Vous êtes sur la page 1sur 11

1.

Memasuki Akuntansi Keperilakuan


1.1 Pengantar Akuntansi Keprilakuan
Ilmu akuntansi merupakan ilmu yang selalu berkembang. Perkembangan ilmu akuntansi
seiring dengan perkembangan dunia bisnis saat ini. Pada Perkembangannya, akuntansi
berperan dalam menghasilkan informasi keuangan maupun non-keuangan yang digunakan
oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Tujuan informasi
tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling baik untuk
mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi. Namun
pemilihan dan penetapan suatu keputusan bisnis juga melibatkan aspek- aspek keprilakuan
dari para pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat dilepaskan dari
aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dapat dihasilkan
oleh akuntansi. Jadi, akuntansi bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan sesuatu
yang akan selalu berkembang sepanjang waktu seiring dengan perkembangan
lingkungannya agar dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya. Oleh
karena itu, akuntansi keprilakuan didefinisikan sebagai subdisiplin ilmu akuntansi yang
melibatkan aspek-aspek keprilakuan manusia terkait dengan proses pengambilan keputusan
ekonomi.
Motivasi dan perilaku dari pelaksana sistem informasi akuntansi menjadi aspek penting
dari suatu sistem informasi akuntansi. Pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi
menjadi dua kelompok yaitu pemakai internal (internal user) dan pemakai eksternal
(external user). Pemakaian oleh pihak internal dimaksudkan untuk melakukan serangkaian
evaluasi kinerja. Pihak eksternal juga memiliki suatu rangkaian perilaku yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan organisasi. Pihak eksternal sama dengan pihak
internal, tetapi mereka labih berfokus pada jumlah investasi yang mereka lakukan dalam
organisasi tersebut.
1.2 Perkembangan Sejarah Akuntansi Keprilakuan
Sejak tahun 1950-an beberapa riset akuntansi mulai mencoba menghubungkan
akuntansi dengan aspek perilaku. Hal ini dimulai oleh Argyris pada tahun 1952. Selain itu
Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan dalam lima
aliran (school) ,yaitu: 1). Pengendalian manajemen (management control), 2). Pemrosesan

1
informasi akuntansi (accounting information processing), 3). Desain sistem informasi
(information system design), 4). Riset audit (audit research), dan 5). Sosiologi
organisasional (organizational sociology).

Informasi akuntansi dirancang untuk suatu dasar bagi pengambilan banyak keputusan
penting di dalam maupun diluar perusahaan. Sistem informasi dimanfaatkan untuk
membantu dalam proses perencanaan, pengkoordinasian dan pengendalian yang kompleks,
serta aktivitas yang saling berhubunga untuk memotivasi orang-orang pada semua tingkatan
didalam perusahaan Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada
aspek akuntansi manajemen khususnya penganggaran (budgeting), namun yang dominan
dalam hal ini terus berkembang dan bergeser searah akuntansi keuangan, sistem informasi
akuntansi, dan audit. Banyak volume riset atas akuntansi keperilakuan dan meningkatnya
sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik, akan memberikan manfaat untuk
beberapa tujuan berikut ini :

1. Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang
ingin diperkenalkan
2. Membantu dalam mengindentifikasikan kesenjangan riset
3. Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui
subbidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen dan perpajakan sehingga para
peneliti dapat mempelajarinya melalui subbidang lain.
Perkembangan yang pesat dalam akuntansi keperilakuan lebih disebabkan karena
akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu social secara menyeluruh.
Akuntansi keperilakuan menggunakan metodelogi ilmu pengetahuan perilaku untuk
melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan melaporkan faktor manusia yang
mempengaruhi keputusan bisnis dan hasil mereka. Akuntansi keperilakuan menyediakan
suatu kerangka yang disusun berdasarkan teknik berikut ini :

1. Untuk memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan
kinerja perusahaan

2
2. Untuk mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap
perencanaan strategis
3. Untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan keberhasilan
implementasi kebijakan perusahaan

