbangan estrogen dan
progesterone akan menyebabkan retensi cairan dan natrium sehinggga
berpotensi menyebabkan terjadi keluhan sindroma prahaid.
American psychiatric association memberikan kriteria diagnosis
sebagai berikut,
- Keluhan berhubungan dengan siklus haid, dimulai pada minggu terakhir
fase luteum dan berakhir setelah mulainya haid.
- Paling sedikit didapatkan 5 keluhan seperti, gangguan mood, cemas,
labil, tiba tiba susah, takut, marah, konflik interpersonal, penurunan
minat terhadap aktivitas rutin, lelah, sukar berkonsentrasi, perubahan
nafsu makan, insomnia, kehilangan control diri, keluhan-keluhan fisik
seperti nyeri payudara, sendi dan kepala.
- Keluhan akan berpengaruh pada aktivitas sehari-hari atau pekerjaan
- Keluhan bukan merupakan eksaserbasi gangguan psikiatri yang lainnya.
Terapi hormon bermanfaat untuk mengurangi keluhanprahaid.
Pemberian progestin misalnya didrogesteron dan medroksi progesterone
asetat (MPA) dimulai hari ke 16 sampai ke 25 siklus haid akan
mengurangi keluhan prahaid. Pil kontrasepsi kombinasi juga bermanfaat
untuk mengatasi sindroma prahaid. Pil kombinasi terbaru yang
mengandung komponen progestin drospirenon dengan efek
antimineralkortikoid akan mencegah retensi cairan sehimhha mengurangi
nyeri kepala, payudara dan tungkai. Pola makan juga harus diperhatikan,
dianjurkan untuk melakukandiet rendah garam. Bila terjadi retensi berlebih
pengobatan menggunakan diuretika spironolakton bisa dipertimbangkan
(Wiknjosastro, 2011)
d. Amenorrhea
Amenore secara tradisional dibedakan menjadi amenore primer dan
amenore sekunder. Amenore primer yaitu tidak terjadinya haid sampai usia
14 tahun, disertai tidak adanya pertumbuhan atau perkembangan pada
kelamin sekunder, atau tidak terjadi haid sampai usia 16 tahun, disertai
adanya pertumbuhan normal dan perkembangan tanda kelamin sekunder.
Aminorea sekunder yaitu tidak terjadinya haid untuk sedikitnya selama 3
bulan berturut-turut pada perempuan yang sebelumnya pernah haid
(Wiknjosastro, 2011)
Amenore hipotalamus dipikirkan disebabkan oleh adanya hambatan
parsial atau lengkap pada pelepasan hormone pelepass gonadotropin
(GnRH). Amenore hipotalamik ini dapat berkaitan dengan defisiensi
nutrisi sekunder akibat penyakit-penyakit seperti enteritis regional,
fibrosis kistik dan anoreksia nervosa, stress, defisiensi GnRH murni,
endokrinopati dan obat spesifik (Abraham, 2006).
Sebab terjadinya amenorea menurut Manuaba (2010):
 Fisiologis :
- sebelum menarche
- hamil dan laktasi
- menopause senium
 Kelainan congenital
 Didapatkan :
- infeksi genitalia
- tindakan tertentu
- kelainan hormonal
- tumor pada poros hipotalamus-hipofisis atau ovarium
- kelainan dan kekurangan gizi
e. Perdarahan Uterus Disfungsional
Perdarahan Uterus Disfungsional atau Dysfunctional Uterine
Bleeding (DUB) disini didefinisikan sebagai perdarahan vagina yang
terjadi di dalam siklus yang kurang dari 20 hari atau lebih dari 40 hari,
berlangsung lebih dari 8 hari, mengakibatkan kehilangan darah lebih dari
80 ml, dan/atau anemia (Abraham, 2006).
- Perdarahan Uterus Disfungsional Primer
DUB (Disfunctional Uterine Bleeding) primer pada remaja ialah
gangguan yang diakibatkan dari imaturitas atau gangguan fungsi aksis
HPG (hipotalamus-pituitari-gonad). Fluktuasi ritmik kadar estrogen
normalnya terjadi pada awal pubertas, meningkat sesuai perkembangan
pubertsa, dan mencapai kadar estrogen puncak yang cukup untuk
merangsang prolifersai endometrium, mesntruasi dan akhirnya ovulasi.
Namun, siklus anovulatoar sering terjadi pada 1 hingga 2 tahun setelah
menarke dan ditandai dengan bekurangnya produksi progesterone. Tidak
adanya progesterone dalam waktu lama mengakibatkan lapisan
endometrium yang tebal secara abnormal dan rapuh, yang jika terpajan
dengan penghentian mendadak estrogen, dapat meluruh secara tidak
teratur, menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan
berlebihan (Abraham, 2006).
- Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) Sekunder
PUD atau DUB sekunder disebabkan oleh gangguan dan penyakit
koagulasi serta kelainan organ reproduksi, antara lain vagina, serviks,
uterus dan ovarium. Penyebab tersering perdarahan berlebihan adalah
gangguan perdarahan, dan perdarahan vagina abnormal saat menarke
atau sesudahnya dapat merupakan manifestasi awal terutama penyakit
von Willebrand. Defisiensi faktor VIII atau IX, trombositopenia herediter
atau didapat (meliputi yang diinduksi-kemoterapi), gangguan trombosit,
talasemia mayor, anemia Fanconi dan leukemia perlu dipertimbangkan
(Abraham, 2006).
f. Dismenore
Disminorea adalah nyeri saat haid, biasanya dengan rasa kram dan
terpusat diabdomen bawah. Keluhan nyeri haid dapat bervariasi mulai
dari yang ringan sampai berat. Keparahan dismonorea berhubungan
langsung dengan lama dan jumlah darah haid.. seperti diketahui haid
hamper selalu diikuti dengan rasa mulas/nyeri, namun yang dimaksud
dengan diminorea pada topic ini adalah nyeri berat sampai menyebabkan
perempuan tersebut dating berobat kedokter atau mengobatinya sendiri
dengan obat anti nyeri.
Disminore dibagi menjadi dua kelompok, disminore primer dan
sekunder.
- Disminore primer
Disminore primer adalah nyeri haid tanpa ditemukan keadaan
patologis pada panggul. Disminore primer berhubungan dengan siklus
ovulasi dan disebabkan oleh kontraksi myometrium sehingga terjadi
iskemi akibat adanya prostaglandin yang diproduksi oleh endometrium
fase sekresi. disminorea primer sering diikuti dengan keluhan mual,
muntah, diare, nyeri kepala, dan pada pemerikasaan ginrkologi tidak
ditemukan kelainan. Biasanya nyeri muncul sebelum keluarnya haid,
dan meningkat pada hari pertama dan kedua.
