Vous êtes sur la page 1sur 7

J. Akad. Kim.

2(3): 153-159, August 2013


ISSN 2302-6030

PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 5 PALU MELALUI


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE COURSE
REVIEW HORAY DAN KONVENSIONAL PADA MATERI LARUTAN
ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT
The Difference of Learning Outcome of SMA Negeri 5 Palu Students Through
Cooperative Learning Model Application of Course Review Horay And
Conventional Type on Electrolyte And Nonelectrolyte Solutions Material
*Agustiawan Amat Salim, Irwan Said dan Siang Tandi Gonggo
Pendidikan Kimia/FKIP - Universitas Tadulako, Palu - Indonesia 94118
Recieved 05 July 2013, Revised 12 August 2013, Accepted 13 August 2013

Abstract
One of indicator that quality of education said to be good is when students able to apply what they have
learned at school to deal with problems in their daily life. Learning in the classroom should not only focus
on mastery of the materials but also how to create the atmosphereT in the classroom to be fun and
interesting so that students are not bored and learning outcomes can be improved. Course Review Horay
(CRH) is one of a model that can be applied. This research aims to find out the difference of learning
outcome of SMA Negeri 5 Palu through Cooperative Learning Model Application of CRH on Electrolyte
and non electrolyte solutions material. Populations of this research are all students of grade X of SMA
Negeri 5 Palu for Academic Year of 2012/2013 which are consists of seven classes. Sample of this research
consist of two classes which are class XA with 28 students as experiment class and class XG with 27
students as control class which determined by purposive sampling. Data collection is conducted using test
instrument such as chemistry learning achievement of Electrolyte and non electrolyte solutions material.
Data from research result is tested using two parties t-test with prerequisite test which are; normality test
and homogeneity test. Average score of students learning outcome using cooperative learning model CRH
is 23,21 while the average score of students learning outcome who join the
conventional teaching is 19,93. Based on the statistic analysis with statistic t-test is achieved t hitung =
4,81 and this is in the rejection area of H0 which is -2,00 and 2,00. Therfore, it can be concluded that
there is a difference of students learning outcome through Cooperative Learning Model
Application of CRH type and conventional to the students grade X of SMA Negeri 5 Palu.
Keywords: Course Review Horay, learning outcome, electrolyte and nonelectrolyte solutions.

Pendahuluan
Pendidikan merupakan kunci untuk semua merupakan hal penting untuk meningkatkan
kemajuan dan perkembangan yang berkualitas. dan mengembangkan kualitas sumber daya
Melalui pendidikan manusia dapat manusia. Sehingga perlu diadakan berbagai
mewujudkan semua potensi dirinya baik tindakan dalam upaya peningkatan kualitas
sebagai pribadi maupun sebagai warga pendidikan, salah satunya dengan mengadakan
masyarakat. Menurut Susanto (2012) sistem perbaikan dalam proses pembelajaran.
pendidikan di Indonesia bertujuan menggali Peningkatkan mutu pendidikan tidak hanya
potensi dan memperhatikan perkembangan bergantung pada faktor guru saja, tetapi
moral dan sosial untuk mempersiapkannya berbagai faktor lainnya juga berpengaruh
terjun dalam masyarakat. Sedangkan menurut untuk menghasilkan out put proses
Suryana (2013) Pendidikan dalam kehidupan pembelajaran yang bermutu. Namun pada
dasarnya guru tetap merupakan unsur kunci
* Korespondensi: utama yang paling menentukan, sebab menurut
A. A. Salim
Program Studi Pendidikan kimia, Fakultas Keguruan Samtono (2010), guru merupakan kunci dan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako berada di titik sentral dari setiap usaha-usaha
email: scorpio_agus@yahoo.co.id peningkatan mutu pendidikan. Albertus (2009)
© 2013 - Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Tadulako mengemukakan guru adalah sebagai pelaku
153
Volume 2, No. 3, 2013: Jurnal Akademika
153-159 Kimia
perubahan (agent of change) dan pendidik untuk belajar sehimgga tujuan pembelajaran

