Vous êtes sur la page 1sur 40

0

GAMBARAN FREKUENSI PENGGUNAAN DIAPERS DAN TOILET


TRAINING PADA ANAK DI PAUD TARBIATUL ATFAL
KALIKAYEN UNGARAN TIMUR

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya
Kebidanan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada
Semarang

Oleh :
EFI MAR’ATUS SHOLEHAH
NIM : 1502005

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan sejak ia lahir

sampai mencapai usia dewasa. Pada masa balita pertumbuhan dan

perkembangan anak terjadi sangat cepat. Perhatian yang diberikan pada masa

balita akan sangat menetukan kualitas kehidupannya di masa depan. Anak

berkembang dari satu periode ke periode perkembangan yang lain, mereka

mengalami perubahan tingkah laku yang berbeda akibat masalah atau tugas

yang dituntut pada setiap periode perkembangan juga berbeda. Salah satu tugas

perkembangan adalah membentuk kemandirian, kedisiplinan, dan kepekaan

emosi pada anak. Untuk mencapai tugas perkembangan tersebut salah satunya

dapat dilakukan melalui toilet training sejak dini[1].

Anak yang masih menggunakan diapers disposible atau terbiasa

menggunakan diapers dari bayi akan mengalami beberapa perbedaan dari

anak-anak lainnya yang tidak menggunakan diapers. Tentu saja jika diapers

itu dipakai setiap saat, bukan pada saat-saat tidak berdekatan dengan toilet saja

atau dalam berpergian. Karena penggunaan diapers akan mempersulit latihan

buang air sehingga anak yang menggunakan diapers memulai latihan

menggunakan toilet setaun lebih lama. Orang tua harus sabar dalam melatih

Toilet training untuk menghindari stres pada anak karena hal ini dapat

menyebabkan sembelit, mengompol dan merasa bersalah[2].

1
2

Toilet training adalah melatih perilaku anak untuk BAK/BAB

langsung ke toilet, hal ini mempunyai dampak yang baik yaitu sebagian besar

responden siap mengikuti Toilet training dengan kriteria baik. Toilet training,

begitu istilah populer untuk melatih si kecil buang air kecil atau besar di

kamar mandi. Toilet training dapat diajarkan pada anak melalui lisan dan

modelling atau mempraktekkan. Selain itu juga didukung dengan kebiasaan

orang tua untuk mengajarkan tentang Toilet training yang benar pada anak

saat dirumah sesuai dengan tumbuh kembang anak. Toilet training merupakan

suatu tugas yang besar pada usia balita atau pendidikan menjadi ceria/bersih,

kontrol volunter dari springter ani dan uretra dicapai pada waktu anak dapat

berjalan dan biasanya terjadi antara usia 18-24 bulan[3].

Usia di bawah 2 tahun wajar kebiasaan mengompol, merupakan hal

yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4 – 5

tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun. Anak di bawah usia 2 tahun

mengompol karena belum sempurna kontrol kandung kemih atau toilet

trainingnya. Beberapa literatur yang menyatakan bahwa usia dibawah 2 tahun

masih mengompol sementara usia diatas 6 tahun masih mengompol itu

tidakwajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6

tahun, bukan berarti tidak diajarkan bagaimana cara benar dalam membuang

air kecil ( BAK) dan buang air besar (BAB) yang besar dan di tempat yang

tepat. Karena itu juga harus memperhitungkan masa sekolah anak, dimana

biasanya ketika sudah bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis

sembarangan[3].
3

Usia 1 sampai 3 tahun belum melakukan buang air sesuai waktu dan

tempat yang telah di lakukan. Berakibat anak bisa menjadi bahan cemoohan

teman-temannya. Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK dan BAB sesuai

waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar, tetapi

pada usia 2 tahun masih dianggap wajar bila BAK dan BAB dicelananya,

tetapi orang tua membiarkan saja. Masalah kemandirian anak pada BAK dan

BAB boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak. Anak wanita lebih

penurut, maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk Toilet training dibanding

anak laki – laki, namun demikian untuk mengajarkan Toilet training pada

anak laki – laki pun harus bisa[3].

Data dari survey gambaran perilaku Toilet training pada anak yang

masih menggunakan diapers di PAUD Tarbiyatul Atfal Kalikayen Ungaran

Timur. Pola BAB & BAK dirumah setiap siswa berbeda. Hasil wawancara, 6

orang tua mengatakan anaknya masih mengompol baik di siang hari 4 kali di

malam hari BAK 2 kali. 1 orang tua mengatakan anaknya kadang mengompol

kadang tidak, 3 orang tua mengatakan anaknya masih mengompol di malam

hari saja. Dari 10 orang tua yang diwawancarai mereka tidak mengajarkan

Toilet training kepada anak dikarenakan mereka lebih suka sesuatu yang

praktis dengan memakaikan diapers disposible kepada anak saat di rumah.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang

“Gambaran frekuensi pengguanaan diapers dan Toilet training pada anak di

PAUD di Kalikayen Ungaran Timur ”.