1.3 Peran Riset Terhadap Akuntansi keprilakuan


Riset akuntansi keperilakuan bisa dikatakan sebagai bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok, dan organisasi bisnis terutama yang
berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Riset akuntansi keperilakuan
meliputi masalah yang berhubungan dengan:
a) Pengambilan keputusan dan pertimbangan oleh akuntan dan auditor
b) Pengaruh dari fungsi akutansi
c) Pengaruh hasil dari fungsi tersebut
Kesadaran profesi akuntan dan ketertarikan mereka terhadap pengaruh disiplin
keperilakuan mulai berkembang pada awal tahun 1950-an. Setelah itu banyak riset-riset
mengenai akuntansi keperilakuan bermunculan. Mulai dari tahun 1960-1980 , jumlah
artikel yang membahas akuntansi keperilakuan semakin banyak. Pertumbuhan studi tentang
akuntansi keperilakuan yang semakin berkembang, terutama yang diprakarsai oleh
akademisi profesi akuntansi. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbitnya jurnal-jurnal
akademis seperti Journal of Accounting, Organization, and Society (AOS) dan Research in
Audit Program pada tahun 1976 oleh Peit Marwick. Peristiwa terssebut kemudian
meningkatkan lagi berkembangnya riset secara simultan, dan memublikasikan eksperimen
dan riset teoritis baru mengenai akuntansi keperilakuan secara eksplisit.
2. Mengapa Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan Pada Akuntansi
Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan sebagai dasar memilih
informasi yang relevan terhadap pengambilan keputusan. Saat ini keterampilan matematis
telah berperan dalam meganalisis permasalahan keuangan yang kompleks. Kesempurnaan
teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk menyadari bahwa tujuan akhir jasa
akuntansi organisasi bukan sekedar teknik yang didasarkan pada efektivitas dari
pelaksanaan segala prosedur akuntansi, tetapi juga bergantung pada bagaimana perilaku

3
orang-orang di dalam perusahaan, baik sebagai pemakai maupun pelaksana, dipengaruhi
oleh informasi yang dihasilkannya.
2.1 Akuntansi adalah tentang manusia
Berdasarkan pemikiran perilaku, manusia dan factor social secara jelas didesain dalam
aspek-aspek oprasional utama dari seluruh system akuntansi. Dari pengalaman dan praktik
banyak manajer dan akuntan telah memperoleh pemahaman yang lebih dari sekedar aspek
manusia dalam tugas mereka. Bagaimanapun harus diakui bahwa banyak system akuntansi
masih dihadapkan pada berbagai kesulitan manusia yang tidak terhitung, bahkan
penggunaan dan penerimaan seluruh sistem akuntansi terkadang dapat menjadi meragukan.
Pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan dilakukan atas dasar sudut pandang hasil
laporan mereka dan bukan atas dasar kontribusi mereka yang lebih luas terhadap efektivitas
organisasi. Sebagian prosedur saat ini juga dapat menimbulkan pembatasan yang tidak di
inginkan terhadap inisiatif manajerial. Prosedur dapat menjadi tujuan akhir itu sendiri jika
semata-mata dibandingkan dengan teknik organisasi yang lebih luas.
2.2 Akuntansi adalah tindakan
Dalam organisasi, semua anggota perusahaan mempunyai peran yang harus dimainkan
dalam mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut bergantung pada seberapa besar porsi
tanggung jawab dan rasa tanggung jawab anggota terhadap rasa tanggung jawab pada
organisasi dihargai dalam bentuk penghargaan tertentu. Dalam organisasi, masing-masing
mempunyai tujuan dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut.
Kesadaran dapat terwujud manakala mematuhi ketetapan dalam anggaran. Pencapaian
tujuan dalam bentuk kuantitatif juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab anggota
organisasi dalam memenuhi keinginan untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Peran
anggota organisasi sangat berpengaruh tergadap pencapaian tersebut. Jika suatu anggaran
telah ditetapkan untuk dilaksanakan oleh suatu unit atau unit-unit kerja di dalam organisasi
atau oleh organisasi tersebut secara keseluruhan, maka anggaran itu akan berinteraksi
dengan para individu dalam organisasi tersebut. Setiap individu itu mempunyai tujuannya
masing-masing sekaligus bertanggung jawab mencapai tujuan organisasi. Untuk itu,
keselaran tujuan (goal congruence) antara individu dan organisasi diperlukan untuk
mewujudkan terjadinya sinergi antara individu dan organisasi.

