Vous êtes sur la page 1sur 22

BAB I

TINJAUAN MEDIS

A. DEFINISI
1. Kekurangan Kalori Protein
Kekurangan kalori protein (KKP) atau Malnutrisi Energi protein
(MEP) adalah keadaan ketidakcukupan asupan protein dan kalori yang
dibutuhkan oleh tubuh; dikenal juga dengan marasmus dan kwashiorkor.
MEP terjadi jika kebutuhan tubuh terhadap kalori protein atau keduanya
tidak tercukupi oleh diet (Udal, et al., 2001).
Kekurangan energi protein adalah keadaan kurang gizi yang
disebabkan oleh rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan
sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG)
(Depkes, 1999).
Malnutrisi energi protein adalah seseorang yang kekurangan gizi
yang disebabkan oleh konsumsi energi protein dalam makanan sehari-
hari atau gangguan penyakit tertentu. (Suparno, 2000).

2. Obesitas
Obesitas adalah keadaan yang menunjukkan adanya kelebihan
lemak tubuh yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah
kulit), sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan ke dalam
jaringan organnya (Danari dkk, 2013).
Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu dengan terdapatnya
penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi
tubuh yang normal (Winaktu, 2017).
Obesitas adalah keadaan penimbunan jaringan lemak tubuh yang
berlebihan dan ditandai dengan adanya gambaran klinis yang khas (IKA,
2017).

1
B. ETIOLOGI
1. Kekurangan Kalori Protein
Penyebab langsung dari MEP adalah defisiensi kalori mauun
protein, yang berati kurangnya konsumsi makan yang mengandung
kalori maupun protein, hambatan utilisasi zat gizi. Adanya penyakit
infeksi dan infestasi cacing dapatmemberikan hambatan absropsi dan
hambatan utilisasi zat-zat gizi yang menjadi dasar timbulnya MEP.
Penyebab tidak langsung dari MEP ada beberapa hal yang
dominan, antara lain ; pendapatan yang rendah sehingga daya beli
terhadap makan terrutama makan berprotein rendah. Penyebab tak
langsung yang lain adalah daya beli yang rendah. Penyebab lain yang
mempengaruhi defisiensi konsumsi makanan berenergi dan berprotein
adalah rendahnya pendidikan umum dan pendidikan gizi, sehinngga
kurang adanya pemahaman peranan gizi terhadap anak. Selainitu, adanya
produksi pangan yang tidak mencukupi kebutuhan, jumlah anak yang
terlalu banyak, kondisi higienis yang kurang baik, sistem peradangan
dan distribusi yang tidak lancar serta merata.
Penyebab langsung MEP dapat dijelaskan sebagai berikut
(Sodikin, 2012) :
a) Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi yang bisa menyebabkan MEP antara lain , cacat air,
batuk rejang, TBC, malaria, diare dan cacing. Misalnya cacing
askaris lubricoedes, dapat memberikan hambatan absorsi dan
hambatan kultilisasi zat-zat gizi yang dapat menurunkan daya tahan
tubuh yang semakin lama dan tidak terperhatikan akan merupakan
dasar timbulnya MEP.
b) Konsumsi Makanan
Faktor yang diperhatikan dalam pemberian makan adalah umur,
aktivitas, keadaan sakit dan jenis kelamin. Pada anak yang meskipun
metabolisme sama dengan orang dewasa tetapi mereka lebih aktif
perkembangan tubuhnya sehingga memerlukan tambahan ekstra zat
gizi untuk pertumbuhannya. Lebih mudah umur anak maka lebih