karakter. Guru sebagai pelaku perubahan adalah dapat tercapai secara maksimal. Seorang
pusat yang memberikan pengaruh perubahan guru dituntut agar dapat memilih model
dalam lingkungan hidupnya secara lebih luas, pembelajaran yang inovatif dalam menyajikan
dalam diri para murid, rekan guru, karyawan, pelajaran (Zulhartati, 2011). Salah satunya
masyarakat, dan situasi dalam masyarakat, adalah dengan menggunakan pembelajaran
kultur sekolah, relasi dengan rekan guru serta kooperatif yaitu belajar-mengajar dengan cara
siswa dan pada gilirannya akan mengubah dan mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-
membentuk sosok siswa. kelompok kecil. Pada pembelajaran kooperatif
Sering kali dalam proses pembelajaran siswa percaya bahwa keberhasilan mereka akan
adanya kecenderungan siswa tidak mau tercapai jika setiap anggota kelompoknya
bertanya pada guru meskipun sebenarnya berhasil. Menurut Nugroho (2009),
belum mengerti materi yang diajarkan. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan model
yang digunakan guru untuk mengaktifkan siswa pembelajaran yang melatih siswa untuk bisa
adalah melibatkannya dalam diskusi, tetapi bekerjasama. Model pembelajaran kooperatif
strategi ini tidak terlalu efektif walaupun guru yang digunakan pada penelitian ini adalah
sudah mendorong siswa untuk berpartisipasi. Course Review Horay (CRH).
Sebagian siswa terpaku menjadi penonton, Pembelajaran kooperatif tipe CRH dipilih
sementara arena diskusi hanya dikuasai dalam penelitian ini karena melalui model
segelintir siswa. pembelajaran tersebut diharapkan dapat
Hasil wawancara dengan salah seorang meningkatkan aktivitas siswa dan menciptakan
guru kimia di SMA Negeti 5 Palu, khususnya suasana belajar yang menyenangkan sehingga
kelas X, diketahui bahwa sebagian besar siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
mengalami kesulitan dalam mempelajari dan Karena dalam model pembelajaran CRH,
memahami materi kimia mengenai larutan apabila siswa dapat menjawab pertanyaan
elektrolit dan nonelektrolit. Pembelajaran secara benar maka siswa tersebut diwajibkan
yang dilakukan guru pada umumnya masih meneriakan kata “hore” ataupun yel-yel yang
dilakukan secara konvensional. Pembelajaran disukai dan telah disepakati oleh kelompok
lebih ditekankan pada metode yang banyak maupun individu siswa itu sendiri (Pujayanti
diwarnai dengan ceramah dan pembelajarannya dkk. 2013). Menurut pendapat Imran dalam
berpusat pada guru, dimana seolah-olah guru Malechah (2011), model pembelajaran CRH
merupakan satu-satunya sumber belajar. merupakan suatu model pembelajaran yang
Keadaan ini mengakibatkan siswa kurang dapat menciptakan suasana kelas menjadi
terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang meriah dan menyenangkan dengan pengujian
cenderung menjadikan mereka cepat bosan pemahaman menggunakan kotak yang diisi
dan malas belajar. Anggriani dkk (2012) dengan nomor untuk menuliskan jawabannya,
menyatakan kegiatan pembelajaran yang yang paling dulu mendapatkan tanda benar
diselenggarakan hendaknya berpusat pada vertikal atau horisontal, atau diagonal langsung
siswa (student centered learning). Umar berteriak “hore”.
(2011) berpendapat bahwa kondisi kelas perlu Model pembelajaran CRH dicirikan oleh
direncanakan dan dibangun sedemikian rupa struktur tugas, tujuan, dan penghargaan
sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk kooperatif yang melahirkan sikap
dapat berinteraksi satu sama lain. Pengajar perlu ketergantungan yang positif antar sesama siswa,
menciptakan suasana belajar dimana siswa penerimaan terhadap perbedaan individu dan
bekerja secara gotong-royong atau cooperative mengembangkan keterampilan bekerjasama
learning. hal diatas diperlukan antar kelompok. Kondisi seperti ini akan
Berdasarkan memberikan kontribusi yang cukup berarti
pengembangan pembelajaran yang inovatif dan untuk membantu siswa yang kesulitan
kreatif yang dapat menumbuhkan semangat dalam mempelajari konsep-konsep belajar,
belajar dan memperkuat daya ingat siswa pada akhirnya setiap siswa dalam kelas
terhadap materi yang dipelajari. Menurut dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
Zarkasyi (2010), guru harus merencanakan Pembelajaran CRH aktivitas belajarnya lebih
dan mempersiapkan segala sesuatu yang banyak berpusat pada siswa, dan guru hanya
menunjang proses pembelajaran baik dalam bertindak sebagai penyampai informasi,
mengubah strategi mengajar, maupun dalam fasilitator dan pembimbing. Suasana belajar
pemilihan model pembelajaran yang sesuai agar dan interaksi yang menyenangkan membuat
dapat menimbulkan minat dan motivasi siswa siswa lebih menikmati pelajaran sehingga siswa