4
3. Dimensi Akuntansi Keperilakuan
Para akuntan dan manajer professional menyadari kebutuhan akan tambahan informasi
ekonomi yang dihasilkan system akuntansi. Oleh karena itu informasi ditambah tidak hanya
melaporkan data-data keuangan tetapi data-data non keuangan yang terkait dalam proses
pengambilan keputusan.
3.1 Lingkup Akuntansi Keprilakuan
Akuntansi keprilakuan berada dibalik peran akuntansi tradisional yang mencangkup
pengumpulan, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan informasi keuangan. Secara umum,
lingkup dari akuntansi keprilakuan dapat dibagi menjadi tiga bidang besar:
1) Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain, konstruksi dan penggunaan sistem
akuntansi. Bidang dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai kaitan dengan sikap
dan filosofi manajemen yang mempengaruhi sifat dasar pengendalian akuntansi
yang digunakan dalam organisasi.
2) Pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia. Berkenaan dengan
bagaimana sistem akuntansi memengaruhi motivasi, produktivitas, pengambilan
keputusan, kepuasan kerja, serta kerja sama.
3) Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.
Akuntansi keperilakuan ini mempunyai hubungan dengan cara sistem akuntansi
digunakan sehingga memengaruhi perilaku.
3.2 Aplikasi dari Akuntansi Keprilakuan
Sangatlah banyak keuntungan ekonomi dan keuntungan manusia yang didapat dari
pengenalan aspek keperilakuan dalam akuntansi. Manager yang sadar terhadap aspek
keperilakuan dari akuntansi akan memanggil orang-orang yang terlibat guna menyelidiki
lebih lanjut. Jika orang tidak takut terhadap sistem dan menantikan sistem yang akan
dipasang tersebut dengan penuh hasrat, manajemen yang merencanakan sistem baru itu
kemungkinan besar yakin bahwa masalah manusia tidak mencegah pencapaian hasil yang
diharapkan. Namun, jika orang-orang takut dan menentang inovasi, manajemen harus
melindungi dasar dari sikap ini dengan menentukan cara mengubah sudut pandang dari
orang-orang tersebut ke arah positif. Tujuan akuntan keperilakuan adalah mengukur dan
mengevaluasi faktor-faktor keperilakuan yang relevan dan mengomunikasikan hasilnya

5
guna mengambil keputusan internal dan eksternal. Informasi dimensi keperilakuan
merupakan pelengkap dari data keuangan perusahaan yang memungkinkan pengambilan
keputusan ekonomis dengan pandangan yang lebih komprehensif terhadap organisasi.
4. Akuntansi Keperilakuan: Perluasan Logis Dari Peran Akuntansi Tradisional
Pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan akuntansi dapat menjadi lebih
baik jika laporan tersebut banyak mengandung informasi yang relevan. Akuntan mengakui
adanya fakta ini melalui prinsip akuntansi yang dikenal dengan pengungkapan penuh (full
disclosure). Bentuk lanjut dari gambaran ekonomi suatu perusahaan secara logis
memerlukan aplikasi dari prinsip pengungkapan penuh. Untuk itu diperlukan suatu
masukan informasi keperilakuan guna melengkapi data keuangan dan data lain yang
dilaporkan. Tekanan-tekanan dalam bidnag bisnis juga memberikan informasi mengenai
implikasi dari gejala keperilakuan terhadap keberhasilan perusahaan di masa depan. Sejak
meningkatnya pengakuan terhadap beberapa aspek perilaku dan sosial dari akuntansi
belakangan ini, terdapat suau kecenderungan untuk memandang bagian akuntansi yang
lebih substansial secara lebih luas. Menurut pandangan para akuntan perusahaan dan
masyarakat akademis mulai mengambangkan perspektif mereka sendiri dalam mendekati
beberapa pengertian yang mendalam mengenai pemahaman atas perilaku manusia pada
organisasi.
5. Landasan Teori Dan Pendekatan Akuntansi Keperilakuan
Sebagai bagian dari ilmu keperilakuan (behavior science), teori-teori akuntansi
keperilakuan dikembangkan dari riset empiris terhadap perilaku manusia dalam suatu
organisasi.
5.1 Dari Pendekatan Normatif ke Deskriptif
Seiring dengan perkembangan teknologi produksi, permasalahan riset diperluas dengan
diangkatnya topik mengenai penyusunan anggaran, akuntansi pertanggungjawaban, dan
masalah harga transfer. Meskipun demikian, berbagai riset tersebut masih bersifat normatif
yang mengangkat permasalahan tentang desain pengendalian manajemen dengan berbagai
model matematis. Meskipun demikian, berbagai riset tersebut masih bersifat normatif yang
mengangkat permasalahan tentang desain pengendalian manajemen dengan berbagai model
matematis. Sejak tahun 1950-an, C. Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952, desain