2
banyak makanan yang diperlukan untuk tiap kilogram berat
badannya.
c) Kebutuhan Energi
Kebutuhan energy tiap anak berbeda, yang ditentukan oleh
metabolism basal tubuh, umur, aktivitas, fisik, suhu, lingkungan,
serta kesehatannya. Tiap gram lemak, protein, dan karbohidrat
masing-masing menghasilkan 9 kalori, 5 kalori, dan 4 kalori.
Dianjurkan agar jumlah energy yang diperlukan di dapat dari 50-
60% karbohidrat, 25-35% protein dan 10-15% lemak.
Energy yang dibutuhkan seseorang ada beberapa faktor :
1) Jenis kelamin
Pria membutuhkan energy lebih banyak dari pada wanita.
2) Umur
Pada anak-anak energy yang dibuthkan lebih banyak dari pada
kelompok umur lainnya karena pada umur ini tubuh
memerlukan energy untuk pertumbuhan badan.
3) Aktivitas fisik
Semakin berat aktivitas fisik yang dilakukan oleh seseorang,
akan memerlukan energy yang semakin banyak pula.
4) Kondisi fisiologis
Kondisi fisiologis sesorang juga mempengaruhi kebutuhannya
terhadap energy, misalnya pada waktu hamil, menyusui, ataupun
setelah sakit.

2. Obesitas (Andriani, 2016)


a) Faktor fisiologi
1) Pemasukan energy lebih dari yang dibutuhkan.
2) Pengeluaran energy.
3) Gen thrifty.
4) Etnik terutama bila mengadopsi gaya hidup barat.

3
b) Faktor genetik
1) Syndrome Prader-Wili.
2) Kekurang leptin syndrome lainnya.
3) Kekurangan zat.
c) Faktor sosial
1) Kurangnya olahraga
2) Gaya hidup sedentary
3) TV
4) Gamne Komputer
5) Pekerjaan sedentary
6) Anak obesitas menjadi dewasa obesitas
7) Kehamilan
d) Faktor lingkungan
1) Pemasaran makanan berdentitas tinggi dan soft drink.
2) Aktivitas sosial berkurang.
3) Perubahan gaya hidup (kurang aktivitas).
e) Faktor kebiasaan
1) Konsumsi fast food.
2) Konsumsi makanan sehat yang tidak diproses dengan baik.
3) Konsumsi makanan tinggi lemak.
4) Sering ngemil.
5) Konsumsi alcohol.
6) Penambahan berat berhubungan dengan berhenti merokok.
7) Kurang teraturnya pola makan.
f) Penyakit endokrin
1) Hipertiroid.
2) Hipotiroid.
3) Cushings syndrome.
4) Kekurangan hormone pertumbuhan.
5) Polycystic.
g) Ketidakmampuan mental dan fisik

4
1) Mental : skizofrenia, down syndrome, ketidakmampuan belajar
dan eating disorders.
2) Ketidakmampuan fisik : penggunaan kursi roda karena sakit
atau usia (penurunan faktor aktifitas).
h) Obat-obatan
1) Kortisol dan glukokortikoid lain.
2) Penghambat monoamin oksidase.
3) Sulfonilurea.
4) Tiazolidindion.
5) Risperidon.
6) Klozapin
7) Insulin (dosis berlebih).
8) Kontrasepsi oral.

C. KLASIFIKASI
1. Kekurangan Kalori Protein
a) Marasmus
Marasmus disebabkan oleh asupan kalori yang tidak memadai
akibat diet yang tidak cukup, kebiasaan makan tidak tepat (misalnya,
hubungan antara orang tua dengan anak terganggu atau tidak
harmonis), kelainan metabolik, atau malformasi kongenital.
Gangguan berat setiap sistem tubuh dapat mengakibatkan malnutrisi
(Sodikin, 2012).
b) Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein yang
berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi
namun asupan protein yang inadekuat (Liyansyah, 2015).
c) Marasmiks-Kwashiorkor
Merupakan gabungan beberapa gejala klinik kwashiorkor dan
marasmus dengan berat badan (BB) menurut umur (U) ≤ 60% baku
median yang disertatai eodema yang tidak mencolok (Liyansyah,
2015).

