Vous êtes sur la page 1sur 61

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Definisi secara umum Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi

yang dilahirkan dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang

masa gestasi.

Berat badan lahir rendah (BBLR) baik disebabkan oleh Umur ibu, usia

kehamilan dan paritas, berat badan lahir rendah mempunyai dampak kematian

perinatal (lahir mati, kematian neonatus), lingkar kepala kecil, retardasi

mental, kesulitan atau ketidakmampuan dalam belajar, defek penglihatan dan

pendengaran, defek neurologis, pertumbuhandan perkembangan janin

terhambat ((I Jihan , Sunarsih,2016).

Berat badan lahir rendah (BBLR) dapat disebabkan oleh faktor ibu,

faktor janin dan faktor plasenta. Dari tiga faktor tersebut, faktor ibu

merupakan faktor penyebab yang paling mudah diidentifikasi. Faktor ibu

yang berhubungan dengan berat badan lahir rendah adalah umur dan usia

kehamilan ibu saat hamil (<20 atau>35 tahun) paritas 1 atau >3 dan jarak

kelahiran (< 2 tahun atau lebih) dan usia kehamilan < 36 minggu berisiko

memiliki berat badab lahir rendah, pendidikan ibu yang rendah dan pekerjaan

ibu yang memerlukan tenaga fisik yang besar. Faktor-faktor yang

menyebabkan berat badan lahir rendah secara umum bersifat multifaktorial,

Sehingga kadang mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan

pencegahan. Namun, Penyebab terbanyak terjadinya bayi BBLR adalah


2

kelahiran bayi prematur. Semakin muda usia kehamilan semakin besar risiko

jangka pendek dan jangka panjang (Fitri Windari.2014).

Kejadian berat badan lahir (BBLR) terbesar ditemukan pada

kelompok umur < 20 tahun. Berdasarkan referensi usia seorang ibu

mempunyai pengaruh terhadap kehamilan. Kehamilan pada wanita dengan

usia muda memiliki kemungkinan lebih besar mengalami anemia dan

berisiko. Lebih tinggi memiliki janin yang pertumbuhannya terhambat,

persalinan prematur dan komplikasi lainnya (Liva Maita.2017).

Berat bayi lahir rendah (BBLR) didefenisikan oleh World

Organization (WHO) sebagai berat berat bayi saat lahir kurang dari 2500

gram (Nadia Chaerunnisa spyan,dkk 2015). Seperti yang telah disebutkan,

berat bayi lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya

<2500 gram. Sejak Tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematuritas

dengan istilah BBLR. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat

<250 gram pada waktu lahir merupakan bayi yang lahir prematur. Namun

demikian, penyebab utama dari kelahiran berat badan lahir rendah adalah

kelahiran prematur (lahir sebelum 37 minggu kelahiran). Bayi yang lahir

prematur tidak memiliki cukup waktu dalam rahim ibu untuk tumbuh dan

menabah berat badan. Padahal, sebagian besar dari berat badan bayi diperoleh

selama masa akhir kehamilan (Ni Ketut M dan Agus SP, 2016)

Menurut Depkes, (2010) dalam Fitri W dan Eka F (2014) mengatakan

berat badan lahir rendah (BBLR) termasuk faktor utama dalam peningkatan
3

mortalitas, mordibilitas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta

memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya di masa depan.

Angka kejadian di indonesia sangat bervariasi antara satu daerah

dengan daerah lain,yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah

multicenter diperoleh angka berat badan lahir rendah dengan rentang 2,1%-

17,2%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI Tahun 2012, angka

kejadian BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang

ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju indonesia sehat 2010

yakni maksimal 7% ().

Bhaskar et al (2014) dalam dalam Nadia Chaerunnisa spyan,dkk

(2015) mengatakan Kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR) di indonesia

masih cukup tinggi dan angka kejadian bervariasi antara satu daerah dengan

daerah lain, berdasarkan data yang diambil dari riset kesehatan dasar

(RISKESDAS) 2013, secara nasional berkisar 10.2% dengan provinsi

sumatra utara (7,2%) menjadi paling rendah dan tertinggi di sulawesi tengah

(16,9%). Menurut Bhaskar RK, Tahun 2015 berat badan lahir rendah

meningkatkan risiko kematian 20 kali lebih besar dibandingkan dengan berat

badan lahir normal. Selain itu, secara umum berat badan lahir rendah juga

dapat mengalami masalah atau komplikasi saat lahir, gangguan terhadap

tumbuh kembang dan perkembanagn kognitif yang kurang baik. Telah

diketahui bahwa berat lahiran bukan hanya tolak ukur untuk tingkat

kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan saja tapi juga menjadi indikator

untuk kesehatan, nutrisi dan kualitas hidup mental.


4

Berdasarka penelitian yang dilakukan oleh Rahayu L (2015) proporsi

paritas ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah tertinggi

adalah primipara (jumlah persalinan sama dengan 1) sebesar 59,8 %. Dengan

berat badan lahir rendah tertinggi adalah multipara ( jumlah persalinan 2

sampai 5) sebesar 55,6 % . Ibu yang melahirkan bayi dengan paritas

primipara (pertama kalinya terjadi kehamilan) kemungkinan yang terjadi

adalah belum mempunyai pengalaman-pengalaman dalam menghadapi

kehamilan dan persalinan sehingga bisa menyebabkan asupan gizi kurang,

kunjungan ANC kurang dan untuk mendeteksi dini resiko tinggi kehamilan

sulit dilakukan. Analisa uji statistik dengan uji chi-square tidak dapat

dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) yang expected count-nya kurang dari

5.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan supiati (2017) didapat

paritas dengan kejadian berat badan lahir rendah terbanyak adalah paritas

multi dengan tidak kejadian berat badan lahir rendah sebanyak 72 responden

(50,7). Berdasarkan hasil perhitungan paritas dengan kejadian berat badan

lahir dengan menggunakan uji chi square (x2) didapat hasil Asympt.sig

yaitu 0,334 yang berarti p > 0,05 atau 0,334 > 0,05 berarti tidak ada hubungan

antara paritas ibu bersalin dengan kejadian berat badan lahir rendah di Rumah

Bersalin (RB) Juweni Desa Pandes Wedi Klaten tahun 2017 sedangkan untuk

umur ibu didapatkan didapat umur dengan kejadian berat badan lahir rendah

terbanyak adalah umur tidak beresiko dengan tidak kejadian berat badan lahir

rendah sebanyak 117 responden (82,5%). Berdasarkan hasil perhitungan


5

umur dengan kejadian berat badan lahir rendah dengan menggunakan uji chi

square (x2) didapat hasil Asympt.sig yaitu 0,734 yang berarti p > 0,05 atau

0,734 > 0,05 berarti tidak ada hubungan antara umur 67 Jurnal Kebidanan

Dan Kesehatan Tradisional, Volume 1, No 1, Maret 2016, hlm 1-99 ibu

bersalin dengan kejadian berat badan lahie rendah di Rumah Bersalin (RB)

Juweni Desa Pandes Wedi Klaten tahun 2017.

Hasil penelitian yang dilakukan Ernawati Wahyu (2016) dari 94

responden menunjukan bahwa responden dengan jumlah paritas yang

beresiko 1 atau >3 yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah terdapat 19

(65,5%) dan responden dengan paritas berisiko melahirkan bayi berat badan

lahir normal (BBLN) terdapat 10 (34,5%), responden yang mempunyai

paritas tidak beresiko 2-3 yang melahirkan bayi berat badan lahir rendah

terdapat 24 (36,9%) dan responden dengan paritas tidak berisiko melahirkan

bayi BBLN terdapat 41 (63,1%). Hasil uji bivariat didapatkan nilai p-value

sebesar 0,01 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna anatara paritas

dengan kejadian berat badan lahir rendah Hal ini sesuai dengan penelitian

Purwaningsih (2010) yang menyatakan terdapat hubungan paritas dengan

kejadian berat badan lahir rendah, dimana ibu dengan paritas 1 dan > 3

berisiko melahirkan berat badan lahir rendah sebesar 1,96 kali.

Berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Cahyani Tri Puspitasari

dan Sulastri (2015) mengatakan bahwa Tabulasi silang hubungan pendidikan

ibu bersalin dengan kejadian berat badan lahir rendah menunjukkan bahwa

ibu dengan pendidikan lebih rendah memiliki persentase kejadian berat badan
6

lahir rendah lebih tinggi. Pada ibu berpendidikan dasar terdapat 1 responden

(17%) mengalamikejadian berat badan lahir sangat rendah (BBLSR),

sedangkan pada ibuberpendidikan menengah terdapat 8 respondenberat badan

lahir sangat rendah dan 5 responden (13%) mengalami berat badan lahir

rendah. Distribusi tabulasi silang tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi

pendidikan ibu bersalin , maka semakin rendah resiko terjadinya berat badan

lahir rendah. Hasil uji Fisher exact test hubungan pendidikan ibu bersalin

dengan kejadian berat badan lahir rendah diperoleh nilai Fisherhitung

sebesar 1,798 dan nilai probabilitas (p-value) 0,180. Karena nilai p-value

lebih besar dari 0,05 (0,180 > 0,05) maka keputusan uji adalah H0 diterima

sehingga disimpulkan ”tidak terdapat hubungan yang signifikan pendidikan

ibu bersalin dengan kejadian BBLR pada ibu bersalin di RSU Dr. Soediran

Wonogiri”.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hema Roskatira

(2015)mengatakan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 97

responden beresiko sebanyak 67 responden (69,1%) yang melahirkan bayi

BBLR prematuritas, dan sebanyak 104 responden yang tidak beresiko

sebanyak 72 responden (69,2%) yang melahirkan bayi berat badan lahir

rendah prematuritas. Hasil analisa statistik menunjukkan uji Chi Square

memperoleh nilai P Value sebesar 0,001 ( p < 0,05), ini berarti hipotesa

menyatakan bahwa ada hubungan antara paritas ibu dengan kejadian berat

badan lahir rendah.


7

Berdasarkan informasi perawat pelaksana RSKDIA Fatimah Makassar

diperoleh data jumlah bayi pada enam bulan terakhir dari bulan mei sampai

bulan oktober 2018 yaitu sebanyak (884) bayi. Berdasarkan uraian diatas,

maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang pokok

pembahasannya terletak pada “Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan

Kejadianberat badan lahir rendah(BBLR) di RSKDIA Fatimah Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan

dibahas di penelitian ini adalah apakah adafaktor-faktoryang berhubungan

dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di RSKDIA Fatimah Makassar

Tahun 2018?

