Vous êtes sur la page 1sur 11

ANALISIS PENENTUAN KARAKTERISTIK DAN KRITERIA

PINJAMAN TANPA BUNGA PADA PERUSAHAAN INTRAGRUP DARI


SISI PERPAJAKAN
Niken Rogo Rahayuningtias" Arifah Fibri Andriani '
2

IJDirektorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan


e-mail : niken.rogo@gmail.com
2 >Politeknik Keuangan Negara STAN
e-mail : arifahfibri@gmail.com
Abstract
Interest free loans between intragroup companies who have a special relationship is a transaction
that is prevalent in the business world. However, in terms of taxing, these transactions require
restrictions in order to prevent tax avoidance efforts. One form of tax avoidance is transfer pricing
schemes. No exception to the interest-free loan transactions. Therefore, need to be assessed arm's length
principle on this transaction usingfunctional analysis and comparability analysis.
Field data indicate a dispute between the taxpayer with the tax officer in determining the characteristics
of the interest-free loan, criteria of the interest-free loans that reflects the arm's length transaction, and
the determination offinancial distress as one of the criteria of interest-free loan. This research aims to
settle the dispute subject.
The results of this research showed that the characteristics of the interest-free loan can be seen from its
character as a loan and the characters that sets it apartfrom the capital. Criteria of interest-free loan in
Indonesia have already reflects the arm's length transaction in accordance to intercompany loan
functional analysis. A company in financial distress can receive interest-free loan if the company is in a
state of insolvency.

Keyword: special relationship, arm's length, transfer pricing, interest-free loan.

PENDAHULUAN penulis menemukan bahwa sejak tahun 1992


1. Latar Belakang hingga saat ini telah teijadi kurang lebih 33
Dalam melakukan analisis atas transaksi putusan terkait transaksi pinjaman tanpa bunga
pinjaman tanpa bunga, fakta di lapangan dengan kondisi 76% DJP mengalami kekalahan.
menunjukkan adanya sengketa (dispute ) antara Siapa pun yang dimenangkan dalam sengketa ini,
WP dan fiskus. Putusan pengadilan pajak tentang baik WP maupun DJP telah menanggung cost of
sengketa transaksi pinjaman tanpa bunga dapat tax collection dan cost of tax compliance yang
dilihatnadaTahel 1. lebih tinggi dibanding ketika sengketa tidak
ftiHiun Pow
TlM TWnu IhinitM >n Ptwjtmm
MUjrui
teijadi, terutama ketika terdapat potensi pajak
<£kataOaa yang hilang. Hal tersebut memberi dampak
1. PVT 29564»MVU 15 2011 Mfttgibcflan tcbagMa Rp2.649.547.3S2 negatif bagi penerimaan negara. Sesuai data dari
2.
3.
PVTJ 1201»\LXV;15 2011
PUT.4350 IPPM-
-
Xlli h 42015
licoobk
jklenjjbcJlaa Mlirnifepyi
-
.
Rpl .840.763 000
Kementerian Keuangan, pada tahun 2014
WOTJTTOIMJ yimf bollaa tctepaa Rp32. h 98.8O6.bO0 realisasi target penerimaan pajak Indonesia
4.
5. Pt/T.4<5M UX1122013 Mcngrtnrtea wfantfmy»
^ adalah 91,7%.
6.
^
PVT 49194.to 4lXV,15 2014 Mcogtbdfcxa scharaStoys
Rp2 756 540.489
Rp2.540.801.817
7. PVT.51I74PPJAXVA 122014 HesoES *

8. Hh-.J i MWfcULkVA 1112614 Mcoobk - 2. Tujuan Penelitian


9. ptrrsistA PPM via 122014 Mmg»balk«a tctot±oy» f sHi a *d a. Menjelaskan karakteristik pinjaman tanpa
Tool Rp93 293.893.297
bunga pada perusahaan intragrup.
Scmbcr: PMib dci dm patcwa pcanfflin Ptiik ulna 2011 i d 2014
b. Mengetahui kesesuaian kriteria diperkenan-
kannya pinjaman tanpa bunga saat ini dalam
Sengketa pada Tabel 1 terjadi dalam hal mencerminkan kewajaran transaksi
penentuan karakteristik pinjaman tanpa bunga, berdasarkan analisis fiingsional.
kriteria untuk mengidentifikasi diperkenan- c. Menjelaskan koridor kondisi kesulitan
kannya pinjaman tanpa bunga dan penentuan keuangan sebagai salah satu kriteria
kondisi kesulitan keuangan sebagai salah satu diperkenankannya pinjaman tanpa bunga
criteria diperkenankannya pinjaman tanpa pada perusahaan intragrup.
bunga. Dari data putusan pengadilan pajak,