5
2. Obesitas
Menurut gejala klinisnya, obesitas dibagi menjadi :
a) Obesitas sederhana (Simply Obesity)
Terdapat gejala kegemukan saja tanpa disertai kelainan hormonal
atau metal atau fisik lainnya, obesitas ini terjadi karena faktor nutrisi.
b) Bentuk khusus obesitas
1) Kelainan endrokin atau hormonal
Tersering adalah syndrom Cushing, pada anak yang sensitif
terhadap pengobatan dengan hormon steroid.
2) Kelainan somatodismorfik
Syndrom Prader-Willi, syndrom Summit dan Carpenter ,
syndrom Laurence-Moon-Biedl, syndrom Cohen.
Obesitas pada kelainan ini hampir selalu disertai mental
retardasi dan kelainan ortopedi
3) Kelainan hipotalamus
Kelainan pada hipotalamus yang mempengaruhi nafsu makan
dan berakibat terjadinya obesitas, sebagai akibat dari
kraniofaringioma, lekemia serebral, dan trauma kepala.

6
D. PATHWAY
1. Kekurangan Kalori Protein

ieeeeeeeee
Sosial ekonomi Malabsorpsi, infeksi Kegagalan melakukan sistesis
rendah protein dan kalori
Anoreksia

Intake kurang dari


kebutuhan

Defisiensi protein dan


kalori

Hilangnya lemak Daya tahan Asam amino Defisien


dibantalan kulit tubuh menurun esensial menurun pengetahuan
dan produksi
albumin menurun

Turgor kulit Keadaan umum


menurun dan lemah
Atrofi/pengecilan
keriput
otot

Resiko infeksi
Kerusakan
Keterlambatan
integritas kulit
pertumbuhan dan
Resiko infeksi perkembangan
saluran
pencernaan

Nutrisi kurang dari


kebutuhan

7
2. Obesitas

Masukan energy Penggunaan kalori Faktor Faktor


yang melebihi yang kurangdan faktor predisposisi kesehatan dan
dari kebutuhan perkembangan lingkungan
tubuh

Pembesaran dan
penambahan sel lemak

OBESITAS

Pemasukan Berat badan Penimbunan lemak berlebihan


makanan yang meningkat dibawah diafragma dan
berlebihan didalam dinding dada
kedalam tubuh

Keterbatasan aktifitas
fisik

Intoleransi aktifitas
Menekan
Berat badan berlebih paru-paru

Pola napas tidak


efektif

8
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Kekurangan Kalori Protein
a) Maramus
Maramus dimanifestasikan dengan emasiasi, dan tinggi serta
berat badan kurang sehingga anak tampak keril. Penderita juga tidak
mempunyai lemak subkutan sehingga kulit (khususnya sisi dalam
paha) tergantung berlipat lipat. Gelombang peristaltik mudah terlihat
melalui dinding abdomen yang tipis. Protein serum sangat kurang.
Biasanya penderita juga mengalami konstipasi. Pada maramus murni
tidak terdapat perubahan kulit, rambut, membran mukosa dan tidak
ada edema (Sodikin, 2012).
b) Kwashiorkor
Gejala yang paling penting adalah pertumbuhan yang
terganggu dan berat badan serta tinggi badan kurang dibandingkan
dengan anak sehat. Pada anak dengan kwashiorkor tinggi badan
dapat normal, dapat juga tidak karena bergantung pada lamanya
penyakit berlangsung dan riwayat gizi dimasa lalu. Rambut kering,
rapuh, tidak mengkilap, dan mudah dicabut dengan tidk
menimbulkan rasa sakit. Rambut yang sebelumnya berombak
berubah menjadi lurus, sementara pigmen rambut berubah menjadi
coklat, merah, atau bahkan putih kekuningan (Sodikin, 2012).

2. Obesitas
Obesitas dapat terjadi pada usia berapa saja, tetapi yang
tersering pada tahun pertama kehidupan, usia 5-6 tahun, dan pada masa
remaja. Anak-anak yang obesitas tidak hanya lebih berat dari anak-anak
seusianya, tetapi juga lebih cepat matang pertumbuhan tulangnya. Anak-
anak yang obesitas relatif lebih tinggi pada masa remaja awal, tetapi
pertumbuhan memanjangnya selesai lebih cepat, sehingga hasil akhirnya
memunyai tinggi badan relatif lebih pendek dari anak sebayanya
(Wahab, 2000).