- Disminorea sekunder
Disminorea sekunder adalah nyeri haid yang berhubungan dengan
berbagai keadaan patologis di organ genitalia, misalnya endometriosis,
adenomiosis, mioma uteri, stenosis serviks, penyakit radang panggul,
perlekatan panggul, atau irritable bowl syndrome. Dismonorea
sekunder dipikirkan bila pada anamnesis dan pemeriksaan curiga ada
patologi panggul atau kelainan bawaan atau tidak respon terhadap obat
untuk aminore primer. Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan misalnya
dengan USG, infus salin sonografi, atau laparaskopi dapat
dipertimbangkan bila curiga endometriosis (Wiknjosastro, 2011)
g. Leukorea
Leukorea (keputihan) yaitu cairan putih yang keluar dari liang
senggama secara berlebihan (Setyana, 2013). Leukorea paling sering
dijumpai pada penderita genekologi, adanya gejala ini diketahui penderita
kurang menjaga kebersihan vaginanya (Karyati, 2014). Remaja
perempuan dengan kondisi peripubertal (skala maturitas tanner tahap III)
sering mengeluh adanya discharge vagina atau lebih dikenal dengan
istilah keputihan (Marcdante, dkk, 2014).
Keputihan bukanlah penyakit tersendiri, tetapi merupakan
manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan. Penyebab
utama keputihan harus dicari dengan anamnesa, pemeriksaan kandungan,
dan pemeriksaan laboratorium (Manuaba, 2010). Menurut Bahari
(2012), leukorea atau keputihan (fluor albus) dibagi menjadi dua
yaitu:
- Keputihan fisiologis (normal)
Keputihan fisiologis (normal) terjadi pada saat sebelum dan sesudah
menstruasi, mendapatkan rangsangan seksual, mengalami stres berat,
sedang hamil atau mengalami kelelahan. Pada keputihan fisiologis
cairan yang keluar berwarna jernih atau kekunig-kuningan dan tidak
berbau. Ciri-ciri dari keputihan fisiologis adalah keluarnya cairan
yang tidak terlalu kental, jernih, warna putih atau kekuningan
jika terkontaminasi oleh udara tidak disertai rasa nyeri dan tidak
timbul rasa gatal yang berlebih.
- Keputihan patologis (abnormal)
Cairan eksudat yang berwarna, mengandung banyak leukosit,
jumlahnya berlebihan, berbau tidak sedap, terasa gatal atau panas,
sehingga seringkali menyebabkan luka akibat garukan di daerah mulut
vagina. Keputihan patologis sering disebut dengan keputihan
abnormal atau keputihan tidak normal yang dikategorikan sebagai
penyakit. Ciri-ciri dari keputihan patologis yaitu cairan yang keluar
sangat kental dan warna kekuningan, bau yang sangat menyengat,
jumlahnya yang berlebih dan menyebabkan rasa gatal, nyeri juga rasa
sakit dan panas saat berkemih (Bahari, 2012).
Faktor yang menyebabkan keputihan secara umum pada remaja putri
usia remaja awal sampai usia remaja akhir (11 – 20 tahun) antara lain:
- Sering menggunakan kloset di toilet umum yang kotor, terutama kloset
duduk.
- Penggunaan tisu yang terlalu sering untuk membersihkan organ
kewanitaan setelah buang air kecil ataupun buang air besar.
- Mengenakan pakaian berbahan sintesis yang ketat, sehingga ruang yang
ada tidak memadai sehingga menimbulkan iritasi pada organ
kewanitaan
- Jarang mengganti panty liner.
- Kurangnya perhatian terhadap kebersihan organ kewanitaan atau
personal hygiene khususnya vulva hygiene kurang.
- Lingkungan sanitasi yang kotor
- Pemakaian pembersih yang tidak sehat
- Membasuh organ kewanitaan ke arah yang salah yaitu arah basuhan
yang dilakukan dari belakang ke depan.
- Sering bertukar celana dalam/ handuk dengan orang lain.
- Tidak segera mengganti pembalut saat menstruasi.
- Sering mandi berendam dengan air hangat dan panas (jamur yang
menyebabkan leukorea lebih mungkin tumbuh di kondisi hangat)
- Aktivitas fisik yang melelahkan sehingga daya tahan tubuh melemah.
Keputihan normal tidak perlu diobati dengan obat-obatan tetapi
dirawat dengan menjaga kebersihan dan mencegah kelembaban yang
berlebihan pada daerah vagina dengan menggunakan tisu dan sering
mengganti pakaian dalam. Keputihan abnormal diobati dengan meminum
obat dari dokter untuk membersihkan vagina dari agen penyebab
keputihan (Kasdu, 2008). Keputihan yang disebabkan oleh trikomoniasis
dapat diobati dengan metronidazole, sedangkan keputihan yang
disebabkan kandidiasis dapat diobati dengan mycostatin (Manuaba, 2009).
h. Masalah Gizi
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat
kesehatan masyarakat misalnya penurunan konsentrasi belajar, risiko
melahirkan bayi dengan BBLR, dan penurunan kesegaran jasmani. Banyak
penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita
banyak masalah gizi antara lain anemia dan indeks massa tubuh (IMT)
kurang dari normal (kurus). Prevalensi anemia pada remaja berkisar 40-
88%, sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar 30-40%.
Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab masalah ini. Dengan
mengetahui faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi masalah gizi
tersebut akan membantu upaya penanggulangannya.
i. Anemia
Anemia didefinisikan sebagai berkurangnya satu atau lebih
parameter sel darah merah: konsentrasi hemoglobin, hematokrit atau
jumlah sel darah merah. Menurut kriteria WHO anemia adalah kadar
hemoglobin di bawah 13 g% pada pria dan di bawah 12 g% pada wanita.
Anemia defisiensi zat besi dan asam folat merupakan salah satu masalah
masalah kesehatan gizi utama di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia
(Ringoringo, 2009).Anemia jenis ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki
cukup zat besi untuk menghasilkan hemoglobin dalam jumlah yang
cukup. Dalam anemia defisiensi zat besi, darah tidak dapat membawa
oksigen yang cukup untuk seluruh jaringan tubuh (Pratami, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia menurut FKM
UI (2010), yaitu asupan yang tidak memadai, peningkatan kebutuhan
fisiologi, dan kehilangan banyak darah. Remaja merupakan salah satu
kelompok yang rentan terhadap defisiensi besi. Sebagian besar
disebabkan oleh ketidakcukupan asimilasi zat besi yang berasal dari diet,
dilusi dari cadangan tubuh seiring pacu tumbuh dan kehilangan zat besi
(Soetjiningsih, 2010). Menurut Kiswari (2014), anemia dapat terjadi
antara lain disebabkan oleh kehilangan besi, kebutuhan zat besi yang
meningkat, dan penyakit kronis. Menstruasi yang dialami remaja putri
juga menyebabkan kebutuhan zat besi lebih tinggi daripada laki-laki
(Soetjiningsih, 2010 dan Maryam 2016).