19
TINJAUAN TEORITIS dan kelaziman usaha menururt Darussalam
1. Konsep TaxAvoidance (2013, 92) yang mengutip OECD Guidelines
Menurut Danny dan Darussalam (2009, 1), berawal dari premis bahwa kondisi hubungan
tax avoidance biasanya diartikan sebagai suatu komersial dan keuangan dari transaksi yang
skema transaksi yang ditujukan untuk dilakukan oleh perusahaan independen
meminimalkan beban pajak dengan ditentukan oleh kekuatan pasar. Sedangkan
memanfaatkan kelemahan kelemahan - kekuatan kontrol yang dimiliki oleh pihak yang
( loophole ) ketentuan perpajakan suatu negara. berafiliasi dapat mendorong keputusan bisnis
Hal ini sesuai dengan kepentingan perusahaan yang tidak mengacu pada pertimbangan rasional.
yang berorientasi laba, baik perusahaan domestik Prinsip kewajaran dan kelaziman usaha
maupun multinasional. diletakkan dalam tiga lapisan hierarki, yaitu
Danny dan Darussalam ( 2009 , 1 ) kewajaran dan kelaziman usaha pada: struktur,
berpendapat tax avoidance dibagi menjadi perilaku dan kineija.
acceptable tax avoidance dan unacceptable tax Analisis kesebandingan digunakan untuk
avoidance. Namun, masing-masing negara menilai kewajaran transaksi afiliasi. Oleh karena
memiliki pandangan berbeda tentang itu, diperlukan pembanding yang andal dan
batasannya. Dalam menghadapi skema-skema memiliki derajat kesebandingan yang tinggi.
tax avoidance umumnya suatu negara Perlu dilihat atribut-atribut transaksi yang secara
menerbitkan ketentuan anti avoidance rule material berpengaruh. Atribut-atribut tersebut
sebagai berikut. disampaikan oleh Darussalam (2013, 142)
a. Specific Anti Avoidance Rule (SAAR), yaitu tercermin dalam lima faktor kesebandingan yang
ketentuan anti penghindaran pajak atas transaksi di anataranya adalah analisis fungsional.
seperti transfer pricing, thin capitalization, treaty Tujuan dilakukannya analisis fungsional
shopping, dan Controlled Foreign Corporation menurut Darussalam (2013, 109) adalah untuk
(CFC). mendapatkan informasi mengenai peran ,
tanggung jawab serta substansi ekonomi dari
b. General Anti Avoidance Rule (GAAR), yaitu rangkaian transaksi dalam grup.
ketentuan anti penghindaran pajak untuk Darussalam (2013, 113-117) menulis bahwa
mencegah transaksi yang dilakukan oleh wajib terdapat setidaknya tiga pertimbangan dalam
pajak yang semata - mata untuk tujuan melakukan analisis fungsional.
penghindaran pajak atau transaksi yang tidak 1) Identifikasi proses bisnis yang relevan.
mempunyai substansi bisnis. 2) Ketentuan kontrak.
3) Derajat keterlibatan pihak-pihak dalam
2. Konsep transfer pricing. aktivitas.
Transfer pricing dalam perspektif
perpajakan menurut Darussalam (2013, 9) 3. Pendanaan Internal.
“ adalah suatu kebijakan harga dalam transaksi Pendanaan internal menurut Bambang
yang dilakukan oleh pihak - pihak yang Riyanto (2004, 25) dalam bukunya Dasar-Dasar
mempunyai hubungan istimewa.” Proses Pembelanjaan Perusahaan adalah bentuk dana
kebijakan tersebut menentukan pula besaran dimana pemenuhan kebutuhan dananya berasal
penghasilan dari setiap entitas yang terlibat. dari dalam perusahaan itu sendiri, di antaranya
Dalam article 9 OECD Model, hubungan dalam bentuk dana dari pemilik perusahaan.
istimewa diartikan sebagai hubungan antara dua Pendanaan internal dari pemilik perusahaan
atau lebih entitas yang memiliki partisipasi dapat berupa utang/ pinjaman dan modal. Khusus
secara langsung maupun tidak langsung dalam perusahaan grup , dapat memanfaatkan
manajemen, penguasaan atau penyertaan modal. pendanaan dari perusahaan afiliasinya. Salah
Disebutkan oleh Darussalam (2013: 69), satunya berbentuk pinjaman yang dikenal dengan
article 9 OECD Model juga menyatakan bahwa istilah intercompany loan.
suatu negara diperbolehkan melaksanakan Pinjaman dalam ilmu akuntansi
kewenangan domestiknya dalam mengoreksi dikategorikan dalam definisi kewajiban .
transfer pricing dalam hal: (1) terdapat transaksi Menurut PSAK Nomor 57, “ Kewajiban adalah
di antara entitas yang memiliki hubungan kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa
istimewa; dan (2) transaksi tersebut tidak sesuai masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan
dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha. mengakibatkan pengeluaran sumber daya
Pemahaman mengenai prinsip kewajaran entitas.”

20
Menurut PSAK Nomor 26 tentang Biaya empat tipe financial distress sebagai berikut.
Pinjaman yang diadopsi dari IAS 23 Borrowing a. Economic failure.
Costs, disebutkan bahwa “ Biaya pinjaman adalah Kondisi ini teijadi ketika perusahaan tidak
bunga dan biaya lain yang ditanggung entitas dapat menutupi total biayanya, termasuk cost of
sehubungan dengan peminjaman dana. capital.
Karakteristik utang/ pinjaman dibanding b. Businessfailure.
modal menurut Darussalam (2013, 438) yang Kondisi ini terjadi ketika bisnis
mengutip Marjana Helminen dapat dilihat pada menghentikan operasinya akibat kerugian
Tabel 2. kepada kreditur.
c. Insolvency.
Tabel 2. Karakteristik Utang dan Penyertaan Modal 1) Technical insolvency, kondisi ini teijadi jika
Utang Penyertaan modal perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban
Dana akan Dana hanya akan lancamya.
dikembalikan sesuai dikembalikan pada
jangka waktu yang saat likuidasi 2) Insolvency in Bancruptcy, kondisi ini teijadi
telah ditetapkan jika nilai buku utang lebih besar dari nilai pasar
Imbalan dari utang Imbalan dari aset.
tetap harus dibayar penyertaan modal
meskipun penerima tergantung dari d. Legal bankruptcy, kondisi ini teijadi saat
utang dalam performa usaha perusahaan sudah bangkrut secara hukum.
keadaan merugi penerima modal
Dalam keadaan Hak pemberi modal
likuidasi, kreditor atas aset adalah hak METODE PENELITIAN
memiliki hak tagih terakhir 1. Model penelitian.
prioritas untuk atas setelah kreditor
asset Penelitian ini menggunakan metode
Kreditor tidak Pemberi modal kualitatif deskriptif, pendekatan grounded
memiliki kontrol memiliki control theory, dan analisis induktif. Penelitian kualitatif
atas perusahaan atas perusahaan
menurut Creswell (2014, 4) merupakan metode
Sumber: Darussalam, Transfer pricing: Ide, eksploratif untuk memahami permasalahan yang
Strategi, dan Panduan Praktis dalam Perspektif Pajak teijadi karena kehidupan sosial. Analisis induktif
Intemasional (Jakarta: DDTC, 2013), hal. 438. menurut Sekaran (2006, 36), “ ...merupakan
proses di mana kita mengamati fenomena
OECD tidak secara khusus memberi tertentu dan berdasarkan hal tersebut tiba pada
perhatian kepada transaksi pendanaan internal. kesimpulan” .
Namun, OECD Report 1979 Bab V menyatakan 2. Prosedur penelitian.
ada dua hal yang harus dilakukan sebelum Uma Sekaran (2006, 73) dalam bukunya
menentukan tingkat bunga wajar pada pendanaan “ Research Methods for Business” menjelaskan
internal berupa pinjaman, yaitu menganalisis langkah-langkah penelitian, yaitu pengamatan
substansi transaksi dan kelaziman syarat dalam hingga pengambilan keputusan. Maka prosedur

—— —
peijanjian pinjaman. Lebih lanjut pada OECD dalam penelitian kualitatif non hipotesis ini dapat
Guideline 2010 Paragraf 1.65 menyatakan bahwa dilihat pada Gambar 1.
apabila suatu transaksi tidak terbukti secara
Gantar l. Prosedur Pesditun
substansi sebagai pinjaman maka otoritas pajak
berwenang melakukan reklasifikasi menjadi
transaksi penyertaan modal dan mengenakan ^
Fikta ktidi
tapangan
Mailah
pandctiao
Pmanyatn
ptntfitkn
pajak sesuai hasil reklasifikasi tersebut. i
Analisis intercompany loan berikut Kcnn a Proposal
dilakukan untuk menilai sejauh mana perusahaan ^
pcotfitan Htpoteai Landasaottcfl
intragrup berlaku rasional dalam memberikan i
pinjaman sesuai motif dan tujuannya. Dceaeod&giin Anitai
1) Analisis substansi transaksi. Wavancam DcsodlspJsy dedecptif
2) Analisis kelayakankredit. I
3) Evaluasi syarat dan kondisi yang terkait. Ptaarikao
4) Estimasi tingkat bunga wajar. Rtkcmtndari keszmpulao