4

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, peneliti membuat

rumusan masalah penelitian “Bagaimana Gambaran frekuensi penggunaan

diapers dan Toilet training Pada Anak di PAUD yang ada di Kalikayen

Ungaran Timur?”.

C. Tujuan

1. Tujuan umum

Mengetahui gambaran tentang Toilet training di PAUD Tarbiatul Atfal

yang ada di Kalikayen Ungaran Timur.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran frekuensi penggunaan diapers di PAUD

Tarbiatul Atfal yang ada di Kalikayen Ungaran Timur

b. Untuk mengetahui toilet training pada anak di PAUD Tarbiatul Atfal

yang ada di Kalikayen Ungaran Timur

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat

Sebagai tambahan informasi bagi masyarakat mengenai Toilet Training

2. Bagi PAUD

Sebagai tambahan informasi dan wawasan bagi ibu/orang tua setelah

diberikan penyuluhan mengenai Toilet training bagi anak usia toddler

sehingga dapat meningkatkan peran ibu dalam pembelajaran Toilet

training pada anak, khususnya bagi ibu-ibu yang mempunyai anak di

PAUD yang ada di Kalikayen Ungaran Timur


5

3. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai tambahan refensi , khususnya dalam kebidanan

4. Bagi Peneliti

Dapat dijadikan sebagai data awal yang akan dipakai untuk penelitian

selanjutnya dalam bidang yang sama sehingga dapat membantu

mengembangkan ilmu pengetahuan.


6

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No. Judul penelitian Metode Hasil Perbedaan

1. Kesiapan Anak kuantitatif sebagian besar Variabel penelitian,


Usia Toddler (3 dengan responden siap responden, tempat
Tahun) Dalam desain mengikuti toilet dan waktu
Mengikuti penelitian training dengan penelitian, serta
Toilet Training deskriptif. kriteria baik yaitu metode penelitian
jannah dan ada 9 responden
yektiningsih (60%)
(2016)[3]

2. Dampak Kuantitatif penggunaan Variabel penelitian,


Disposable diapres responden, tempat
diapres disposable dan waktu
terhadap menghambat penelitian, serta
ketelambatan kesiapan anak metode penelitian
kesiapan toilet toddler dalam
traning anak toilet trining
toddler
Sufyanti et
al,(2009)[4]

3. Pemakaian Kuantitatif Membuktikan dan Variabel penelitian,


diapres dan efek menjawab responden, tempat
dan efek pertanyaan dan waktu
terhadap penelitian yang di penelitian, serta
kemampuan anjurkan bahwa metode penelitian
toilet traning apakah ada
pada anak usian hubungan antara
Noor azizah frekuensi dan
toddler(2015)[5] lama pemakaian
diapres dan
kemampuan toilet
training pada usia
toddler
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar Perilaku

a. Pengertian

Perilaku (manusia) timbul karena adanya stimulus dan respon dan

dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. [6]

Dilihat dari segi biologis, perilaku merupakan suatu kegiatan atau

aktivitas makhluk hidup yang bersangkutan oleh sebab itu, dari sudut

pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan,

binatang, sampai dengan manusia semuanya berperilaku, karena

mereka mempuyai aktivitas masing-masing. Kesimpulannya bahwa

yang disebut dengan perilaku manusia adalah semua kegiatan atau

aktifitas manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun

yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. [7]

b. Bentuk Perilaku

Di lihat dari bentuk respon terhadap stimulus, maka perilaku

dapat di bedakan menjadi dua, yaitu : [7]

1) Perilaku Tertutup (Covert Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk

tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih

terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran

7
8

dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus

tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas orang oleh orang

lain.

2) Perilaku Terbuka (Overt Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk

tindakan nyata atau terbuka, respon terhadap stimulus tersebut

sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan

dapat di amati oleh rang lain secara mudah.

c. Perilaku kesehatan

Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang

(organisme) terhadap stimulus atau penyakit, system pelayanan

kesehatan makanan dan minuman serta limgkungan. [8]

1) Perilaku hidup sehat (health behaviour) yaitu hal-hal yang

berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam

memelihara dan meningkatkan kesehatannya

2) Perilaku sakit (illnes behaviour) yaitu segala tindakan atau

kegiatan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasa

sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau

rasa sakit termasuk kemampuan atau pengetahuan individu untuk

mengidentifikasi penyakit, peneybab penyakit serta usaha-usaha

untuk mencegah penyakit tersebut.


