Vous êtes sur la page 1sur 10

RINGKASAN MATERI KULIAH SAP 1 AKUNTANSI PERHOTELAN EKA 443 A2 R. IA 1.6

RINGKASAN MATERI KULIAH SAP 1 AKUNTANSI PERHOTELAN EKA 443 A2 R. IA 1.6 OLEH: KELOMPOK 3

OLEH:

KELOMPOK 3

  • 1. I GUSTI AYU PUTRI SUNIANTARI

(1607531042) / 11

  • 2. NI WAYAN SUDIARTI (1607531044) / 12

  • 3. NI KOMANG ITA MONIKA

  • 4. IDA AYU YUNI PRAMITHA

(1607531045) / 13

(1607531046) / 14

AKUNTANSI REGULER FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2019

1.

KONSEP DASAR PARIWISATA

Kata “Pariwisata” berasal dari bahasa Jawa Kuno. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia, kata “pari” berarti semua, segala,sekitar, sekeliling; kata “wisata” berarti berpergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang dan

sebagainya. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas

serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah pusat, dan

pemerintah daerah (UU No. 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan). Sehingga lingkup pariwisata meliputi:

1)

Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata.

2) Pengusahan obyek dan daya tarik wisata, seperti kawasan wisata, taman rekreasi,

kawasan peninggalah sejarah, (candi, makam), museum, waduk, pagelaran seni budaya, tata kehidupan masyarakat, dan yang bersifat alamiah, seperti keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai dan lain-lain. 3) Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata, seperti biro perjalanan wisata, pramuwisata, pameran, angkutan wisata, akomodasi dan lain-lain. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaran pariwisata (UU No.10 tahun 2009 Tentang Kapariwisataan). Sedangkan, wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik isata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara (UU No. 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan). Lingkup pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan, dilakukan secara sukarela, bersifat sementara, dan perjalanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata maupun untuk pengembangan diri. Wisatawan menurut KBBI berarti orang berisata, pelancong, atau turis artinya orang

yang memasuki wilayah atau negara lain dengan tujuan apapun asal bukan untuk tinggal menetap atau melakukan usaha teratur, dan mengeluarkan uangnya dinegara yang dikunjungi serta tidak memperoleh uang dari negara tersebut. Hal tersebut berarti bahwa yang bisa disebut sebagai wisatawan adalah yang memiliki ciri-ciri, sebagai berikut:

1)

Perjalanan itu dilakukan lebih dari 24 jam.

 

2)

Perjalanan itu dilakukan hanya untuk sementara waktu.

3)

Orang

yang

melakukannya

tidak

mencari

nafkah

di

tempat

di negara yang

dikunjungi. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesame

wisatawan, pemerintah pusat, pemeintah daerah, dan pengusaha. Sedangkan, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisata. Daerah tujuan pariwisata atau destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administrative yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesbilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Pengusaha pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata. Kawasan strategis pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata ata memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Setiap wisatawan yang berkunjung ketempat wisata mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipatuhi, agar terjadi harmonisasi hubungan anttara wisatawan, masyarakat, pemerintah, dan pengusaha wisatawan. Keharmonisan hubungan antara wisatawan, masyarakat, pemerintah, dan pengusaha pariwisata maka dibuat slogan “SAPTA PESONA”. Sapta pesona adalah tujuh unsur pesona yang harus diwujudkan bagi terciptanya lingkungan yang kondusif dan ideal bagi berkembangnya kegiatan kepariwisataan di suatu tempat yang mendorong tumbuhnya minat wisatawan untuk berkunjung. Ketujuh unsur sapta pesona yang dimaksud di atas adalah aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan.