9
Bentuk muka anak-anak yang obesitas tidak proporsional,
hidung dan mulut relatif kecil, dagu ganda. Terdapat timbunan lemak
pada daerah payudara, dimana pada anak-anak laki sering merasa malu
karena payudaranya seolah-olah tumbuh. Alat kelamin pada anakanak
laki seolah-olah kecil, karena adanya timbunan lemak pada daerah
pangkal paha. Paha dan lengan atas jauh lebih besar, jari-jari tangan
relatif kecil dan runcing. Pada penderita obesitas sering terjadi gangguan
psikologis, baik sebagai penyebab ataupun sebagai akibat dari
obesitasnya. Anak juga lebih cepat mencapai masa pubertas dimana
kematangan seksual lebih cepat seperti pertumbuhan payudara,
pertumbuhan rambut pada kelamin dan ketiak (Soetjiningsih, 1995).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kekurangan Kalori Protein
Mencakup pemeiksasan laboratorium diantaranya; darah rutin
seperti kadar haemoglobn dan protein serum (albumin, globulin) serta
pemeriksasan kimia darah lain bila diperlukan dengan non esensial,
kadar lipid, kadar kolesterol (Markum dkk, 1991).

2. Obesitas
Jika memungkinkan dilakukan secara rutin pada semua pasien obesitas
a) Darah perifer lengkap.
b) Profil lipid: trigliserida, kolesterol total, HDL dan LDL
c) Tes toleransi glukosa oral, insulin puasa.
d) Fungsi hati: SGPT, SGOT.
e) Fungsi ginjal: ureum, creatinin, asam urat.
Dilakukan sesuai indikasi:
a) Fungsi tiroid.
b) Sekresi dan fungsi growth hormone.
c) Kalsium, fosfat dan kadar hormon paratiroid bila dicurigai
pseudohipoparatiroidisme.

10
d) Foto orofaring AP dan Lateral bila dicurigai hipertrofi
tonsiloadenoid.
e) Sleep studies untuk mendeteksi sleep apnea.
f) USG hati jika dicurigai NASH.
g) Echocardiography jika terindikasi secara klinis.
h) Pemindaian MRI otak dengan fokus hipotalamus dan hipofisis, bila
terindikasi secara klinis.
i) Pemeriksaan analisis kromosom jika terdapat dismorfisme.
j) Pemeriksaan analisis genetik jika diduga berkaitan dengan sindrom
tertentu.

11
BAB II
TINJAUAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN FOKUS SESUAI TEORI


1. Kekurangan Kalori Protein
Pengkajian Keperawatan
Pada anak penderita kwashiorkor dapat ditemukan gejala,
seperti muka sembap; lateragi; edema; rambut tipis, pirang, mudah
dicabut; tampak anemia (ringan); dan berat badan rendah. Sementara itu
anak pada maramus dapat ditemukan tampak seperti orangtua, lateragi,
berat badan sangat rendah, tidak ada lemak dibawah kulit, ubun-ubun
cekung pada bayi, tidak ada lemak dibawah kulit, ubun-ubun cekung
pada bayi, malaise, apatis, dan kelaparan (Sodikin, 2012).
Kaji kemungkinan asupan protein dan kalori dibawah kebutuhan
anak. Lakukan pemeriksaan antropomerti pada penerita kwashiorkor
untuk mengetahui berat badan dan tinggi badan karena anak biasanya
mengalami keterlambatan pertumbuhan, dengan jaringan otot mengecil,
jaringan subkutan tipis dan lembut, kulit bersisik dan anemis. Hasil
pemeriksaan antropometri pada anak maramus menunjukan status gizi
kurang trugor kulit buruk, kulit keriput, dan jaringan subkutan tidak ada.
Kadar albumin juga rendah (Sodikin, 2012).

2. Obesitas
Pemeriksaan fisis (IKA,2017):
a) Pengukuran BB, TB, BB/TB, body mass index (BMI) dan tekanan
darah.
b) Kulit kering, intoleransi terhadap dingin, konstipasi, cepat lelah.
c) Muka tembem, dagu rangkap, leher pendek
d) Tonsil / adenoid
e) Akumulasi lemak di leher dan badan, tetapi tidak pada ekstremitas
f) Pseudoacanthosis nigricans (hiperpigmentasi di kulit leher, lipatan
ketiak, di bawah payudara, daerah pinggang).

