Vous êtes sur la page 1sur 53

PENERAPAN EVIDENCE BASED PENGARUH KOMPRES HANGAT

TERHADAP PERUBAHAN SUHU TUBUH PADA PASIEN ANAK DENGAN


HIPERTERMIA DI RUANG IRNA ANAK RSUD KECAMATAN MANDAU DURI

Pembimbing:
Ns. Ganis Indriati, M. Kep., Sp. Kep. An
Ns. Selvi, S. Kep

Disusun oleh:
RICHE FRANCISCA
NIM. 1611438280

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN ELEKTIF


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RIAU
2017
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1 Hasil Pre test dan Post test kompres hangat....................................................... 28
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kasus Kelolaan


Lampiran 2 Dokumentasi
Lampiran 3 Standar Prosedur Operasional Kompres Hangat
Lampiran 4 Lembar Observasi
Lampiran 5 Grafik Penurunan Suhu
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-
Nya penulis dapat menyelesaikan laporan penerapan evidence based dengan judul
“Pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien anak dengan
hipertermia”. Penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagaipihak dalam
proses penyusunan laporan ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima
kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Ns. Ganis Indriati, M. Kep., Sp. Kep. An selaku Pembimbing Akademik Praktik Profesi
Elektif di ruang IRNA Anak yang telah memberikan masukan dan kritik.
2. Ns. Selvi, S. Kep, selaku Pembimbing Klinik Praktik Profesi Elektif di ruang IRNA
Anak.
3. Sri Dahanum, AMKep, selaku kepala ruangan IRNA Anak.
4. Rekan-rekan perawat IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau Duri, yang telah
membantu selama praktek di IRNA Anak.
Penulis menyadari laporan ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik
dan saran pembaca sangat diharapkan penulis demi kebaikan laporan ini. Akhir kata
penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi dunia keperawatan.

Duri, Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i


DAFTAR TABEL ..................................................................................... ii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ............................................................................... iv
DAFTAR ISI .............................................................................................. v

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
C. Manfaat Penulisan ......................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Tinjauan Pustaka ........................................................................... 4
B. Asuhan Keperawatan..................................................................... 14

BAB III PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN


A. Asuhan Keperawatan..................................................................... 18
B. Critical Review .............................................................................. 23
C. Pembahasan ................................................................................... 24
D. Keterbatasan .................................................................................. 25

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 26
B. Saran................................................................................................ 26

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 28
LAMPIRAN- LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan pada anak merupakan salah satu masalah yang banyak terjadi dalam
bidang kesehatan. Dalam profil pengendalian penyakit di Amerika Serikat melaporkan
ada sekitar dua pertiga anak yang mendapatkan bantuan penyediaan perawatan
kesehatan atas alasan kondisi febris akut dalam dua tahun pertama kehidupannya.
Sebagian besar kondisi febris yang terjadi pada bayi dan anak sembuh tanpa terapi
spesifik (Rudolph, 2006).
Menjaga kesehatan anak menjadi perhatian khusus para ibu, terlebih pada saat
pergantian musim yang umumnya disertai dengan berkembangnya berbagai penyakit.
Berbagai penyakit itu biasanya makin mewabah pada musim peralihan, baik dari
musim kemarau ke penghujan begitu sebaliknya. Terjadinya perubahan cuaca
memepengaruhi perubahan kondisi kesehatan anak, kondisi anak dari sehat ke sakit
mengakibatkan tubuh bereaksi untuk meningkatkan suhu yang biasanya di atas suhu
tubuh normal (Mohamad, 2011).
Demam merupakan pengeluaran panas yang tidak mampu untuk
mempertahankan pengeluaran kelebihan produksi panas yang mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh abnormal (Avin, 2007). Panas atau demam kondisi dimana
otak mematok suhu diatas setting normal yaitu diatas 38 oC. Namun demikian, panas
yang sesungguhnya adalah bila suhu lebih dari 38,5 oC dan dari meningkatnya suhu
tubuh dapat mengakibatkan produksi panas yang berlebih yaitu di atas kisaran suhu
tubuh normal (Purwanti, 2008).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan bahwa jumlah kasus demam
diseluruh dunia mencapai 18-34 juta jiwa, anak merupakan paling rentang terkena
demam, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. Di hampir
semua daerah, insiden demam banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun (Suriadi,
2010).
Sebagian besar kondisi febris yang terjadi pada bayi serta anak disebabkan
oleh virus, dan anak sembuh tanpa terapi spesifik (Rudolph, 2006). Demam yang
berhubungan dengan infeksi kurang lebih 29-52%, sedangkan 11-20% dengan
keganasan, 4% dengan penyakit metabolic, 11-12% dengan penyakit lain (Avin 2007).
Menurut Purwanti (2008) demam dapat mengakibatkan dehidrasi berat bahkan
bisa meninggal karena pada saat demam, terjadi peningkatan pengeluaran cairan tubuh
sehingga dapat menyebabkan dehidrasi serta mengakibatkan kejang demam pada
anak. Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa jika demam tidak segera
ditangani bisa mengakibatkan hal yang tidak diinginkan, sehingga perawat
mempunyai peran penting dalam mengatasi demam misalnya dengan melakukan
tindakan keperawatan secara mandiri dan pasien dengan demam juga memerlukan
pemantauan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Penanganan pada pasien demam menurut Sukamto (2005) yaitu dengan cara
memakaikan baju yang nyaman, memberi obat penurun panas jika suhu badan anak
lebih dari 39 oC, mengompres menggunakan air hangat, menghindari membangunkan
anak yang sedang tidur untuk memberi obat karena tidur sangat dibutuhkan bagi anak
untuk mengumpulkan energi yang bertujuan untuk melawan infeksi. Pertolongan
pertama yang aman bisa dilakukan oleh ibu dirumah ketika anaknya demam yaitu
dengan cara kompres hangat untuk meurunkan suhu tubuh, Hal ini didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Mohamad, (2011) yang menunjukan hasil bahwa
kompres air hangat dapat menurunkan suhu tubuh secara efektif. Berdasarkan latar
belakang masalah di atas maka perlu adanya pembahasan tentang demam dalam
proses pemenuhan kebutuhan termoregulasi.

