Vous êtes sur la page 1sur 11

35| JURNAL ILMU BUDAYA

Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

MEMBANGUN PROFESIONALISME GURU


DALAM BINGKAI PENDIDIKAN KARAKTER
Muhammad Hanafi
STKIP Muhammadiyah Rappang
Afied_c@yahoo.co.id

Abstract
Teachers are professional educators with the primary task of educating, teaching, guiding,
directing, training, assessing, and evaluating learners in early childhood education, primary
education, and secondary education. Professional is a work or activity undertaken by a person
and becomes a source of income of his life that requires expertise, skill or skill that meets
certain quality or norm standards and requires professional education. As a profession, the
competence that must be possessed by a teacher, namely personality competence, pedagogic
competence, professional competence, and social competence.
Teachers have a strategic role in the field of education, even other adequate educational
resources are often meaningless if not accompanied by adequate teacher quality. Likewise,
the opposite happen, if the quality teacher is poorly supported by other supporting resources
are adequate, can also cause less optimal performance. In other words, teachers are at the
forefront of improving the quality of education services and outcomes. In many cases, the
quality of the education system as a whole is related to the quality of teachers. To that end,
improving the quality of education should be done through efforts to improve the quality of
teachers character. The professionalism of a teacher must be framed in character education,
because to educate the character of the learner can only be done by a teacher of character. So,
educating characters must be character, because the most effective way of educating is to set
an example.
Key words: Professionalism, character education, teachers, pedagogic systems, learners

A. Latar Belakang bangsa tersebut. Namun, sebagian juga


Kekuatan sebuah bangsa ditandai oleh menilai hal itu positif adanya, sebab dapat
semakin kuatnya tata nilai dan karakter menjadi daya dukung percepatan
bangsa tersebut. Tata nilai dan karakter pembangunan bangsa.
yang kukuh dari sebuah bangsa tidak Faktor internal yang berpengaruh besar
terbentuk secara alami, melainkan melalui terhadap pembentukan karakter bangsa di
interaksi sosial yang dinamis dan antaranya adalah pembangunan dunia
berkesinambungan. Banyak faktor yang pendidikan. Pembangunan dunia
berpengaruh besar terhadap karakter suatu pendidikan haruslah dibingkai lewat
bangsa. Secara eksternal, arus globalisasi pendidikan karakter sebab berorientasi
merupakan faktor yang paling strategis pada manusia sebagai subjek dan objek
membawa pengaruh besar terhadap tata pembangunan. Dengan demikian,
nilai dan karakter suatu bangsa. Sebagian pendidikan karakter manusia sebagai
pihak menganggapnya sebagai ancaman individu dan sebagai masyarakat dapat
yang berpotensi meruntuhkan tata nilai dan dibentuk dan diarahkan sesuai dengan
karakter bangsa dan menggantikannya tuntutan pendidikan nasional. Karakter
dengan tata nilai pragmatisme, manusia secara individu dan masyarakat
materialisme, dan neoliberalisme. Hal akan memberikan sumbangan besar
tersebut dapat merusak karakter bangsa terhadap pembentukan karakter bangsa
yang sebelumnya sudah menjadi identitas yang bermartabat.
36| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

Pendidikan merupakan bentuk Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, yang


investasi jangka panjang yang vital bagi menyebutkan bahwa pendidikan nasional
hidup dan kehidupan manusia. Salah satu berfungsi mengembangkan kemampuan
faktor utama kemajuan suatu bangsa dan dan membentuk karakter serta peradaban
negara terletak pada bidang pendidikan. bangsa yang bermartabat dalam rangka
Pendidikan yang baik dan berkarakter akan mencerdaskan kehidupan bangsa.
menciptakan manusia yang pantas dan Pendidikan nasional bertujuan untuk
berkelayakan di tengah masyarakat. berkembangnya potensi peserta didik agar
Masyarakat memahami bahwa guru menjadi manusia yang beriman dan
merupakan salah satu di antara sekian bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
banyak unsur yang berpengaruh terhadap berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
pembentukan karakter peserta didik. kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
Perkembangan dunia pendidikan bukan yang demokratis serta bertanggung jawab.
hanya membutuhkan sumber daya manusia Profesi adalah suatu pekerjaan
(SDM) yang profesional di bidangnya. memerlukan keahlian, menggunakan
Namun demikian, juga dibutuhkan SDM teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang
yang cerdas dan berkarakter. Sejalan tinggi. Keahlian diperoleh dari lembaga
dengan tuntutan kebutuhan tersebut, pendidikan yang khusus diperuntukkan
restrukturisasi pendidikan haruslah untuk itu dengan kurikulum yang jelas
dilakukan. Pendidikan tidaklah semata serta dapat dipertanggungjawabkan.
diarahkan untuk menghasilkan lulusan Semakin dituntutnya profesionalitas
yang memiliki kapasitas intelektual tetapi seorang guru, maka guru sebagai tenaga
juga harus memiliki multiple intelligence profesional tentunya harus memahami
yang berbasis pendidikan karakter. sosok guru yang profesional itu. Secara
Kegiatan pendidikan di sekolah umum, sikap profesional seorang guru
sepenuhnya berada dalam tanggung jawab dilihat dari faktor luar. Akan tetapi, hal
para guru. Guru harus berupaya untuk tersebut belum mencerminkan seberapa
mengelola seluruh proses pembelajaran di baik potensi yang dimiliki guru sebagai
sekolah yang menjadi lingkup tanggung seorang tenaga pendidik, pengajar, dan
jawabnya. Dalam menghadapi tuntutan pelatih.
perkembangan zaman, guru memegang B. Potret Buram Pendidikan Karakter
peranan yang sangat penting dan strategis di Indonesia
dalam upaya membentuk karakter siswa Pendidikan karakter yang diluncurkan
dalam kerangka pembangunan manusia oleh Kemendiknas sejak tahun 2010 belum
Indonesia seutuhnya. Tampaknya mampu menekan tindak kekerasan di
kehadiran guru saat ini bahkan sampai kalangan peserta didik. Krisis karakter
akhir zaman nanti tidak akan pernah dapat yang dialami bangsa ini membenarkan
digantikan oleh media secanggih apapun. pendapat Mochtar Lubis (1997:123)
Oleh sebab itu, dewasa ini deperlukan tentang ciri manusia Indonesia antara lain:
guru yang profesional dan berkarakter munafik, segan dan enggan bertanggung
dalam rangka menjawab problematika jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul,
dunia pendidikan. Guru yang profesional artistik, berwatak lemah, tidak hemat,
dan berkarakter diharapkan secara kurang gigih, dan tidak terbiasa bekerja
berkesinambungan dapat meningkatkan keras. Pendapat tersebut tidaklah
kompetensinya, baik kompetensi sepenuhnya dapat dibenarkan karena
pedagogik, kepribadian, sosial, maupun sejarah mencatat pengorbanan bangsa
profesional. Indonesia dalam merebut kemerdekaannya
Hal tersebut di atas sejalan dengan yang menunjukkan jiwa nasionalisme yang
tuntutan UU No 20 Tahun 2003 tentang tinggi. Namun, jujur diakui bahwa ciri
37| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