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), gejala anemia dibagi
menjadi tiga golongan besar yaitu sebagai berikut:
 Gejala umum anemia
Gejala anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau Anemic
syndrome. Gejala umum anemia atau sindrom anemia adalah gejala yang
timbul pada semua jenis Anemia pada kadar hemoglobin yang sudah
menurun sedemikian rupa di bawah titik tertentu. Gejala ini timbul karena
anoksia organ target dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap
penurunan hemoglobin. Gejala-gejala tersebut apabila diklasifikasikan
menurut organ yang terkena adalah:
- Sistem Kardiovaskuler: lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi, sesak
napas saat beraktivitas, angina pektoris, dan gagal jantung.
- Sistem Saraf: sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata
berkunang-kunang, kelemahan otot, iritabilitas, lesu, serta perasaan
dingin pada ekstremitas.
- Sistem Urogenital: gangguan haid dan libido menurun.
- Epitel: warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun,
serta rambut tipis dan halus.
 Gejala khas masing-masing anemia
Gejala khas yang menjadi ciri dari masing-masing jenis anemia
adalah sebagai berikut:
- Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis.
- Anemia defisisensi asam folat: lidah merah (buffy tongue)
- Anemia hemolitik: ikterus dan hepatosplenomegali.
- Anemia aplastik: perdarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi.
 Gejala Akibat Penyakit Dasar
Gejala penyakit dasar yang menjadi penyebab anemia. Gejala ini
timbul karena penyakit-penyakit yang mendasari anemia tersebut.
Misalnya anemia defisiensi besi yang disebabkan oleh infeksi cacing
tambang berat akan menimbulkan gejala seperti pembesaran parotis dan
telapak tangan berwarna kuning seperti jerami. Menurut Yayan Akhyar
Israr (2008) anemia pada akhirnya menyebabkan kelelahan, sesak nafas,
kurang tenaga dan gejala lainnya. Gejala yang khas dijumpai pada
defisiensi besi, tidak dijumpai pada anemia jenis lain, seperti :
- Atrofi papil lidah : permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap
karena papil lidah menghilang
- Glositis : iritasi lidah
- Keilosis : bibir pecah-pecah
- Koilonikia : kuku jari tangan pecah-pecah dan bentuknya seperti sendok.
Terapi anemia defisiensi zat besi ailah dengan preparat besi oral atau
parenteral. Dengan pemberian preparat besi fero sulat, fero glukonat atau
Na-fero bisitrat. Pemberian prefarat 60 mg/hari dapat menaikan kadar hb
sebanyak 1 gr%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relative
kecil pada pemberian prefarat Na-ferobisitrat di bandingkan dengan fero
sulfat. Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50
mg asam folat untuk profilaksis anemia. Pemberian preparat parenteral
yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau
2x10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan hb relatif lebih cepat yaitu 2
gr%. Pemberian preparat ini memiliki indikasi yaitu intoleransi besi pada
traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk.
efek samping utama ialah, reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat
diberikan dosis 0,5 cc/im dan apabila tidak ada reaksi dapat di berika
seluruhnya (Saifuddin, 2009)
2) Masalah Perilaku
a. Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlaran
Survei Badan Narkotik Nasional (BNN) tahun 2003 memperkirakan
mereka yang pernah memakai NAZA di kelompok pelajar dan mahasiswa
sekitar 5,8%, sedangkan yang pernah memakai dalam setahun terakhir
sebesar 3,9%. Prevalensi pada laki-laki sebanyak 4,6%, jauh lebih tinggi
daripada perempuan yaitu sebanyak 0,4%. Prevalensi penyalahgunaan
NAZA lebih tinggi pada pendidikan SLTA ke atas dibandingkan
pendidikan yang lebih rendah (BNN, 2007).
b. Hubungan Seksual Pra Nikah
Perilaku seksual pranikah adalah kegiatan seksual yang melibatkan
dua orang yang saling menyukai atau saling mencintai, yang dilakukan
sebelum perkawinan (Mualfiah, dkk, 2014).
c. Kawin Muda
Semakin muda usia saat perkawinan pertama semakin besar risiko
yang dihadapi ibu dan anak. Beberapa penyebab utama kematian tersebut
adalah tidak tersedianya perawatan ibu dengan baik, jarak kelahiran yang
terlalu berdekatan, dan pernikahan dini (Julianto, 2015).
d. Aborsi
Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang belum
teratasi sampai saat ini. Data tentang kejadian aborsi dan kematian yang
diakibatkannya sangat sulit diperoleh karena menurut Undang-Undang
No.23 tentang kesehatan pasal 15, tindakan aborsi tanpa indikasi medis
merupakan tindakan ilegal dengan ancaman denda dan hukuman penjara
bagi pelakunya. Saat ini tiap hari ada 100 remaja yang melakukan aborsi
karena kehamilan di luar nikah. Jika dihitung per tahun, 36 ribu janin
dibunuh oleh remaja dari rahimnya. Ini menunjukkan pergaulan seks
bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini sangat memprihatinkan.
Survei Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia menemukan
jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2,3 juta dan
30% di antaranya dilakukan oleh remaja (Dhamayanti, 2013).
e. Infeksi Menular Seksual
Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan
kerentanan terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan terutama yang
berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi termasuk peningkatan
ancaman HIV/AIDS. Depkes RI menunjukkan bahwa sampai Maret 2008
pengidap HIV/AIDS terbanyak adalah kelompok remaja.4 Sampai dengan
tahun 2004 kasus AIDS di Indonesia yang dilaporkan ditemukan pada
kelompok 0-4 tahun sebanyak 12 kasus (1,53%), umur 5-14 tahun
sebanyak 4 kasus (0,3%), dan umur 15-19 tahun sebanyak 78 kasus
(5,69%). Kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah dalam 5 tahun terakhir ini
mengalami peningkatan yang cukup berarti, dari 14 kasus pada tahun
2000 menjadi 158 kasus pada tahun 2005. Peningkatan kejadian IMS pada
remaja disebabkan oleh kurangnya pengetahuan remaja tentang IMS dan
kurangnya kesadaran remaja untuk menggunakan kondom pada saat
melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial. Remaja
percaya bahwa IMS dapat dicegah dengan cara meningkatkan stamina dan
meminum antibiotik sebelum berhubungan seks (Dhamayanti, 2013).
2.2 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan pada remaja.