4. Financial Distress . Sumb«r DioUh d^xi Uma Sekaran, Research\fakods for


Menurut Fachrudin (2008,2 3) yang - . .
AUTOMK, edisi keenpu (Selonbi Emp« 2006) hal73.
mengutip dari Bringham dan Gapenski, terdapat

21
3. Objekpenelitian. HASIL PENELITIAN
Objek penelitian dalam skripsi ini adalah Wawancara dilaksanakan dengan 25
pokok sengketa dalam putusan pengadilan pajak pertanyaan yang dikelompokkan dalam empat
terkait pinjaman tanpa bunga pada perusahaan tema besar yaitu: karakteristik pinjaman tanpa
intragrup sesuai Tabel 1. bunga, kriteria pinjaman tanpa bunga, kondisi
4. Jenis data. kesulitan keuangan dan peraturan pinjaman tanpa
Jenis data yang digunakan dalam penelitian bunga. Data hasil wawancara diolah melalui
ini adalah: tahap memoing, coding, dan data display. Data
a. Data primer berupa hasil wawancara. disajikan dalam bentuk tabel dan diagram .
Wawancara akan dilakukan kepada: Analisis ini penulis lakukan dengan bantuan
1) DJP: perwakilan regulator dan fiskus. bagan. Untuk menggambarkan hasil penelitian
2) Wajib Pajak: konsultan pajak dan tax center. atas tema karakteristik pinjaman tanpa bunga,
3) Ahli Perpajakan: Widyaiswara pusdiklat penulis menggunakan bagan pada Gambar 2
pajak dan Profesor Perpajakan UI. dimana pinjaman tanpa bunga dilihat karaktemya
b. Data sekunder, yaitu putusan pengadilan sebagai pinjaman dan bedanya dengan
pajak, jumal, buku, peraturan perpajakan di penyerahan modal, serta karakteristik khususnya
Indonesia mengenai pinjaman tanpa bunga, yang bukan merupakan bagian dari pinjaman
dan literatur lainnya yang terkait. maupun penyerahan modal. Hasil penelitian
5. Cara pengumpulan data. mengenai analisis kriteria diperkenankannya
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan pinjaman tanpa bunga digambarkan pada
data yang digunakan sebagai berikut. Gambar 3 dimana harus memenuhi tes
1 ) Penelitian kepustakaan. kewajaran, kemanfaatan dan keberadaan. Selain
2) Metode wawancara. itu, kriteria tersebut juga dilihat dari sisi
Peneliti menggunakan metode wawancara pembanding yang ada di dunia intemasional.
semi terstruktur untuk mengumpulkan informasi Tema ketiga tentang analisis kondisi kesulitan
yang relevan dengan topik penelitian. keuangan digambarkan dalam Gambar 4 dimana
6. Metode pengolahan data. kondisi tersebut dilihat dari sudut pandang
-
Neuman (2013, 562 569) dalam bukunya tataran teori, sudut pandang lembaga jasa
“ Metodologi Penelitian Sosial: Pendekatan keuangan serta sudut pandang industri sejenis.
Kualitatif dan Kuantitatif ’ menjelaskan tiga Tema terakhir yang juga merupakan ringkasan
metode yang dapat digunakan untuk mengolah dari ketiga tema utama sebelumnya digambarkan
data kualitatif. pada Gambar 5 tentang analisis Pasal 12 PP
1) Penyandian dan pembentukan konsep, yaitu Nomor 94 Tahun 2010 sebagai peraturan
menyusun data dalam satu rangkaian pokok pinjaman tanpa bunga yang saat ini berlaku.
bahasan utama melalui proses open coding, axial Berikut bagan hasil analisis tersebut.
coding, dan selective coding.
2) Penulisan memo analitis, yaitu mendoku - Gsmbx l. Anafaii Knlcteratik Pinjaman Tanpa Bunga


mentasikan dan menyususn berdasarkan kode wBottPWCT
data yang telah ditetapkan sebelumnya.
3) Outcropping , yaitu menganalisis untuk
mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai
KAAMCTOOTK
PBUtMJtM
=
c0
OCNQAM
PDfiVWW
MOO
*
<=>
6 A pftmwNw
M^krnA .
KHJ3U3
PMMNM
TAtPAQUNGA

MAMAi
jawaban dari masalah yang diteliti. Pemahaman ft) A«)Mi > «MyiQT>#o«w
tersebut disimpulkan dengan melihat kembali UhMA toed
waahftMdmt

bukti empiris yang telah disusun sebelumnya. 6 p* m**%


MMMLHAFTDA

7. Sarana untuk pengolahan data. * pftWjlWW


HwdOM
OpM(AM
**w«*4«*
W
Penulis menggunakan fasilitas pada software
Ms. Word 2010. Selain itu, penulis juga 6d»v*

menggunakan Ms. Excel 2010.


8. Strategi analisis.
amU«

Penulis menggunakan strategi sesuai Ai


IwAw
Neuman (2013, 570). Strategi tersebut yaitu tipe
ideal yang di dalamnya mencakup konteks
KAWKTIWW gjggggWggjjgjgg
pembanding dan analogi, hampiran berturutan,
serta perbandingan analitis yang di dalamnya
mencakup metode persetujuan dan Stnnber Diolah dari hsstl wawancara
perbedaan.

22
.
Samfatl Antiirii Kriterii Dipakcnanlunoya Pmjimin Tanpa Bunga PEMBAHASAN
1. Karakteristik pinjaman tanpa bunga.
wmaow
omMia
O «
=> =
«0 KHWM
Pinjaman dalam tataran akuntansi maupun

—— perpajakan tidak memiliki definisi tersendiri.


MtKtp tltMlMOU
hmwtimmi WpMWW ANasMOMCl
*f » 0*>K9* UMMKMX
Pinjaman dalam ilmu akuntansi dikategorikan
***»•* Irtwrtii

tax* MMX dalam definisi kewajiban menurut PSAK No. 57.