yang dikemukakan di atas merupakan Secara ideologi dan political will,


kecenderungan umum dari masyarakat agama tetaplah dilindungi dan
Indonesia. Terlepas dari semua itu, diperhatikan oleh negara. Namun, gejala
pendidikan karakter seharusnya menjadi kedangkalan penghayatan nilai keagamaan
media perbaikan sekaligus pembentukan peserta didik begitu tampak dalam praktik
karakter bangsa. di lapangan. Mengapa demikian?
Globalisasi dicap sebagai penyebab Jawabnya, pendidikan di Indonesia
utama krisis moral kemanusiaan. cenderung memakai metode barat yang
Globalisasi telah menawarkan kemewahan posivistik, yang lebih menekankan sesuatu
materil dan kebebasan yang tak terkendali yang terukur dari segi kuantitatif. Hal
sehingga pendidikan karakter tersebut memberi kesan kepada pemberian
terpinggirkan. Pengaruhnya dapat menjadi pengetahuan agama dibandingkan dengan
sindrom menakutkan bagi karakter peserta penumbuhan dan pembentukan nilai
didik. Globalisasi bukanlah satu-satunya agama yang terbingkai dalam setiap
ancaman dalam dunia pendidikan, tetapi karakter maupun kepribadian peserta
harus diwaspadai karena dapat didik.
meruntuhkan nilai-nilai lokal dan Berdasarkan metode pembelajarannya,
keluhuran budaya bangsa. tampak terjadi kelemahan karena
Patut disadari bahwa segala sesuatu difokuskan pada pelibatan otak kiri
mempunyai sisi positif dan negatif. (kognitif) yang hanya mewajibkan peserta
Demikian halnya dengan globalisasi, ada didik untuk mengetahui dan menghafal
manfaat dan mudaratnya. Solusinya adalah konsep dan kebenaran tanpa menyentuh
menerima manfaat dan menghindari perasaan dan hati nuraninya. Kenyataan ini
mudaratnya. Globalisasi yang bersumber membuat rancangan pendidikan karakter
dari dunia barat membawa serta peradaban kurang menyentuh pribadi peserta didik.
barat yang ada kalanya kurang sesuai Ryan (2012) menegaskan bahwa
dengan pola hidup budaya timur. Lewat pudarnya harapan akan pendidikan
pendidikan karakterlah solusinya, sebab karakter tidak dapat dilepaskan dari
pendidikan karakter merupakan sarana beberapa faktor yang mendorong
efektif untuk menangkal dampak negatif mandeknya desain kurikulum dalam
arus globalisasi. membentuk kepribadian peserta didik.
Takdir Ilahi (2014:5) mensinyalir Kegagalan pendidikan karakter bukan
bahwa pendidikan karakter di Indonesia menjadi kesalahan pihak tertentu saja,
bukan hanya fokus pada pembentukan melainkan menyangkut beberapa
sikap prilaku peserta didik tetapi juga komponen penting yang ikut terlibat dalam
harus memperkuat nilai-nilai keagamaan proses pendewasaan individu. Beberapa
yang berbasis spiritual. Menurutnya, faktor yang melatar belakangi kegagalan
sekolah menerapkan pendidikan karakter pendidikan karakter dapat menjadi
dalam struktur kurikulum. Namun, sekolah cerminan bahwa pemerintah telah gagal
belum mampu mengintegrasikannya dalam dalam mengorientasikan kurikulum ini
konteks pendidikan agama. Pendidikan secara integral ke semua materi pelajaran,
agama yang tertuang dalam kurikulum sehingga generasi muda menjadi korban
pendidikan karakter jelas kurang memadai arogansi pemegang kebijakan. Akibatnya,
dan gagal memberikan pencerahan pada penerapan pendidikan karakter yang
aspek spiritual peserta didik. Bahkan diajarkan mengalami pergeseran
menurutnya pula, materi yang diajarkan paradigma dari nilai-nilai luhur menjadi
dan metode yang digunakan sama sekali nilai-nilai egosentris yang melekat pada
tidak berbeda jauh dari dunia pendidikan individu generasi muda.
barat yang sekuler.
38| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