2.2.1 Pengkajian
1) Data subjektif
Data subjective diperoleh dari anamnesa terhadap ibu sendiri
(autoanamnesa) atau dari keluarganya ( hetero anamnesa )
(1) Biodata / Identitas
a) Usia
Pada remaja usia 10—19 tahun (WHO,2014). Menurut BKKBN usia 10-24
tahun dan belum menikah (BKKBN,2012), jika terdapat discharge yang jernih,
tidak gatal atau berbau menunjukkan kemungkinan discharge tersebut adalah
leukorea fisiologis akibat stimulasi estrogen dari ovarium terhadap uterus dan
vagina. (Marcdante, 2014).
b) Keluhan utama
Remaja perempuan dengan kondisi peripubertal (skala maturitas tanner
tahap III) sering mengeluh adanya discharge vagina atau lebih dikenal dengan
istilah keputihan. Discharge yang jernih, tidak gatal atau berbau menunjukkan
kemungkinan discharge tersebut adalah leukorea fisiologis akibat stimulasi
estrogen dari ovarium terhadap uterus dan vagina (Marcdante, 2014).
Ciri-ciri dari keputihan patologis yaitu cairan yang keluar sangat kental dan
warna kekuningan, bau yang sangat menyengat, jumlahnya yang berlebih dan
menyebabkan rasa gatal, nyeri juga rasa sakit dan panas saat berkemih. Keputihan
patologis berupa cairan eksudat yang berwarna, mengandung banyak leukosit,
jumlahnya berlebihan, berbau tidak sedap, terasa gatal atau panas, sehingga
seringkali menyebabkan luka akibat garukan di daerah mulut vagina (Bahari,
2012).
c) Riwayat menstruasi
Menarche biasanya muncul 2-3 tahun setelah perkembangan payudara.
rata-rata usia menarche anak 11,9 tahun ( Saadi, 2017) Gangguan menstruasi
memerlukan evaluasi yang seksama karena gangguan menstruasi yang tidak
ditangani dapat mempengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Pada
sebuah studi yang dilakukan terhadap mahasiswa didapatkan data bahwa sindrom
pramenstruasi (67%) dan dismenorea (33%) merupakan keluhan yang dirasakan
paling mengganggu. Efek gangguan menstruasi yang dilaporkan antara lain waktu
istirahat yang memanjang (54%) dan menurunnya kemampuan belajar (50%)
(Sianipar, dkk, 2009)
Usia menache < 10 tahun disebut menarche prekoks atau menarche dini
yang dapat disebabkan oleh kelainan di sekitar hipotalamus dan hipofisis.
Menarche yang baru datang setelah usia 14 tahun disebut dengan menarche tarda
yang dapat disebabkan oleh faktor herideter, gangguan kesehatan, dan kekurangan
gizi, maka perlu peningkatan kesehatan. Sedangkan, tidak adanya menstruasi
sampai usia 16 tahun dengan perkembangan pubertas yang normal atau sampai
usia 14 tahun dengan perkembangan pubertas yang tidak normal disebut amenore
primer ( Wiknjosastro, 2011)
Siklus menstruasi pada remaja sering tidak beraturan. Hal ini bisa
disebabkan oleh aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium belum matang. Sehingga,
sering menghasilkan siklus anovulatorik dan mungkin siklus yang lebih panjang.
Rata-rata interval antar siklusnya sekitar 32, hari pada tahun-tahun pertama.
Hampir 90% akan berada pada rentang 21 – 45 hari. Dalam waktu 3 tahun
pertama setelah menarche, 60 – 80 % akan memiliki siiklus menstruasi seperti
orang dewasa yakni 21 -34 hari (American College of Obstetriciants and
Gynecologist, 2017).
d) Riwayat kesehatan
Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan kerentanan
terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan terutama yang berkaitan dengan
kesehatan seksual dan reproduksi termasuk peningkatan ancaman HIV/AIDS.
Keputihan fisiologis dan patologis juga mempunyai dampak pada wanita.
Keputihan fisiologis menyebabkan rasa tidak nyaman pada wanita sehingga dapat
mempengaruhi rasa percaya dirinya. Keputihan patologis yang berlangung terus
menerus akan menganggu fungsi organ reproduksi wanita khususnya pada bagian
saluran indung telur yang dapat menyebabkan infertilitas (Kasdu, 2008).
e) Riwayat kesehatan keluarga
Perlu ditanyakan adakah penyakit keturunan dalam keluarga atau penyakit
menular yang dapat mempengaruhi kesehatan pasien (misalnya TBC, pneumonia).
Tanyakan juga apakah salah satu aggota keluarga yang memiliki ikatan darah
mempunyai kelainan metabolic (diabetes mellitus), kelainan genetik dan bawaan
seperti, sindrom turner, sindrom klinefelter, penyakit kardioaskuler, keganasan,
dan lain sebagainya.
f) Pola fungsional kesehatan
- Nutrisi
Remaja putri membutuhkan 2.000kalori perhari untuk mempertahankan
badan agar tidak gemuk atau kurus, protein, karbohidrat yang dianjurkan
adalah 50% atau lebih dari energi total, lemak tidak lebih dari 30% dari
energi total dan tidak lebih dari 10% berasal dari lemak jenuh, kalsium
1.300 mg per hari, konsumsi seng yang adekuat penting untuk proses
percepatan tumbuh dan maturasi seksual, vitamin A. Selain penting untuk
fungsi penglihatan, vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan,
reproduksi dan fungsi imunologik, vitamin E dikenal sebagai antioksidan
yang penting pada remaja karena pesatnya pertumbuhan., vitamin C .
untuk pembentukan kolagen dan jaringan ikat, folat berperan pada sintesis
DNA, RNA dan protein, serat makanan penting untuk menjaga fungsi
normal usus dan mungkin berperan dalam pencegahan penyakit kronik
seperti kanker, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus tipe-2.
Kebutuhan serat per hari dapat dihitung dengan rumus : ( umur + 5 ) gram
dengan batas atas sebesar ( umur + 10 ) gram (Satgas Remaja IDAI, 2013).
Pola makan yang kurang sehat dengan terlalu banyaknya konsumsi
makanan ataupun minuman cepat saji yang tidak memenuhi asupan nutrisi
gizi seimbang juga dapat memicu terjadinya keputihan dan anemia
(Khuzaiyah, dkk, 2015).
- Personal hygiene :
Kebersihan daerah vagina yang jelek dapat menyebabkan timbulnya
infeksi. Hal ini terjadi karena kelembapan vagina yang meningkat
sehingga bakteri patogen penyebab infeksi mudah menyebar
(Shadine,2012).
- Istirahat
Usia 12 – 18 tahun, menjelang remja sampai remaja, kebutuhan tidur yang
sehat adalah 8 – 9 jam. Studi menunjukkan bahwa remaja yang kurang
tidur lebih rentan terkena depresi, tidak focus, dan punya nilai sekolah
yang buruk (Kemenkes, 2015).