9

3) Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yaitu dalam segala

tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang

sakit untuk memperoleh kesembuhan.

d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Perilaku

Menurut teori Lawrence Green (1980), kesehatan seseorang

atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku

(behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). [9]

Perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama meliputi :

1) Faktor-faktor Predisposisi (Predisposing Factor)

Faktor ini pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap

kesehatan, tradisi, dan kepercayaan terhadap nilai-nilai yang

berkaitan dengan keehatan, juga system nilai yang dianut oleh

masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan

sebagainya. Faktor predisposisi ini sering disebut faktor pemudah.

2) Faktor-faktor Pemungkin (Enabling Factor)

Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau

fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Fasilitas ini pada hakekatnya

mendukung dan memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan.

Karena hal ini faktor ini disebut faktor pemungkin.

3) Faktor-faktor Penguat

Faktor-faktor penguat ini meliputi : sikap dan perilaku

tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas kesehatan, peraturan-

peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait

dengan kesehatan. Perilaku itu sendiri dapat diukur secara


10

langsung yaitu dengan melakukan wawancara terhadap kegiatan-

kegiatan yang telah dilakukan selama beberapa jam, hari, hingga

bulan yang lalu. Juga dapat secara langsung yaitu dengan

mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

2. Toilet Training

a. Definisi

Toilet training merupakan proses pengajaran untuk kontrol buang

air besar dan buang air kecil secara benar dan teratur. Biasanya kontrol

buang air kecil lebih dahulu dipelajari oleh anak , kemudian kontrol

buang air besar.Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan

untuk keterampilan sosial. Mengajarkan toilet training (TT)

membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran.Hal terpenting untuk

diingat adalah bahwa orangtua tidak dapat memaksakan anak untuk

menggunakan toilet. Sebaiknya anak mulai diperkenalkan dengan toilet

training saat usia prasekolah (2-5 tahun). Namun yang pasti, tidak ada

patokan usia kapan latihan ini harus dimulai. Saat yang tepat tergantung

dari perkembangan fisik dan mental anak, anak berusia dibawah 12

bulan tidak mempunyai kontrol terhadap kandung kemih dan BAB, 6

bulan sesudahnya ada sedikit kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa

anak sudah menunjukkan kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap

sampai usia 30 bulan atau lebih.[9]


11

b. Keuntungan dilakukan Toilet Training

Toilet Training juga dapat menjadi awal terbentuknya

kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan

hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air

besar.Mengetahui bagian-bagian dan fungsinya.

Toilet training bermanfaat pada anak sebab anak dapat

mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya (anatomi) tubuhnya.

Dalam proses toilet training terjadi pergantian implus atau rangsangan

dan instink anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi toilet training pada anak

1) Kesiapan Fisik

a) Usia telah mencapai 18-24 tahun

b) Dapat jongkok kurang dari 2 jam

c) Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan

berjalan

2) Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana

dan pakaian,

3) Kesiapan Mental

a) Mengenal rasa ingin berkemih dan defakasi

b) Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika ingin berkemih

c) Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru

perilaku orang lain

d) Kesiapan Psikologis
12

e) Dapat jongkok dan berdiri di toilet selama 5-10 menit tanpa

berdiri dulu

f) Mempunyai rasa ingin tahu dan penasaran terhadap kebiasaan

orang dewasa dalam BAK dan BAB

g) Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda

padat di celana dan ingin segera diganti

4) Kesiapan Anak

a) Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan defakasi

b) Adanya keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan

berkemih dan devakasi pada anaknya

c) Tidak mengalami konflik tertentu atau stres keluarga yang

berarti (perceraian).

d. Praktek toilet training

Praktek toilet training yang dilakukan oleh ibu sebagai berikut :

1) Praktik Lisan

Usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan instruksi

pada anak dengan kata-kata sebelum atau sesudah buang air kecil

dan besar. Cara ini merupakan hal biasa yang dilakukan pada orang

tua akan tetapi apabila kita perhatikan bahwa teknik lisan ini

mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan

untuk untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).
13

2) Praktik memberi contoh

Usaha melatih anak dalam melakukan buang air besar dengan

cara meniru untuk buang air besar dengan cara meniru untuk buang

air besar atau memberikan contoh. Cara ini juga dapat dilakukan

dengan memberikan contoh-contoh buang air kecil (BAK) dan

buang air besar (BAB) atau membiasakan secara benar. Teknik

memberi contoh dapat dilakukan dengan cara seperti : anak

mengamati orangtua dengan jenis kelamin yang sama atau

saudaranya yang sedang buang air.Selain dapat menggunakan

metode praktik yang diatas ibu juga dapat menggunakan metode

praktik pengaturan jadwal dan menggunakan alat bantu seperti

boneka.