Takdir Ilahi (2014:134) memaparkan santun, dan sikap kurang ramah terhadap
bukti kegagalan pendidikan karakter guru.
adalah semakin maraknya tawuran Hal tersebut berdampak terhadap
antarpelajar dan antarmahasiswa di kualitas SDM dan daya saing bangsa. Hal
beberapa kota besar. Di tengah euphoria ini ditandai dengan Human Developmen
pelaksanaan pendidikan karakter di Index (HDI) Indonesia yang berada pada
Indonesia, fenomena tawuran antarpelajar, rangking 69 dari 104 negara. Catatan dari
mahasiswa, dan pembegalan semakin tidak UNDP tahun 2006 dan 2007 posisi
terkendali. Situasi ini menimbulkan Indonesia lebih merosot pada urutan ke-
keresahan bagi ketertiban dan keamanan 108 dari 177 negara. Menurut catatan
masyarakat secara luas. Fenomena tawuran UNDP, Indonesia di posisi yang jauh lebih
belakangan ini menjadi trend dan rendah dari Malaysia, Filipina, Vietnam,
seringkali menjadi kebiasaan di kalangan Kamboja, bahkan Laos. Sementara Global
pelajar dan mahasiswa. Competiveness, indeks tahun 2008
Kurniawan dan M. Rois (2004:85) menurut Bank Dunia, Indonesia berada di
mencatat bahwa perilaku bullying menjadi peringkat 54 dari 134 negara. Taiwan dan
bagian dari agresi yang mencerminkan Singapore menempati urutan ke-5 dan 6,
kemarahan yang meluap-luap dan sedangkan Jepang urutan ke-12, Cina dan
melakukan penyerangan kasardari India berada pada urutan ke-49 dan 50
seseorang yang mengalami kegagalan. (Sauri 2012)
Reaksinya bisa dalam bentuk kemarahan Selanjutnya, Sauri (2012) merilis
hebat dan emosi yang meledak-ledak. dampak yang lebih luas dari out put
Adakalanya berupa tindakan kekerasan, pendidikan kita adalah munculnya oknum-
sadistis, bahkan membunuh orang. Agresi oknum guru dan tenaga kependidikan yang
semacam ini sangat mengganggu fungsi berprilaku amoral. Laporan ICW (Pikiran
intelegensi sehingga menyebabkan Rakyat, 18 Nov. 2006) ditemukan kasus
timbulnya penyakit hipertensi atau tekanan yang sangat mencoreng dunia pendidikan
darah tinggi. Peningkatan aktivitas yakni penyalahgunaan dana BOS yang
kriminal dalam berbagai bentuk dan disinyalir banyak disunat para birokrat
modusnya merupakan problem akut yang pendidikan (Kepala Sekolah dan Dinas
bisa mengancam stabilitas dan keamanan Pendidikan.
masyarakat secara keseluruhan. C. Pembinaan Guru yang Profesional
Perkembangan Iptek ternyata membawa dan Berkarakter
dampak negatif yang dapat mengancam Berdasarkan potret buram pendidikan
krisis moral masyarakat yang berpotensi karakter yang telah dipaparkan di atas
meningkatkan jumlah orang melawan Rizali ( 2009:3) menyarankan agar arah
hukum pidana dengan berbagai modus dan praktik pendidikan Indonesia perlu
yang berbeda-beda. dikaji ulang untuk perbaikannya. Salah
Hawari (1999:77) menegaskan bahwa satu faktor yang perlu dikaji adalah
tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan profesionalisme guru dalam melaksanakan
tindak kriminal di kalangan remaja tugasnya. Kualitas pendidikan suatu
disebabkan oleh tidak adanya komunikasi bangsa bergantung pada kualitas gurunya
yang baik antara keluarga, sekolah, dan dan kualitas guru ditentukan oleh
masyarakat. Konsep tersebut sesuai keinginan guru itu dalam meningkatkan
dengan fenomena terjadinya penurunan kualitasnya. Pendidikan yang unggul tidak
moral peserta didikyang ditengarai sering lepas dari peran guru yang unggul pula,
terjadinya perkelahian antarsiswa, sehingga menghargai sekaligus
pergaulan bebas, kasus narkoba, kebut- memberdayakan guru dalam konteks
kebutan, geng motor, pudarnya sopan reformasi pendidikan wajib hukumnya.
39| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

