Vous êtes sur la page 1sur 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Waham merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Waham sering ditemui pada
gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada
penderita skizofrenia. Semakin akut psikosis semakin sering ditemui wahan disorganisasi
dan waham tidak sistematis kebanyakan pasien skizofrenia daya tiliknya berkurang
dimana pasien tidak menyadari penyakitnya serta kebutuhannya terhadap pengobatan,
meskipun gangguan pada dirinya tidak dilihat oleh orang lain ( Tomb, 2003 dalam purba,
2008 ).
Waham terjadi kerna munculnya perasaan terancam oleh lingkungan, cemas,
merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi sehingga individu mengingkari
ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalah artikan kesan terhadap
kejadian, kemudian individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada
lingkungan sehingga perasaan, pikiran dan keinginan negatif tidak dapat diterima
menjadi bagian eksternal dan akhirnya individu mencoba memberi pembenaran personal
tentang realita pada diri sendiri atau orang lain. (Purba, 2008)
Prevalensi gangguan waham di Amerika Serikat diperkirakan 0,025 – 0,03%. Usia
onset kira-kira 40 tahun, rentang usia untuk onset dari 18 tahun – 90 tahun, terdapat lebih
banyak pada wanita. Menurut penelitian WHO prevalensi gangguan jiwa dalam
masyarakat berkisar 1- 3 permil penduduk. Menurut data yang diperoleh dari Medikal
Record rumah sakit jiwa daerah Sumatera Utara tahun 2010, pasien gangguan berjumlah
15.720 orang, dari jumlah tersebut penderita skizofrenia sebanyak 12.021 orang atau
76,46. Pasien gangguan jiwa yang dirawat inap berjumlah 1949 orang. Sedangkan pasien
skizofrenia paranoid sebanyak 1758 orang.
Tindakan perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan pada pasien waham
memiliki beberapa terapi yang digunakan salah satunya yaitu terapi modalitas, dimana
terapi modalitas yang umum dilaksanakan adalah terapi bermain, terapi aktivitas
kelompok, terapi individual, terapi keluarga, terapi milieu, terapi biologis, intervensi
krisis, hipnotis, terapi perilaku, terapi singkat, dan terapi pikiran jasmani rohani. Dalam
terapi individual tindakan praktik keperawatan pada pasien waham adalah pembentukan
hubungan yang terstruktur dan satu persatu antara perawat dan pasien untuk mencapai
perubahan pada diri pasien, mengembangkan suatu pendekatan yang unik dalam rangka
menyelesaikan konflik, dan mengurangi penderitaan serta untuk memenuhi kebutuhan
pasien yaitu dengan pemberian asuhan keperawatan ( Erlinafsiah, 2010 ) .
Adapun standar asuhan keperawatan yang diterapkan pada pasien dalam
keperawatan jiwa yaitu strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik. Dalam melakukan
strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik perawat mempunyai empat tahap komunikasi
yaitu setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh perawat. Empat
tahap tersebut yaitu tahap Prainteraksi, Orientasi atau perkenalan, Kerja, dan Terminasi.
Perawat harus hadir secara utuh baik fisik maupun psikologis terutama dalam penampilan
maupun sikap pada saat berkomunikasi dengan pasien ( Riyadi, 2009 ) .
Sebagaimana telah diketahui banyak pasien gangguan jiwa yang mengalami
waham terjadi gangguan orientasi realita sehingga pasien tidak mampu menilai dan
berespons secara realita. Dari pengamatan selama ini yang dilakukan di rumah sakit jiwa
daerah provinsi Sumatera Utara dalam melakukan strategi pelaksanaan komunikasi
teraupetik sering sekali perawat kesulitan untuk melakukan strategi pertemuan terhadap
pasien waham yang mengalami gangguan orientasi realita, karena perawat sulit untuk
berupaya dalam mengidentifikasi isi ataupun jenis waham, sehingga mengakibatkan
bahkan lebih menguatkan waham pasien sehingga perawat mengalami kesulitan
memberikan strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik pada pasien waham. Dan dari
informasi yang didapatkan melalui wawancara dengan pihak diklat rumah sakit jiwa
daerah provinsi Sumatera Utara ( 2011, Bahwasanya rumah sakit itu belum memiliki
prosedur tetap dan melaksanakan standar asuhan keperawatan yaitu strategi pertemuan
pada pasien waham yang mengalami gangguan orientas realita.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari waham ?
2. Bagaimana etiologi dari waham ?
3. Bagaimana proses terjadinya waham ?
4. Apa jenis-jenis waham ?
5. Apa manifestasi klinik dari waham ?
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien waham ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari disusunnya makalah ini yaitu :
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada pasien waham.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami pengertian waham.
b. Mahasiswa mampu memahami jenis-jenis waham.
c. Mahasiswa mampu memahami bagaimana terjadinya waham.
d. Mahasiswa mampu memahami tanda dan gejala waham,
e. Mahasswa mampu memahami pelaksanaan terapi medik pada pasien waham.
f. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien waham.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Waham