-
OMor UM MM
kMOMXI WA* 1(MM fton'l Cam
i*o«m
Oac fHo MMMK . nnn
Uni x0 Jika dilihat perbedaannya dengan modal menurut
t»» * «»
irffcn
Darussalam (2013, 438) yang mengutip Maijana
Omsm mmttmum aCaWcaoa
Helminen , pinjaman / utang memiliki
% n«MH
M|
••
** * » SMI*
twfUKm karakteristik sesuai Tabel 2. Penulis
menggunakan proses analisis persetujuan dan
perbedaan atas pokok bahasan ini. Penulis
melihat karakteristik pinjaman tanpa bunga

—| |y*fr y
^ |

^turn ltd* i£a**c» nmtt» « Ms»t» toato « XXar


>w>i ftmixww» »wwm »»i >M»wi> Nr «i«**» «w »iw^o« iifn(p^ t
T wM
^ wirtmuwWi
Somber Dielah dan basil wawancan
— melalui proses persetujuan bahwa pinjaman
tanpa bunga memiliki karakter pinjaman. Selain
itu, penulis melakukan perbedaan karakteristik
pinjaman tanpa bunga jika dilihat dari karakter
modal. Karakteristik pinjaman tanpa bunga
berdasarkan hasil penelitian adalah akan dibayar
kembali, berdasarkan kontrak, jelas waktu jatuh
temponya, bentuk pendanaan internal, untuk
Gambar 4, Analisis Kondisi Kesulitan Kcuangan keberlangsungan usaha, tanpa imbalan, diberikan
karena hubungan istimewa, tanpa menambah
SUOUTMKOAKG
SUOUTWKOAKS
UJU3ACAJASA
SUOUTPJWOAKC kemampuan kontrol perusahaan, merupakan
ttOUSTWSUliHJ
dana lebih kreditor.
=
TATABAN TCOftl
KfUANCAM
« V> Pokok sengketa ini terdapat pada putusan
tnsotvtftji/likutd
* * » tr«dn
ft Ji
pefputtttft
.
usftha nduitri
banding berikut.
&*nk denjtn
.
tut trust** 01 tOU*t
ttwwMjgW, ¥#|ft w»m .
* a. PUT.29564/PP/MVII/15/2011
Transaksi tersebut belum dapat dikatakan
sebagai pinjaman tanpa bunga karena tidak
tOfttOOft tOMOCH KHUUTAM PUAKGAW PAPA PtNlAMAN TAKPA BUXflA
.
p«fus*h**n «*t*mtcrtdii » iftsohcnsi rnsio likutditMAft sets sfus kMina di btwah
memenuhi karakter pinjaman sebagai bagian
^ * •.
ta UKTI fttutls <31Idil! TVtt » » AAJRUft «MiA t
te*u
t ptfH « ft Mpcm
tfgtfq Dam *** ** karakteristik pinjaman tanpa bunga. Kejelasan
Somber Diolah dan hasfl wawancan waktu jatuh tempo merupakan salah satu
karakteristik pinjaman tanpa bunga.
b. PUT.31201/PP/M.XV/15/2011
Fiskus menyatakan terdapat tambahan
ekonomi serupa dengan pembayaran bunga pada
|
Oambtr 5. Anibgi Pml 2 PPNomcx 94 Tibia 2010 transaksi pinjaman tanpa bunga, sehingga
Kf /
NUWM
mrtmw COfTTMtal
vxfiwm
IWWUWWlI
.SS -
ttUfNQttl ttOMtOJlCA
transaksi tersebut tidak sesuai karakteristik
pinjaman tanpa bunga . Menurut penulis,
=
tMMQMl WMWUWW WUA
tMM0LM3«
<0 roMojc
* transaksi tersebut tidak sesuai dengan
•AMlw
karakteristik pinjaman tanpa bunga, di mana
tidak terdapat imbalan di dalamnya.
c. PUT.43501/PP/M.XIII/15/2013
Transaksi ini masih abu-abu selama tidak
terdapat karakteristik pinjaman tanpa bunga
sebagaimana hasil penelitian , misalnya
berbentuk kontrak. Melihat hubungan antara
pinjaman tanpa bunga dan piutang dagang dalam
kasus ini, keduanya memiki kesamaan sebagai
transfer dana. Jika secara nyata tidak ada transfer
| V >«
* ktffcon
bunga maka seharusnya ada dokumen
11 f ** « "» » i
pendukung bahwa kompensasi atas dana tersebut
Sumbcr. Xholxh dan hud wawancan adalah barang atau jasa.