3) Praktik pengaturan jadwal

Anak yang telah menampakkan tanda kesiapan secara

bertahap diminta duduk diatas kloset sebentar dalam keadaan

berpakaian lengkap.Anak diminta untuk melepaskan pakaian

dalamnya sendiri dan duduk di kloset selama 5 – 10 menit.Ibu

memberikan pujian pada anak bila anak dapat melakukan dengan

baik. Metode ini efektif untuk anak-anak yang memiliki jadwal

buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK) yang teratur.

4) Praktik menggunakan alat bantu

Anak telah menunjukkan tanda kesiapan untuk latihan buang

air, kemudian anak diajarkan toilet training menggunakan boneka


14

sebagai model. Orang tua memberikan contoh lewat boneka

kemudian orang tua meminta anak untuk menirukan proses toilet

training dengan boneka secara berulang-ulang dan anak diajarkan

untuk memberi pujian pada boneka.

e. Faktor yang mendukung praktik latihan toilet training

1) Kesediaan WC atau kakus

WC atau kakus sebaiknya aman dan nyaman serta lantai tidak licin

agar anak tidak terjatuh atau kecelakaan dalam melakukan latihan

toilet training.

2) Komunikasi

Sampaikan pada anak bahwa saat ini anak sudah siap untuk mulai

belajar latihan buang air besar dan buang air kecil. Komunikasikan

semua proses latihan buang air besar dan buang kecil agar anak

paham seperti sebelum buang air kecil atau buang air besar

membuka celana terlebih dahulu, jongkok dan lalu membersihkan

alat kelamin agar alat kelamin tetap bersih. Sampaikan pada anak

bila sudah bisa melakukan dengan baik dan berilah pujian, tetapi jika

belum bisa jangan mengejek anak.

f. Faktor yang mendorong praktik latihan toilet training[i]

1) Ayah atau kakak laki-laki

Ayah atau kakak laki-laki memberi contoh buang air besar atau

buang air kecil pada anak laki-laki atau adik laki-lakinya


15

2) Ibu atau kakak perempuan

Ibu atau kakak perempuan memberi contoh buang air besar atau

kecil pada anak perempuan atau adik perempuannya. Berdasarkan

uraian diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang menjadi

pendorong dalam praktik toilet training adalah orang tua dan

saudara terdekat, hal ini disebabkan anak pada usia 18-36 bulan

lebih cepat untuk meniru seseorang.

g. Tanda-tanda anak sudah siap melakukan toilet training

Tanda-tandanya adalah sebagai berikut :

1) Kemampuan bahasa anak diharapkan sudah dapat mengikuti

perintah seperti “Bukalah celanamu dan pergi ke kamar mandi.”

2) Kemampuan keterampilan dapat mencontoh atau mengikuti

pengasuh (misalnya menyapu lantai)

3) Kemampuan emosi dapat menyenangkan orangtua atau pengasuh

dengan menuruti perintahnya menunjukkan sikap

menentang/melawan

4) Otonomi/kemandirian menunjukkan sikap mandiri dalam

kegiatannya (seperti makan sendiri, membuka celana, dan

menunjukkan rasa bangga akan barang yang dimilikinya)

5) Kemampuan gerak dalam melakukan kegemarannya, dapat

menurunkan celananya sendiri, dan dapat duduk diam selama 5

menit tanpa dibantu kadang-kadang dapat mengontrol buang air

besar dan buang kecil


16

6) Kesadaran tubuh sendiri menunjukkan keperdulian terhadap celana

yang basah atau kotor memperlihatkan gejala ingin buang air besar

atau kecil (seperti ekspresi muka, posisi tubuh tertentu, dan

seterusnya)

Selain kesiapan di atas, hal-hal berikut ini mungkin juga bisa

anda pertimbangkan mengenai kesiapan anak dalam melakukan

latihan toilet.

a) Anak sudah tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari

atau setelah tidur siang.

b) BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi

c) Ekspresi wajah, postur tubuh dan kata-kata yang menunjukkan

keinginan BAB dan BAK.

Keadaan stres di rumah bisa membuat proses ini menjadi

sulit. Kadang – kadang sangat bijaksana untuk menunda latihan

toilet training dalam situasi berikut ini :

(1) Keluarga baru pindah atau berencana akan pindah dalam

waktu dekat

(2) Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru

mendapatkan seorang bayi

(3) Ada penyakit berat, kematian, atau seseorang dalam

keluarga sedang mengalami kritis


17

(4) Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami

hambatan dalam latihan toilet, maka tidak ada alasan untuk

menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.