1. Definisi Waham
Menurut (Depkes RI, 2000) Waham adalah suatu keyakinan klien yang tidak
sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis
oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan
kontrol (Direja, 2011).
Waham curiga adalah keyakinan seseorang atau sekelompok orang berusaha
merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan (Kelliat, 2009).
Gangguan isi pikir adalah ketidakmampuan individu memproses stimulus
internal dan eksternal secara akurat. Gangguannya adalah berupa waham yaitu
keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan dengan realitas.
Keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan tingkat intelektual dan latar belakang
budayanya, serta tidak dapat diubah dengan alasan yang logis. Selain itu keyakinan
tersebut diucapkan berulang kali (Kusumawati, 2010).
Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan menilai dan berespons
pada realitas. Klien tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan sehingga
muncul perilaku yang sukar untuk dimengerti dan menakutkan. Gangguan ini
biasanya ditemukan pada pasien skizofrenia dan psikotik lain. Waham merupakan
bagian dari gangguan orientasi realita pada isi pikir dan pasien skizofrenia
menggunakan waham untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya yang tidak terpenuhi
oleh kenyataan dalam hidupnya. Misalnya : harga diri, rasa aman, hukuman yang
terkait dengan perasaan bersalah atau perasaan takut mereka tidak dapat mengoreksi
dengan alasan atau logika (Kusumawati, 2010).

2. Etiologi
Ada beberapa teori yang mengemukakan tentang penyebab dari delusi atau waham,
yaitu:
a. Biologis
Pola keterlibatan keluarga relatif kuat yang muncul dikaitkan dengan delusi atau
waham. Dimana individu dari anggota keluarga yang dimanifestasikan dengan
gangguan ini berada pada resiko lebih tinggi untuk mengalaminya dibandingkan
dengan populasi umum. Studi pada manusia kembar juga menunjukkan bahwa
ada keterlibatan faktor genetik.
b. Teori Psikososial
1) Sistem Keluarga
Dikemukakan oleh Bowen (1978) dimana perkembangan skizofrenia sebagai
suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Banyaknya masalah dalam keluarga akan
mempengaruhi perkembangan anak dimana anak tidak akan mampu
memenuhi tugas perkembangan dimasa dewasanya.
2) Teori Interpersonal
Dikemukakan oleh Sullivan (1953) dimana orang yang mengalami psikosis
akan menghasilkan suatu hubungan orang tua-anak yang penuh dengan
ansietas tinggi. Hal ini jika dipertahankan maka konsep diri anak akan
mengalami ambivalen.
3) Psikodinamika
Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya rangsangan atau perhatian
ibu, dengan ini seorang bayi mengalami penyimpangan rasa aman dan gagal
untuk membangun rasa percayanya.
Sehingga menyebabkan munculnya ego yang rapuh karena kerusakan harga
diri yang parah, perasaan kehilangan kendali, takut dan ansietas berat. Sikap
curiga terhadap seseorang dimanifestasikan dan dapat berlanjut di sepanjang
kehidupan. Proyeksi merupakan mekanisme koping paling umum yang
digunakan sebagai pertahanan melawan perasaan.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya waham adalah:


1) Gagal melalui tahapan perkembangan dengan sehat
2) Disingkirkan oleh orang lain dan merasa kesepian
3) Hubungan yang tidak harmonis dengan orang lain
4) Perpisahan dengan orang yang dicintainya
5) Kegagalan yang sering dialami
6) Keturunan, paling sering pada kembar satu telur
7) Sering menggunakan penyelesaian masalah yang tidak sehat, misalnya
menyalahkan orang lain.