B. Tujuan Penulisan
1. Mampu melakukan evidence based pada pasien hipertermia di ruang IRNA Anak
RSUD Kecamatan Mandau Duri.
2. Mampu mengevaluasi evidance based yang telah dilakukan kepada pasien
hipertermia.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Hasil penerapan evidance based of Nursing ini dapat menjadi acuan untuk
dipertimbangkan dijadikan sebagai Standar Prosedur Operasional (SPO) dalam
memberikan pelayanan terbaik bagi pasien sehingga diperoleh kepuasan terhadap
pelayanan rumah sakit dan meningkatkan patient safety.
2. Bagi Keluarga
Diharapkan dapat menerapkan tindakan kompres hangat pada perawatan pasien
dengan demam dan dapat menjadikannya sebagai tindakan yang pertama dan aman
dilakukan pada pasien di rumah sebelum menggunakan terapi antipiretik.
3. Perkembangan Ilmu Keperawatan
Sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme dalam
memberikan pelayanan kepada pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TEORI
1. Hipertermia
a. Definisi Hipertermia
Hipertermi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami atau
berisiko untuk mengalami kenaikan suhu tubuh secara terus-menerus lebih
tinggi dari 37oC (peroral) atau 38,8oC (perrektal) karena peningkatan
kerentanan terhadap faktor-faktor eksternal (Linda Juall Corpenito, 2012).
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal
(NANDA International 2009-2011).
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dari
jangkauan normal (Doenges Marilynn E).
b. Etiologi
Hipertermi dapat disebabkan karena gangguan otak atau akibat bahan
toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat
menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga
menyebabkan demam yang disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa
protein, pecahan protein, dan zat lain. Terutama toksin polisakarida, yang
dilepas oleh bakteri toksi/ pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan
tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit.
Faktor penyebabnya:
1) Dehidrasi Penyakit atau trauma
2) Ketidakmampuan atau menurunnya kemampuan untuk berkeringat
3) Pakaian yang tidak layak
4) Kecepatan metabolisme meningkat
5) Pengobatan/anesthesia
6) Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang)
7) Aktivitas yang berlebihan
c. Patofisiologi Pengaturan Suhu Tubuh
Manusia ialah makhluk yang homeotermal, artinya makhluk yang
dapat mempertahankan suhu tubuhnya walaupun suhu di sekitarnya berubah.
Yang dimaksud dengan suhu tubuh ialah suhu bagian dalam tubuh seperti
viscera, hati, otak. Suhu rectal merupakan penunjuk suhu yang baik. Suhu
rectal diukur dengan meletakkan thermometer sedalam 3 - 4 cm dalam anus
selama 3 menit sebelum dibaca. Suhu mulut hampir sama dengan suhu rectal.
Suhu ketiak biasanya lebih rendah daripada suhu rectal. Pengukuran suhu
aural pada telinga bayi baru lahir lebih susah dilakukan dan tidak praktis.
Suhu tubuh manusia dalam keadaan istirahat berkisar antara 36oC - 37oC,
yang dapat dipertahankan karena tubuh mampu mengatur keseimbangan
antara pembentukan dan pengeluaran panas.
Panas dapat berasal dari luar tubuh seperti iklim atau suhu udara di
sekitarnya yang panas. Panas dapat berasal dari tubuh sendiri. Pembentukan
panas oleh tubuh (termogenesis) merupakan hasil metabolisme tubuh. Dalam
keadaan basal tubuh membentuk panas 1 kkal/kgBB/jam. Jumlah panas yang
dibentuk alat tubuh, seperti hati dan jantung relative tetap, sedangkan panas
yang dibentuk otot rangka berubah-ubah sesuai dengan aktifitas. Bila tidak
ada mekanisme pengeluaran panas, dalam keadaan basal suhu tubuh akan
naik 1oC/jam, sedang dalam aktivitas normal suhu tubuh akan naik 2oC/jam.
Pengeluaran panas terutama melalui paru dan kulit. Udara ekspirasi
yang dikeluarkan paru jenuh dengan uap air yang berasal dari selaput lendir
jalan nafas. Untuk menguapkan 1 ml air diperlukan panas sebanyak 0,58
kkal. Pengeluaran panas melalui kulit dapat dengan dua cara yaitu:
1) Konduksi - konveksi: pengeluaran panas melalui cara ini bergantung
kepada perbedaan suhu kulit dan suhu udara sekitarnya.
2) Penguapan air: air keluar dari kulit terutama melalui kelenjar keringat.
Dapat juga melalui perspirasi insensibilitas, difusi air melalui epidermis.
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus melalui sistem umpan balik yang
rumit. Hipotalamus karena berhubungan dengan talamus akan menerima
seluruh impuls eferen. Saraf eferen hipotalamus terdiri atas saraf somatik dan
saraf otonom. Karena itu hipotalamus dapat mengatur kegiatan otot, kelenjar
keringat, peredaran darah dan ventilasi paru. Keterangan tentang suhu bagian
dalam tubuh diterima oleh reseptor di hipotalamus dari suhu darah yang
memasuki otak. Keterangan tentang suhu dari bagian luar tubuh diterima
reseptor panas di kulit yang diteruskan melalui sistem aferen ke hipotalamus.
Keadaan suhu tubuh ini diolah oleh thermostat hipotalamus yang akan
mengatur set point hipotalamus untuk membentuk panas atau untuk
mengeluarkan panas.
Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur suhu yang bekerja
bila terdapat kenaikan suhu tubuh. Hipotalamus anterior akan mengeluarkan
impuls eferen sehingga akan terjadi vasodilatasi di kulit dan keringat akan
dikeluarkan, selanjutnya panas lebih banyak dapat dikeluarkan dari tubuh.
Hipotalamus posterior merupakan pusat pengatur suhu tubuh yang bekerja
pada keadaan dimana terdapat penurunan suhu tubuh. Hipotalamus posterior
akan mengeluarkan impuls eferen sehingga pembentukan panas ditingkatkan
dengan meningkatnya metabolisme dan aktifitas otot rangka dengan
menggigil (shivering), serta pengeluaran panas akan dikurangi dengan cara
vasokonstriksi di kulit dan pengurangan keringat.
d. Pathway Hipertermia
Infeksi atau cedera jaringan

Inflamasi

Akumulasi monosit,
Makrofag, sel T helper dan fibroblas

Pelepasan pirogen endogen (sitokin)

Interleukin-1
Interleukin-6

Merangsang saraf vagus

Sinyal mencapai
Sistem saraf pusat

Pembentukan prostaglandin otak

Merangsang hipotalamus
Meningkatkan titik patokan suhu
(sel point)

Menggigil, meningkatkan suhu basal

Hipertermi

e. Manifestasi Klinis
1) Suhu tinggi 37,8 oC (1000 F) peroral atau 38,8 oC (1010 F)
2) Takikardia
3) Kulit kemerahan
4) Hangat pada sentuhan
5) Menggigil
6) Dehidrasi
7) Kehilangan nafsu makan
f. Komplikasi
1) Kerusakan sel-sel dan jaringan
2) Kematian
g. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
a) Pemeriksaan darah lengkap: mengindetifikasi kemungkinan terjadinya
resiko infeksi
b) Pemeriksaan urine
c) Uji widal : suatu reaksi oglufinasi antara antigen dan antibodi untuk
pasien thypoid
d) Pemeriksaan elektrolit: Na, K, Cl
e) Uji tourniquet
h. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan medis yang diberikan yaitu:
 Beri obat penurun panas seperti paracetamol, asetaminofen.
2) Penatalaksanaan keperawatan yang diberikan yaitu:
a) Beri pasien banyak minum. Pasien menjadi lebih mudah dehidrasi pada
waktu menderita panas. Minum air membuat mereka merasa lebih baik
dan mencegah dehidrasi.
b) Beri pasien banyak istirahat, agar produksi panas yang diproduksi
tubuh seminimal mungkin.
c) Beri kompres hangat di beberapa bagian tubuh, seperti ketiak, lipatan
paha, leher belakang.