C. Tujuan Penelitain

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tujuan Umum

Diketahuinyafaktor-faktor yang berhubungandengan kejadian berat badan

lahir rendah (BBLR) di RSKDIA Fatimah Makassar Tahun 2018

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinyahubungan faktor Umur ibu saat hamil dengan kejadian berat

badan lahir rendah (BBLR).

b. Diketahuinyahubungan faktor Paritas dengan kejadian berat badan lahir

rendah (BBLR)

c. Diketahuinyahubungan faktor Usia kehamilan ibu saat hamil dengan kejadian

berat badan lahir rendah (BBLR)


8

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan

dan memberi sumbangan ilmiah serta satu bahan bacaan bagi peneliti

selanjutnya

2. Manfaat Institusi

Hasil penelitian ini menjadi masukan bagiRSKDIA Fatimah

Makassardalam hal tingginya kejadian BBLR dan institusi STIK Makassar

3. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini menambahkan pengetahuan dan pengalaman baru

bagi peneliti.

4. Manfaat Bagi Masyarakat

Sebagai bahan masukan masyarakat khususnya pasangan usia subur

bisa lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya

BBLR terutama pada karakteristik Umur ibu.


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

1. Pengertian berat badan lahir rendah (BBLR)

Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari

2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Bayi yang berada dibawa

persentasi 10 dinamakan ringan untuk umur kehamilan. Dahulu neonatus

dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2.500

gram disebut prematur. Pembagian menurut berat badan ini sangat mudah

tetapi tidak memuaskan. Sehingga lambat laun diketahui bahwa tingkat

morbilitas dan mortalitas pada neonatus tidak hanya bergantung pada berat

badan saja, tetapi juga pada tingkat maturitas bayi itu sendiri.Atika

proverawati & Cahyo IS.2010).

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat penting dan

paling sering di gunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan

digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau berat badan lahir rendah.

Dikatakan berat badan lahir rendah apabila berat badan bayi lahir dibawah

2500 gram atau dibawah 2,5 kg. Pada masa bayi maupun balita, berat

badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status

gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperti dehidrasi, asites, edema dan

adanya tumor.

Berat lahir dipengaruhi oleh dua proses penting yaitu : lamanya

(usia) kehamilan dan pertumbuhan intrauterine, jadi berat badan lahir


10

rendah dapat disebabkan oleh umur kehamilan yang pendek dan

pertumbuhan intrauterine yang lambat (tampak pada berat bayi) atau kedua-

duanya. Di negara maju antara 4%-8% bayi dilahirkan kurang dari 2500

gram. Dengan pengetahuan yang semakin meningkat mengenai patofisiologi

bayi, kelompok berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi dua

kelompok lain yaitu :bayi cukup bulan tapi kecil untuk masa kehamilan

(KMK=Small for gestational Age = SGA) dan bayi kurang bulan (< 37

minggu) atau ˝premature˝. Kedua–duanya merupakan akibat interaksi

berbagai faktor sebelum dan selama masa kehamilan. Dan pada saat

yang sama merupakan faktor penentu kesehatan dan kelanjutan hidup bayi.

Bagi bayi–bayi itu sendiri, berbagai masalah dihadapi postnatal akibat

penyesuaian dengan lingkungan.

berat badan lahir rendah (BBLR) dapat dibagi kedalam dua

kelompok yaitu : cukup bulan tetapi beratnya tidak sesuai untuk umur

kehamilannya dan bayi kurang bulan dan KMK. Bayi–bayi ini

mengalami gangguan pertumbuhan intrauterine (IUG/Intrauterine Gowth

Retardation) dan menunjukan sifat–sifat tertentu. Faktor penyebab dapat di

bagi kedalam faktor intrinsik dan ekstrinsik. Termasuk faktor intrinsik

biasanya termasuk faktor yang mempergaruhi transport nutrisi ke plasenta

(kebiasaan merokok, kerja fisik berat, dan beberapa penyakit ibu dan

perinatal). Faktor ekstrinsik menyangkut kuantitas dan kualitas makanan

sebelum atau waktu hamil atau kombinasi dari faktor tadi. Bayi yang

mengalami gangguan intrinsik di sebabkan oleh faktor intrinsik dan


11

ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang mempengaruhi transport

nuterisi ke plasenta sedangkan faktor ekstrinsik adalah social, ekonomi,

pendidikan, lingkungan, kebiasaan ibu hamil (Husaini, 2017).

Puffer dan Serano dalam Alisyahbana (2014) dalam Husaini

(2017). membagi berat lahir dalam tiga golongan yaitu :

a. Bayi dengan berat lahir < 2500 gram, bayi berat lahir rendah (BBLR) =

Low Birth Weight.

b. Bayi dengan berat lahir 2500 – 2999 gram atau lebih, bayi berat badan

kurang = Deficient Birth Weight.

c. Bayi dengan berat lahir >3000 gram, bayi berat lahir baik = Favorabel

Birth Weight.

Kelompok berat bayi lahir rendah juga diistilahkan dengan kelompok

risiko tinggi, karena pada bayi dengan berat lahir rendah menunjukan angka

kematian dan kematian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bayi berat

lahir cukup.

Dari pengertian diatas maka bayi berat badan lahir rendah dapat dibagi

menjadi dua golongan, yaitu:

a. Prematuritas Murni

Prematuritas Murni adalah neonatus dengan kehamilan kurang dari 37

minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk

masa kehamilan atau disebut neonatus kurang bulan sesuai masa

kehamilan (NKB-SMK) penyebabnya dari berbagai faktor, baik faktor

ibu, janin, maupun lingkungan.


12

b. Dismaturitas

Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat kurang dari berat badan

seharusnya untuk masa kehamilan. Hal ini karena janin mengalami

gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan merupakan bayi yang kecil

untuk masa kehamilan (KMK). Penyebab yang lain sama dengan

prematuritas murni. Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai resiko

meninggal 40 kali lebih tinggi dibandingkan bayi dengan berat badan normal

pada tahun pertama. Makin kecil berat bayi lahir makin tinggi kejadian

kelainan neorologis dan psikomotorik bayi. WHO memperkirakan

diseluruh dunia 16% dari semua bayi mempunyai berat < 2500 gram. Dari

jumlah ini 90% berasal dari Negara-negara berkembang, khususnya Negara

Asia Tenggara BBLR berkisar 20% - 30% jumlah kelahiran (Husaini, 2017).

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang

dari 2500 gram pada waktu lahir. Dalam hal ini berat badan lahir rendah

dibedakan menjadi:

a. Prematurasi murni yaitu bayi pada kehamilan <37 minggu dengan berat

badan sesuai.

b. Small for date (SFD) atau kecil untuk masa kehamilan (KMK) adalah bayi

yang berat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan

c. Raterdasi pertumbuhan janin intrauterin (IUGR) yaitu bayi yang lahir dengan

berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan

d. Light for date sama dengan small for date


13

e. Dismaturitas, suatu sindrom klinik dimana terjadi ketidak seimbangan antara

pertumbuhan janin denan lanjutnya kehamilan atau bayi-bayi yang lahir

dengan BB tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Atau bayi dengan gejala

intrauterine malnutrition or wasting.

f. Large of date adalah bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tua

kehamilan, misal pada dibetes melitus(Amru sofia, 2012).

berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai resiko tinggi untuk

kematian, kecenderungan menderita penyakit seperti infeksi saluran nafas

atas (ISPA), diare, respon imunitas yang rendah dan keterlambatan

pertumbuhan dan perkembangan. Angka kematian prenatal pada BBLR

di Indonesia tinggi yaitu 181,1 tiap 1000 kelahiran bayi hidup 22,34

penyebab berat badan lahir rendah sampai saat ini masih terus dikaji.

Beberapa studi menyebutkan bahwa penyebab berat badan lahir rendah

adalah multi faktor, antara lain faktor demografi, biologi ibu, status gizi

obstetric, morbiditas ibu hamil, perilaku atau kebiasaan ibu dan

keluarga yang kurang mendukung, tabu, pelayanan kesehatan dan gizi

termasuk deteksi dini berat badan lahir rendah serta upaya intervensinya

(Husaini, 2017).

2. Faktor-faktor penyebab terjadinya

berat badan lahir rendah (BBLR)Penyebab terjadinya berat badan lahir

rendah secara umum bersifat multifaktorial sehingga kadang mengalami

kesulitan untuk melakukan tindakan pencegahan. Namun, penyebab

terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Semakin muda usia


14

kehamilan semakin besar resiko jangka pendek dan jangka panjang dapat

terjadi.

Faktor–faktor yang dapat memperngaruhi berat bayi lahir

dikelompokan sebagai berikut :

a. Faktor lingkungan internal, yang meliputi umur ibu, parietas, jarak

kelahiran, kesehatan ibu, kadar haemoglobin ibu hamil serta ukuran

antropometri ibu hamil.

b. Faktor lingkungan eksternal, yang meliputi kondisi lingkungan, masukan

makanan ibu selama hamil, jenis pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu

dan bapak (kepala keluarga), pengetahuan gizi dan tingkat social ekonomi.

c. Faktor pengunaan pelayanan kesehatan yaitu frequensi pemeriksaan

kehamilan (ANC)(Husaini, 2017).

Menurut Husaini (2017) Adapun penjelasan faktor–faktor yang

mempengaruhi berat bayi lahir rendah adalah:

a. Umur Ibu

Umur ibu mempunyai hubungan erat dengan berat bayi lahir pada

umur ibu yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan

fungsi fisiologisnya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya

belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum

dapat mengadapi kehamilannya secara sempurna, dan sering terjadi

komplikasi-komplikasi. Telah dibuktikan pula bahwa angka kejadia

persalinan kurang bulan akan tinggi pada usia dibawah 20 tahun dan kejadian
15

paling rendah pada usia 26 – 35 tahun, semakin muda umur ibu maka anak

yang dilahirkan akan semakin ringan.

Berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan Depkes RI dalam

hubungannya dengan umur ibu melahirkan, dikatakan bahwa risiko

kehamilan akan terjadi pada ibu yang melahirkan dengan umur kurang dari

20 tahun dan lebih dari 35 tahun erat kaitannya dengan terjadinya kanker

rahim dan berat badan lahir rendah.