Rentang Respon Neorobiologi (Keliat, 2009) :


Adaftif Maladaftif

Pikiran Logis Pikiran kadang menyimpang Gangguan proses pikir : waham


Persepsi Akurat Kadang Ilusi Halusinasi
Emosi Konsisten Emosi +/- Kerusakan emosi
Perilaku Sesuai Perilaku tidak sesuai Perilaku tidak sesuai
Hubungan Sosial Menarik diri Isolasi sosial

3. Klasifikasi Waham
a. Waham Kebesaran
Keyakinan klien secara berlebihan tentang kebesaran dirinya atau kekuasaannya.
Klien meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, serta
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Misalnya : “Saya ini direktur sebuah bank swasta lho..”, atau “Saya punya
beberapa perusahaan multinasional.”
b. Waham Curiga
Klien meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya, serta diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai
kenyataan.
Misalnya : “Saya tahu kalian semua memasukkan racun ke dalam makanan
saya”.
c. Waham Agama
Klien memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, serta
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Misalnya : “Kalau saya mau masuk surga saya harus membagikan uang kepada
semua orang.”
d. Waham Somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang penyakit atau di
tubuhnya ada terdapat binatang, serta diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai
kenyataan.
Misalnya : “Saya menderita penyakit menular ganas.”, namun setelah
pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tandatanda kanker, tetapi pasien terus
mengatakan bahwa ia terserang kanker.
e. Waham Nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, serta diucapkan
berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Misalnya : “Ini adalah alam kubur, semua yang ada di sini adalah roh-roh”.

4. Tanda dan Gejala Waham


a. Menurut Kusumawati, (2010) yaitu :
1) Gangguan fungsi kognitif (perubahan daya ingat)
Cara berfikir magis dan primitif, perhatian, isi pikir, bentuk, dan
pengorganisasian bicara (tangensial, neologisme, sirkumtansial).
2) Fungsi persepsi
Depersonalisasi dan halusinasi.
3) Fungsi emosi
Afek tumpul kurang respons emosional, afek datar, afek tidak sesuai,
reaksi berlebihan, ambivalen.
4) Fungsi motorik.
Imfulsif gerakan tiba-tiba dan spontan, manerisme, stereotipik
gerakan yang diulang-ulang, tidak bertujuan, tidak dipengaruhi stimulus yang
jelas, katatonia.
5) Fungsi sosial kesepian.
Isolasi sosial, menarik diri, dan harga diri rendah.
6) Dalam tatanan keperawatan jiwa respons neurobiologis yang sering muncul
adalah gangguan isi pikir: waham dan PSP: halusinasi.
b. Menurut Direja, (2011) yaitu :
1) Terbiasa menolak makan
2) Tidak ada perhatian pada perawatan diri
3) Ekspresi wajah sedih dan ketakutan
4) Gerakan tidak terkontrol
5) Mudah tersinggung
6) Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dan bukan kenyataan,
7) Menghindar dari orang lain
8) Mendominasi pembicaraan
9) Berbicara kasar
10) Menjalankan kegiatan keagamaan secara berlebihan.

5. Proses Terjadinya Waham


a. Fase Kebutuhan Manusia Rendah (Lack of Human Need)
Waham diawali dengan terbatasnya berbagai kebutuhan pasien baik secara
fisik maupun psikis. Secara fisik, pasien dengan waham dapat terjadi pada orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya pasien sangat miskin
dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya
untuk melakukan kompensasi yang salah. Hal itu terjadi karena adanya
kesenjangan antara kenyataan (reality), yaitu tidak memiliki finansial yang cukup
dengan ideal diri (self ideal) yang sangat ingin memiliki berbagai kebutuhan,
seperti mobil, rumah, atau telepon genggam.
b. Fase Kepercayaan Diri Rendah (Lack of Self Esteem)
Kesenjangan antara ideal diri dengan kenyataan serta dorongan kebutuhan
yang tidak terpenuhi menyebabkan pasien mengalami perasaan menderita, malu,
dan tidak berharga.
c. Fase Pengendalian Internal dan Eksternal (Internal and External Control)
Pada tahapan ini, pasien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia
yakini atau apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan, dan
tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, menghadapi kenyataan bagi pasien adalah
sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, dianggap penting,
dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, sebab kebutuhan
tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar pasien
mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan pasien itu tidak
benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan
keinginan menjadi perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi
tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan pasien tidak
merugikan orang lain.
d. Fase Dukungan Lingkungan (Environment Support)
Dukungan lingkungan sekitar yang mempercayai (keyakinan) pasien
dalam lingkungannya menyebabkan pasien merasa didukung, lama-kelamaan
pasien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran
karena seringnya diulang-ulang. Oleh karenanya, mulai terjadi kerusakan kontrol
diri dan tidak berfungsinya norma (superego) yang ditandai dengan tidak ada lagi
perasaan dosa saat berbohong.
e. Fase Nyaman (Comforting)
Pasien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat pasien menyendiri
dari lingkungannya. Selanjutnya, pasien lebih sering menyendiri dan menghindari
interaksi sosial (isolasi sosial).
f. Fase Peningkatan (Improving)
Apabila tidak adanya konfrontasi dan berbagai upaya koreksi, keyakinan
yang salah pada pasien akan meningkat. Jenis waham sering berkaitan dengan
kejadian traumatik masa lalu atau berbagai kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai
yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat
menimbulkan ancaman diri dan orang lain.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identifikasi klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien
tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat, tujuan, waktu pertemuan,
topik pembicaraan.
b. Keluhan utama / alasan masuk
1) Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga
datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi
masalah dan perkembangan yang dicapai.
2) Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan
jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik,
seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan
kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin
mengakibatkan terjadinya gangguan:

 Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
psikologis dari klien.
 Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan dan
perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
 Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan,
kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang menumpuk.
c. Aspek fisik / biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu, pernafasan.
Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada
keluhan.
d. Aspek psikososial
1) Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang dapat
menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang terkait dengan
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
2) Konsep diri
a) Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang
disukai dan tidak disukai.
b) Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien
terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki /
perempuan.
c) Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan masyarakat
dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut.
d) Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan
penyakitnya.
e) Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan
orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan
terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah.
f) Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan,
kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
g) Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
h) Status mental
i) Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas
motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek klien,
interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat
kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung, kemampuan
penilaian dan daya tilik diri.

0. Data yang perlu dikaji:


Gangguan isi pikir : waham
a. Data Subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai
kenyataan.
b. Data Objektif
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri,
orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung.

1. Diagnosa Keperawatan
Gangguan isi pikir : waham

2. Rencana tindakan

No Klien Keluarga

SPIP SPIK

1. Membantu orientasi realita Mendiskusikan masalah yang


dirasakan keluarga dalam merawat
2. Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi pesien.

3. Membantu pasien memenuhi kebutuhannya Menjelaskan pengertian, tanda dan


gejala waham, dan jelas waham yang
4. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
dialami pasien beserta proses
kegiatan harian
terjadinya.

Menjelaskan cara-cara merawat pasien


waham.

SP2P SP2K

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Membantu keluarga membuat jadwal


aktivitas di rumah termasuk minum
2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang obat (discharge planning)
penggunaan obat secara teratur.
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jawal Menjelaskan follow up pasien setelah
kegiatan harian pulang

SP3P SP3K

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Melatih keluarga memperaktikkan


cara merawat pasien dengan waham
2. Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki
Melatih keluarga memperatikkan cara
3. Berikan pujian terhadap kemampuan yang merawat langsung kepada pasien
dimiliki waham
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Perubahan Proses Pikir Waham


Pertemuan : Ke 1 (pertama)

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien mengatakan dirinya adalah seorang pemecah rekor dan berulang- ulang
mengatakanya. Klien lebih sering sendiri dan tidak mau bergaul dengan pasien lain.
Pasien senang tidur dan menyendiri.
2. Diagnosa Keperawatan
Perubahan Proses Pikir : Waham
3. Tujuan Khusus : SP 1
a. Kliean dapat membina hubungan saling percaya.
b. Klien mampu berorientasi dengan realita.
c. Klien mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
4. Tindakan keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya.
b. Membantu orientasi realita.
c. Mengidentifikasi kebutuhan sehari-hari klien yang belum terpenuhi.