154
Agus Setiawan Amat Salim Perbedaan Hasil Belajar Siswa SMA Negeri 5 Palu................

tidak mudah bosan untuk belajar (Sugandi, pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.
2012).
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan Hasil dan Pembahasan
sebelumnya, maka penulis termotivasi untuk Analisis Instrumen
melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Hasil uji coba instrumen dianalisis untuk
hasil belajar siswa SMA Negeri 5 Palu melalui mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kesukaran, dan daya pembeda dari tiap-tiap soal
course review horay dan konvensional pada instrumen. Berdasarkan pengujian dengan jumlah
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.” tes yang diujikan sebanyak 40 item soal
diperoleh 33 item soal yang digunakan sebagai
Metode tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dari materi larutan elektrolit dan nonelektrolit pada
Januari sampai September Tahun 2013. kelas yang menggunakan model pembelajaran
Penelitian ini bertempat di SMA Negeri 5 Palu. kooperatif tipe CRH dan konvensional.
Populasi adalah keseluruhan objek
penelitian. Sedangkan Menurut Muhammad Hasil Pengujian Prasyarat
(2011), populasi adalah keseluruhan data yang Pengujian Normalitas
menjadi perhatian kita dalam suatu ruang Berdasarkan hasil post test tersebut akan
lingkup dan waktu yang kita tentukan. Populasi diuji normalitas data. Uji normalitas
dalam penelitian ini adalah siswa kelas X menggunakan rumus chi-kuadrat. Secara
semester genap SMA Negeri 5 Palu. Sampel ringkas, hasil uji normalitas data hasil post
yang digunakan pada penelitian ini diambil test kelompok eksperimen dan kelompok
dengan menggunakan teknik purposive kontrol dapat dilihat pada Tabel 1:
sampling atau sampling pertimbangan yaitu
kelas yang mempunyai hasil belajar siswa Tabel 1. Hasil uji normalitas data hasil post
relatif sama dalam proses belajar kimia test
sehingga dapat dianggap kedua kelas ini Kelompok χ2hitung χ2tabel Kriteria
mempunyai kemampuan awal yang sama. Dari
Eksperimen 5,91623 5,99 Normal
sampling purposive tersebut diambil dua kelas
yaitu kelas XA dengan jumlah siswa sebanyak Kontrol 5,7952 7,81 Normal
28 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas
XG dengan jumlah siswa 27 orang juga Hasil analisis diperoleh χ2hitung untuk data
sebagai kelas kontrol. kelas eksperimen kurang dari χ2tabel dengan dk
= 2 dan α = 5%, yang berarti data tersebut
Instrumen Penelitian berdistrbusi normal. Sedangkan unutk data
Instrumen yang digunakan pada kelas kontrol dengan dk = 3 dan α = 5% juga
penelitian ini adalah Tes Hasil Belajar kimia. diperoleh χ2hitung kurang dari χ2tabel, berarti
Tes hasil belajar siswa disusun dengan data kelas kontrolpun berdistribusi normal.
maksud untuk memperoleh data hasil belajar
siswa kelas X dalam pembelajaran kimia di Pengujian Homogenitas
SMA Negeri 5 Palu yang penyusunannya Pengujian homogenitas (uji kesamaan
disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat dua varians) digunakan untuk mengetahui
Satuan Pendidikan (KTSP) dan berdasarkan apakah kelompok yang dijadikan sampel
kisi-kisi serta materi yang telah dipelajari. penelitian ada perbedaan varians atau tidak.
Tes karena sudah dibuat dalam bentuk pilihan Hasil uji kesamaan dua varians data hasil
ganda (multiple choice) sebanyak 33 item, post test antara kelompok eksperimen dan
pemberian skor untuk tiap item akan didasarkan kelompok kontrol dapat dilihat pada Tabel 2:
pada benar atau salahnya jawaban. Jawaban yang
benar akan memperoleh skor 1 (satu) dan
Tabel 2. Hasil uji kesamaan dua varians
jawaban yang salah akan memperoleh skor 0 data hasil post test
(nol). Tes ini digunakan sebagai tes akhir untuk Data Fhitung Ftabel Kriteria
mengetahui perbedaan hasil belajar kelompok Tidak ada
kontrol dan eksperimen. Melalui alat ini
Post test 1,380 1,90 perbedaan varians
diharapkan dapat mengungkapkan data
(Homogen)
penguasaan siswa terhadap pelajaran kimia

