Vous êtes sur la page 1sur 4

HUKUM JUAL BELI AIR MENURUT EKONOMI ISLAM

Disusun Oleh : M.AL-YASA BASAR


NIM: 1701104010061
Corresponding author Email : yasabasar005@gmail.com
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Final Ushul Fiqih

1. Hukum Jual Beli Air

“Dari Iyas bin Abdin ra, bahwa Nabi SAW melarang jual beli kelebihan air.” (HR. Khamsah,
kecuali Ibnu Majah. Dan hadits ini di shahihkan oleh Imam Turmudzi)

HR Khamsah artinya, hadits diriwayatkan oleh 5 Imam Hadits, mereka adalah: Imam Ahmad,
Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah, Hadits di atas diriwayatkan oleh Khamsah,
kecuali Ibnu Majah, artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Abu
Daud dan Nasa’i.

Imam Syaukani mengemukakan, Bahwa hadits di atas menggambarkan tentang “haramnya”


menjual kelebihan air, yaitu kelebihan air dari kebutuhan si pemiliknya. Kelebihan air yang
tidak boleh diperjualbelikan itu mencakup air yang berada di wilayah (tanah) umum,
maupun di tanah yang dimiliki atau dikuasai baik oleh perorangan maupun kolektif.

“Kaum muslimin itu berserikat (dalam kepemilikan) pada tiga hal: rerumputan (yang
tumbuh di tanah tak bertuan), air (air hujan, mata air, dan air sungai), dan kayu bakar (yang
dikumpulkan manusia dari pepohonan).”
(HR. Abu Daud no. 3477 dan Ahmad 5: 346. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Al Hafizh Abu
Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat penjelasan Al Baydhowi yang
dinukil oleh Al Munawi dalam Faidhul Qodir 6: 271).

Penjelasan:

Ulama sepakat, tentang haramnya hukum memperjualbelikan air yang terdapat dalam
sumbernya, seperti yang berada di sungai, telaga, danau bahkan yang terdapat di dalam
sumur. Kendatipun berada di bawah penguasaan pemiliknya. Disebut sebagai kelebihan air,
maksudnya adalah bahwa pemiliknya lebih berhak terhadap air yang terdapat dalam
sumber air tersebut, namun ketika ia telah memenuhi kebutuhannya dan dapat
dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya, maka ia tidak boleh menjualnya
kepada mereka. Air tersebut boleh dimanfaatkan oleh orang banyak tanpa kompensasi
seperti dalam jual beli (iwadh). Dan jika pemiliknya menjual air tersebut kepada orang yang
mengambilnya, maka hukumnya haram dan pelakunya berdosa.

Air yang jadi milik umum Contohnya adalah air laut dan air sungai. Air semacam ini tidaklah
dimiliki pihak tertentu.Ibnul Qayyim rahimahullah berkatas, “Pada dasarnya, Allah
menciptakan air itu untuk dimanfaatkan bersama antara manusia dan hewan. Allah
menjadikan air sebagai minuman untuk semua makhluk-Nya. Oleh karenanya, tidak ada
orang yang lebih berhak atas air daripada orang lain, meski sumber air tersebut ada di
dekatnya.”

2. Hukum Membeli Lahan Yang Terdapat Sumber Air

Membeli lahan, atau tanah yang di dalamnya terdapat sumber air, adalah boleh. Dan
pemiliknya boleh memanfaatkan air tersebut untuk keperluannya dan anggota keluarganya.
Hal ini sebagaimana terdapat riwayat tentang kisahnya Abu Thalhah yang memiliki tanah di
dekat Masjid Nabawi yang memiliki sumber mata air, di mana Nabi SAW sering minum dari
mata air tersebut.

Dari Anas bin Malik ra berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari
kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling
dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan
Rasulullah SAW sering memasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut.
Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta’ala (QS Alu ‘Imran: 92 yang artinya): “Kamu
sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah
SAW lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu
sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”, dan sesungguhnya harta yang paling
aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap
kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana
petunjuk Allah kepadamu”. “Maka Rasulullah SAW bersabda: Wah, inilah harta yang
menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa
yang kamu niatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu”.
Maka Abu Thalhah berkata,: “Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Thalhah
membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya”. (HR. Bukhari)

Namun larangan dalam hadits di atas lebih dimaksudkan pada memonopoli sumber air,
untuk kemudian mengenakan “tarif” bagi orang-orang yang akan mengambil air di sumber
air tersebut. Hal tersebut pernah dilakukan oleh orang Yahudi, yang memiliki sumur di masa
Usman bin Affan. Pada saat paceklik dan manusia tidak memiliki air, Yahudi tersebut tidak
mengizinkan orang-orang mengambil air dari sumur tersebut, kecuali apabila mereka
membayarnya. Kemudian Usman bin Affan membelinya dan menyedekahkannya kepada
seluruh kaum muslimin.

