Vous êtes sur la page 1sur 13

AKUNTANSI KEPERILAKUAN ASPEK PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN PARA

PENGAMBIL KEPUTUSAN

MAKALAH
AKUNTANSI KEPERILAKUAN

Dosen Pengampu :
Siti Noor Khikmah, SE, M.Si

Disusun Oleh :
Kelompok 4
Lisya’diah Ma’rifataini 14.0102.0084
Risky Fudya Hartini 14.0102.0093
Ghany Dede Ar Rauf 14.0102.0101
Heksi Kinasih 14.0102.0111
Gery Rangga Permana 14.0102.0118
Otniel Yubastian G 14.0102.0132
Fatmawati Kusuma Dewi 14.0102.0141
Bima May Hardika 14.0102.0151

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses mengombinasikan pendekatan yang
rasional dan judgmental, yang prosesnya tidak dapat diformulasikan secara lengkap. Dalam
proses ini, pengambil keputusan akan selalu menghadapi risiko yang berpengaruh pada
proses judgment itu sendiri. Pemahaman terhadap proses pengambilan keputusan pada
masalah yang kompleks sangatlah penting agar dapat mengambil keputusan dengan baik dan
menghadapi risiko dengan bijak. Praktik pengambilan keputusan selama ini menunjukkan
kompleksitas masalah dan keterbatasan kemampuan rasional manusia, maka orang akan
melakukan pengambilan keputusan secara rasional dan juga dalam berbagai situasi,
mengambil keputusan dengan proses heuristic.
Heuristik adalah proses yang dilakukan oleh individu dalam mengambil keputusan secara
cepat, dengan menggunakan pedoman umum dan sebagian informasi saja. Proses ini
mengakibatkan adanya kemungkinan bias, kesalahan, dan ketidakakuratan keputusan.
Kekeliruan konjungsi (conjuction fallacy) adalah pengambilan keputusan tentang
kemungkinan terjadinya peristiwa konjungtif yang berbeda dengan logika teori probabilitas.
Sementara itu, bias hainsait selama ini dikenal sebagai tendensi bias karena orang (evaluator)
yang telah mendapatkan informasi tentang hasil merasa telah mengetahui suatu hasil sebelum
suatu keputusan diambil. “Biasanya ini dipandang tidak adil bagi pengambil keputusan
karena mengesampingkan keadaan ketika keputusan ini diambil.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pengambilan keputusan pada aspek keperilakuan?
2. Bagaimana pengambilan keputusan oleh pendatang baru atau pun oleh pakar?
C. Tujuan
1. Mengetahui proses pengambilan keputusan melalui aspek keperilakuan
2. Mengetahui perbedaan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pendatang `baru
ataupun oleh pakar

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Pengambilan Keputusan
1. Definisi
Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif.
Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar logika atau
pertimbangan; (2) ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan
(3) ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan
tersebut. Dari pengertian keputusan tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa
keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang
dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. Pengambilan
keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif
secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan
masalah yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama didalam
organisasi. Langkah-langkah pengambilan keputusan :
a. Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang.
Langkah ini merupakan respon terhadap suatu masalah, ancaman yang dirasakan,
atau kesempatan dibayangkan. Untuk mengenali dan mendefinisikan masalah atau
peluang, para pengambil keputusan memerlukan informasi mengenai lingkungan,
keuangan, dan operasi.
b. Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya.
Ketika definisi dari masalah atau peluang selesai, pencarian untuk program
alternatif tindakan dan kuantifikasi konsekuensi mereka dimulai. Pencarian sering
dimulai dengan melihat masalah serupa yang terjadi di masa lalu dan tindakan yang
dipilih pada saat itu. Jika saja dipilih tindakan bekerja dengan baik, mungkin akan
diulangi. Jika tidak, pencarian alternatif tambahan akan diperpanjang.Dalam tahap ini,
sebanyak mungkin alternatif yang praktis didiefinisikan dan dievaluasi.
c. Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan.
Tahap yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan adalah memilih
salah satu dari beberapa alternatif. Meskipun langkah ini mungkin memunculkan
pilihan rasional, pilihan terakhir sering didasarkan pada pertimbangan politik dan
psikologis daripada fakta ekonomi.
d. Penerapan dan tindak lanjut.
Kesuksesan atau kegagalan dari keputusan akhir bergantung pada efisiensi
penerapannya. Pelaksanaan hanya akan berhasil jika individu-individu yang memiliki
kontrol atas sumber daya organisasi yang diperlukan untuk melaksanakan keputusan
(misalnya, uang, orang, dan informasi) benar-benar berkomitmen untuk membuatnya
bekerja.
2. Motif Kesadaran
Motif kesadaran ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak
melakukan sesuatu yang masih berada dalam tingkat kesadaran seseorang. Terdapat dua
faktor penting dari motif kesadaran dalam konteks pengambilan keputusan, yaitu :(1)
Keinginan akan kestabilan atau kepastian; (2) Keinginanan akan kompleksitas dan
keragaman.