B. Strategi Komunikasi Dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat Pagi…? Masih ingat saya Gloria betsy, atau ibu panggil saya betsy,
hari ini saya bertugas mulai hari ini mulai jam 7 pagi sampai jam 1 siang bu. Ibu
faqihatur biasanya di panggil siapa?”
b. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana parasaan ibu hari ini? Semalam tidurnya nyenyak? Tadi ibu sudah
makan dan minum obat kan?”
c. Kontrak
“Baiklah sesuai janji kita kemarin, hari ini kita akan ngobrol-ngobrol ya bu?
Bagaimana kalau kita ngobrol tentang kegiatan dan kebutuhan sehari-hari ibu?
Kita ngobrolnya selama 10 menit ya bu?”
2. Kerja
“Kemarin ibu bilang ibu seorag ibu rumah tangga, kalau di rumah biasanya ibu
melakukan apa saja bu? Kebutuhan- kebutuhan yang biasanya ibu penuhi di rumah
yang belun bisa di lakukan disini apa? Kenapa tidak di lakukan bu, di sini ibu bisa
melakukan dan memenuhi kebutuhan ibu tertebut! Nanti saya akan membantu ibu
memenuhinya! Hari ini ibu terlihat lebih ceria dari pada kemarin. Warna baju yang
ibu pakai hari ini apa ya? Wah cocok sekali dengan warna kulit ibu. Tapi baju yang
ibu kenakan kenapa sama dengan orang- orang yang di sana bu? Memang ibu berada
dimana sekarang?”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana Bu. Perasaan ibu setelah bercakap-cakap denga saya?”
b. Evaluasi Obyektif
“Jadi ibu di RSJ ini sebagai apa tadi bu? Jadi ibu bisa memenuhi kebutuhan ibu
di sini juga”
c. Rencana Tindak Lanjut
“Kalau begitu setelah makan siang nanti ibu bantu nyapu ya bu?”
d. Kontrak Yang Akan Datang
1) Topik
“Bagaimana kalau besok kita ngobrol tentang potensi ibu dan cara minum
obat yang benar”
2) Waktu
“Kita ngobrol- ngobrolnya jam berapa bu? Jam 11 siang bagaimana?”
3) Tempat
“Bagaimana kalau di tempat biasa kita ngobrolnya bu?”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Perubahan proses pikir : waham kebesaran


Pertemuan : II (kedua)

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien mengatakan saya masih ingat mbak betsy ya, tadi pagi saya sudah menyapu
mbak, saya senang sekali. Klien mengatakan saya senang dan pandai mengaji karena
setelah melakukannya membuat hati saya dingin. Klien mengatakan mau mengaji
setiap hari kalau boleh dan tidak mengganggu pasien lain dan mau memasukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian. Kontak mata ada, pandangan focus, pasien mau
tersenyum dan berjabat tangan, ekspresi wajah bersahabat, pembicaraan terarah,
pasien tidak bingung, pasien dapat melalukan kegiatan sehari-hari
2. Diagnosa Keperawatan
Perubahan proses pikir: Waham kebesaran
3. Tujuan Khusus (SP III)
a. Klien dapat melakukan jadwal kegiatan harian dengan baik
b. Klien mengetahui tenntang penggunaan obat secara teratur
c. Klien mau memasukkan minum obat teratur kedalam jadwal kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur
c. Menganjurkan memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan


1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat siang bu, bu ketemu saya lagi? Masih ingat saya? Iya, saya Gloria
Betsy Alfatina, Ibu bisa panggil saya Betsy ya? Saya bertugas hari ini jam 07.00
sampai jam 13.00, tapi nanti sore saya kembali lagi”
b. Evaluasi/Validasi
“Hari ini bagaimana perasaannya bu, semalam tidurnya enak, makannya gimana
hari ini mau makan tidak? Mau kan ya? Obatnya juga sudah diminum?”
c. Kontrak
“baiklah sesuai janji kemarin, hari ini kita akan ngobrol-ngobrol lagi ya bu?
Bagaimana kalau saya beri tahu ibu tentang manfaat minum obat, ibu mau?
Selama 10 menit ya bu?”
2. Kerja
“Tadi obatnya sudah diminum apa belum, bu? Kalau sudah ibu tau tidak manfaat dari
minum obat tadi?perasaan ibu bagaimana setelah minum obat? Wah, kalau begitu
obatnya harus diminum setiap hari ya bu! Karena obat-obatan itu untuk membantu
pemulihan ibu, biar ibunya cepat sembuh, kalau tidak diminum bakalan lama
disininya, katanya ingin cepat pulangkan? Jadi obatnya tadi ada 2 jenis ya bu 1 sirup.
Sirupnya diminum pagi dan sore, siangnya tidak. Pilnya diminum pagi, siang, dan
sore. Kalau setelah minum obat ibu gliyeng-glieyeng dipakai istirahat saja ya?
Minum obat ini biar ibunyan cepat sembuh lo bu,kalau ibu berhenti minum obatnya
nanti ibu gak sembuh-sembuh jadi tambah lama disininya. Kalau begitu biar tidak
lupa minum obatnya kita masukkan dijadwal kegiatan harian bagaimana? Ibu saya
juga mau lihat ibu sudah melakukan sesuai jadwal hari ini?”
3. Terminasi
a. Evaluasi subjektif
“Bagaimana perasaan bu sekarang setelah kita berbincang-bincang?”
b. Evaluasi objektif
“Jadi manfaat minum obat tadi apa?”
c. Rencana tindak lanjut
“karena ibu sudah tau manfaat dari minum obat teratur mulai nanti siang jangan
lupa obatnya diminum ya bu?”
d. Kontrak yang akan datang
1) Topik
“Bu, bagaimana kalau kita besok ngobol-ngobrol lagi tentang potensi atau bakat
yang ibu miliki?”
2) Waktu
“Besok kita ketemu lagi jam 11.00 ya bu, bagaimana?”
3) Tempat
“Bagaimana kalau ditempat biasa kita ngobrol?”
STRATEGI PELAKSANAA TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Perubahan Proses Pikir : Waham