Menurut Proverawati dan Sulistyorini (2010) dalam Ernawati Wahyu

(2016), mengatakan bahwa Umur ibu pada saat hamil mempengaruhi kondisi

kehamilan ibu karena selainberhubungan dengan kematangan organ

reproduksi juga berhubungan dengan kondisi psikologis terutama kesiapan

dalam menerima kehamilan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

penyebab terjadinya bayi berat lahir rendah. Salah satunya adalah usia ibu

yang cenderung mengalami Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah usia

dibawah 20 tahun dan usia diatas 35 tahun sebanyak 8 (57,1%) melahirkan

Berat badan lahir rendah (BBLR).

Menurut Winkjosastro (2007) dalam Ernawati Wahyu (2016), Salah

satu faktor risiko terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan adalah usia

<20 tahun dan >35 tahun. Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal

bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20-35 tahun.

a) Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah kehamilah pada usia <20 tahun

atau lebih dari 35 tahun

b) Kehamilan ganda (mukti gravida)


16

c) Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun)

d) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya

b. Paritas

Ibu dengan paritas 1 dan ≥ 4 berisiko melahirkan bayi berat badan

lahir rendah, pada primipara terkait belum mempunyai pengalaman

sebelumnya dalam kehamilan dan persalinan sehingga bisa terjadi status gizi

yang kurang yang menyebabkan anemia serta mempengaruhi berat bayi yang

dilahirkan, kunjungan ANC yang kurang serta pengetahuan perawatan selama

kehamilan yang belum memadai dan kesiapan mental dalam menerima

kehamilan berkurang, sedangkan ibu yang pernah melahirkan anak >4 lebih

sering terjadi berat badan lahir rendah karena terdapatnya jarigan parut akibat

kehamilan dan persalinan terdahulu yang mengakibatkan persediaan darah ke

plasenta tidak adekuat sehingga perlekatan plasenta tidak sempurna, plasenta

menjadi lebih tipis, mencakup uterus lebih luas dan terganggunya penyaluran

nutrisi yang berasal dari ibu ke janin sehingga penyaluran nutrisi dari ibu ke

janin menjadi terhambat atau kurang mencukupi kebutuhan janin yang dapat

menyebabkan gangguan pertumbuhan selanjutnya yang akhirnya akan

melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (Ernawati Wahyu, 2016)

c. Umur Kehamilan

Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan 1

bulan sama dengan 28 hari. Janin aterm mempunyai tanda cukup bulan yaitu

lahir saat usia kehamilan 38 sampai 42 minggu. Bayi yang lahir dengan umur

saat usia kehamilan kurang dari 37 minggu beresiko untuk mengalami berat
17

badan lahir rendah dikarenakan beberapa faktor salah satunya adalah

pertumbuhan yang kurang selaras dan serasi akibat gangguan sirkulasi

retroplasenta dan kekurangan gizi/nutrisi yang menahun (Manuaba, 2015).

Hasil analisa multivariate menunjjukan OR 4,00 (CI:1,74-9,18) yang berarti

ibu bersalin dengan umur kehamilan preterm beresiko melahirkan bayi berat

badan lahir rendah sebesar 4,00 kali dibanding ibu bersalin yang umur

kehamilannya atrem setelah dikontrol oleh variabel usia ibu dan kadar Hb.

Hal ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh gebremedhin et al (2015) di

eropa yang menemukan fakta bahwa ibu dengan umur kehamilan <37 minggu

memiliki resiko 18,5 kali lebih tinggi melahirkan berat badan lahir rendah

( Hadiati Isti, 2016)

Penyebab lain berat badan lahir rendah (BBLR) adalah pembatasan

pertumbuhan intrauterin (IUGR). Hal ini terjadi ketika bayi tidak tumbuh

dengan baik selama kehamilan karena terjadinya masalah dengan plasenta,

kesehatan ibu, atau kondisi bayi. Seorang bayi dapat memiliki intrauterin

growth restriction (IUGR) dan dilahirkan di jangka penuh (37-41 minggu).

Bayi dengan IUGR dalam waktu normal, bisa tumbuh seperti anak lainnya ,

namun memiliki fisik yang lemah. Sementara itu, bayi yang lahir prematur

dengan IUGR memiliki kondisi fisik yang lemah dan biasanya mengalami

gangguan pertumbuhan. Selain dipengaruhi oleh waktu lahir dan IUGR, ada

beberapa faktor lain yang mempengaruhi stanford children’s heald (2016)

merumuskan beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya

BBLR, anatara lain:


18

a. Ras. Bayi afrika sampai amerika 2x lebih mungkin memiliki berat lahir

rendah dari pada bayi kulit putih.

b. Usia. Ibu remaja (terutama yang lebih muda dari 15 tahun) memiliki resiko

lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.

c. Kembar. Lebih dari setenga dari bayi kembar dan kelipatan kembar lainnya

memiliki berat lahir rendah.

d. Kesehatan ibu. Bayi dari ibu yang terpapar obat-obatan terlarang, alkohol,

dan rokok lebih cenderung memiliki berat lahir rendah. Ibu dari status

ekonomi rendah lebih cenderung memilki nutrisi yang lebih sedikit semasa

kehamilan. Perawatan prenatal yang tidak memadai dan komplikasi

kehamilan juga merupakan faktor-faktor yang dapat berkonstribusi bayi

memiliki berat lahir rendah(Ni Ketut M dan Agus SP, 2016).

e. Jarak kehamilan. Menurut ketentuan yang di keluarkan oleh badan

kordinasi keluarga berencana (BKKBN) menyatakan bahwa jarak antara

kelahiran yang ideal adalah 3 tahun atau lebih. Hal tersebut karena jarak

kelahiran yang pendek dapat menyebabkan seorang ibu belum cukup

waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah kelahiran sebelumnya,

sehingga merupakan salah satu factor penyebab kelemahan dan kematian

ibu dan bayi yang di lahirkan. Menurut Bobby Rawadi (1986) menyatakan

bahwa jarak kehamilan yang terbaik adalah 25 – 48 bulan karena akan

menghasilkan bayi dengan berat lahir 3000 – 3499 gram.

f. Kadar Hb. Haemoglobin (Hb) adalah bagian dari eritosit (sel darah

merah) yangdibentuk dalam sumsum tulang. Haemoglobin dibentuk dari


19

heme dan globinheme terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida. Haemoglobin

adalah molekul yang mengandung 4 sub unit yang berinterakssehingga

menimbulkan efek kooperatif yaitu bila sebuah molekul

haemoglobinmengenai molekul Oksigen cenderung terus memperoleh 4

molekul Oksigen.Haemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan Fe

dinamakanConjugated protein. Adanya ion Fe mengakibatkan warna darah

menjadi meraholeh karena itu Hb juga di sebut zat warna merah

darah. Jika Hb berikatandengan sel darah merah dan CO2 akan

menjadi karboxy haemoglobin yangberwarna merah tua. Darah arteri

mengandung O2 sedangkan darah venamengandung CO2 (Husaini (2017).

3. Tanda-Tanda berat badan lahir rendah (BBLR)

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah mempunyai ciri-ciri :

a. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu

b. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2.500 gram

c. Panjang badan sama atau kuran dari 46 cm, lingkar kepala sama dengan atau

kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm.

d. Rambut lanugo masih banyak

e. Jaringan lemak sub kutan tipis atau kurang

f. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya

g. Tumit mengkilap, telapak kaki halus

h. Genitalia belum sempurna (pada bayi perempuan), testis belum turun ke

dalam scrotum, pigmentasi dan rugue pada scrotum kurang (pada bayi laki-

laki)
20

i. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah

j. Fungsi saraf yang belum atau tidak efektif dan tangisannya lemah

k. Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan

jaringan lemak masih kurang

l. Ferniks kasiosa tidak ada atau sedikit bila ada

(Atika Proverawati & Cahyi IS, 2010)

4. Menifestasi klinis

a. Sebelum bayi lahir

1) Pada anamnase sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus

dan lahir mati

2) Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih

lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.

3) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang

seharusnya. Sering di jumpai kehamilan dengan oligradramnion gravidarum

atau perdarahan aanterpartum

4) Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan

b. Setelah bayi lahir

1) Banyi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin

2) Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu

3) Bayi small for date sama dengan bayi dengan reterdasi pertumbuhan

intrauterine

4) Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya

5. Pemeriksaan Penunjang
21

a. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-

24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).

b. Hematikrit (Ht) : 43%- 61% (peningkatan sampai 65% atau lebih

menandakan polistemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau

hemoragic prenattal/perinatal).

c. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan

anemia atau hemolisis berlebihan).

d. Bilirubun total : 6 gr/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12

mg/dl pada 3-5 hari.

e. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran

rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga

f. Pemantauan eektrolit (Na, K, CI) : biasanya dalam batas normal pada

awalnya

g. Pemeriksaan analisa gas dara

6. Penata laksanaan

Menurut Rukiyah, dkk (2010) perawatan pada bayi berat lahir rendah (BBLR)

adalah :

a. Mempertahankan suhu tubuh dengan ketat. berat badan lahir rendah mudah

mengalami hipotermi, oleh sebab itu suhu tubuh bayi harus dipertahankan

dengan ketat.

b. Mencegah infeksi dengan ketat. berat badan lahir rendah (BBLR) sangat

rentang dengan infeksi, memperhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi

termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.


22

c. Pengawasan nutrisi (ASI). Refleks menelan berat badan lahir rendah (BBLR)

belum sempurna, oleh sebab itu pemberian nutrisi diberikan dengan cermat.

d. Penimbangan ketat. Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi bayi

dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan

dilakukan dengan ketat.

e. Kain yang basah secepatnya diganti dengan kain yang kering dan bersih,

pertahankan suhu tubuh tetap hangat.

f. Kepala bayi ditutup topi, beri oksigen bila perlu.

g. Tali pusat dalam keadaan bersih

h. Beri minum dengan sonde/tetes dengan pemberian ASI

(Nanda Nic-Noc, 2015)

B. Tinjauan Tentang Faktor-Faktor Berat Badan Lahir Rendah

1. Definisi Karakteristik Ibu Hamil

Ibu hamil merupakan salah satu kelompok didalam masyarakat yang

paling mudah menderita gangguan kesehatan atau rawan gizi, sehingga

pada masa kehamilan, ibu hamil memerlukan unsur-unsur gizi lebih

banyak dibandingkandengan keadaan biasanya (Hall, 2000). Selama

kehamilan, ibu hamil akan mengalami proses fisiologis yaitu keadaan

kesehatan fisik dan mental sebelumdan selama hamil berpengaruh

terhadap keadaan janin dan waktu persalinan.

Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu yang terdiri dari demografi

seperti jenis jenis kelamin, umur serta status sosial seperti, tingkat

pendidikan, pekerjaan, ras, status ekonomi dan sebagainya. Menurut Efendi,


23

demografi berkaitan dengan stuktur penduduk, umur, jenis kelamin dan status

ekonomi sedangkan data kultural mengangkat tingkat pendidikan, pekerjaan,

agama, adat istiadat, penghasilan dansebagainya.

Karakteristik adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas sesuai

dengan perwatakan tertentu. Karakteristik mencakup hal-hal sebagai berikut:

umur, pendidikan, pekerjaan, ekonomi (Kamus Besar Bahasa Indonesia,

2015).

2. Fisiologi Kehamilan

Kehamilan adalah periode khusus dimana kebutuhan akan

sebagian gizi meningkat selama masa tersebut. Penambahan berat badan

selama kehamilan disebabkan oleh peningkatan ukuran jaringan

reproduksi, adanya janin dalam kandungan dan cadangan lemak dalam

tubuh ibu. Selama hamil akan bertambah beratnya sebanyak kurang lebih

12,5 kg (rentang 9-15 kg), dimana penambahan sebesar kurang lebih 9 kg

diantaranya terjadi dalam 20 minggu terakhir.

Penambahan berat badan diatas merupakan bagian dari

kehamilanyang normal, karena pada kehamilan terjadi perubahan ganda

dalam tubuh wanita hamil. Perubahan terutama berhubungan dengan

system peredaran darah dan pembentukan komponen darah,

kardivaskuler, pencernaan, jaringan lemakdan saluran genilitas.

Selama masa kehamilan normal hamper semua perempuan merasa

sama sehatnya dengan masa-masa di luar kehamilan, yang ditandai dengan

perubahan fisik karena berat badan bertambah dan perubahan mental


24

karena di dalam perutnya terdapat kehidupan baru (Hall, 2000). Pada masa

kehamilan ibu hamil mengalami gejala-gejala fisilogis yang disebabkan

oleh pengaruh hormon kehamilan seperti gejala pening di pagi hari yang

diikuti gejala lain seperti lesu, perkembangan payudara, pembesaran perut,

bertambah cepatnya denyut nadi, perubahan pigmentasi pada kulit dan

wajah, puting payudara dan bagian tengah perut yang berubah warnanya

menjadi gelap, serta kejang pada kaki yang kemungkinan disebabkan

kekurangan kalsium dalam darah atau mungkin oleh sirkulasi darah yang

kurang lancer pada bagian kaki.

Kehamilan akan menyebabkan meningkatnya daya metabolisme

energi. Terjadi dua proses anabolik fundamental yang bebas satu sama

lain terjadi selama kehamilan. Ibu akan menjalani penyesuaian fisiologik

dan metabolik selama kehamilan. Dimana seorang ibu yang sedang

hamil akan menjalani penyesuaian fisiologik dan metabolik selama

kehamilan, yang sebenarnya serasi dengan proses-proses anabolic yang

terjadi pada janin dan plasenta, yang dikatalisis oleh perubahan kelenjar-

kelenjar endokrin pada ibu hamil sehingga memperbesar ukuran uterus,

payudara dan volume cairan darah, cairan ketuban dan massa jaringan

adipose.

Dengan melihat gejala fisiologis yang ada, maka keadaan ibu hamil

pada awal kehamilan perlu diperhatikan karena akan berpengaruh

terhadap pertumbuhan janin pada usia kehamilan selanjutnya. Menurut


25

Moehji (2003), pada umumnya selama kehamilan ibu hamil memiliki

karakteristik pada tiap triwulan sebagai berikut :

a. Pada trimester pertama dari kehamilan, biasanya nafsu makan sangat

kurang, karena timbul rasa mual dan muntah, serta dari bentuk tubuh yang

semakin melebar, payudara yang semakin kencang. Kondisi psikis ibu juga

mengalami tingkat kepekaan yang sangat tinggi. Ibu akan mudah marah

atau akan merasa sedih bila terjadi sesuatu.

b. Pada trimester kedua kehamilan, metabolisme basal mulai meningkat, berat

badan juga mulai bertambah. Pada masa ini tingkat konsumsi protein

sangat diutamakan. Hal ini disebabkan perkembangan janin sebagaimana

telah protein memiliki pengaruh diselidiki kadar protein sangat rendah. Ibu

hamil yang mengkonsumsi makanan mungkin juga lebih pendek dan lebih

ringan dari normal. Adapun perubahan fisik yaitu perut sudah mulai

membuncit serta emosi ibu sudah mulai stabil.

c. Pada trimester ketiga, metabolisme basal tetap mengalami kenaikan dimana

keadaan ini umumnya nafsu makan sangat baik. Selain itu, kandungan pada

trimester ketiga menjadi besar, sehingga menyebabkan lambung terdesak.

Perubahan fisik misalnya, perut ibu semakin membesar. Keadaan janin juga

semakin besar, dan ibu siap melahirkan. Kondisi emosi ibu kembali tidak

stabil karena menanti masa kelahiran (Husaini (2017).


26

3. Jenis-jenis karakteristik ibu hamil

a. Umur Ibu

Menurut Iskandar (2014) umur adalah lama waktu hidup yang

dihitung sejak ia dilahirkan. Umur 20–35 tahun biasanya cenderung

mempunyai pengetahuan yang baik, dimana pada umur tersebut mudah sekali

untuk menangkap informasi dan pengetahuan sedangkan umur lebih dari 35

tahun cenderung berpengaruh kurang.

Pada ibu yang >35 tahun meskipun mereka telah berpengalaman,

tetapi kondisi badannya serta kesehatanya sudah mulai menurun sehingga

dapat mempengaruhi janin intra uterin dan dapat menyebabkan kelahiran

berat badan lahir rendah. Faktor umur ibu bukanlah faktor utama berat badan

lahir rendah, tetapi kelahiran BBLR tampak meningkat pada wanita yang

berusia < 20 tahun dan >35 tahun.

Lin Risyani (2016) umur ibu <20 tahun dan >35 tahun. Wanita yang

berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko

yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan

keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan

dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia serta dapat melahirkan bayi

dengan berat badan lahir rendah.

Kehamilan dibawah umur 20 tahun memiliki faktor resiko yang besar

untuk berat badan lahir rendah (BBLR) karena usia tersebut belum

mengalami pertumbuhan maksimal, sehingga belum memiliki poster tubuh

yang baik dan ukuran panggul masih relatig kecil. Sedangkan kehamilan
27

diatas umur 35 tahun cendderung memiliki masalah kesehatan dan sudah

adanya penurunan fungsi fisiologis serta reproduksinya (Chaerunnisa

spyan,dkk 2015).

Wiknjosastro (2010) yang menyatakan bahwa usia aman untuk

kehamilan dan persalinan dalam kurun reproduksi sehat adalah 20-35 tahun,

usia ibu < 20 tahun atau > 35 tahun merupakan usia berisiko untuk

mengalami komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Pada usia < 20 tahun,

keadaan alat reproduksi belum siap untuk menerima kehamilan sehingga

menimbulkan berbagai komplikasi seperti BBLR, sedangkan usia ≥ 35 tahun,

terjadi perubahan pada jaringan lunak dan alat kandungan serta jalan lahir

tidak lentur lagi, usia tersebut cenderung didapatkan penyakit lain dalam

tubuh ibu (I Jihan , Sunarsih,2016).

Masa reproduksi sehat wanita dibagi menjadi 3 periode yaitu kurun

reproduksi muda (15-19 tahun) merupakan tahap menunda kehamilan, kurun

reproduksi sehat (20-30 tahun) merupakan tahap untuk menjarangkan

kehamilan da kurung reproduksi tua (36-45 tahun) merupakan tahap untuk

mengakhiri kehamilan.

Untuk memperoleh keturunan, sepasang suami istri mestinya

merencanakan terlebih dahulu sebagai persiapan fisik dan mental untuk

memperoleh kehamilan yang sehat, bahkan sejak sebelum menikah. Fisik

manusia terdiri dari organ-organ tubuh yang sangat komplit, baik organ tubuh

bagian luar maupun dalam.


28

Dengan demikian, maka usia wanita yang ideal dan aman untuk

program kehamilan adalah usia 20-35 tahun. Dengan alasan kondisi rahim

yang siap dan kuat untuk menjaga janin.

b. Paritas

Parietas dalam arti luas mencakup gavida (jumlah kehamilan), partus

(jumlah kelahiran), dan abortus (jumlah keguguran), sedang dalam arti

khusus yaitu jumlah atau banyaknya anak yang dilahirkan. Parietas dikatakan

tinggi bila seseorang wanita melahirkan anak ke empat atau lebih.

Seorang wanita yang sadar mempunyai tiga anak dan terjadi kehamilan

lagi, keadaan kesehatannya akan mulai menurun, Seorang mengalami

kurang darah (anemia), terjadi pendarahan lewat jalan lahir dan letak

janin sungsang bahkan melintang. Pada waktu persalinan yang sukar

maupun pendarahan setelah persalinan.

Pengertian paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi

yang dapat hidup (viable) (Wiknjosastro, 2014). Paritas adalah keadaan pada

wanita yang telah melahirkan janin yang beratnya 500 gram atau lebih, mati

atau hidup dan apabila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur

gestasi 22 minggu terhitung dari hari pertama haid terakir yang normal.

Paritas adalah seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak yang dapat

hidup (Lin Risyani,2016).

Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita. Dari pola

paritas wanita dalam suatu wilayah akan diketahui bagaimana pola dan norma
29

fertilitas yang dianut. Menurut Roestam Mochtar (dalam Lin

Risyani,2016), paritas (para) dibedakan menjadi:

1) Primipara

Adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi untuk pertama kali.

2) Multipara

Adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali

(sampai 5 kali).

3) Grande multipara

Adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup

atau mati. Prevalensi BBLR meningkat sesuai dengan meningkatnya paritas

ibu. Risiko untuk terjadinya BBLR tinggi pada paritas 1 atau primipara

kemudian menurun pada paritas 2 sampai 5 atau multipara, selanjutnya

meningkat kembali pada paritas > 5 atau grandemulti para (Lin

Risyani,2016)

Paritas yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan gangguan dalam

kehamilan, menghambat proses persalinan, perdarahan pasca persalinan dan

tumbuh kembang anak tidak optimal. Sehingga beresiko terjadi keguguran,

anemia, BBLR, perdarahan dan lain-lain (Nadiyya Chaerunnisa Sopyan,dkk.