2
Motif kompleksitas menimbulkan keinginan akan suatu stimulus dan eksplorasi serta
mengaktifkan pikiran sadar dan bawah sadar untuk mencari data baru dari ingatan atau
lingkungan, kemudian menyeimbangkannya dan mengaturnya dengan motif. Selain itu,
faktor yang berhubungan erat dengan prediksi adalah perbedaan dalam teori keputusan
secara matematis antara kepastian, risiko, dan ketidakpastian. Kepastian didapat ketika
semua akibat dari suatu alternatif keputusan tidak diketahui. Risiko dapat terjadi ketika
seseorang menentukan suatu pilihan dari berbagai alternatif yang ada. Ketidakpastian
timbul ketika seseorang tidak dapat menentukan kemungkinan konseuensi yang timbul
dari tindakan yang dilakukannya.
Dengan menggunakan dimensi-dimensi kompleksitas dan kemampuan untuk
membuat prediksi, para ahli psikologi telah mengembangkan empat jenis model
keputusan :
a. Model keputusan yang diprogram secara sederhana.
Model ini ditandai dengan aturan-aturan prediksi yang tidak kompleks, yang
ditetapkan oleh orang lain yang bukan si pengambil keputusan. Alternatif yang
memuaskan, ketika pertama kali ditemukan, biasanya langsung dipilih. Alternatif-
alternatif tersebut dinilai berdasarkan kriteria-kriteria yang sederhana dengan risiko
yang minimum, yang penerapannya dilakukan secara individu.
b. Model keputusan yang tidak diprogram secara sederhana.
Pada model ini, apa pun akan terlihat baik pada saat itu bagi si pengambil
keputusan yang langsung memilih alternatif tersebut. Informasi bersumber dari
prasangka melalui keyakinan-keyakinan umum. Dalam organisasi, informasi juga
dapat berasal dari sistem informasi manajemen dengan akuntansi yang menjadi
komponen utama. Alternatif pertama yang dipilih harus mampu menyesuaikan diri
dengan tujuan laba jangka pendek yang diinginkan dengan mengabaikan risiko yang
ada.
c. Model keputusan yang diprogram secara kompleks.
Pada model ini melibatkan perencanaan yang begitu rinci. Masalah dan peluang
diantisipasi dengan skala prioritas yang begitu hati-hati. Alternatif-alternatif yang ada
dievaluasi berdasarkan pertimbangan memaksimalkan manfaat jangka panjang.
d. Model keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks
Model ini memiliki ciri khas yaitu partisipasi yang terus-menerus dari semua
orang yang terlibat untuk memaksimalkan perolehan informasi dan koordinasi.
3. Jenis-Jenis Model Proses
a. Model ekonomi
Model ini mengasumsikan bahwa seluruh kegiatan dan keputusan manusia adalah
rasional sempurna dan bahwa dalam suatu organisasi, terdapat konsistensi antara
beragam motif dan tujuan
b. Model sosial
Model ini mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya adalah irasional dan
keputusan yg dihasilkan terutama didasarkan pada interaksi sosial.