  • 2. JENIS-JENIS DAN USAHA PARIWISATA

Definisi pariwisata dan wisatawan yang telah dijelaskan sebelumnya memberi gambaran tetang tujuan seseorang melakukan perjalanan wisata. Definisi tersebut akan

mempengaruhi dan menentukan jenis-jenis pariwisata yang dapat dikembangkan didaerah tujuan wisata sehingga menarik wisatawan untuk mengunjunginya. Menurut Spillane (1989) tedapat beberapa jenis pariwisata, antara lain:

1)

Pleasure tourism (pariwisata menikmati perjalanan) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempa tinggalnya untuk

berlibur, mencari udara segar yang baru, mengendorkan ketegangan sarafnya, menikmati keindahan alam, menikmati hikayat suatu daerah, menikmati hiburan, dan sebagainya. Jenis pariwisata ini menyangku begitu banyak unsur yang sifatnya

2)

berbeda karena pengertian utilitas pleasure yang berbeda sesuai dengan karakter, citarasa, latar belakang kehidupan, dan tempramen individu. Recreation tourism (pariwisata rekreasi)

3)

Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari libur untuk istirahat, memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohani yang akan menyegarkan keletihan dan kelelahan. Cultural tourism (pariwisata budaya) Jenis pariwisata ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keingan untuk belajar dipusat-pusat pengajaran dan riset, mempelajari adat istiadat, cara hidup masyarakat suatu negara, mengunjungi peninggalan sejarah, mengunjungi peninggalan masa kini, pusat-pusat kesenian dan keagamaan, mengikuti festival seni

4)

music, film, teater, tari dan sebagainya. Sport tourism (pariwisata olahraga), jenis pariwisata ini dibagi dalam dua kategori:

(1) Big spot event, seperti: Olympiade, games, tenis Wimbledon, balap motor grand

prix-GP, Formula-1, kejaran sepak bola dunia, sepak bola piala champions, dan

sebagainya. (2) Sporting tourism of practioner. Yaitu pariwisata olahraga bagi mereka yang ingin

5)

berlatih dan mempraktekkan sendiri, seperti: pendakian gunung, berburu, memancing, dan sebagainya yang tentunya akan menarik wisatawan untuk mengunjungi negara yang menyediakan fasilitas pariwisata untuk olahraga. Business shopping tourism (pariwisata dagang besar-belanja)

6)

Jenis perjalanan ini menurut banyak ahli tidak termasuk dalam kegiatan pariwisata karena unsur voluntary tidak terlibat didalamnya. Dalam jenis pariwisata ini, unsur yang ditekankan adalah kesempatan yang digunakan oleh pelaku perjalanan wisata menggunakan waktu-waktu bebasnya untuk menjadikan dirinya sebagai wisatawan dengan mengunjungi dan menikmati obyek wisata dan berbelanja. Convention tourism (pariwisata konvensi)

Jenis pariwisata ini mengalami perkembangan yang luar biasa dan menjadi penting dalam sumbangan terhadap devisa negara. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya negara yang mulai tertarik dan menggarap jenis pariwisata ini dengan banyaknya hotel atau bangunan-bangunan yang khusus dilengkapi untuk menunjang convention tourism. Fasilitas konvensi ini digunakan untuk melakukan pertemuan-pertemuan kepala negara ataupun organisasi-organisasi dunia yang melibatkan banyak negara dan banyak peserta. United Nations Conference on Trade and Development (1971) dalam Guidelines for Tourism Statistics mengatakan bahwa industry pariwisaa atau sektor pariwisata bukan merupakan suatu sektor ekonomi tertentu atau bukan merupakan cabang produksi tertentu. Adapun barang-barang dan jasa-jasa yang diperhitungkan dalam pariwisata

berasal dari beberapa sektor dan ini memenuhi permintaan wisatawan asing maupun

dalam negeri. Selama tidak ada konsep yang formal tentang sektor pariwisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut, maka istilah tersebut digunakan untuk menyatakan secara luas terhadap kelompok industry dan aktivitas komersial yang memproduseri barang- barang dan jasa-jasa yang sebagian atau seluruhnya dikonsumsi oleh wisatawan asing maupun dalam negeri. Berdasarkan hal-hal tersebut sektor-sektor yang dianggap termasuk sektor pariwisata adalah:

1)

Akomodasi termasuk didalamnya hotel, villa, penginapan, dan pemondokan.