Pembinaan dan pengembangan guru kapasitas dan kompetensi profesional


yang profesional diwarnai oleh lahirnya dalam mengarahkan individu-individu
Undang-Undang No 14 Tahun 2005 menjadi sosok yang memiliki karakter dan
tentang Guru dan Dosen. UU ini lahir mentalitas yang bisa diandalkan dalam
dengan pertimbangan bahwa proses pembangunan bangsa.
pembangunan nasional dalam bidang Dalam tataran normatif betapa mulia
pendidikan merupakan upaya dan strategisnya kedudukan guru. Namun,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan dalam realitas di lapangan tidak sedikit
meningkatkan kualitas manusia Indonesia guru yang tidak mencerminkan peran
yang beriman, bertakwa, dan berakhlak strategisnya sebagai guru, bahkan ia jauh
mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, dari garis jati diri keguruannya.
teknologi, dan seni menuju masyarakat Penyimpangan-penyimpangan moral,
yang maju, adil, makmur, dan beradab tampilan kepribadian yang tidak
berdasarkan Pancasila dan Undang- sewajarnya, landasan penguasaan norma-
Undang Dasar 1945. Selain itu, dalam norma agama yang lemah dan sejumlah
rangka menjamin perluasan dan patologi sosial lainya tidak jarang kita
pemerataan akses pendidikan, peningkatan temukan. Banyak faktor yang
mutu dan relevansi pendidikan, serta tata memengaruhi hal tersebut terjadi. Jika hal
pemerintahan yang baik dan akuntabilitas ini dibiarkan dapat memberikan ekses
pendidikan yang mampu menghadapi buruk bagi dunia pendidikan, khususnya
tantangan sesuai dengan tuntutan terhadap kualitas lulusan dan output
perubahan zaman. Hal ini dilakukan dalam pendidikan serta karakter masyarakat
rangka pemberdayaan dan peningkatan sebagai objek pendidikan.
mutu guru dan dosen secara terencana, Proses pendidikan masih jauh dari
terarah dan berkesinambungan. tujuanya, sehingga menjadi sangat urgen
Guru mempunyai peran dan untuk dilakukan sebuah upaya strategis
kedudukan yang sangat strategis dalam dalam mempersiapkan sosok guru yang
pembangunan nasional khususnya dalam mampu menjadi panutan dan
bidang pendidikan. Dalam UU tersebut melaksanakan profesinya secara
guru didefinisikan sebagai pendidik profesional sehingga ia bisa diandalkan
profesional dengan tugas utama mendidik, dan diteladani oleh siswanya. Berangkat
mengajar, membimbing, mengarahkan, dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa
melatih, menilai dan mengevaluasi peserta guru sebagai entitas strategis dalam upaya
didik. Dengan ditegaskannya sebagai membentuk karakter bangsa yang
pekerjaan profesional, otomotis menuntut memiliki jati diri dan bermartabat
adanya prinsip profesionalitas yang ditengah-tengah bangsa lainnya sangat
selayaknya dijungjung tinggi dan diperlukan peranannya. Di sisi lain
dipraktekan oleh para guru. Seorang guru pembinaan profesionalisme guru menjadi
hendaknya memiliki kualifikasi, hal yang sangat urgen dan mendesak untuk
kompetensi, dan sertifikasi yang jelas. dikembangkan dengan mengintegrasikan
Faktor kompetensi sebagai seorang pendidikan karakter sebagai fundasi arah
pendidik sangatlah penting, terlebih objek pembinaan.
yang menjadi sasaran pekerjaanya adalah Selain profesionalitas guru, faktor lain
peserta didik yang diibaratkan kertas putih. yang harus dikaji ulang adalah
Gurulah yang akan menentukan apa yang profesionalitas pengelola pendidikan,
hendak dituangkan dalam kertas tersebut, sebab sekolah merupakan institusi tempat
berkualitas tidanya bergantung kepada pendidikan berlangsung. Berdasarkan
sejauhmana guru bisa menempatkan pandangan sosial, sekolah merupakan
dirinya sebagai pendidik yang memiliki institusi sosial yang tidak berdiri sendiri.
40| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