3
c. Model kepuasan simon
Model ini didasarkan pada konsep Simon tentang manusia adminstratif, dimana
manusia dipandang sebagai makhluk yg rasional karena mereka mempunyai
kemampuan untuk berfikir, mengolah informasi, membuat pilihan, dan belajar.
B. Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
1. Rasional Terbatas
Pengurutan alternatif tersebut sanagat penting dalam menentukana alternatif yang
dipilih. Jika pengambil keputusan sedang melakukan optimal semua alternatif akhirnya
akan dicantumkan dalam hirearki urutan prefensi.
2. Intuisi
Para pakar tidak mengasumsikan bahwa pengembilan keputusan intuitif merupakan
sesuatu yang tidak rasional atau tidak efektif. Pengambilan keputusan intuitif
kemungkinan diambil dalam kondisi:
a. Bila ada ketidakpastian dalam tingkat yang tinggi
b. Bila hanya sedikit preseden untuk diikuti
c. Bila variabel-variabel dapat diramalkan secara ilmiah
d. Bila fakta terbatas
e. Bila fakta tidak dengan jelas menunjukan jalan untuk diikuti
f. Bila data analitis kurang berguna
g. Bila terdapat beberapa penyelesaian alternatif yang masuk akal untuk dipilih
h. Bila waktu terbatas dana ada tekanan untuk segara mengambil keputusan yang
tepat
3. Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang tampak cenderung memiliki kemungkinan terpilih yang lebih
tinggi dibandingkan dengan masalah-masalah yang penting. Hal ini didasarkan karena
mudah untuk mengenali masalah-masalah yang tampak dan semua orang menaruh
perhatian yang besar terhadap pengambilan keputusan di organisasi
4. Membuat pilihan
Para pengambil keputusan mengambil mengandalka heurustic atau jalan pintas
penilaian dalam pengambilan keputusan. Terdapat 2 kategori dari heurustic yaitu
ketersediaan dan keterwakilan
5. Perbedaan Individual; Gaya Pengambilan Keputusan
Riset ini telah mengidentifikasi 4 pendekatan individual yang berbeda terhadap
pengambilan keputusan. Model ini di rancang untuk digunakan para manager dan
mengaspirasi para manager.
6. Keterbatasan Organisasi
Organsasi itu sendiri merupakan penghambat para para pengambil keputusan. Para
manajer membentuk keputusan-keputusan untuk mencerminkan sistem penilaian kinerja
dan pemberian imbalan, mematuhi peraturan formal, dan memenuhi batas watu yang
ditentukan orgasnisasi.
C. Asumsi Keperilakuan Dalam Pengambilan Keputusan Organisasi.
Asumsi keperilakuan yang mendasari proses pengambilan keputusan perusahaan dapat
dilihat melalui dua pandangan. Pandangan tersebut adalah perusahaan sebagai unit
pengambilan keputusan dan orang orang yang bertindak sebagai pengambil keputusan dan
pencari solusi.