2)

Jasa boga termasuk didalamnya restoran, cafeteria, dan rumah makan.

3) Usaha wisata termasuk didalamnya pengusahaan obyek wisata, usaha souvenir, dan

usaha hiburan. 4) Agen perjalanan wisata termasuk didalamnya travel agent. 5) Perusahaan angkutan atau transportasi termasuk didalamnya perusahaan angkutan

6)

darat, angkutan laut, angkutan udara yang menunjang perjalanan wisman dan wisdom. Convention orginezer.

7)

Pelatihan dan pendidikan. UU No. 10 tahun 2009, Tentang Kepariwisataan telah mendefinisikan Industri

Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata. Sedangkan, usaha paiwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/ atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan

penyelenggaraan pariwisata. Usaha pariwisata meliputi, antara lain:

1) Daya tarik wisata, yang dimana bidang usaha daya tarik wisata meliputi jenis

2)

pengelolaan daya tarik wisata. Kawasan pariwisata.

3)

Jasa transportasi wisata.

4)

Jasa perjalanan wisata.

5)

Jasa makanan dan minuman.

6)

Penyediaan akomodasi.

7)

Penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi.

8)

Jasa impresariat/promotor.

9)

Penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran.

10) Jasa informasi pariwisata.

11) Jasa konsultan pariwisata. 12) Jasa pramuwisata. 13) Wisata tirta. 14) SPA

  • 3. MOTIVASI MELAKUKAN PERJALANAN WISATA

Beberapa alasan yang dikemukakan oleh H. Peter Gray (1970) bahwa seseorang

melakukan perjalanan untuk bersenang-senang (pleasure travel) sebagai berikut.

1) Faktor haus akan sinar (sunlust), dimaksudkan sebagai sifat-sifat yang mendasar pada tabiat manusia, yang menyebabkan seseorang ingin pergi meninggalkan sesuatu yang sudah biasa dilihat dan dirasakan, untuk melihat suatu daerah atau kebudayaan baru yang berbeda. 2) Faktor yang menimbulkan jenis perjalanan khusus, yang bergantung pada adanya hal- hal yang menyenangkan (amenities) yang berbeda dan lebih baik untuk tujuan tertentu dibandingkan dengan yang ada ditempat sendiri, seperti liburan musim dingin di Florida, Hawai atau Caribia oleh orang-orang Canada dan orang-orang yang berasal dari Amerika Serikat sebelah Utara. Spilance (1989) produk dari objek atau industri pariwisata mempunyai beberapa

sifat khusus, yaitu:

1) Produk wisata tidak dapat dipindahkan karena orang tidak dapat membawa produk ke

wisatawan, akan tetapi wisatawan itu sendiri yang harus mengunjungi, mengalami,

dan dating untuk menikmati produk wisata. 2) Produksi dan konsumsi terjadi pada waktu yang bersamaan. Tanpa wisatawan yang

sedang menggunakan jasa wisata itu tidak akan terjadi kegiatan produksi wisata. 3) Pariwisata tidak mempunyai standar ukuran yang objektif karena pariwisata memiliki

berbagai ragam jenis pariwisata. 4) Wisatawan tidak dapat mencicipi, menikmati, ataupun menguji produk itu sebelumnya

karena wisatawan hanya melihat brosur, internet, ataupun alat promosi lainnya. 5) Produk wisata mengandung resiko tinggi karena memerlukan modal besar, sedangkan

permintaannya sangat peka dan rentan terhadap situasi ekonomi, politik, sikap masyarakat, dan kesukaan wisatawan. Dinas Pariwisata Provinsi Bali (200) mengemukakan bahwa hasrat ingin tahu dan jiwa petualang yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia merupakan dorongan terhadap kita untuk melakukan perjalanan kemana saja yang ingin kita lintasi dan nikmati obyek wisatanya meskipun samapai ke negeri orang. Selain itu, terdapat beberapa faktor menjadi penyebab untuk melakukan perjalanan wisata yaitu:

1)

Kondisi lingkungan Kondisi sekitar yang kurang baik atau rusak, lingkungan tempat tinggal yang bising

2)

dan kotor, ataupun pemandangan yang membosankan. Kondisi sosial budaya

3)

Seperti kurang tersedianya fasilitas rekreasi, kegiatan yang rutin dalam masyarakat sekitar, terlalu banyak kerja, adanya perbedaan sosial antar anggota masyarakat dan lain-lain yang sering menjadi alasan untuk pergi ke tempat-tempat yang kondisinya lebih baik dan menyenangkan. Kondisi ekonomi

4)

Konsumsi yang tinggi dari masyarakat, biaya hidup sehari-hari, tingkat daya beli yang tinggi, banyaknya waktu luang serta relatif rendahnya ongkos angkutan, juga akan mendorong seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Pengaruh kegiatan pariwisata Peningkatan publikasi dan penyebaran informasi serta timbulnya pandangan tentang nilai lebih dari kegiatan berwisata terhadap fungsi sosial masyarakat dapat mendorong kegiatan wisata.

  • 4. PEMASARAN PARIWISATA Pemasaran memiliki peran yang sangat penting dalam industri pariwisata khususnya untuk memberikan pencitraan daerah tujuan wisata. Pemasaran daerah tujuan wisata adalah keseluruhan usaha untuk mengenalkan produk wisata yang ditawarkan oleh daerah tujuan wisata baik yang tangiable maupun intangiable produk, mengenali identitas wisatawan yang mempunyai waktu, uang dan mempunyai keinginan untuk berwisata, dan mencari cara terbaik untuk mencapai dan meyakinkan wisatawan untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata. Pemasaran pariwisata memiliki tujuan utamanya yakni tidak hanya menyangkut jumlah maksimal wisatawan yang berkunjung dan tinggal lebih lama tetapi lebih diutamakan quality tourism yang dengan promosi selektif dapat mencapai wisatawan

dengan belanja yang sangat besar dan terjadi repeat queast. Pemasaran daerah tujuan wisata dapat dilakukan tidak hanya dengan melakukan promosi melalui iklan, brosur, internet, ataupun alat-alat promosi lainnya tetapi dapat juga dengan mengundang penulis atau wartawan pariwisata asing dengan tujuan agar penulis atau wartawan tersebut menulis atau meliput hasil kunjungannya didaerah tujuan wisata wariss. Prinsip-prinsip yang terdapat dalam manajemen pemasaran global dalam marketing mix masih berlaku. Marketing mix sebagai strategi pemasaran sebenarnya mempertemukan antara penawaran dan permintaan pasar. H.F Stanley dalam (Spillance, 1998), seorang konsultan Pasific Asia Travel Association membagi unsure marketing mix dalam pariwisata menjadi :

1)

Product mix : Masalah pemeliharaan warisan budaya, peninggalan sejarah, dan pemeliharaan fisik dan nonfisik.

2)

Distribution

mix

:

Layanan

agar

wisatawan memperoleh

kepuasan saat

mengkonsumsi produk pariwisata. 3) Communication mix : Agar suatu produk wisata diketahui oleh wisatawan maka

wisatawan harus diberi informasi, diperkenalkan, ditarik, dan didorong agar mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Ada beberapa pendekatan communication mix, yaitu :

(1) Sales promotion, meliputi kegiatan komunikasi yang diarahkan kepada wisatawan melalui media umum, biro perjalanan, dan hubungan langsung dengan wisatawan. (2) Image promotion, kegiatan komunikasi ini dilakukan dengan cara membujuk

secara halus untuk member kesan dan gambaran suatu daerah tujuan wisata. (3) Melalui pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kepada semua staf organisasi

yang terkait dalam matarantai kegiatan pariwisata. (4) Melalui jasa penerangan kantor pariwisata, termasuk jasa surat-menyurat, dan

hubungan korespondensi melalui alat komunikasi. 4) Service mix : Kebijakan pemerintah untuk memperlancar perjalanan dan persinggahan

wisatawan.