(5) Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana

(6) Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta

membantu melepas pakaian

(7) Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang kotor

dan ingin diganti

(8) Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot

(9) Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti

anak yang lebih besar.

3. Usia Toddler (1-3 tahun)

a. Definisi

Anak usia toddler (1-3 tahun) merujuk konsep periode kritis dan

plastisitas yang tinggi dalam proses tumbuh kembang, maka usia satu

sampai tiga tahun sering disebut sebagai “golden period” (kesempatan

emas) untuk meningkatkan kemampuan setinggi - tingginya dan

plastisitas yang tinggi adalah pertumbuhan sel otak cepat dalam waktu

yang singkat, peka terhadap stimulasi dan pengalaman, fleksibel

mengambil alih fungsi sel sekitarnya dengan membentuk sinaps-sinaps

serta sangat mempengaruhi periode tumbuh kembang selanjutnya. Anak

pada usia tersebut ini harus mendapatkan perhatian yang serius dalam

arti tidak hanya mendapatkan nutrisi yang memadai saja tetapi


18

memperhatikan juga intervensi stimulasi dini untuk membantu anak

meningkatkan potensi dengan memperoleh pengalaman yang sesuai

dengan perkembangannya.[9]

Ciri – ciri anak toddler (1-3 tahun) antara lain menurut jasmani

anak usia toddler (1-3 tahun) berada dalam tahap pertumbuhan jasmani

yang pesat oleh karena itu mereka sangat lincah. Sediakanlah ruangan

yang cukup luas dan banyak kegiatan sebagai penyalur tenaga. Anak

usia ini secara mental mempunyai jangka perhatian yang singkat, suka

meniru oleh karena itu jika ada kesempatan gunakanlah perhatian

mereka dengan sebaiknya-baiknya. Segi emosional anak usia ini mudah

merasa gembira dan mudah merasa tersinggung, kadang-kadang mereka

suka melawan dan sulit diatur. Kembangkanlah kasih sayang dan

disiplin serta perhatikanlah kepadanya bahwa ia adalah penting bagi

anda dengan sering memujinya. Segi sosial anak toddler (1-3 tahun)

sedikit anti sosial.Wajar bagi mereka untuk merasa senang bermain

sendiri dari pada bermain secara berkelompok. Berilah kesempatan

untuk bermain sendiri tetapi juga tawarkan kegiatan yang

mendorongnya untuk berpartisipasi dengan anak – anak lain.

b. Fase toddler (1-3 tahun) mengalami tiga fase yaitu :

1) Fase otonomi

Menurut teori Erikson, hal ini terlihat dengan berkembangnya

kemampuan anak yaitu dengan belajar untuk makan atau berpakaian

sendiri. Orang tua tidak mendukung upaya anak untuk belajar


19

mandiri, maka hal ini dapat menimbulkan rasa malu atau ragu akan

kemampuannya. Misalnya orang tua yang selalu memanjakan anak

dan mencela aktivitas yang telah dilakukan oleh anak.Pada masa ini

anak perlu dibimbing dengan akrab, penuh kasih sayang, tetapi juga

tegas sehingga anak tidak mengalami kebingungan.

2) Fase anal

Menurut teori Singmund Freud pada fase ini sudah waktunya

anak dilatih untuk buang air atau toilet training(pelatihan buang air

pada tempatnya) anak juga dapat menunjukkan beberapa bagian

tubuhnya menyusun dua kata dan mengulang kata – kata baru. Anak

usia toddler (1-3 tahun) yang berada pada fase anal yang ditandai

dengan berkembangnya kepuasan dan ketidakpuasan disekitar

fungsi eliminasi. Mengeluarkan feses atau buang air besar timbul

rasa lega, nyaman dan puas.Kepuasan ini bersifat egosentrik artinya

anak mampu mengendalikan sendiri fungsi tubuhnya. Hal ini perlu

diperhatikan dalam fase anal yaitu anak mulai menunjukkan sifat

egosentrik, sifat narsitik (kecintaan pada diri sendiri) dan egosentrik

(memikirkan diri sendiri) tugas perkembangan yang penting pada

fase anal tepatnya saat anak umur 2 tahun adalah latihan buang air

(toilet training) agar anak dapat buang air secara benar.