15
5
Volume 2, No. 3, 2013: 153-159 Jurnal Akademika
Kimia

Pada pengujian kesamaan dua varians data matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:
hasil post test diperoleh varians untuk kelompok H0 : µ1 = µ2 : Tidak terdapat perbedaan
eksperimen sebesar 4,76 sedangkan varians hasil belajar siswa pada materi larutan
untuk kelompok kontrol sebesar 6,57, sehingga elektrolit dan nonelektrolit melalui
harga Fhitung = 1,380. Berdasarkan nilai F-tabel, penerapan model pembelajaran kooperatif
untuk taraf signifikan (α) 5% dengan dk tipe CRH dan konvensioanl pada siswa kelas
pembilang 27 dan penyebut 26 diketahui X SMA Negeri 5 Palu.
harga F(0,025)(27,26) = 1,90. Karena harga Fhitung < H1 : µ1 ≠ µ2 : Terdapat perbedaan hasil
Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa kedua belajar siswa pada materi larutan elektrolit
kelompok mempunyai varians yang sama dan nonelektrolit melalui penerapan model
(homogen). pembelajaran kooperatif tipe CRH dan
konvensioanl pada siswa kelas X SMA
Deskripsi Data Hasil Penelitian Negeri 5 Palu.
Setelah kedua sampel kelompok Hasil uji perbedaan rata-rata hasil post
eksperimen maupun kelompok kontrol diberi test dapat dilihat pada Tabel 5.
perlakuan, maka kedua sampel tersebut
diberikan post test, distribusi frekuensi hasil Tabel 5. Hasil uji perbedaan rata-rata post test
post test kelompok eksperimen secara Data thitung ttabel Kriteria
lengkap dapat dlihat pada Tabel 3: Post test 4,81 2,00 Ada Perbedaan
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Skor Post test
Kimia Kelas Eksperimen Harga t(0,975) dengan dk = 53 dari daftar
Interval fi xi fi . xi xi 2
fi . xi 2 distribusi Student (t) adalah 2,00. Kriteria
Kelas pengujiannya adalah: terima H0 jika thitung
terletak antara -2,00 dan 2,00 dan tolak H0 jika
19 – 20 2 19,5 39 380,25 760,5
thit mempunyai harga-harga lain.
21 – 22 11 21,5 236,5 462,25 5084,75 Berdasarkan penelitian didapat t hitung =
23 – 24 7 23,5 164,5 552,25 3865,75 4,81 dan ini jelas berada di daerah penolakan
25 – 26 6 25,5 153 650,25 3901,5 H0. Jadi, H0 ditolak dan H1 diterima.
27 – 28 2 27,5 55 756,25 1512,5
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan hasil belajar siswa pada materi
Jumlah 28 648 15125 larutan elektrolit dan nonelektrolit melalui
penerapan model pembelajaran kooperatif
Sementara distibusi frekuensi hasil post tipe CRH dan konvensional pada siswa kelas
test kelompok kontrol secara lengkap dapat X SMA Negeri 5 Palu.
dilihat pada Tabel 4: Pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe CRH dan
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Skor Post test pembelajaran konvensional dapat diketahui
Kimia Kelas Kontrol berpengaruh terhadap hasil belajar kimia siswa
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit
Interval fi xi fi . x i x i2 fi . x i 2
dengan menggunakan uji kesamaan dua rata-
kelas
rata: uji dua pihak. Data yang digunakan untuk
16 - 17 3 16,5 49,5 272,25 816,75
menganalis uji kesamaan dua rata-rata adalah
18 - 19 11 18,5 203,5 342,25 3764,75 data nilai post test materi larutan elektrolit dan
20 - 21 6 20,5 123 420,25 2521,5 nonelektrolit yang diberikan pada akhir
22 - 23 4 22,5 90 506,25 2025
pembelajaran. Rumus yang digunakan adalah
uji-t. Hal ini disebabkan karena kelompok
24 -25 2 24,5 49 600,25 1200,5
eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai
26 - 27 1 26,5 26,5 702,25 702,25
data yang berdistribusi normal dan varians
Jumlah 27 541,5 11030,8
yang sama. Berdasarkan hasil perhitungan
diperoleh harga thitung sebesar 4,81 sedangkan
Pengujian Hipotesis harga t(0,975),(53) sebesar 2,00. Oleh karena thitung
Berdasarkan hipotesis dalam penelitian ini tidak berada direntang -2,00 dan 2,00, ini
yaitu antara pembelajaran CRH dengan berarti bahwa thitung berada di daerah penolakan
konvensional, maka pengujian hipotesis ini H0. Hasil uji hipotesis ini diperoleh kesimpulan
dilakukan dengan menggunakan uji kesamaan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa
dua rata-rata: uji dua pihak (uji-t). Secara pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit

156
Agus Setiawan Amat Salim Perbedaan Hasil Belajar Siswa SMA Negeri 5 Palu................

melalui penerapan model pembelajaran pada model CRH terdapat games yang
kooperatif tipe CRH dan konvensional pada menyenangkan, setiap kelompok yang
siswa kelas X SMA Negeri 5 Palu. menjawab benar akan berteriak hore, sehingga
Pembelajaran dengan menerapkan model dapat membangkitkan semangat belajar siswa.
pembelajaran kooperatif tipe CRH adalah Hermawan (2014) yang menyatakan bahwa
salah satu upaya yang baik yang dilakukan pembelajaran CRH merupakan strategi yang
dalam proses pembelajaran kimia khususnya menyenangkan, karena siswa diajak untuk
materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. bermain sambil belajar untuk menjawab
Setelah dilakukan pembuktian antara dua berbagai pertanyaan yang disampaikan secara
sampel dengan uji-t dapat diketahui bahwa menarik dari guru sehingga dapat mendorong
pengujian hipotesis penelitian ini ada siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran dan
perbedaan antara yang mendapat diharapkan siswa lebih semangat dalam belajar
pembelajaran kooperatif tipe CRH dengan karena pembelajarannya tidak monoton karena
konvensional. Ini berarti, hasil belajar siswa diselingi sedikit hiburan sehingga suasana
yang mendapat pembelajaran kooperatif tipe tidak menegangkan, dan pada akhirnya hasil
CRH lebih baik dari hasil belajar siswa yang belajar siswa akan menjadi baik.
mendapat pembelajaran konvensional, Pada pembelajaran konvensional yang
dengan rata -rata skor hasil belajar siswa dilakukan pada kelas kontrol, keseluruhan
kelas eksperimen sebesar 23,21 dan kelas proses belajar-mengajar lebih didominasi oleh
kontrol sebesar 19,93. guru. Guru dalam hal ini sepenuhnya
Nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa memberikan informasi dan ilmu pengetahuan
pada kelas eksperimen yang lebih tinggi daripada pada siswa, peran aktif siswa hanya sekedar
kelas kontrol, karena siswa tertarik dengan mendengarkan dan memperoleh langsung hasil
kegiatan pembelajaran dengan penerapan model dari tugas atau persoalan dari guru. Pada
pembelajaran CRH. Hal ini juga didukung oleh umumnya siswa mendapat penuturan secara
nilai rata-rata psikomotorik kelas eksperimen lisan dan bersifat pasif, yakni menerima apa
yang lebih tinggi yaitu sebesar 6,9, sedangkan yang dijelaskan oleh guru tanpa berbuat
untuk kelas kontrol sebesar 6,5. Pada saat diskusi semaksimal mungkin.
kelompok, siswa mampu memanfaatkan Lebih lanjut, rendahnya nilai rata-rata siswa
kerjasama tim dalam menjawab soal, terlihat pada kelas dengan pembelajaran konvensional
bahwa para siswa saling berinteraksi satu sama disebabkan karena pada proses pembelajaran,
lain dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, tidak terjadi saling membelajarkan antar siswa di
memperhatikan intruksi dari guru, dan mampu dalam kelompok dan tidak terjadi kerja sama
memanfaatkan sumber belajar yang tidak hanya antar siswa dalam penguasaan materi pelajaran.
menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber Kelas kontrol juga tidak ada penghargaan seperti
belajar. Hal ini juga didukung oleh pendapat ahli, di kelas eksperimen, sehingga membuat siswa
Stahl dalam Anggraeni (2011) menjelaskan kurang termotivasi untuk belajar. Selain itu,
bahwa model pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran konvensional siswa hanya
menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu disuruh untuk mendengarkan apa yang
sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil disampaikan oleh guru sehingga pelajaran yang
yang optimal dalam belajar. Melalui disampaikan tidak tersimpan dalam memori
pembelajaran ini siswa bersama kelompok belajar jangka panjang.
secara gotong-royong, setiap anggota kelompok Walaupun pembelajaran CRH lebih baik
saling membantu yang lemah. Kegagalan daripada konvensional, akan tetapi masih
individu adalah kegagalan kelompok dan terdapat kelemahan yang teridentifikasi oleh
keberhasilan individu adalah keberhasilan peneliti, diantaranya pada pertemuan pertama
kelompok. sulit bagi guru untuk mengawasi dan menyatukan
Pembelajaran kooperatif tipe CRH adalah jawaban setiap kelompok karena tipe soal LKS-
salah satu pembelajaran yang dapat mendorong nya dalam bentuk Essay, sehingga terdapat
siswa untuk ikut aktif dalam belajar dan banyak kemungkinan jawaban, selain itu tidak
menciptakan suasana belajar yang efisien dari segi waktu, serta pembelajaran
menyenangkan. Karena dalam pembelajaran menjadi kurang efektif. Guna untuk mengatasi
CRH siswa bukan hanya sekedar belajar tapi kelemahan tersebut dibutuhkan tipe soal yang
juga diselingi games (kuis horay) dalam memiliki satu jawaban pasti atau yang memiliki
pembelajarannya yang membuat pembelajaran satu jawaban. Oleh karena itu pada pertemuan
tidak membosankan. Hal ini sesuai dengan kedua peneliti mengganti tipe soal LKS-nya
pendapat Suprijono dalam Yuanita (2012), menjadi bentuk