4
1. Perusahaan sebagai Unit Pengambilan Keputusan
Keputusan yang berulang muncul secara regular, sedangkan keputusan lainnya
bersifat unik dan tidak berulang. Organisasi mengembangkan “prosedur operasi standar”
formal maupun tidak formal untuk mengurangi beban pada masalah yang berulang.
Cybert dan March menggambarkan empat konsep dasar rasional sebagai inti dari
pengambilan keputusan bisnis.
a. Resolusi Semu dari Konflik
Suatu organisasi adalah koalisi dari individu-individu dengan tujuan berbeda yang
sering menimbulkan konflik. Diperlukan satu prosedur untuk menyelesaikan konflik
tujuan karena pengmabilan keputusan melibatkan pemilihan atas satu alternative tujuan
dan harapan secara menyeluruh. Sub-sub masalah ditangani pada saat yang berbeda untuk
menyelesaikan konflik di antara tujuan ditigkat yang lebih rendah.
b. Menghindari ketidakpastian
Organisasi secara terus menerus akan dihantui oleh ketidakpastian dalam lingkungan
internal maupun eksternalnya ketika mengambil keputusan. Cybert dan March (1963)
menemukan bahwa para pengambil keputusan dalam organisasi sering menggunakan
strategi yang cukup sederhana ketika mmenghadapi risiko dan ketidakpastian. Schiff dan
Lewin (1974) menambahkan kelonggaran (slack) organisasi ke alat-alat yang digunakan
untuk menghindari ketidakpastian. Slack diciptakan selama proses alokasi sumber daya
dengan cara mengestimasi pendapatan yang terlalu rendah sementara biaya yang akan
dikeluarkan untuk situasi pengambilan keputusan tersebut terlalu tinggi, sehingga dengan
demikian meningkatkan probabilitas keberhasilan ketika keputusan diterapkan.
c. Pencarian Masalah
Elemen yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan adalah pencarian
akan tindakan alternative dan kuantifikasi atas konsekuensinya. Cybert dan March (1963)
mengembangkan satu teori pencarian organisasional untuk melengkapi konsep-konsep
pengambilan keputusan. Mereka menggunakan istilah “pencarian masalah”. Terdapat
empat karakteristik pencarian organisasional, yaitu dimotivasi oleh adanya suatu masalah
yang tidak akan selesai sebelum ditindaklanjuti, bersifat sederhana, bias, dan pencarian
dapat dirusak oleh bias komunikasi yang mencerminkan konflik.
d. Pembelajaran Organisasi
Ketika pendekatan pencarian tertentu menemukan solusi yang layak untuk suatu
masalah, organisasi kemungkinan besar akan mengulang pendekatan yang sama dalam
memecahkan masalahserupa di masa mendatang. Ketika sebuah pendekatan khusus gagal,
maka akan menghindari dalam pencarian masa depan. yang sama berlaku untuk urutan
alternatif yang dipertimbangkan; juga, akan berubah jika organisasi mengalami kegagalan
dengan preferensi tertentu.
2. Manusia-Para Pengambil Keputusan Organisasi
Penting untuk diingat bahwa manusia, dan bukanya organisasi, yang mengenali,
mendefenisikan masalah atau peluang, yang mencari tindakan alternatif secara optimal
dan menerapkanya. Pengaturan organisasi di mana orang yang digunakan tergantungpada
jenis masalah keputusan atau oppurtinity ditemui.
3. Kekuatan dan Kelemahan Individu sebagai Kengambilan Keputusan

5
Manusia merupakan makhluk yang rasional karena memilih kepastian untuk berpikir,
memilih, dan belajar. Tetapi rasionalitas manusia adalah sangat terbatas karena mereka
hampir tidak pernah memperoleh informasi yang penuh dan hanya mampu memproses
informasi yang tersedia secara berurutan. Perilaku rasional dari individu dalam situasi
pengambilan keputusan oleh kerena itu terdiri dari atas pencarian diantara alternatif-
alternatif yang terbatas akan suatu solusi yang masuk akal dalam kondisi dimana
konsekuensi dari tindakan tidaklah pasti.
Pengambilan keputusan yang rasional batas individu bervariasi sesuai dengan:
a. Lingkup pengetahuan yang tersedia sehubungan dengan semua alternatif yang
mungkin dan konsekuensinya.
b. Gaya kognitif mereka dengan asumsi bahwa tidak ada satu gaya yang selalu
unggul karena dalam situasi masalah spesifik, lebih dari satu pendekatan dapat
menyebabkan hasil yang dapat diterima.
c. Struktur nilai mereka yang berubah.
d. Kecenderungan mereka untuk "memuaskan" daripada untuk melakukan
optimalisasi.
4. Peran Kelompok sebagai Pembuat Keputusan dan Pemecah Masalah
a. Fenomena Pemikiran Kelompok
Pemikiran kelomok (group think) menggambarakan situasi dimana tekanan untuk
mematuhi mencegah anggota-anggota kelompok individual untuk mempresantasikan
ide atau pandangan yang tidak populer. Karena mereka ingin menjadi bagian yang
positif dari kelompok tersebut dan bukan sebagai kekuatan yang disruptif.
Janis mengartikulasikan gejala dari fenomena ini sebagai berikut:
1) Anggota kelompok perlawanan merasionalisasi dengan asumsimereka telah
dibuat.
2) Anggota menerapkan tekanan langsung pada mereka yang sebentar
mengungkapkan keraguan tentang apapun pandangankelompok itu bersama
atau yang mempertanyakan validitas argumen pendukung alternatif disukai
oleh mayoritas.
3) Para anggota yang memiliki keraguan atau memegang sudut pandang yang
berbeda berusaha untuk menghindarimenyimpang dari apa yang tampaknya
menjadi konsensus kelompok dengan menjaga diam tentang sangsi dan
bahkan meminimalkan untuk diri mereka sendiri pentingnya keraguan
mereka.
4) Tampaknya terdapat suatu ilusi mengenai kebulatan suara.
b. Fenomena Pergeseran yang Berisiko (Dampak Siskusi Kelompok)
Fenomena pergeseran yang berisiko, atau dampak diskusi kelompok, merupakan
produk sampingan dari interaksi manusia. Apa yang menyebabkan timbulnya
pergeseran yang berisiko? Clark (1971) menawarkan empat penjelasan:
1) Hipotesis familiarisasi menjelaskan bahwa diskusi kelompok dimulai dengan
periode “perasaan asing” atau “mulai perlahan-lahan”
2) Hipotesi kepemimpinan, para pengambil resiko dikagumi dan dipandang oleh
anggota-anggota kelompok sebagai pemimpin Karena mereka biasanya juga
dominan dalam diskusi kelompok