2015)

c. Usia kehamilan

Pada umumnya kehamilan berkembang secara normal dan

menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun ini

tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sulit sekali diketahui sebelumnya


30

bahwa kehamilan akan menjadi masalah, oleh karena itu asuhan antenatal

merupakan cara penting untuk mempertahankan ibu dan kehamilannya.

Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah (Normal) dan

bukan patologis. Tetapi kondisi normal dapat menjadi patologis /abnormal.

Masa hamil berlangsung 280 hari atau 40 minggu. Setiap perempuan

berkepribadian unik dan kehamilan unik pula. Ditinjau dari tuanya kehamilan,

kehamilan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

a. Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu)

b. Kehamilan triwulan kedua (antara 12 sampai 28 minggu)

c. Kehamilan triwulan ketiga/terakhir (antara 28 minggu sampai 40 minggu)

Lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm sekitar 280 hari

sampai 300hari, dengan perhitungan sebagai berikut :

a. Kehamilan sampai 28 minggu dengan berat janin 1000 gram bila berakhir

disebut keguguran.

b. Kehamilan sampai 29 minggu sampai 36 minggu bila terjadi persalinan

disebutprematuritas

c. Kehamilan berumur 37 minggu sampai 42 minggu disebut aterm

d. Kehamilan melebihi 42 minggu disebut kehamilan lewat waktu atau post

datism(serotinus)

Usia kehamilan 37 minggu merupakan usia kehamilan yang baik bagi

janin. Bayi yang hidup dalam rahim ibu sebelum usia kehamilan 37 minggu

belum dapat tumbuh optimal sehingga beresiko memiliki bayi BBLR. Wanda

(2015) dalam Felix Kasim,dkk(2016) disebabkan oleh usia kehamilan kurang


31

dari 37 minggu cenderung melahirkan dengan berat badan rendah karena

masih kurang bulan, sementara usia kehamilan lebih 37 minggu melahirkan

bayi dengan berat lahir yang normal.

Adapun beberapa Tahap Perubahan dan Perkembangan Janin secara

normal, sebagai berikut:

a. 0-4 Minggu

Pada minggu-minggu awal ini, janin memiliki panjang tubuh kurang

lebih 2 mm. Perkembangannya juga ditandai dengan munculnya cikal bakal

otak, sum sum tulanh belakang yang masih sederhana, dan tanda- tanda wajah

yang akan terbentuk.

b. 4-8 Minggu

Ketika usia kehamilan mulai mencapai usia 4 minggu, jantung janin

mulai berdetak, dan semua organ tubuh lainnya mulai terbentuk. Muncul

tulangh-tulang belakang wajah, mata, kaki dan tangan.

c. 8-12 Minggu

Saat memasuki minggu-minggu ini, organ-organ tubuh utama janin

telah terbentuk. Kepalanya berukuran lebih besar daripada badannya,

sehingga dapat menampung otak yang terus berkembang dengan pesat. Dan

memilliki dagu, hidung, dan kelopak mata yang jelas. Di dalam rahim, janin

mulai diliputi cairan ketuban dan dapt melakukan aktifitas seperti menendang

dengan lembut. Organ-organ utama janin kini telah terbentuk.


32

d. 12-16 Minggu

Paru-paru janin mulai berkembang dan detak jantungnya apat

didengarkan melalui ultrasonografi (USG). Wajahnya mulai dapat

menunjukan ekspresi tertentu dan mulai tumbuh alis dan bulu mata. Kemudia

janin sudah mulai dapat memutar kepalanya dan membuka mulut. Rambutnay

muali tumbuh kasar dan berwarna.

e. 16-20 Minggu

Janin mulai bereaksi terhadap suara ibunya. Akar-akar gigi tetap telah

muncul dibelakang gigi susu. Tubuhnya ditumbuhi rambut halus yang disebut

lanugo. Janin bisa menghisap jempol dan bereaksi terhadap suara ibunya.

Ujung-ujung indra pengecap mulai berkembang dan bisa membedakan rasa

manis dan pahit dan sidik jari mulai tampak.

f. 20-24 Minggu

Pada sat ini ternyata besar tubuh janin mulai sebanding dengan

badanya. Alat kelaminnya mulai terbentuk, cuping hidungnya muli terbuka,

dan mulai melakukan gerakan pernafassan. Pusat-pusat tulangntya pun mulai

mengeras. Selain itu, Kini ia mulai memiliki waktu-waktu tertentu untuk

tidur.

g. 24-28 Minngu

Di bawah kulit, lemak sudah mulai menumpuk, sedangkan dikulit

kepalanya rambut mulai bertumbuhan, kelompok matanya membuka, dan

otaknya mulai aktif. Janin dapat mendengar, baik suara dari dalam maupun

dari luar (lingkungan). Janin dapat menegnali suara ibunya dan detak
33

jantungnya bertambah cepat jika ibunya berbicara. Atau boleh dikatakan pada

masa ini merupakan masa-mas bagi sang janin mempersiapkan

dirinmenghadapi hari kelahirannya.

h. 28-36 Minggu

Walaupun gerakannya sudah mulai terbatas karna beratnya yang

semakin bertambah, namun matanya sudah mulai bisa berkedip bila melihat

cahaya melalui dinding perut ibunya, kepalanya sudah mulai mengarah ke

bawah. Paru-parunya belum sempurna.

i. 38 Minggu

Kepalanya sudah berada pada rongga panggul, seolah-olah

mempersiapkan diri bagi kelahirannya kedunia. Ia kerap berlatih bernapas,

menghisap dan menelan. Rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya mulai

menghilang. Ususnya terisi mekonium (tinja pada bayi baru lahir) yang

biasanya akan dikeluarkan dua hari setelah lahir. Sat ini persalinan sudah

amat dekat dan bisa terjaid kapan saja(Zulkaida,2017).


34

Tabel 1
Analisa Sintesa Hasil Penelitian Sebelumnya

No Judul Penelitian Jenis Populasi dan Hasil Penelitian


Penelitian sampel
1. Rahayu L statistical Populasi dan Hasil penelitian
(Karakteristik analysis sampel dalam paritas ibu yang
Ibu Yang penelitian ini melahirkan bayi
Melahirkan adalah 100 ibu dengan BBLR
Bayi Dengan yang tertinggi adalah
Berat Badan melahirkan primipara (jumlah
Lahir Rendah bayi lahir persalinan sama
(Bblr) Di Rsu rendah dengan 1) sebesar
Dr. Pirngadi 59,8 %.Dengan
Medan BBLSR tertinggi
Tahun2017) adalah multipara (
jumlah persalinan 2
sampai 5) sebesar
55,6 %. Analisa uji
statistik dengan uji
chi-square tidak
dapat dilakukan
karena terdapat 2 sel
(33,3%) yang
expected count-nya
kurang dari 5.
2. Suiati diskriptif semua ibu Hasil Penelitian
(Karakteristik analitik yang bersalin didapat umur ibu
Ibu Kaitannya korelasi dengan total terbanyak umur tidak
Dengan populasi beresiko 124
Kejadian Bayi sebanyak 142 responden (87,3%),
Berat Badan ibu. Paritas ibu terbanyak
Lahir Rendah multi 75 responden
tahun 2016) (52,8%), Angka
kejadian BBLR
terbanyak tidak 133
responden (93,7%).
Dapat disimpulkan
bahwa tidak ada
hubungan antara umur
ibu dengan kejadian
BBLR dan tidak ada
hubungan antara
35

paritas ibu dengan


kejadian BBLR.
3. Ernawati W deskriptif Populasi Hasil penelitian yaitu
(Hubungan korelasional. semua ibu umur pvalue
Faktor Umur yang (0,35>0,05), paritas
Ibu Dan Paritas melahirkan pvalue (0,01<0,05)
Dengan sebanyak 881. menunjukkan ada
Kejadian Bayi Sampel yaitu hubungan paritas
Berat Lahir mengambil dengan kejadian
Rendah Di sebagian dari BBLR.
Rumah Sakit populasi
Umum Pku sebanyak 94
Muhammdiyah ibu yang
Bantul Tahun memenuhi
20161) kriteria
inklusi.
4. Cahyani T. P cross Populasi Hasil uji Fisher exact
dan Sulastri sectional dalam test hubungan
(Hubungan penelitian ini pendidikan ibu
Karakteristik adalah seluruh bersalin dengan
Ibu Bersalin bayi yang ada kejadian BBLR
Dengan di RS. Umum diperoleh nilai
Kejadian Bayi Dr.Soediran Fisherhitung sebesar
Berat Lahir Wonogiri 1,798 dan nilai
Rendah yaitu sebanyak probabilitas (p-value)
Di Rumah Sakit 40 orang. 0,180. Karena nilai p-
Umum value lebih besar
Dr.Soediran dari 0,05 (0,180 >
Wonogiri tahun 0,05) maka keputusan
2015) uji adalah H0 diterima
sehingga disimpulkan
”tidak terdapat
hubungan yang
signifikan pendidikan
ibu bersalin dengan
kejadian BBLR pada
ibu bersalin di RSU
Dr. Soediran
Wonogiri.
5 Hema R. deskriptif Populasi Hasil penelitian ini
Hubungan analitik o dalam menunjukkan bahwa
Karakteristik penelitian ini terdapat hubungan
Ibu Dengan adalah 224 ibu antara karakteristik
Kejadian Berat yang ibu hamil berdasarkan
Badan Lahir melahirkan umur ≥ 35 tahun,
Rendah (Bblr) bayi BBLR paritas > 1 dan ≥ 5,
36

Di Rumah Sakit dan yang jarak kehamilan < 2


Umum Daerah melahirkan tahun, dan Antenatal
Datu Beru bayi dengan Care
Takengon berat lahir (ANC) < 4x dengan
Tahun 2015 rendah. kejadian bayi BBLR.
37

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat penting

dan paling sering di gunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan

digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau berat badan lahir rendah.

Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500

gram tanpa memandang masa kehamilan. Bayi yang berada dibawa persentasi

10 dinamakan ringan untuk umur kehamilan. Dahulu neonatus dengan berat

badan lahir kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2.500 gram disebut

prematur.

Menurut Winkjosastro (2007) Salah satu faktor risiko terjadinya

komplikasi kehamilan dan persalinan adalah Umur<20 tahun dan >35 tahun.