2. Termoregulasi
a. Pengertian Termoregulasi
Termoregulasi adalah suatu pengaturan fisiologi tubuh manusia
mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu
tubuh dapat di perhatikan secara konstan (H. Aziz, 2012).
b. Anatomi Fisiologi
Sistem yang mengatur suhu tubuh memiliki tiga bagian penting:
sensor di bagian permukaan dan inti tubuh, integrator di hipotalamus, dan
sistem efektor yang dapat menyesuaikan produksi serta pengeluaran panas
(Kozier, et al, 2011).
Hipotalamus, yang terletak antara hemisfer serebral, mengontrol suhu
tubuh sebagaimana thermostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan
perubahan ringan pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol
pengeluaran panas dan hipotalamus posterior mengontrol produksi panas.
Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set
point, implus akan dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme
pengeluaran panas termasuk berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh
darah dan hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke pembuluh
darah permukaan untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika hipotalamus
posterior merasakan suhu tubuh lebih rendah dari set point, mekanisme
konservasi panas bekerja. Vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah
mengurangi aliran aliran darah ke kulit dan ekstremitas. Kompensasi
produksi panas distimulasi melalui kontraksi otot volunter dan getaran
(menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi tidak efektif dalam pencegahan
tambahan pengeluaran panas, tubuh mulai mengigi. Lesi atau trauma pada
hipotalamus atau korda spinalis, yang membawa pesan hipotalamus, dapat
menyebabkan perubahan yang serius pada kontrol suhu (Potter dan Perry,
2005).
c. Mekanisme Demam
Menurut Potter dan Perry (2006), mekanisme demam adalah sebagai
berikut:
Hiperpireksia atau demam terjadi karena mekanisme pengeluaran
panas tidak mampu untuk memepertahankan kecepatan pengeluaran
kelebihan produksi panas, yang menyebabakan peningkatan suhu tubuh
abnormal. Demam sebenarnya merupakan akibat dari perubahan set point
hipotalamus. Pirogen seperti bakteri dan virus menyebabkan peningkatan
suhu tubuh. Saat bakteri dan virus tersebut masuk ke dalam tubuh, pirogen
bekerja sebagai antigen, memepengaruhi sistem imun. Sel darah putih
diproduksi lebih banyak lagi untuk meningkatkan pertahanan tubuh melawan
infeksi. Substansi ini juga mencetuskan hipotalamus untuk mencapai set
point.
Untuk mencapai set point baru yang lebih tinggi, tubuh memproduksi
dan menghemat panas. Dibutuhkan beberapa jam untuk mencapai set point
baru dari suhu tubuh. Selama periode ini orang menggigil, gemetar dan
merasa kedinginan meskipun suhu tubuh meningkat.
Fase menggigil berakhir ketika set point baru, suhu yang lebih tinggi
tercapai. Selama fase berikutnya, masa stabil, menggigil hilang dan pasien
merasa hangat dan kering. Jika set point baru telah ‘melampaui batas’, atau
pirogen telah dihilangkan (misalnya estruksi bakteri oleh antibiotik), terjadi
fase ketiga episode febris. Set point hipotalamus turun, menimbulkan respon
pengeluaran panas. Kulit menjadi hangat dan kemerahan karena
vasodilatasi. Demam merupakan mekanisme pertahanan yang penting.
Demam juga bertarung dengan infeksi karena virus menstimulasi interfero,
substansi ini yang bersifat melawan virus. Pola demam berbeda, bergantung
pada pirogen. Durasi dan derajat demam bergantung pada kekuatan pirogen
dan kemampuan individu untuk berespon.
d. Fakor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Menurut Potter dan Perry (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi
suhu tubuh antara lain:
1. Usia
Pada bayi dan balita belum bnterjadi kematangan mekanisme
pengaturan suhu sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang
drastis terhadap lingkungan. Regulasi suhu tubuh baru mencapai
kestabilan saat pubertas. Suhu normal akan terus menurun saat seseorang
semakin tua. Mereka lebih sensitif terhadap suhu yang ekstrem karena
perburukan mekanisme pengaturan, terutama pengaturan vasomotor
(vasokonstriksi dan vasodilatasi) yang buruk, berkurangnya jaringan
subkutan, berkurangnya aktivitas kelenjar keringat, dan metabolisme
menurun.
2. Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan
pemecahan karbohidrat dan lemak. Berbagai bentuk olahraga
meningkatkan metabolisme dan dapat meningkatkan produksi panas
terjadi peningkatan suhu tubuh.
3. Kadar Hormon
Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih
besar. Hal ini karena ada variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar
progesteron naik dan turun sesuai siklus menstruasi. Variasi suhu ini
dapat membantu mendeteksi masa subur seorang wanita. Perubahan suhu
tubuh juga terjadi pada wanita saat menopause. Mereka biasanya
mengalami periode panas tubuh yang intens dan perspirasi selama 30
detik sampai 5 menit. Pada periode ini terjadi peningkatan suhu tubuh
sementara sebanyak 4oC, yang sering disebut hot flashes. Hal ini
diakibatkan ketidakstabilan pengaturan vasomotor.
4. Irama Sirkadian
Suhu tubuh yang normal berubah 0,5 sampai 1oC selama periode
24 jam. Suhu terendah berada diantara pukul 1 sampai 4 pagi. Pada siang
hari, suhu tubuh meningkat dan mencapai maksimum pada pukul 6 sore,
lalu menurun lagi sampai pagi hari. Pola suhu ini tidak mengalami
perubahan pada individu yang bekerja di malam hari dan tidur di siang
hari.
5. Stress
Stress fisik maupun emosional meningkatkan suhu tubuh melalui
stimulasi hormonal dan saraf. Perubahan fisiologis ini meningkatkan
metabolisme, yang akan meningkatkan produksi panas.
6. Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Tanpa mekanisme kompensasi
yang tepat, suhu tubuh manusia akan berubah mengikuti suhu
lingkungan.
Selain itu sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap produksi panas
tubuh yang lain menurut Kozier, et al, (2011) antara lain:
a. Laju Metabolisme Basal (BMR)
Laju metabolisme basal (BMR) merupakan lagi penggunaan energi
yang diperlukan tubuh untuk mempertahankan aktivitas penting
seperti bernapas. Laju metabolisme akan meningkat seiring dengan
peningkatan usia. Pada umumnya, semakin muda usia individu,
semakin tinggi BMR-nya.
b. Aktivitas otot
Aktivitas otot, termasuk menggigil akan meningkatkan laju
metabolisme.
c. Sekresi tiroksin
Peningkatan sekresi tiroksin akan meningkatkan laju metabolisme sel
di seluruh tubuh. Efek ini biasanya disebut sebagai termogenesis
kimiawi, yaitu stimulasi untuk menghasilkan panas di seluruh tubuh
melalui peningkatan metabolisme seluler.
d. Stimulasi epinefrin, norepinefrin, dan simpatis.
Hormon ini segera bekerja meningkatkan laju metabolisme seluler di
banyak jaringan tubuh. Epinefrin dan norepinefrin langsung bekerja
mempengaruhi sel hati dan sel otot, yang kemudian akan
meningkatkan laju metabolisme seluler.
e. Demam
Demam dapat meningkatkan laju metabolisme dan kemudian akan
meningkatkan suhu tubuh.
e. Pengeluaran Panas
Menurut Potter dan Perry (2010), pengeluaran dan produksi panas
terjadi secara konstan, pengeluaran panas secara normal melalui radiasi,
konduksi, konveksi dan evaporasi.
1) Radiasi
Adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke
permukaan objek lain tanpa keduanya bersentuhan. Panas berpindah
melalui gelombang elektromagnetik. Aliran darah dari organ internal inti
membawa panas ke kulit dan ke pembuluh darah permukaan. Jumlah
panas yang dibawa ke permukaan tergantung dari tingkat vasokonstriksi
dan vasodilatasi yang diatur oleh hipotalamus. Panas menyebar dari kulit
ke setiap objek yang lebih dingi disekelilingnya. Penyebaran meningkat
bila perbedaan suhu antara objek juga meningkat.
2) Konduksi
Adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan
kontak langsung. Ketika kulit hangat menyentuh objek yang lebih dingin,
panas hilang. Ketika suhu dua objek sama, kehilangan panas konduktif
terhenti. Panas berkonduksi melalui benda padat, gas, cair.
3) Konveksi
Adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Panas
dikonduksi pertama kali pada molekul udara secara langsung dalam
kontak dengan kulit. Arus udara membawa udara hangat. Pada saat
kecepatan arus udara meningkat, kehilangan panas konvektif meningkat.
4) Evaporasi
Adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi
gas. Selama evaporasi, kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap
gram air yang menguap. Ketika suhu tubuh meningkat, hipotalamus
anterior member signal kelenjar keringat untuk melepaskan keringat.
Selama latihan dan stress emosi atau mental, berkeringat adalah salah
satu cara untuk menghilangkan kelebihan panas yang dibuat melalui
peningkatan laju metabolik. Evaporasi berlebihan dapat menyebabkan
kulit gatal dan bersisik, serta hidung dan faring kering.
5) Diaforesis
Adalah prespirasi visual dahi dan toraks atas. Kelenjar keringat
berada dibawah dermis kulit. Kelenjar mensekresi keringat, larutan berair
yang mengandung natrium dan klorida, yang melewati duktus kecil pada
permukaan kulit. Kelenjar dikontrol oleh sistem saraf simpatis. Bila suhu
tubuh meningkat, kelenjar keringat mengeluarkan keringat, yang
menguap dari kulit untuk meningkatkan kehilangan panas. Diaphoresis
kurang efisien bila gerakan udara minimal atau bila kelembaban udara
tinggi.
f. Gangguan Termoregulasi
Menurut Potter dan Perry (2010), gangguan pada termoregulasi antara
lain sebagai berikut:
1. Kelelahan akibat panas
Terjadi bila diaphoresis yang banyak mengakibatkan kehilangan
cairan dan elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang
terpejan panas. Tanda dan gejala kurang volume caiaran adalah hal yang
umum selama kelelahan akibat panas. Tindakan pertama yaitu
memindahkan klien kelingkungan yang lebih dingin serta memperbaiki
keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi
panas adalah hipertermi.
3. Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan
suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi
ini disebut heatstroke, kedaruratan yang berbahaya panas dengan angka
mortalitas yang tinggi. Heatstroke dengan suhu lebih besar dari 40,5oC
mengakibatkan kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh.
4. Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus trehadap dingin
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas.,
mengakibatkan hipotermi. Dalam kasus hipotermi berat, klien
menunjukkan tanda klinis yang mirip dengan orang mati (misal tidak ada
respon terhadap stimulus dan nadi serta pernapasan sangat lemah).
5. Radang beku (frosbite)
Terjadi bila tubuh terpapar pada suhu dibawah normal. Kristal es
yang terbentuk di dalam sel dapat mengakibatkan kerusakan sirkulasi
dan jaringan secara permanen. Intervensi termasuk tindakan
memanaskan secara bertahap, analgesik dan perlindungan area yang
terkena.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas: umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian): panas.
2) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat
masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam (misalnya: mual, muntah,
nafsu makan, eliminasi, nyeri otot dan sendi, dll), apakah menggigil, gelisah.
3) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain
yang pernah diderita oleh pasien)
4) Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain
yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik
atau tidak).
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum: kesadaran, vital sign, status nutrisi
b. Pemeriksaan persisten
1) Sistem persepsi sensori
2) Sistem persyarafan kesadaran
3) Sistem pernafasan
4) Sistem kardiovaskuler
5) Sistem gastrointestin
6) Sistem integumen
7) Sistem perkemihan
3. Pada Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola kognitif dan perseptual
g. Pola toleransi dan koping stress
h. Pola nilai dan keyakinan
i. Pola hubungan dan peran
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
b. Foto rontgen
c. USG
5. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
b. Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan
diaporesisi
6. Discharge Planning
a. ajarkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuhan dan laporkan dokter atau
perawat
b. Instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu
c. Ajarkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
d. Intruksikan untuk kontrol ulang
e. Jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.
7. Rencana Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)
1. Hipertemia Setelah dilakukan tindakan  Mengontrol panas
berhubungan dengan perawatan selama ….X 24 jam,  Monitor suhu minimal tiap 2 jam
proses penyakit. pasien mengalami  Monitor suhu basal secara
Batasan karakeristik: keseimbangan termoregulasi kontinyu sesui dengan kebutuhan
 Kenaikan suhu dengan kriteria hasil:  Monitor TD, Nadi, dan RR
tubuh diatas  Suhu tubuh dalam rentang  Monitor warna dan suhu kulit
rentang normal normal 35,9 oC - 37,5 oC  Monitor penurunan tingkat
 Serangan atau  Nadi dan RR dalam rentang kesadaran
konvulsi (kejang) normal  Monitor WBC,Hb, Hct
 Kulit kemerahan  Tidak ada perubahan warna  Monitor intake dan output
 Pertambahan RR kulit  Berikan anti piretik
 Takikardi  Tidak ada pusing  Berikan pengobatan untuk
 Saat disentuh mengatasi penyebab demam
tangan terasa  Selimuti pasien
hangat  Lakukan Tapid sponge
 Berikan cairan intra vena
 Kompres pasien pada lipat paha,
aksila dan leher
 Tingkatkan sirkulasi udara
 Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya menggigil
 Temperature Regulation
 Monitor tanda- tanda hipertermi
 Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
 Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
 Diskusikan tetang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan
efek negative dari kedinginan
 Berikan obat antipiretik sesuai
dengan kebutuhan
 Gunakan matras dingin dan mandi
air hangat untuk mengatasi
gangguan suhu tubuh sesuai
dengan kebutuhan
 Lepasakan pakaian yang
berlebihan dan tutupi pasien
dengan hanya selembar pakaian
 Vital Sign Monitoring
 Monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
 Monitor vital sign saat pasien
berdiri, duduk dan berbaring
 Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
 Monitor TD, Nadi, dan RR
sebelum, selama dan sesudah
aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya tekanan nadi yang
melebar , bradikardi, peningkatan
sistolik (Chusing Triad)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital Sign
2. Resiko injury Setelah dilakukan tindakan  Sediakan lingkungan yang aman
berhubungan dengan keperawatan selama …x 24 jam, untuk pasien
infeksi pasien tidak mengalami injury.  Identifikasi kebutuhan keamanan
mikroorganisme Risk Injury pasien sesuai dengan kondisi fisik
Kriteria Hasil: dan fungsi kognitif pasien dan
 Klien terbebas dari cidera riwayat penyakit terdahulu pasien
 Klien mampu menjelaskan  Menghindari lingkungan yang
cara/metode untuk mencegah berbahaya misalnya memindahkan
injury atau cedera perabotan
 Klien mampu menjelaskan  Memasang side rail tempat tidur
factor resiko dari lingkunga  Menyediakan tempat tidur yang
atau perilaku personal nyaman dan bersih
 Mampu memodifikasi gaya  Meletakan saklar lampu ditempat
hidup untuk mencegah injury yang mudah dijangkau pasien
 Menggunakan fasilitas  Membatasi pengunjung
kesehatan yang ada  Memberikan penerangan yang
 Mampu mengenali perubahan cukup
status kesehatan  Menganjurkan keluarga untuk
menemani pasien
 Mengontrol lingkungan dari
kebisingan
 Memindahkan barang-barang yang
dapat membahayakan
 Berikan penjelasan pada pasien
dan keluarga atau pengunjung
adanya perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit.
3 Resiko kekurangan Setelah dilakukan tindakan Fluid management:
volume cairan keperawatan selama …x 24 jam,  Pertahankan catatan intake dan
dengan faktor resiko fluid balance dengan kriteria output yang akurat
faktor yang hasil:  Monitor status dehidrasi
mempengaruhi  Mempertahankan urine output (kelembaban membrane mukosa,
kebutuhan cairan sesuai dengan usia dan BB, nadi adekuat, tekanan darah
(hipermetabolik) BJ urine normal, HT normal ortostatik)
 Tekanan darah, nadi, suhu  Monitor vital sign
tubuh dalam batas normal  Monitor asupan makanan/cairan
 Tidak ada tanda- tanda dan hitung intake kalori harian
dehidrasi, elastisitas turgor  Lakukan terapi IV
kulit baik, membrane mukosa  Monitor status nutrisi
lembab, tidak ada rasa haus  Berikan cairan
yang berlebihan.  Berikan cairan IV pada suhu
ruangan
 Dorong masukan oral
 Berikan penggantian nasogastrik
sesuai output
 Dorong keluarga untuk membantu
pasien makan
 Anjurkan minum kurang lebih 7-8
gelas belimbing perhari
 Kolaborasi dokter jika tanda cairan
berlebih muncul memburuk
 Atur kemungkinan transfusi
BAB III
PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN

A. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Kasus klien kelolaan 1
a. INFORMASI UMUM:
Nama : An. E
Umur : 1 tahun 5 bulan
Tanggal Lahir : 28 Oktober 2016
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku Bangsa : Batak
Tanggal masuk : 11 Desember 2017
Tanggal Pengkajian : 11 Desember 2017
Dari/Rujukan :-
Dx. Medis : Gastro Enteritis Akut Dehidrasi Ringan-Sedang
No. MR : 12.51.34
b. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT
Mencret sejak ± 5 hari sebelum masuk rumah sakit, mencret > 3x/hari, badan
lemas, demam dan sesak nafas.
c. KELUHAN UTAMA SAAT PENGKAJIAN
Ibu klien mengatakan sudah 5 hari mencret, lemas dan disertai demam.
Mencret dialami > 3 x/hari.
d. RIWAYAT KESEHATAN SEBELUMNYA
Klien pernah dirawat dengan penyakit yang sama sebulan yang lalu
e. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Ibu klien mengatakan bahwa ada yang menderita penyakit asma dan keluarga
klien tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, hipertensi dan DM.
Genogram:

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Laki-laki meninggal
: Klien
: Tinggal serumah

f. PEMERIKSAAN TERFOKUS
1) Pengkajian
Kepala : Mesochepal, tidak ada lesi dan benjolan, rambut rapi,
bersih
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung : Simetris, tidak ada polip
Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis
Telinga : Simetris, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada
peningkatan vena jugularis
Dada : Terdapat retraksi dinding dada dan penggunaan otot bantu
nafas
Jantung : Tidak ada kelainan
Abdomen : Tidak ada kelainan
2) Tanda-tanda vital:
Nadi : 130 x/i
Suhu : 39,1 oC
RR : 55 x/i
3) Hasil Laboratorium
Hb : 12,0 gr/dl
Leukosit : 11.200 /uL
Hematokrit : 31,6 %
Trombosit : 231.000 /uL
Glukosa Sewaktu : 140 mg/dL
4) Medikasi/obat-obatan yang diberikan saat ini
Zinc 1 x 20 mg
Lacto B 2 x1 sachet
Oralit 30 cc (bila BAB cair)
Paracetamol inf 3 x 8 cc
Cefotaxim 3 x 170 mg
5) Analisa Data
DATA FOKUS SUBYEKTIF (S) & OBYEKTIF (O) ETIOLOGI (E) MASALAH (P)
DS: Ibu klien mengatakan anaknya sesak nafas Proses inflamasi pada Ketidakefektifan pola
DO : saluran pernafasan nafas
- Retraksi dinding dada (+)
- Penggunaan otot bantu nafas (+)
- Nafas cuping hidung (-)
- RR: 50 x/i
DS: Ibu klien mengatakan anaknya masih panas Proses penyakit Hipertermia
DO:
- Akral teraba hangat, K/u sedang
- Suhu: 39 oC
- Nadi: 142 x/i
- RR: 50 x/i
DS: Ibu klien mengatakan keadaan anaknya mencret Diare Risiko gangguan
DO: keseimbangan volume
- K/u sedang, klien tampak lemas cairan
- Pasien BAB dengan konsistensi cair
- Tidak ada darah
- Ada ampas sedikit
- Tidak berlendir
- Suhu: 39 oC
- Nadi: 142 x/i
- RR: 50 x/i
- Sementara terpasang infus cairan D5 ¼ NS 10 tpm
- Input:
Susu: 300 cc
Infuse: 500 cc +
800 cc
- Output:
Urin: 300 cc
IWL: 250 cc
Feses: 240 cc +
790 cc
- Balance cairan
Input-output:
800 cc - 790 cc = + 10
6) Diagnosa Keperawatan
a) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada
saluran pernafasan
b) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
c) Risiko gangguan keseimbangan volume cairan: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan diare