6
3) Hipotesisresiko sebagai nilai mengamati bahwa dalam kondisi masyarakat saat
ini
4) Hipotesis difusi tanggung jawab, keputusan kelompok membebaskan individu
dari tanggung jawab langsung terhadap pilihan akhir kelompok
c. Kesatuan Kelompok
Kesatuan kelompok didefinisikan sebagai tingkat di mana anggota-anggota
kelompok tertarik satu sama lain dan memiliki tujuan kelompok yang sama.
Kelompok dengan tingkat kesatuan yang kuat pada umumnya lebih efektif dalam
situasi pengambilan keputusan dibandingkan dengan kelompok di mana terdapat
banyak konflik internal dan kurangnya semangat kerja sama di antara para
anggotanya. Pada umumnya, kesatuan kelompok akan menurun ketika ukuran
kelompok meningkat Karena interaksi antara anggota dalam kelompok yang lebih
sulit dan ketaatan terhadap tujuan bersama kelompok menjadi semakin tidak
mungkin.
Faktor lainnya yang memengaruhui kesatuan kelompok secara menguntungkan
adalah riwayat dari kelompok itu. Kesatuan suatu kelompok juga akan meningkat
ketika kelompok tersebut diserang oleh sumber eksternal seperti atasan mereka atau
kelompok lain.
5. Pengambilan Keputusan dengan Konsensus versus Aturan Mayoritas
Pengambilan keputusan dengan consensus membutuhkan lebih banyak waktu
dibandingkan dengan pengambilan keputusan dengan aturan mayoritas. Oleh Karena itu,
consensus adalah kurang sesuai untuk diterapkan jika waktu adalah kritis. Walaupun
consensus memiliki keunggulan yang terbukti, pengambilan keputusan dengan aturan
mayoritas (dengan pandangan yang berlawanan dan pembenarannya dinyatakan secara
tertulis) harus disubsitusikan dan diterima pada banyak situasi pengambilan keputusan
sabagai satu-satunya alternatife yang mungkin.
6. Kontroversi yang Disebabkan oleh Hubungan Atasan - Bawahan
Ketika kelompok pengambilan keputusan terdiri atas atasan dan bawahan, kontroversi
tidak bisa di-hindarkan. Atasan mempunyai akses terhadap informasi yang berbeda,
sehingga memiliki pendapat yang berbeda pula dibandingkan dengan bawahannya.
Kualitas dari pilihan keputusan akan sangat bergantung bagaimana atasan menangani
kontroversi tersebut.
Menurut vroom dan yeton (1973), atasan sebagai pemimpin memiliki pilihan-pilihan
keprilakuan sebagai berikut :
a. Menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan sesuai informasi saat itu.
b. Mendapat informasi dari bawahan kemudian menggunakan informasi tersebut
untuk mencari solusi.
c. Membicarakan masalah secara pribadi dengan bawahan dengan relevan.
d. Membicarakan masalah tersebut dengan berkelompok.