Sebagai institusi sosial, sekolah bukanlah pejabat negara, dan artis. Hal ini tentu
tempat yang steril dari pengaruh luar. akan berdampak serius pada karakter anak
Siswa datang dari keluarga dan masyarakat yang telah dibangun oleh orang tua dan
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidik.
sekolah tidak dapat dipisahkan dari Profesionalisme guru yang harus
masyarakatnya, bahkan sekolah dibangun oleh LPTK adalah guru yang
merupakan miniature dari masyarakat memiliki kompetensi paedagogik,
lingkungannya. profesional, sosial, dan kepribadian. Hal
Dalam rangka membangun guru yang tersebut sesuai dengan UU no. 14 tahun
profesional perlu adanya Lembaga 2005 tentang guru dan dosen, PP no,74
Pendidikan tanaga Kependidikan (LPTK) tahun 2008, dan Permendiknas no.16 tahun
yang profesional pula sehingga mampu 2007. Lutfi (2009:140) menegaskan bahwa
mencetak calon guru yang professional. LPTK diharapkan mampu membentuk
Selanjutnya, mereka yang diamanahi guru yang memiliki kriteria-kriteria
menjadi profesional itu harus dibingkai seperti: profesi guru sebagai panggilan
oleh seperangkat nilai khusunya nilai jiwa, memiliki pengetahuan dan
agama. Oleh karena itu, kompetensi dalam kecakapan, memiliki jiwa pengabdian,
bidang pendidikan karakter harus menjadi memiliki kecakapan diagnostik dan
bagian integral dalam diri setiap lulusan kompetensi aplikatif, otonomi, dan
calon guru. Mata pelajaran apapun yang memahami kode etik profesi.
diampuh dapat memberikan kontribusi Dalam perspektif pendidikan Islam
langsung bagi pembentukan karakter Khalifah dan Quthub (2009:40)
generasi bangsa. Derngan demikian, krisis mengungkapkan karakter guru muslim
moral dan akhlak generasi bangsa yang sebagai berikut: (1) ruhiyah dan
kini kian menghawatirkan segera teratasi akhlakiyah, (2) mengharap pahala akhirat,
melalui gerakan kolektif dari semua guru (3) tidak emosional, (4) rasional, (5) sosial,
profesional berbasis pendidikan karakter. (6) sehat, dan (7) profesional. Sementara
Hal di atas sejalan dengan pendapat itu, Sauri (2012) mengemukakan bahwa
Ida S. Widayanti dalam bukunya LPTK harus mampu membangun guru
“Mendidik Karakter dengan Karakter”. yang profesional dengan karakter seperti
Dalam bukunya beliau mengutip pendapat memiliki kekuatan visi, kekuatan ilmu,
Daniel Goleman yang mengatakan bahwa kekuatan paedagogik, kepribadian,
di dalam otak manusia terdapat banyak kompetensi nilai moral, dan menjadikan
syaraf cermin (mirror neuron) yang dapat Allah swt sebagai maha guru dan
memantulkan aktivitas orang lain. Tanpa Muhammad saw sebagai model guru
disadari manusia akan saling menyalin sejati. Dahlan dalam Sauri ( 2012)
ekspresi wajah, pola napas, gerak tubuh, menegaskan bahwa Al-Quran
dan sifat secara menular. Dalam hal menampilkan enam prinsip yang harus
pembangunan karakter, peran role model dijadikan pegangan bagi guru profesional
dari guru dan orang-orang yang yakni: (1) qaulan sadida, (2) qaulan
berpengaruh di masyarakat memiliki andil ma’rufa, (3) qaulan baligha, (4) qaulan
40%, penanaman nilai 25%, dan maysura, (5) qaulan layyina, dan (6)
penegakan sistem 35%. Yang menjadi qaulan karima.
problem adalah tantangan orang tua, guru, D. Peran Strategis Guru Profesional
dalam mendidik karakter saat ini adalah dalam Membangun Karakter
datang dari berbagai pihak antara lain: Sebagai pekerjaan profesional, guru
para politisi, pejabat negara, dan artis. memiliki ragam tugas, baik yang terkait
Fakta memperlihatkan kasus-kasus dengan tugas kedinasan maupun di luar
pelanggaran nilai dilakukan oleh politikus, dinas dalam bentuk pengabdian. Jika
41| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

dikelompokan, terdapat tiga jenis tugas perubahan di segala ranah kehidupan,


guru, yakni tugas dalam bentuk profesi, termasuk perubahan tata nilai yang
tugas kemanusiaan, dan tugas dalam menjadi fundasi karakter bangsa.
bidang kemasyarakatan. Guru merupakan Hipotesisnya adalah semakin optimal guru
profesi yang memerlukan keahilian khusus melaksanakan fungsinya, maka semakin
sebagai guru. Jenis pekerjaan ini tidak terjamin dan terbinanya kesiapan dan
dapat dilakukan oleh sembarang orang di keandalan seseorang sebagai manusia yang
luar bidang kependidikan, walaupun diandalkan dalam pembangunan bangsa.
kenyataanya tidak sedikit dilakukan oleh Dengan kata lain, potret dan wajah diri
orang diluar kependidikan. Oleh karena bangsa di masa depan tercermin dari potret
itu, jenis profesi ini paling mudah terkena diri para guru masa kini. Gerak maju
pencemaran. dinamika kehidupan bangsa berbanding
Tugas guru sebagai profesi meliputi lurus dengan citra para guru di tengah-
mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik tengah masyarakat dewasa ini.
berarti meneruskan dan mengembangkan Dalam melaksanakan tugas
nilai-nilai hidup serta mengembangkan keprofesionalannya, berdasarkan UU No
karakter individu. Mengajar berarti 14 tahun 2005 pasal 20, maka guru
meneruskan dan mengembangkan ilmu berkewajiban untuk:
pengetahuan dan teknologi. Sedangkan 1. merencanakan pembelajaran,
melatih berarti mengembangkan melaksanakan proses pembelajaran
keterampilan-keterampilan pada individu yang bermutu, serta menilai dan
yang menjadi peserta didik. Adapun tugas mengevaluasi hasil pembelajaran;
guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah 2. meningkatkan dan mengembangkan
harus dapat menjadikan dirinya sebagai kualifikasi akademik dan kompetensi
orang tua kedua. Ia harus mampu menarik secara berkelanjutan sejalan dengan
simpati sehingga menjadi idola para perkembangan ilmu pengetauan,
peserta didiknya. Pelajaran apa pun yang teknologi dan seni;
diberikan, hendaknya dapat menjadi 3. bertindak objektif dan tidak
motivasi bagi peserta didiknya dalam diskriminatif atas dasar pertimbangan
belajar. Bila dalam jenis kelamin, agama, suku, ras dan
penampilanya sudah tidak menarik, kondisi fisik tertentu atau latar belakang
maka kegagalan pertama adalah ia tidak keluarga dan status sosial ekonomi
akan dapat menanamkan benih peserta didik dalam pembelajaran;
pembelajaran itu kepada para peserta 4. menjungjung tinggi peraturan
didiknya. Mereka akan enggan perundang-undangan, hukum dan kode
menghadapi guru yang tidak menarik. etik guru serta nilai-nilai agama dan
Guru pada hakikatnya merupakan etika;
komponen strategis yang memiliki peran 5. memelihara dan memupuk persatuan
penting dalam proses pembangunan suatu dan kesatuan bangsa.
bangsa. Keberadaan guru merupakan Sedangkan peranan dan kompetensi
faktor yang tidak mungkin digantikan oleh guru dalam proses belajar-mengajar
komponen manapun dalam kehidupan meliputi banyak hal sebagaimana yang
bangsa sejak dahulu, terlebih pada era dikemukakan oleh Adams & Decey dalam
kontemporer ini. Keberadaan guru bagi Basic Principles of Student Teaching,
suatu bangsa sangatlah penting, terlebih antara lain guru sebagai pengajar,
bagi keberlangsungan hidup bangsa di pemimpin kelas, pembimbing, pengatur
tengah-tengah lintasan perjalanan zaman lingkungan, partisipan, ekspeditor,
dengan ilmu pengetahuan dan teknologi perencana, superpisor, motivator, dan
yang kian mutakhir dan mendorong konselor. Yang akan dipaparkan di sini
42| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