Pertemuan : Ke III (ketiga)

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien mengatakan dirinya adalah pemecah rekor tapi sekarang berada di rsj sebagai
pasien gila katanya. klien mengatakan senang mengaji dan menyapu saat dirumah.
klien mengatakan mulai besok akan ikut menyapu dengan yang lainnya. ekspresi
wajah bersahabat, kontak mata ada, klien mau berbincang-bincang, klien kooperatif,
klien mau membuat jadwal kegiatan.
2. Diagnosa Keperawatan
Perubahan proses pikir : Waham
3. Tujuan Khusus (SP II)
a. Klien mampu memnuhi kebutuhan sehari-hari.
b. Klien mengerti kemampuan yang di miliki.
c. Klien mampu melakukan kemampuan yang dimiliki.
4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian.
b. Mendiskusikan tentang kemampuan yang dimiliki.
c. Melatih kemampuan yang dimiliki.
B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat siang bu…, ketemu saya lagi ya bu? Masih ingat saya?, gimana ibu
hari ini ada yang di keluh kan? Semalam tidurnya nyenyak bu? Makanya enak?
Di habiskan tidak?
b. Evaluasi/Validasi
“Perasan ibu hari ini bagaimana?”
c. Kontrak
“ Baiklah bu… sesuai dengan jadwal kita kemarin, hari ini kita akan`ngobrol
ngobrol lagi ya bu..? bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal yang ibu
sukai selain mengaji? Berapa lama ibu? 10 menit ya?
2. Kerja
“Ibu kemarin kita kan sudah membuat jadwal harian, kemarin ibu suka menyapu
rumah katanya? Sudah kita masukan jadwal harian bu? Coba saya lihat? Wah ibu
pandai sekali ya? Sekarang selain mengaji ibu suka apa yang ibu lakukan di rumah?
Jadi selaiin meyapu rumah ibu, ibupandai dalam hal apa lagi? Kalau begitu
bagaimana kalau kita sekarang berlatih dan ibu tunjukan kepada saya? Perasaan ibu
bagaimana setelah melakukanya? Kalau begitu bakat ibu yang satu ini bisa kita
masukan ke jadwal kegiatan harian ibu juga ya bu?
3. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
“Bagaimana perasaan iu setelah bercakap-cakap?”
b. Evaluasi Obyektif
“ Jadi bidang apa yang harus ibu sukai?”
c. Rencana Tindak Lanjut
“kalau begitu nanti sre setelah mandi ibu bisa mulai mengaji ya bu?”
d. Kotrak Yang Akan Datang
1) Topik
“bagaimana kalau besok kita ngobrol lagi, dan saya akan lihat kegiatan apa saja
yang sudah ibu lakukan?”
2) Waktu
“Kira- Kira kita bertemu jam berapa besok ibu? Jam 11 siang ya?”
3) Tempat
“kita ngobrol di tempat biasanya saja ya bu?”
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan selalu dikemukakan
berulang-ulang. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang
kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya. Waham memiliki beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi waham, proses terjadinya waham dan klasifikasi waham.

B. SARAN
Sebagai tenaga kesehatan khususnya untuk kesehatan jiwa, kita hendaknya
memperhatikan setiap aspek dalam pemberian asuhan keperawatan kesehatan jiwa
terutama untuk pasien waham serta bagaimana cara kita untuk menghadapi dan
mengatasi pasien yang mengalami gangguan kesehatan jiwa yang mengalami waham.
DAFTAR PUSTAKA

Kusumawati, Farida.2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika

Yusuf, dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika

Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda NIC-NOC Jilid 3. Jakarta : Mediaction

https://www.academia.edu/9323126/MAKALAH_ASKEP_KEPERAWATAN_JIWA_D
ENGAN_MASALAH_WAHAM. Diakses pada tanggal 7 April 2016.