15
7
Volume 2, No. 3, 2013: 153-159 Jurnal Akademika
Kimia

pilihan ganda (PG). Terlihat bahwa kelemahan negeri 2 sukoharjo tahun ajaran 2011/2012.
pada pertemuan pertama dapat teratasi pada Jurnal pendidikan kimia. JPK, 1(1), 80.
pertemuan berikutnya. Hal ini sesuai dengan
pendapat oleh Kustiaroh (2012) bahwa pada Hermawan, P. (2014). Pengaruh model
pembelajaran CRH penggunaan soal yang kooperatif tipe course review horay
hanya terbatas pada soal pilihan ganda. (CRH) terhadap hasil belajar IPA. Jurnal
didaktika dwija indria (Solo), 2(1), 1-6.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian, Malechah, N. (2011). Perbandingan hasil
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat belajar siswa dengan menggunakan
perbedaan hasil belajar siswa pada materi model pembelajaran course review horay
larutan elektrolit dan nonelektrolit melalui (CRH) dan model pembelajaran scramble
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe berbantuan LKS pada pokok bahasan
CRH dan konvensional pada siswa kelas X bangun datar siswa kelas VII semester II
SMA Negeri 5 Palu. Hal ini dapat dilihat dari SMPN 2 sayung demak tahun pelajaran
perbandingan skor rata-rata post test pada 2010/2011. IKIP PGRI, Semarang.
akhir pembelajaran kelas eksperimen 23,21
sedangkan pada kelas kontrol 19,93. Hal ini Muhammad, I. (2011). Hasil belajar siswa pada
diperkuat dengan hasil analisis data statistik, materi bangun ruang melalui pendekatan
diperoleh bahwa model pembelajaran realistik (suatu penelitian pada anak kelas
kooperatif tipe CRH memberikan hasil belajar VIII SMP negeri 1 kuta malaka aceh besar).
yang lebih tinggi dibandingkan pendekatan Jurnal pendidikan serambi ilmu, 10(1), 6.
konvensional dengan nilai thitung berada diluar
dari rentang -ttabel dan ttabel. Nilai thitung 4,81 dan Nugroho, U. (2009). Penerapan
ttabel 2,00 pada taraf signifikan 5% dan dk = 53 pembelajaran kooperatif tipe STAD
sehingga hipotesis dapat diterima pada taraf berorientasi keterampilan proses. Jurnal
kepercayaan 95%. pendidikan fisika indonesia, 5(3), 108.
Ucapan Terima Kasih Pujayanti, P., Murda, I Nym., Wibawa, I Md C.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada: (2013). Pengaruh model pembelajaran course
Bapak Zikran selaku Kepala sekolah SMA review horay berbantuan media gambar
Negeri 5 Palu, Bapak Hasri Hamid selaku Guru terhadap hasil belaar ipa siswa kelas IV gugus
Kimia di SMA Negeri 5 Palu dan adik-adik siswa VIII munduk. Mimbar PGSD, 1