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk

kehamilan dan persalinan adalah usia 20-35 tahun. Kehamilan dibawah umur

20 tahun memiliki faktor resiko yang besar untuk berat badan lahir rendah

(BBLR) karena usia tersebut belum mengalami pertumbuhan maksimal,

sehingga belum memiliki poster tubuh yang baik dan ukuran panggul masih

relatig kecil. Sedangkan kehamilan diatas umur 35 tahun cendderung

memiliki masalah kesehatan dan sudah adanya penurunan fungsi fisiologis

serta reproduksinya

Kehamilan berlangsung selama 40 minggu, dengan perhitungan 1

bulan sama dengan 28 hari. Janin aterm mempunyai tanda cukup bulan yaitu
38

lahir saat usia kehamilan 38 sampai 42 minggu. Bayi yang lahir dengan umr

saat usia kehamilan kurang dari 37 minggu beresiko untuk mengalami BBLR

dikarenakan beberapa faktor salah satunya adalah pertumbuhan yang kurang

selaras dan serasi akibat gangguan sirkulasi retroplasenta dan kekurangan

gizi/nutrisi yang menahun. Umur kehamilan 37 minggu merupakan usia

kehamilan yang baik bagi janin. Bayi yang hidup dalam rahim ibu sebelum

usia kehamilan 37 minggu belum dapat tumbuh optimal sehingga beresiko

memiliki bayi BBLR

Menurut Walyani (2015) Paritas adalah keadaan wanita berkaitan

dengan jumlah anak yang dilahirkan. Ibu dengan paritas 1 dan ≥ 4 berisiko

melahirkan BBLR, pada primipara terkait belum mempunyai pengalaman

sebelumnya dalam kehamilan dan persalinan sehingga bisa terjadi status gizi

yang kurang yang menyebabkan anemia serta mempengaruhi berat bayi yang

dilahirkan.Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita. Dari

pola paritas wanita dalam suatu wilayah akan diketahui bagaimana pola dan

norma fertilitas yang dianut. Menurut Roestam Mochtar (dalam Lin

Risyani,2016), paritas (para) dibedakan menjadi: Primipara Adalah seorang

wanita yang pernah melahirkan bayi untuk pertama kali, Multipara Adalah

seorang wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (sampai 5

kali). Grande multipara Adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali

atau lebih hidup atau mati.


39

B. Pola Pikir Variabel Penelitian

Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti :

Umur ibu

Kejadian
Usia Kehamilan
BBLR

Paritas

Keterangan :

= variabel independen

= variabel dependen

= variabel yang diteliti

C. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif

Penelitian ini meliputi variabel independen dan variabl dependen yaitu

karakteristik ibu hamil dan kejadian berat badan lahir rendah yang masing-

masing mempunyai defenisi operasional yaitu :

1. Variabel Independen :

a. Karakteristik Ibu Hamil

Karakteristik dalam penelitian ini diliat dari karakteristik umur ibu, paritas

dan umur kehamilan

1) Umur Ibu

Umur ibu pada waktu hamilyang aman untuk kehamilan dan persalinan dalam

kurun reproduksi sehat adalah 20-35 tahun, usia ibu pada waktu hamil< 20

tahun atau > 35 tahun merupakan usia berisiko untuk mengalami komplikasi
40

pada kehamilan dan persalinan seperti bayi yang dilahirkan mengalami

BBLR.

Kriteria objektif :

UmurProduktif : Jika umur ibu≥ 20 Tahun sampai dengan 35Tahun

Kurang Produktif : Jika Umur Ibu<20 tahun dan >35 tahun

2) Paritas

Paritas adalah keadaan ibu hamil berkaitan dengan jumlah anak yang

dilahirkan. Ibu dengan paritas 1 dan ≥ 4 berisiko melahirkan bayi dengan

BBLR.

Kriteria Objektif

Primipara : jika ibu melahirkan bayi untuk pertama kali.

Multipara : jika ibu pernah melahirkan bayi viable beberapa kali

(sampai 5 kali).

Grande multipara : jika Ibu pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup

atau mati. Umur Kehamilan

3) Usia kehamilan

Usia kehamilan 37 minggu merupakan usia kehamilan yang baik bagi janin.

Bayi yang hidup dalam rahim ibu sebelum usia kehamilan 37 minggu belum

dapat tumbuh optimal sehingga beresiko memiliki bayi berat badan lahir

rendah.

Kriteria Objektif :

Preterem (Kurang bulan) : jika Usia kehamilan ≤ 37 mg

Aterm (Cukup bulan) : jika Usia kehamilan >37 mg s/d42 mg


41

Post Term (Lebih bulan) : jika Usia kehamilan >42 mg

2. Kejadian berat badan lahir rendah (BBLR)

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari

2500 gram pada waktu lahir.

Kriteria objektif :

BBLR : Jika berat badan bayi <2500 gram

Tidak BBLR : bila nilai rata-rata rapor semester ≥2500 gram

D. Hipotesa Penelitian

1. Ada hubungan antara faktorUmur ibu dengan kejadian berat badan lahir

rendah (BBLR) di RSKDIA St. Fatimah Makassar

2. Ada hubungan antara faktor Paritas dengan kejadian berat badan lahir

rendah (BBLR) di RSKDIA St. Fatimah Makassar

3. Ada hubungan antara faktor Usia Kehamilan dengan kejadian berat badan

lahir rendah (BBLR) di RSKDIA St. Fatimah Makassar


42

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan ialah rancangan penelitian analytic

observasional dengan jenis penelitian cross sectionaldimana data variabel

dependen dan variabel independen diambil pada waktu bersamaan.Tujuan

dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik Ibu hamil dengan

kejadian berat badan lahir rendah (BBLR), dalam penelitian ini karakteristik

ibu hamil dan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) dinilai melalui

pengisian kuesioner.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan diRSKDIA Fatimah Makassar.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akandilaksanakan padatanggal 21 Desember2018 s/d 21 Januari

2019

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh seluruh bayi yang lahir di

RSKDIA Fatimah Makassarselama enambulan terakhir yaitu dari bulan mei

sampai bulan oktober 2018 sebanyak884bayi


43

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah bagian dari populasi yang akan diteliti

atau sebagian dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam

penelitian ini yaitu sebanyak 90bayi

a. Perhitungan besar sampel

Penetuan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus sebagai

berikut:

N
n=
1 + N (d)2
Keterangan :

n : Jumlah Sampel

N : Besar populasi

d : Ketetapan yang diinginkan (0,1)

884
n=
1 + 884(0,1)2

884
n=
1 + 884 (0,01)

884
n=
1 + 8,84

884
n=
9,84

n = 89,83

n = 90bayi
44

b. Tehnik pengambilan sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik proposive

sampling yaiu tehnik pengambilan sampel dengan kriteria tertentu yang

sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam tujuan penelitian dengan kriteria

inklusi dan eksklusi.

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan oleh

peneliti adalah sebagai berikut :

1) Kriteria inklusi

a) Pasien di RSKDIA Fatimah Makassar

b) Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram

2) Kriteria eksklusi

Bagi yang rekamedisnya tidak lengkap

D. Pengumpulan Data

1. Sumber Data

a. Data sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari data Perawat Pelaksanadi

RSIA Fatimah Makassarselama enam bulan terakhir yaitu dari bulan Mei

sampai Oktober 2018 yaitu sebanyak 90 bayi

2. Prosedur Pengumpulan Data

1) Data dikumpulkan secara kuantitatif dengan menggunakan penelusuran di

buku register dan rekammedik pasien pada periode Maret sampai Oktober

2018
45

3. Instrumen Pengumpulan Data

Instrument penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan

data. Instrument yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tabel

observasi, buku register dan rekammedik pasien untuk mengetahui

karakteristik ibu hamil dan kejadian berat badan lahir rendah.

E. Pengolahan Data

1. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan.Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan

data atau setelah data terkumpul.

2. Coding

Coding merupkan kegiatan pemberian kode numeric (angka) terhadap

data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting

bila pengelolahan dan analisis data menggunakan computer.

3. Tabulasi

Tabulasi dilakukan setelah kegiatan editing dan coding, yaitu dengan

cara mengelompokkan data ke dalam suatu tabel menurut sifat-sifat yang

dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.

4. Entri Data

Entri data adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan

ke dalammaster tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi

frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontigensi.


46

5. Analysis

Analysis dilakukan setelah pengumpulan data secara manual, data

kemudian diolah secara komputerisasi dengan menggunakan uji statistic yaitu

analisis univariat yang dilakukan untuk variabel tunggal yang dianggap

terkait dengan penelitian dan analisis bivariate untuk melihat distribusi

variabel yang dianggap terkait dan menggunakan uji chi-square dengan

kemaknaan (ɑ = 0,05)

F. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap tiap-tiap variabel penelitian

untuk mengetahui distribusi frekuensi dari tiap variabel yang diteliti.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap variabel independen dan variabel

dependen dengan menggunakan uji Chi – Square untuk mengetahui

adanyafaktor-faktor yang berhubungan dengan berat badan lahir rendah

(BBLR), dengan tingkat signifikan ɑ < 0,05.

Pada penelitian ini, dikatakan ada hubungan antara variabel

independen dengan variabel dependen jika nilai p < ɑ (0,05), dan dikatakan

tidak ada hubungan jika nilai p ≥ ɑ (0,05). Bila terdapat nilai expected (E) <5

maka digunakan uji alternatif yaitu menggunakan uji Fisher exact.

G. Penyajian Data

Data disajikan dalam bentuk narasi, tabeldan grafik yang disertai

penjelasan antara variabel.


47

H. Etika Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi

dari pihak institusi atas pihak lain dengan mengajukan permohonan kepada

instansi tempat penelitian dalam hal ini RSKDIA Fatimah Makassar, setelah

mendapat persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan

masalah etika penelitian yang meliputi :

1. Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Lembaran persetujuan yang akan diberikan kepada responden yang

akan diteliti dengan menjelaskan maksud, tujuan serta dampak yang mungkin

terjadi selama dan sesudah pengumpulan data.

2. Tanpa Nama(Anonymity)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak boleh

mencantumkan nama responden, tetapi hanya dengan memberi kode.

3. Kerahasiaan(Confidentiality)

Memberikan jaminan kerahasiaan informasi responden dan hanya

kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
48

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RSKDIA Fatimah Makassar Tahun

2018, mulai tanggal 21 Desember 2018 s/d 21Januari 2019. Jumlah sampel

sebanyak 90 responden dengan teknik proposive sampling.