7. Pengaruh Dasar Kekuasaan


Dalam situasi pengambilan keputusan, seseorang mampu memengaruhi hasil
keputusan karena we-wenang atau kekuasaan yang diberikan oleh organisasi. Elemen

7
kekuasaan yang paling sering disebutkan adalah kekuasaan posisi, kekuasaan keahlian,
kekuasaan sumber daya, atau kekuasaan politik.
Kekuasaan posisi ada ketika pengaruh seseorang itu merupakan hasil dari posisi
seseorang tersebut dalam organisasi. Kekuasaan keahlian mempengaruhi keputusan ketika
hasil dari keputusan itu merupakan hasil dari pengetahuan seseorang mengenai situasi
yang sedang diinvestigasi Kekuasaan sumberdaya ada ketikas seseorang mengendalikan
sumber-sumber daya organisasi atau sumber-sumber daya yang diperlukan. Kekuasaan
politik dapat digambarkan sebagai keunggulan kepemimpinan pribadi seseorang.
8. Dampak dari Tekanan Waktu
Tekanan waktu menyebabkan para anggota kelompok menjadi lebih sering setuju
guna mencapai konsensus kelompok; lebih kurang menuntut dan lebih bersifat
mendamaikan dalam situasi tawar-menawar; lebih membatasi partisipasi dalam proses
pengambilan keputusan hanya pada relatif sedikit anggota; dan lebih menyukai aturan
mayoritas.
D. Pengambilan Keputusan Oleh Pendatang Baru Versus Oleh Pakar
Studi yang dilakukan oleh Bouwman (1984) mengungkapkan sejumlah perbedaan yang
menarik dalam strategi dan pendekatan yang digunakan serta data spesifik yang dipilih oleh
pakar dan pendatang baru ketika mengambil keputusan berdasarkan informasi akuntansi atau
informasi keuangan lainnya. Studi tersebut menggunakan analisis protokol dan hanya
melibatkan lima orang mahasiswa pascasarjana (kelompok pendatang baru) dan tiga orang
akuntan publik (kelompok pakar). Untuk menggambarkan perbedaan dalam penggunaan data,
peneliti membagi tugas analisis keuangan tersebut ke dalam tiga komponen:
1. Pengujian Informasi
Pengujian didefinisikan sebagai kegiatan menganalisis informasi yang disajikan dan
menyeleksi untuk dipertimbangkan lebih lanjut, hanya informasi yang terlihat sangat
relevan dengan tugas keputusan itu yang harus dilaksanakan. Studi itu menunjukkan
bahwa baik pakar maupun para pendatang baru menerjemahkan informasi keuangan ke
dalam istilah-istilah kualitatif dan menggunakan mode-mode yang serupa (misalnya,
perhitungan rasio, pengembangan tren, dan laporan arus). Perbedaan hanya bauran dari
metode yang digunakan. Para pakar lebih banyak mengandalkan aturan-aturan yang
diperoleh berdasarkan pengalaman dibandingkan dengan para pendatang baru dan mereka
juga menguji data dari lebih dari satu tahun.
2. Integrasi Pengamatan dan Temuan
Ketika mengintegrasi pengamatan dan temuan, para pendatang baru menghubungkan
pengamatan dan temuan yang menjelaskan satu sama lain dan mengabaikan yang tidak.
Sebaliknya, para pakar menempatkan penekanan khusus pada kontradiksi yang potensial
dalam pengamatan dan temuan sebagai alat untuk mendeteksi masalah yang mendasari.
3. Pertimbangan
Para pendatang baru tampaknya menyetarakan pertimbangan dengan memutuskan
“kapan waktu yang tepat untuk memilih mana dari fakta yang diamati yang merupakan
masalah utama”. Para pakar tidak menyimpan catatan atas setiap temuan individual, tetapi
meringkasnya ke dalam kelompok-kelompok yang berhubungan dan memformulasikan
hipotesis yang diuji.
E. Peran Kepribadian Dan Gaya Kognitif Dalam Pengambilan Keputusan