23
d. PUT.44876/PP/M.V/15/2013 Pembuktian ini menjadi beban berat pada
Karakteristik utama pinjaman tanpa bunga pelaksanaan kewajiban perpajakan jika
bahwa diberikan dalam rangka menjaga dilakukan oleh WP. Sebaliknya jika beban
keberlangsungan usaha sudah sesuai. Namun, pembuktian ada di DJP, DJP telah menambah tax
tambahan ekonomi berupa bunga menjadikan collection cost.
transaksi ini tidak lagi sesuai karakteristik 2. Kriteria diperkenankannya pinjaman
pinjaman tanpa bunga. tanpa bunga.
e. PUT.49894/PP/M.XV/15/2014 Berdasarkan hasil analisis di atas, salah satu
Transaksi ini belum dapat dikategorikan karakteristik pinjaman tanpa bunga adalah teijadi
sebagai pinjaman hanya karena adanya kontrak karena adanya hubungan istimewa. DJP memiliki
pinjaman . Kontrak pinjaman setidaknya wewenang menilai kewajaran dan kelaziman
menerangkan karakteristik pinjaman tanpa bunga terkait transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak
terkait peruntukan diberikannya pinjaman tanpa yang memiliki hubungan istimewa. Hubungan
bunga dan waktu pengembalian yang jelas. istimewa yang dimaksud adalah hubungan
f. PUT.51874/PP/M.XVA/12/2014 istimewa pada UU PPh Pasal 18 ayat (4). Bahkan
Transaksi pinjaman harus sesuai dengan OECD Guideline 2010 Paragraf 1.65
karakteristik pinjaman, khususnya jika pinjaman menyatakan bahwa apabila suatu transaksi tidak
tersebut tanpa bunga. Ketiadaan kontrak terbukti secara substansi sebagai pinjaman maka
menjadikannya tidak sesuai salah satu otoritas pajak berwenang melakukan
karakteristik pinjaman bahwa didasarkan atas reklasifikasi menjadi transaksi penyertaan modal
kontrak. Adanya kontrak tanpa memberikan dan mengenakan pajak sesuai hasil reklasifikasi
syarat akan dibayarkan kembali atau tidaknya tersebut.
pokok pinjaman maka transaksi tersebut Narasumber sepakat bahwa transaksi
bukanlah pinjaman. Transaksi tersebut lebih pinjaman tanpa bunga harus dilihat
mirip dengan penyertaan modal. kebenarannya. Kebenaran transaksi pinjaman
g. PUT.51875/PP/M.XVA/ l 2/2014 tanpa bunga ketika transaksi tersebut
WP berpendapat transaksi ini adalah mencerminkan kewajaran . Hal tersebut
penyerahan modal. Namun, tidak ada dokumen dilakukan untuk menghindari upaya tax
pendukung berupa kontrak maupun akte avoidance yang mungkin dilakukan melalui
penyertaan modal. Untuk menentukan suatu transaksi pinjaman tanpa bunga. Dalam hal ini
transaksi memiliki substansi sebagai pinjaman adalah skema transfer pricing atas transaksi
tanpa bunga atau penyertaan modal, menurut pinjaman tanpa bunga.
penulis harus dikembalikan kepada karakteristik Dalam transaksi pinjaman tanpa bunga yang
masing-masing jenis transaksi. Tidak serta merta hanya teijadi pada perusahaan intragrup, maka
tidak adanya imbalan berarti bukan pinjaman analisis fungsional sebagai salah satu atribut
tanpa bunga. Transaksi dikatakan sebagai dalam analisis kesebandingan digunakan .
pinjaman tanpa bunga di antaranya karena Analisis fungsional melihat kewajaran dan
memiliki kontrak pinjaman. kelaziman kondisi suatu transaksi dari sisi fungsi,
h. PUT.58582/PP/M.VIB/12/2014 risiko dan aset. Analisis fungsional ini terdapat
WP berpendapat dana yang diterimanya pada lampiran SE-50/PJ/2013. Selain itu,
merupakan modal yang belum diaktekan. Perlu lampiran SE-50/PJ/2013 juga memberikan
dilihat apakah dana tersebut akan dikembalikan petunjuk dalam melakukan analisis bunga
dalam jangka waktu tertentu . Tujuan pinjaman. Narasumber menganalogikan analisis
diberikannya dana untuk memenuhi penyertaan tersebut ke dalam tiga tes yaitu tes keberadaan,
modal atau membantu keberlangsungan usaha tes kemanfaatan , dan tes kewajaran dan
juga perlu dilihat. kelaziman. Analogi ini disesuaikan dengan tiga
Sengketa terkait karakteristik pinjaman pertimbangan dalam analisis fungsional seperti
tanpa bunga terkesan selesai dengan pembuktian disebutkan sebelumnya. Analisis fungsional dan
di depan hakim pengadilan pajak. Akan tetapi, analisis bunga pinjaman dalam SE-50/PJ/2013
dengan melihat analisis hasil penelitian terhadap sedikit banyak telah sesuai dengan analisis
putusan banding di atas kita memahami bahwa fungsional dan analisis intercompany loan
ketiadaan karakteristik pinjaman khususnya OECD yang berisi: analisis FAR, analisis
pinjaman tanpa bunga menjadikan beban substansi transaksi, analisis kelayakan kredit,
pembuktian tidak memiliki dasar dan berlanjut evaluasi syarat dan kondisi yang terkait serta
dari satu pembuktian kepada pembuktian lain. estimasi tingkat bunga wajar.

24
Hasil pengolahan data menunjukkan urutan dari dana pemberi pinjaman sendiri. Alasan WP,
prioritas pengujian yang harus dilakukan sebagai hal ini dilakukan untuk menjaga arus kas
langkah menentukan kriteria diperkenankannya penerima pinjaman agar dapat beroperasi
pinjaman tanpa bunga, yaitu tes kewajaran dan membayar biaya operasionalnya.
kelaziman usaha, tes kemanfaatan, serta tes Hal-hal yang seharusnya tercermin dalam
keberadaan. kriteria diperkenankannya pinjaman tanpa bimga
Berdasarkan hasil penelitian, kriteria ideal adalah lazim secara skema dan perilaku usaha.
pinjaman tanpa bunga setidaknya mencakup hal- Pemberian pinjaman tanpa bunga dari kreditor
halberikut: menggunakan dana milik pihak ketiga artinya
a. Lazim skema transaksi dan perilaku penerima pinjaman dapat langsung meminjam
usahanya; kepada pemilik dana sendiri tanpa melalui
b. Ada manfaat ekonomi yang diberikan kreditor tersebut. Kondisi ini membuat skema
kepada debitor yang membutuhkan suntikan transaksi ini tidak lazim. WP perlu memahami
likuiditas melalui analisis rasio; lebih lanjut pengujian transaksi dan tujuannya
c. Tidak ada bunga yang diberikan kepada yang tercermin dalam empat kriteria
kreditor; diperkenankannya pinjaman tanpa bunga.
d. Debitor berlebih dalam pendanaan; c. PUT.46740/PP/M.XI/12/2013
e. Diperbolehkan imtuk debitor luar negeri Dalam transaksi ini, surat peijanjian ada
asalkan memberi keuntungan pada negara; dengan tujuan untuk membantu kelangsungan
f. Tercantum jelas dalam kontrak dan terdapat usaha. Namun menurut fiskus, transaksi tersebut
buktialirandana; tidak memenuhi salah satu kriteria
g. Tidak untuk memanfaatkan tax benefit. diperkenankannya pinjaman tanpa bunga, yaitu
dana milik pemegang saham sendiri. Menurut
penulis, meskipun karakteristik transaksi ini
Pokok sengketa tentang kriteria pinjaman
cukup jelas diidentifikasi tetapi transaksi ini tidak
tanpa bunga terdapat pada putusan banding mencerminkan kewajaran sesuai empat kriteria
berikut. yang diberikan. Pinjaman tanpa bunga yang
a. PUT.31201/PP/M.XV/15/2011 diberikan menggunakan dana pihak ketiga
Saat memberikan pinjaman tanpa bimga artinya penerima pinjaman dapat langsung
kepada debitor, kreditor dalam keadaan merugi. meminjam kepada pemilik dana sendiri tanpa
Saat itu, debitor dinilai layak menerima pinjaman melalui kreditor tersebut. Kondisi ini membuat
tersebut karena sedang dalam kesulitan skema transaksi ini tidak lazim.
keuangan. Berdasarkan hasil penelitian, kriteria
diperkenankannya pinjaman tanpa bunga berupa
3. Kondisi kesulitan keuangan.
kondisi pemberi pinjaman yang tidak merugi
adalah upaya pengujian kelaziman dan
kewajaran usaha. Pemberian pinjaman tanpa -
Menurut Fachrudin (2008,2 3), financial
bunga diberikan karena adanya dana berlebih distress terdapat empat tipe. sebagian besar
pada pemberi pinjaman guna disalurkan sebagai narasumber menyatakan tahap insolvensi
investasi pada afiliasinya tanpa mengharapkan merupakan tahap yang paling sesuai untuk
pengembalian berupa bunga. Jika pemberi menerjemahkan kondisi kesulitan keuangan
pinjaman dalam kondisi merugi, maka dia masih sehingga suatu perusahaan layak mendapatkan
mengharapkan pengembalian atas setiap dana pinjaman tanpa bunga . Alasan yang
yang diinvestasikan. Perilaku lazim perusahaan dikemukakan oleh narasumber adalah karena
adalah mempertahankan keberlangsungan kondisi business failure maupun economic
usahanya sesuai separate entity approach. Maka failure masih memungkinkannya menerima
transaksi dalam putusan banding ini tidak wajar. pinjaman dengan bunga. Hal tersebut sesuai
WP perlu memahami lebih lanjut pengujian dengan pendapat Khaira Amalia Fachrudin
transaksi dan tujuannya yang tercermin dalam (2008, 2) yang mengutip Brigham dan Daves.
empat kriteria diperkenankannya pinjaman tanpa Kondisi ini juga sesuai dengan hasil wawancara
bunga. terkait sudut pandang LJK berupa bank dalam
menilai kesulitan keuangan calon debitomya.
b. PUT.44876/PP/M.V/15/2013
Diperlukan analis kredit handal untuk melihat
WP tidak memenuhi keempat syarat
kemampuan membayar kembali pokok
kumulatif diperkenankannya pinjaman tanpa pinjaman.
bunga, yaitu pada kriteria dana pinjaman berasal