- Aktivitas
Meningkatnya pengeluaran energi menekan sekresi hormon estrogen.
Menurunnya sekresi hormon estrogen menyebabkan penurunan kadar
glikogen. Glikogen digunakan oleh Lactobacillus doderlein untuk
metabolisme. Sisa dari metabolisme ini adalah asam laktat yang digunakan
untuk menjaga keasaman vagina. Jika asam laktat yang dihasilkan sedikit,
bakteri, jamur, dan parasite mudah berkembang (Marhaeni, 2016).
g) Riwayat psikososial dan budaya
Meningkatnya beban pikiran memicu peningkatan sekresi hormone
adrenalin. Meningkatnya sekresi hormon adrenalin menyebabkan
penyempitan pembuluh darah dan mengurangi elastisitas pembuluh darah.
Kondisi ini menyebabkan aliran hormon estrogen ke organ-organ tertentu
termasuk vagina terhambat sehingga asam laktat yang dihasilkan
berkurang. Berkurangnya asam laktat menyebabkan keasaman vagina
berkurang sehingga bakteri, jamur, dan parasit penyebab keputihan mudah
berkembang (Marhaeni, 2016). Penelitian Agustiyani D. dan Suryani
(2011) di Yogyakarta menemukan bahwa remaja yang tingkat stressnya
sedang bahkan tinggi lebih mudah mengalami keputihan.
2) Data Objektif
Data ini diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi,
perkusi, auskultasi, pemeriksaan darah dalam dan pemeriksaan laboratorium.
(1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan umum : baik, cukup, kurang.
Kesadaran : composmentis, apatis, somnolent, sopor, koma.
b) Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital normal pada remaja (usia 12 – 18 tahun), sebagai berikut
(UMM, 2013).
TD : normalnya TD diastolik 60 – 70 mmHg, TD sistolik 90 – 110
mmHg.
Suhu : normalnya 36 – 370C.
Nadi : normalnya 60 – 100 kali/menit. (reguler/ ireguler)
RR : normalnya 12 – 16 kali/menit.
c) Antropometri
Status gizi remaja wanita sangat mempengaruhi terjadinya menarche baik
dari faktor usia terjadinya menarche, adanya keluhan-keluhan selama menarche
maupun lamanya hari menarche. Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan
atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi
lebih maupun gizi kurang (Irianto, 2014). Penilaian status gizi seseorang dapat
ditentukan dengan menghitung Indeks Masa Tubuh (IMT) berdasarkan PMK RI
Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang, sebagai berikut:
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)
𝐼𝑀𝑇 =
𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑚)𝑋 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑚)
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan WHO. Untuk
kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi berdasarkan pengalaman klinis
dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang. Batas ambang IMT untuk
Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi berdasarkan IMT
Kategori IMT
Sangat kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kurus Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – <18,5
Normal 18,5 – 25,0
Gemuk (overweight) Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,1 – 27,0
Obese Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0
Sumber: Permenkes RI 2014.
d) Pemeriksaan Fisik
Wajah : Normalnya tidak pucat, tidak oedema, acne sering
menjadi masalah bagi remaja (Dhamayanti, 2013);
Normalnya sklera putih, konjungtiva merah muda.
Salah satu masalah gizi yang banyak diderita remaja ialah
anemia dengan prevalensi anemia pada remaja berkisar
40-88%, terutama pada remaja putri yang mengalami
menstruasi setiap bulannya (Dhamayanti, 2013). Ciri-ciri
anemia diantaranya wajah pucat dan konjungtiva pucat.
Mulut : Normalnya tidak pucat, tidak ada caries gigi
Leher : Normalnya tidak ada kelenjar tiroid dan getah bening.
Salah satu tanda adanya infeksi adalah dengan
pembesaran kelenjar getah bening. Sedangkan adanya
pembesaran kelenjar tiroid menunjukkan adanya
gangguan tiroid. Kekurangan maupun kelebihan hormon
tirod akan mengganggu proses metabolism dan aktivitas
fisiologi serta mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan berbagai jaringan termasuk sistem saraf
dan otak (Kemenkes, 2015).
Dada : Ada/tidak benjolan, pengeluaran payudara
Abdomen : Ada/tidak massa abdomen, nyeri tekan
Genitallia : Pengeluaran cairan jernih/ putih keruh/ menggumpal/
kekuningan/ kecoklatan. Cairan eksudat yang berwarna,
mengandung banyak leukosit, jumlahnya berlebihan,
berbau tidak sedap, terasa gatal atau panas, sehingga
seringkali menyebabkan luka akibat garukan di daerah
mulut vagina. Ciri-ciri dari keputihan patologis yaitu
cairan yang keluar sangat kental dan warna kekuningan,
bau yang sangat menyengat, jumlahnya yang berlebih
dan menyebabkan rasa gatal, nyeri juga rasa sakit dan
panas saat berkemih (Bahari, 2012).

e) Pemeriksaan laboratorium
- Kadar hemoglobin normal pada wanita adalah 12-18gr/dl. Anemia dapat
didefinisikan sebagai nilai hemoglobin, hematokrit, atau jumlah eritrosit
per milimeter kubik lebih rendah dari normal (Marya, 2013).
- Penentuan pH, menggunakan kertas indikator (normal 3,0 – 4,5)
- Penilaian sediaan basah,dengan KOH 10% dan garam fisiologis.
Trichomonas vaginalis akan terlihat jelas dengan garam fisiologis
sebagai parasit berbentuk lonjong dengan flagellnya dan gerakannya
yang cepat. Sedangkan Candida albicans dapat dilihat jelas dengan
KOH 10% tampak sel ragi (blastospora). Pada infeksi Gardnerella
vaginalis akan dijumpai clue cell yang merupakan ciri khasnya.
- Pewarnaan gram.
- Kultur, untuk menentukan kuman penyebab.
2.2.2 Identifikasi Diagnosa, Masalah, dan Kebutuhan
1). Diagnosa Aktual : Remaja usia ... tahun dengan leukorea fisiologis
2). Masalah : Kurangnya personal hygiene
3). Kebutuhan : Edukasi Personal Hiegine
2.2.3 Identifikasi Diagnosa / Masalah Potensial
Pada remaja diagnosa / masalah potensial : Keputihan yang patologis dapat
berpotensi terjadinya radang panggul, infertilitas
2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera / Kolaborasi
Pada remaja kebutuhan tindakan segera : konseling dengan melibatkan orang
tua, guru dan orang terdekat
2.2.5 Perencanaan
1). Jelaskan hasil pemeriksaan pada pasien
R/ Pasien berhak mengetahui kondisinya saat ini
2). Jelaskan perubahan fisik yang normal dialami oleh remaja putri
R/ Perubahan fisik seperti payudara membesar, pinggul yang semakin
melebar dan bulat, tumbuhnya, tumbuhnya rambut disekitar kemaluan dan
ketiak
3). Jelaskan keputihan yang dialami oleh remaja
R/ Pada masa pubertas, remaja putri masih mengalami ketidakseimbangan
hormonal. Akibatnya mereka juga sering mengeluh keputihan selama
beberapa tahun sebelum dan sesudah menarche (haid pertama).