7) Intervensi
No Tanggal/Jam Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
1 11-12-2017 Ketidakefektifan Setelah dilakukan 1. Observasi tanda 1. sebagai dasar
Jam 08.00 pola nafas tindakan keperawatan vital, adanya dalam menentukan
Wib berhubungan diharapkan pola nafas cyanosis, serta pola, intervensi
dengan proses kembali normal, kedalaman dalam selanjutnya
inflamasi pada dengan kriteria hasil: pernafasan 2. Semi fowler dapat
saluran  Usaha nafas 2. Berikan posisi yang meningkatkan
pernafasan kembali normal dan nyaman pada pasien ekspansi paru dan
meningkatnya 3. Ciptakan dan memperbaiki
suplai oksigen ke pertahankan jalan ventilasi
paru-paru nafas yang bebas. 3. Untuk
4. Anjurkan untuk memperbaiki
tidak memberikan ventilasi
minum selama 4. Agar tidak terjadi
periode tachypnea. aspirasi
2 11-12-2017 Hipertermi Setelah dilakukan 1. Monitor suhu tubuh 1. Deteksi dini
Jam 08.15 berhubungan tindakan keperawatan 2. Berikan kompres terjadinya perubah
Wib dengan proses selama 3 x 24 jam, hangat an abnormal fungsi
penyakit pasien diharapkan 3. Anjurkan keluarga tubuh (adanya
tidak terjadi untuk memberi infeksi)
peningkatan suhu minum banyak 2. Merangsang pusat
tubuh dengan kriteria pada kien, 1,5-2 pengatur panas
hasil : lt/hr untuk
 Suhu tubuh dalam 4. Anjurkan menurunkan produ
rentang normal memakai baju tipis ksi panas tubuh
 Nadi dan RR dalam 5. Kolaborasi paraceta 3. Mengganti cairan
rentang normal mol dan elektrolit yang
 Tidak ada hilang secara oral
perubahan warna 4. Agar dapat
kulit menyerap keringat
5. Merangsang pusat
pengatur panas di
otak
3 11-12-2017 Risiko Setelah dilakukan 1. Monitor keadaan 1. Untuk mengetahui
Jam 08.30 gangguan tindakan keperawatan umun keadaan umum
Wib keseimbangan selama 1 x 24 jam, 2. Kaji balance cairan pasien
volume cairan: diare berhenti dengan 3. Monitor tanda vital 2. Mengetahui
kurang dari kriteria hasil: 4. Monitor status balance cairan
kebutuhan tubuh  Mempertahankan hidrasi 3. Memonitor tanda-
berhubungan hidrasi adekuat (kelembaban, tanda
dengan diare membrane mukosa, kegawatdaruratan
nadi adekuat) 4. Mencegah
5. Berikan penkes terjadinya dehidrasi
kepada orang tua 5. Mempertahankan
untuk pemberian cairan dalam tubuh
oralit/LGG untuk
pertolongan pertama
jika diare di rumah.
6. Monitor turgor kulit

8) Implementasi
No Tanggal/Jam Diagnosa Implementasi Respon TTD
1 11-12-2017
08.00 Wib 1,2 Monitor tanda vital S: Ibu klien mengatakan
anaknya sesak nafas dan
demam
O: Nadi: 130 x/i
RR: 53 x/i
Suhu : 39 oC
Membran mukosa bibir
kering

08.15 Wib 1,2 Head Up 30o S: Ibu klien mengatakan


Kompres hangat anaknya demam dan rewel
O: RR: 55 x/i
Suhu: 38 oC

08.30 Wib 1 Pertahankan jalan nafas S: Ibu klien mengatakan


anaknya sudah mulai tenang
O: Klien tampak sesak
RR: 55 x/i

09.00 Wib 1 Anjurkan untuk tidak minum S: Ibu klien mengatakan


saat tachpnea Anaknya lemas
O: Pasien tampak masih sesak
RR: 53 x/i

09.15 Wib 2,3 Anjurkan keluarga untuk S: Ibu klien mengerti


memberi minum banyak pada O: Anak mau minum banyak
kien, 1,5-2 lt/hr saat tidak sesak
Pasien minum 100 cc

09.30 Wib 2 Anjurkan memakai baju tipis S: keluarga mengerti


O: pasien memakai baju tipis

09.45 Wib 2,3 Pantau intake dan output S : Ibu klien mengatakan
anaknya masih lemas
O: Input:
Susu: 300 cc
Infuse: 500 cc +
800 cc
Output:
Urin: 300 cc
IWL: 250 cc
Feses: 240 cc +
790 cc
Balance cairan
Input-output:
800 cc - 790 cc = + 10

13.00 Wib 2,3 Pantau intake dan output S : Ibu klien mengatakan
anaknya masih lemas
O: Input:
Susu: 300 cc
Infuse: 500 cc +
800 cc
Output:
Urin: 300 cc
IWL: 250 cc
Feses: 240 cc +
790 cc
Balance cairan
Input-output:
800 cc - 790 cc = + 10

2 12-12-2017
Jam 08.00 1,2 Monitor tanda vital S: Ibu klien mengatakan
Wib anaknya sesak nafas dan
demam
O: Nadi: 130 x/i
RR: 48 x/i
Suhu : 37,5 oC
Membran mukosa bibir
lembab

Jam 08.15 1 Head Up 30o S: Ibu klien mengatakan


Wib anaknya demam dan rewel
O: RR: 48 x/i
Suhu: 38 oC

Jam 08.30 1 Pertahankan jalan nafas S: Ibu klien mengatakan


Wib anaknya sudah mulai tenang
O: Klien tampak sesak
RR: 48 x/i

Jam 11.10 1 Anjurkan untuk tidak minum S: Ibu klien mengatakan


Wib saat tachpnea Anaknya lemas
O: Pasien tampak masih sesak
RR: 48 x/i

Jam 11.15 2,3 Anjurkan keluarga untuk S: Ibu klien mengerti


Wib memberi minum banyak pada O: Anak mau minum banyak
kien, 1,5-2 lt/hr saat tidak sesak
Pasien minum 100 cc

2 Anjurkan memakai baju tipis S: keluarga mengerti


O: pasien memakai baju tipis

2,3 Pantau intake dan output S : Ibu klien mengatakan


anaknya masih lemas
O: Input:
Susu: 400 cc
Infuse: 500 cc +
900 cc
Output:
Urin: 340 cc
IWL: 250 cc
Feses: 140 cc +
630 cc
Balance cairan
Input-output:
900 cc - 630 cc = + 270
Pantau intake dan output
Jam 13.00 2,3 S : Ibu klien mengatakan
Wib anaknya masih lemas
O: Input:
Susu: 400 cc
Infuse: 500 cc +
900 cc
Output:
Urin: 250 cc
IWL: 1400 cc
Feses: 140 cc +
630 cc
Balance cairan
Input-output:
900 cc - 630 cc = + 270 cc

3 13-12-2017
3 Memantau tanda dan gejala S: Ibu klien mengatakan
kekurangan cairan anaknya sudah banyak
minum, sesak berkurang dan
badan sudah
tidak panas
O: Nadi: 120 x/i
RR: 40 x/i
Suhu : 37,3 oC
Membran mukosa bibir
lembab

3 Pantau intake dan output S : Ibu klien mengatakan


anaknya masih lemas
O: Input:
Susu: 350 cc
Infuse: 500 cc +
850 cc
Output:
Urin: 300 cc
IWL: 250 cc
Feses: 100 cc +
650 cc
Balance cairan
Input-output:
850 cc - 650 cc = + 200
9) Catatan Perkembangan
No Tanggal/Jam Diagnosa Catatan Perkembangan TTD
1 11-12-2017 Ketidakefektifan S: Ibu klien mengatakan
Jam 08.00 pola nafas anaknya sesak nafas dan rewel
Wib berhubungan O: RR: 55 x/i
dengan proses A: Masalah teratasi sebagian
inflamasi pada P: Intervensi dilanjutkan
saluran  Observasi tanda vital, adanya cyanosis,
pernafasan serta pola, kedalaman dalam pernafasan
 Berikan posisi yang nyaman pada pasien
 Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang
bebas.
 Anjurkan untuk tidak memberikan minum
selama periode tachypnea