adalah peranan yang dianggap paling mengajar agar mencapai hasil yang baik.
dominan sebagaimana dikemukakan oleh Sedangkan tujuan khusunya adalah
Usman (2001:9-11) sebagai berikut. mengembangkan kemampuan siswa dalam
1. Guru sebagai demonstrator menggunakan alat-alat belajar,
Melalui peranannya sebagai menyediakan kondisi-kondisi yang
demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru memungkinkan siswa bekerja dan belajar,
hendaknya senantiasa menguasai bahan serta membantu siswa untuk memperoleh
atau materi pembelajaran yang akan hasil yang diharapkan.
diajarkannya serta senantiasa Sebagai manager guru bertanggung
mengembangkannya karena hal ini akan jawab memelihara lingkungan fisik
sangat menentukan hasil belajar yang kelasnya agar senantiasa menyenangkan
dicapai oleh siswa. Salah satu yang harus untuk belajar dan mengarahkan proses-
diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri proses intelektual dan sosial di dalam
/adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru kelasnya. Dengan demikian guru tidak
harus belajar terus-menerus. Dengan cara hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi
demikian ia akan memperkaya dirinya juga mengembangkan kebiasaan bekerja
dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai dan belajar secara efektif di kalangan
bekal dalam melaksanakan tugasnnya siswa.Tanggung jawab yang lain sebagai
sebagai pengajar dan demonstrator, manager yang penting bagi guru ialah
sehingga mampu memperagakan apa yang membimbing pengalaman-pengalaman
diajarkannya secara didaktis. siswa sehari-hari ke arah self directerd
Seorang guru juga hendaknya mampu behavior. Salah satu menagemen kelas
memahami kurikulum, dan dia sendiri yang baik adalah menyediakan
sebagai sumber belajar, terampil dalam kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi
memberikan informasi kepada siswa. sedikit mengurangi ketergantungannya
Sebagai pengajar ia pun harus membantu para guru sehingga mereka mampu
perkembangan anak didik untuk dapat membimbing kegiatannya sendiri. Siswa
menerima, memahami, serta menguasai harus belajar melakukan self control dan
ilmu pengetahuan. Untuk itu, guru self activity melalui proses bertahap.
hendaknya mampu memotivasi siswa Sebagai manager guru hendaknya
untuk senantiasa belajar dalam berbagai mampu memimpin kegiatan belajar yang
kesempatan. efektif serta efisien dengan hasil optimal.
2. Guru sebagai pengelola kelas Guru hendaknya mampu mempergunakan
Dalam peranannya sebagai pengelola pengetahuan tentang teori belajar dan teori
kelas (learning manager), guru hendaknya perkembagan sehingga kemungkinan
mampu mengelola kelas sebagai untuk menciptakan situasi belajar-
lingkungan belajar, serta merupakan aspek mengajar yang menimbulkan kegiatan
dari lingkungan sekolah yang perlu belajar pada siswa akan mudah
diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan dilaksanakan dan sekaligus memudahkan
diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar pencapaian tujuan yang diharapkan.
terarah kepada tujuan pendidikan. Kualitas 3. Guru sebagai mediator dan fasilitator
dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas Sebagai mediator guru hendaknya
bergantung pada banyak faktor, antara lain memiliki pengetahuan dan pemahaman
adalah guru, hubungan pribadi antara yang cukup tentang media pendidikan
siswa di dalam kelas serta kondisi umum karena media pendidikan merupakan alat
dan suasana di dalam kelas.Tujuan umum komunikasi untuk lebih mengefektifkan
pengelolaan kelas ialah menyediakan dan proses belajar-mengajar. Dengan demikian
menggunakan fasilitas kelas untuk media pendidikan merupakn dasar yang
bermacam-macam kegiatan belajar sangat diperlukan yang bersifat
43| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