4). Berikan Health education tentang personal hiegiene untuk mencegah
keputihan :
R/ - Menyeka daerah kelamin dari depan ke belakang
- Mencuci daerah kelamin dengan air hangat
- Menghindari sabun atau produk kesehatan feminim
- Menghindari krim steroid (kecuali diresepkan)
- Memakai celana dalam katun
- Menghindari pemakaian celana ketat
- Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan
agar vagina harum dan kering sepanjang hari. Bedak memiliki
partikel halus yang mudah terselip disana-sini dan akhirnya
mengandung jamur dan bakteri untuk bersarang ditempat itu.
5). Anjurkan untuk periksa ke tenaga kesehatan apabila keputihan semakin
banyak, kental bewarna kuning kehijauan atau kecoklatan, terasa gatal dan
nyeri.
R/ Ciri-ciri dari keputihan patologis yaitu cairan yang keluar sangat kental
dan warna kekuningan, bau yang sangat menyengat, jumlahnya yang berlebih
dan menyebabkan rasa gatal, nyeri juga rasa sakit dan panas saat berkemih
(Bahari, 2012).
2.2.6 Evaluasi
Evaluasi dituliskan dalam pendokumentasian dalam bentuk SOAP berupa
evaluasi rencana dan tindakan yang telah dilakukan.
BAB 3
TINJAUAN KASUS

Hari/Tanggal : Selasa/ 23 Oktober 2018


Pukul : 21.30 WIB
Oleh : Rosmiati
Tempat : Balai RW O4

3.1 SUBJEKTIF
3.1.1 Identitas Diri
Nama : Nn “L”
Tanggal Lahir : 12 Desember 1999
Umur : 18 tahun
Anak Ke : 4 dari 5 bersaudara
Alamat : Tanah Merah Sayur 4, Surabaya
Identitas Orang Tua
Nama Ibu : Ny “T” Nama Bapak : Tn “B”
Umur :- Umur : 53 th
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan :- Pekerjaan : Petani
Alamat : Tanah Merah Sayur 4, Surabaya
3.1.2 Keluhan Utama
Saat ini keputihan, warna putih jernih dan tidak berbau. Biasanya lebih
banyak jika menjelang menstruasi
3.1.3 Riwayat Menstruasi
a. Menarche : 14 tahun
b. HPHT : 10 Oktober 2018
c. Lama Haid : 6 – 7 hari
d. Siklus : 28 – 30 hari, teratur setiap bulan
e. Banyaknya : 4 kali/ hari ganti pembalut pada hari ke– 1-2
menstruasi, selanjutnya 2-3 kali/hari.
f. Disminorhoe : Tidak ada.
g. Leukorea : Ada hampir setiap hari, berwarna putih jernih dan
tidak berbau. Biasanya lebih banyak jika menjelang
menstruasi.
h PMS : Terkadang payudara terasa nyeri menjelang haid.
3.1.4 Riwayat Kesehatan
Tidak sedang menderita penyakit infeksi saluran kencing, diabetes mellitus,
alergi, asma, kelainan darah, kelainan genetik seperti sindrom turner, dan lain
sebagainya.
3.1.5 Riwayat Kesehatan Keluarga :
Ayah pernah memiliki kanker prostat dan sudah operasi tahun 2003. Keluarga
tidak ada yang memiliki penyakit menurun lain seperti diabetes mellitus, asma,
dan kelainan genetik (sinddrom turner, sindrom down), dan tidak ada yang
memiliki penyakit menular seperti TBC, ataupun infeksi saluran kencing.
3.1.6 Pola Fungsional Kesehatan
a. Nutrisi : Makan 2-3 kali sehari, porsi sedang, dengan menu nasi,
sayur, lauk pauk, dan kadang makan buah, Minum air
putih 6-7 gelas/hari.
b. Aktivitas : Pukul 08.00-17.00 wib bekerja, selebihnya melakukan
pekerjaan rumah. Hari minggu libur dihabiskan untuk
istirahat atau bermain bersama teman..
c. Istirahat : Tidur malam + 6-7 jam, tidak pernah tidur siang karena
kerja.
d. Personal : Mandi dan menggosok gigi 2 kali/hari, ganti celana
Hygiene dalam 2 kali sehari.
e. Kebiasaan : Tidak pernah menggunakan panty liner atau sabun
khusus pembersih daerah kewanitaan, terkadang suka
memakai celana jeans atau legging. Tidak pernah
mengkonsumsi jamu jamuan menjelang haid ataupun
saat haid.
3.1.7 Riwayat psikososial
Terkadang merasa kurang nyaman dengan keputihan yang dialaminya,
mengaku tidak pernah pacaran hanya sebatas teman, mengaku tidak pernah
melakukan kontak fisik selain berpegangan tangan.
3.2 OBJEKTIF
3.2.1 Pemeriksaan Umum
Keadaan : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70 mmhg
Nadi : 82 x/menit
Antropometri
Berat Badan : 44 kg
Tinggi Badan : 150 cm
IMT : 19,55
3.2.2 Pemeriksaan Fisik
Wajah : Tidak ada acne
Mata : Konjungtiva merah muda, sclera putih
Leher : Tidak dilakukan
Dada : Tidak dilakukan, mengaku papila telah menonjol, areola
merupakan bagian dari bentuk umum payudara (Tanner
5)
Genitallia : Tidak dilakukan, mengaku rambut pubis telah menyebar
ke permukaan medial paha (Tanner 5), ada pengeluaran
secret vagina berwarna putih jernih di celana dalam

3.3 ANALISIS
Remaja usia 18 tahun dengan leukorea fisiologis.
3.4 PENATALAKSANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa tanda tanda vital dalam batas
normal.
2. Menjelaskan perubahan yang terjadi pada masa remaja, seperti payudara
membesar, pinggul yang semakin melebar, tumbuh rambut di sekitar
kemaluan, dan datang bulan.
3. Menjelaskan masalah keputihan yang dialami merupakah keputihan fisiologis
atau keputihan normal karena tidak berwarna dan berbau serta tidak gatal,
klien mengerti keadaanya.
4. Memberikan KIE tentang :
- Personal Hygiene, membersihkan kemaluan dari arah depan ke belakang,
mengganti pembalut minimal 3 kali atau 4 jam sekali saat menstruasi baik
banyak maupun sedikit, mengeringkan bagian kemaluan dengan tissue
toilet atau handuk khusus setiap kali sehabis BAK dan BAB, mengganti
celana dalam setiap terasa lembab (minimal 2-3 kali sehari).