Jam 09.00 Hipertermi S: Ibu klien mengatakan anaknya demam dan


Wib berhubungan lemas
dengan proses O: Suhu: 37,5 oC
penyakit A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan
 Monitor suhu tubuh
 Berikan kompres hangat
 Anjurkan keluarga untuk memberi
minum banyak pada kien, 1,5-2 lt/hr
 Anjurkan memakai baju tipis
 Kolaborasi paracetamol

S : Ibu klien mengatakan


Jam 10.00 Risiko
anaknya masih lemas
Wib gangguan
O: Input:
keseimbangan
Susu: 400 cc
volume cairan:
Infuse: 500 cc +
kurang dari
900 cc
kebutuhan tubuh
Output:
berhubungan
Urin: 340 cc
dengan diare
IWL: 250 cc
Feses: 140 cc +
630 cc
Balance cairan
Input-output:
900 cc - 630 cc = + 270
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan
 Monitor keadaan umun
 Kaji balance cairan
 Monitor tanda vital
 Monitor status hidrasi (kelembaban,
membrane mukosa, nadi adekuat)
 Berikan penkes kepada orang tua untuk
pemberian oralit/LGG untuk pertolongan
pertama jika diare di rumah.
 Monitor turgor kulit
2 11-12-2017 Ketidakefektifan S: Ibu klien mengatakan
Jam 08.00 pola nafas anaknya sudah tidak sesak lagi
Wib berhubungan O: RR: 40 x/i
dengan proses A: Masalah teratasi
inflamasi pada P: -
saluran
pernafasan

Jam 09.00 Hipertermi S: Ibu klien mengatakan badan anaknya hangat


Wib berhubungan O: Suhu: 37,5 oC
dengan proses A: Masalah teratasi
penyakit P: -

Jam 10.00 Risiko S : Ibu klien mengatakan


Wib gangguan anaknya masih lemas
keseimbangan O: Input:
volume cairan: Susu: 400 cc
kurang dari Infuse: 500 cc +
kebutuhan tubuh 900 cc
berhubungan Output:
dengan diare Urin: 340 cc
IWL: 250 cc
Feses: 140 cc +
630 cc
Balance cairan
Input-output:
900 cc - 630 cc = + 270
A: Masalah teratasi sebagian
P: Intervensi dilanjutkan
 Monitor keadaan umun
 Kaji balance cairan
 Monitor tanda vital
 Monitor status hidrasi (kelembaban,
membrane mukosa, nadi adekuat)
 Berikan penkes kepada orang tua untuk
pemberian oralit/LGG untuk pertolongan
pertama jika diare di rumah.
 Monitor turgor kulit
3 13-12-2017 Risiko S : Ibu klien mengatakan
Jam 14.00 gangguan anaknya masih lemas
Wib keseimbangan O: Input:
volume cairan: Susu: 350 cc
kurang dari Infuse: 500 cc +
kebutuhan tubuh 850 cc
berhubungan Output:
dengan diare Urin: 300 cc
IWL: 250 cc
Feses: 100 cc +
650 cc
Balance cairan
Input-output:
850 cc - 650 cc = + 200
A: Masalah teratasi
P: -
B. CRITICAL REVIEW
Judul Penelitian : Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Perubahan Suhu Tubuh
Pada Pasien Anak Hipertermia Di Ruang Rawat Inap RSUD
Dr. Moewardi Surakarta
Peneliti : Sri Purwanti, Winarsih Nur Ambarwati
Jurnal : FIK UMS
Tahun : 2017
Tujuan Penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia
Hasil Yang Diukur : Kompres menggunakan air hangat (30-32oC) dilakukan dilokasi
dahi dan axilla selama 10 menit dan kompres diberikan pada 2 jam sebelum
pemberian antipiretik (parasetamol).
Sampel: Metode penelitian ini adalah komperatif dengan pendekatan pre test - post
test. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Sampel
terdiri dari 30 anak.
Hasil: Hasil pengujian uji statistik didapatkan p value 0,001 < 0,05 yang
menunjukkan ada pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pada
pasien anak hipertermia. Rata-rata penurunan suhu tubuh dengan kompres hangat
adalah sebesar 1oC.
1. Alasan Memilih Penelitian Ini
a. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terdapat pengaruh kompres hangat
terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia.
b. Penelitian ini tidak memiliki efek samping terhadap kondisi penyakit pasien.
2. Kelebihan
a. Penelitian ini menggunakan terapi mandiri yang dapat digunakan oleh siapapun
dalam menurunkan demam.
b. Penelitian ini mengggunakan test awal dan test akhir yang diberikan kepada
kelompok yang sama, setelah selang waktu untuk memberikan perlakuan.
3. Kekurangan
Dalam melakukan kompres dapat dipengaruhi oleh obat-obatan yang dikonsumsi
responden.
C. PEMBAHASAN
Metode penelitian ini adalah studi kasus dengan sampel yang digunakan yaitu
sebanyak 3 orang anak yang dirawat di ruang IRNA Anak RSUD Kecamatan Mandau
Duri. Semua sampel diberikan perlakuan yang sama dan diobservasi perubahan suhu
tubuh setelah dilakukan kompres hangat selama 10 menit yang tiap 5 menit air diganti
agar kehangatannya tetap terjaga. Kompres merupakan metode pemeliharaan suhu
tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau
dingin pada bagian tubuh yang memerlukan (Asmadi, 2008). Penggunaan air hangat
dalam kompres pada kasus hipertermia adalah dapat mencegah pasien untuk
menggigil sehingga pasien tidak mengalami peningkatan suhu tubuh akibat
menggigilnya otot (Sodikin, 2012).
Tabel 1
Hasil pre test dan post test kompres hangat
No Inisial Klien Kompres hangat
Pre Test Post Test
1 An. E 39,1oC 38,oC
2 An. R 38,9oC 38,1 oC
o
3 An. A 39 C 38,4 oC

Anak I (perempuan) berusia 1 tahun 5 bulan dengan diagnosa Gastro Enteritis


Akut Dehidrasi Ringan-Sedang, dirawat selama... hari dilakukan kompres hangat
selama 10 menit terjadi perubahan suhu tubuh hingga 1,1 oC. Perubahan suhu tubuh
ini juga dipengaruhi dengan memakai baju tipis, banyak minum dan nutrisi. Anak II
(laki-laki) berusia 1 tahun 3 bulan dengan diagnosa Gastro Enteritis Akut Dehidrasi
Sedang, dirawat selama 5 hari juga dilakukan kompres hangat selama 10 menit terjadi
perubahan suhu tubuh hingga 0,8 oC. Hal ini juga dipengaruhi dengan memakai baju
tipis, banyak minum dan nutrisi. Anak III (Laki-laki) berusia 2 tahun 6 bulan dengan
diagnosa Dehidrasi Sedang ec Low Intake, dirawat selama ... hari juga dilakukan
kompres hangat selama 10 menit terjadi perubahan suhu tubuh hingga 0,6 oC hal ini
karena dikarenakan anak kurang banyak minum dan mengalami muntah serta
pemasukan nutrisi yang kurang. Kompres merupakan metode pemeliharaan suhu
tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau
dingin pada bagian tubuh yang memerlukan (Asmadi, 2008).
Penggunaan air hangat dalam kompres pada kasus hipertermia adalah dapat
mencegah pasien untuk menggigil sehingga pasien tidak mengalami peningkatan suhu
tubuh akibat menggigilnya otot (Sodikin, 2012). Penemuan ini sesuai dengan
Nurwahyuni (2009) yang menjelaskan bahwa terdapat mekanisme tubuh terhadap
kompres hangat dalam upaya menurunkan suhu tubuh yaitu dengan pemberian
kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui
sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus
dirangsang, sistem efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan
vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor
pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik bagian
anterior sehingga vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan
pembuangan/kehilangan energi/panas melalui kulit meningkat (berkeringat),
diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal
kembali.
Hasil yang didapatkan dalam penerapan evidence based ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Sri Purwanti pada 30 responden. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penurunan suhu tubuh setelah dilakukan kompres selama 10
menit adalah kurang dari 1 derajat Celcius. Penurunan suhu ini tidak secara mencolok
atau dratis hal yang demikian adalah baik karena akan membuat mekanisme
penyesuaian tubuh yang baik.
Berdasarkan hasil penerapan evidence based pengaruh kompres hangat
terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia di ruang IRNA Anak,
dimana didapatkan hasil bahwa terjadi penurunan suhu tubuh pada semua pasien yang
diberikan kompres hangat, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh kompres hangat
terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia, dapat diterapkan dengan
aman sebagai salah satu terapi yang memberikan dampak positif baik secara fisik
maupun psikologis.