8
Kepribadian mengacu pada sikap atau keyakinan individu, sementara gaya kognitif
mengacu pada cara atau metode seseorang menerima, menyimpan, memproses, serta
meneruskan informasi. Individu-individu dengan jenis kepribadian sama dapat memiliki gaya
kognitif yang berbeda. Dalam suatu kondisi pengambilan keputusan, kepribadian dan gaya
kognitif saling berinteraksi dan memengaruhi (menambah atau mengurangi) dampak dari
informasi akuntansi. Interaksi dan dampak yang memodifikasi dari kepribadian dan gaya
kognitif dibatasi pada dampak dari toleransi terhadap ambiguitas (variabel pribadi) dan
kebebasan wilayah (gaya kognitif).
Toleransi terhadap ambiguitas mengukur tingkat sampai mana individu merasa terancam
oleh ambiguitas dalam situasi pengambilan keputusan dan bagaimana ambiguitas
memengaruhi keyakinan mereka dalam keputusan-kepuutusan tersebut. Orang yang tidak
toleran terhadap ambiguitas diperkirakan akan kurang yakin dengan keputusan mereka dan
lebih mencari informasi dalam situasi yang ambigu dibanding dengan rekan kerja.
Kebebasan wilayah adalah kemampuan seorang individu untuk sampai pada persepsi
yang benar dengan mengabaikan konteks-konteks yang mengintervensi. Ketergantungan
wilayah adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengesampingkan informasi yang tidak
relevan dan menyesatkan ketika berusaha untuk membentuk suatu pendapat. Individu-
individu yang mengalami ketergantungan wilayah bersikap lebih menerima dibandingkan
dengan individu-individu yang mengalami kebebasan wilayah terhadap informasi dan situasi
masalah yang ambigu. Akan tetapi, ketika telah mencapai suatu keputusan, mereka akan lebih
yakin dalam penilaian merreka dibandingkan dengan rekannya yang memiliki kebebasan
wilayah. Kesimpulannya bahwa ketergantungan wilayah dapat dengan sendirinya menjadi
dimensi yang berguna dalam memprediksi perilaku, dalam situasi penyeleaian masalah dan
pengambilan keputusan dan dapat memungkinkan seseorang untuk menyentuh dimensi
tertentu dari perbedaan kognitif individual yang sensitif terhadap informasi akuntansi.
Dalam kaitannya dengan dampak interaksi dari toleransi terhadap ambiguitas dan
ketergantungan wilayah ditemukan bahwa individu yang mengalami ketergantungan wilayah
lebih yakin dalam pilihan keputusan mereka dibandingkan dengan individu yang mengalami
kebebasan wilayah, tanpa memedulikan tingkat toleransi mereka terhadap ambiguitas.
F. Peran Informasi Akuntansi Dalam Pengambilan Keputusan
Menurut Hopwood, informasi akuntansi dapat “menyediakan beberapa stimuli yang
mengenali dan mendefinisikan masalah (dan peluang), mengisolasi tindakan alternatif, dan
menjelaskan konsekuensinya” dan “memainkan peran dalam analisis serta penilaian
alternatif”.
1. Data Akuntansi sebagai Stimuli dalam Pengenalan Masalah
Akuntansi dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan masalah melalui
pelaporan deviasi kinerja aktual dari sasaran standar atau anggaran atau melalui
pemberian informasi kepada manajer bahwa mereka gagal untuk mencapai target output
atau laba yang ditentukan sebelumnya. Tingkat stimulus bergantung pada kapabilitas
manajemen (para pengambil keputusan) untuk mengelola serta menggunakan informasi
akuntansi dan pada preferensi pribadi mereka untuk informasi kualitatif atau kuantitatif.
Ketika informasi akuntansi digunakan sebagai alat pengenalan masalah, informasi
tersebut juga digunakan sebagai dasar untuk menentukan konsekuensi yang dapat
dikuantifikasikan atas tindakan alternatif yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut.