12
g) Rambut wajah yang berlebihan, jerawat, menstruasi iregular pada
remaja perempuan.
h) Perkembangan seksual yang tidak sesuai untuk usianya (pubertas
praecox).
i) Ginekomastia pada anak lelaki.
j) Perut membuncit dan pendular, striae ungu.
k) Ektremitas: kaki berbentuk X atau O , jari meruncing.
l) Genitalia: burried penis.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan Kalori Protein
a) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d asupan diet kurang.
b) Resiko keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan b.d gagal
bertumbuh
c) Risiko kerusakan integritas kulit b.d nutrisi tidak adekuat
d) Resiko infeksi b.d imunosupresi
e) Defisien pengetahuan b.d kurang sumber pengetahuan

2. Obesitas
a) Berat badan berlebih b.d ukuran porsi yang lebih besar dari yang
dianjurkan.
b) Ketidakefektifan pola napas b.d obesitas.
c) Intoleransi aktifitas b.d gaya hidup kurang gerak.

13
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Kekurangan Kalori Protein
No. NOC NIC
Dx
1 Status nutrisi : Asupan nutrisi (1009) Manajemen Nutrisi 1100
Indikator Awal Ahir 1. Tentukan status gizi pasien
Asupan kalori 1 4 dan kemampuan untuk
Asupan protein 1 4 memenuhi kebutuhan gizi.
Asupan lemak 1 3 2. Tentukan jumlah kalori dan
Asupan karbohidrat 1 3 jenis nutrisi yang
Asupan serat 1 3 dibutuhkan untuk

Asupan vitamin 1 3 memenuhi persyaratan gizi.

Asupan mineral 1 3 3. Atur diet yang diperlukan

Asupan zat besi 1 3 yaitu (menyediakan

Asupan kalsium 1 3 makanan protein tinggi,

Asupan natrium 1 3 menambah kalori, vitamin,


suplemen atau mineral).
4. Beri obat-obatan sebeum
Keterangan :
makan (misalnya,
1. tidak adekuat
penghilang rasa sakit,
2. sedikit adekuat
atiemetik).
3. cukup adekuat
5. Monitor kalori dan asupan
4. sebagian besar adekuat
makanan.
5. Sepenuhnya adekuat

2 Pertumbuhan 0110 Peningkatan Perkembangan :


Indikator Awal Ahir Anak 8274
Persentil berat 1 4 1. Bagun hubungan saling
badan berdasarkan percaya dengan anak.
umur 2. Ajarkan orang tua mengenai
Persentil berat 1 3 tingkat perkembagan
badan berdasarkan normal dari anak dan
berat badan perilaku yang berhubungan.

14
Berat badan 1 3 3. Demostrasikan kepada
Tinggi badan 1 3 orang tua mengenai
Persentil tinggi atau 1 3 kegiatan yang mendukung
panjang badan tumbuh kembang anak.
berdasarkan umur 4. Ajarkan anak untuk mencari
Persentil tinggi atau 1 3 bantuan dari orang lain
panjang badan ketita anak memang
berdasarkan jenis memerlukan bantuan.
kelamin 5. Bantu anak untuk belajar
Persentil lingkar 1 3 mandiri (misalnya makan,
kepala berdasarkan kekamar mandi, menyikat
umur gigi, mencuci tangan dan
Indeks massa tubuh 1 3 berpakaian).
6. Sediakan kesempatan dan

Keterangan : alat-alat untuk membangun,

1. Deviasi berat dari kisaran normal menggambar, menyusun,

2. Deviasi yang cukup besar dari mewarnai, dan melukis.

kisaran normal.
3. Deviasi sedang dari kisaran normal.
4. Deviasi ringan dari kisaran normal.
5. Tidak ada deviasi dari kisaran
normal.