25
Berdasarkan hasil penelitian di atas, melalui pengujian dokumen seperti otoritas
kesulitan keuangan yang merupakan kriteria pajak Kamboja, pembedaan perlakuan
diperkenankannya pinjaman tanpa bunga adalah afiliasi WP domestik dan asing oleh otoritas
perusahaan dalam kondisi insolvensi, rasio pajak Singapura, GAAR Australia, dan
likuiditasnya serta arus kasnya di bawah industri batas kondisi likuiditas debitor serta batas
sejenis di lokasi yang sama, namun masih layak tanggung jawab kreditor seperti otoritas
menerima pinjaman seperti hasil analis kredit pajak Afrika Selatan.
bank. 2.b. Kriteria diperkenankannya pinjaman tanpa
Pokok sengketa tentang kondisi kesulitan bunga saat ini sudah mencerminkan
keuangan terdapat pada putusan banding nomor kewajaran transaksi berdasarkan analisis
PUT.31201 /PP/M.XV/15 / 2011 dengan isi fungsional karena sudah mencakup ketiga
sengketa kondisi kesulitan keuangan diakui WP pengujian. Meskipun demikian, terdapat
dengan adanya kerugian sedangkan menurut beberapa kriteria yang di lapangan
fiskus rasio likuiditasnya masih tergolong likuid. dipahami berbeda oleh WP, yaitu kriteria
Menurut penulis, kondisi merugi belum dana milik pemberi pinjaman sendiri dan
menjadikan sebuah perusahaan layak menerima kriteria pemberi pinjaman tidak sedang
pinjaman tanpa bunga. Kondisi ini harus dilihat merugi. WP perlu memahami lebih lanjut
lebih jauh pada rasio likuiditas perusahaan dan mengenai pengujian dan tujuannya yang
arus kasnya. Jika memungkinkan, kondisi ini tercermin pada empat kriteria
dapat dibandingkan dengan kondisi industri diperkenankannya pinjaman tanpa bunga
sejenis di lokasi yang sama. Pasal 12 PP Nomor 94 Tahun 2010.
3. Koridor kondisi kesulitan keuangan
SIMPULAN sebagai salah satu kriteria
1. Karakteristik pinjaman tanpa bunga pada diperkenankannya pinjaman tanpa bunga
perusahaan intragrup adalah akan dibayar pada perusahaan intragrup dapat dilihat dari
kembali, berdasarkan kontrak, jelas waktu tataran teori, sudut pandang LJK dan sudut
jatuh temponya, bentuk pendanaan internal, pandang industri sejenis. Berdasarkan tiga
untuk keberlangsungan usaha, tanpa sudut pandang tersebut, koridor kondisi
imbalan , diberikan karena hubungan kesulitan keuangan dalam transaksi
istimewa, tanpa menambah kemampuan pinjaman tanpa bunga ini adalah perusahaan
kontrol perusahaan, merupakan dana lebih dalam kondisi insolvensi, rasio
kreditor. Sampai saat ini belum ada regulasi likuiditasnya serta arus kasnya di bawah
yang mengakomodir karakteristik ini. industri sejenis di lokasi yang sama, namun
2.a. Pinjaman tanpa bunga merupakan transaksi masih layak menerima pinjaman seperti
khusus yang dilakukan hanya oleh hasil analis kredit bank. Sampai saat ini
-
perusahaan perusahaan yang memiliki belum ada penjelasan lebih lanjut tentang
hubungan istimewa sehingga diperlukan koridor kondisi kesulitan keuangan yang
kriteria untuk menilai kewajarannya dalam dimaksud pada pasal 12 ayat (1) PP Nomor
rangka mencegah upaya tax avoidance . 94 Tahun 2010.
Saat ini, DJP memiliki empat kriteria
diperkenankannya pinjaman tanpa bunga. SARAN
Langkah identifikasi kewajaran pada 1. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa
transaksi p i n j a m a n t a n p a b u n g a karakteristik pinjaman tanpa bunga
menggunakan analisis fungsional. Lebih dikembalikan kepada karakteristik pinjaman
lanjut pada analisis intercompany loan yang belum memiliki definisi pasti.
OECD. Di Indonesia, pelaksanaan analisis Karakteristik khusus atas pinjaman tanpa
tersebut tertuang pada lampiran SE- bunga dipahami sama oleh ketiga pihak
50/PJ/2013. Kriteria yang mencerminkan narasumber. Sebaiknya DJP perlu membuat
kewajaran transaksi pinjaman tanpa bunga aturan lebih detail terkait karakteristik
berdasarkan analisis OECD dan lampiran p i n j a m a n. L e b i h l a n j u t D J P p e l u
-
SE 50/PJ/2013 terkait tiga pengujian, yaitu menjelaskan substansi pinjaman tanpa bunga
kewajaran dan kelaziman, kemanfaatan dan diberikan melalui kewenangan Direktorat
keberadaan. Hasil pembandingan dengan Peraturan Perpajakan 2. Hal ini dapat berupa
negara lain menunjukkan analisis yang penjelasan atas Pasal 12 PP Nomor 94 Tahun
tidak jauh berbeda. Terdapat beberapa 2010 atau penjelasan dalam peraturan di
perlakuan pinjaman tanpa bunga di negara bawahnya berupa Peraturan Menteri
lain yang dapat diadopsi dalam regulasi Keuangan (PMK).
otoritas pajak Indonesia. Di antaranya,