3) Fase pra operasional

Menurut teori Piaget pada fase anak perlu dibimbing dengan

akrab, penuh kasih sayang tetapi juga tegas sehingga anak tidak
20

mengalami kebingungan. Orang tua mengenalkan kebutuhan anak

maka anak akan berkembang perasaan otonominya sehingga anak

dapat mengendalikan otot-otot dan rangsangan lingkungan

B. Kerangka Teori

Faktor-faktor yang mempengaruhi toilet training


Faktor predisposisi

1. Tingkat pendidikan

2. Tingkat sosial ekonomi

Faktor pendorong

1. sarana Toilet training

2.pra sarana

Faktor penguat

1. Sikap

2. Perilaku ( penggunaan diapres)

3.Tokoh masyarakat

4.Tokoh agama

5. Para petugas kesehatan

6.Peraturan-peraturan baik dari pusat


maupun pemerintah daerah yang terkait
dengan kesehatan

Keterangan :

:Tidak diteliti

:Diteliti

Gambar 2.1.KerangkaTeori[12]
21

C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah Frekuensi penggunaan diapers dan toilet

training pada anak di PAUD Tarbiatul Atfal Kalikayen Ungaran Timur.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang

bertujuan menerangkan atau menggambarkan masalah penelitian kebidanan

yang terjadi pada kasus yang berdasarkan distribusi tempat, waktu, umur, jenis

kelamin, sosial ekonomi, pekerjaan, status perkawinan, cara hidup (pola

hidup) dan lain-lain. Deskriptif tersebut dapat terjadi pada lingkup individu di

suatu daerah tertentu atau lingkup kelompok pada masyarakat di daerah

tertentu. Dengan pendekatan cross sectional, yaitu penelitian pada beberapa

populasi yang diamati pada waktu yang sama[ [10]

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Juli 2018.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di PAUD Tarbiyatul Atfal Kalikayen

Ungaran Timur.

C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri atas obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[10]

22
23

Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua murid yang

memiliki anak berumur 3-5 tahun, sebanyak 45 di PAUD Tarbiyatul Atfal

yang ada di Kalikayen Ungaran Timur.

2. Sampel

Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua

sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, maka sampelnya

diperoleh 45 responden.

Tehnik pengambilan sampel dari populasi pada penelitian ini

digunakan teknik total sampling (sampel jenuh) yaitu penentuan sampel

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Menggunakan

sampel jenuh karena setiap anggota atau unit dari setiap anggota populasi

mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel.

Pada penelitian ini jumlah sampel yaitu 45 responden yang diambil secara

total sampling dengan kriteria :[10]

a. Kriteria inklusi

1) Ibu dari anak PAUD Tarbiyatul Atfal.

2) Ibu yang bersedia menjadi responden.

3) Ibu yang tinggal satu rumh dengan anaknya.

b. Kriteria eksklusi

1) Anak dengan riwayat cacat bawaan.

2) Mempunyai orang tua tetapi bercerai hidup maupun bercerai mati.


24

3. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan suatu proses seleksi sempel yang

digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah

sempel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada, secara umum ada

dua jenis pengambilan sampel yakni probability sampling dan

nonprobability sampling. [11]

Sampling jenuh atau total sampling adalah cara pengambilan sempel

dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sempel. [11]

D. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti

untuk melakukan observasi atau pengukuran terhadap suatu obyek atau

fenomena. Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang

dijadikan ukuran dalam penelitian, sedangkan cara pengukuran merupakan

cara dimana variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya.[11]

Tabel. 3.1 . Definisi Operasional

Variabel Definisi operasional Alat ukur Hasil ukur Skala


Frekuensi Penggunaan diapres Kuesioner 1.Selalu menggunakan: jika Ordinal
penggunaan Di gunakan anak pada setiap waktu baik pagi,siang,
diapres usia 3-5 tahun malam menggunakan
2.Sering menggunakan: jika
setiap setelah mandi dan BAB
menggunakan
3.Kadang-kadang
menggunakan: jika saat
berpergian, menjelang tidur
atau pada saat anak meminta
4.Tidak pernah menggunakan:
jika tidak menggunakan sama
sekali
25

Toilet Tindakan yang di kuesioner 1.Baik jika nilai ≥ mean


training lakukan oleh ibu atau 2.Kurang baik jika nilai Ordinal
orang tua dalam < mean
mengajarkan ke toilet
anak usia 3-5 tahun
yang meliputi praktik
dengan contoh,
praktik lisan, praktik
memberi contoh,
praktik pengaturan
jadwal,praktik
penggunanan alat
bantu

E. Alat Pengumpulan Data

Penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan

kuisioner yang berisi 20 pertanyaan tertutup yang diisi oleh responden. Pada

bagian pengumpulan data, komponen yang ada berupa alat pengumpulan

data/instrumen penelitian uji validitas dan reabilitas, pengumpulan data dan

jalannya penelitian.[11]