3 Integritas jaringan : kulit dan membran


mukosa (1101) 1. Pertahankan kulit tetap
Indikator Awal Ahir bersih dan kering,
Elastisitas 1 3 mandikan dua kali sehari
Tekstur 1 3 dengan air hangat, dan ganti
Ketebalan 1 3 pakaian yang kotor atau
Pertumbuhan 1 3 basah.
rambut pada kulit 2. Ubah posisi tidur setiap 2-3
Keterangan : jam, bersihkan area yang

15
1. Sangat terganggu mendapat penekanan
2. Banyak terganggu dengan air hangat, bila
3. Cukup terganggu perlu gunakan matras
4. Sedikit terganggu lembut.
5. Tidak terganggu 3. Beri suplemen vitamin.
4. Beri penyuluhan agar tidak
menggunakan sabun mandi
yang mengiritasi kulit.
5. Pantau integritas kulit setiap
6-8 jam sekali.

4 Kontrol Resiko : Proses Infeksi 1924


Indikator Awal Ahir 1. Terapkan kewaspadaan
Mengetahui 3 2 universal dalam setiap
perilaku yang tindakan dengan cuci
berhubungan tangan, menjaga
dengan resiko kebersihan, memperhatikan
infeksi cara kontak dengan pasien,
Mengidentifikasi 3 2 dan menghindarkan pasien
tanda dan gejala dari pengidap penyakit
infeksi. infeksi.
Mempertahankan 4 2 2. Berikan imunisai lengkap
lingkungan yang pada anak yang belum
bersih. mendapat imunisasi sesuai
Memonitor 4 2 jadwal imunisasi.
perubahan status 3. Pantau tanda lanjut infeksi,
kesehatan seperti suhu, nadi, hitung
Melakukan 4 2 leukosit dan tanda infeksi
imunisasi yang lain.
direkomendasikan.
Keterangan :
1. Tidak pernah menunjukan.

16
2. Jarang menunjukan.
3. Kadang-kadang menunjukan.
4. Sering menunjukan.
5. Secara konsisten menunjukan.

5 Pengetahuan : Diet yang Sehat


1. Berikan informasi kepada
Indikator Awal Ahir keluarga tentang cara
Tujuan diet yang 2 4 pemenuhan kebutuhan
bisa dicapai. nutrisi bergizi seimbang.
Kisaran berat badan 2 4 2. Demonstrasikan atau beri
personal yang contoh bahan makan, cara
optimal. memilih dan memasak,
Pedoman gizi yang 2 3 berikan alternatif makann
direkomendasikan. pengganti dari protein
Makanan sesuai 2 4 hewani bila dirasa mahal
dengan pedoman dengan protein nabati
gizi. seperti, tempe atau
Rekomendasi diet 2 4 makanan yang terbuat dari
sehat untuk lemak, kacang-kacangan.
protein dan 3. Sarankan agar berperan
karbohidrat. aktif dalam kegiatan
posyandu, agar status gizi

Keterangan : anak elalu terpantau dan

1. Tidak ada pengetahuan. memperoleh pemberian

2. Pengetahuan terbatas. makanan tambahan di

3. Pengetahuan sedang. posyandu.

4. Pengetahuan banyak.
5. Pengetahuan sangat banyak.

17
2. Obesitas
No. NOC NIC
Dx
1 Berat badan : masa tubuh 1006 Manajemen Nutrisi 1100
Indikator Awal Ahir 1. Tentukan status gizi pasien
Berat badan 1 3 dan kemampuan pasien
Ketebalan lipatan 1 3 untuk memenuhi kebutuhan
kulit risep gizi.
Rasio lingkar 1 3 2. Tentukan jumlah kalori dan
pinggang terhadap jenis nutrisi yang
panggul dibutuhkan untuk
(perempuan) memenuhi persyaratan gizi.
Presentase lemak 1 3 3. Atur diet yang diperlukan.
tubuh 4. Pastikan diet mencangkup
Presentil lingkar 1 3 makanan tinggi kandungan
kepala (anak) serat untuk mencegah

Presentil tinggi 1 3 konstipasi.

(anak) 5. Monitor kalori dan asupan

Presentil berat 1 3 makanan.

badan (anak) 6. Monitor kecenderungan


terjadinyan penurunan dan

Keterangan : kenaikan berat badan.