D. KETERBATASAN
Penerapan evidence based practice dalam asuhan keperawatan pada pasien
hipertermia di ruangan IRNA Anak sudah dapat dilakukan dengan baik, namun masih
terdapat keterbatasan seperti alat kompres dan tempat kompres serta air panas yang
masih terbatas sehingga agak membuat keluarga pasien sedikit kesusahan. Selain itu
karena keterbatasan waktu, penulis hanya bisa menerapkan kepada 3 orang pasien
hipertermia saja.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Setelah menerapkan evidence based kepada 3 pasien dengan hipertermia selama 3
minggu dapat disimpulkan bahwa:
1. Anak I dan Anak II mengalami perubahan suhu tubuh antara 0,8 oC – 1,1 oC hal ini
dipengaruhi karena menggunakan pakaian tipis dan banyak minum. Anak III hanya
mengalami perubahan suhu 0,6 oC hal ini dikarenakan kurangnya minum air dan
pemasukan nutrisi yang kurang juga.
2. Penerapan evidance based practice tentang pengaruh kompres hangat dan terhadap
perubahan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia menunjukkan bahwa
pemberian kompres hangat tersebut memang mempunyai pengaruh terhadap
perubahan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia didapatkan hasil bahwa terjadi
penurunan suhu tubuh pada semua pasien hipertermia yang berpartisipasi sebagai
responden.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Bagi Ruang IRNA Anak
Diharapkan perawat dapat mengaplikasikan evidence based practice ini sebagai
terapi mandiri untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien hipertermia. Selain itu
perawat dapat memasukkan kompres hangat dalam intervensi keperawatan
sehingga membantu pemulihan paska hipertermia secara cepat dan membuat suatu
bentuk penyuluhan berkala kepada pasien.
2. Bagi Departemen Keperawatan Anak
Diharapkan asuhan keperawatan dengan aplikasi evidence based practice dapat
terus dipertahankan untuk praktik Keperawatan Anak selanjutnya karena pasien
telah mendapatkan manfaatnya dari penerapan evidence based practice yang telah
dilakukan penulis.
3. Bagi Pemberi Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Hipertermia berikutnya
Perlu aplikasikan pada proses asuhan keperawatan dengan beberapa penelitian
terkait lainnya sehingga didapatkan hasil yang lebih optimal.
4. Bagi Masyarakat
Hasil penerapan evidence based penelitian ini agar dapat diaplikasikan oleh pasien
dan keluarga dalam membantu menurunkan suhu tubuh anggota keluarga yang
menderita Hipertermia secara efisien dan efektif. Selain itu, masyarakat diharapkan
lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obat kimia dan ada baiknya mencoba
pengobatan alami sebagai pilihan pengobatan ataupun mandiri dalam mengatasi
hipertermia.
DAFTAR PUSTAKA

Abraham, M. Rudolph, 2006. Buku ajar pediatri, volume 2. Jakarta: EGC

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar
Klien. Jakarta: Salemba Medika.

Avin, V. 2007. Perbedaan penurunan suhu klien febris antara kompres hangat dengan
tanpa kompres hangat pada reseptor suhu di Ruang Anak RSU Dr. Saiful Anwar
Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan. No 9, Vol 58.

Bulechek, M.G dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC), 6th Indonesian
edition. Indonesia: Mocomedia.

Brunner, D. C., Suddarth, J., H. 2005. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Carpenito, L., Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis. Jakarta:
EGC.

Darwis, D. 1981. Penatalaksanaan kegawatan pediatrik. Beberapa masalah dan


penanggulanggan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

F. Keith Battan, MD, FAAP, Glen Faries, MD. 2007. Chapter 11: Emergencies & injuries.
Current pediatric diagnosis & treatment. Eighteenth Edition, the Mc Graw-Hill
Companies; by Appleton & Lange.

H. Sofyan Ismail. 1981. Hiperpireksia. Kegawatdaruratan dan kegawatan medik. Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Handiono. D. Pusponegoro. Penatalaksanaan demam pada anak.

Henretig. FM. Fever. 1993. Dalam: Fleisher GR, Ludwig S, penyunting. Textbook of
pediatric emergency medicine; edisi ke-3. Baltimore: Williams dan Wilkins.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2012. Pengatur Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika.

Kozier. Erb, Berman. Snyder. 2010. Buku Ajar Fondamental Keperawatan: Konsep,
Proses & Praktik, Volume : 1, Edisi: 7, EGC: Jakarta.

Mohamad, Fatmawati. 2011. Efektifitas kompres hangat dalam menurunkan demam pada
pasien thypoid abdominalis di Ruang G1 Lt.2 RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota
Gonrontalo, Jurnal Keperawatan. No 1, Vol 1.

Nurwahyuni, Ika. 2009. Perbedaan efek teknik pemberian kompres hangat pada daerah
aksila dan dahi terhadap penurunan suhu tubuh pada klien demam di ruang rawat
inap RSUP Dr. Sudirohusodo Makasar. Diperoleh pada tanggal 04 Januari 2017 dari
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/484/skripsi.pdf?sequen
ce=1.
Perry & Potter. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses Dan Praktik.
Edisi 4. Jakarta: EGC.

Purwanti, S. 2008. Pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien
anak hipertermi di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Diperoleh
pada tanggal 04 Januari 2017 dari
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/484/2f.pdf?sequence=1
Richard C. Dart, MD, PhD. 2007. Chapter 12: Poisoning. Current pediatric diagnosis &
treatment, Eighteenth Edition, the McGraw-Hill Companies; by Appleton & Lange.

Sofwan, Rudianto. 2010. Cara cepat atasi demam pada anak. Jakarta: Bhuana Ilmu
Populer.

Suriadi, R., Yuliani. 2010. Asuhan keperawatan pada anak. Edisi 2. Jakarta: CV. Sagung
Seto.

Todd J. Kilbaugh Jimmy W. Huh Mark A. Helfaer. 2006. Chapter 34: Disorders of
temperature control. Current Pediatric Therapy, 18th ed. Saunders, An Imprint of
Elsevier.
LAMPIRAN

1. Kasus klien kelolaan 2


a. INFORMASI UMUM:
Nama : An. R
Umur : 1 tahun 3 bulan
Tanggal Lahir : 19 September 2016
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku Bangsa : Melayu
Tanggal masuk : 20 Desember 2017
Tanggal Pengkajian : 21 Desember 2017
Dari/Rujukan :-
Dx. Medis : Gastro Enteritis Akut + Dehidrasi Sedang
No. MR : 09.86.64
b. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT
Mencret sejak ± 3 hari sebelum masuk rumah sakit berwarna kuning kehijauan,
mencret > 5 x/hari, badan lemas, dan demam.
c. KELUHAN UTAMA SAAT PENGKAJIAN
Ibu klien mengatakan sudah 3 hari mencret, lemas dan disertai demam. Mencret
dialami > 5 x/hari.
d. RIWAYAT KESEHATAN SEBELUMNYA
Klien belum pernah dirawat dengan penyakit yang sama
e. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Ibu klien mengatakan bahwa tidak ada keluarga menderita penyakit yang sama dan
keluarga klien tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, hipertensi dan DM.
Genogram:
Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Laki-laki meninggal
: Klien
: Tinggal serumah
f. PEMERIKSAAN TERFOKUS
1) Pengkajian
Kepala : Mesochepal, tidak ada lesi dan benjolan, rambut rapi, bersih
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung : Simetris, tidak ada polip
Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis
Telinga : Simetris, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan vena
jugularis
Dada : Simetris dan tidak ada kelainan
Jantung : Tidak ada kelainan
Abdomen : Tidak ada kelainan
2) Tanda-tanda vital:
Nadi : 124 x/i
Suhu : 38,9 oC
RR : 30 x/i
3) Hasil Laboratorium
Hb : 11,9 gr/dl
Leukosit : 18.560 /uL
Hematokrit : 359 %
Trombosit : 574.000 /uL
Glukosa Sewaktu : 89 mg/dL
4) Medikasi/obat-obatan yang diberikan saat ini
Zinc 1 x 20 mg
Lacto B 2 x1 sachet
Oralit 50 cc (bila BAB cair)
Paracetamol tab 2 x ½ cth
Cefixime 2 x 2 cth
5) Diagnosa Keperawatan
a) Devisit volume cairan
b) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