9
2. Dampak Data Akuntansi dalam Pilihan Keputusan
Tidak semua manajer menggunakan data akuntansi untuk menganalisis profitabilitas
relatif. Informasi akuntansi memainkan peran penting dalam keputusan jangka pendek
dibandingkan keputusan jangka panjang karena hanya mencerminkan biaya dan
pendapatan yang berkaitan dengan operasi sekarang. Dampak lain adalah
ketidakmampuannya dalam mengukur biaya kesempatan.
3. Hipotesis Keperilakuan dari Dampak Data Akuntansi
Bruns (1981) mengelompokkan para pengambil keputusan ke dalam tiga kelompok:
a. Manajemen puncak. Para pembuat keputusan yang mengambil keputusan
mengenai operasi dan sistem akuntansi yang digunakan untuk menyusun laporan
keuangan.
b. Manajer operasi. Para pengambil keputusan yang hanya membuat keputusan
mengenai operasi.
c. Mereka yang berada di luar perusahaan yang membuat keputusan mengenai
perusahaan tetapi tidak memiliki kendali langsung atas operasi perusahaan.
Semakin manajemen memandang para pengambil keputusan eksternal menggunakan
informasi akuntansi keuangan dalam proses pengambilan keputusan mereka, semakin
besar informasi tersebut cenderung memengaruhi proses pengambilan keputusan
manajemen.
Bruns merangkum beragam hipotesis yang disusunnya dalam model dampak sebagai
berikut:
a. Informasi akuntansi akan memengaruhi keputusan atau keputusan akan
memengaruhi sistem informasi, jika:
1) Informasi akuntansi relevan untuk keputusan itu
2) Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai tujuan
3) Pengambil keputusan adalah anggota perusahaan yang mengendalikan seleksi
dan operasi dari sistem informasi
b. Informasi akuntansi akan memengaruhi keputusan, jika:
1) Informasi akuntansi relevan untuk keputusan tersebut
2) Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai tujuan
3) Pengambil keputusan adalah anggota perusahaan yang tidak dapat
mengenddalikan seleksi dan operasi dari sistem informasi
4) Pengambil keputusan adalah orang-orang di luar perusahaan
5) Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai ukuran yang sempurna
6) Informasi non-akuntansi tidak relevan untuk keputusan tersebut
c. Informasi akuntansi mungkin memengaruhi keputusan jika:
1) Informasi akuntansi relevan untuk keputusan itu
2) Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai ukuran yang sempurna
3) Informasi non-akuntansi relevan untuk keputusan itu
4) Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai ukuran yang tidak
sempurna
5) Informasi akuntansi tidak relevan untuk keputusan itu
d. Informasi akuntansi tidak akan memengaruhi keputusan jika:
1) Informasi akuntansi tidak relevan untuk keputusan itu
2) Informasi akuntansi relevan untuk keputusan itu, tetapi pengambil keputusan
memandang informasi akuntansi sebagai ukuran yang tidak sempurna
3) Informasi non-akuntansi relevan untuk keputusan itu.

10
Para peneliti lain mepelajari pertanyaan mengenai bagaimana para pengambil
keputusan menyesuaikan terhadap perubahan dalam metode dan terminology akuntansi.
Ada dua faktor yang mennetukan tingkat penyesuaian, yaitu:
a. Umpan Balik
Untuk memahami perubahan dalam metode akuntansi dan untuk menyesuaikan
aturan pengambilan keputusan maka pengambil keputusan harus menerima informasi
mengenai perubahan tersebut atau memiliki umpan balik tidak langsung mengenai
perubahan tersebut.
b. Fiksasi Fungsional
Hal ini merupakan fenomena keperilakuan yang mengimplikasikan
ketidakmampuan di pihak pengguna informasi akuntansi untuk memahami apa yang
tersirat di balik label yang diberikan kepada suatu angka. Sebagai suatu atribut dari
pengambilan keputusan, fiksasi fungsional bervariasi tingkatnya dari situasi yang satu
ke situasi yang lain, namun tidak pernah tidak ada sama sekali.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan makalah diproleh Pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai
keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan
refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik. Sedangkan pengertian
keputusan menurut para ahli sebagaiamana dalam jurnal Rolasmana, (2013) sebagai berikut:
George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternative perilaku (kelakuan)
tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Kemudian S.P. Siagian, pengambilan
keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi
dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga
pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan; (2) ada beberapa
alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan (3) ada tujuan yang ingin dicapai
dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut. Untuk memahami aspek
keperilakuan dalam pengambilan keputusan maka dibahas secara rinci di dalam Pengambilan
keputusan, Para Pengambil Keputusan dan contoh Kasus dilema pada Aspek Keperilakuan
pada Pengambilan Keputusan dan Para Pengambi Keputusan.

B. Daftar Pustaka
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.

12