1. Deviasi berat dari kisaran normal


2. Deviasi yang cukup besar dari
kisaran normal.
3. Deviasi sedang dari kisaran
normal.
4. Deviasi ringan dari kisaran
normal.
5. Tidak ada deviasi dari kisaran
normal.

18
2 Pola Nafas tidak Efektif : Pola Nafas Monitor Pernafasan 3350
0615 1. Monitor kecepatan,
Indikator Awal Ahir irama, kedalama dan
Frekunsi nafas 1 4 kesulitan bernafas.
Irama nafas 1 3 2. Peningkatan kelelahan,
Suara auskultasi 1 3 kecemasan dan
nafas kekurangan oksigen
Dipsnea saat 1 3 pada pasien.
istirahat 3. Monitor keluhan sesak
Dipsnea saat 1 3 nafas pasien, termasuki
aktivitas ringan kegiatan yang
meningkatkan atau

Keterangan : memperburuk sesak

1. Deviasi berat dari kisaran normal nafas tersebut.

2. Deviasi yang cukup besar dari 4. Monitor hasil

kisaran normal. pemeriksaan ventilasi,

3. Deviasi sedang dari kisaran normal. catat tekanan inspirasi

4. Deviasi ringan dari kisaran normal. dan penururan volume

5. Tidak ada deviasi dari kisaran tidal.

normal.

3 Intoleransi Aktivitas : toleransi Terapi Aktivitas 4310


Terhadap Aktivitas 0005 1. Pertimbangkan
Indikator Awal Ahir komitmen klien untuk
Saturasi oksigen 1 3 meningkatkan frekuensi
ketika beraktivitas dan jarak aktivitas.
Frekuensi nadi 1 3 2. Bantu klien untuk
ketika beraktivitas memilih aktivitas dan
Frekuensi 1 3 pencapaian tujuan
pernafasaan ketika melalui aktivitas yang
beraktivitas konsisten dengan
Kecepatan berjalan 1 3 kemampuan fisik,

19
Jarak berjalan 1 3 fisiologis dan sosial.
Kekuatan tubuh 1 3 3. Bantu klien untuk
bagian atas mengidentifikasi
Kekuatan tubuh 1 3 aktivitas yang
bagian bawah diinginkan.
Keterangan :
1. Sangat terganggu
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu

20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digestif, absorbsi, transpotasi,
penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan
untuk mempertahankan kehidupan.
Malnutrisi dan obesitas merupakan masalah yang sering muncul dan
dialami oleh anak-anak dimana kejadian ini masih membutuhkan penanganan
khusus untuk meningkatkan status gizi pada anak. Status sosial (finansial),
dan kurangnya pengetahuan mempengaruhi kemampuan pemberian asupan
makanan secara inadekuat maupun adekuat yang diberikan kepada anak yang
dapat menyebabkan masalah malnutrisi dan obesitas.

B. Saran
Nutrisi sangatlah penting bagi perkembangan dan pertumbuhan bagi
anak, tetapi kekurangan ataupun berlebihan dalam pemenuhan nutrisi pada
anak bisa menjadi masalah kesehatan bagi anak, maka sesuaikan pemberian
nutrisi yang diberikan pada anak sesuai dengan usia, berat badan, dan tingkat
tumbuh kembang anak.

21
DAFTAR PUSTAKA

Andriani, Merryana. 2016. Pengantar Gizi Masyarakat. Prenada Media

NN. 2017. Obesitas Pada Anak dan Remaja. http://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id.

Sodikin. 2012. Keperawatan Anak Gangguan Pencernaan. Jakarta : EGC.

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.

Wahab S. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Diterjemahkan dari Behrman, Kliegman,


Arvin, dkk. Nelson textbook of fediatrics. Saunders Company.

Winaktu, JMT Gracia. 2017. Kegemukan dan Obesitas pada Anak-anak.


https://www.ejournal.ukrida.ac.id.

Maradesa Eirene, Kapantow, Nova H, Punuh Maurenn I. 2014. Hubungan Antara


Asupan Energi dan Protein dengan Status Gizi Anak Uisa 1-3 Tahun di
Wilayah Kerja Puskesmas Walatakan Kecamatan Langoan. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sampratulangi.

22