2. Kasus klien kelolaan 3


a. INFORMASI UMUM:
Nama : An. A
Umur : 2 tahun 6 bulan
Tanggal Lahir : 04 Juni 2014 Jenis
Kelamin : Laki-laki
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal masuk : 24 Desember 2017
Tanggal Pengkajian : 25 Desember 2017
Dari/Rujukan :-
Dx. Medis : Dehidrasi Sedang ec Low Intake
No. MR : 12.58.92
b. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT
Muntah-muntah dan badan lemas.
c. KELUHAN UTAMA SAAT PENGKAJIAN
Pasien demam, muntah-muntah, kelihatan lemes, tidak mau makan dan minum
kurang
d. RIWAYAT KESEHATAN SEBELUMNYA
Klien pernah dirawat dengan penyakit luka bakar
e. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Ibu klien mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang
sama dengan klien dan keluarga klien tidak mempunyai riwayat penyakit jantung,
hipertensi dan DM.
Genogram:

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Laki-laki meninggal
: Klien
: Tinggal serumah
f. PEMERIKSAAN TERFOKUS
1) Pengkajian
Kepala : Mesochepal, tidak ada lesi dan benjolan, rambut rapi, bersih
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung : Simetris, tidak ada polip
Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis
Telinga : Simetris, tidak ada serumen
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan vena
jugularis
Dada : Simetris dan tidak ada kelainan
Jantung : Tidak ada kelainan
Abdomen : Tidak ada kelainan
2) Tanda-tanda vital:
Nadi : 142 x/i
Suhu : 39 oC
RR : 50 x/i
3) Hasil Laboratorium
Hb : 9,1 gr/dl
Leukosit : 14.220 /uL
Hematokrit : 23,8 %
Trombosit : 322.000 /uL
Glukosa Sewaktu : 117 mg/dL
4) Medikasi/obat-obatan yang diberikan saat ini
Sanvita 1 x 1 cth
Paracetamol 3 x ½ cth
Clabat 3 x 1 cth
GOM Solution 3 x 2 tetes
5) Diagnosa Keperawatan
a) Devisit volume cairan
b) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
c) Risiko pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan Intake inadekuat
DOKUMENTASI

Anak I Anak II

Anak III
Persentase Kasus
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL KOMPRES HANGAT

I. Pengertian
Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan
menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang
memerlukan. Pemberian kompres dilakukan pada radang persendian, kekejangan otot,
perut kembung dan kepanasan.

II. Tujuan
1. Memperlancar sirkulasi darah
2. Menurunkan suhu tubuh
3. Mengurangi rasa sakit
4. Memberi rasa hangat, nyaman dan tenang pada klien
5. Memperlancar pengeluaran eksudat
6. Merangsang peristaltik usus

III. Indikasi
1. Klien yang kepanasan (suhu tubuh yang tinggi)
2. Klien dengan perut kembung
3. Klien yang punya penyakit peradangan, seperti radang persendian
4. Spasme otot
5. Adanya abses, hematoma

IV. Alat dan Bahan


1. Larutan kompres berupa air hangat 34-37 oC dalam wadah (kom)
2. Handuk/kain/washlap untuk kompres
3. Handuk pengering
4. Sarung tangan
5. Termometer
6. Pengalas/perlak
V. Prosedur Tindakan
1. Beri tahu klien dan siapkan alat, klien dan lingkungan
2. Cuci tangan
3. Ukur suhu tubuh
4. Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak terlalu basah
5. Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres (dahi dan axilla)
6. Tutup kain kompres dengan handuk kering
7. Apabila kain telah kering atau suhu kain relatif menjadi dingin, masukkan kembali
kain kompres ke dalam cairan kompres dan letakkan kembali di daerah kompres,
lakukan berulang-ulang hingga efek yang diinginkan dicapai
8. Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 10 menit
9. Setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang basah dan
rapikan alat
10. Cuci tangan

VI. Evaluasi
1. Respon klien
2. Alat kompres terpasang dengan benar
3. Suhu tubuh klien membaik
4. Setiap 5 menit air hangat diganti
5. Kompres diberikan pada 2 jam sebelum pemberian antipiretik (parasetamol)

VII. Dokumentasi
1. Waktu pelaksanaan
2. Catat hasil dokumentasi setiap tindakan yang dilakukan dan di evaluasi
3. Nama perawat yang melaksanakan
LEMBAR OBSERVASI PEMANTAUAN DEMAM

1. Pasien Kelolaan 1
Nama Inisial : An. E
Umur : 1 tahun 5 bulan
MR : 12.51.34
Tanggal Pengkajian : 11 Desember 2017
Hari/Tanggal Jam Nadi Suhu RR Implementasi Nama &
TT
I/11-12-2017 08.00 Wib 130 x/i 39,1oC 55 x/i  Menganjurkan memakai
10.00 Wib 126 x/i 38 oC 50 x/i baju tipis
12.00 Wib 120 x/i 37,9 oC 46 x/i  Melakukan kompres hangat
14.00 Wib 116 x/i 37,5 o C 45 x/i  Menganjurkan minum
banyak ± 175 cc
II/12-12-2017 08.00 Wib 122 x/i 37,5 oC 48 x/i  Menganjurkan memakai
10.00 Wib 120 x/i 37,2 o C 45 x/i baju tipis
12.00 Wib 120 x/i 37,3 o C 43 x/i  Menganjurkan banyak
14.00 Wib 118 x/i 37 oC 40 x/i minum ± 230 cc

2. Pasien Kelolaan 2
Nama Inisial : An. R
Umur : 1 tahun 3 bulan
MR : 09.86.64
Tanggal Pengkajian : 21 Desember 2017
Hari/Tanggal Jam Nadi Suhu RR Implementasi Nama &
TT
I/21-12-2017 08.00 Wib 124 x/i 38,9 oC 30 x/i  Menganjurkan memakai
10.00 Wib 126 x/i 38,1 oC 32 x/i baju tipis
12.00 Wib 120 x/i 37,5 oC 38 x/i  Melakukan kompres hangat
14.00 Wib 120 x/i 37,3 o C 34 x/i  Menganjurkan minum
banyak ± 200 cc
II/22-12-2017 08.00 Wib 120 x/i 36,8 oC 32 x/i  Menganjurkan memakai
10.00 Wib 126 x/i 37,2 o C 36x/i baju tipis
12.00 Wib 122 x/i 36,9 o C 30 x/i  Menganjurkan banyak
14.00 Wib 124 x/i 36,4 oC 32 x/i minum ± 300 cc
3. Pasien Kelolaan 1
Nama Inisial : An. A
Umur : 2 tahun 6 bulan
MR : 12.58.92
Tanggal Pengkajian : 25 Desember 2017
Hari/Tanggal Jam Nadi Suhu RR Implementasi Nama &
TT
I/25-12-2017 08.00 Wib 128 x/i 39 oC 32 x/i  Menganjurkan memakai
10.00 Wib 126 x/i 38,4oC 30 x/i baju tipis
12.00 Wib 130 x/i 37,7 oC 30 x/i  Melakukan kompres hangat
14.00 Wib 126 x/i 37,5 o C 34 x/i  Menganjurkan minum
banyak ± 250 cc
II/26-12-2017 08.00 Wib 126 x/i 38 oC 30 x/i  Menganjurkan memakai
10.00 Wib 122 x/i 37,7 o C 34 x/i baju tipis
12.00 Wib 124 x/i 37,3 o C 30 x/i  Menganjurkan banyak
14.00 Wib 124 x/i 36,8 oC 32 x/i minum ± 200 cc
GRAFIK PENURUNAN SUHU

An. E
39.5

39

38.5

38

37.5 Hari I
Hari II
37

36.5

36

35.5
Jam 08.00 Jam 10.00 Jam 12.00 Jam 14.00

An. R

39.5

39

38.5

38

37.5
Hari I
37 Hari II

36.5

36

35.5

35
Jam 08.00 Jam 10.00 Jam 12.00 Jam 14.00
An. A

39.5

39

38.5

38

37.5 Hari I
Hari II
37

36.5

36

35.5
Jam 08.00 Jam 10.00 Jam 12.00 Jam 14.00