1. Karakeristik Responden

Tabel 2
Karakteristik Responden di RSKDIA Fatimah Makassar
Tahun 2019

Karakteristik Responden n %
Agama
Islam 84 93,3
Kristen 6 6,6
Pekerjaan
IRT 79 87,7
Karyawan Swasta 1 1,1
Swasta 5 5,5
PNS 5 5,5
Jumlah 90 100
Sumber Data : Data Primer

Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan data karakteristik

responden berdasarkan agama, bahwa sebagian besar responden beraga

islam sebanyak 37 (93%) orang, dan yang paling sedikit yaitu beragama

kristen sebanyak 6 orang (6,6%). Berdasarkan pekerjaan, responden yang

paling banyak IRT yaitu sebanyak 79 (87,7%) orang, dan yang paling

sedikit yaitu PNS dan Swasta yaitu sebanyak 5 (5,5%) orang.


49

2. Analisa Univariat
Tabel 3
Karakteristik Variabel penelitian di RSKDIA Fatimah Makassar
Tahun 2019

Variabel Penelitian n %
Umur Ibu
Kurang Produktif 44 48,9
Produktif 46 51,1
Paritas
Multipara 50 55,5
Primipara 40 44,4
Umur Kehamilan
Praterem 46 51,1
Aterem 44 48,8
Berat BAdan Bayi
BBLR 53 58,8
Tidak BBLR 37 41,1
Jumlah 90 100,0
Sumber Data : Data Primer

Tabel 3 diatas menunjukkan data 90 responden yang mempunya

umur kurang produktif sebnayak 44 (48,9%) ibu dan responden yang

mempunyai umur produktif yaitu sebanyak 46 (51.1%) ibu. Responden

yang mempunyai paritas multipara yaitu sebanyak 50 (55,5%) ibu dan

responden yang mempunyai paritas primipara yaitu sebanyak 40 (44,4%)

ibu. Responden yang mempunyai umur kehamilan praterem yaitu sebanyak

46 (51,1%) ibu dan responden yang mempunyai umur kehamilan aterem

yaitu sebanyak 44 (48,8%) ibu. Responden yang mempunyai berat badan

lahir rendah yaitu sebanyak 53 (58,8%) bayi dan responden yang

mempunyai berat badan bayi tidak BBLR yaitu sebanyak 37 (41,1%) bayi
50

3. Analisa Bivariat

Tabel 4
Hubungan faktor Umur Ibu Dengan BBLR di RSKDIA Fatimah Makassar
Tahun 2019
Berat Badan Bayi
Jumlah
Umur Ibu BBLR Tidak BBLR Nilai ρ
n % n % n %
Kurang
34 77,3 10 22,7 44 100,0
Produktif 0,001
Produktif 19 41,3 27 58,7 46 100,0
Jumlah 53 58,8 37 41,1 90 100,0
Sumber : Data Primer

Pada tabel 4 diatas didapatkan data dari 44 responden yang memiliki umur

ibu kurang produktif terdapat 34 (77,3%) responden yang mengalami

BBLR dan 10 (22.7%) responden yang tidak BBLR. Sedangkan dari 46

responden yang memiliki umur ibu produktif terdapat 19 (41,3%)

responden yang BBLR dan 27 (57,8%) responden yang tidak BBLR.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square,

diperoleh nilai ρ = 0,001 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan antara

faktor Umur ibu dengan Berat badan lair rendah di RSKDIA Fatimah

Makassar.

Tabel 5
Hubungan faktor Paritas Dengan BBLR di RSKDIA Fatimah Makassar
Tahun 2019

Berat Badan Bayi


Jumlah
Paritas BBLR Tidak BBLR Nilai ρ
n % n % n %
Multipara 29 58,0 21 42,0 50 100,0 0,848
Primipara 24 60,0 16 40,0 40 100,0
Jumlah 53 58,8 37 41,1 90 100,0
Sumber : Data Primer
51

Pada tabel 5 diatas didapatkan data dari 50 responden yang memiliki

paritas multipara terdapat 29 (58,0%) responden yang mengalami BBLR

dan 21 (42.0%) responden yang tidak BBLR. Sedangkan dari 40

responden yang memiliki paritas primipara terdapat 24 (60,0%) responden

yang BBLR dan 16 (40,0%) responden yang tidak BBLR.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square,

diperoleh nilai ρ = 0,848 < 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan

antara faktor Paritas dengan Berat badan lair rendah di RSKDIA Fatimah

Makassar.

Tabel 6
Hubungan faktor Usia Kehamilan Dengan BBLR di RSKDIA Fatimah
Makassar Tahun 2019

Berat Badan Bayi


Usia Jumlah
Kehamilan BBLR Tidak BBLR Nilai ρ
n % n % n %
Praterem 35 76,0 11 23,9 46 100,0
Aterem 18 40,9 26 59,0 44 100,0 0,001
Jumlah 53 58,8 37 41,1 90 100,0
Sumber : Data Primer

Pada tabel 6 diatas didapatkan data dari 46 responden yang memiliki usia

kehamilan praterem terdapat 35 (76,0%) responden yang mengalami

BBLR dan 11 (23,9%) responden yang tidak BBLR. Sedangkan dari 44

responden yang memiliki usia kehamilan aterem terdapat 18 (40,8%)

responden yang BBLR dan 26 (59,0%) responden yang tidak BBLR.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square,

diperoleh nilai ρ = 0,001 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan antara
52

faktor Usia Kehamilan ibu dengan Berat badan lair rendah di RSKDIA

Fatimah Makassar.

B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden

Hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden yang mempunya

umur kurang produktif sebnayak 44 (48,9%) ibu dan responden yang

mempunyai umur produktif yaitu sebanyak 46 (51.1%) ibu. Umur ibu

mempunyai hubungan erat dengan berat bayi lahir pada umur ibu yang

masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi

fisiologisnya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum

cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat

mengadapi kehamilannya secara sempurna, dan sering terjadi komplikasi-

komplikasi.

Berdasarkan Paritas, Responden yang mempunyai paritas multipara

yaitu sebanyak 50 (55,5%) ibu dan responden yang mempunyai paritas

primipara yaitu sebanyak 40 (44,4%) ibu. Ibu dengan paritas 1 dan ≥ 4

berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah, pada primipara terkait

belum mempunyai pengalaman sebelumnya dalam kehamilan dan persalinan

sehingga bisa terjadi status gizi yang kurang yang menyebabkan anemia serta

mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan, kunjungan ANC yang kurang serta

pengetahuan perawatan selama kehamilan yang belum memadai dan kesiapan

mental dalam menerima kehamilan berkurang


53

Berdasarkan Umur Kehamilan, Responden yang mempunyai umur

kehamilan praterem yaitu sebanyak 46 (51,1%) ibu dan responden yang

mempunyai umur kehamilan aterem yaitu sebanyak 44 (48,8%) ibu. Bayi

yang lahir dengan umur saat usia kehamilan kurang dari 37 minggu beresiko

untuk mengalami berat badan lahir rendah dikarenakan beberapa faktor salah

satunya adalah pertumbuhan yang kurang selaras dan serasi akibat gangguan

sirkulasi retroplasenta dan kekurangan gizi/nutrisi yang menahun (Manuaba,

2015).

2. Hubungan faktor Umur ibu dengan BBLR

Berdasarkan faktor Umur ibu yang paling banyak yaitu responden

yang memiliki umur ibu kurang produktif terdapat 34 (77,3%) responden

yang mengalami BBLR. Hal ini disebabkan karena saa umur seorang ibu di

bawah 20 rahim seorang ibu belum cukup kuat untuk mengandung sedangkan

disaat umur seorang ibu di atas 35 maka secara fisiologis rahim seorang ibu

mulai mengalami kelemahan atau penurunan fungsi. Hal ini juga Telah

dibuktikan pula bahwa angka kejadia persalinan kurang bulan akan tinggi

pada usia dibawah 20 tahun dan kejadian paling rendah pada usia 26 – 35

tahun, semakin muda umur ibu maka anak yang dilahirkan akan semakin

ringan. Berdasarkan ketentuan yang dikeluarkan Depkes RI dalam

hubungannya dengan umur ibu melahirkan, dikatakan bahwa risiko

kehamilan akan terjadi pada ibu yang melahirkan dengan umur kurang dari

20 tahun dan lebih dari 35 tahun erat kaitannya dengan terjadinya kanker

rahim dan berat badan lahir rendah.


54

Menurut Proverawati dan Sulistyorini (2010) dalam Ernawati Wahyu

(2016), mengatakan bahwa Umur ibu pada saat hamil mempengaruhi kondisi

kehamilan ibu karena selain berhubungan dengan kematangan organ

reproduksi juga berhubungan dengan kondisi psikologis terutama kesiapan

dalam menerima kehamilan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

penyebab terjadinya bayi berat lahir rendah. Salah satunya adalah usia ibu

yang cenderung mengalami Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah usia

dibawah 20 tahun dan usia diatas 35 tahun sebanyak 8 (57,1%) melahirkan

Berat badan lahir rendah (BBLR). Sedangkan responden yang umur ibu

kurang produktif tetapi tidak BBLR yaitu sebanyak 10 (22.7%) dan umur ibu

yang produktif tetapi mengalami BBLR yaitu sebanyak 19 (41,3) ibu. Hal ini

disebkan karena faktor terjadinya BBLR bisa juga dari Faktor lingkungan

eksternal, yang meliputi kondisi lingkungan, masukan makanan ibu

selama hamil, jenis pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu dan bapak

(kepala keluarga), pengetahuan gizi dan tingkat social ekonomi sehingga

pertumbuhan janin selama dikandung kurang baik yang mengakibatkan bayi

beresiko lahir dengan BBRL.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-

Square, diperoleh nilai ρ = 0,001 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan

antara faktor Umur ibu dengan Berat badan lair rendah di RSKDIA Fatimah

Makassar.

Penelitian ini di dukung juga oleh hasil penelitian Falix Kasim (2016)

bahwa kejadian BBLR pada ibu kelompok risiko umur <20 tahun lebih tinggi
55

dibandingkan kelompok umur 20-34. Secara statistik tidak didapatkan

hubungan antara umur ibu <20 tahun dengan kejadian BBLR (p=0,110).

Sedangkan angka kejadian BBLR pada kelompok risiko umur ibu ≥35 tahun

lebih tinggi dibandingkan kelompok umur 20-34 tahun (OR=5). Secara

statistik didapatkan hubungan antara umur ibu ≥35 tahun dengan kejadian

BBLR (p= 0,001). Hasil ini proses kemunduran sehingga dapat

menimbulkan kelahiran bayi BBLR.