Air yang tertampung di sumur setelah digali atau air hujan yang ditampung di suatu
tempat milik seseorang. Orang yang menampung itulah yang lebih berhak daripada
orang lain. Namun ia tidak boleh menjual air tersebut sebelum ditampung. Air jenis ini
boleh dimanfaatkan lebih dahulu, lalu diizinkan yang lain memanfaatkannya.

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak boleh menghalangi orang yang mau memanfaatkan air yang menjadi sisa kebutuhan
pemilik sumur, dengan tujuan agar tidak ada orang yang menggembalakan ternaknya di
padang rumput yang tidak memiliki sumur.” (HR. Bukhari no. 2353 dan Muslim no. 1566).

3. Larangan menjual kelebihan air apakah khusus air minum atau air untuk kebutuhan
lainnya?

Imam Qurtubi berpendapat bahwa larangan tersebut secara zhahirnya dikhususkan


bagi air yang dijadikan sumber air minum. Karena air minum merupakan kebutuhan pokok
bagi manusia, yang manusia tidak dapat hidup tanpanya. Namun sebagian ulama lainnya
berpendapat bahwa yang dimaksud adalah air secara umum, tidak hanya khusus untuk air
minum, yang berada di tempat sumber air dan menjadi kebutuhan manusia. Pendapat
kedua ini dikuatkan dengan hadits lainnya yaitu :

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kelebihan air ditahan,
dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya
tanaman.” (HR. Bukhari)

Jadi secara zhahirnya hadits ini menggambarkan bahwa larangan menjual air termasuk
untuk memenuhi kebutuhan ternak dan bahkan pengairan tumbuhan. Larangan menjual
kelebihan air ini dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW lainnya, di antaranya:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga jenis orang yang Allah
Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi
mereka disediakan siksa yang pedih, yaitu seorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu
dia tidak memberikannya kepada musafir, seorang yang membaiat imam dan dia tidak
membaiatnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi, kalau dia diberikan dunia
dia ridha kepadanya dan bila tidak dia marah, dan seorang yang menjual dagangannya
setelah ‘Ashar lalu dia bersumpah; demi Allah Dzat yang tidak ada Ilah selain Dia sungguh
aku telah memberikan (shadaqah) ini dan itu lalu sumpahnya itu dibenarkan oleh
seseorang”. Kemudian Beliau membaca ayat ini: artinya (“Sesungguhnya orang-orang yang
menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang
sedikit…”) (HR. Bukhari)

4. Menjual air yang sudah di kemas, atau sudah diangkut?

Air yang telah dikumpulkan di wadah atau kemasan. Air seperti ini sudah jadi milik
perseorangan. Sebagaimana kayu bakar yang dikumpulkan dan dipikul sudah jadi milik
orang yang mengusahakan hal tersebut. Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan,

“Seseorang mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya lebih baik dari seseorang
yang meminta-minta lantas ia diberi atau ada yang tidak memberi.” (HR. Bukhari no. 2074
dan Muslim no. 1042).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Orang yang memasukkan air ke dalam wadah
(kemasan) miliknya itu tidak termasuk yang terlarang dalam hadits. Air yang sudah kita
masukkan ke dalam wadah milik kita itu semisal dengan barang-barang yang aslinya adalah
milik umum namun sudah kita pindah ke dalam kekuasaan kita lalu ingin kita jual, semisal
kayu bakar yang diambil dari hutan, seikat rumput yang kita kumpulkan, dan garam yang
kita ambil dari laut.” (Zaadul Ma’ad, 5: 708).

Adapun air yang sudah ada “usaha” dari pemiliknya, seperti air yang sudah dikemas dalam
botol, atau sudah diisikan ke dalam galon, atau diangkut dengan menggunakan gerobak lalu
diantar ke rumah-rumah, maka hukumnya adalah boleh untuk diperjualbelikan. Karena
sudah ada “usaha” dari pemiliknya dalam memprosesnya dan atau mengantarkannya ke
rumah-rumah penduduk. Adapun jika ia menjual air untuk kemudian orang-orang
mengambil sendiri di dalam sumur, di sungai atau di danau, maka hukumnya tidak boleh.
Menjual air inipun ada syaratnya terkait dengan sumber mata airnya. Yaitu di sumber mata
air tersebut, pemiliknya tidak boleh melarang orang-orang mengambil dari sumber tersebut
apabila akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.