melengkapi dan merupakan bagian integral efektif memberikan hasil yang baik dan
demi berhasilnya proses pendidikan dan memuaskan, atau sebaliknya. Jadi, jelaslah
pengajaran di bahwa guru hendaknya mampu dan
sekolah.Sebagai mediator guru pun terampil melaksanakan penilaian karena
menjadi perantara dalam hubungan antar dengan penilaian guru dapat mengetahui
manusia. prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia
Berdasarkan hal tersebut di atas, guru melaksanakan proses belajar. Dalam
harus terampil mempergunakan fungsinya sebagai penilai hasil belajar
pengetahuan tentang cara berinteraksi dan siswa, guru hendaknya terus menerus
berkomunikasi. Tujuannya agar guru dapat mengikuti hasil belajar yang telah dicapai
menciptakan secara maksimal kualitas oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi
lingkungan yang interaktif. Dalam hal ini yang diperoleh melalui evaluasi ini
ada tiga macam kegiatan yang dapat merupakan umpan balik (feedback)
dilakukan oleh guru, yaitu mendorong terhadap proses belajar mengajar. Umpan
berlangsungnya tingkah laku sosial yang balik ini akan dijadikan titik tolak untuk
baik, mengembangkan gaya interaksi memperbaiki dan meningkatkan proses
pribadi, dan menumbuhkan hubungan belajar-mengajar selanjutnya. Dengan
yang positif dengan para siswa. Sebagai demikian proses belajar mengajar akan
fasilitator, guru hendaknya mampu terus menerus ditingkatkan untuk
mengusahakan sumber belajar yang memperoleh hasil yang optimal.
berguna serta dapat menunjang pencapaian 5. Peran guru dalam
tujuan dan proses belajar mengajar, baik pengadministrasian
yang berupa narasumber, buku teks, Dalam hubungannya dengan
majalah, internet, atau pun surat kabar. pengadministrasian, seorang guru dapat
4. Guru sebagai evaluator berperan sebagai berikut.
Dalam proses belajar-mengajar yang a. Pengambil inisiatif, pengarah, dan
dilakukan, guru hendaknya menjadi penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan.
seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini Hal ini berarti guru turut serta
dimaksudkan untuk mengetahui apakah memikirkan kegiatan-kegiatan
tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai pendidikan yang direncanakan serta
atau belum, dan apakah materi yang nilainya.
diajarkan sudah cukup tepat. Semua b. Wakil masyarakat yang berarti dalam
pertanyaan tersebut akan dapat dijawab lingkungan sekolah, guru menjadi
melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. anggota suatu masyarakat. Guru harus
Dengan penilaian, guru dapat mengetahui mencerminkan suasana dan kemauan
keberhasilan pencapaian tujuan, masyarakat dalam arti yang baik.
penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta c. Orang yang ahli dalam mata pelajaran.
ketepatan atau keefektifan metode belajar. Guru bertanggung jawab untuk
Tujuan lain dari penilaian diantaranya mewariskan kebudayaan kepada
adalah untuk mengetahui kedudukan siswa generasi muda yang berupa
di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan pengetahuan.
penilaian guru dapat mengklasifikasikan d. Penegak disiplin, guru harus menjaga
seorang siswa termasuk kelompok siswa agar tercapai suatu disiplin.
yang pandai, sedang, kurang, atau cukup e. Pelaksana administrasi pendidikan, di
baik di kelasnya, jika dibandingkan samping menjadi pengajar, guru pun
dengan teman-temannya. bertanggung jawab akan kelancaran
Dengan menelaah pencapaian tujuan jalannya pendidikan dan ia harus
pelajaran, guru dapat mengetahui apakah mampu melaksanakan kegiatan-
proses belajar yang dilakukan cukup kegiatan administrasi.
44| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