1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat ukur pengumpulan data yang

digunakan untuk memperkuat hasil penelitian, Instrumen penelitian yang

digunakan untuk memperkuat hasil penelitian. Instrumen penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner,yaitu :

a. Kuisioner I berisi data karakteristik responden yang terdiri atas : Kode

responden, umur,pendidikan,pekerjaan.
26

b. Kisi-Kisi Pertayaan

Tabel 3.2 Kisi - Kisi Pertanyaaan

no keterangan unfavourable Favourable jumlah

1 praktik lisan 5 1,2,3,4 5


2 praktik memberi 10 6,7,8,9 5
contoh
3 praktik dengan pengaturan 15 11,12,13,14 5
jadwal
4 praktik menggunakan alat bant 20 16,17,18,19 5

Total 4 16 20

2.Uji Validitas

Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti

prinsip keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Uji validitas

dapat menggunakan rumus Pearson Product Moment, setelah itu

dengan menggunakan uji kemudian dilihat penafsiran dari indeks

kolerasinya.

Rumus preason product moment

R hitung = n(Σxy) – (Σx-Σy)

√{n.Σx² – (Σ(6x)²}.{n.Σy2 – (Σy)2}

Keterangan :

R hitung = kolerasi

Σx = jumlah skor item

Σy = jumlah skor total

N = jumlah responden
27

t hitung =

keterangan :

t hitung =nilai t hitung

r = koefisien korelasi hasil r hitung

n = jumlah responden

Uji validitas Akan di laksanakan di PAUD Mekar Sari Kalikayen

Ungaran Timur sejumlah 20 responden.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

peraga dapat dipercaya atau dipercaya atau dapat diandalkan dan tetap

konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala

yang sama.[11]

Setelah mengukur validitas, harus dilakukan pengukuran reliabilitas

data, dan setelah itu baru diketahui apakah alat ukur dapat digunakan atau

tidak. Pengujian reabilitas digunakan dengan rumus koefisien reabilitas

alpha cronbach dengan bantuan komputer, dengan rumus yaitu :


:[11]
Rumus

Rumus Alpha Cronbach tersebut adalah sebagai berikut:

11 = {1- }

Keterangan :

r 11 : reliabilitas instrumen
k : banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
28

: jumlah varian

: jumlah soal
F. Prosedur Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam

dua jenis yaitu data primer dan sekunder

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat langsung dari responden.

Data primer yang didapatkan peneliti yaitu data penggunaan diapers dan

perilaku toilet training .

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang didapat tanpa bertemu

langsung dengan responden. Data sekunder tersebut didapatkan

jumlah siswa di PAUD Tarbiyatul Atfal..

2. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, yaitu suatu

metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti

mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang

sasaran peneliti (responden) atau bercakap-cakap berhadapan muka

(face to face) untuk mengetahui penggunaan diapres dan perilaku

toilet training
29

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan peneliti sebelum

melakukan penelitian yaitu prosedur-prosedur pengumpulan data

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Setelah memperoleh surat ijin untuk melakukan penelitian dari

STIKes Karya Husada Semarang, peneliti memberikan surat

tembusan kepada Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten

Semarang, Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang dan Kepala

PAUD Tarbiyatul Atfal Kelurahan Kalikayen Kecamatan Ungaran.

b. Setelah memperoleh surat balasan dari Kesatuan Bangsa dan

Politik Kabupaten Semarang, peneliti menyerahkan surat kepada

Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang. Kemudian setelah

mendapatkan surat balasan dari Dinas Pendidikan Kabupaten

Semarang, peneliti menyerahkan surat kepada Kepala PAUD

Tarbiyatul Atfal Kelurahan Kalikayen Kecamatan Ungaran.

c. Peneliti mengumpulkan responden di PAUD Tarbiyatul Atfal.

d. Peneliti memberikan informasi tentang tujuan penelitian dan

keikutsertaan dalam penelitian ini kepada sampel penelitian, bagi

yang setuju berpartisipasi dalam penelitian ini diminta untuk

menandatangani lembar persetujuan penelitian (informed consent).

e. Peneliti membagikan lembar persetujuan penelitian (informed

consent) kepada responden penelitian yang bersedia berpartisipasi

dalam penelitian untuk ditandatangani.


30

f. Peneliti memberikan kuesioner tentang penggunaan diapres dan

perilaku toilet training

g. Kuesioner yang telah diisi dilanjutkan dengan pengolahan data.

G. Pengolahan Dan Analisis Data

1. Cara Pengolahan Data

a. Editing

Mengedit adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah

diserahkan oleh para pengumpul data. Tujuan dari editing adalah

mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada dalam daftar

pertanyaan yang sudah diselesaikan sampai sejauh mungkin.

Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah diselesaikan ini

dilakukan bertahap.

1) Kelengkapan jawaban

Apakah dalam setiap item pertanyaan sudah ada jawabannya,

meskipun jawaban hanya berupa tidak tahu dan mau

menjawab.