6
riset akuntansi manajemen mengalami perkembangan yang signifikan dengan dimulainya
usaha untuk menghubungkan desain sistem pengendalian manajemen suatu organisasi
dengan perilaku manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan diharapkan
lebih bisa menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku organisasi.
5.2 Dari Pendekatan Universal ke Pendekatan Kontinjensi
Riset akuntansi keperilakuan pada awalnya dirancang dengan pendekatan universal
(universalistic approach). Tetapi, karena pendekatan ini memiliki banyak kelemahan, maka
segera muncul pendekatan lain yang selanjutnya mendapat perhatian besar dalam bidang
riset, yaitu pendekatan kontinjensi (contingency approach). Secara umum, teori ini
menyatakan penyusunan dan penggunaan desain sistem pengendalian manajemen
bergantung pada karakteristik organisasi dan kondisi lingkungan di mana sistem tersebut
akan diterapkan. Berbagai riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi dilakukan
dengan tujuan mengidentifikasi berbagai variabel kontijensi yang mempengaruhi
perancangan dan penggunaan sistem pengendalian. Secara ringkas, berbagai variabel
kontinjensi yang mempengaruhi desain sistem pengendalian manajemen tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Ketidakpastian (uncertainty) seperti tugas, rutinitas dan faktor-faktor eksternal
lainnya.
2. Teknologi dan saling ketergantungan (technology and interdependence) seperti proses
produksi, produk masal, dan lainnya.
3. Industri, perusahaan, dan unit variabel seperti kendala masuk ke dalam industri, dan
ukuran perusahaan.
4. Strategi kompetitif (competitive strategy) seperti penggunaan biaya rendah atau
keunikan.
5. Faktor-faktor yang dapat diamati (observability factor) seperti desentralisasi,
sentralisasi, budaya organisasi dan lainnya
Kompleksitas desain riset yang menggunakan pendekatan kontinjensi bisa dibagi dalam
empat tingkatan. Pertama, desain riset yang menghubungkan satu variabel kontinjensi
dengan satu variabel sistem pengendalian. Kedua, desain riset yang menguji interaksi
antara satu variabel kontinjensi dan satu variabel sistem pengendalian terhadap variabel

7
dependen tertentu. Ketiga, desain riset yang menguji interaksi antara satu variabel
kontinjensi dengan lebih dari satu variabel sistem pengendalian manajemen terhadap
variabel konsekuensi. Tingkat keempat, desain riset yang memasukkan berbagai variabel
kontinjensi untuk menentukan desain pengendalian optimal.
6. Lingkup Dan Sasaran Hasil Dari Akuntansi Keperilakuan
Pada masa lalu, para akuntan semata-mata fokus pada pengukuran pendapatan dan biaya
yang mempelajari pencapaian kinerja perusahaan di masa lalu guna memprediksi masa
depan. Mereka mengabaikan fakta bahwa kinerja masa lalu adalah hasil masa lalu dari
perilaku manusia dan kinerja masa lalu itu sendiri merupakan suatu faktor yang akan
mempengaruhi perilaku di masa depan. Mereka melewatkan fakta bahwa arti pengendalian
secara penuh dari suatu organisasi harus diawali dengan memotivasi dan mengendalikan
perilaku, tujuan, serta cita-cita individu yang saling berhubungan dalam organisasi. Mereka
menyadari proses akuntansi melibatkan ringkasan dari sejumlah kejadian ekonomi makro
yang dihasilkan dari perilaku manusia dan akuntansi itu sendiri, serta dari beberapa faktor
yang dapat memengaruhi perilaku, yang dapat gilirannya secara bersamaan akan
menentukan semua keberhasilan peristiwa ekonomi. Akuntan keperilakuan percaya bahwa
tujuan utama laporan akuntansi adalah memengaruhi perilaku dalam rangka memotivasi,
semangat dan produktivitas karyawan.
7. Persamaan dan Perbedaan Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan
Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan
manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan
akuntansi. Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial, sedangkan akuntansi
keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntasi dan pengetahuan keperilakuan. Namun
ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan sama-sama menggunakan prinsip sosiologi
dan psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi.
Akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) adalah cabang akuntansi yang
mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi (Siegel, G. et all.
1989), istilah sistem akuntansi yang dimaksud di sini dalam arti yang luas yang meliputi
keseluruhan desain alat pengendalian manajemen yang meliputi sistem pengendalian,
sistem penganggaran, desain akuntansi pertanggung jawaban, desain organisasi seperti