- Pencegahan keputihan seperti memakai celana yang longgar, memakai
celana dalam berbahan katun, menghindari pemakaian celana yang ketat
karena lembab dan dapat mengakibatkan munculnya keputihan
- Pola makan teratur 3 kali sehari dengan nutrisi seimbang terdiri dari
karbohidrat (nasi), protein hewani (ayam/ikan/telur/susu), protein nabati
(tempe/tahu), lemak (minyak, susu), mineral, vitamin dan serat (sayur dan
buah) tiap kali makan. Menambah asupan bergizi di sela-sela jam makan
seperti mengkonsumsi buah. Dan minum lebih banyak air putih, minimal 8
gelas sehari.
- Pola istirahat minimal tidur malam 8-9 jam, untuk menjaga kesehatan
tubuh.
- Menjaga diri dari pergaulan bebas seperti tidak mudah mengikuti trend
teman, tidak mencoba segala sesuatu yang berdampak negative seperti
berhubungan seks di luar nikah yang bisa mengarah pada IMS dan
kehamilan tidak diinginkan, merokok, dan narkotika, serta mengikuti
nasehat orang tua, melakukan hal yang positif seperti mengikuti kegiatan
majelis, belajar kelompok, melakukan hobi yang positif.
Klien dapat mengulang penjelasan yang diberikan
5. Menganjurkan klien untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila
keputihan semakin banyak, kental berwarna, terasa gatal dan nyeri serta
berbau tidak sedap, klien bersedia melakukan anjuran yang diberikan.
BAB 4
PEMBAHASAN

Pada pengkajian didapatkan data Nn.”L” berusia 18 tahun masuk dalam


kategori remaja akhir. menurut Marcdante 2014, pada remaja usia 10—19 tahun
(WHO,2014). jika terdapat discharge yang jernih, tidak gatal atau berbau
menunjukkan kemungkinan discharge tersebut adalah leukorea fisiologis akibat
stimulasi estrogen dari ovarium terhadap uterus dan vagina.
Nn. L menarch pada usia 14 tahun, hal ini masih tergolong normal dimana .
amenore primer yaitu tidak terjadinya haid sampai usia 14 tahun, disertai tidak
adanya pertumbuhan atau perkembangan pada kelamin sekunder, atau tidak
terjadi haid sampai usia 16 tahun, disertai adanya pertumbuhan normal dan
perkembangan tanda kelamin sekunder (Wiknjosastro, 2011)
Pola makan Nn. L terkadang 2-3 kali sehari dan makan buah tidak setiap
hari serta minum hanya 6-7 gelas perhari, tentu tidak sesuai dengan kebutuhan
pada masa remaja. Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat
kesehatan misalnya penurunan konsentrasi belajar, dan penurunan kesegaran
jasmani. Menurut Khuzaiyah, dkk (2015). Pola makan yang kurang sehat dengan
terlalu banayak mengkonsumsi makanan ataupun minuman cepat saji yang tidak
memenuhi asupan nutrisi gizi seimbang dapat memicu terjadinya keputihan.
Kebiasaan Nn. L yang tekadang memakai celana ketat juga dapat memperburuk
keputihan, hal ini terjadi karena kelembaban vagina yang meningkat sehingga
bakteri pathogen penyebab infeksi dapat menyebar (Shadine,2012). Pola istirahat
Nn. L hanya tidur malam 6-7 jam perhari, hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan
tidur yang sehat yaitu 8-9 jam perhari. Menurut kemenkes 2015. Remaja yang
kurang tidur lebih rentan terkena depresi, tidak focus, dan punya nilai sekolah
yang buruk.
Dalam kasus ini, ada beberapa pemeriksaan fisik yang seharusnya
dilakukan namun karena keterbatasan waktu dan ruang, maka pemeriksaan
tersebut tidak dapat dilakukan. Beberapa pemeriksaan fisik yang seharusnya
dilakukan yakni pemeriksaan kelenjar tiroid, dada, dan genetalia. Kekurangan
maupun kelebihan hormon tirod akan mengganggu proses metabolism dan
aktivitas fisiologi serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berbagai
jaringan termasuk sistem saraf dan otak (Kemenkes, 2015). Pertumbuhan seks
sekunder remaja putri ditandai oleh pertumbuhan payudara dan rambut pubis
sehingga pada remaja sebaiknya dilakukan pemeriksaan tersebut untuk mentukan
stadium/klasifikasi pertumbuhan yang telah dialami remaja tersebut.
Berdasakan data subjektif dan objektif, hasil analisis pada kasus ini dapat
disimpulkan bahwa remaja usia 18 tahun dengan leukorea fisiologis. Sehingga
salah satu penatalaksanaan yang diberikan berupa KIE tentang Personal Hygiene,
membersihkan kemaluan dari arah depan ke belakang, mengganti pembalut
minimal 3 kali atau 4 jam sekali saat menstruasi baik banyak maupun sedikit,
mengeringkan bagian kemaluan dengan tissue toilet atau handuk khusus setiap
kali sehabis BAK dan BAB, mengganti celana dalam setiap terasa lembab
(minimal 2-3 kali sehari). Pencegahan keputihan seperti memakai celana yang
longgar, memakai celana dalam berbahan katun, menghindari pemakaian celana
yang ketat karena lembab dan dapat mengakibatkan munculnya keputihan. Pola
makan teratur 3 kali sehari dengan nutrisi seimbang, menambah asupan bergizi di
sela-sela jam makan seperti mengkonsumsi buah dan minum lebih banyak air
putih, minimal 8 gelas sehari. Pola istirahat minimal tidur malam 8-9 jam, untuk
menjaga kesehatan tubuh. Dan KIE yang lain seperti menjaga diri dari pergaulan
bebas seperti tidak mudah mengikuti trend teman, tidak mencoba segala sesuatu
yang berdampak negative seperti berhubungan seks di luar nikah yang bisa
mengarah pada IMS dan kehamilan tidak diinginkan, merokok, dan narkotika,
serta mengikuti nasehat orang tua, melakukan hal yang positif seperti mengikuti
kegiatan majelis, belajar kelompok, melakukan hobi yang positif.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Banyak terjadinya perubahan baik fisik maupun psikologis pada remaja.
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja perempuan meliputi perubahan ukuran
payudara, panggul, menstruasi, dan tumbuhnya rambut pada ketiak dan daerah
kemaluan. Remaja cenderung berbuat sesuai keinginannya sendiri sehingga pada
masa remaja orang tua harus memberikan pengarahan yang baik bagi anak.