2) Keterbatasan tulisan

Tulisan yang tidak terbaca akan mempersulit pengolahan data

atau berakibat data salah baca.

3) Kejelasan makna jawaban

4) Kesesuaian jawaban

Harus diperiksa apakah jawaban pertanyaan yang satu dengan

yang lain sudah sesuai


31

5) Relevansi jawaban

b. Scoring

Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item

yang perlu diberi penilaian atau skor

Pernyataan pada Toilet training yang bersifat positif (favourable)

jawaban :

1) Selalu, nilai 3

2) Sering ,nilai 2

3) Kadang-kadang, nilai 1

4) Tidak pernah, nilai 0

Pertanyaan negative (unfavourable) jawaban :

1) Selalu, nilai 0

2) Sering, nilai 1

3) Kadang-kadang, nilai 2

4) Tidak pernah, nilai 3

c. Coding

Coding adalah mengklarifikasikan jawaban.Jawaban para

responden ke dalam kategori – kategori biasanya klarifikasi dilakukan

dengan cara memberikan tanda/kode berbentuk angka pada masing-

masing jawaban. Pemberian kode pada variabel sebagai berikut:

1) Penggunaan Diapers

a. selalu menggunakan : kode 1

b. sering menggunakan : kode 2


32

c. kadang-kadang menggunakan : kode 3

d. tidak pernah menggunakan : kode 4

2) Perilaku Toilet Training

Kurang baik : Kode 1

Baik : Kode 2 2 langkah dalam mel

d. Tabulating

Tabulating adalah pekerjaan membuat tabel jawaban –

jawaban yang telah diberi kode kemudian dimasukkan ke dalam

tabel.

e. Entry Data

Yakni mengisi kolom-kolom atau kotak lembar kode atau

kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan. [11]

2. Analisa Data

Dalam penelitian ini menggunakan Analisa Univariat. Uji ini

dilakukan untuk mengetahui distribusi dan persentase dari variabel

penggunaan diapers dan toilet training pada anak usia 3-5 tahun.

Dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

x = hasil persentase

f = jumlah skor dari jawaban responden

n = jumlah skor tertinggi


33

H. Etika Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti perlu mendapat rekomendasi dari

institusinya atau pihak lain dengan mengajukan ijin kepada institusi lembaga

tempat penelitian, setelah mendapat persetujuan baru melakukan penelitian

dengan menekan masalah etika penelitian yang meliputi :

1. Informed consent (format persetujuan)

Lembar ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi

kriteria inklusi dan disertai judul penelitian, jika subyek menolak, maka

peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subyek.

2. Anonymity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama

responden, tetapi lembar tersebut diberi kode.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya sekelompok data

tertentu yang akan dilaporkan sebagai peneliti. Hasil peneliti akan

disimpan aman bila keseluruhan peneliti sudah selesai.


34

DAFTAR PUSTAKA

[1]
Hidayat, Alimul Aziz, 2012. Pengatar Ilmu Kesehatan Anak Penulisan Ilmiah.

Edisi I. Jakarta : Salemba Medika.77-82


[2]
Riyadi ,S,Sukarmin.2009.Asuhan Keperawatan Anak. Edisi
Pertama.Jogjakarta: Graha Ilmu. 4-6
[3]
Janah, yektiningsih, 2016. Kesiapan anak usia toddler dalam mengikuti toilet
training.Kediri: Akademi Keperawatan Pemenang Pare
[4]
Sufyanti, Yuni. A. 2009. Dampak disposable diapers terhadap ketelambatan
kesesiapan toilet training anak toddler. Surabaya : Jurnal Ilmu Keperawatan
Universitas Airlangga
[5]
Noor Azizah, 2015. Pemakaian diapres dan efek terhadap kemampuan toilet
training pada anak usia tooddler. Kudus : STIKES Muhamadiyah kudus

[6] Rifai, Melly Sri Sulastri. 2009. Bimbingan Perawatan Anak. Edisi Pertama.

Yogyakarta : Graha Ilmu. 52-55


[7]
Muscari, 2009. Buku Ajar Keperawatan Perioperatif Volume 2. Jakarta : EGC
[8]
Sunaryo, 2008. Asuhan Keperawatan Anak, Yogyakarta. : Nuha Medika
[9]
R,Leny&jhonson L.2010.Keperawatan keluarga. Yogyakarta: Nuha Medika.
15-19
[10]
Hidayat, Alimul Aziz, 2008. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah.
Edisi I. Jakarta : Salemba Medika.77-82

[111] Sugiono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif.Bandung:


Alfabeta 43-45

[12] Setiadi, 2008. Konsep Dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Graha
Ilmu. 12-18
35
36
37
38
39