kelas XA dan XG SMA Negeri 5 Palu. (1), 1-11.
Samtono. (2010). Guru sebagai key person
dalam upaya peningkatan mutu pendidikan
Referensi di sekolah. Among Makarti, 3(6), 95.
Albertus, D. K. (2009). Pendidik karakter di Sugandi, E. (2012). Upaya meningkatkan
zaman keblinger: Mengembangkan visi prestasi belajar matematika pada pokok
guru sebagai pelaku perubahan dan bahasan sistem persamaan dan
pendidik karakter. Diunduh kembali dari pertidaksamaan kuadrat melalui model
http://books.google.co.id. pembelajaran kooperatif tipe course review
horay pada siswa kelas X akutansi 1 SMK
Anggraeni, D. (2011). Inproving social negeri 1 surabaya tahun ajaran 2011/2012.
instructional quality by cooperative Seminar nasional pendidikan matematika.
model, course review horay type at fourth Universitas PGRI Adi Buana.
SDN sekaran 01 semarang. Jurnal
kependidikan dasar, 1(2), 196-197. Suryana, F. A., & Sunarti, T. (2013). Penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD
Anggriani, W. (2012). Pengaruh pembelajaran pada materi ipa terpadu bunyi dan sistem
kimia dengan pendekatan CTL (contextual pendengaran pada manusia di kelas viii
teaching and learning) melalui metode smpn 1 pacet mojokerto. Jurnal pendidikan
eksperimen dan proyek terhadap prestasi sains e-pensa, 1(1), 77-80.
belajar ditinjau dari minat berwirausaha
siswa pada materi destilasi kelas X SMK Susanto, J. (2012). Pengembangan perangkat

158
Agus Setiawan Amat Salim Perbedaan Hasil Belajar Siswa SMA Negeri 5 Palu................

pembelajaran berbasis lesson study pekanbaru. Universitas Riau.


dengan kooperatif tipe numbered heads
together untuk meningkatkan aktivitas Zarkasyi, I. (2010). Meningkatkan prestasi
dan hasil belajar IPA di SD. Journal of belajar akidah akhlak melalui cooperative
Primary Educational, 1(2), 71-77. learning tipe student teams achievement
Umar, Elmia. (2011). Peningkatan hasil division pada siswa-siswi kelas V/b SD
belajar siswa sekolah dasar melalui darul ulum bungurasih waru sidoarjo tahun
belajar kooperatif tipe jigsaw. Jurnal pelajaran 2009/2010. Jurnal penelitian
inovasi, 8(3), 102. tindakan kelas pendidikan agama islam,
Yuanita, R. (2012). Penerapan model 1(1), 13.
pembelajaran kooperatif course review
Zulhartati, S. (2011). Pembelajaran Kooperatif
horay untuk meningkatkan hasil belajar
siswa pada pokok bahasan kelarutan dan model STAD pada mata pelajaran IPS.
hasil kelarutan di kelas XI SMA negeri 5 Jurnal guru membangun, 26(2).

159