8
desentralisasi atau sentralisasi, desain pengumpulan biaya, desain penilaian kinerja serta
pelaporan keuangan.
Beberapa perbedaan antara Akuntan Keperilakuan dan Ilmuwan Keperilakuan
Perbedaan Akuntan Keperilakuan Ilmuwan Keperilakuan
Area keahlian Keutamaan akuntansi : Keutaaman ilmu sosial :
pengetahuan dasar ilmu tidak ada pengetahuan
social akuntansi
Kemampuan mendesain dan Bukan merupakan elemen Elemen kunci dalam
melaksanakan perencanaan utama dalam pelatihan pelatihan
proyek keperilakuan
Pengetahuan dan pemahaman Elemen kunci dalam Bukan elemen utama dalam
terhadap pekerjaan organisasi pelatiahan pelatihan
bisnis secara umum dan sistem
akuntansi secara khusus
Orientasi Profesional Ilmiah
Pendekatan masalah Praktik Teoritis dan praktik
Fungsi Melayani klien, menasihati Ilmu lanjutan dan
manajemen pemecahan masalah
Kepentingan dalam ilmu Terbatas terhadap Terbatas terhadap disiplin
keperilakuan akuntansi-terakit bidang yang luas dalam ilmu
keperilakuan

8. Pengaruh Organisasional Terhadap Perilaku


Mengelola perubahan organisasi membutuhkan waktu terutama karena menggabungkan
kemampuan sumber daya manusia dengan kondisi organisasi baru membutuhkan waktu.
Lebih dari itu, proses perubahan itu sendiri membutuhkan waktu karena organisasi
merupakan sistem yang kompleks dengan berbagai ketergantungan, dengan mengadakan
perubahan berarti kolaborasi dan kemitraan antar-manajer lini profesional sumber daya
manusia (SDM) dan semua karyawan. Idealnya kerja sama ini terjadi selama

9
berlangsungnya semua fase perubahan, dimulai dari pengertian terhadap sifat perubahan
organisasi itu sendiri dan terus berlanjut pada perencanaan, pelaksanaan, penilaian kembali
dan penyesuaian kembali sumber daya manusia.
Pengaruh organisasi terhadap perubahan perilaku berkaitan dengan pengembangan
organisasi (organizational development). Pengembangan organisasi merupakan suatu
kumpulan intervensi perubahan terencana, yang dibangun di atas nilai-nilai humanistis-
demokratis, yang berupaya memperbaiki keefektifan organisasi dan kesejahteraan
karyawan. Fokus utama teori dan praktik pengembangan organisasi adalah aspek sumber
daya manusia organisasi dan aspek sosial organisasi. Pengembangan organisasi hampir
selalu berfokus pada nilai (vałues), sikap (attitudes), kepemimpinan (leadership), iklim
organisasi (organizations climate) dan variabel manusia (people variables). Pembangunan
organisasi mengonsentrasikan pada perasaan (feelings) dan emosi (emotions), ide dan
konsep, menempatkan pentingnya pertimbangan pada keterlibatarn individual dan
partisipasi. Manusia bekerja dengan dibatasi oleh organisasi. Perilakunya dipengaruhi oleh
banyak faktor, termasuk ukuran organisasi dan struktur. Gaya kepemimpinan atau filosofi
manajemen, otoritas/hubungan pertanggungjawaban, hubungan status dan norma kelompok
juga turut memengaruhi perilaku dan fungsi organisasi.

10
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan, 2010, Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2, Salemba Empat,


Jakarta
Suartana, I Wayan, 2010, Akuntansi Keperilakuan, ANDI, Yogyakarta
Siegel, Gary, Helena Ramanauskas Marconi, 1989, Behavioral Accounting, South
Western Publishing Co, USA

11