Vous êtes sur la page 1sur 4

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah kelompok melakukan tindakan keperawatan terhadap klien dengan gangguan


persepsi sensori: halusinasi di ruang Sebayang RSJ Tampan Pekanbaru mulai dari tanggal 27-30
November 2017 kelompok menemukan banyak kesamaan antara konsep teoritis dengan studi
dilapangan yang dilakukan. Adapun pembahasan dari pengkajian, diagnosa keperawatan,
implementasi dan evaluasi dapat dilihat sebagai berikut:

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap
pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
Pengelompokkan data dan pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi,
faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang
dimiliki pasien (Stuart & Laraia, 2001).
Dalam pengumpulan data kelompok menggunakan metode wawancara dengan klien,
observasi secara langsung terhadap kemampuan dan prilaku klien dan data dari ​medical
record​. Data pengkajian yang telah dikumpulkan tentang identitas klien, kondisi saat ini,
alasan masuk atau faktor presipitasi, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik, psikososial,
status mental, kebutuhan perencanaan pulang, mekanisme koping, lingkungan, analisa data,
pohon masalah, diagnosa keperawatan dan aspek medik.
Dari beberapa point tersebut terdapat beberapa kesamaan. Untuk masalah
keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran pada kasus Tn. R yang
menjadi alasan masuk klien adalah klien mendengar bisikan-bisikan dan terlihat
bicara-bicara sendiri. Pada saat pengkajian klien mengatakan dirinya mendengar suara
laki-laki dan perempuan yang tidak jelas wujudnya, perasaan menjadi gelisah, tidak jelas apa
yang dikatakan dan timbulnya suara setiap saat, dan secara objektif ditemukan bahwa klien
tersenyum-senyum sendiri. Data ini sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Keliat dalam
Prabowo (2014, h 133) menjelaskan tanda dan gejala dari halusinasi adalah sebagai berikut:
bicara, senyum, dan tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara dan tidak dapat
membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata.
Pada saat pengkajian klien duduk berhadapan dengan perawat, tampak kooperatif,
kontak mata kurang dan sering menunduk. Selama berinteraksi ekspresi muka klien biasa
saja. Setelah pengkajian kemudian kelompok menegak diagnosa lalu merancang intervensi
dan melakukan implementasi kepada klien. Menurut NANDA (2010), halusinasi
menggambarkan karakteristik individu yang mengikuti konsentrasi buruk, adanya distorsi
pendengan, gelisah, melaporkan atau menunjukkan perubahan sensorik iritabiliti,
disoerientasi waktu, tempat dan orang, perubahan prilaku, serta perubahan komunikasi.

B. Diagnosa Keperawatan
Menurut Gordon (2008) diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan
potensial agar mampu diatasi oleh perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya.
Diagnosa keperawatan yang kelompok angkat adalah gangguan persepsi sensori: halusinasi.
Halusinasi merupakan persepsi yang salah tentang suatu objek, gambaran dan pikiran yang
sering terjadi tanpa adanya pengaruh rangsang dari luar yang terjadi pada semua system
pengindraan dan hanya dirasakan oleh klien tetapi tidak dapat dibuktikan dengan nyata
dengan kata lain objek tersebut tidak ada secara nyata (Dalami dkk, 2009). Menurut Arif
2006 halusinasi merupan persepsi sensorik yang salah dimana tidak terdapat stimulus
sensorik yang berkaitan dengannya. Halusinasi dapat berwujud penginderaan kelima indra
yang keliru, tetapi yang paling sering adalah halusinasi dengar (​auditori​) dan halusinasi
penglihatan (​visual​) seperti merasa mendengar suara-suara yang mengajaknya bicara
padahal tidak ada atau melihat sesuatu yang pada kenyataannya tidak ada. Tn. R..
mengatakan bahwa ia sedih karena tidak dijenguk oleh keluarganya.

C. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan yang
ditetapkan. Adapun diagnosa yang diangkat yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi yang
perencanaan tindakannya dilaksanakan mulai dari tanggal 27-30 November 2017 dapat
dilaksanakan dengan baik oleh kelompok saat pasien diajarkan dihadapan perawat pada
waktu intervensi. Pada saat melakukan interaksi dengan perawat, klien gelisah dan sulit
konsentrasi disaat makan siang sehingga interaksi sempat terputus. Selama ini klien tidak
pernah mendapatkan dukungan dari keluarga, dan keluarga sibuk dengan kegiatan sehari –
hari.

D. Evaluasi
Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan
pada klien. Evaluasi dilakukan secara terus menerus pada respon pasien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan (Kurniawati, 2004). Menurut Herman (2012), evaluasi
dilakukan terus menerus pada respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Evaluasi yang dilakukan meliputi membina hubungan saling percaya dengan
pasien tercapai dengan tindakan pasien bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
perawat dan bersedia melatih cara mengontrol halusinasinya.
Pada SP 4 gangguan persepsi sensori halusinasi yaitu patuh minum obat telah
tercapai. Klien dapat mengetahui keuntungan dan kerugian minum obat. Tn. R juga dapat
mengetahui 5 cara minum obat teratur, yaitu benar pasien, benar obat, benar waktu, benar
dosis dan benar cara minum obat. Untuk Strategi keluarga yang datang menjenguk dan akan
dilakukan oleh perawat ruangan.
Dalam melaksanakan proses asuhan keperawatan pada Tn. R, kendala ataupun
hambatan yang ditemukan adalah terkadang klien tidak terlalu kooperatif selama interaksi.
Dalam membina hubungan saling percaya, kelompok membutuhkan komunikasi yang lebih
sering pada awalnya, karena klien terlihat jarang untuk memulai pembicaraan dengan orang
lain kecuali jika didekati terlebih dahulu.
Rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan sebaiknya adalah perlu dilakukan
evaluasi ulang terhadap SP Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran kepada TN.
R, serta pentingnya kelanjutan SP keluarga agar selama perawatan dirumah keluarga mampu
merawat Tn. R dengan baik sehingga gejala kekambuhan akibat putus obat dan penyebab
lainnya dapat dihindari. Keterbatasan waktu yang dimiliki kelompok membuat asuhan
keperawatan yang diberikan kepada Tn. R tidak dapat dilanjutkan seterusnya. Oleh karena
itu diharapkan agar asuhan keperawatan yang diperlukan dapat dilanjutkan oleh perawat
ruangan Sebayang kepada Tn. R dengan tepat dan sesuai dengan permasalahan yang
dialami oleh Tn. R. Asuhan keperawatan yang diberikan kepada Tn. R dapat dikombinasikan
dengan adanya kegiatan rehabilitasi seperti mengikuti kegiatan ceramah, seni (menyanyi),
menanam dan lain-lain.