f. Pemimpin generasi muda, masa depan melaksanakan tugasnya atas dasar


generasi muda terletak di tangan guru. prinsip-prinsip psikologi.
Guru berperan sebagai pemimpin b. Seniman dalam hubungan antarmanusia
mereka dalam mempersiapkan diri (artist in human relation), yaitu orang
untuk anggota masyarakat yang dewasa. yang mampu membuat hubungan
g. Penerjemah kepada masyarakat, artinya antarmanusia untuk tujuan tertentu,
guru berperan untuk menyampaikan dengan menggunakan teknik tertentu,
segala perkembangan kemajuan dunia khususnya dalam kegiatan pendidikan.
sekitar kepada masyarakat, khususnya c. Pembentuk kelompok sebagai jalan atau
masalahmasalah pendidikan. alat dalam pendidikan.
6. Peran guru secara pribadi d. Catalytic agent, yaitu orang yang
Dilihat dari segi dirinya sendiri (self mempunyai pengaruh dalam
oriental), seorang guru harus berperan menimbulkan pembaharuan. Sering
sebagai berikut. pula peranan ini disebut sebagai
a. Petugas sosial, yaitu seorang yang harus inovator (pembaharu).
membantu untuk kepentingan e. Petugas kesehatan mental (mental
masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan hygiene worker) yang bertanggung
masyarakat guru senantiasa merupakan jawab terhadap pembinaan kesehatan
petugas-petugas yang dapat dipercaya mental khususnya kesehatan mental
untuk berpartisipasi di dalamnya. siswa.
b. Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa E. Penutup
terus menerus menuntut ilmu Dalam konteks pembangunan profesi
pengetahuan. Dengan berbagai cara guru dan karakter bangsa, maka guru
setiap saat guru senantiasa belajar untuk dengan segala tugas dan peranannya,
mengikuti perkembangan ilmu memiliki peranan strategis dan sangat
pengetahuan. menentukan terpeliharanya karakter
c. Orang tua, yaitu mewakili orang tua bangsa sebagai pondasi jati diri bangsa
murid di sekolah dalam pendidikan yang bermartabat. Sosok manusia yang
anaknya. Sekolah merupakan lembaga berkarakter sebagai modal terbentuknya
pendidikan sesudah keluarga, sehingga karakter bangsa, akan dilahirkan oleh
dalam arti luas sekolah merupakan sosok guru yang menjungjung tinggi
keluarga, guru berperan sebagai orang profesionalitasnya dan berpegang teguh
tua bagi siswasiswanya. kepada sistem nilai yang menjadi
d. Teladan, yaitu senantiasa menjadi pegangan bangsanya sebagai pendidik
teladan yang baik untuk siswa. Guru yang berkarakter. Jadi, mendidik karakter
menjadi ukuran norma-norma tingkah harus dengan karakter.
laku dimata siswa. Generasi muda usia sekolah sebagai
e. Pencari keamanan, yaitu yang harapan masa depan bangsa, termasuk
senantiasa mencarikan rasa aman bagi harapan terjaganya karakter bangsa, sikap
siswa. Guru dan prilakunya diantaranya akan
f. menjadi tempat berlindung bagi siswa- ditentukan oleh sejauhmana guru
siswa untuk memperoleh rasa aman dan memegang peranannya dalam proses
g. puas di dalamnya. pendidikan. Pendidikan nasional yang
7. Peran guru secara psikologis mencita-citakan terlahirnya generasi yang
Peran guru secara psikologis, guru berkarakter sebagaimana tercantum dalam
dipandang sebagai berikut. UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem
a. Ahli psikologi pendidikan, yaitu Pendidikan Nasional bab II pasal 3 sebagai
petugas psikologi pendidikan, yang berikut. ”Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan
45| JURNAL ILMU BUDAYA
Volume 5, Nomor 1, Juni 2017, ISSN 2354-7294

membentuk watak serta peradaban bangsa Ryan, Kevin. 2012. “The Failure of
yang bermartabat dalam rangka Modern Character Education”.
mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan Disampaikan dalam Conference
untuk berkembangnya potensi peserta Papers at the Inaugural Conference
didik agar menjadi manusia yang beriman of the Jubilee Centre for Character
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha and Values, Character and Public
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, Policy. Education for an Ethical
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Life. University of Birmingham,
negara yang demokratis serta bertanggung Friday 14th December 2012.
jawab.” Sosok manusia yang memiliki
karakter beriman dan bertakwa kepada S.Widayanti, Ida. 2013. Mendidik
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, Karakter dengan Karakter. Jakarta:
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan Arga Tilanta
menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. Dalam mencapai Sauri, Sofyan. Membangun
tujuan pendidikan nasional di atas, maka Profesionalisme Guru Berbasis
dalam operasionalisasinya sangat Nilai Bahasa Santun Bagi
ditentukan oleh peran serta seorang guru. Pembinaan Kepribadian Bangsa
Oleh karena itu, guru memiliki peranan yang Bijak. Online, diakses pada
yang strategis dalam upaya membangun tanggal 1 Maret 2016.
dan memelihara karakter bangsa.
Takdir Ilahi, Muhammad. 2014. Gagalnya
Daftar Pustaka Pendidikan Karakter: Analisis dan
Solusi Pengendalian Karakter
Hawari. 1999. Humanisasi Pendidikan. Emas Anak Didik. Yogyakarta: Ar-
Jakarta: Bumi Aksara Ruzz Media.

Khalifah dan Quthub. 2009. Urgensi Usman. 2001. Model-model


Pendidikan Karakter. Jakarta: Pembelajaran, Mengembangkan
Idayu Press. Profesionalisme Guru. Jakarta:
Rajagrafindo Persada
Kurniawan, Singgih dan A. Mutho, M.
Rois. “Tawuran, Prasangka
terhadap Kelompok Siswa Sekolah
Lain, serta Konformitas pada
Kelompok Teman Sebaya” dalam
Proyeksi, Vol. 4 (2), 2004.

Lubis, Mochtar. 1997. Manusia Indonesia:


sebuah Pertanggungjawaban.
Jakarta: Idayu Press.

Lutfi, Sarif. 2009. Mencetak Guru yang


Peofesional dan Berkarakter.
Jakarta: Idayu Press.

Rizali. 2009. Pendidikan Anak untuk


Demokrasi. Yogyakarta: Bigraf.