3. Hubungan faktor Paritas dengan BBLR

Parietas dalam arti luas mencakup gavida (jumlah kehamilan),

partus (jumlah kelahiran), dan abortus (jumlah keguguran), sedang dalam

arti khusus yaitu jumlah atau banyaknya anak yang dilahirkan. Parietas

dikatakan tinggi bila seseorang wanita melahirkan anak ke empat atau

lebih. Seorang wanita yang sadar mempunyai tiga anak dan terjadi

kehamilan lagi, keadaan kesehatannya akan mulai menurun, Seorang

mengalami kurang darah (anemia), terjadi pendarahan lewat jalan lahir

dan letak janin sungsang bahkan melintang. Pada waktu persalinan yang

sukar maupun pendarahan setelah persalinan.

Berdasarkan hasil penelitian responden yang memiliki paritas

primipara terdapat 24 (60,0%) responden yang BBLR. Hal ini disebabkan

karena ibu yang baru pertama kali melahirkan belum mempunyai pengalaman

sebelumnya dalam kehamilan dan persalinan sehingga bisa terjadi status gizi

yang kurang yang menyebabkan anemia serta mempengaruhi berat bayi yang

dilahirkan, kunjungan ANC yang kurang serta pengetahuan perawatan selama


56

kehamilan yang belum memadai dan kesiapan mental dalam menerima

kehamilan berkurang. Hal ini juga sejalan dengan teori Lin Risyani (2016)

Prevalensi BBLR meningkat sesuai dengan meningkatnya paritas ibu. Risiko

untuk terjadinya BBLR tinggi pada paritas 1 atau primipara kemudian

menurun pada paritas 2 sampai 5 atau multipara, selanjutnya meningkat

kembali pada paritas > 5 atau grandemulti para. sedangkan 16 (40,0%)

responden yang tidak BBLR. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan yang

mendukung serta dukungn keluarga yang sangat baik sehingga ibu

memperoleh banyak informasi tentang proses kehamilan.

Responden yang memiliki paritas multipara terdapat 29 (58,0%)

responden yang mengalami BBLR. Ibu yang mengalami anak ke empat atau

lebih dan terjadi kehamilan lagi, keadaan kesehatannya akan mulai menurun,

seseorang mengalami kurang darah, terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan

letak janin sungsang bahkan melintang. Hal ini sejalan dengan teori Ernawati

Wahyu ( 2016) sedangkan ibu yang pernah melahirkan anak >4 lebih sering

terjadi berat badan lahir rendah karena terdapatnya jarigan parut akibat

kehamilan dan persalinan terdahulu yang mengakibatkan persediaan darah ke

plasenta tidak adekuat sehingga perlekatan plasenta tidak sempurna, plasenta

menjadi lebih tipis, mencakup uterus lebih luas dan terganggunya penyaluran

nutrisi yang berasal dari ibu ke janin sehingga penyaluran nutrisi dari ibu ke

janin menjadi terhambat atau kurang mencukupi kebutuhan janin yang dapat

menyebabkan gangguan pertumbuhan selanjutnya yang akhirnya akan

melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.


57

Paritas yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan gangguan dalam

kehamilan, menghambat proses persalinan, perdarahan pasca persalinan dan

tumbuh kembang anak tidak optimal. Sehingga beresiko terjadi keguguran,

anemia, BBLR, perdarahan dan lain-lain (Nadiyya Chaerunnisa Sopyan,dkk.

2015)

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-

Square, diperoleh nilai ρ = 0,848 > 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan

antara faktor Umur ibu dengan Berat badan lair rendah di RSKDIA Fatimah

Makassar.

Penelitian ini di dukung juga oleh hasil penelitian dilakukan supiati

(2017) didapat paritas dengan kejadian berat badan lahir rendah terbanyak

adalah paritas multi dengan tidak kejadian berat badan lahir rendah sebanyak

72 responden (50,7). Berdasarkan hasil perhitungan paritas dengan kejadian

berat badan lahir dengan menggunakan uji chi square (x2) didapat hasil

Asympt.sig yaitu 0,334 yang berarti p > 0,05 atau 0,334 > 0,05 berarti tidak

ada hubungan antara paritas ibu bersalin dengan kejadian berat badan lahir

rendah di Rumah Bersalin (RB) Juweni Desa Pandes Wedi Klaten tahun 2017

4. Hubungan faktor Usia Kehamilan dengan BBLR

Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah (Normal) dan

bukan patologis. Tetapi kondisi normal dapat menjadi patologis /abnormal.

Masa hamil berlangsung 280 hari atau 40 minggu. Setiap perempuan

berkepribadian unik dan kehamilan unik pula. Kehamilan dan persalinan

merupakan proses alamiah (Normal) dan bukan patologis. Tetapi kondisi


58

normal dapat menjadi patologis /abnormal. Masa hamil berlangsung 280 hari

atau 40 minggu. Setiap perempuan berkepribadian unik dan kehamilan unik

pula.

Berdasarkan hasil penelitian responden yang memiliki usia kehamilan

praterem terdapat 35 (76,0%) responden yang mengalami BBLR. Hal ini

disebabkan karena usia kehamilan ibu belum cukup bulan dimana Bayi yang

hidup dalam rahim ibu sebelum usia kehamilan 37 minggu belum dapat

tumbuh optimal sehingga beresiko memiliki bayi BBLR. Hal ini juga sejalan

dengan teori yang dikemukakan oleh Hadiati Isti (2016) Bayi yang lahir

dengan umur saat usia kehamilan kurang dari 37 minggu beresiko untuk

mengalami berat badan lahir rendah dikarenakan beberapa faktor salah

satunya adalah pertumbuhan yang kurang selaras dan serasi akibat gangguan

sirkulasi retroplasenta dan kekurangan gizi/nutrisi yang menahun (Manuaba,

2015). Hasil analisa multivariate menunjjukan OR 4,00 (CI:1,74-9,18) yang

berarti ibu bersalin dengan umur kehamilan preterm beresiko melahirkan bayi

berat badan lahir rendah sebesar 4,00 kali dibanding ibu bersalin yang umur

kehamilannya atrem setelah dikontrol oleh variabel usia ibu dan kadar Hb.

Hal ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh gebremedhin et al (2015) di

eropa yang menemukan fakta bahwa ibu dengan umur kehamilan <37 minggu

memiliki resiko 18,5 kali lebih tinggi melahirkan berat badan lahir rendah.

Berdasarkan hasil penelitian responden yang memiliki usia kehamilan

aterem terdapat 18 (40,8%) responden yang BBLR. Hal ini sejalan dengan

teori yang dikemukakan oleh Husaini (2017) Penyebab lain berat badan lahir
59

rendah (BBLR) adalah pembatasan pertumbuhan intra uterin (IUGR). Hal ini

terjadi ketika bayi tidak tumbuh dengan baik selama kehamilan karena

terjadinya masalah dengan plasenta, kesehatan ibu, atau kondisi bayi. Seorang

bayi dapat memiliki intrauterin growth restriction (IUGR) dan dilahirkan di

jangka penuh (37-41 minggu). Bayi dengan IUGR dalam waktu normal, bisa

tumbuh seperti anak lainnya , namun memiliki fisik yang lemah. Sementara

itu, bayi yang lahir prematur dengan IUGR memiliki kondisi fisik yang lemah

dan biasanya mengalami gangguan pertumbuhan. Selain dipengaruhi oleh

waktu lahir dan IUGR, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi stanford

children’s heald (2016) merumuskan beberapa faktor lain yang dapat

mempengaruhi terjadinya BBLR, anatara lain ras, kesehatan ibu dan jarak

kehamilan.

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-

Square, diperoleh nilai ρ = 0,001 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan

antara faktor Umur ibu dengan Berat badan lair rendah di RSKDIA Fatimah

Makassar.

Penelitian ini di dukung juga oleh hasil penelitian dilakukan Fitri

Windari (2014) dimana Hasil penelitian menemukan bahwa ada hubungan

antara usia kehamilan ibu dengan kejadian BBLR di RSUD Panembahan

Senopati Bantul pada Tahun 2014. Berdasarkan uji Odds Ratio (OR)

diketahui sebesar 2,042 yang artinya umur kehamilan <37 minggu berisiko

2,042 kali lipat untuk melahirkan BBLR dibandingkan umur kehamilan >=37

minggu.
60

BAB VI

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan

berat badan lahir rendah (BBLR) di RSKDIA Fatimah Makassar, disimpulkan

bahwa :

1. Ada Hubungan faktor Umur ibu saat hamil dengan kejadian berat badan lahir

rendah (BBLR) dimana sebagian besar memiliki Umur kehamilan kurang

produktif, yaitu sebanyak 34 (77,3%) orang dengan berat badan lahir rendah

2. Tidak ada Hubungan faktor paritas saat hamil dengan kejadian berat badan

lahir rendah (BBLR).

3. Ada Hubungan faktor Usia Kehamilan saat hamil dengan kejadian berat

badan lahir rendah (BBLR) dimana sebagian besar memiliki Usia kehamilan

praterem yaitu sebanyak 35 (76,0%) orang dengan berat badan lahir rendah

B. Saran

Mengacu pada simpulan, maka peneliti memberikan saran :

1. Tenaga kesehatan di RSKDIA Fatimah Makassar disarankan untuk

menekankan tentang cara menjaga kesehatan terutama kepada ibu hamil

yang umurnya kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun untuk melakukan

ANC di rumah sakit dan selalu melakukan koordinasi dengan dokter

sehingga terjadi peningkatan berat badan janin dan bayi lahir dengan berat

normal.
61

2. Tenaga kesehatan di RSKDIA Fatimah Makassar disarankan untuk

menekankan tentang cara menjaga kesehatan kehamilan pada saat paritas

ibu hamil sudah diatas 4 kali persalinan untuk melakukan ANC di rumah

sakit dan dengan dokter karena beresiko melahirkan bayi dengan berat badan

lahir rendah

3. Tenaga kesehatan di RSKDIA Fatimah Makassar disarankan untuk

menekankan tentang cara menjaga kesehatan kehamilan sampai usia

kehamilan mature kepada ibu hamil yang melakukan ANC di rumah

sakit dan dokter untuk mempertahankan kehamilan agar persalinan terjadi

setelah umur kehamilan matur, sehingga terjadi peningkatan berat badan

janin dan bayi lahir dengan berat normal.

4. Bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian yang berkaitan

dengan karakteristik ibu hamil dalam hubungannya dengan kejadian

BBLR hendaknya menggali atau meneliti faktor-faktor lain yang menjadi

penyebab BBLR sehingga dapat diupayakan pencegahan umur kehamilan

preterm dan Usia Ibu kurang produktif sebagai faktor yang dominan

mempengaruhi kejadian BBLR.