26
-
2. Tetdapat beberapa kriteria yang
dipahami berbeda oleh WP di lapangan, yaitu
Copeland dan Weston. • 1992. Manajeriah
,

Finance. Jakarta: BinaraoaAksara. * '• . ;

kriteria dana milik pemberi pinjaman sendiri dan


kriteria pemberi pinjaman tidak sedang merugi. Creswell, John W. 2009. Research Design
Sehingga, perlu sosialisasi lebih lanjut oleh Qualitative, Quantitative, arid Mixed
Direktorat Penyuluhan , Pelayanan dan Methods Approaches. Third : Edition.
Hubungan Masyarakat (P2Humas) kepada WP Thousan Oaks California :’ SAGE
terkait tujuan pengujian pinjaman tanpa bunga Publication. j

yang tertuang dalam kriteria diperkenankannya *1


*
,
.
•• * % *

pinjaman tanpa bimga. Hal ini dapat dilakukan Creswell, John W. 2013. Penelitian Kualitatif
melalui penyamaan persepsi konsultan pajak atas dan Desain Riset Edisis 3.Thousan Oaks
tujuan adanya kriteria diperkenankannya California: SAGE Publication, ••
pinjaman tanpa bunga. c 1 /

3. Koridor kesulitan keuangan dalam Pasal 12 Darussalam, Septriadi, Danny dan Kristiaji, B.
ayat (1) PP Nomor 94 Tahun 2010 dipahami Bawono. 2013. Transfer Pricing: Ide,
berbeda oleh ketiga pihak narasumber. WP Strategi, dan panduan Praktis dalam
berpendapat kondisi merugi sudah dapat Perspektif Pajak Intemasional. Jakarta:
dijadikan acuan. Fiskus berpendapat haras Danny Darussalam Tax Center.
melihat arus kas dan insolvensinya.
Akademisi berpendapat kondisi ini tidak Fachradin, Khaira Amalia. 2008. Kesulitan
dapat didefinisikan karena terlalu dinamis Keuangan Perusahaan dan Personal.
dan spesifik setiap WP. Oleh karena itu, perlu Medan: USUPress.
penjelasan atas Pasal 12 ayat (1) PP Nomor
94 Tahun 2010 terkait kondisi kesulitan Hansen, Don R. dan Mowen, MaryanneM. 2012.
keuangan yang khusus dijadikan kriteria Akuntansi Manajerial Buku 1 Edisi 8.
sebuah perusahaan layak menerima Jakarta: SalembaEmpat.
pinjaman tanpa bunga. Penjelasan ini dapat
berapa penjelasan atas pasal dalam PP atau Hamanto. 2003. Akuntansi P.erpajakan Edisi
penjelasan dalam peraturan di bawahnya Pertama.Yogyakarta: BPFE.
berapa PMK.
4. Dalam pelaksanaan Pasal 12 ayat (2) PP Harold, J. 2013. Indian Intercompany Loans
Nomor 94 Tahun 2010 terdapat gap. Fiskus Legislation. Journal of International
melakukan koreksi atas pinjaman tanpa Taxation.
bunga dan membebankan kewajiban PPh 23
atas bunga. Padahal, pihak WP maupun Neuman, W. Lawrence. 1991. Social Research
akademisi sepakat bahwa PPh 23 atas bunga Methods: Qualitative and Quantitative
merapakan secondary adjusment setelah Approaches. Needham Heights: A
bunga dibayarkan atau akan dibayarkan Viacom Company.
sesuai amanah dalam Pasal 23 UU PPh.
Diperlukan peningkatan kapabilitas fiskus Nugroho, M. Iqbal Dwi. Analisis Prediksi
terkait hal ini melalui kewenangan Financial Distress dengan
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan. Menggunakan Model Altman Z-Score
Peningkatan kapabilitas ini dapat berapa .
Modifikasi 1995 Semarang: Skripsi
diklat atau in house training kepada Mahasiswa Universitas Diponegoro,
pemeriksa pajak. 2012.
Radhakrishnan Gopalan Vikram Nanda Amit
DAFTAR REFERENSI
Buku
_
Sera. 2007. A liated Firms and Financial
Support: Evidence from Indian Business
Groups. Journal of Financial Economics
Brealey, Myers dan Marcus. 2009. Dasar-Dasar 86.
Manajemen Keuangan Perusahaan.
Jakarta: Erlangga. Rahayu, Ning. 2008. Praktik Penghindaran Pajak
oleh Foreign Direct Investment
Brown, K. B. 2012. A Comparative Look at Berbentuk Perseroan Terbatas
Regulation of Corporate Tax Avoidance. Penanaman Modal Asing. Jumal Ilmu
New York: Springer. Administrasi Negara, Volume 10, Nomor
2, Juli 2010: 171 180 -
27
. .
Riyanto, Bambang 2004 Dasar Dasar
Pembelanjaan Perusahaan.Yogyakarta:
- Mempunyai Hubungan Istimewa.
Jakarta: Direktur Jenderal Pajak, 2010.
BPFE UGM.
- . Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Sawir, Agnes. 2004. Kebijakan Pendanaan dan -
Nomor: PER 23/PJ/2013 tentang
Restrukturisasi Perusahaan.Jakarta: PT .
Standar Pemeriksaan Jakarta: Direktur
Gramedia Pustaka . Jenderal Pajak, 2013.
Sea Jin Chang and Jaebum Hong. 2000. . Surat Penegasan Direktur Jenderal
Economic Performance of Group - . -
Pajak Nomor S 165/PJ.312/1992
Affiliated Companies in Korea: tentang Pinjaman Tanpa Bunga dari
Intragroup Resource Sharingand .
Pemegang Saham Jakarta: Direktur
Internal Business Transactions. The Jenderal Pajak, 1992 .
Academy of Management Journal, Vol
43,No.3 . . Surat Penegasan Direktur Jenderal
Pajak Nomor.S 89/PJ 311/2000 tentang
- .
Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Pinjaman Tanpa Bunga dan Pemegang
Business.Jakarta:SalembaEmpat. .
Saham Jakarta: Direktur Jendpral Pajak,
2000.
Subramanyam, KJL dan Wild, John J 2013 . .
Analisis Laporan Keuangan Jakarta: . General Department of Taxation. Article 18 Law
SalembaEmpaL on Taxation (LOT), Circular 1707 .
Cambodia: General Department of
. .
Sugiyono 2003 Metode Penelitian Bisnis. Taxation, 2013.
Bandung: Pusat Bahasa Depdiknas.
Ikatan Akuntan Indonesia. Pemyataan Standar
Supramono dan Damayanti, Theresia Wore. . .
Akuntansi Keuangan No 7 Jakarta:
2010. Perpajakan Indonesia . Ikatan Akuntan Indonesia, 2009.
Yogyakarta:CV Andi Offset.
. Pemyataan Standar 4 kuntansi
Triawan, Dani AdedanKodoatie, Johanna Maria. . .
Keuangan No 26 Jakarta: Ikatan
.
2012 Penggalian Potensi PPh atas AkuntanIndonesia, 2011.
Dividen Sebagai Upaya Peningkatan
Penerimaan Pajak di KPP Madya . Pemyataan Standar Akuntansi
Semarang. Diponegoro Journal Of . .
Keuangan No 50 Jakarta: Ikatan
Economics Volume 1, No I .. Akuntan Indonesia, 2010.
..
Van Dor Vlies, I C dan Doludjawa, Linus. 2005 . . Pemyataan Standar Akuntansi
Buku Pegangan Perancang Peraturan . . .
Keuangan No 57 Jakarta: Ikatan
-
Perundang Undangan Jakarta: . Akuntan Indonesia, 2009