ASPEK DAN DAMPAK PEMBANGUNAN PARIWISATA

Penelitian yang dilakukan Chau di Hawai (Spillance,1989) menunjukan bahwa

setiap kenaikan kunjungan wisatawan sebanyak 25.000 orang mengakibatkan terciptanya kesempatan kerja langsung sejumlah 390 orang dan tidak langsung sejumlah 243 orang. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh International Union of Office Travel Organization menyimpulkan bahwa kesempatan kerja yang terbuka diseluruh dunia untuk bidang hotel dan restoran diperkirakan mencapai 750.000 orang pertahunnya

(Spillance,1989).

Menurut Tambunan (1999), industri pariwisata dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah industri pariwisata yang dimiliki masyarakat daerah community tourism development (CTD). Dengan pengembangan CTD, pemerintah daerah dapat memperoleh peluang penerimaan pajak dan beragam restribusi yang bersifat legal. Sebagaii contoh, keberadaan sebuah hotel disuatu daerah kabupaten atau kota akan menjadi sumber PAD bagi kabupaten atau kota dari penerimaan:

1)

Pajak daerah

dari penerimaan:

2)

Retribusi daerah

3)

Laba BUMD

4)

Bagi hasil pajak

5)

Bukan pajak

Bagi provinsi, keberadaan hotel yang ada didaerahnya akan menjadi sumber PAD

1)

Pajak provinsi

2)

Retribusi provinsi

3)

Laba BUMD provinsi

4)

Bagi hasil pajak provinsi Dinas Pariwisata Provinsi Bali (2005), manfaat dan keuntungan dalam pembangunan

dan pembangunan pariwisata bila direncanakan dan diarahkan dengan baik adalah:

1)

Manfaat ekonomi (kesejahteraan)

Manfaat ekonomi bagi penduduk, pengusaha maupun pemerintah setempat, seperti:

(1) Penerimaan devisa (2) Kesempatan berusaha (3) Terbukanya lapangan kerja

 

(4)

Meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah

(5)

Mendorong pembangunan daerah

2)

Manfaat sosial budaya

(1)

Pelestarian budaya dan adat istiadat

(2) Meningkatkan kecerdasan masyarakat

(3) Meningkatkan kesehatan dan kesegaran jasmani ataupun rohani

(4)

Mengurangi konflik sosial

3)

Manfaat dalam berbangsa dan bernegara

(1)

Mempererat persatuan dan kesatuan

(2) Menumbuhkan rasa memiliki, keinginan untuk memelihara dan mempertahankan

4)

negara agar tumbuh rasa cinta terhadap tanah air (3) Memelihara hubungan baik internasional dalam hal pengembangan pariwisata Manfaat bagi lingkungan

Pembangunan dan pengembangan pariwisata diarahkan agar dapat memenuhi keinginan wisatawan. Dampak-dampak yang tidak diinginkan karena berkembangnya kepariwisataan di suatu daerah, dapat menyangkut segi ekonomi, sosial budaya, politik maupun

lingkungan, seperti:

1)

Harga-harga barang atau jasa pelayanan menjadi naik.

 

2) Penduduk, khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan yang tidak

 

sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa kita sendiri.

 

3) Terdapat

banyaknya

pemanfaatan

wisatawan

oleh

orang-orang tidak

4)

bertanggungjawab untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas. Terjadinya pengerusakan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Widanaputra, A.A.GP., Suprasto, H Bambang., Ariyanto, Dodik., Sari, Maria M Ratna. 2009. Akuntansi Hotel (Pendekatan Sistem Informasi)