Pada kasus ini, remaja mengalami keluhan keputihan fisiologis . Leukora
yang dialami remaja, Nn. “L”, ini dipicu oleh beberbagai faktor seperti personal
hygiene yang kurang, pola nutrisi yang salah, aktivitas fisik yang padat (kelelahan
fisik), dan kebiasaan memakai celana yang ketat. Sehingga, penatalaksanaan
utama yang dilakukan ialah pemberian edukasi tentang personal hiegine yang
benar dan pola nutrisi seimbang untuk mengurangi keputihan dan mencegah
terjadinya leukhore yang patologis.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan harus melakukan pendekatan pada remaja karena remaja
memiliki permasalahan yang sering tidak diceritakan oleh orang sekitarnya
sehingga tenaga kesehatan bisa menjadi fasilitator dalam penyelesaian masalah
pada remaja.
5.2.2 Bagi Remaja
Sebaiknya remaja membentengi dirinya sendiri dengan ilmu pengetahuan
dan agama/iman yang kuat agar terhindar dari masalah-masalah remaja yang
sering dialami. Misalnya, pada kasus ini sebaiknya remaja meningkatkan
wawasannya mengenai penyebab keputihan, personal hygiene yang benar, asupan
nutrisi yang adekuat dengan cara bertanya atau mencari informasi pada sumber
yang tepat.
5.2.3 Bagi Orang Tua
Orang tua harus membuka diri untuk menerima cerita dari anaknya di
masa remaja, hindari dalam memarahi anak di masa remaja karena pada masa ini
anak bisa melakukan semaunya dan lebih cenderung percaya pada teman-
temannya. Berikan nasehat dengan memposisikan diri sebagai teman sehingga
anak merasa nyaman dan terbuka saat berceritalebih memperhatikan pola makan
anaknya agar asupan nutrisinya terpenuhi dan tidak mudah terserang penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Abraham,M. R. 2006. Buku Ajar Pediatri, volume 2. Jakarta : EGC
Agustiyani D, Suryani. 2011. Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian
Keputihan pada Remaja PutriKelas X dan XI di SMA Taman Madya Jetis
Yogyakarta.
Ali, M., dkk. 2010. Psikologi Remaja Perkembangan. Peserta Didik. Jakarta:
Bumi Aksara.
Al-Mighwar, M. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: CV Pustaka Setia.
Bahari, Hamid. 2012. Cara Mudah Atasi Keputihan. Jakarta:Buku Biru.
Batubara, J. R. L. 2010. “Adolescent Development (Perkembangan Remaja)”.
Sari Pediatri Vol 12 No. 1 h: 21 – 29.
Behrman, R. E., dkk., 2012. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. EGC. Jakarta
BKKBN. 2012. Pedoman Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja
dan Mahasiswa (PIK Remaja/Mahasiswa). Jakarta.
Chandran, Lahta, 2008.Menstruation Disorders: Overview. E-medicine Obstetrics
and Gynecology.
Dhamayanti, M. 2013. Overview Adolescents Health Problems and Services.
Diana, Zuckerman. 2001. “When Little Girls Become Women: Early Onset of
Puberty in Girls. In: The Ribbon, 2001”. A newsletter of the Cornell
University Program on Breast Cancer and Environmental Risk Factors in
New York States (BCERF), Vol 6, No. 1.
Irianto, K. 2014. Gizi Seimbang Dalam Kesehatan Reproduksi. Bandung :
Alfabeta.
Jahja, Yudrik. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana.
Julijanto, M. 2015. Dampak Pernikahan Dini dan Problematika Hukumnya.
Artikel Publikasi. Fakultas Syari;ah IAIN Surakarta.
Karyati, A. 2014. Korelasi antara Vulva Hygiene dengan Kejadian Keputihan
pada Mahasiswi Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura Pontianak. Skripsi.
Kasdu, D. 2008. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara.
Kiswari, Rukman. 2014. Hematologi dan Transfusi. Jakarta: Erlangga.
Kemenkes RI. 2013. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan
Rujukan.Jakarta : JNPK.KR.
Kemenkes. 2015. Istirahat Cukup.
Khuzuiyah, S. dkk. 2015. “Karakteristik Wanita dengan Fluor Albus”. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Vol 8 No 1 h : 1 – 10.
Lestari, N. 2011. Tips Praktis Mengetahui Masa Subur. Yogyakarta : Katahati
Manuaba, IBG. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta: EGC.
Marcdante, K. J., Kliegman, R. M., Jenson, H. B. & Behrman, R. E., 2014. Nelson
Ilmu Kesehatan Anak Esensial. 6 ed. Singapore: Elsevier.
Marhaeni, G. A. 2016.” Keputihan pada Wanita” Jurnal Skala Husada Vol 12 No
1) h: 30 – 38.
Marya, RK. 2013. Buku Ajar Patofisiologi Terjadinya Penyakit. Tangerang:
Binarupa Aksara Publisher.
Mualfiah, R. Herdina Indrijati. 2014. Hubungan antara Tingkat Harga Diri
dengan Kecenderungan Perilaku Seks Pranikah pada Remeja Pondok
Pesantran Assalaf Alfitrah Surabaya. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan
Mental. 3 (3): 159 – 163.
Ringoringo, H. P. 2009. “Insidens Defisiensi Besi dan Anemia Defisiensi Besi
pada Bayi Berusia 0 – 12 Bulan di Banjarbaru Kalimantan Selatan: Studi
Kohort Prospektif”. Sari Pediatri. Vol 11 No 1 h: 8 – 14.
Saadi, A. 2017. Change During Puberty. Bahan Ajar Perkuliahan Pendidikan
Bidan FK UNAIR.
Santrock. 2007. Remaja. Edisi 11 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Shadine. 2012. Penyakit Wanita . Yogyakarta: Citra Pustaka.
Sianipar, O. Bunawan, N.C. Almazini, P. Calista N. Wulandari,P. Rovenska , N.
Djuanda, R. E. Irene, Adjie, S. Suarthana, E. 2009. “Prevalence of
Menstrual Disorder and Associated Factors of at High School in Pulo
Gadung Subdistrict of East Jakarta”. Maj Kedokt Indonesia, Volum: 59,
Nomor: 7,
Satgas Remaja IDAI. 2013. Nutrisi pada Remaja.
Setyana, W. A. 2013. Analisis Faktor Eksogen Non-infeksi yang Mempengaruhi
Kejadian Keputihan pada Mahasiswi di Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Karya Tulis Ilmiah.
Soetjiningsih, 2010, Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya, Jakarta :
Sagung Seto.
UMM. 2013. Prosedur Pemeriksaan Tanda-tanda Vital.
WHO. 2014. Health for The World’s Adolescents: A Second Chance in The
Second Decade. Switzerland: WHO.
Widyastuti, Y. dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya
Wiknjosastro, Hanifa. 2011. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Wirdhana, I., et al. (2012). Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja. Jakarta:
BKKBN.