Direktorat Jenderal Peraturan
Penmdang Undangan
Peraturan
. Inland Revenue Authority of Singapore
Suplementary TP Guidelines for related
.
party loan Singapore Singapore: Inland
.
.
Australian Tax Office Taxation Administration
RevenueAuthority of Singapore, 2009 .
..
Act Australia: Australia Tax Office,
1953
Internal Revenue Services. Code 7872
Washington: Internal Revenue Service,
.
1984.
Australia Tax Office, 1936.
.
. Income Tax Assessment Act Australia:
International Accounting Standard Board (IASB) .
2007. International Accounting Standard
Central Board for Direct Taxes. Income Tax Act
New Delhi: Central Board for Direct
. 23Borrowing Cost .
Taxes, 1961 . . 2009. International Accounting
Standard 24 Related Party Disclosures .
Direktur Jenderal Pajak. Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor: PER - .
, 2009. International Accounting
32/PJ/201I tentang Perubahan atas Standard 37 Provisions, Contingent
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Liabilities and Contingent Assets .
-
Nomor Per 43/ Pj/ 2010 tentang
Penerapan Prinsip Kewajaran dan
, 2012. Internationa! Accounting
Standard 32 Financial Instrument:
Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Presentation
Antara Pajak dengan Pihak Yang

28
Menteri Keuangan . Peraturan Tata Cara ws/ Risalah.asp (diakses 26 Maret 2015).
Pemeriksaan . Peraturan Menteri . 2013. Putusan Banding Nomor
Keuangan Nomor 17/PMK.03/2013. P U T. 4 4 8 7 6 / P P / M . V / 1 5 / 2 0 1 3 .
National Tax Agency of Japan. Corporate Tax Law http://www.setpp.depkeu .go.id /ind / Ne
37 & 35-2. Tokyo: National Tax Agency ws/ Risalah.asp (diakses 16 Mei 2015).
of Japan, 2007.
. 2013. Putusan Banding Nomor
OECD. OECD Model Tax Convention. Paris: P U T. 4 6 7 4 0 / P P / M . X I / l 2 / 2 0 1 3 .
OECD Publishing, 2010. http://www.setpp.depkeu.go.id / ind / Ne
. OECD Transfer Pricing Giudelines for ws/ Risalah.asp (diakses 22 Maret 2015).
Multinational Enterprises and TaxAdministration . 2014. Putusan Banding Nomor
2010. Paris: OECD Publishing, 2010. P U T. 4 9 8 9 4 / P P I M.X V / 1 5 / 2 0 1 4 .
Republik Indonesia. Undang Undang Pajak -
Penghasilan. Undang-Undang Republik
http://www.setpp.depkeu.go.id / ind / Ne
ws/ Risalah.asp (diakses 26 Maret 2015).
Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan Keempat atas Undang- . 2014. Putusan Banding Nomor
Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang PUT.518 7 4 / P P / M . X V A / 1 2 / 2 0 1 4 .
Pajak Penghasilan. http://www.setpp.depkeu.go.id /ind / Ne
ws/ Risalah .asp (diakses 25 Mei 2015).
. Peraturan Penghitungan Penghasilan
Kena Pajak dan Pelunasan Pajak . 2014. Putusan Banding Nomor
Penghasilan dalam Tahun Berjalan. P U T. 5 1 8 7 5 / P P / M . X V A / l 2 / 2 0 1 4 .
Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun http:// www.setpp.depkeu .go.id /ind / Ne
2010. ws/ Risalah.asp (diakses 31 Maret 2015).
. Peraturan Tata Cara Pelaksanaan Hak . 2014. Putusan Banding Nomor
dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan. P U T. 5 8 5 8 2 / P P / M . V I B / 1 2 / 2 0 1 4 .
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun http://www.setpp.depkeu .go.id /ind/ Ne
2011. ws/ Risalah .asp (diakses 4 Februari 2015).
South Africa Revenue Services. Income Tax Act.
South Africa: South Africa Revenue The Income Tax Appellate Tribunal. 2011.
Services, 1962. Putusan Banding Nomor ITA 894/2011.
Website http:// indiankanoon .org /doc/16298925
6/ (diakses 18 Agustus 2015).
Darussalam dan Dany. 2009. Tax Avoidance, Tax
Planning , Tax Evasion dan Anti
Avoidance Rule.
. 2012. Putusan Banding Nomor ITA NO.
http:// www.ortax.org /ortax/? mod = issu 7354/MUM/11(A.Y. 2007-08).
e & page = show & id = 36 & q = & hlm = 3
(diakses 9 September 2015).
Menteri Keuangan. 2015. Realisasi Pendapatan
Negara Tahun 2014 Capai Rpl .537,2
T r i l i u n
http://www. kemenkeu.go.id / Berita / reali
sasi- pendapatan - negara -tahun 2014- -
capai - rpl 5372 - triliun ( diakses 9
September 2015).
Pengadilan Pajak. 2011. Putusan Banding Nomor
P U T . 2 9 5 6 4 / P P / M V 11/ 1 5 / 2 0 1 1 .
http://www.setpp.depkeu.go.id / ind / Ne
ws/ Risalah.asp (diakses 24 Juni 2015).
. 2011. Putusan Banding Nomor
P U T .3 1 2 0 1 / P P / M . X V / 1 5 / 2 0 1 1 .
http://www.setpp.depkeu .go.id / ind / Ne
ws/ Risalah.asp (diakses 26 Maret 2015).
. 2013. Putusan Banding Nomor
P U T. 4 3 5 0 1 / P P / M . X I I I / 1 5 / 2 0 1 3 .
http://www.setpp.depkeu .go.id / ind / Ne

29